Halo, haloo~ Saya datang lagi! Di awal kemunculan fanfiction ini, sya sudah menerima.. SATU review! Oh My God! Aku seneng bangett! Terima kasih buat Kagamine Micha! Er.. By the way, buat jawaban review-mu.. akan kujelaskan disini. Dan juga.. maaf bila ada rate M walaupun sekilas *nyengir mesum* kekekeke... yaa sudahlah, daripada banyak bacot, capcuss~!

Black Butler Return!: Black Butler's Lady

Rated: T (maybe in next chapter M? Who knows? Lol)

Genre: Romance, Drama

Cast: Sebastian M., Levie Rodrickfille

Disclaimer: Yana Toboso (just for Sebastian Michaelis for this chapter)

.

Chapter 2: Love is Sick

.

.

"Apa anda yakin untuk pergi sekarang?" tanya Sebastian ketika mereka sudah berada di dalam mobil.

"Apa aku harus mengulang perkataanku lagi, Sebastian?!" maki Levie.

Sebastian membungkukkan kepalanya. "My Apologized."

"Hn." Levie bergumam. Kemudian membuang wajahnya keluar kaca mobil.

"Sekarang kita pergi kemana, Young Mistress?"

Levie menyipitkan mata pada Sebastian. "Young Mistress? Am i younger than you?"

"Saya tidak bisa bilang tidak, Nona."

Levie memutar bola matanya. Dasar iblis. "Whatever. Bring me wherever you want me to go."

"How about to go to hell, young mistress?" Goda Sebastian, yang dibalas delikan mata Levie.

"Jangan bercanda!"

Sebastian menyeringai. "Saya tidak bercanda, Nona. Sebaiknya anda lebih berhati-hati dalam memberi perintah."

Levie mendecih. "Aku ingin pergi ke tempat yang tenang, dan sejuk.." katanya.

"Yes, My Lady."

.

.

"Ini.."

"Padang ilalang yang menjadi inspirasi lukisan terkenal, 'Lembayung Senja', Nona." Terang Sebastian.

Levie terkesima. Apa yang dikatakan Sebastian benar. Padang ilalang ini memang terdapat banyak.. ilalang tentunya, tapi tempat ini indah. Indah sekali. Sulit dijelaskan dengan kata-kata, namun Levie benar-benar mengakui tempat ini memang sangat indah.

"Nona, apa anda ingin beristirahat disini?" tanya Sebastian.

"Baiklah.." kata Levie sambil bersiap untuk duduk.

"Ah, tunggu, Nona!" cegah Sebastian. Levie mengernyit dengan pandangan bertanya padanya. Namun pandangan itu dijawab dengan Sebastian yang tiba-tiba mengeluarkan kain untuk alas duduk dan menggelarnya di sebelah Levie..

"Bagaimana kau.."

"Seorang butler harus mempersiapkan segalanya dengan baik. Saya juga sudah menyiapkan bekal." Kata Sebastian sambil menunjukkan keranjang piknik yang entah muncul dari mana.

"Memangnya kita mau piknik?" kata Levie sinis. Lalu duduk di atas kain itu, diikuti Sebastian, yang sekarang duduk di sebelahnya.

Levie memandang pemandangan yang sekarang persis ada di depannya dengan gamang.

'Perjanjian dengan iblis? Apa itu bisa dipercaya? Tapi begitulah aku sekarang. Melakukan perjanjian dengan iblis. Dan kontraknya ditandai di dadaku. Ya, DADAku. Aku baru mengetahuinya saat mandi tadi. Ternyata dia iblis yang mesum juga. Dan di akhir kontrak, jiwaku akan dimakan olehnya.'

Tiba-tiba Levie teringat sesuatu. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Sebastian.

"Sebastian." Panggil Levie.

"Yes, Young Mistress?"

"Kita membuat kontrak, bukan? Sebetulnya apa.. Kontrak kita? Jelaskan padaku. Aku benar-benar tidak mengingatnya."

