Suara langkah kaki terdengar bergema di lorong rumah sakit yang terlihat sedikit lengang sore itu. Langkah kaki itu berasal dari seorang dokter laki-laki berambut hitam panjang yang sedang berjalan bersama seorang pemuda berambut emo yang jauh lebih muda darinya.
"Jadi, apa kau sudah memutuskan akan melakukan operasi itu atau tidak?" tanya sang dokter kepada sang pemuda dengan nada dalam.
"Aku belum memutuskannya," jawab sang pemuda datar.
"Kenapa kau terlihat ragu? Pemeriksaan hari ini menunjukkan bahwa apa yang kau lakukan selama ini tidak sia-sia. Presentase keberhasilan untuk operasi terakhir yang harus kau jalani naik menjadi 60% setelah kau melakukan semua terapi itu," sahut sang dokter.
"60% dari 50% bukanlah yang kuharapkan, sensei," balas sang pemuda. Kedua manik hitam miliknya memandang ke depan dengan pandangan kosong.
"Menurutku 60% itu sudah merupakan kemajuan yang cukup pesat untuk kasusmu. Kau punya cukup waktu untuk mempertimbangkannya. Lihatlah perkembangannya sendiri dalam tiga bulan ini, dan datanglah lagi jika kau ingin aku melakukan operasi itu," ucap sang dokter sambil menepuk pelan pundak pemuda itu. "Aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini, sampai jumpa," sambung sang dokter yang kemudian berbelok ke arah kanan saat mereka berada di ujung lorong, sedangkan sang pemuda berbelok ke arah kiri— menuju pintu keluar rumah sakit.
Dukk!
Pemuda itu berhenti sejenak saat dirasanya seseorang menabrak bahu kirinya dengan keras. 'Tck, sial!' umpatnya dalam hati karena merasakan nyeri pada tangan kirinya yang dibalut perban putih. "Apa yang—"
"Je suis désolé."
Hanya terdengar suara halus yang meminta maaf dalam bahasa asing saat si pemuda berambut emo itu berbalik, hendak menghardik orang yang menabraknya. Namun ia hanya bisa memandang punggung seseorang yang menabraknya tadi dari belakang, karena orang itu sudah berlalu dengan cepat dari hadapannya. "Pink?" gumamnya pelan saat onyx-nya menangkap sekilas bayangannya sebelum berbelok ke lorong yang tadi ia lewati.
Orpheus and Eurydice
Story by C.C
.
Naruto © Masashi Kishimoto
I don't take any profit from this fict!
.
Alternate Universe, Highschool, Some OC & A Lil' bit OOC.
Drama, Hurt-Comfort & Friendship
.
Hope you can enjoy it and give me your feedback? :)
.
Chapitre Deux
Deja vu!
.
Sakura bergegas keluar dari bandara International Konoha setelah memutus sambungan telepon dari ibunya. Ia langsung menaiki salah satu taksi berwarna kuning yang terparkir di depan pintu masuk bandara.
"Amegakure," ucap Sakura cepat. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya pada softcase biolanya dengan gelisah. Raut wajahnya menampilkan ekspresi khawatir yang begitu kentara. 'Ayah,' batinnya gelisah.
Perjalanan dari bandara Konoha ke desa kecil di dataran tinggi Konoha yang bernama Amegakure itu memakan waktu selama dua jam, yang cukup membuat jantung Sakura berdegup tidak karuan saat itu.
"Anou ... berapa lama lagi kita sampai, Paman?" tanya Sakura dengan nada yang begitu khawatir pada sopir taksi yang ia naiki.
"Sekitar lima belas menit lagi kita sampai di rumah sakit pusat Amegakure, nona," ucap sopir taksi yang menangkap raut khawatir dari penumpangnya. Sebisa mungkin ia menambah kecepatan dalam batas kemampuannya.
Ckiit!
Bunyi ban yang begesekan dengan aspal terdengar nyaring saat sang sopir menginjak pedal rem. "Kita sudah sampai, nona," sahut sang sopir.
