"Terima kasih paman. Paman baik sekali." Baekhyun tersenyum kecil, mempererat cengkeramannya pada piyama bagian dada sang paman, sedangkan wajahnya disembunyikan diceruk leher si lelaki dewasa, menyesap wangi lemon yang bercampur dengan aroma tembakau. Baekhyun tahu bahwa pamannya ini termasuk perokok berat, tak heran aroma tembakau tersebut bercampur dengan aroma asli sang paman, tetapi walaupun begitu Baekhyun aku selalu menyukainya.
Sang paman melirik puncak kepala si bocah, masih memasang wajah datar yang sudah terpahat sejak lahir. Tangannya masih tetap bergerak dibelakang kepala Baekhyun, semakin bergerak turun menuju tengkuk dan punggung si bocah.
"Kau harus membayarnya bocah, ini tidak gratis."
-Astraphobia-
Si bocah mengernyit bingung, dengan berlahan ia menjauhkan wajah dari ceruk leher sang paman dan menatap manik kelabu yang balik menatapnya.
"Maksud paman apa?" Sang paman tidak menjawab. Yang ia lakukan hanya mempersempit jarak antara dirinya dan Baekhyun. Sampai pada saat Baekhyun menyadari jemari ramping nan kokoh milik pamannya semakin bergerak turun, mengikuti lekukan tulang punggungnya yang mengarah ke tulang ekor, dan menggoda daging kembar dibawah sana ketika jemarinya sampai pada daerah tersebut.
Manik hazel Baekhyun membola merasakan jemari sang paman yang meremas bagian tubuh belakangnya. Meremas bokong yang dilapisi celana pendek tersebut dengan intensitas yang berubah-ubah. Remasan kuat sang paman membuatnya tersentak berkali kali, dan pada saat remasan tersebut berubah lembut ia akan melenguh lemah.
"A-apa yang paman la-lakukan? Ahh" Baekhyun mengigit keras bibirnya ketika suara aneh tersebut terdengar lagi. Ia mencoba menahan suara yang asing dipendengarannya itu. Suara yang entah kenapa membuatnya merasa malu dan ini pertama kalinya Baekhyun mengeluarkan suara seperti itu.
Sang paman tak merespon apa-apa, ia sibuk menelusuri permukaan dan lekuk wajah si bocah menggunakan hidung bangir miliknya. Menyesap aroma alami milik si bocah dan setelah puas ia berhenti tepat di bibir ranum gadis 14 tahun tersebut.
"Buka mulutmu." Baekhyun meragu, tetapi tak banyak yang bisa ia perbuat ditengah rasa kagetnya yang masih mendominasi. Baginya perintah sang paman adalah mutlak.
Gadis mungil itu akhirnya menuruti perintah sang paman, membuka perlahan kedua belah bibirnya guna menyambut daging basah tak bertulang milik sang paman yang menyusup kedalam rongga mulut. Lidah tersebut bergerak gesit mengaduk-aduk mulut penuh liur Baekhyun tanpa rasa jijik, mengajak lidah pasif si gadis untuk menari bersama. Menciptakan tarian erotis dengan bunyi kecipak basah daging yang tengah beradu sebagai pengiring, menggema di rongga mulut masing-masing.
"Hmmph! Hmphh!" Baekhyun memukul dada tegap sang paman ketika ia rasa oksigen di rongga dada mulai menipis.
"Hahh! Hahh! A-apa yang paman lakukan!" Baekhyun meronta ketika lidah lelaki 35 tahun tersebut berpindah tempat, membuat jalur basah menggunakan lidahnya menuju tempat lain dan berhenti pada sisi leher Baekhyun yang tampak menggiurkan.
Ia memberikan kecupan-kecupan yang membuat si gadis melenguh ditengah rontaannya. Menggigiti serta menghisap kulit tipis tersebut hingga meninggalkan ruam pekat yang tak akan mudah hilang untuk beberapa hari kedepan.
"P-paman... hiks" Baekhyun menangis, tangan kecilnya meremat bagian depan piyama sang paman ketika lagi-lagi lelaki itu menyesap kulitnya dengan kasar dan tak beraturan. Ia tak mengerti apa yang sedang diperbuat sang paman, tetapi Baekhyun pikir ini bukanlah perbuatan yang pantas dilakukan oleh sang paman terhadap dirinya.
"Chanyeol, sebut namaku sayang." Baekhyun menggeleng, mendorong tubuh besar pamannya.
