Tekad yang Kuat
Ta-da!! Angel disini! Ehm... saya sebenarnya malu jadi kalau mengkritik yang baik-baik ya? ^_^! Yah sudah ini bab pertamanya.
(Mengambil microphone) Ehem... tes tes? Ok ok sudah on? (Naruto mengacungkan jempol setelah mic-nya nyala) Ok sempurna...
Disclaimer: Naruto bukan milikku!!!!!!!! Tidak dulu dan tidak sekarang!!! Dia hanya milik Masashi Kisimoto-sensei (memperlihatkan poster sensei yang tersenyum) dan Hinata!!! (Hinata bersemu merah).
Warning: Bagi yang belum membaca atau menonton Naruto Shippudden mohon diingat kalau fanfiction ini penuh spoiler Naruto Shippudden. Jadi mohon jangan marah kalau saya merusak rasa penasaran kalian tentang cerita Naruto yang asli dengan menulis fanfiction begini. T_T
Ehm... sekian dan terima kasih... (membungkuk).
Sakura terus berlari. Ia berlari dan berlari sekencang angin. Rambut pinknya yang pendek berterbangan ke belakang. Ia berlari sambil melompat dari pohon ke pohon. Ia sangat menyukai perasaan ini. Seperti terbang bebas di udara. Dan ia juga merasa senang. Akhirnya, setelah sebulan sejak pertemuan pertama mereka setelah dua setengah tahun, ia akan menyelamatkan Sasuke. Tim ANBU di Konoha berhasil melacak desa tersembunyi tempat Orochimaru berada. Sekarang, ia dan yang lainnya sedang menuju tempat itu dengan kecepatan penuh. Apalagi kabarnya Orochimaru sedang bersiap-siap untuk mengambil alih tubuh Sasuke. Sakura mempercepat langkahnya. TAKKAN IA BIARKAN SIAPAPUN BERANI MELUKAI SASUKE!!
Ia tersenyum sedih saat mengenang saat terakhir ia bertemu Sasuke. Malam hari yang dingin dan sepi, wajahnya yang memperlihatkan seolah-olah nggak mempedulikan orang lain, senyumnya saat berkata "kau memang menyebalkan" dan kata terima kasih yang ia bisiki di belakangnya sebelum membuatnya pingsan. Sakura masih merasakan sayatan itu dalam hatinya. Ya, ia memang menyebalkan. Ia sudah tahu dan ia sudah sangat mengerti, bahwa sampai kapanpun Sasuke nggak akan pernah menyukainya sama sekali. Ia sudah menyerah meminta balasan cinta dari Sasuke, tetapi ia nggak akan pernah berhenti untuk membahagiakan Sasuke. Ia akan melakukan apapun untuknya. Ia sudah mengatakan hal itu tiga tahun yang lalu. Ia tidak akan meminta balasan. Asal Sasuke bahagia ia senang. Ia tahu Sasuke sebenarnya orang yang baik. Buktinya, setelah membuatnya pingsan, ia tidak membiarkan Sakura tidur di jalanan, tetapi ia menggendong Sakura dan membaringkannya di atas bangku. Atau waktu Orochimaru menyerang mereka saat ujian Chuunin di hutan itu, Sasuke berlari ke arahnya untuk melindunginya, atau kata-kata yang menghiburnya, yang mengatakan bahwa ia adalah adalah yang paling pintar di antara mereka bertiga. Sakura tersenyum saat melompat tinggi melewati tiga pohon untuk mempercepat langkahnya.
Ia tahu Sasuke orang baik. Ia tahu, perlakuan Sasuke terhadapnya memang dingin, tetapi ia tidak diperlakukan seperti sampah. Itu sudah cukup.
Sakura bekomunikasi melalui wireless dengan anggota-anggota timnya yang lain. Mereka sepakat untuk mendekati desa Otogakure secara terpisah dan tetap berkomunikasi melalui wireless agar kehadiran mereka tidak diketahui selama mungkin. Para ninja di desa Otogakure bukanlah orang-orang yang bodoh. Dan bukanlah ninja-ninja yang lemah.
Menurut perkiraan Kakashi, para ninja Otogakure memperkuat keamaan dan kewaspadaan mereka dua kali lipat menjelang hari Orochimaru mengambil alih tubuh Sasuke. Dan kabarnya besok ia akan melakukan Tensei. Sakura mempercepat langkahnya.
Sasuke...
Sakura melompat semakin jauh.
Sasuke... Sasuke...