Kedua emerald Sakura membelalak saat melihat angka yang ditunjuk agrometer taksi tersebut. Saat menaiki taksi tadi, ia tidak berpikir panjang tentang tarif yang akan dikenakan padanya. 'Gawat! Aku tidak punya uang dalam mata uang Yen,' batin Sakura. Ia lalu melihat jam tangan putih miliknya, dan tanpa pikir panjang ia membuka jam tangannya dan menyerahkannya pada sang sopir bersama dengan beberapa lembar mata uang euro yang tersisa di dompetnya.
"Maaf paman, aku hanya bisa membayar dengan ini. Aku belum sempat menukar uangku dalam Yen karena terburu-buru. Kaubisa menukarnya di money changer dan ambil saja jam tanganku ini. Kalau nanti masih kurang, kaubisa mengunjungi vila keluarga Haruno di pinggiran desa ini," jelas Sakura dengan cepat. Ia lalu segera keluar dari taksi dan berlari menuju pintu masuk rumah sakit yang ada di hadapannya.
Sakura menanyakan ruangan di mana ayahnya berada pada resepsionis rumah sakit itu. Ia lalu kembali berlari menuju ruangan yang diinformasikan oleh resepsionis itu, setelah mengucapkan terima kasih.
Dukk!
Sakura lagi-lagi merasakan dirinya menabrak seseorang. 'Sial! Kenapa dari kemarin aku selalu menabrak orang?' keluhnya dalam hati. "Je suis désolé," ucapnya tanpa sadar sambil membungkuk sekilas, kemudian ia kembali melanjutkan langkahnya dengan cepat. Namun Sakura menghentikan langkahnya secara tiba-tiba saat menyadari sesuatu, dan berbalik ke persimpangan lorong yang tadi ia lewati. Emerald-nya mencari sosok yang tadi ia tabrak, tetapi nihil. Sosok itu sudah tidak terlihat di dalam lobi rumah sakit itu.
"Apa hanya perasaanku saja kalau pemuda tadi..." gumamnya ragu. Ia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, "sepertinya aku masih mengalami jet lag sampai mengkhayal yang tidak-tidak," ucapnya lagi, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Sakura kembali berbalik dan berjalan cepat ke arah kamar rawat ayahnya.
"Ayah!" seru Sakura saat ia memasuki ruangan di mana ayahnya dirawat. Ia langsung memeluk ayahnya yang terbaring di atas ranjang.
"Sakura!" Kizashi Haruno sangat terkejut saat tiba-tiba pintu ruang inapnya terbuka dan tampak sosok putri tunggal kesayangannya masuk dengan terburu-buru. Gadis pink itu kini menangis tersedu di dadanya. "Kapan kau sampai di Jepang, Sayang?" tanya Kizashi dengan nada lembut. Ia mengelus pelan surai merah muda milik Sakura yang masih menangis tersedu.
"Jahat! Kenapa Ayah menyambutku seperti ini? Hiks ... hiks..." Bukannya menjawab, Sakura berbalik bertanya dengan nada kesal yang masih bercampur dengan tangisannya.
"Maafkan Ayah, Sakura. Ayah tidak bermaksud menyambut kepulanganmu seperti ini, tapi Ayah sungguh tidak apa-apa. Ayah cuma kelelahan saja," ujar Kizashi, berusaha meyakinkan Sakura. Ia melepas pelukan Sakura dan menghapus air mata yang masih mengalir deras dari kedua emerald milik putrinya itu sebelum mengecup pelan keningnya.
"Sakura?" Suara seorang wanita terdengar bersamaan dengan suara pintu ruangan yang terbuka.
"Ibu!" seru Sakura yang langsung memeluk Haruno Mebuki yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Ibu sangat merindukanmu, Sayang," ucap Mebuki terharu. Ia memeluk Sakura erat, melepas rasa rindu yang ia pendam selama tujuh tahun ini. "Lihatlah ... kau tumbuh jadi gadis yang cantik seperti ini," lanjut Mebuki yang memandang Sakura dari atas sampai ke bawah. "Sudah, sudah ... jangan menangis seperti ini. Ayahmu baik-baik saja, dia hanya kelelahan." Mebuki menuntun Sakura untuk duduk di kursi di samping ranjang suaminya.
