Halo halo~~

Dindha kembali membawakan lanjutan ceritanya. Terima kasih sudah mau mereview cerita Dindha, Dindha sangat senang jadi semangat lanjutinnya. Maaf kalau ada typu atau apanya, Dindha usahakan memperbaikinya^-^

Ok, langsung saja HAPPY READING!

.

.

.

.

.

.

Disclaimer : Boboiboy © Animosta Studio

Cerita ini hanya untuk kesenangan saja

Rating : T

Ngere : Adventure, friendship etc.

Warning : ooc, oc [ mungking ada], Typu dll.

~~HAPPY READING~~

.

.

.

.

.

.

Pagi hari yang cerah matahari masih malu-malu menampakan dirinya. Disebuah rumah yang dihuni oleh kakak beradik, suasana disana sangat tenang dan damai. Mereka semua masih terlelap pada mimpi mereka masing-masing. Dan bergulat diatas kasur yang mempunyai mitos medan magnet disana sangat kuat, sehingga susah untuk bangun kembali bila sudah berbaring disana.

Mereka biasa dibangunkan oleh suara bising seperti suara jam beker atau lainya terkecuali untuk pemuda yang bernama Gempa. Pukul lima saja dia sudah berpakaian rapi, datang kesekolah tidak boleh terlambat. Terbungsu dari tiga bersaudara harus rapi dan disiplin. Dengan style memakai rompi hitam dan juga topi yang dibalikan kebelakang berwarna hitam berzrip kuning emas.

Semua perlengkapan sekolah sudah siap walaupun sekarang classmeething. Pintu kamar berdisain berwarna biru dibuka, keadaan kamar itu seperti kapal pecah, sungguh berantakan semua barang-barang berserakan dimana-mana.

Gempa menghela nafas ringan, memang kakaknya yang satu ini memang susah diatur. Malas melakukan ini itu kerjanya hanya main saja. Gundukan selimut itu bergerak seperti menyadari tidurnya diganggu oleh cahaya dari luar dan semakin memperdalam kepalanya kebantal.

Gempa pun menghampiri gundukan itu, menarik selimut itu namun ditahan. Mencoba mengguncang-guncangkan gundukan itu tapi tidak direspon sama sekali. Mencoba memanggil namanya namun dihiraukan.

Jengkel tentu saja, dia pun mendorong gundukan itu hingga jatuh kebawah. Terdengar suara rintihan dari gundukan tadi, mencoba berdiri dengan dibantu tepian kasur. Seorang mirip sekali dengan Gempa hanya saja matanya berwarna sappir. Dia merintih sambil memegangi punggungnya. Namun Gempa tak memperdulikan itu, dia sangat jengkel.

"Aduh! Kau kenapa sih, Gempa. Kalau membangunkan orang dengan cara yang lembut dong!." Kata Taufan, masih memegangi punggungnya.

"Dari tadi dibangunin kangak bangun-bangun! Sekarang ayo sholat udah azan tuh!" perintah Gempa, tampaknya dia masih jengkel.

"nanti aja ya, masih ngantuk. Huaamm..." jawab Taufan, lalu merebahkan kembali tubuhnya keatas kasur. Seketika Gempa langsung mengacam Taufan dengan tatapan tajamnya. Melihat itu dengan segera Taufan langsung berdiri.

"ok, sekarang aku mau kekamar mandi!" dengan malas Taufan beranjak dari sana menuju kamar mandi.

"satu lagi, tolong bangunkan kak Hali. Aku mau buat sarapan dulu!" setelah mengucapkan itu Gempa pergi kelantai bawah untuk membuat sarapan mereka. Taufan hanya menganggukkan kepalanya dan segera masuk kekamar mandi.

Bagi Gempa menjadi adik terbungsu memang susah, bukannya bermanja-manja dengan kakak masing-masing tapi malah disuruh mengerjakan pekejaan rumah. Orang tua mereka sangat sibuk diluar kota jarang sekali pulang kerumah karna sibuknya.