Ia sekarang secepat angin.
Kali ini aku akan menolongmu!
Tiba-tiba ia berhenti. Berdiri di atas dahan pohon yang lebar. Sakura bukan orang bodoh. Dan ia tidak lulus dari ajaran Tsunade dengan otak kosong dan usaha kecil.
"Percuma kamu sembunyi. Aku tahu dimana kamu. Kalau kamu nggak keluar aku yang akan menyerang duluan," ujar Sakura dengan nada tegas. Angin sesaat menerbangkan rambut pinknya yang pendek.
Sesaat tidak terjadi apapun, tetapi tiba-tiba ada tiga Shuriken yang menyerangnya dari belakang. Sakura melompat, badanya jungkir balik sebelum ia mendarat anggun di atas dahan pohon, tempat pijakannya tadi. Belum berdiri dua detik, dari depan ia sudah diserang empat kunai. Sakura membungkuk ke belakang, kedua tangannya berpegangan pada dahan tempat pijakannya lalu ia menjatuhkan badannya kemudian berayun ke depan. Ia menendang pohon di depannya, tempat yang ditutupi daun-daun lebat.
Terdengar jeritan seorang wanita, lalu ada tubuh yang terjatuh ke bawah. Sakura ikut melompat, tetapi sebelum ia menyentuh tanah, tubuh itu tiba-tiba berubah jadi asap.
Kagebunshin!
Saat itu dari segala arah datang puluhan Shuriken dan Kunai. Mengenai sasaran! Setelah tubuh Sakura terjatuh tidak bergerak, seseorang melompat ke arahnya, lalu berhenti dengan senyum kemenangan.
Tidak percuma aku merampok seluruh persediaan senjataku.
"Huh, ternyata kamu tetap lemah seperti dulu."
Tubuh Sakura tiba-tiba berubah menjadi dahan pohon.
Kawarimi no jutsu! Orang itu mundur beberapa langkah, tetapi dari arah belakang tiba-tiba ia diserang dua tangan yang menyentuh kedua kakinya sesaat. Orang itu merintih kesakitan. Sakura berdiri dengan senyum kemengan di belakangnya.
"Ternyata kamu tidak belajar dari masa lalu. Dan maaf jika aku mengacaukan aliran cakra di kedua kakimu, tetapi dengan begini kamu nggak akan bisa lari."
"Jangan dikira kamu bisa menang! Aku masih bisa membentuk segel!" orang itu merapalkan beberapa segel, tetapi Sakura lebih cepat. Ia menyentuh tangan kanan orang itu dengan cakranya yang berwarna pink. Tangan kanan orang itu terkulai lemas. Orang itu mengucapkan beberapa makian.
"Seorang wanita tidak seharusnya mengucapkan kata-kata kasar, nanti bisa dijauhi lelaki," ujar Sakura lembut.
"Persetan dengan saranmu! Berbicara seperti itu padahal sendirinya nggak bahagia! Sasuke sebentar lagi akan menjadi wadah tuan Orochimaru yang baru!"
Sakura tertegun sebentar, tetapi sesaat kemudian ia mencengkeram rambut panjang orang itu dan mendekatkan sebuah kunai ke lehernya.
"Aku sih sudah mendengar saranmu dengan baik. Kalau kamu punya waktu luang mengurus rambutmu, berlatih sana beberapa jurus. Tapi ngomong-ngomong, rambutmu yang tetap panjang tidak lebih mengkilap dari punyaku. Dan mengenai Sasuke," Sakura menutup kedua matanya dengan tenang, lalu membukanya dengan pandangan berkobar bahaya, "aku akan menyelamatkannya meski nyawa taruhannya. Tidak seorang pun, baik kamu maupun Orochimaru, atau orang lain, yang akan menyakiti Sasuke selama aku masih bernapas. Seandainya ada Zaku disini, aku mungkin akan membunuhnya di depanmu, supaya kamu tahu gimana rasanya ketakutanku pada hari itu."
Kin membuka mulutnya. Ia terlihat terkejut.
"Heran bagaimana aku tahu? Aku tahu apa yang kamu pikirkan saat kamu saat melihatnya terluka pada waktu Sasuke mematahkan kedua tangannya atau Shino yang berhadapan dengannya saat ujian Chuunin. Sekarang...."
Sakura mencengkeram rambut Kin lebih kuat. Kin mulai berkeringat saat Sakura mengayunkan kunainya di depan wajah Kin.
"Enaknya aku apain? Aku belum berterima kasih padamu karena waktu itu."