"Benarkah? Ibu berkata seperti itu hanya untuk membuatku tidak khawatir, kan?" tuding Sakura.
"Tidak, tidak. Ibu tidak berbohong, Sakura. Ayahmu benar-benar baik-baik saja. Besok pagi dia sudah bisa pulang," sahut Mebuki.
"Hontou ni?"
Mebuki hanya mengangguk dan tersenyum tipis pada Sakura sebagai jawaban atas pertanyaan putrinya itu.
"Mana mungkin Ayah mau menghabiskan waktu bersama putri Ayah di rumah sakit setelah sekian lama tidak bertemu. Kita harus menikmati reuni ini dengan bersantai dan berkumpul bersama," celetuk Kizashi ringan.
"Akan kupastikan Ayah istirahat total setelah keluar dari rumah sakit," ucap Sakura, "dan tidak ada panggilan telepon untuk pertunjukan atau sejenisnya," ancam Sakura.
"Ha'i, ha'i, wakarimashita! Sebagai gantinya, Ayah ingin mendengar permainan biolamu secara langsung," ucap Kizashi antusias. Sudah lama ia tidak mendengar permainan biola putrinya secara langsung.
"Avec plaisir, Monsieur," jawab Sakura sambil membungkukkan badannya seperti seorang pelayan yang melayani majikannya.
Ucapan dan sikap Sakura itu hanya diiringi oleh tawa bahagia oleh kedua orangtuanya. Setelah itu, hanya terdengar alunan lembut yang terdengar dari permainan biola Sakura yang diselingi oleh percakapan ringan keluarga kecil Haruno yang kembali berkumpul setelah tujuh tahun lamanya.
.
.
.
"Ne, Ayahku baik-baik saja. Kami baru saja menjemputnya dari rumah sakit," Sakura berkata pada Karin yang meneleponnya pagi itu. Ia lupa menelepon Karin kemarin sore karena pikirannya tertuju pada kondisi sang ayah.
"Syukurlah kalau begitu. Aku khawatir karena kau tidak juga menghubungiku ataupun Menma," sahut Karin di seberang.
"Gomen, aku sangat panik kemarin," ucap Sakura.
"Lalu, apa kau sudah menelepon grand-mère-mu?"
"Belum."
"Hee? Kenapa?"
"Kaupikir aku masih punya keberanian mendengar suara grand-mère setelah apa yang kulakukan ini?"
Terdengar kekehan Karin di seberang sana yang membuat Sakura kesal. "Kukira kau sudah berani menghadapi grand-mère-mu," kekehnya.
"Hentikan tawamu itu, Karin!" protes Sakura. "Aku akan meminta tolong pada Ayah nanti. Lagipula aku tidak mau memikirkan hal itu selama aku di sini, aku ingin menikmati kehidupanku yang baru," sambung Sakura.
"Ha'i, ha'i. Aku tidak akan membahasnya lagi. Ah! Waktu istirahatku sudah habis, aku masih harus melakukan beberapa photoshoot," ujar Karin. Terdengar suara samar seseorang yang memanggil Karin di seberang telepon. "Nanti kutelepon lagi, ya, Cherry."
"Mm-hmm. Jaga kondisi kesehatanmu," sahut Sakura sebelum sambungan telepon terputus. Ia lalu turun dari bingkai jendela kayu di kamarnya yang tadi didudukinya. Dari jendela kamarnya, Sakura dapat melihat hamparan hutan pinus yang berada tak jauh dari vila milik keluarganya itu.
Keluarga Haruno memang memiliki sebuah vila kecil di desa Amegakure, desa kecil di dataran tinggi Konoha yang mempunyai intensitas hujan paling tinggi se-Jepang. Sakura dan kedua orangtuanya sering berlibur ke vila mereka di Amegakure saat ia masih kecil; sebelum neneknya membawa Sakura ke Paris. Di desa itu pula lah Sakura bertemu dengan seseorang yang menginspirasi permainan biolanya, sang Orpheus.
