"You and me got a whole lot of history.

We could be the greatest thing that the world has ever seen."

(One Direction - History)

.

Title : History

Cast : Jeon Jungkook / Kim Taehyung

Warn! BL! Jeon!seme. Don't read if you don't like. College!Au.

Ichizenkaze

.

.

.

HAPPY READING

.

.

.

Our First Confession


"Benar tidak apa-apa?"

"Yap"

"T-tapi, jika kau lelah kau bisa katakan, aku masih bisa jalan"

Jungkook menggeleng dan menyebabkan rambut kecil di tengkuknya menyentuh leher Taehyung. "aku tidak mau menanggung resiko kau terjatuh dan lukanya akan semakin parah"

Taehyung tersenyum, mengeratkan lengannya pada leher Jungkook namun tidak sampai membuat pemuda itu tercekik. Ia menunduk dan hidungnya menghirup aroma pundak Jungkook yang hangat. Campuran antara parfum yang bertahan lama lalu menguar dengan aroma tubuh Jungkook yang lembut dan maskulin.

Taehyung tahu jantungnya berdegup cepat hingga rasanya menyatu dengan punggung Jungkook. Ia bernafas dan Jungkook ikut mengeluarkan desahan nafas yang tersiksa. Komplek asramanya masih sedikit jauh, namun Jungkook bersikeras agar membawa Taehyung selamat sampai ke tempat tujuan dalam gendongannya yang aman. Meminimalisir keadaan pergelangan kaki Taehyung yang sedikit membengkak.

"Mau minum sesuatu?" Tawar Jungkook.

Taehyung menggeleng. "Aku hanya ingin cepat pulang," ucapnya "aku berat, kau tahu."

Jungkook tertawa. "Memang," ucapnya dan membenturkan pelipisnya pada kepala Taehyung hingga pemuda manis itu mengaduh dengan suara lucu.

Taehyung menegakkan punggungnya. "Aku turun saja, deh."

"Tidak akan." Keras Jungkook. Semakin mempererat cengkramannya di lekukan lutut Taehyung. "untuk ukuran seorang lelaki, kau tidak berat sama sekali. Duh, apa sih yang kau makan bersama Jimin tiap hari sampai tubuhmu sekurus ini?"

"Hei, gunakan Hyung." Protes Taehyung. Jungkook susah sekali disuruh menggunakan Hyung saat berbicara dengan Jimin. "Dan menjawab pertanyaanmu, aku makan lima kali sehari. Samgyupsal saat makan siang, ditambah dua poris Jajangmyeon, Twigim, tiga Tteoboki untuk makan malam dan terakhir seporsi besar ramyun beserta sup rumput laut."

"Daebak." Jungkook tertawa, punggungnya bergetar dan merambat ke tubuh Taehyung dalam gendongannya. Dagu Taehyung yang berada di pundak Jungkook terkena efek cukup sakit akibat gelak tawa Jungkook yang tak henti.

"Lalu, berapa berat badanmu, Hyung?"

"Entahlah." cicit Taehyung pelan, ia menyembunyikan wajahnya pada pundak Jungkook yang tegap dan terasa pas saat lengannya melingkar di sana. "mungkin 61?"

Jungkook meringis. "kemana perginya semua makanan itu?"

Taehyung terkekeh lucu. "Tidak tahu. Jimin saja sudah protes beratus kali tentang hal ini. Jimin harus bekerja ekstra keras di gym untuk membakar semua lemak yang kita makan setiap hari seperti orang kesetanan. Sedangkan aku?" Taehyung menyuarakan huft kecil di belakang telinga Jungkook. "Berat badanku tidak pernah naik."

Jungkook tertawa, dan Kim Taehyung tahu sihir apa yang Jungkook kirimkan dari tawa itu. Tubuhnya menghangat dan ia seakan ingin menggenggam Jungkook sangat erat seperti ini. Taehyung meremas pundak Jungkook, ia dapat melihat lirikan gugup Jungkook akibat perbuatan kecil yang berdampak besar bagi degup jantung mereka berdua.

"Bisakah kau lambat sedikit?" Pintanya di balik leher Jungkook.

"Lambat apa?"

"Langkahmu?"

Jungkook diam sesaat dan langsung melambatkan langkahnya. Saat bersama Taehyung dia tidak perduli akan apapun. Apapun. Termasuk pandangan aneh dari orang-orang sekitarnya. Dia hanya ingin membuat Taehyung nyaman di dekatnya.

Tidak ada yang lain.