Kin memandang Sakura dengan sedikit ketakutan, tetapi ia tidak berkata apa-apa. Nampaknya ia tidak sudi meminta belas kasihan dari orang yang sudah ia remehkan.
"Sebelum aku mulai, aku punya pertanyaan terakhir: bagaimana keadaan Sasuke?"
Kin tersenyum nyindir. "Ia masih hidup. Sehat walafiat. Orochimaru akan segera melakukan Tensei begitu persiapannya sudah beres. Untuk itu ia akan mengurung Sasuke ke ruang bawah tanah. Asal ia berduaan dengan Sasuke di satu tempat, itu akan cukup. Sasuke sudah terkena segel pemberian Orochimaru, dia tidak akan bisa kabur. Mungkin akan sulit, tetapi kemungkinan untuk mengalahkan Orochimaru dua berbanding satu. Selain itu," Kin tertawa sinis. Sakura sesaat heran.
"Ia mungkin lagi bersenang-senang bersama pacarnya Karin."
Sakura terdiam. Kin memang hanya melihatnya sebentar, tetapi Sakura sempat terlihat shock. Kemudian Sakura tersenyum, walau agak sedih.
"Hal itu tidak akan mengurangi tekadku sedikitpun," lalu Sakura melepaskan Kin.
Lho... kok..?
"Hanya itu yang ingin kutahu. Kamu sekarang bisa pergi. Aliran cakra kamu akan kembali normal dalam dua jam. Membunuhmu hanya membuang-buang waktuku yang berharga," Sakura memasukkan kunainya ke dalam tas pinggangnya.
Kin memandangnya sebentar, lalu menunduk. Ia tidak mengucapkan terima kasih. Saat Sakura beranjak pergi ia berbisik, "Semoga kamu berhasil."
Sakura tidak berpaling ke belakang, tetapi ia mengangkat tangan kanannya. Lalu ia melompati pohon-pohon di depannya. Kin yang ditinggal sendirian, teringat kembali pada Zaku. Tidak seperti Sakura, ia hanya berdiri mematung tidak berbuat apa-apa saat Zaku dibawa pergi ke ruang laboratorium oleh Kabuto. Setelah itu Zaku tidak kembali lagi.
---
Naruto mengeluh. Ia duduk di samping Kakashi di atas tebing yang berada di dekat tempat utama Orochimaru di desa Otogakure. Sai dan Yamato bediskusi di belakang mereka, membicarakan semua informasi yang berhasil mereka kumpulkan tentang desa ini. Naruto dengan jelas bisa memandang ke dalam bangunan besar itu dengan teropong. Ia sempat melihat Sasuke lewat di koridor di tingkat dua bangunan milik Orochimaru. Ia ingin menyelamatkan Sasuke sekarang, tetapi ia dilarang oleh Kakashi. Gurunya tidak ingin memulai pertarungan sebelum yang lainnya datang. Semuanya!
Saat Kakashi lagi berbicara dengan Sakura melalui wireless, Naruto menyambar teropong yang dipegang Kakashi sejak dua jam yang lalu. Kakashi menghela napas. Setelah selesai bicara ia berpaling ke arah Naruto.
"Sakura akan datang belakangan. Tadi ia ketemu dengan shinobi desa Otogakure."
"Bagaimana keadaannya!" tanya Naruto cemas.
"Ia baik-baik saja. Orang itu sudah dikalahkan Sakura dengan cepat."
"Namanya juga Sakura! Dia bukan orang yang lemah," Naruto nyengir dengan gembira. Ia masih melihat melalui teropongnya.
"Hah! Itu Sasuke!"
"Diam Naruto! Jangan berisik. Kita tidak ingin memancing perhatian semua shinobi desa ini. Kita berempat memang orang kuat, tetapi jika harus berhadapan mereka sekarang, kita hanya akan jadi sasaran empuk. Kita beruntung, kehadiran kita belum disadari oleh mereka. Dan aku belum mau mati sebelum selesai membaca Icha-Icha Tactics."
Naruto hanya mengerutkan keningnya. Ia tidak pernah mengerti kenapa gurunya begitu menyukai tulisan si Jiraiya itu. Ia terus melihat melalui teropong, memperhatikan Sasuke yang seperti berbicara dengan seseorang yang punya gigi taring yang besar. Kemudian ada orang lain yang bergabung bersama mereka. Badannya besar sekali. Saat Naruto bertanya-tanya kenapa mereka semua membawa tas ransel yang besar, ada seorang cewek berambut merah, dan berkaca mata, merangkul Sasuke.
