Disclaimer: Seisi karakter di Naruto itu milik Masashi Kishimoto. Fura cuma memiliki Neji-kun doang(?)

.

.

Happy Reading!

.

.

Sakura menunduk di tepi ranjangnya. Enggan menunjukkan air matanya. Air mata yang dibendungnya sejak mendapat tamparan dari sang kakak kini terlanjur jatuh. Gadis berambut bak permen kapas itu menoleh begitu mendengar ada yang membuka pintu. Dipalingkan lagi wajahnya begitu melihat orang yang baru saja memasuki kamarnya. Bukan orang yang berbeda dengan orang yang menamparnya tadi.

"Sakura, maafkan aku."

Sakura memejamkan matanya di saat wajahnya masih berpaling. Dia masih menahan air mata yang siap jatuh lagi.

"Sakura, maafkan aku. Maaf kalau aku terlalu ringan tangan padamu. Harusnya aku-"

"Harusnya kau bukan kakakku."

Iris Sasori membulat mendengar selaan Sakura. Sakura kini menoleh memandang Sasori dengan mata yang sembab.

"Aku tidak mau orang sekasar kau menjadi kakakku. Seharusnya aku lahir bukan untuk menjadi adikmu!" Bentak Sakura sambil melempar bantal ke arah Sasori.

Walau bantal itu hanya menghantam tembok di sebelahnya, Sasori tetap merasa dihantam sampai ikut terasa sakitnya. Sasori tahu dia salah. Dia terlalu sentimental. Dan dia menyesalinya. Namun sayang setiap Sasori menyesali sikap buruknya terhadap adiknya, tetap saja direspon dingin oleh adiknya itu. Ya, sebut saja Sakura begini sejak kepergian ibunya 9 tahun yang lalu. Tepatnya sejak ibunya pergi meninggalkan ayahnya karena sikap sentimental ayahnya sendiri. Dan tak bisa dipungkiri memang dari ayahnya lah Sasori memiliki sifat yang sama. Begitu sensitif dan kadang tak terkendali, atau lebih tepatnya ringan tangan. Sasori khawatir sikapnya ini juga akan membuat Sakura pergi. Sampai saat ini Sasori hanya mencoba melakukan semuanya seolah semua akan baik-baik saja. Tanpa Sakura sadari Sasori tetap selalu takut. Takut manakala Sakura akan pergi akibat sikap buruk kakaknya yang menyayanginya itu.

.

.

.

Seorang pria berawakan tinggi berjalan dengan langkah panjang di sepanjang koridor. Dalam perjalanannya dia terus melamun.

"Jadi lagi-lagi kalian gagal menangkap mereka?"

"Maafkan kami, Shisui-sama. Keempat seniman jalanan yang terkenal di sekitar Konoha Street itu memang terlalu nekat sekaligus solid dalam menghindari kejaran kami."

Shisui terus memikirkan kata-kata anak buahnya. Kepala polisi di Konoha itu tak habis pikir, kesulitan macam apa yang dialami setiap polisi yang ditugaskannya untuk memberi efek jera pada oknum anak muda perusak fasilitas kota itu.

Kemudian seorang anggota polisi di sebelah Shisui memecah lamunannya.

"Orang yang anda panggil sudah di dalam, Shisui-sama." Ucap Aburame Shino, anggota polisi kepada pemimpinnya.

Shisui pun mengangguk dan segera membuka pintu ruangan yang sejak tadi menjadi tujuannya.

Cklek

"Kau sudah datang, Rei Gaara?" Ujar Shisui sambil menunjukkan senyumnya yang ramah.

"Shisui, aku harap kau bisa langsung bicara. Kasus macam apa yang membuatku ditransfer untuk menjalani tugas di kotamu ini?" Tanya Gaara dingin.

Shisui tetap merespon sikap dingin pemuda di hadapannya dengan senyuman.

"Ah, jangan bilang kau masih belum rela melepas jabatanmu sebagai Kepala Polisi Suna, Gaara. Sebaiknya coba saja terima tugasmu disini dengan suka cita." Sahut Shisui tetap mencoba santai.

"Jadi, apa jawaban untuk pertanyaanku?" Gaara mengangkat sebelah alisnya.

Mendapat desakan pertanyaan hanya membuat Shisui menghela napas. Pasrah pada sikap temannya yang tak suka basa-basi itu.