Tiba-tiba sebuah senyuman terukir di bibir manis Sakura saat ia mengenang kenangan manis itu. Ia lalu meraih softcase biola miliknya dan berjalan keluar dari kamarnya. "Ayah, Ibu, aku keluar sebentar, ya. Rasanya sayang sekali kalau tidak menikmati suasana sejuk di desa saat hujan sedang tidak turun," ucap Sakura pada kedua orangtuanya yang sedang bersantai di balkon yang menghadap ke halaman depan vila mereka.
"Ah, ya, kaubenar. Tapi sayang sekali di sini tidak ada pohon sakura," sahut Mebuki.
"Tidak apa-apa, Bu. Aku juga suka suasana pegunungan di sini," ucap Sakura. Ia mengecup pipi Kizashi dan Mebuki sekilas sebelum keluar dari vila. "Ittekimasu!"
"Itterashai!"
-oo-
Sakura berjalan di antara kumpulan pohon pinus yang berada tak jauh dari vila keluarganya sambil bersenandung ria. Hutan pinus itu memang tidak terlalu luas, tapi cukup menyesatkan untuk orang yang baru pertama kali menyusurinya. Tapi Sakura sudah menjelajahi setiap sudut hutan pinus itu bersama sang ayah saat ia masih kecil, dan ia rasa hutan pinus itu tidak banyak berubah. Saat ini Sakura sedang berjalan menuju suatu tempat yang akan bermuara ke sungai kecil yang mengalir di tengah hutan pinus tersebut.
"Ketemu!" seru Sakura senang saat ia telah sampai di pinggiran sungai. "Natsukashii na ... Sudah kuduga kalau tempat ini tidak banyak berubah," gumam Sakura dengan senyum sumringah yang menghiasi bibirnya. Ia melepas kedua sandalnya dan berjalan menyusuri sungai yang dangkal itu. Sakura lalu duduk di batu besar yang ada di tengah sungai dan membuka softcase biolanya. "Hmm, lagu apa yang sebaiknya kumainkan, ya?" gumam Sakura. Ia tampak berpikir sejenak, kemudian menjentikkan jarinya saat sebuah lagu terlintas di kepalanya.
-oo-
Lantunan indah dari permainan biola Sakura terdengar hingga ke penjuru hutan, tak terkecuali dari pendengaran seorang pemuda yang tengah beristirahat di balkon vila miliknya yang berdampingan dengan hutan pinus tersebut. 'Violin?' batinnya. Ia lalu bangkit dari duduknya dan mencari dari mana asal permainan biola itu. "Ini Violin Sonata no. 1 milik Mozart," gumamnya yang kini— tanpa ia sadari— telah berjalan menyusuri hutan pinus tersebut.
Keningnya sedikit berkerut saat menyadari ke arah mana kakinya melangkah. "Ini kan..." Meskipun ia tahu akan ke mana langkah kakinya membawanya, pemuda itu tetap berjalan, karena ia semakin mendengar jelas dari mana asal suara biola itu. Perlahan tapi pasti, ia mendekati sumber suara itu, dan entah kenapa degup jantungnya bertambah cepat seiring dengan langkahnya yang juga bertambah cepat. 'Cara bermainnya mirip dengan 'dia'. Tidak mungkin kalau...'
Pemuda itu mulai melihat ujung dari perjalanannya. Kali ini ia juga dapat mendengar suara air sungai yang mengalir, membuat harmoni yang begitu indah karena berbaur dengan permainan biola itu. Langkah kakinya terhenti saat ia telah berada di tepi sungai, dan kini kedua manik serupa onyx miliknya terpaku menatap sesosok gadis berambut pink yang sedang duduk di sebuah batu besar di tengah sungai sambil memainkan biola dengan mata tertutup. Senyum manis tersungging dari bibir tipis gadis itu.
