Disclaimer : I don't own Fairy Tail.
Warning : OOC.
This story is mine.
Beauty and The Gallant
Story Two
- The Princess And The Fool -
Ball and cracked mask
Seorang anak pindahan bertampang culun telah menempati kelasku semenjak satu bulan lalu. Penampilannya sangat mencolok, gayanya seperti pemuda di era tahun 80-an. Dia tidak banyak bicara dan selalu sendirian, karenanya banyak rumor atahu candaan jelek tentangnya. Namun walaupun satu sekolah menggunjingnya, tapi dia tetap diam dan bertingkah seakan tidak peduli.
Awalnya aku jengkel dengan sikapnya yang sok kuat itu, namun setelah satu kejadian yang kulihat beberapa waktu lalu, ternyata sifatnya tidak seburuk rupanya. Maka dari itu aku, Lucy Heartfilia, seorang putri konglomerat yang disegani, seorang siswi pandai nan cantik yang dipuja dan dipuji, entah mengapa akhir-akhir ini sering mengamati pemuda dengan julukan 'si culun' itu.
Aku sendiri tidak mengerti apa yang sedang kulakukan saat ini dan mengapa aku melakukan ini. Mengamati, bersembunyi, aku seperti seorang pengintai. Namun tak ada niat jahat sama sekali, yang muncul hanyalah rasa penasaran.
Memang tidak habis pikir mengapa aku membuntuti seorang pemuda culun yang sekarang sedang menghapus papan tulis itu. Setelah lama memperhatikannya aku jadi menyadari sesuatu. Jika dipikir, tidak pernah sekalipun aku melihat seluruh wajahnya. Kacamata besar yang menutupi wajahnya itu menghalangi pula pandanganku. Namun aku tak terlalu memperdulikannya, toh tanpa kacamata pun tak akan memungkiri keculunannya.
Hari itu sekolah terlihat lebih sibuk dari biasanya.
Bagaimana tidak, sesaat yang lalu seorang perwakilan dari Komite Murid telah menempel pengumumam resmi mengenai waktu pembukaan Festival sekolah yang akan diadakan seminggu lagi. Tentu saja para siswa menyambut berita itu dengan gembira. Festival sekolah tersebut merupakan perayaan akhir tahun yang akan segera dilaksanakan mengingat tahun ajaran baru akan segera datang.
Seperti biasa, selalu diadakan perayaan meliputi pesta dansa yang rutin dilaksanakan oleh sekolah. Hampir seluruh siswa menyambutnya dengan antusias, baik para gadis maupun para pemudanya. Terutama, mereka sama-sama menjadikan pesta ini sebagai peluang untuk mendapatkan pasangan. Atahu sekedar ajang untuk menyatakan perasaan. Ya, hampir semua. Karena sepertinya hanya aku satu-satunya murid yang tidak menunggu-nunggu acara ini. Tahun lalu, aku musti berkelit dengan tidak menghadiri pesta untuk menghindari ajakan para siswa yang saling berlomba mengundangku. Hal ini menjengkelkan.
Telah diputuskan bahwa tema pesta dansa tahun ini adalah pesta topeng.
Tidak terlalu buruk, menurutku. Kemudian tiba-tiba aku teringat pada pemuda itu. Dengan kacamata tebalnya maka ia sudah tidak memerlukan topeng lagi, pikirku. Seakan-akan dengan topeng sekalipun semua orang akan tahu dialah orang dibalik topeng itu, tidak ada bedanya dengan penampilan berkacamatanya, anyway.
Sahabatku, Levy datang menghampiriku dengan tangannya menggenggam pamflet pesta topeng tersebut. Dengan panjang lebar dia bercerita mengenai berbagai macam pesta dengan kostum sambil berseri-seri, dan pada akhirnya ia bertanya, "Lu-chan, kau yakin tidak akan datang?"
"Kau pasti sudah tahu jawabannya bahkan sebelum bertanya kan, Levy-chan?" jawabku.
"Tapi tema kali ini sungguh menarik Lu-chan. Kau bisa memakai berbagai topeng menarik, dan juga bisa menutupi seluruh wajahmu. Karena itu tak ada seorangpun yang akan mengganggu! Dan, hei!"
Tiba-tiba Levy menepukkan kedua tangannya sehingga membuatku sedikit terkejut, "Kurasa jika kau berdandan ala si culun, dengan kacamata tebal dan besar menutupi wajahmu, lalu mengepang rambutmu menjadi dua, kurasa tak akan ada yang mendekatimu! Ne, ne, iya kan Lu-chan?"
Entah kesal karena dikagetkan atahu kesal karena candaan Levy, aku menggerutu, "Sssh, kau jangan bercanda!"
"Aku serius!"
Aku melirik ke arahnya sambil mengangkat sebelah alisku, "Hmm?"
