Bunga di Panti Asuhan
Naruto hanya milik Masashi Kishimoto saya hanya meminjam karakternya.
pairing : Naruhina, Sasusaku, Saiino, Nejiten, Kakashizu.
summary: Kesedihan lima gadis dan masalah-masalah yang harus mereka tanggung. Apakah mereka sanggup ?
Chapter II
Kejadian itu teringat kembali di pikiran ino. Kejadian yang tidak akan bisa terobati, kejadian yang sangat membuat hidupnya hancur, kejadian yang mau tidak mau harus ino hadapi saat masih kecil dulu. Tanpa terasa ino meneteskan air matanya. Tenten yang melihat ino sedang sedih lantas saja ingin menghiburnya karena baginya cukup untuk ino mengingat kejadian itu. Kejadian yang telah lama itu sudah 9 tahun kejadian itu sudah mereka lupakan. Tenten pun mengambil bantal dan berniat untuk mengerjai ino agar dia tidak terlarut dalam kesedihannya.
" DUAKKKK "
" It-ittai ... hei apa yang kau lakukan ?" Ino sangat marah karena bantal yang mengenai wajahnya cukup keras.
" Hehehehehehehehe ... kau sih diam saja membuat ku bosan saja."
" Sakit tau ten ..."
" Are are aku tau ... maaf ya."
Dengan senyuman diwajahnya yang cantik ino pun memeluk tenten dan mengusek rambutnya seakan-akan tenten ini anak kecil yang ingin dimanja.
" Hei aku tidak akan memaafkanmu semudah itu tenten ... awas kau ya." Ino pun mengambil bantal di tempat tidurnya dan mengejar tenten yang berlari.
" Hei ino-chan kan aku sudah minta maaf hahahahahaha ..."
" Kan aku sudah bilang tidak akan memaafkanmu, sini kemari kau."
Mereka berdua pun berlarian mengelilingi kamar tempat tidur mereka. Kamar tidur di panti asuhan harus terbagi 1 kamar tidur untuk 5 orang anak. Memang kamar tidurnya tidak seluas anak-anak orang kaya. Tapi, setidaknya disinilah tempat mereka untuk melepas penat.
" CEKLEK "
" Hahhhh ... apa yang kalian berdua lakukan ?". Karui gadis berkulit eksotis itu bicara seperti sedang ada setumpukkan asap di telinganya. Gadis yang satu kamar dengan ino dan tenten ini sangat berbeda sifat dengan ino dan tenten. Karui adalah anak yang sangat pemarah, menurut ino dia gadis yang sangat menyebalkan.
" Hei ... jika kau tak ingin berisik pergi saja di luar sana hushh hushh ... " Kata ino yang mengusir karui. Memang ino gadis pemberani dalam segala hal.
" Apa kalian tidak tau aku mau melatih suara ku hmmmm ?"
" Lalu apa urusannya dengan ku karui ?" Ino memutar bola matanya yang menandakan dia bosan dengan perkataan karui.
" Kau kan bisa bernyanyi di luar saja. Ehh iya apa kau ingin bercita-cita ingin menjadi penyanyi ? Ya ampun karui ... lebih baik sebelum terlambat kau buang saja mimpi mu itu karena itu hanya angan-angan yang tidak bisa di gapai. Lagipula suaramu juga sangat buruk." Ino menambahkan katanya. Pertengkaran kecil yang membuat tenten tertawa, tenten pun tidak berinisiatif untuk melerainya karena dia tau jika ino hanya bercanda dan menggoda karui.
Karui tidak merespon perkataan ino menurut karui itu hal yang sudah sangat biasa.
" BLAMMM "
Karui segera pergi dan meninggalkan mereka berdua yang cekikikkan melihat tingkah lucu karui yang sedah marah.
Tap ... Tap ... Tap
Sakura berjalan menuju kantin karena dia ingin memakan bekal makanannya.
" Sa-sakura chan ... "
" Eh ayame chan. Ayo kita makan bersama yuk !!!!"