Dengan cekatan Gempa menyiapkan sarapan mereka, soal masak-memasak Gempa jagonya meski Halilintar dan Taufan juga pandai memasak tapi tak seenak buatan Gempa. Semua pekerjaan rumah Gempa yang kerjakan, walau pun begitu mereka juga membagi semuanya untuk dikerjakan bersama-sama.

Seseorang menuruni anak tangga, Halilintar begitulah nama pemuda itu berjalan menuju dapur. Seragam sekolah sudah terpasang rapi begitu cocok dibadannya. Topi hitam merah bertengger manis diatas kepalanya, matanya yang ruby sangat mempesona tapi sayang tatapannya yang selalu tajam kadang membuat orang takut.

"Pagi, kak Hali!" sapa Gempa, menyadari keberadaan Halilintar, pemuda yang mempunyai nama Halilintar itu hanya berguman sebagai balasan.

"Dimana Taufan?. Tumben belum turun juga!" kata Halilintar, dia pun segera menarik salah satu kursi dan mendudukinya. Kening Gempa berkerut, bukannya tadi dia menyuruh Taufan untuk membangunkan Halilintar. Tapi kenapa Halilintar malah bertanya keberadaan Taufan.

"Hmnn... bukanya kak Taufan tadi membangunkan Kak Hali?" tanya Gempa, Halilintar hanya menggeleng sebelum menjawab.

"Tidak, aku dari tadi tidak melihatnya!"

"kalau begitu, siapa yang membangunkan kakak?"

"nada dering dari ponselku" jawab Halilintar, dia pun mengambil teh hangat yang sudah tersedia untuknya. Gempa hanya menghela nafas meletakan piring diatas meja bagian Halilintar dan bagian Taufan.

"Kak, tolong lihat kak Taufan dikamarnya, please!" bujuk Gempa, Halilintar hanya berdehem kecil lalu meminum tehnya sebelum dia beranjak dari sana untuk membangunkan Taufan.

Tangga kembali dinaikan, Halilintar berjalan menuju kamar adiknya yang pertama. Pintu diketok tapi tak ada sahutan sekalipun, mencobanya sekali namun juga tak ada sahutan. Halilintar memutar kenop pintu beruntung tidak terkunci terlihat didalam Taufan tidur diatas lantai, dengan masih memakai sarung dan juga peci hitam.

Halilintar hanya menghela nafas ringan, tidak biasanya Taufan ketiduran seperti itu. Biasanya Taufan kalau sudah bangun dialah yang mendesaknya untuk segera pergi kesekolah, Halilintar menghampiri Taufan lalu mengguncang-guncang badannya Taufan hanya berguman sebagai respon. Tak abis akal Halilintar menutup hidung Taufan dengan tanngannya hingga kesulitan bernafas.

Serigai terpampang diwajah tampan Halilintar, inilah kesempatannya untuk membalas perbuatan jahil Taufan selama ini. Ya, dia tidak mau menjadi korban terus sesekali menjadi pelaku bolehkan?. Beberapa detik belum ada respon dan tak lama Taufan merasah resah, matanya pun terbuka lebar. Nafasnya terburu-buru, mukanya pucat pasi mencoba menghirup lebih banyak oksigen.

"ish! Kak Hali, mau Taufan mati ya?" seru Taufan kesal. Halilintar hanya tertawa kecil pembalasannya sudah tercapai. Dia pun pergi keluar kamar Taufan sambil berseru.

"bagaimana Taufan? Masih hidupkan sekarang? Kalau sudah cepat bersiap-siap!" ok, kata-kata terakhir Halilintar membuat bulu kuduknya merinding karna nada dingin dan aura hitam Halilintar memancar begitu saja.