'Dia ... kembali,' batin pemuda itu tidak percaya. Apakah ini yang namanya deja vu? Kalimat itulah yang terus berulang di kepala sang pemuda.
-oo-
Sakura tersenyum puas saat mengakhiri permainan biolanya. Ia lalu meletakkan kembali biola miliknya di dalam softcase, kemudian menyalakan pemutar musik di ponselnya. Segera setelah musik terputar, Sakura turun dari batu itu dan berjalan di tengah sungai. Awalnya hanya gerakan berputar pelan, tapi lama kelamaan Sakura mulai menggerakkan seluruh tubuhnya untuk menari mengikuti iringan musik yang keluar dari ponselnya.
Cipratan air akibat langkah kakinya memberi efek tersendiri untuk gerakan tarian Sakura. Ia terus menari sampai lagu yang terputar di ponselnya berganti dengan lagu yang lain. Sakura tak peduli jika bajunya sudah basah kuyup akibat perbuatannya sendiri. Ia hanya menikmati apa yang dilakukannya saat itu tanpa tahu bahwa seseorang melihat semua yang ia lakukan dari balik pepohonan dengan wajah dingin.
.
.
.
Kring ... kring ... kring
Sudah tiga kali benda berbetuk bulat yang ada di atas meja kecil di samping tempat tidur Sakura berbunyi nyaring untuk membangunkan sang majikan. Namun tak sekalipun Sakura berniat terlepas dari gulungan selimut hangatnya. Sudah seminggu berlalu sejak ia kembali dari liburannya bersama kedua orangtuanya di Amegakure, kini Sakura berada di kamar pribadinya yang berada di rumah utama keluarga Haruno di tengah kota Konoha.
Brakk!
"Sakura! Sampai kapan kau akan bergelung di bawah selimutmu? Kau akan terlambat menghadiri upacara pembukaan di sekolahmu kalau kau tidak juga bangkit dari tempat tidurmu, Sayang," suara seorang wanita terdengar di telinga Sakura setelah bunyi keras dari pintu yang terbuka.
"Sebentar lagi, Bu. Aku memang tidak berniat mengikuti upacara pembukaan di sekolah baruku," gumam Sakura dari bawah selimutnya.
Kening Mebuki berkedut mendengar ucapan Sakura, ia lalu menarik selimut putrinya dengan sekali tarikan yang menyebabkan Sakura terjatuh dari tempat tidurnya. "Cepat mandi dan bersiap-siap. Ayahmu sudah menunggu untuk sarapan!" perintah sang Ibu.
"Ibu! Aku kan hanya ingin menikmati saat-saat terakhirku di rumah," protes Sakura setelah bangkit dari posisi jatuhnya.
"Jangan manja seperti itu! Ayo cepat bersihkan dirimu, atau kau ingin Ibu yang memandikanmu?" Ya, beginilah sebenarnya hubungan Sakura dan ibunya. Mereka sering terlibat perdebatan kecil, namun hal itulah yang membuat hubungan mereka dekat layaknya hubungan seorang kakak perempuan dan adik perempuannya.
"Bu, pindahkan aku ke sekolah lain saja, ya? Aku tidak mau tinggal di asrama! Kalau Ibu dan Ayah memberitahuku terlebih dahulu kalau aku akan tinggal di sekolah asrama, aku pasti akan menolak!" protes Sakura lagi, kini diiringi dengan pandangan memelasnya. "Percuma saja aku kembali ke Jepang kalau ujung-ujungnya aku tidak tinggal bersama kalian," sambungnya pelan.