"Ini sedang menjadi pembicaraan populer di kalangan para murid, dan kurasa memang ide yang bagus buatmu. Bagaimana? The-he." Seringai Levy.
"Huh. Tidak mungkin aku melakukan hal bodoh seperti itu. Jauh lebih baik aku menikmati segelas coklat panas di kamarku yang nyaman daripada keluar malam hari memakai gaun berat, berdempetan di lantai dansa, apalagi berkostum menyerupai orang itu!" gerutuku panjang lebar.
"Ngomong-nomong, aku sedikit khawatir padanya." Levy mengalihkan topik pembicaraan, aku yakin untuk menghindari omelanku, tapi wajahnya kini menunjukan ekspresi serius.
"Siapa?"
"Tentu saja anak baru itu. Dia tidak melakukan hal-hal buruk, tapi semua orang tetap menggunjingnya. Ya kan, Lu-chan?"
"Penampilannya yang buruk." Ceplosku.
"Lu-chan, aku serius! Aku punya firasat buruk, sepertinya orang-orang tidak akan melepaskannya begitu saja di momen langka ini. Apalagi dia anak baru, dia belum tahu apa-apa."
"Maksudmu apa?"
"Si raja dan ratu bully. Laxus dan Minerva maksudku, senior kita. Kau tahu kan, mereka suka menjahili orang-orang yang . . mmm, sedikit beda dari yang lain, seperti si culun itu contohnya".
Deg.
"Memangnya kau pikir anak itu akan datang? Yang benar saja, aku rasa dia bukan tipe yang senang mondar-mandir di tengah pesta dan mendatangi gadis-gadis. Maksudku, kau lihat saja penampilannya?"
"Ya, mana aku tahu. Aku kan cuma berfirasat. Memangnya siapa yang tahu kalau dia akan datang atahu tidak?"
Benar juga. "Hmm, ya. Mana aku tahu juga."
Aku pura-pura tidak peduli, padahal dalam hati aku memikirkan perkataan Levy dalam-dalam. Benar juga.
Akhir-akhir ini pikiranku dipenuhi dengan firasat buruk Levy. Ia memang gadis yang baik, selalu mengkhawatirkan orang lain. Tidak seperti diriku, sangat berkebalikan. Tapi untuk hal ini aku tidak bisa tidak peduli. Bisa dibilang aku telah bersimpati pada pemuda 'teman'ku yang dulu pernah kupandang jijik karena tingkahnya itu, sebelum aku tahu kalau anak itu ternyata adalah anak yang baik hati.
Tapi walau begitu, kenyataannya aku tidak mungkin datang mendekatinya, tiba-tiba akrab dengannya, lalu memperingatinya supaya harus berhati-hati. Meski kubilang aku bersimpati padanya, bukan berarti aku akan mulai bicara padanya dan menjadi temannya. Bisa-bisa aku ikut-ikutan dijadikan gunjingan satu sekolah.
Namun suatu saat di sore itu, aku berpapasan dengan pemuda tersebut di sebuah koridor. Refleks, kepalaku menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan tak ada seorang pun disana berhubung jam pulang sudah lama usai. Akhirnya setelah menimbang-nimbang berbagai hal dan memastikan situasi aman, aku memutuskan untuk menghampirinya.
Ini pertama kalinya aku secara sadar berada cukup dekat dengan pemuda culun itu.
"Bisa bicara sebentar?" aku mengawali tanpa basa basi.
"Ya?" Pemuda itu tak yakin apakah gadis cantik di depannya ini bicara pada dirinya atahu bukan.
Aku tertegun sesaat, yakin bahwa ini adalah kali pertama aku mendengar suaranya. Kemudian aku membalikan badanku dan memberi isyarat pada pemuda itu untuk mengikuti. Meskipun nampaknya sedikit ragu, namun pemuda culun itu mengikutiku sampai ke tempat yang kuyakini tak akan ada orang yang melihat. Sekedar untuk jaga-jaga.
Tanpa buang waktu aku berkata, yang terdengar lebih seperti memerintah, "Jangan datang ke pesta dansa di festival besok lusa."
Aku yakin seandainya aku bisa menatap menerobos kacamata tebalnya, ia sedang berekspresi melongo kebingungan sekarang. Tapi dia hanya diam dan tidak berkata apa-apa.
"Acara itu tidak menyenangkan, aku serius. Mmm, jadi Sebaiknya kau diam saja di rumah daripada menjadi bahan tertawaan satu sekolah."
Hening beberapa saat. Aku memprediksi bahwa pemuda ini sedang menimbang-nimbang apa yang kukatakan.
"Maksudku, kau pasti menyadari bahwa dirimu sering menjadi bahan candaan mereka bukan? jadi dengar, aku, mmm . . maksudku temanku merasa bahwa kalau kau datang ke pesta itu, akan terjadi sesuatu yang buruk padamu."