" Uhmm." Ayame mengangguk ajakkan sakura untuk makan bersama. Mereka memakan bekalnya dengan cerita dan tertawa. Setidaknya sakura merasa nyaman di tempatnya menuntun ilmu daripada harus di rumahnya.
Tanpa terasa waktu suda berjalan 30 menit. Bel masuk kelas pun berbunyi menandakan jam istirahat sudah selesai.
Tett ... Tett ... Tett
Dan mata pelajaran pun berlangsung walaupun dengan kondisi gaduh sakura tetap fokus dalam pelajarannya. Seburuk apapun kondisi dirumahnya namun bagi sakura tetap pelajaran nomer 1.
2 Jam Kemudian
" Baik anak-anak pelajaran kita sudahi."
" Yeayyyy ..." Teriakkan murid-murid yang penuh kelegaan karena nam tersiksanya sudah selesai. Namun, tidak bagi sakura. Gadis itu sangat ingin tinggal disekolahan selamanya karena dia tidak ingin pulang kerumah. Dengan langkah yang terlihat berat sakura berjalan menuju rumah yang baginya adalah tempatnya untuk disiksa.
Tok ... Tok ... Tok
" Kaachan ..."
Tok ... Tok ... Tok
" Kaachan ..."
" Apa kaachan sedang pergi ?" kata batin sakura.
CEKLEK
" Tadaima ... kaachan."
Tidak ada satu orang pun yang menyahutnya. Mungkin memang benar ibunya sedang keluar. Tapi, sakura merasa heran kalau memang ibunya pergi lalu kenapa pintunya tidak dikunci. Tanpa memikirkan yang aneh-aneh sakura langsung melepaskan sepatunya dan meletakkan di rak sepatu. Dia pun segera memakai sendal rumahnya dan menggantungkan jacket yang dia pakai tadi.
Sakura pun menaikki anak tangga untuk menuju ke kamarnya. Saat dia sudah sampai diatas tiba-tiba dia melihat danzo yang duduk di kursi atas dengan menyelipkan tangannya di saku celananya.
" Okaerinasai sakura hime."
Sakura yang terkejut melihatnya membuat dirinya ingin keluar rumah saja. Tanpa meladeni danzo sakura langsung berbalik dan mau menuruni tangga, dengan sigap danzo memegang tangan sakura.
" Lepaskan !!! Apa yang kau laku ..."
" Ssttt diam lah sakura chan jangan berisik. Kita harus segera melakukannya sebelum mebuki datang oke." Danzo berkata dengan mengedipkan matanya.
" Apa yang kau katakan danzo cepat lepaskan aku !!!"
Sakura terus meronta-ronta, memukul dan menendang danzo. Namun apa daya kekuatan sakura tidak sebanding kekuatan danzo yang lebih kuat. Danzo pun menjepit sakura diantara tubuhnya dan tembok rumah. Ingin sekali sakura berteriak dan menangis. Sakura terus mencoba melepaskan dirinya dari pria itu. Danzo pun melepas kancing baju seragam sakura yang paling atas. Sakura sudah tak sanggup lagi air mata pun menetes dari mata emeraldnya yang terlihat sangat redup seperti menyiratkan dia tidak ingin bertahan hidup terlalu lama lagi. Danzo terus berusaha untuk menciumnya, sakura pun mengumpulkan tenaganya untuk mendorong danzo.
BRAKK
Sakura pun meraih vas bunga yang ada dimeja sebelah tangga. Dengan cepat dia memukulkan kepada pria itu.
PRANGGG !!!
Ketika danzo limbung ini lah kesempatan sakura untuk segera melarikan diri. Dengan cepat sakura berlari menuju kamar tidurnya karena, tidak mungkun dalam keadaan kacau begini sakura keluar rumah. Hampir saja sakura meraih ganggang pintunya tiba-tiba pergelangan tangannya di pegang danzo, pria itu menarik sakura hingga di pelukannya. Sakura memukul-mukul wajah danzo dengan cepat.
" Sakura sayang kenapa kau begitu kejam pada ku. Kalau kau mau kau bisa memanggilku anata."