"Oh, soal itu." Kata Sebastian. "Seingat saya anda meminta dua hal dari saya. Satu, anda ingin bebas. Dua, saya harus mengabulkan semua perintah anda hingga anda dengan sukarela membiarkan saya mengambil jiwa anda."

"Begitu.. Tapi.. Mungkin membutuhkan waktu yang lama untukmu, Sebastian. Manusia itu serakah, tidak akan merasa puas dengan satu-dua permohonan belaka."

Sebastian tersenyum. Senyum yang (jelas-jelas) dibuat. "Mungkin bagi Oujou-sama—bukan, manusia, terasa lama. Tapi bagi saya hanya sesingkat mengedipkan mata."

Levie tersenyum sinis. "Baiklah, kalau begitu aku akan memuaskan diriku dengan permohonan-permohonan yang akan kuberikan padamu kelak."

"Yes, young mistress.. Silakan beri perintah dan saya akan selalu mendampingi Nona selamanya."

"Ralat." Sergah Levie. "Hingga jiwaku dimakan olehmu."

"Saya rasa lebih baik menamakannya dengan 'hingga akhir nanti'."

"Terserah. Aku mau tidur." Kata Levie sambil membaringkan tubuhnya di alas. Dengan cepat Sebastian menyisipkan bantal di bawah kepala Levie sebelum ia berbaring.

"Daripada butler, kau lebih cocok kunamakan Doraemon." Kata Levie.

"Doraemon? Apa itu?"

"Robot kucing masa depan yang bisa mengeluarkan alat-alat canggih dari kantongnya yang tipis. Dia datang dari masa depan untuk membantu anak manusia yang selalu ceroboh bernama Nobita. Dia datang untuk merubah masa depannya." Levie menjelaskan sambil tetap berbaring dan memandang ruby Sebastian.

"Lucu sekali. Mengubah masa depan? Itu tidak mungkin. Kartun yang bodoh sekali."

"Tapi aku menyukainya. Apa itu bodoh?"

Sebastian memandang Levie sejenak lalu menjawab sambil tersenyum seperti biasa. "Tentu tidak, Nona."

Levie mendengus. "Ucapan yang manis sekali. Kupikir aku harus memberimu satu perintah lagi."

"Apa itu, Nona?"

"Jangan pernah berbohong padaku. Cukup manusia saja yang membohongiku, tidak perlu ditambah iblis. Merepotkan."

Sebastian tertawa kecil. "Yes, My Lady."

.

.

"Saya sudah menyiapkan Chicken Alfredo untuk makan malam dengan dessert Blueberry Creamy Milk Pudding."

Levie menggumam sebelum mulai menyantap makanan tersebut.

"Enak." Komentarnya setelah menyantap satu suapan.

"Terima kasih." Sebastian membungkukkan badannya.

"Kau tidak makan?" tanya Levie.

"Saya tidak perlu makan, Nona." Sebastian menjawab dengan senyuman khasnya.

"Harusnya aku tak perlu bertanya."

Sebastian tak menjawab. Ia masih berdiri di samping Levie hingga Levie menyelesaikan makannya. Setelah itu, Sebastian membawa piring kotor bekas makanan tadi ke bak cuci dan mencucinya.

Levie mengamati Sebastian yang masih mencuci. Ia melihat tubuh yang membelakanginya memiliki postur tubuh yang proporsional dan tegap. Cocok dengan wajahnya yang..(Levie agak berat mengakuinya) tampan. Levie berani bertaruh, jika ia melamar pekerjaan di Hollywood. Dia akan langsung diberi pekerjaan sebagai pemeran utama suatu film.

"Hei, Sebastian." Panggil Levie.

Sebastian menghentikan kegiatan mencucinya sebentar lalu menoleh pada young mistress-nya. "Ya?"

"Apa.. sosok yang kulihat sekarang adalah wujud aslimu?"

Sebastian membulatkan matanya sejenak. Kemudian tersenyum tipis. "Tentu tidak, Nona."

Levie mengangguk-angguk. "Sudah kuduga."

