"Jun hilang"
Semuanya langsung terdiam dan melihat sekelilingnya, mencari Jun. Daun yang Akira pegang untuk mengipas jatuh seketika.
"Serius? tadi aku pegang tangan Jun lho.." Ryuu mukanya mulai memucat mendengar itu. Kei menghela nafas.
"Kan sudah kubilang jangan masuk hutannya terlalu dalam.." kata Kei dengan biasa.
"Kamu juga kenapa nggak mengingatkan kita kembali sih?" Akira teriak menyalahkan Kei dan terlihat ingin menangis.
"Ya udah nggak usah saling menyalahkan gitu.. mendingan kita sekarang cari Jun dan balik ke villa!" teriak Hikari yang berpikiran positif. Air mata Akira mulai menggenang dimatanya dan tangannya memegang Hikari. Semuanya pun beranjak kembali untuk mencari jalan keluar.
.
.
.
.
"Aduuhhh.." keluh Jun sambil memegang kakinya yang tergores parah dan berdarah cukup banyak. Dia membuka tas yang ia bawa dan mengambil antiseptic. Setelah melukai obatnya, dia mulai berjalan lagi dan menabrak pohon. Dia kaget dan tersadar.
Lho, aku dimana ya? Jun berkata dalam hati seolah olah tidak terjadi apa apa. Dia mulai berlari mencari anggota yang lainnya namun, sepertinya mereka benar benar terpisah. Jun mulai menggeledah tasnya lagi lalu mengambil handphonenya. Dia segera sms ke salah satu anggota SA, Akira, mumpung masih ada sinyal. Jun agak lega sudah memberitahu yang lainnya bahwa dia selamat dan tidak perlu mengkhawatirkanya lagi. Tiba tiba, Jun dibungkam mulutnya dan ditarik.
KRINGGG...
"Duhhh... siapa sih yang sms malem malem gini?" keluh Akira kesal.
"JUN?"
"Jun? Mana Jun?" tanya Megumi.
"Jun sms aku!"
"Dia sms apa?" tanya Hikari serius. Akira menunjukan smsnya yang berisi:
Kalian semua dimana? Aku ada di tempat yang isinya rumah rumah tua yang ga berpenghuni.. Aku nggak tau nih ini udah dimananya. Coba tanya Kei deh, mungkin dia tau..
Jun.
"Kei! Kamu tau gak rumah rumah tua yang ada di hutan?" tanya Akira dengan segera.
"Aku nggak tau. Kan aku pernah bilang jangan masuk hutannya terlalu dalam.. karena aku juga nggak pernah masuk hutan sebelumnya.." jawab Kei lumayan kesal.
"Berarti Takishima nggak berguna dong?" canda Hikari.
"Ohh... bukannya kamu yang lebih nggak berguna, sampai hal yang sangat penting begitu lupa?" balas Kei sambil marah.
Hikari nggak tau mau balas apa lagi. Megumi berjalan sendiri untuk mencari sinyal handphonenya agar bisa mengetahui dimana Jun berada. Namun, tiba tiba ada yang memegang bahu Megumi dari belakang.
"KYAAAAAAAAA..." teriak Megumi yang menggelegar saat itu juga. Semuanya memucat mendengar teriakan Megumi yang suaranya toa dan terdiam lemas karena telinganya sakit. Tak lama kemudian ada yang berlari ke arah Megumi yang sedang menangis.
"Megumi!" teriak Jun sambil berlari dan menghampiri Megumi.
"Jun!" Megumi langsung memeluk Jun. Yang lainnya pun berdatangan ke tempat Megumi dengan sempoyongan.
"Jun! Kamu habis dari mana saja sih?" tanya Ryuu khawatir. Jun terdiam sejenak dan menundukan kepalanya.
"Aku nggak tahu.. begitu aku sadar aku ada di tempat kayak rumah rumah gitu... terus..." Jun mukanya memucat dan tidak melanjutkan omongannya. Ryuu langsung menghampiri Jun dan menepuk kepalanya.