CUIHHH !!!
Tanpa berkata dan menjawab perkataan danzo sakura meludahi wajah pria itu. Danzo sangat marah karena di ludahi oleh sakura.
" Aku sudah berbaik hati padamu sakura !!!". Nada tinggi danzo menggema di telinga sakura.
" A-aku tidak butuh kebaikkan hatimu. Dasar pria tidak bermoral !!! hiks ... hiks ... Ce-cepat lepaskan aku !!!".
BRUKKK ...
PLAKKK ...
Danzo mendorong dan memukul sakura. Masih terasa di pipi kanan sakura, sangat panas dan sakit akibat tamparan danzo. Dengan menunduk sakura menangis.
" Kami-sama to-tolong aku hiks ... hiks
.. hiks. Tolong aku kami-sama." Batin sakura dengan lirih.
CEKLEKKK !!!
" Tadaima anata kau dimana ?". Mebuki pun sampai dirumah. Dengan cepat danzo merapikan bajunya yang berantakan dan segera turun untuk menyambut kedatangan mebuki. Sakura yang masih menangis berusaha bangun dan berjalan terseok menuju kamarnya. Sakura pun segera memasuki kamar mandinya, dan ingin rasanya dia segera membasuh tubuhnya yang merasa kotor karena tangan pria itu menyentuhnya.
Sakura menyalakan showernya dan membiarkan shower mengguyur tubuhnya. Dia masih merasakan sakit hati karena perbuatan pria itu, sakura terus menerus menangis di bawah guyuran air shower. Sakura terus menggosok-gosok tubunya yang tersentuh oleh tangan danzo. Baju seragam yang dia gunakan pun masih melekat di tubunya.
" Kami-sama apa yang harus aku lakukan hiks ... hiks ... hiks. A-aku su-sudah muak kami-sama." Rintihan kekecewaan sakura mungkin memang benar hanya sakura dan kami-sama yang mendengar. Sakura terus menangis tanpa dia pikirkan keadaan tubuhnya yang sekarang sudah merasa kedinginan.
" CUKUP !!! AARRGGGHHHH ... " Dengan sekuat tenaga sakura berdiri dia ingin bermaksud melaporkan semua kejadian ayah tirinya itu kepada sang ibu. Karena, tidak mungkinkan jika sang ibu kandung tidak mempercayainya. Dengan keberanian dan tekad yang menggebu sakura ingin bertemu sang ibu. Dengan baju seragamnya yang basah, dia menuruni tangga. Terdengar suara sang ibu dan ayah tirinya sedang mengobrol sesuatu entah apa itu.
" Kaachan ..."
" Oh astaga sakura kau kenapa sayang ? Kenapa kau basah seperti ini ?." Mebuki pun menghampiri sakura dan membelai lembut rambutnya.
" Kaachan aku ingin bicara sesuatu ...
... Kaachan kau tahu keadaanku seperti ini karena suami biadabmu itu !!!!". Dengan amarah sakura menunjuk danzo yang sedang duduk dikursi.
" Sakura-chan apa yang kau katakan sayang. Danzo itu pria yang baik tidak mungkin dia melakukan seperti ini terhadapmu sayang."
" Kaachan tolong dengarkan aku dulu ... Dia bukan orang baik bu, dia seperti pria jalang. Kaachan lihat aku ... Apakah ibu tidak mempercayaiku ?".
" DIAM SAKURA !!! IBU TIDAK PERNAH MENGAJARI MU BICARA SEPERTI ITU !!!".
Danzo pun yang awalnya hanya diam akhirnya dia ikut bicara untuk membela dirinya.
" Sakura kau memfitnah ku sayang? Aku sudah menganggapmu sebagai anak ku, dan aku sangat menyayangimu anak ku ... Tapi, kenapa kau memfitnah ku ?".
Mebuki hanya bisa terdiam dan dia bingung harus bagaimana lagi. Dia sangat kacau hari ini.
" Sakura aku salah apa terhadapmu sayang?". Danzo berkata dan mencoba mengelus rambut sakura namun dengan kasar sakura menepisnya.