"Memangnya kenapa, young mistress?" Tanya Sebastian yang sudah selesai mencuci dan sekarang berjalan menuju young mistress-nya.

"Tidak.. Aku hanya berpikir.. Penampilanmu palsu.."

"Lalu?" Sebastian mencondongkan wajahnya ke wajah Levie. Wajahnya yang sedemikian dekat membuat nafasnya bisa dirasakan Levie. "Apa itu memberatkan anda? Atau anda lebih suka dengan sosok saya yang 'asli'?"

Levie tersenyum sambil tetap menatap wajah Sebastian. "Iya da, lebih baik begini."

"Baguslah. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi anda begitu melihat sosok 'asli' saya." Sebastian tertawa kecil.

"Dasar iblis." Levie mengalihkan pandangannya dari Sebastian dan menyesap teh di cangkir di hadapannya.

"Tapi, Nona." Levie menoleh. Sebastian mendekatkan bibirnya pada telinga Levie. "Meskipun palsu, tapi saya bisa memberikan 'kebahagiaan' pada seorang Lady seperti anda, sebagaimana layaknya lelaki asli."

Levie tersenyum penuh arti. "Kebahagiaan dalam hal apa?"

Sebastian mengedipkan sebelah matanya sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir. "Apa anda ingin saya menjelaskannya sekaligus 'mempraktekkannya'?"

"Cih." Levie menyeringai. "Dasar iblis mesum."

Sebastian tersenyum manis. "Saya hanya seorang butler, Nona."

"Ya, ya.. Whatever."

.

.

Handphone Levie berbunyi. Dirabanya saku celananya lalu mengambil HP miliknya. Dilihatnya nama di layar. Katherine William Jr. Levie menelan ludah. HPnya tak kunjung diangkatnya. Ia hanya memandangi handphone-nya saja yang tak kunjung berhenti berbunyi.

"Kenapa tak diangkat, Nona?" tanya Sebastian.

Levie tak menjawab. Ia ragu-ragu antara mau menjawab atau tidak. Tapi jika tidak dijawab..

"Halo?" Levie akhirnya menjawab telepon itu. Terdengar helaan napas lega dari seberang sana.

"Akhirnya kau mengangkatnya. Aku pikir kau kenapa-kenapa. Kau tidak apa-apa, 'kan, Vie?"

"Tidak.. Aku tidak apa-apa." Kata Levie dingin.

Terdengar helaan napas berat dari Katherine. "Apa kau masih benci padaku?"

"Siapa bilang aku benci?" Levie berkata dengan nada datar.

"Oh, ayolah." Katherine merajuk. "Aku sudah bersamamu sejak lahir. Aku tahu dirimu lebih dari siapapun. Bahkan lebih dari ibu kita. Ayolah, jelaskan masalahmu."

"Kath, aku sedang tidak ingin membahas masalah ini sekarang. Tiba-tiba aku merasa tidak enak badan."

"Benarkah? Kalau begitu aku akan kesana bersama William.."

"Kubilang tidak!" potong Levie. "Please, Kath. Aku tidak ingin berselisih denganmu. Kumohon dengarkan aku sekali ini saja."

Katherine terdiam sejenak sebelum berkata dengan suara serak. "Baiklah.. Jika kau membutuhkanku. Just call, and i'll immediately go there."

"Hm." Gumam Levie. Telepon diputuskan. Oleh Katherine.

Levie melempar handphone-nya sembarangan ke atas meja makan. Ia lalu bangkit dari kursi dan melemparkan tubuhnya ke sofa. Lalu menutupi matanya dengan lengan kirinya. Tubuhnya bergetar seakan sedang menangis, namun tanpa suara.

Sebastian diam sejenak memandangi majikannya. Kemudian ia melangkah menuju lemari dan mengambil sebuah selimut lalu membawanya pada Levie.

"Anda bisa masuk angin jika tidur disini." Kata Sebastian sambil menyelimuti Levie.

Levie tak bergeming. Ia masih menangis.

"Akhirnya anda menangis juga." Kata Sebastian. Membuat Levie menoleh padanya dengan matanya yang basah oleh air mata yang belum mengering.