"Tidak ada sekolah seni yang lebih baik dari KAA (Konoha Art Academy), Sakura. Lagipula Ayah dan Ibu tidak mengetahui sebelumnya kalau siswa-siswi sekolah menengah atasnya diwajibkan untuk tinggal di asrama," jelas Mebuki yang sedang menyiapkan seragam sekolah milik Sakura. "Kalau kau tidak mau bersekolah di KAA, kau mau bersekolah di sekolah biasa? Bagaimana dengan cita-citamu menjadi seorang penari profesional? Kau ingin menyerah? Atau kau ingin Ayah dan Ibu mengembalikanmu ke Paris—"
"Iiieeee!" Sakura langsung histeris begitu mendengar kata 'Paris' dari ibunya. Ia segera menyambar handuknya dan masuk ke dalam kamar mandi. "Aku tidak akan kembali ke Paris! Tidak akan!" teriak Sakura dari dalam kamar mandi.
Mebuki hanya tertawa kecil melihat tingkah sang putri yang masih terlihat sedikit manja di matanya.
-oo-
Haruno Kizashi menatap geli wajah sang putri yang tengah memberengut kesal. "Hei, kalau kau terus berwajah seperti itu, tidak ada yang berani mendekatimu nanti," ucapnya sambil mengelus kepala Sakura.
"Biar saja," ucap Sakura kesal yang menepis tangan ayahnya pelan.
"Apa kau merasa kurang pas dengan seragam sekolah barumu, heh? Padahal kau sudah terlihat sangat cantik memakainya. Di Paris kau tidak memakai seragam, kan?" tanya Kizashi yang memperhatikan seragam sekolah yang dipakai Sakura. Putri tunggalnya itu tampak cantik dengan kemeja lengan pendek berwarna putih yang dipadukan dengan rompi garis berwarna merah tua. Sedangkan bawahannya, Sakura mengenakan rok kotak-kotak berwarna abu-abu tua.
"Ayah! Aku kesal bukan karena itu!" seru Sakura yang menatap tajam sang ayah.
"Ha'i, ha'i ... Ayah tahu kau tidak suka dengan sekolah barumu ini karena mengharuskanmu untuk tinggal di asrama," sahut Kizashi.
"Sudah tahu, tapi tetap saja menggodaku!"
Kizashi terkekeh kecil mendengar gerutuan Sakura. "Kau kan tetap bisa pulang ke rumah saat akhir pekan atau di akhir bulan," ucapnya penuh perhatian.
"Tetap saja menyebalkan!" gerutu Sakura. Ia memalingkan wajahnya dari sang ayah dan berjalan mendahului ayahnya sambil menghentakkan kaki.
-oo-
Langkah kaki Sakura bergema di koridor gedung utama sekolah menengah atas Konoha Art Academy. Saat ini ia sedang berjalan bersama seorang guru berambut hitam kebiruan yang dikuncir satu ke belakang. Dalam perjalanannya menyusuri gedung sekolah itu, Sakura bisa membayangkan betapa besarnya sekolah seni itu. Sejauh ini, ia sudah melewati departemen seni drama dan seni rupa.
"Anou, Anko-sensei, kalau boleh saya tahu, di mana gedung departemen seni tari?" tanya Sakura pada Anko di tengah perjalanan mereka. Ia melirik ke sebuah taman yang memisahkan antara gedung yang tadi ia lewati dengan gedung yang berada di depannya. Langkahnya terhenti saat emerald-nya menangkap bayangan seorang pemuda berambut emo yang baru saja memasuki sebuah ruangan kecil yang terletak di ujung taman.
"Departemen seni tari dan seni musik berada di gedung timur di hadapan kita, sedangkan di gedung barat yang tadi kita lewati adalah gedung belajar siswa-siswi departemen seni rupa dan seni drama," jelas Anko. Tak mendapat respon dari si penanya, Anko berbalik dan melihat Sakura yang terpaku memandangi ruang pembakaran yang ada di ujung taman. "Kau punya waktu untuk berkeliaran saat jam istirahat nanti, Haruno," ucap Anko lagi, menahan Sakura yang hendak melangkahkan kakinya menuju ke ruang pembakaran.
"E-eh. Ma-mafkan aku, sensei," ucap Sakura yang baru sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan. Ia lalu mengikuti langkah Anko yang mulai memasuki gedung timur. 'Tadi itu hanya halusinasiku saja atau bukan?' batin Sakura.