Siapa cewek itu?! Pikir Naruto kaget. Pacarnya? Bagaimana reaksi Sakura jika melihat hal ini? Pasti dia akan sakit hati. Bagaimana ini?
Sasuke mengucapkan sesuatu lalu cewek itu akhirnya melepasnya. Lelaki yang bertaring mengatakan sesuatu dengan senyum sindir. Cewek itu langsung marah padanya.
"Ada apa Naruto? Kenapa wajahmu kaget begitu?" tanya Kakashi.
"Eh... anu... bukan apa-apa," jawab Naruto dengan terbata-bata. Ia mengembalikan teropongnya ke Kakashi.
Tiba-tiba di belakang mereka datang Kiba dan Neji. Mereka menyapa Naruto dan Kakashi. Tidak lama kemudian, muncullah Shikamaru, lalu Shino yang diikuti Ino. Beberapa menit kemudian disusul Tenten, lalu Chouji. Setelah itu datanglah Lee bersamaan dengan Hinata. Naruto langsung berdiri saat melihat pacarnya datang.
"Hin- Hinata! Kamu nggak apa-apa?"
Muka Hinata memerah. "Aku tidak apa-apa Naruto-kun."
"Tidak jatuh? Tidak ketemu musuh? Tidak dijadikan sasaran latihan oleh Lee?"
"He!" ujar Lee kesal.
Hinata terus menggelengkan kepalanya. Mukanya tetap bersemu merah.
"Naruto, Hinata adalah Shinobi yang berbakat, anggota klan Hyuuga. Ia tidak selemah itu," ujar Neji tenang.
"Iya memang. Tapi aku nggak akan tahan jika terjadi sesuatu pada Hinata!" Naruto langsung memeluk Hinata. Hinata menjerit kaget, lalu jatuh pingsan. Ino mendekat ke arah Hinata dengan cepat, lalu memeriksa kondisinya setelah memukul kepala Naruto sekali. Shikamaru menghela napas sambil berkata, "Tukang merepotkan."
"Ngomong-ngomong dimana Sakura?" tanya Lee cemas setelah melihat ke sekelilingnya dan tidak menemukan siapapun yang berambut pink.
"Sakura akan datang belakangan. Tadi ia sempat bertemu shinobi Otogakure–" ucapan Kakashi dipotong pertanyaan Lee yang bertubi-tubi.
"Dia nggak apa-apa? Tidak terluka? Tidak dapat masalah? Harus aku pergi membantunya?"
"Tenang Lee," Tenten meminta.
"Lee, Sakura bukan shinobi yang lemah. Ia adalah murid khusus didikan Tsunade, Hokage kelima. Kalaupun ia terluka, ia sebagai ninja medis terkuat setelah Shizune, dengan mudah bisa menyembuhkan lukanya," ujar Neji tenang.
Shikamaru berbisik, "Tambah lagi satu tukang merepotkan."
"Sakura baik-baik saja. Ia baru saja memberitahuku kalau ia sedang menuju kesini. Tanpa luka apapun!" Kakashi menjelaskan.
"Yooossshh! Itu memang Sakura-ku!" Lee mengepalkan tangannya dengan pandangan kagum.
Semua orang yang mendengar perkataannya, memikirkan hal yang sama: sejak kapan dia jadi Sakura-mu?
Seperti terpanggil, Sakura mendarat anggun di belakang mereka.
"Hai semuanya. Aku belum terlambat 'kan...? Apa yang terjadi pada Hinata?!" ia berlari ke arah Hinata lalu berlutut di samping Hinata yang belum sadarkan diri. Ino masih mengalirkan cakra di atas dahi Hinata.
"Naruto," hanya itu yang diucapkan oleh Ino, tetapi Sakura mengerti.
"Sakura! Aku senang kamu tidak apa-apa! Tadi aku sempat cemas begitu mendengar kamu bertemu shinobi Otogakure–"
"Terima kasih Lee," kata Sakura. Ia berpaling ke arah Naruto dan guru mereka. "Bagaimana dengan Sasuke?"