Tak berapa lama Taufan turun dari lantai atas kebawah untuk sarapan yang telah disiapkan oleh gempa dan langsung memakannya dengan lahap. Lagi enak-enaknya makan terdengar ketokan pintu dari luar rumah, Halilintar melirik Taufan seperti tak memperdulikan sama sekali sedangkan Gempa sedang mencuci piring kotornya dan tak mendengar suara ketokan barusan. Halilintar hanya menghela nafasnya ringan lalu beranjak pergi kepintu depan.

Sedangkan diluar seorang gadis memakai jilbab berwarna pink dan seragam sekolah SMAN pulau rintis berdiri didepan pintu rumah Boboiboy bersaudara. Berkali-kali dia mencoba memanggil sipemilik rumah tapi tak ada sahutan. "Assalamualaikum, halo! Ada orangkah didalam?" sahut Yaya, nama sigadis penyuka warna pink itu, dia masih setia menunggu.

Pintu diketok lagi, tapi kali ini bukan pintu yang Melainkan topi Halilintar. Yang tadinya rapi sekarang menjadi tak beraturan dan begitu rendah, membuat sebagian wajah Halilintar tutup. Yaya terkejut dan langsung menarik tangannya kembali, keringat dingin mulai bercucuran dikeningnya.

"Maaf Hali, a-aku ngak sengaja!" kata Yaya gugub, Halilintar hanya diam lalu memperbaiki letak topinya yang sempat berantakan. Dia melihat Yaya dingin dan berguman sebagai jawaban.

"mau apa kamu kemari?" tanya Halilintar dingin, dia masih menatap tajam Yaya. "aku hanya mau memberikan ini kepada kalian, nah ambillah!" Yaya memberikan sebuah keranjang berisikan biskuit kering dengan berbagai macam bentuk. Halilintar menerima pemberian Yaya.

"Terima kasih" kata Halilintar, Yaya hanya mengannguk sebagai balasan. Sebelum Halilintar kembali menutup pintu rumahnya sebuah tangan nan mungil menahan pintu itu. "Bolehkah aku masuk? Sekalian nanti jalan bareng!" kata Yaya dengan wajah memohon, Halilintar pun membuka kembali pintunya dan mempersilahkan Yaya masuk. Dengan senang hati Yaya memasuki rumah Boboiboy bersaudara.

"Oh Yaya, rupanya itu kau" seru Gempa, menyadari kehadiran Yaya dirumahnya. "Iya, aku membuatkan biskuit untuk kalian semua cobalah!" kata Yaya sambil menyerahkan beberapa biskuit keGempa.

"Tak panyahlah Yaya, aku dah kenyang" tolak Gempa halus, Yaya tampak kecewa dia memohon kepada mereka bertiga dengan jawah memelas. Mereka bertiga hanya pasrah dengan paksaan dari Yaya. Dengan perasaan was-was Boboiboy bersaudara mengambil dan memakannya. Mulai mengunyah perlahan memastikan kalau biskuit ini tak ada racun sekalipun. Dan...

"Sedapnye! Terbaiklah" seru Taufan dengan lahapnya dia kembali mengambil beberapa biskuit itu dan langsung memakannya. "Iyalah sedap!" seru Gempa dia pun kembali mengambilnya lagi, Halilintar tak merespon apa pun dia hanya tersenyum kecil mengambil satu biskuit lalu pergi keruang tengah.

"Simpan saja itu nanti! Ayo sekarang berangkat!" perintah Halilintar sambil memakan biskuit yang dia ambil tadi, perintah Halilintar itu tak boleh dilanggar otomatis mereka akan mengerjakan apa yang disuruh Halilintar. Mereka pun pergi berangkat bersama menyusul Halilintar yang telah pergi duluan.