"Nah, kita sampai," ucap guru perempuan bernama Mitarashi Anko itu.
Sakura hampir saja menabrak punggung Anko kalau ia tidak mendengar perkataan gurunya itu. Ia memandang pintu kelas berwarna coklat tua di hadapannya. Di atas pintu itu terdapat papan kecil bertuliskan 'Kelas 2-A'. Ia menunggu panggilan dari Anko yang sudah masuk terlebih dahulu ke dalam kelas dan berbicara dengan seorang guru laki-laki berambut perak yang ia ketahui bernama lengkap Hatake Kakashi. Sebuah masker hitam menutupi sebagian wajah guru laki-laki yang akan menjadi wali kelasnya untuk satu tahun ke depan itu.
"Seperti yang kukatakan tadi, kita akan kedatangan murid pindahan dari Paris," ucap Kakashi yang membuat Sakura cukup kesal.
'Untuk apa dia menyebut-nyebut Paris!' gerutu Sakura dalam hati. Kata 'Paris' sepertinya sudah menjadi tabu untuk didengarkan oleh Sakura.
"... Dan dia sudah ada di sini. Ayo masuk, murid pindahan," sahut Kakashi lagi.
Seketika kening Sakura berkedut mendengar perkataan sang guru. 'Apa dia tidak bisa memanggilku dengan lebih normal?! Dasar guru aneh!' caci Sakura— dalam hati tentunya. Ia lalu melangkah masuk dengan memaksakan sebuah senyuman manis di bibirnya. Terdengar gumaman dari siswa-siswi yang ada di dalam kelas saat Sakura sudah berada di samping meja guru.
"Kalau begitu, aku tinggal dulu, Haruno. Semoga kau betah," ucap Anko pada Sakura sebelum ia meninggalkan kelas itu.
"Baiklah, silahkan perkenalkan dirimu pada teman-teman barumu, nona Haruno," perintah Kakashi.
"Hajimemashite, Haruno Sakura desu. Aku murid pindahan dari ... salah satu sekolah musik di Paris, dan instrumen utamaku adalah violin," ucap Sakura. Ia memelankan suaranya saat menyebut dari mana asalnya. "Yoroshiku onegaishimasu, minna-san!" sambung Sakura sambil membungkuk sekilas
"Itu saja?"
Sakura mengangguk pelan. "Yah, sepertinya Haruno tidak ingin berlama-lama berdiri di depan, jadi kalau kalian ingin mengenalnya lebih lanjut silahkan bertanya padanya secara pribadi saat jam istirahat nanti. Nah, Haruno, kau bisa duduk di belakang Hyuuga Hinata," jelas Kakashi, "Hyuuga, angkat tanganmu," perintahnya kemudian.
Sakura lalu menatap seorang gadis manis berambut biru tua panjang yang mengangkat tangannya. Ia lalu berjalan ke tempat duduknya yang berada di belakang gadis bernama Hyuuga Hinata tersebut. "Hai, Hyuuga-san. Aku Haruno Sakura, yoroshiku ne," ucap Sakura pada Hinata sambil menjulurkan tangannya.
"H-hai, Haruno-san. Yoroshiku mo," balas Hinata dengan gugup.
'Manis sekali,' batin Sakura. "Panggil Sakura saja," ujarnya sambil tersenyum kecil.
"Ka-kalau begitu, panggil aku Hinata saja, Sakura-san," ucap Hinata.
"Baiklah, Hinata-chan."
Sepertinya hari pertama Sakura di sekolah barunya tidak terlalu buruk. Setidaknya begitulah kira-kira apa yang dipikirkan oleh gadis bersurai pink itu, setelah bertemu dengan Hinata.
-oo-
"Jadi, kau adalah teman sekamarku, Hinata-chan?" tanya Sakura antusias. Sekarang Hinata sedang menemaninya berkeliling gedung KAA atas permintaannya.
