Mendapatkan satu dari sekian banyak pengakuan cinta, Jungkook merasa seperti selebriti mendadak untuk yang satu ini. Ya, semua orang jadi membicarakannya dan cowok tadi—dan bagi Jungkook, itu sama sekali tidak baik.
Kim Yugyeom, sahabat Jungkook yang banyak mendengar tentang gosip kampus itu dengan senang hati bercerita tentang Kim Taehyung, cowok yang baru saja membuat heboh seantero kampus dan media sosial para mahasiswa beberapa jam yang lalu.
Taehyung sangat jantan dan berani sekali saat melakukannya, kata Yugyeom. Matanya bergetar gugup, tetapi tak ada yang menyadarinya. Cowok itu tampak telah mencemaskan hal ini sejak lama, tetapi karena itulah dia tahu apa yang benar-benar diinginkannya.
Ini bukan pengakuan cinta anak sekolahan yang berpacaran setelah si cewek menerima perasaan si cowok, lalu putus dan mencari orang baru. Taehyung serius, maksudnya, kelewat serius. Tidak ingin hubungan asmara, dia ingin keluarga baru. Jungkook adalah orang yang dipilihnya—yang notabene adalah orang paling tak terjangkau satu kampus. Bahkan pria most wanted di kampus meniduri banyak gadis dan mabuk berat sampai pingsan setelah dilanda patah hati akibat ditolak Jungkook.
Berlebihan, memang. Manusia menjadi serakah dan putus asa ketika jatuh cinta, dan menjadi buta karenanya.
Orang-orang mulai berlelucon tentang Taehyung yang mengincar Jungkook sama saja dengan bunuh diri. Semuanya yakin bahwa Taehyung ditolak, dan dia akan jatuh depresi. Beberapa bingkisan beserta surat-surat penyemangat mulai memenuhi meja Taehyung, membuatnya heran karena dia tidak sedang berulang tahun untuk menerima hadiah sebanyak itu.
Lelucon itu sampai di telinga Jungkook, dan menurutnya orang-orang terlalu kejam untuk mereka berdua. Taehyung sama sekali tidak buruk, dan Jungkook tidak sejahat itu.
. . .
"Jadi, kau tidak mau mengatakan apapun?"
Yugyeom bertanya dengan suara kunyahan kentang di mulutnya. Jungkook melirik risih, tetapi menahan dahinya untuk tidak mengernyit jijik.
"Tentang apa?"
Menelan semua makanan yang memenuhi rongga mulutnya tergesa-gesa, Yugyeom menyahut dengan suara aneh, "Tentang Kim Taehyung, tentu saja." Lalu tersedak hingga batuk.
Jungkook memutar mata jengah. Yugyeom merampas air mineral milik Jungkook dan meneguknya habis—menunggu si pemuda Jeon yang tengah bimbang itu mengutarakan sesuatu.
"Akan seheboh apa lagi jika aku mengatakan sesuatu?" ungkapnya muak. Surai kecoklatan Jungkook diusak tak keruan, seperti ingin merontokkan semuanya.
"Diam juga tidak meredakan kehebohan yang ada, bodoh."
Orang-orang saling berbisik tiap kali melewati bangku yang diduduki Jungkook—dan Yugyeom. Jungkook sering menjadi buah bibir hangat, menggemparkan seisi kampus, dan rasanya tidak pernah menyenangkan. Kim Tehyung dan segala ambisinya yang kelewatan; seharusnya orang-orang menghebohkan pemuda itu ketimbang dirinya.
"Aku akan menyukai keputusanmu, apapun itu," si jangkung besar bicara lagi. "Tapi, aku juga ingin kau mempertimbangkan ini. Selain karena dia lumayan terkenal, aku tahu banyak tentang Kim Taehyung dari teman-temanku."