"K—kumohon paman, henti-aaakhh!" Tiba-tiba si bocah menjerit ketika sang paman menggigit keras permukaan kulit lehernya. Ia terisak ketika merasakan perih dan juga panas pada permukaan leher. Ia kembali memukul Chanyeol dengan kepalan tangannya yang kecil berkali-kali, berusaha menjauhkan tubuh besar sang paman yang menindih dirinya.
"Sakit paman! Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Semua permohonan dan raungan Baekhyun sama sekali tak diacuhkan. Tangan bertekstur kasar milik sang paman tetap lanjut menggerayangi tubuh Baekhyun. Pita suaranya mengeluarkan geraman lirih akibat menahan gejolak hasrat yang semakin memuncak, bibir penuh yang jarang mengeluarkan kata-kata tersebut terus menjamah kulit sehalus bayi milik Baekhyun tanpa melewatkan seinchi pun.
Jilat.
Hisap.
Kulum.
Lalu gigit.
Siklus tersebut terus berulang-ulang. Yang ada dipikiran si lelaki hanya meninggalkan tanda sebanyak mungkin. Ia mengklaim tubuh bocah kecil tersebut sebagai miliknya. Hanya miliknya seorang.
Udara dingin menyambut tubuh si bocah ketika Chanyeol dengan sekali tarikan merobek kaos kumal Baekhyun, meninggalkan si gadis dengan celana pendeknya yang masih melekat. Manik kelabu dengan campuran azure tersebut menatap Baekhyun tanpa berkedip.
Menatap satu persatu apa yang ada dihadapannya. Wajah Baekhyun yang terlihat ranum dengan kedua mata yang terbuka sayu, serta liur yang melapisi bibir tipisnya. Dada si bocah yang dipenuhi ruam pekat yang menyebar bergerak naik turun, menghirup udara sebanyak yang ia bisa.
Baekhyun is totally mess.
Tetapi, kekacauan tersebutlah yang membuat sesuatu dibalik celana sang paman semakin mengeras.
Chanyeol tak menyangka bocah lugu seperti Baekhyun bisa terlihat senakal ini, melebihi bayang-bayang yang selama ini hinggap dalam pikiran kotornya.
"Kau lebih indah dari yang aku bayangkan." Baekhyun tak mengacuhkan pujian yang ditujukan sang paman terhadap dirinya. Ia malah meringis disela-sela isakan ketika sang paman membalikkan tubuhnya dengan paksa. Pasrah ketika sang paman kembali menciumi bahu dan punggungnya. Kembali meninggalkan ruam-ruam pekat pada permukaan kulit Baekhyun.
Daun telinga si gadis dikulum lembut, dibisikkan kata-kata manis nan menggoda yang membuatnya mendesah menerima getaran sensitive dari lidah panas dan hembusan lembut sang paman. Pamannya tahu betul dimana letak titik sensitive Baekhyun, membuat si bocah tak dapat berpikir jernih. Setuhan sang paman terlalu memabukkan dan ia terlalu lemah untuk menghindar.
"Ahh!" Baekhyun memekik ketika secara tiba-tiba pinggulnya ditarik ke atas. Ia beberapa kali berusaha bangkit, tetapi siapa yang bisa melawan Chanyeol? Terlebih lagi Baekhyun hanyalah seorang bocah lemah yang tak dapat berbuat apa apa ketika dilecehkan oleh pamannya sendiri.
"Jangan dilepas paman. Aku mohon, jangan.." Gadis tersebut berusaha menahan celananya ketika sang paman hendak melapas satu-satunya kain yang menutupi bagian tubuh Baekhyun. Tapi apa yang ia dapat? Chanyeol hanya kembali menjadi kasar dengan mencengkram kedua tangan Baekhyun, sedangkan salah satu tangannya yang lain melucuti celana pendek tersebut beserta dalamannya. Menyisakan Baekhyun yang benar benar polos tanpa sehelai benang pun.
"Hentikan ini paman, aku malu..." Baekhyun menangis. Ia tak pernah merasa malu luar biasa seperti saat ini. Ia memang hanyalah seorang bocah kecil yang masih tak mengerti perbuatan apa yang tengah dilakukan sang paman terhadap dirinya, tetapi sedikit banyaknya ia mengerti bahwa telanjang didepan orang lain bukanlah perbuatan yang baik, terlebih telanjang didepan sang paman yang ia sendiri masih merasa asing dengan lelaki jangkung tersebut.
"Aku pamanmu Baek. Kenapa harus malu?" Tangan besarnya ia bawa kepermukaan halus bokong Baekhyun lalu nenampar permukaannya secara tiba-tiba, membuat Baekhyun semakin terisak, memohon mohon untuk menghentikan semua yang dilakukan sang paman. Rasa panas dan juga perih menyebar dipermukaan kulit gadis tesebut.