PLAKKK
" Jauhkan tangan kotor mu itu dari tubuh ku !!!".
" Ohh ... sakura aku sudah berbaik hati untuk tidak memberitahu kepada ibumu apa yang kau lakukan terhadapku ...
... Karena aku sudah menganggapmu sebagai anak ku sendiri." Danzo berkata dengan penuh kepalsuan.
" Danzo apa yang kau bicarakan ?". Kata mebuki menuntut minta penjelasan.
" Oh mebuki hime ... Kau tau kan jika aku sangat mencintaimu? Apa kau percaya dengan perkataan sakura? Sakura itu membenciku hime ... Aku tidak menyangka sakura yang sudah aku anggap sebagai anak ku telah memfitnah ku. Lihatlah mebuki ... Lihatlah !!! kancing baju teratasnya terbuka karena dia tadi berusaha menggoda ku. Karena aku sangat mencintaimu hime ku, aku tidak tergoda dengannya."
" KAU ... !!! Kaachan dia berbohong kaachan tolong percayalah pada ku kaachan ... hiks ... hiks ... hiks ... Lihatlah aku ini anakmu yang kau kandung 9 bulan bu. Tolong percayalah padaku."
" CUKUP !!! DIAM SAKURA !!!". Mebuki berjalan menaiki tangga dan memasuki kamar.
Mebuki pun menuruni tangga dengan membawa koper berwarna pink.
" Ayoo sakura ikut kaachan !!!".
Mebuki menarik tangan sakura untuk berjalan mengikutinya. Saat sesampainya dijalan raya mebuki menghentikan taxi. Saat di dalam taxi hati sakura lega setidaknya ibu mempercayainya anak kandungnya. Akhirnya dia bisa terbebas dari pria itu.
CIITTT
Taxi sudah berhenti di tempat tujuan. Alangkah terkejutnya saat sakura melihat rumah sederhana yang bertuliskan papan besar
" PANTI ASUHAN KONOHA "
" Sakura cepat turun !!!".
" Ayo sakura ..." Sebenarnya sakura mendengarkan nada perintah sang ibu. Namun, sakura tetap duduk di kursi penumpang taxi itu.
" Sakura CEPATTT !!!".
" Aku tidak mau kaachan ..."
" DIAM !!!". Dengan terpaksa mebuki menyeret sakura agar segera turun dari taxi. Sakura tertatih-tatih karena dia tidak bisa menyamai langkah kaki sang ibu. Sakura terus memohon agar sang ibu mau membawanya kembali. Saat mebuki dan sakura memasuki halaman panti asuhan mebuki menghempaskan tubuh sakura di tanah halaman panti. Mebuki meninggalkan sakura beserta koper pink yang dibawanya tadi.
" Kaachan hiks ... hiks ... kaachan bawa aku kembali kaachan." Dengan sisa-sisa tenaga yang dia punya sakura meraih tangan mebuki dan bersujud di kaki mebuki agar mebuki mau membawanya kembali.
"CUKUP SAKURA !!! JANGAN PERNAH MEMANGGILKU IBU LAGI KARENA AKU TIDAK PERNAH MENGAJARI MU UNTUK MENJADI WANITA PENGGODA DAN PEREBUT SUAMI ORANG !!!". Dengan kasar mebuki melepaskan tangan sakura dari tangannya hingga sakura terjatuh. Mebuki tetap terus berjalan walau sang anak sedang memanggilnya. Mebuki menaiki taxi dan membiarkan sakura yang duduk tak berdaya di bawah halaman panti.
" KAACCCHHAAANNNN !!! Hiks ... hiks ... hiks ... KAACCCCHHHAAAANNNN !!!". Sakura berteriak sangat kencang.
Hey minna,
Ini chapter ke 2 dari sequel Bunga di panti asuhan. Memang ini masih menceritakan tentang sakura dulu.
Please minta reviewnya untuk memperbaikki diri ku. Karena aku masih mrmbutuhkan komentar sebagai pembelajaran. Tolong bantuannya para reader dan sensei.
Thanks