"Maksudmu?"

"Yah.. Setelah anda menyadari anda telah membuat kontrak dengan saya.. Normalnya manusia akan menangis terlebih dahulu karena sedikit menyesal. Anehnya, anda baru menangis setelah dihubungi oleh—saudara anda." terang Sebastian.

Levie mengalihkan pandangannya dari Sebastian. "Kenapa aku harus menangis karena itu? Toh, aku telah menyetujui membuat kontrak denganmu."

"Lalu kenapa anda menangis—karena saudara anda?"

"Kenapa aku harus menjelaskannya padamu?" kata Levie dengan suara serak.

"Karena saya merasa anda perlu untuk menjelaskannya. Supaya perasaan yang menyesakkan anda yang telah menumpuk sedikit berkurang." Jawab Sebastian tenang.

Levie membalikkan tubuhnya ke arah Sebastian yang sedang berlutut di sebelahnya. "Ini mungkin sedikit membosankan dan klise.."

Sebastian menatap brown eyes Levie dalam-dalam. "Saya akan mendengarkan hingga anda selesai bercerita."

"Yah.." Levie menghela napas. "Semua berawal, mungkin, sejak kami berdua lahir. Dilahirkan hampir bersamaan. Dan dia diberi nama yang lebih panjang dariku. Katherine Cordelia Rodrickfille. Sementara aku, Levie Ethel Rodrickfille. Meski kembar, kami berbeda. Kath punya mata biru ibu dan rambut pirang ayah. Sedangkan aku mempunyai rambut hitam legam ibu dan mata cokelat ayah. Sangat berlawanan. Meskipun garis wajah kami mirip.

Semua orang, lebih menyayangi Kath. Tapi aku tidak peduli. Aku merasa, 'Tidak apa. Toh, untuk apa diperhatikan? Lebih baik sendiri. Aku bisa bebas!' Tapi pemikiran itu runtuh sejak William hadir.. Dia mengubah duniaku. Dan sayangnya, dunia Kath juga. Meskipun aku yang pertama bertemu William.. Pertama menyadari perasaanku pada William adalah cinta.. Namun aku juga orang pertama.. Yang mengetahui, William menyukai Kath. Dan hingga kini, aku masih mencintai William dan membenci Kath.."

Levie terdiam sebentar. Matanya menerawang. Sebastian masih dengan serius memperhatikannya. Tangannya yang dibungkus sarung tangan putih miliknya sekarang menggenggam tangan kanan Levie lembut.

"Aku bodoh, ya? Menyukai orang seperti itu.. Yang sudah jelas-jelas pasti akan menyukai Kath. Ternyata cinta itu menyakitkan, Aku ini.. Tidak akan pernah dicintai." Mata Levie berkaca-kaca.

"Nona benar." Kata Sebastian.

Air mata yang tertahan di ujung matanya seakan menguap. "Apa maksudmu?"

"Nona benar tentang cinta itu menyakitkan. Tidak ada cinta yang berakhir bahagia. Tidak ada. Semua pasti akan berakhir menyakitkan."

Mata Levie membulat. Kemudian tersenyum lemah. "Kau benar."

"Jadi." Sebastian menghapus air mata Levie yang ada di sudut mata Levie dengan jarinya. "Jangan menangis karena hal bodoh tentang cinta seperti ini lagi. Nona harus kuat. Karena Nona.."

Sebastian mencium tangan Levie. "Adalah majikan saya." Lanjutnya.

Levie tersenyum sekali lagi. "Kau benar, Sebastian.. Tak diragukan lagi."

Sebastian balas tersenyum pada majikannya. "Apa anda ingin tidur disini atau di kamar? Saya lihat anda sudah sangat mengantuk."

"Disini saja." Kata Levie sambil menelentangkan tubuhnya di sofa.

"Baik." Sebastian berdiri dan membungkuk pada Levie. "Selamat malam, Nona."

Sayup-sayup terdengar suara Levie yang sedikit lemah. "Selamat malam, Sebastian.."

.

.