Kata Yugyeom, menurut teman-temannya, Taehyung sudah lama mengagumi Jungkook. Kecerdasannya dalam perhitungan tidak perlu diragukan lagi, sebab Taehyung dan mahasiswa jurusan Ekonomi lainnya jauh dari kata bodoh. Keluarga Taehyung memiliki perusahaan yang tidak terlalu besar, tetapi dia mampu mempertahankan stabilitasnya dengan baik. Tempat tinggal yang layak sama sekali bukan menjadi masalah baginya.
Selain itu, Taehyung juga tampan.
Saking sempurnanya, Jungkook hingga tak mempercayainya.
Pasti ada cela yang Jungkook tidak tahu.
. . .
Jungkook menghapal rutinitas sahabatnya di luar kepala. Yugyeom selalu sibuk tiap hari Rabu. Setelah kelas selesai, dia langsung pergi bermain basket dan menginap di rumah temannya—terkadang Taehyung ikut begabung—sekalian mengerjakan tugas kelompok yang mustahil tuntas malam itu juga.
Di hari itu juga, Jungkook selalu menghabiskan waktunya sendirian di tempat yang paling Yugyeom benci; perpustakaan. Bukan belajar atau apalah, Jungkook mencintai tempat sunyi dimana ide gagasan tak terduga untuk tugas desain selanjutnya terpikirkan begitu saja seperti mimpi. Melamun itu buang-buang waktu, tetapi kadang itu diperlukan.
"Perpustakaan meliarkan imajinasimu, bukan?"
Jungkook beradu pandang dengan wajah Taehyung tepat ketika ia menoleh. Cowok itu tersenyum, tangannya penuh dengan dua gelas kopi. "Kau minum kopi?"
Jungkook memakan durasi yang cukup lama untuk memperhatikan rupa Taehyung di hadapannya. Alis tebal dan bentuk hidung yang menawan, warna kulit tan yang seksi, senyum sehangat mentari musim panas, dagu simetris serta garis wajahnya yang sempurna—Taehyung kebingungan hingga salah tingkah.
"Uhm, halo? Apakah aku sedang berbicara dengan seseorang?"
Tersadar dari lamunan, Jungkook menerima sodoran kopi dengan gerakan ragu. Uap panasnya menerpa wajah dan telapak tangannya terasa hangat. "Hei, memangnya boleh minum kopi di perpustakaan?"
Taehyung mengendikkan bahu tidak peduli, kemudian mengambil tempat duduk di sebelah Jungkook. "Entahlah. Tapi, kenapa tidak? Kopi hanyalah kopi. Aku mengantuk. Manusiawi sekali, bukan?"
Jungkook mengerjap beberapa kali, tidak terlalu mengerti celotehan Taehyung. Pikirnya, meneguk sedikit kopi itu dapat mengurangi ketengangan dan kecanggungan yang mencekik.
Oh, americano
Jungkook menyembunyikan lidah kepahitannya, berusaha untuk terlihat menikmatinya. Sejujurnya, ia tidak begitu menyukai kopi terlebih yang pahit, tetapi ketulusan Taehyung seolah menekan perasaan itu. Toh, bukan salahnya. Jungkook memang hanya pernah minum kopi berdua dengan Yugyeom, lantas apa yang bisa Taehyung tahu tentangnya?
"Oh? Sejak kapan americano terasa semanis ini?" Taehyung tampak ketagihan, meneguk kopinya lagi tanpa merasa kepahitan. "Ini enak! Hei, bagaimana coffee latte-mu?"
Jungkook kelagapan saat meneguk kopi pahitnya sendiri. "Maksudmu aku? Kurasa ini americano," jawab Jungkook, sedikit mengerutkan dahi heran. "Dan rasanya tidak manis."
Taehyung mengamati kopinya yang tersisa setengah, lalu melirik isi americano yang masih penuh. Jungkook memandanginya yang seperti kebingungan, dan semakin tidak mengerti ketika Taehyung menepuk dahinya keras, entah sengaja atau tidak.
"Oh, apa—kau tidak sengaja menukarnya?"
"Astaga, ini memalukan. Akan kubelikan kopi yang baru."