"Sudahlah kalau emang nggak mau bilang.. Ayo kita kesana sekarang juga, yang terpenting, Hikari, jelaskan apa yang maidnya Kei katakan kepadamu!"
"Oh iya aku hampir lupa..."
Akhirnya Hikari menjelaskan apa yang terjadi. Semuanya mendengarkan cerita Hikari dengan serius. Seketika, udara malam pun mulai menusuk kembali.
"Ohh.. jadi begitu ceritanya..." kata Akira sambil menunduk sedikit.
"Jadi hantu yang tadi kita lihat itu mungkin..." kata kata Megumi dipotong.
"Itu aku!"
Mereka semua menoleh keatas pohon dan melihat hantu itu sedang berdiri diatas pohon. Namun, kimono yang ia pakai sekarang sudah berwarna merah hampir seluruhnya dan terlihat darah dari kakinya mengalir dan menetes kebawah mengenai wajah Tadashi.
"Hiiiiii..." teriak Tadashi yang jijik dengan darah itu.
"Kyaaaaaaa..." teriak Akira dan Megumi. Hikari menutup mukanya yang pucat.
"Ayo semuanya lari!" teriak Ryuu yang mukanya memucat juga seperti Hikari. Kei pun memegang tangan Hikari dan lari. Yang lainnya pun ikut berlari mengikuti arah Kei.
.
.
.
.
.
"Hufff... Hufff" Akira sudah mulai ngos ngosan berlari. Angin dingin pun tambah menusuk. Sepertinya mereka masuk ke hutan lebih dalam lagi.
"Sekarang, apa yang harus kita lakukan lagi?" tanya Megumi ketakutan.
"Kenapa kita nggak pake kompas aja? Bukannya kita bawa ya?" kata Kei. Semua terdiam sejenak.
"Ahhhhh! Kei! Kenapa nggak bilang dari tadi sih? Kita kan kebawa takut jadinya lupa gimana sih?" teriak Akira sambil melempar "sesuatu" ke arah Kei.
Sesuatu? Apa itu? Ternyata itu adalah tengkorak manusia yang sudah berlumut. Akira langsung berteriak, Tadashi pun langsung menenangkan Akira. Tiba tiba Hikari langsung terbangun dari duduknya dan memasang muka yang serius. Dia mengangkat tangannya dan mengarah jari telunjuknya ke depan sambil bergetar.
"Itu... desa?"
"Itu kan desa yang tadi aku liat..." Jun pun langsung beranjak dari duduknya dan jalan menuju desa itu.
"Jun! Kamu mau kemana?" tanya Ryuu sambil mengikuti Jun.
"Hei tunggu aku ikut!" teriak Hikari. Kei pun juga ikut. Sementara Akira, Megumi dan Tadashi ditinggal. Hikari, Kei, Ryuu, dan Jun pun melangkah memasuki desa yang terlihat sangat tua. Sesekali ada genteng yang jatuh karena rapuh dan terkadang ada suara ketawa orang banyak. Meskipun hanya ada empat orang yang berjalan sambil tidak ngomong apa apa, suasana disekitar mereka ramai. Mereka pun dapat merasakannya. Suara canda anak anak, suara wanita tertawa, dan semacamnya. Mereka berempat tetap tidak goyah dengan godaan itu. Akhirnya, Jun berhenti di sebuah rumah besar yang besarnya melebihi rumah Kei. Dan tiba tiba Jun pingsan.
"Jun!" teriak Hikari dan Kei.
"Jun kamu nggak apa apa?" Ryuu langsung membopong Jun dan menoleh ke arah Hikari dan Kei.
"Hikari, Kei! Masuk ke rumah besar itu dan cari asal usulnya! Demi Jun dan yang lainnya!" kata Ryuu sambil membawa Jun kembali ke yang lainnya. Hikari mengangguk dan berlari masuk ke rumah itu bersama Kei. Di rumah itu, suasananya sangat menyeramkan. Udaranya lebih dingin daripada di luar.