Hening lagi. Aku mulai bingung. Apa aku salah bicara?
"Terima kasih?" Katanya, mungkin hanya perasaanku saja tapi aku yakin bahwa itu adalah sebuah pertanyaan. Dari nada suaranya dia seolah-olah sedang bingung.
Tidak mau berlama-lama, aku segera pergi dari tempat itu tanpa mengatakan apapun lagi, sebelum memberikan kesempatan pada pemuda itu untuk mempertanyakan kenapa aku melakukan semua ini, karena aku pun sama sekali tidak tahu alasannya. Tanpa menoleh lagi, aku berjalan cepat meninggalkan pemuda yang sekarang entah apa yang tengah dipikirkannya.
Setelah dipikir-pikir semalaman, aku mempertanyakan aksiku kemarin. Aku mendatangi anak itu dan tiba-tiba melarangnya datang ke sebuah pesta, yang aku sendiri bahkan tidak tahu apakah dia menyadari adanya pesta tersebut atahu tidak.
Maksudku, dia anak pindahan yang baru datang sekitar sebulan lalu dan tiba-tiba dilaksanakanlah sebuah pesta yang aku yakin dia tidak tahu seperti apa pesta itu. Lagipula aku pun yakin dia tidak mempunyai teman yang akan menceritakannya tradisi sekolah ini. Toh dia selalu sendirian.
Tapi tiba-tiba dia mendapati ada seorang gadis yang mendatanginya dan memperingati suatu hal tanpa bertanya apakah dia peduli atahu tidak . . ? Pasti saat ini dia mengira kalau aku tengah memperhatikannya dan peduli padanya –walaupun memang itu semua benar- tapi tetap saja rasanya konyol. Yasudahlah setidaknya anak itu kini sudah diperingati dan tidak akan datang ke pesta konyol itu.
Aku semakin tenggelam ke dalam lengan yang sedaritadi menelungkup kepalaku, menyembunyikan wajahku. Lalu tiba-tiba seseorang menepuk bahuku lumayan keras sehingga aku melonjak.
"Ah, Levy-chan kau mengagetkanku!"
"Gomen, gomen, anyway Lu-chan aku membawa berita buruk!"
"Hm?"
"Pembicaraan waktu itu tentang firasat burukku mengenai anak baru itu, kau ingat?"
Tentu saja, mana mungkin aku lupa. Pikirku dalam hati. "Ya, kenapa?"
"Ternyata benar senior-senior itu sedang merencanakan sesuatu. Anak-anak banyak yang membicarakannya. Kabarnya banyak yang penasaran dengan anak itu karena rumor buruk yang dia miliki kan? Dan satu sekolah meminta pertunjukan. Makanya duo trouble maker itu telah memintanya untuk datang."
"Apa? Jadi dia serius akan datang ke pesta itu?" Mataku melebar.
"Tentu saja, memangnya kenapa dia tidak akan datang?"
"Hmm . . karena sebuah pesta bukanlah tempat yang cocok untuknya?" mana mungkin aku bilang pada Levy-chan kalau aku telah melarangnya untuk datang, Geezz.
"Tentu saja dia akan datang, Lu-chan. Senior yang memintanya, anak paling bodoh dan culun sekalipun tahu apa jadinya kalau menolak."
Aku merapatkan mulutku, kesal. Terlepas dari segala sifat baiknya yang sempat aku saksikan selama ini, kini aku yakin bahwa pemuda culun itu tidak hanya culun, tapi juga benar-benar bodoh. Entah jengkel akibat peringatanku tempo hari telah benar-benar diacuhkan atahukah jengkel karena pemuda itu sekali lagi tidak memperdulikan apa yang akan dilakukan satu sekolah padanya sampai-sampai tanpa sadar aku menggigit bibir bawahku. Bukankah keterlaluan jika dia tidak bisa membedakan mana yang namanya baik sama bodoh?
"Levy-chan, sepertinya aku akan menghadiri pesta itu."
"Ya, tak apa Lu-chan aku mengerti ini tak ada hubungannya dengan- APA?" mata Levy melebar dengan ukuran yang tidak dapat didefinisikan seolah mendengar bahwa seseorang telah berhasil mengeringkan lautan.
"Dengar, aku akan datang, bukan karena aku peduli pada anak itu tapi aku penasaran apa yang akan terjadi padanya di pesta nanti," aku berkelit. "Tapi.." aku bersandar maju ke arahnya sampai mulutku dekat dengan telinganya dan satu tanganku menyembunyikan kami sambil berbisik, "kau harus melakukan sesuatu untukku."
Levy memandangku dengan tatapan penuh tanya.
-TBC-
Story status : Pending, on progress.