Jungkook menyodorkan americano yang baru diteguk sekali kepada Taehyung yang tampak dilanda kegugupan. "Aku akan meminum sisa latte-nya. Anggap saja kita sedang berbagi kopi."
Keduanya menukar kembali minuman mereka. Jungkook menyecap latte itu nikmat, tidak memusingkan bahwa itu bukanlah kopi utuh. Taehyung senang melakukan ciuman tak langsung dengan Jungkook, americano yang pahit terasa lebih manis karenanya, meskipun perasaan bodoh dan bersalah masih bergelantungan di hatinya.
"Kenapa tertarik padaku?"
Tanya Jungkook tiba-tiba, terus terang sekali hingga yang ditanya terkejut di tempat. Tapi, apa boleh buat. Jungkook bahkan dua kali lebih terkejut saat mendengar pengakuan Taehyung kemarin—dan begitu juga semua orang.
Taehyung menghela napas, entah mengapa masih merasa gugup. Tetapi tujuannya ada di depan mata, menanyakan keseriusannya, dan Taehyung sangat serius menginginkannya.
"Aku punya ribuan alasan. Mau dengar semuanya?"
Jungkook mengangkat sebelah alis, menyunggingkan senyum miring yang tak pernah disangka sebelumnya. Apakah ini yang disebut rayuan manis? Entahlah.
"Kenapa melamarku alih-alih berpacaran seperti anak muda?"
Taehyung menyatakan perasaannya tanpa keraguan dan satu kampus mengetahuinya, maka Jungkook pun tidak ingin meragukan perasaan itu. Tetapi, ini terdengar seperti interogasi menegangkan bagi Taehyung. Bahkan hanya melihat Jungkook dari kejauhan pun jantungnya selalu berdegup gelisah, berhadapan dengan Jungkook rasanya seperti ingin mati jantungan.
"Aku tidak mau putus denganmu."
"Aku dan kau juga bisa berpisah dengan bercerai. Apa bedanya?"
Mendengarnya, Taehyung terkekeh kecil dan kegugupannya mencair. "Kau akan tahu nanti."
Coffee latte tak bergeming di genggaman Jungkook, membiarkan angin musim semi membuat suhunya menjadi dingin. Ditatapnya Taehyung yang telah lebih dulu menatapnya, membangun hasrat awalnya dengan pria itu. Jungkook tidak berdebar, tetapi rasanya nyaman.
"Kupikir aku tidak sepantas itu. Ini seperti kejutan."
Bukan merasa tersanjung, tetapi ada perasaan nyaman lain yang terlalu gila untuk dideskripsikan—seperti diselimuti kapas lembut yang manis dan menyenangkan. Taehyung benar-benar serba bisa, bahkan dalam mengusik hati dingin seorang Jeon Jungkook.
"Kau bahkan pantas mendapatkannya dari seseorang yang lebih sempurna dariku,"
Taehyung, dengan kata-katanya, tak berhenti membuat Jungkook merasa istimewa—sekaligus tidak percaya. Jungkook mungkin menawan hati banyak orang, tetapi tetap tahu seberapa kecil batas yang dimilikinya. Taehyung bagai bintang—bersinar di antara gelap semesta, disanjung oleh siapapun, dan karena kesempurnaan yang melampaui batas itu, takkan ada seorang pun yang menjangkaunya.
"Jadi, kudengar kau menolak banyak pria di kampus," Taehyung bicara lagi. Kegugupannya menguap lenyap entah kemana. "Lingkup pertemananmu juga sempit. Kau sendirian tanpa Yugyeom. Jika kau tidak bisa memberitahu alasannya, bisakah aku mengetahui orang seperti apa yang kau harapkan?"
Jungkook berharap itu adalah pertanyaan retoris, karena ia sendiri pun tidak terlalu tahu. "Apakah kau selalu seperti ini?" celetuknya asal.
"Eh—yeah, kurasa begitu." Taehyung menjawab tanpa mempedulikan pertanyaannya sendiri yang tak terjawab. Jungkook bersyukur lega Taehyung tidak mendesaknya.