Satu—dua—tiga tamparan lagi Baekhyun terima dikedua pipi bokong, menimbulkan bekas merah berbentuk tangan disana. Ia meraung, tapi tak ada yang bisa ia lakukan dengan kedua tangan yang ditahan oleh Chanyeol.
"Hentikan paman.. Aku mohon.. hiks.." Tak ada jawaban dari sang paman, yang ia dengar hanyalah suara karet celana yang beradu dengan kulit. Lalu setelah itu Baekhyun dapat merasakan sebuah benda keras terselip diantara belah bokongnya. Benda tersebut secara berlahan bergerak naik turun seiring dengan geraman berat sang paman.
"A-apa yang paman lakukan?.." Baekhyun panik. Ia dengan ragu menoleh kebelakang dan pada saat itu juga degub jantungnya berdetak tak karuan. Wajahnya merah padam menahan malu ketika mendapati keadaan sang paman yang berantakan dengan celana terlepas sampai sebatas paha, sedangkan kemaluannya yang keras terselip pada bagian tubuh Baekhyun.
Ia cepat cepat mengalihkan pandangannya kemana saja asal bukan kearah batang keras tersebut. Bagaimana pun ini adalah pertama kalinya ia melihat "milik" seorang pria dewasa, dan yang memperparah keadaan adalah yang ia lihat saat ini adalah milik pamannya sendiri.
Tubuh Baekhyun bergetar takut. Ia menggeliat tak nyaman, beberapa kali ia mencoba untuk menarik turun pinggulnya. Berusaha menjauhkan tubuhnya dari kejantanan sang paman yang menempel pada bagian tubuhnya, tetapi tangan Chanyeol yang lain lebih dulu menahan pinggulnya agar tetap dalam keadaan menungging.
"Kumohon..." Gadis tersebut kembali menoleh kebelakang, menatap Chanyeol sembari terisak lirih. Ia berharap agar sang paman tak melanjutkan apa yang sedang ia lakukan.
Melihat keadaan si bocah yang berantakan dan juga permohonan yang berkali kali keluar dari bibir tipis tersebut membuat rasa iba hinggap dihati sedingin es sang paman. Ia dapat melihat dengan jelas ketakutan yang terpancar dimanik hazel keponakannya. Tapi, apa tidak boleh ia bertindak sedikit egois kali ini? Ia menyukai Baekhyun lebih dari apapun. Bahkan perasaan ini sudah tumbuh jauh sebelum Baekhyun bisa berhitung dengan benar.
Ya, katakan saja Chanyeol lelaki berkelainan yang tidak tahu diri dan juga keji, lelaki yang dengan kejamnya berbuat tidak pantas kepada keponakannya sendiri. Chanyeol tak akan menolak dikatai seperti itu, karena memang seperti itulah kenyataan sebenarnya. Caranya mengepresikan rasa cinta memang salah. Tapi yang ia inginkan hanya Baekhyun menjadi miliknya seutuhnya, hanya itu.
Chanyeol menunduk, meraih wajah Baekhyun yang masih menoleh kebelakang lalu mendaratkan sebuah kecupan panjang pada bibir tipis keponakannya. Tak ada paksaan dan kekerasan sedikitpun dari Chanyeol.
"Berhenti memohon seperti itu." Chanyeol tetaplah Chanyeol. Lelaki itu dalam sekejap kembali menjadi dirinya yang sebelumnya. Mengenyahkan rasa iba yang hampir saja mempengaruhinya.
"Pa-paman ahh! Nghh!" Baekhyun kembali mendesah ketika sang paman kembali menggesekkan miliknya diantara pipi bokong gadis tersebut, kali ini gerakannya lebih cepat dan tak beraturan.
Ia terus bergerak cepat tanpa menghiraukan tangisan dan desah putus asa Baekhyun. Sampai pada akhirnya gadis kecil itu dapat merasakan sebuah cairan yang mengalir menuruni pangkal pahanya, yang dibarengi suara desah berat dan geraman sang paman.
TBC
Hola! Aku dateng lagi bawa lanjutan kisah uncle x kid Chanbaek! Yuhuu.
Maaf ya perchapternya pendek, kemaren sempet stuck soalnya jadi sampe sini duluu.
Doain biar aku bisa selesain yang selanjutnya ya, ga stuck lagi gitu :')
Ngeliat komen readers bikin aku makin semangat mau nyelesaiinnya huhu aku seneng banget!
Semoga kalian suka chapter iniii. Mohon maaf klo ada typo dan kata2nya kurang pas. Dah!
love
/zoesgurl/