"Entah mana yang harus kusyukuri saat ini," ucap Taehyung pelan dan hampir membuat Jungkook tersiksa. "Menghabiskan waktu bersamamu dengan belajar skateboard atau pergelangan kakiku yang terkilir saat mencoba gerakan kickflip?"

Jari-jarinya kini mengepal kuat di pergelangan tangan yang melingkar di leher Jungkook.

"Apa yang disyukuri dari terkilir?" Tanya Jungkook balik. Ia menatap lurus ke arah jalanan yang semakin sepi dan angin musim semi berhembus menghempas jaket kulitnya. "Aku merasa sangat bersalah, kau tahu. Mungkin terlalu dini untuk mengajarkanmu teknik kickflip."

"Tapi kata Mingyu, itu teknik dasar."

"Tapi kau baru pertama kali bermain skate. Mengendarai skate dengan dua kaki dan melatih keseimbangan saja sudah cukup. Ya Tuhan, kau tidak mengerti. Jantungku seperti mau lepas saat melihatmu jatuh."

Taehyung tersenyum di balik pundak Jungkook. "Hari itu. Saat pertama kali kita bertemu di perpustakaan. Aku hampir saja mengurungkan niat ke sana. Merelakan nilaiku C karena membayangkan meringkas buku dengan halaman menyentuh 600 lembar itu benar-benar membuatku mual,"

"Aku hampir menjerit bahagia dan memeluk dosen tua itu lalu mengucapkan terimakasih karena sudah memberiku tugas meringkas buku biadab itu. Aku bertemu denganmu di sana. Dan kau adalah lelaki pertama yang membuatku berpikir untuk menikah muda." Taehyung tertawa, Jungkook ikut tertawa mendengarnya.

"Jadi?"

"Jadi apanya?"

"Kapan kita akan menikah?"

"Eiii," Taehyung mengacak-ngacak rambut Jungkook kasar. "Aku kan hanya bercanda."

"Tapi aku serius."

"Memangnya kau menyukaiku?"

"Memangnya kau tidak tahu?"

Taehyung berdecak kesal. "Jangan bercanda."

"Apa aku terlihat seperti bercanda?"

"Dasar bocaaaah." Kini ia menarik-narik rambut jungkook hingga pemuda yang lebih muda darinya itu mengaduh samar diiringi tawa.

"Aku kira kau juga menyukaiku," ucap Jungkook tipis. "Ternyata tidak ya?"

"Eh? Kata siapa?"

"Jadi kau menyukaiku atau tidak?" Tanya Jungkook dengan nada serius.

"Kau sendiri?"

"Benar-benar," decak Jungkook. "Memangnya tidak terlihat ya?"

Sangat. Sangat terlihat. Semenjak pertemuan pertama mereka dan dilanjutkan dengan minum kopi bersama, saling tukar ID Line, Kakaotalk, dan Instagram, lalu mengirimi sticker-sticker aneh yang berujung ucapan selamat malam dan selama pagi dengan emot kecil berbentuk hati. Jungkook yang mengirimi voice note setiap malam, ucapan selamat tidur yang paling ampuh untuk Taehyung tenggelam dalam mimpi indah. Selca-selca terselubung tanda ia menyebutkan betapa ia menyukai Taehyung, mention-mention rahasia yang ia sematkan di akun twitternya saat melakukan percakapan dengan Mingyu. Seruan bernada godaan teman-teman klub skateboard Jungkook malam ini ketika Taehyung ikut menemani Jungkook latihan. Senyum samar gugupnya, lirikan penuh perdulinya, tingkah polos menggemaskannya, sikap dewasa penuh perhatiannya, tatapan memujanya, genggaman hangatnya. Itu semua terlihat nyata, dan Taehyung takut ia salah menangkap sinyal yang terang-terangan diberikan Jungkook.

"Kau butuh aku berlutut di depanmu dengan seikat bunga mawar untuk membuktikannya?"

Taehyung menggeleng. "Aku bukan cewe, please."

Jungkook tersenyum maklum. "Iya, iya. Aku mengerti."

Taehyung mengeratkan lengannya di leher Jungkook, terkikik kecil di pundak tegap Jungkook yang melindunginya dari terpaan angin.

"Jadi, mulai malam ini aku boleh 'kan mengganti namamu menjadi Pacarku di akun Line dan Kakaotalk?" Aju Jungkook.

Mereka memasuki gerbang asrama, untungnya kamar Taehyung terletak di lantai satu, walaupun keberadaanya sedikit jauh dari gerbang utama. Mereka harus melewati lorong panjang hingga akhirnya sampai di depan kamar Taehyung yang ia tempati bersama Jimin.