"Sejauh yang kami melihat. Tidak ada hal yang aneh. Sasuke baik-baik saja. Orochimaru sejak tadi nggak kelihatan. Sepertinya ia masih mempersiapkan dirinya bersama Kabuto. Karena kita semua sudah berkumpul sekarang, aku akan memberitahu rencana misi kita. Dengar baik-baik," Kakashi menjelaskan dengan detail semua langkah-langkah mereka. Tujuan mereka hanya satu: merebut Sasuke dan membawanya kembali ke Konoha. Jika bisa, menangkap Kabuto atau Orochimaru. Tetapi jika keadaannya gawat, membawa Sasuke saja sudah cukup. Saat Hinata membuka matanya dan berbicara pada Ino, Neji tiba-tiba menarik perhatian semuanya. Ia baru saja mengaktifkan Byakugan-nya.
"Sasuke menyelinap pergi dengan tiga orang melalui pintu belakang. Mereka menuju barat!"
Semua menoleh ke arah yang ditunjuk Neji. Terlihat empat orang melompati atap-atap desa dengan cepat. Naruto dan Sakura melihat Sasuke. Mereka tidak memerlukan teropong untuk mengetahui siapa pemilik rambut hitam itu. Tiba-tiba dari segala arah muncul puluhan ninja Oto, menyerang kelompok itu dari segala arah, namum mereka dengan mudah dikalahkan Sasuke dengan pedang Kusanagi-nya. Kakashi menggeram.
"Semuanya! Perubahan rencana! Kita laksanakan rencana B!"
"Rencana apa itu?" tanya Kiba yang menaiki Akamaru.
"Kejar Sasuke, buat dia pingsan, lalu bawa dia ke Konoha secepatnya."
"Naruto dan Sakura sudah duluan," Sai menujuk ke arah dua orang yang melompat ke arah arena pertarungan.
Kakashi berteriak frustasi. Ia tidak ingin kehilangan semua muridnya hari ini sekaligus dalam pertarungan di desa Otogakure. Secepat angin ia melompat turun dari tebing. Semua mengikutinya.
"RASENGAN!!" Naruto memancarkan jurus ninjutsu-nya ke arah seorang ninja Oto yang mencoba menyerang Sasuke dari belakang. Jumlah mereka terus bertambah, walau dikalahkan terus oleh Sasuke dan kedua temannya. Hanya cewek itu berdiri tenang di belakang Sasuke seolah-olah yakin ia akan dilindungi oleh Sasuke.
"SASUKE!!" teriak Naruto dan Sakura bersamaan. Sasuke berpaling ke arah mereka sebentar, tetapi kemudian ia melanjutkan pertarungannya sambil berlari ke arah barat.
"Tunggu aku Sasuke! Jangan pergi!" Sakura berlari ke arahnya. Tetapi tiba-tiba atap tempat mereka bertarung hancur. Seekor ular besar berwarna putih dengan rambut hitam, muncul di antara mereka. Sakura terjatuh, bersamaan dengan cewek berambut merah dan berkaca mata yang ikut jatuh. Tiba-tiba Sakura melihat Sasuke melompat ke arahnya. Waktu terasa berjalan lambat. Ia melihat Sasuke mendekat dan semakin dekat. Ia tidak percaya setelah sekian lama, Sasuke akhirnya datang dengan sendirinya ke hadapannya. Ia sudah lama menunggu saat ini. Saat Sasuke peduli sedikit padanya. Mendekat padanya. Rasanya seperti mimpi...
Sakura menjulurkan tangannya ke arah Sasuke. Tepat saat ia mengharapkan Sasuke menyelamatkannya, Sasuke memeluk cewek berambut merah di samping Sakura, lalu melompat kembali ke atas. Sakura masih menjulurkan tangannya yang kosong. Ia memandang shock ke arah Sasuke yang meninggalkannya tanpa berpaling sekalipun ke belakang. Ia melihat wajah bahagia cewek berambut merah yang memeluk Sasuke dengan erat dengan wajah bersemu merah. Ia memandang Sakura dengan senyum kemenangan.
Sakura menurunkan tangannya. Semuanya memang hanya mimpi... Kapan ia akan belajar? Ia... tidak ada ARTINYA bagi Sasuke... tidak dulu... tidak sekarang... dan tidak akan pernah...
Runtuhan atap jatuh ke arahnya. Sakura mengumpulkan cakra ke dalam tangannya, lalu meninju habis semua benda yang menghantamnya. Ia frustasi, sedih, putus asa, dan sakit hati. Ia ingin memukul semua yang ada di hadapannya. Ia selalu melakukan latihan taijutsu jika sedih saat mengingat Sasuke dan betapa tak ada harapannya akan tempatnya di dalam hati Sasuke. Hal ini selalu meningkatkan latihannya. Ia selalu memikirkan hal yang sama. Suatu saat ia akan mempedulikanku. Suatu saat ia akan kembali padaku. Suatu saat ia akan mendekatiku. Suatu saat ia akan menyukaiku. Suatu saat ia akan menyadari perasaanku. Suatu saat ia akan menginginkanku. Suatu saat ia akan... menginjinkanku berada di sisinya.