"Kalau begitu, jangan pernah merubahnya. Aku benci jika kau menggunakan alasan bahwa itu semua kaulakukan demi aku."
"Oh, oke—baiklah. Kau tampak serius," Taehyung tersenyum mengiyakan permintaan pertama Jungkook padanya, dan diluar dugaan ini sangat sederhana. "Apakah orang-orang berubah saat mendekatimu?"
Jungkook menggigit bibir bawahnya jengkel. "Uhm, seperti bertingkah malaikat untuk mendapatkan simpati dariku."
"Ah, seperti itu," Taehyung berujar paham. "Apa boleh buat. Manusia takkan memperlihatkan kebejatan kepada orang yang diinginkannya."
Jungkook mengangguk kelewat antusias. "Itulah sebabnya aku tak ingin kau juga begitu."
"Well, sebenarnya aku agak pelupa. Apa itu tidak masalah?" aku Taehyung, merasa terbuka. "Seperti lupa meletakkan sepatu ke tempatnya, lupa dimana aku meletakkan ponsel terakhir kali, lupa apa yang sudah kumakan kemarin malam—sesepele itu, tetapi terkadang bikin kesal."
Jungkook mendengus menahan gelitik asing yang menyenangkan dalam perutnya. "Setidaknya kau tidak perlu berubah menjadi malaikat karena itu."
Taehyung menatap dengan senyum. Jungkook ingin membalas tetapi merasa enggan. Pembicaraan ringan telah selesai, waktunya kembali menuntaskan tuntutan kuliah. Tetapi, entah bagaimana mereka masih saling bertukar pandang tanpa kata.
"Hei, pergilah ke taman atau kafe. Perpustakaan bukan tempat pacaran."
Yoongi datang tanpa permisi sembari menenteng banyak literatur terbitan lama, berujar penuh sindiran. Sorot matanya tampak malas sejak dulu, dan melihat keintiman dua orang cowok tanpa hubungan itu membuatnya semakin tak bergairah.
Jungkook membalas dengan memutar mata. "Pertama, taman ataupun kafe bukanlah gayaku. Kedua, kami tidak berpacaran."
"Oke, tapi kau akan," Yoongi menekankan kalimatnya tak mau kalah. "Nah, Taehyung-ssi, kenapa kau tidak mengajak cowok manis ini jalan-jalan? Tidak ada gunanya merasa malu, toh semua orang sudah tahu."
Taehyung membungkuk sedikit, lalu mengatakan kalimat sopan terselubung kontradiksi. "Kenapa aku harus melakukannya jika Jungkook lebih senang berada disini?"
Entah bagaimana kedua mata Yoongi berubah menjadi setajam pisau pengiris daging. Jungkook tak kalah menantang dengan mata bulatnya yang tegas. Taehyung, entah mengapa, merasa menjadi pihak ketiga yang harusnya melakukan mediasi untuk mengakomodasi konflik sepele ini.
"Kesal melihat kalian kasmaran," tutur si pemuda Min. "Semoga cepat putus, bocah."
"Aku tidak kasmaran, dasar tua."
"Hei—dengar, memangnya kita perlu memperdebatkan hal-hal seperti ini?" Taehyung berdiri di tengah, siap menjadi tameng pelindung jika Yoongi hendak meninju Jungkook. "Well, Yoongi, kau butuh cinta dari orang lain. Ayo pergi ke sekolah seni minggu depan. Seseorang yang tepat dapat kautemui bahkan di tempat yang paling tidak tepat sekalipun."
"Apa-apaan—" Yoongi mengacungkan jari tengah tanpa tahu malu. "Persetan kau, brengsek!"
Sungguh, mereka hanya bercanda. Jungkook sudah bulat-bulat menganggapnya serius hingga setengah syok, tetapi Taehyung malah tertawa keras setelah meninggalkan perpustakan.
"Kalian aneh," komentar Jungkook.
"Aku takkan menyalahkan pendapatmu," jawabnya santai. Taehyung pasti merasa bangga dengan dirinya sendiri—dan bagusnya lagi, ia merasa gembira tak terkira, setidaknya untuk hari ini. "Well, terima kasih banyak, Jungkook."