"Boleh, aku juga akan mengganti namamu dengan Pacarnya Taehyung."

Ia turun dari punggung Jungkook yang membantunya menapak dengan hati-hati.

"Baiklah, Pacarnya Jungkook. Hati-hati dengan langkahmu. Besok kita harus mendatangi dokter."

"Aku rasa tidak perlu."

"Harus."

"Ini hanya terkilir. Aku bisa membeli obat pereda nyeri, dan masalah selesai."

Taehyung berdiri dengan dipapah Jungkook, ia menatap mata Taehyung yang bersinar dan poni coklatnya yang berkibar tersibak angin, ia menggigit pipi bagian dalamnya dan membuat sebuah kuluman senyum yang indah.

"Kenapa pacarku keras kepala sekali?"

"Kenapa pacarku tampan sekali?'

Jungkook tertawa gemas. Mencubit pipi Taehyung yang meringis lucu.

"Baiklah, baiklah kau menang." jawab Jungkook. "Tapi usahakan tidak bergerak terlalu aktif seperti biasa. Oke?"

"Siaaap,"

Ia menempelkan telapak tangannya di dada Taehyung. "aku menaruhnya di sini," ia menepuknya hangat dan membuat rona merah aneh di pipi Taehyung. "kepercayaan, rasa sayang, cinta, dan hidupku." ia tersenyum sangat tampan. "Jadi, jangan coba untuk merusaknya. Karena tidak ada yang bisa memperbaikinya selain dirimu."

Taehyung terkesiap, ia mengangguk paham, tak berniat sedikitpun untuk menatap mata Jungkook yang temaram.

"Sudah selesai rayuan gombal mu, eoh?"

Keduanya tersentak kaget, Taehyung mengeluh keras saat menyadari suara siapa itu.

"Diamlah, Jimin." teriaknya sementara Jungkook tertawa dan membantu Taehyung berjalan menuju pintu kamarnya.

Jimin langsung ikut membantu "apa salahnya sih aku overprotektif sedikit pada sahabatku?" Gerutunya datar namun masih menakjubkan.

"Aku tidak butuh sikap overprotektifmu itu, oke?" Taehyung mendesah lega saat tubuhnya duduk nyaman disalah satu sofa dalam kamarnya. "Kau mau minum dulu, Kook-a?"

Jungkook menggeleng dengan wajah geli. "aku rasa tidak, memperkecil kemungkinan untuk sahabatmu memotong kepalaku karena sudah menculikmu sampai larut malam"

Jimin mengangguk setuju. "kau paham sekali, 'kan?"

Taehyung memutar bola matanya. "katakan itu pada dirimu sendiri, Chims. Kau bahkan meminta Yoongi Hyung untuk menginap saat kau demam, hanya demam"

Jimin tertawa dibarengi Jungkook. "Itu kebutuhan alami," ujarnya tenang dan kembali datar.

Taehyung membuat gerakan aneh pertanda jika Jimin sudah gila. Jungkook meletakkan telapak tangannya di atas kepala Taehyung dan mengelusnya hangat hingga degup jantungnya kembali menggila.

"Aku pamit," ujarnya dan tersenyum sopan namun nyeleneh ke arah Jimin. "jaga dia baik-baik untukku, Jimin-a."

"Panggil aku Hyung, brat." Desis Jimin. "Dan tentu saja aku akan menjaga Taehyung. Sahabat rewelku ini butuh kucuci otaknya karena sudah berani berkencan dengan seorang brondong."

"Ah, lebih baik kau ambil kaca, Jims." Protes Taehyung. "Beda umurku dengan Jungkook tidak terlalu kentara seperti hubunganmu dengan your sugar daddy."

Jimin mendecih. "Banyak keuntungan dari mempunyai pacar yang lebih tua. Dan cepatlah pergi, Jeon. Aku butuh mengunci pintunya."

Taehyung mengeluarkan gumaman jangan dengarkan si gila Jimin pada Jungkook. Jungkook mengangguk sambil tertawa kecil, menepuk lembut pipi Taehyung dan mengucapkan selamat malam pada Jimin yang membalasnya dengan geraman cepatlah. Jungkook tersenyum kearah Taehyung dan pemuda itu membalas senyumannya. Dan satu senyuman itu sudah membuat Jungkook yakin dia akan pulang, tidur, dan mimpi indah.

Apalagi dengan status baru yang kini disandangnya, Pacar Kim Taehyung.


TBC


RnR Juseyo~