Betapa bodohnya ia! Berharap perasaan Sasuke akan berubah sedrastis itu. Yang dipedulikan Sasuke cuma dua hal dalam dunianya yang sempit dan dingin: kekuatan dan Itachi.
Dengan sebuah teriakan dan wajah berlinang air mata Sakura berhasil membebaskan dirinya dari semua reruntuhan yang jatuh ke arahnya. Ia terus melompat lalu mendarat kembali ke atas atap yang setengahnya sudah hancur. Tepat di samping ular putih itu. Ular itu memandang Sasuke yang sedang melepaskan cewek yang ia tolong di atas atap lain. Pandangan ular itu berkorbar, lapar, marah, dan tidak sabaran. Akhirnya ia bicara.
"Sasuke... kemana kamu mau pergi? Setelah sekian lama menemaniku?"
"Aku tidak memerlukanmu lagi Orochimaru. Aku ada urusan yang lebih penting. Jika kamu menghalangiku, kau akan kubunuh," suara Sasuke terdengar tenang sekaligus dingin.
Para shinobi Konoha akhirnya sampai di dekat Naruto yang masih mendengar pembicaraan mereka setelah melihat Sakura baik-baik saja. Orochimaru belum melihatnya; saat ini perhatiannya masih tertuju pada Sasuke. Tetapi jarak Sakura dengan Orochimaru terlalu dekat. Walau sedang dalam bahaya, Sakura tidak beranjak sedikitpun. Ia ingin menolong Sasuke begitu Orochimaru menyerangnya. Ia sudah bukan gadis lemah dengan lutut gemetaran seperti pertemuan mereka yang terakhir di ujian Chuunin.
Orochimaru tertawa tajam sebentar. "Apa kamu pikir bisa semudah itu mengabaikanku? Kamu pikir punya keberuntungan yang cukup banyak untuk mengalahkanku?"
Sasuke hanya memiringkan kepalanya tanpa ekspresi apa pun. "Seorang murid tidak perlu keberuntungan untuk mengalahkan gurunya. Untuk itulah ia berlatih dan belajar dari orang yang lebih kuat darinya."
Orochimaru terdiam sebentar, lalu ia menyerang Sasuke. "Kalau begitu hari ini kuambil alih tubuhmu! Anak ayam!"
Sasuke berubah dalam wujud joutai kedua, membentangkan kedua sayapnya. Ia berlari ke arah Orochimaru. Beberapa detik kemudian, pedang Kusanagi-nya menebas beberapa ular yang keluar dari mulut Orochimaru. Ia tidak melihat ekor Orochimaru yang diayunkan ke arahnya.
"Sasuke!" Sakura melompat lalu meninju Orochimaru sekuat tenaga. Ular putih itu melayang ke atas sesaat, lalu terjatuh ke bawah, di dekat tepi jurang yang memisahkan gerbang barat desa Otogakure dengan dunia luar.
Sakura sekarang berdiri di belakang Sasuke. Ia ingin mengatakan sesuatu. Sasuke sudah tidak berbicara langsung dengannya selama tiga tahun. Hanya kalimat: Sakura ya?
"Sasuke?" tanya Sakura ragu-ragu.
Sasuke berbalik, memandangnya tanpa ekspresi. Sakura memandangnya lalu tersenyum hangat.
"Bukankah sudah aku peringatkan padamu untuk tidak mencampuri urusanku?" ujar Sasuke dengan nada dingin.
Sakura masih tersenyum, tetapi air matanya mulai kembali berlinang. Ia pernah melihat pandangan dingin itu sebelumnya. Saat ia mencoba menghentikan Sasuke saat pertemuan mereka yang terakhir. Saat itu Sasuke bermaksud menyerangnya dengan pedangnya. Seandainya tidak ada ketua Yamato yang menolong Sakura...
Sasuke berjalan tenang melewatinya. Sakura tidak beranjak sedikitpun. Walau ia gusar melihat wujud jotai kedua Sasuke untuk yang pertama kalinya, ia tidak takut atau jijik. Ia hanya takut pada hatinya.
Yap sekian saja dulu ok? XD