Jungkook mengangkat kepala, mengangguk sedikit bingung. "Oh, tentu—maksudku, untuk apa itu?"
"Untuk hari ini. Terima kasih banyak." Kim Taehyung dipastikan sedang merasa sangat bahagia. Ini adalah momen paling berharga sepanjang dua puluh lima tahun hidupnya sebagai pemuda. Beberapa jam terakhir, Taehyung dengan pikiran tentang Jungkook membuatnya mabuk, tersesat dalam jurang cinta yang dalam—dan mengapa mesti mendaki untuk menyelamatkan diri jika ia bisa bertahan dan bahagia dalam jurang itu.
"Akulah satu-satunya yang harus berterima kasih," Jungkook menggeleng, entah sadar atau tidak tampang datarnya malah tampak manis. "Bahkan aku senang kau tidak sengaja menukar kopinya. Aku merasa kita seperti saling berbagi manis dan pahit, menyecap kedua rasanya bersama-sama."
Tawa maskulin terdengar di antara sore menjelang petang yang nyaris sunyi. Taehyung memelankan langkahnya untuk mendekat, merangkul bahu pemuda Jeon selagi ia berdebar bahagia. "Mari mencoba lemon dan stroberi lain kali." usulnya antusias.
"Terserah, asalkan kau yang lemon."
"Hei, itu tidak adil!"
Entah hubungan macam apa yang mereka miliki, dan apapun itu tidak masalah karena keduanya sama-sama bersenang-senang. Persetan jika Taehyung gagal merengkuh Jungkook dan tidak memiliki hatinya kelak, setidaknya ia berhasil mengukir momen bersama Jeon Jungkook di antara seluruh memorinya.
Do One's Heart Good
T.B.C
.
WHO'S EXCITED? NOBODY ACTUALLY (_)
Well, halo. Almost 2k words dan aku tau ini menghancurkan ekspektasi kalian ﹏ tapi aku cukup percaya diri dengan chapter 2 nya, so please stay tune karena nggak bakal lama update-nya. But still, please jgn berekspektasi tinggi kepada seorang amatir lol.
Oke, jadi cowok yg ngelamar Jeon itu udah jelas kth a.k.a Kim Taehyung a.k.a daddy kim (͡ ͜ʖ ͡). Aku bakal jelasin tentang Taehyung di chapter selanjutnya, so lemme explain about kook.
Jungkook, lemme say that dia adlh mahasiswa yg cukup ambis (fyi dia jurusan desain interior) sangat tekun, nggak pernah berbaur sama mahasiswa lain alias cuma main sama Gyeommie. Dia sangat realistis dengan kenyataan bahwa cinta itu gak akan bertahan, akhir-akhirnya bakal putus dan berpisah. Lagian karena ambisinya untuk kuliah membuat Jungkook mikir kalau pacaran itu nggak perlu. Celakanya, cowok-cowok (dan cewek) banyak yg ngajak pacaran dan selalu berakhir penolakan. Point-nya disini adalah si Taehyung yg dateng kepada Jungkook dgn perasaan yg sama, tapi dgn tujuan yg berbeda (alias baru pertama kali ngomong udah main lamar aja hwehehe) dan itu bikin pemikiran Jungkook mulai terbuka dgn cinta.
Sebelumnya gue minta maaf banget kalo ff ber-genre romance-general ini nyeleweng seenaknya jadi romance-drama ಥ_ಥ. Diusahain enggak angst kok tapi ya nggak tau juga (?)
Oke idk why author's note nya jadi kepanjangan ಠ_ಠ. Yang udah mampir baca, 6 reviews, 10 favs, dan entah berapa siders di chapter sblmnya, thank you so much dear ( ). Silakan tinggalkan jejak, mau komen gaje, curahan hati, sksd-an, atau kritik saran sangat diterima.
See you on next chapter, sekitar 3 atau 4 hari lagi.
Love, Bluishie