"Baiklah, baiklah. Jadi begini. Ada kumpulan seniman jalanan yang suka membuat lukisan graffiti aneh nan mengganggu di lingkungan Konoha Street. Mereka membuat banyak gambar-gambar aneh dan tentu saja itu membuat walikota mendapat keluhan dari warganya. Dan dari situlah kepolisian kami mendapat tugas ini. Karena selalu gagal, jadilah dikirimnya kau kemari, Rei Gaara." Jelas Shisui panjang lebar.

Keheningan pun menyelimuti. Hanya ada deru nafas terengah dari Shisui baru saja bicara panjang lebar dengan Gaara. Bahkan Gaara hanya mengerjapkan mata dalam hening.

"Bercandamu tidak lucu, Uchiha Shisui." Celetuk Gaara sambil berbalik hendak beranjak dari ruangan.

Namun tangan Shisui meraih pergelangan tangannya.

"A-aku tidak bercanda. Mungkin kedengarannya bodoh tapi, bisakah kau tetap membantu disini, Mantan Kepala Polisi Suna?"

.

.

.

"Aku menerima jabatan Kepala Polisi Suna Non-Aktif demi tugas aneh ini, huh? Bagaimana bisa kepolisian Konoha itu tak mampu menangkap sekumpulan seniman jalanan perusuh itu?! Misi ini bisa menjatuhkan reputasiku." Gerutu Gaara selama mengemudikan mobilnya.

Di dalam mobilnya, dia tidak sedang berseragam dinas. Dia hanya memakai pakaian casual. Dia akan resmi berpakaian kepolisian Konoha besok.

Di persimpangan, tiba-tiba ada seseorang yang menyebrang di depannya. Segera pemilik iris azure itu menginjak pedal rem. Seseorang yang menyebrang itu pun secara spontan menjatuhkan barang bawaannya akibat terkejut. Gaara langsung keluar mobil untuk melihatnya.

"Ya ampun, bunyi rem mobilmu membuat kaget saja." Gerutu penyebrang sambil memunguti barangnya yang jatuh.

Segera Gaara ikut berjongkok dan membantu gadis bersurai soft pink itu.

"Harusnya kau hati-hati. Sudah jelas di perempatan ini banyak mobil." Celetuk Gaara ketus.

Sakura langsung mendongak dan melihat ke arah pemuda di hadapannya.

"Hey! Kalau kau tahu di perempatan ini ramai, kenapa masih nyaris menabrak orang?!" Sahut Sakura sakratis.

Gaara yang baru saja membantu memasuki barang bawaan gadis itu ke kantong plastik, langsung balas menatapnya.

"Kenapa jadi salahkan aku? Aku jalan di saat lampu hijau baru menyala, kau ingat?! Lagipula untuk apa kau pergi belanja sendirian di mall yang jalanannya ramai begini?" Gaara tetap membela diri.

Gaara sadari Sakura baru saja dari mall begitu melihat kantong plastik belanjaan yang bertulisan 'Konoha Mall'

Sakura langsung mengerjapkan mata. Diarahkannya iris emerald itu pada tiang lampu lalu lintas yang kini menyala merah. Dia sadari mungkin pemuda itu benar. Sakura pun kembali membereskan isi belanjaannya sambil beranjak berdiri.

"Ya-yasudah. Anggap saja aku salah. Dan lupakan soal kau yang hampir menabrakku. Aku baik-baik saja." Ujar Sakura tergagap malu.

'Hn, memang kau yang salah.'

Kemudian Sakura pergi meninggalkan tempat begitu merasakan wajahnya memanas akibat malu. Malu karena sudah marah-marah di saat salah, dan mungkin juga malu karena sudah dipermalukan secara pasif oleh seseorang yang

Kakkoi?

Tapi setelah Gaara kembali memasuki mobilnya begitu Sakura pergi, Gaara melamun.

'Tapi, kenapa isi belanjaannya begituan semua?' Batin Gaara kembali mengingat isi barang yang Sakura bawa.

Benar saja, pada saat Gaara membereskan belanjaan gadis itu, yang Gaara lihat hanya berlusin caps, marker, dan beberapa pasang gloves. Untuk apa seorang gadis pergi belanja barang seperti itu, mungkin itu yang dibingungkan oleh Gaara saat ini.

TBC

A/N:

Hai '-')/

Fura mo kasih tau aja kalo caps itu mata pylox oke '-')b

Ah ya, terimakasih smua yang sudah baca, review, fav, & follow. Berhubung semua reviewers chapter lalu log in, jadi balasannya di PM ya minna ^-^

Arigatou minna-san!