"Hikari, bagaimana kalau kita berpencar saja? Rumah ini terlalu luas"
"Baiklah.. kalo gitu aku ke ruangan yang disebelah sana ya.. bye!". Hikari mulai melihat lihat satu persatu ruangan yang gelap itu dengan senter. Sementara Kei jalan menelusuri lorong lorong yang luas. Hikari memasuki satu ruangan yang ternyata adalah kamar tidur. Dia melihat sebuah kertas di atas tempat tidur itu dan membacanya dengan senter. Isi dari kertas itu:
Aku tidak mau sendiri disini. Seseorang.. temani aku. Ayo ikut aku dan temani aku untuk selamanya.
Ikut? Temani? Hikari mulai menduga hal yang aneh aneh. Hikari langsung membuang kertas itu dengan takut. Dia pun segera keluar dari ruangan itu dan lari ke arah Kei yang jauh dari keberadaannya.
"Uwaahhh!" teriak Kei. Hikari mempercepat larinya agar sampai ke tempat Kei. Tapi, yang ada hanyalah tas Kei yang terjatuh dilantai. Hikari semakin takut dan berlari keluar ke tempat teman temannya berada. Tapi, seketika, ada seorang cowok memakai baju kimono tradisional dan mukanya bersimbah banyak darah, dan bola matanya berwarna putih semua. Hikari pun kaget. Hikari ingin teriak, tapi nggak bisa. Hikari juga nggak bisa berlari saking takutnya. Hantu itupun mengulurkan tangannya yang jarinya terpotong dan mendekati Hikari. Hikari tidak bisa berbauat apa apa. Dia hanya terdiam dan terpaku di tempat. Sementara tangan itu semakin mendekat dan hampir menyentuh Hikari.
Dan akhirnya ketakutan Hikari makin meluap.
"KYAAAAAAAAAAAAAAAA..." teriak Hikari menggelegar dan hampir sama besarnya dengan Megumi. Hantu itu pun terjatuh lemas. Hikari heran. Mana ada hantu yang terjatuh lemas? Biasanya kalo kayak gitu kan hilang gitu atau kayak gaya hantu.
"Ano.. hantu, kamu nggak apa apa?" tanya Hikari yang baik hati. Hantu itu nggak bergerak sama sekali. Jangan jangan hantu itu mati? duga Hikari dalam hati. Tiba tiba, hantu itu menarik tangan Hikari dan memeluknya.
"Aku menangkapmu, Hikari, eh salah, ranking 2!". Ini kan suara...
"TAKISHIMAAA?" Hikari kaget setengah mati. Lalu Kei melambaikan tangannya dan lampunya hidup semua. Satu persatu Jun, Ryuu, Megumi, Akira, Tadashi mulai keluar ruangan yang berbeda. Hikari mulai speechless banget.
"Happy birthday Hikari!" teriak yang semuanya. Orang orang yang berlaku menjadi hantu pun keluar. Hikari ekspresinya masih sama. Kei pun meniupkan angin ke telinga Hikari.
"Howaaaa... Takishima!" teriak Hikari sambil merinding. Hikari pun langsung melihat jam di handphonenya yang tertulis 00:23 tanggal 20 Maret.
"Jadi, selama ini kalian mengerjaiku!" tanya Hikari. Semuanya tersenyum lebar. Dan Hikari melihat salah satu hantu yang memakai kimono.
"Lho kok hantu yang tadi diatas pohon itu nggak ada sih? Yang darahnya banyak banget itu lho?" tanya Hikari.
"Iya yang itu tadi, serem banget tuh. Sampe darahnya netes segala ke muka" kata Tadashi. Hantu hantu yang memakai kimono itu pun kebingungan.
"Kayaknya daritadi nggak ada yang naik ke atas pohon. Soalnya kalau pakai kimono itu ribet dan nggak ada yang memakai darah palsu sebanyak itu" jawab salah satu hantu berkimono. Suasana menjadi awkward. Semuanya saling melihat satu sama lain.
"Kyaaaaaaaa!"
Ulang tahun Hikari dan liburan musim panas ini memang menyeramkan ya. Tapi saru juga sih
~THE END~
Maaf ya kalo chapternya sedikit banget dan banyak yang typo gitu lah.
Makasih yang udah baca dan reviewnya.