.

~~~THE ADVENTURE~~~

.

Mereka semua berkumpul dikantin sekolah bosan tak ada yang harus dilakukan sekarang menunggu acara perlombaan dimulai. Ketujuh sahabat itu hanya bisa duduk sambil melakukan kegiatan mereka sendiri. Taufan yang tadinya mengonceh tak jelas sekarang diam seperti kehabisan suara, mereka semua mulai mengantuk capek menunggu.

"howaaammnn...bosanlah! ngak ada perkerjaan lain!" onceh Gopal. Mereka semua hanya berguman sebagai balasan. "Tunggu sajalah!" jawab Taufan.

"Biasanya kalian bersemangat saat perlombaan akan dimulai?" tanya Ying. "memang benar, tapi sekarang lama bangetlah biasanyakan ngak seperti ini, lambat!" jawab Taufan, dia pun menyandarkan punggungnya kesandaran kursi.

"sekarang semua perlombaan final, kan?" tanya Yaya, mereka semua berguman sebagai balasan. "ha-ah, nanti kami akan mengalahkan kelas 12.A dalam pertandingan sepak bola nanti. Yeah pasti kita akan menang ya kan, Gopal?" seru Taufan sambil menyingkut gopal dengan sikunya. "So pasti!" mereka berdua berseru sambi melakukan salam bersahabatan ala TauGo[baca : Taufan dan Gopal].

"Eh, kami juga akan mengalahkan Tim 12,C dalam final basket nanti. Lalu aku yang banyak mencetak poin dan menjadi terpopuler, hahaha..." kata Fang dengan Pdnya.

Krik...krik... [ada jangkrik lewat]

Semuanya hanya sweatdrop melihat kelakuan Fang, merasa dipandang Fang menjadi risih dan menghentikan tawanya. "Apa pandang-pandang?" kata Fang dan kembali dengan sifat dinginnya. Halilintar hanya memutar matanya bosan.

"Yaya, Ying nanti penentuan tiga besar lomba Matematika aku yakin nomor satunya aku. Upst..." entah kenapa Gempa menutup mulutnya saat merasakan aura ngelap mengguar dari Yaya dan Ying. Dia keceplosan mengucapkan kalau Gempa yakin dialah yang akan mendapatkan nomor satu.

Aura gelap mengguar begitu saja dari Yaya dan Ying, mereka saling menatap tajam satu sama lain. Kilatan imajiner muncul dari mereka berdua. Yang lainnya hanya sweatdrop melihat kelakuan duo Y itu.

Terdegar suara pengunguman dari arah lapangan sekolah, seorang guru laki-laki berpakaian layaknya seorang pahlawan dan berlogo P dipinggangnya menyuruh agar para murid segera berkumpul dilapangan karna perlombaan fainal Matematika akan dimulai.

Semuanya berkumpul perserta yang masuk dalam final berada ditempat yang telah disediakan. Murid yang memasuki final lima orang termaksud Gempa,Yaya dan Ying. Perlombaan pun dimulai dengan tengang. Aura hitam masih terasa jelas saat bertandingan berlangsung dari Yaya dan Ying. Peserta lainnya hanya bergidik geri kepada mereka berdua, Gempa yang melihatnya hanya sweadrop.

Pertandingan selesai satu jam kemudian, perlombaan selajutnya adalah pertandingan bola basket. Tentunya Halilintar dan Fang mengikuti perlombaan tersebut. Pelombaan berlangsung dengan meriyah para murid meneriaki nama kelas mereka dan para jagoan andalan mereka. Dengan gesit Halilintar melewati lawan-lawan yang ada dihadapannya menuju ring lawan dan langsung melemparnya kedalam lalu mencetak poin.

Melihat itu semuanya berteriak histeris sambil menyebut namanya, Fang hanya mendengus kesal. Pertarungan terus berlanjut dengan sengit berbagai macam aksi yang dikeluarkan oleh Halilintar dan juga Fang membuat semua yang melihatnya terkagum-kangum.

"Ayo, semangat Hali, Fang!" seru Gopal sambil mengangkat tangannya keatas.

"Ya, kami semua mendukungmu!"-Yaya.

"Lawan mereka Kak Hali, hajar mereka Fang!"-Taufan.

"Terus berusaha, jangan menyerah!"-Gempa.

"Kalian berdua pasti menang!"-Ying.

Begitulah teriakan-teriakan dari kelima sahabat Halilintar dan Fang yang menyoraki mereka agar tetap semangat. Mendengar itu mereka berdua menjadi lebih semangat dan merasa bersyukur menpunyai sahabat yang slalu mendukung mereka. Akhirnya pertandingan dimenangkan oleh kelompok Halilintar dan Fang dengan skor 35 : 25 hanya beda sepuluh poin tapi itu cukup memuaskan.

Pertandingan berlanjut pada lomba bola kaki, dengan semangat yang membara Taufan dan Gopal mengikutinya dengan sangat bersemangat. Bagai belut dalam lumpur, Taufan dapat menghindari lawan-lawannya yang berusaha untuk merebut bola darinya. Bola mengelinding cepat diatas tanah, menuju gawang lawan dengan kuat Taufan menendang bola tersebut dan memasuki gawang. Semuanyanya bersorak dengan kemenangan yang mereka peroleh, keringat dipelipis mereka menjadi bukti kemenangan. Semuanya memberikan ucapan selamat kepada mereka berdua termaksud kelima sahabatnya.

.

.

.

Perlombaan selesai mereka bertujuh memilih beristirahat ditaman sekolas dibawah pohon. Sambil menikmati udara yang sejuk dan juga beberapa cemilan.

"Hari ini benar-benar menyenangkan" seru Taufan.

"Bukan, hari ini benar-benar melelahkan. Aduh!... laparlah nasip baik ada donat lobak merah, hmp.." jawab Gopal, lalu memakan sebuah kue dari Fang yang hendak dia makan. "Hei! Jangan ambil donatku, mari kembalikan!" protes Fang berusaha merebut kembali donatnya. Mereka saling merebut dan bertengkar hanya mendapatkan sebuah donat.

"Sudah-sudah jangan bertengkar! Ini juga masih banyak!" lerai Yaya sambil menyerahkan beberapa donat. Seketika mereka berdua langsung berhenti dan menyambar donat tersebut. Semua yang melihatnya hanya sweatdrop.

"Haiya! Kalian ini seperti orang kelaparanlah!" kata Ying dengan logat chinanya yang kental. Gopal dan Fang tidak memperdulikannya, mereka masih tetap setia memakan donat mereka.

"Hei, kalian semua sudah ada rencana tidak untuk liburan kalian nanti?" tanya Taufan sambil mencomot sebuah donat dan langsung memakannya. "Kalau sekarang belum ada, bingung mau liburan kemana" jawab Yaya.

"Aku pun belum juga kepikiran" jawab Ying. "Kalau aku sih dirumah aja" jawab Fang datar dan melanjutkan kembali memakan donatnya. Dan yang lainnya hanya menggeleng sebagai jawaban.

"Aku tau, kemana rencana kita liburan nanti" Seru Taufan tib-tiba. "Emang kemana kak?" tanya Gempa. "pokoknya rencananya pasti seru!" jawab Taufan.

"Ayolah! Beritau kami!" Kata Gopal dengan wajah memelas.

"Ngak boleh, karna ini kejutan!" Jawab Taufan sehingga membuat yang lain menjadi penasaran. "Emangnya seberapa terbaiknya rencana itu?" tanya Halilintar.

"Yang pastinya itu akan menjadi sebuah kejutan yang luar biasa senangnya dan tentunya Terbaik..."

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Hore akhirnya selesai...

Gimana para reader bagus tak, maaf kalau tulisannya berantakan, Typu dimana-mana, alurnya kecepatan dan lain-lain. Dan juga mohon maaf up date nya lama.

Mohon untuk semuanya untuk memberikan kritik dan sarannya untuk cerita Dindha ini. Din sangat membutuhkan itu untuk cerita Din agar menjadi lebih baik lagi. Jangan lupa RnR ya!

Sampai jumpa lagi chap depan.

Salam Dindha, Terima kasih.