Hinata mengangguk pelan. "Aku memang sudah mendengar bahwa akan ada siswi pindahan dari Paris dan akan tinggal satu kamar denganku," jawab Hinata. "Lagipula barang-barangmu sudah sampai tadi malam, Sakura-san," sambungnya.
Sakura melompat girang mendengar perkataan Hinata. "Ah ... beruntung sekali aku bertemu denganmu Hinata-chan. Kita teman satu kelas dan juga teman satu kamar!" seru Sakura senang. Hinata hanya menunduk malu karena Sakura yang terus saja melompat kecil kegirangan.
"Oh, ya! Omong-omong, kau memainkan instrumen apa, Hinata-chan?" tanya Sakura yang sudah berhasil menguasai dirinya.
"Aku bermain cello," sahut Hinata.
"Wah, jadi instrumen utama Hinata-chan itu cello?" ucap Sakura dengan antusias. Hinata yang berjalan di sampingnya hanya mengangguk pelan. "Sugoooii!" kagum Sakura.
Hinata hanya tersenyum malu mendengar decak kagum Sakura. "Kau juga, Sakura-san. Aku ingin mendengar permainan biolamu," ujar Hinata.
"Tenang saja. Karena kita sekamar, aku akan membuatmu mendengar permainan biolaku sebanyak yang kaumau," ucap Sakura, "ah, jangan memanggilku dengan sufiks –san seperti itu Hinata-chan, panggil Sakura saja," lanjutnya.
"Ba-bagaimana kalau aku memanggilmu dengan Sakura-chan?" tanya Hinata malu. "A-aku tidak terbiasa memanggil seseorang tanpa sufiks di belakang namanya," sambung Hinata lagi.
"Itu lebih baik! Dengan begitu kan kita tampak akrab," sahut Sakura senang. Saat ia telah berada di koridor terbuka yang menghubungkan gedung timur dan gedung barat, Sakura kembali melihat ruangan di ujung taman. "Ah, Hinata-chan, itu ruangan apa?" tanyanya sambil menunjuk ruangan di ujung taman yang mempunyai cerobong asap di atasnya.
"Itu ruang pembakaran," jawab Hinata.
"Ruang pembakaran mayat?" tanya Sakura polos.
Hinata tertawa kecil karena pertanyaan polos Sakura itu, ia kemudian menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan. Itu ruang pembakaran untuk membakar tembikar yang dipakai oleh siswa-siswi seni rupa," jelas Hinata.
"Oh..." gumam Sakura. 'Seni rupa, ya?' batin Sakura. Tiba-tiba Sakura penasaran akan satu hal, "ah, ya! Di mana kita bisa melihat data siswa di setiap departemen?" tanya Sakura untuk yang kesekian kalinya.
"Kau bisa melihatnya di ruang OSIS. Kenapa, Sakura-chan?"
"Apa aku boleh melihatnya?"
"Boleh saja, kebetulan aku sekretaris OSIS tahun ini," ucap Hinata.
"Eh, benarkah? Aku benar-benar beruntung bertemu denganmu, Hinata-chan," seru Sakura lagi.
Hinata hanya tersenyum maklum melihat sifat atraktif Sakura. Ia lalu mengajak Sakura ke ruang OSIS untuk melihat data siswa-siswi yang bersekolah di KAA.
"Kau ingin melihat data siswa dari departemen apa, Sakura-chan?" tanya Hinata saat mereka telah sampai di ruang OSIS.
"Departemen musik," jawab Sakura. Ia lalu menerima sebuah map berwarna biru dari Hinata. Perlahan tapi pasti, kedua emerald-nya menelusuri setiap nama siswa-siswi departemen seni musik KAA yang seangkatan dengannya. "Tidak ada," gumamnya.
"Eh, kenapa, Sakura-chan?" tanya Hinata yang mendengar gumaman Sakura.
"Ah, tidak. Aku hanya tidak menemukan nama seseorang yang mungkin bersekolah di sini juga," ucap Sakura, "eh, Namikaze Naruto?" Sakura tanpa sadar menyebut nama seseorang yang familiar.
"Ada apa dengan Naruto-kun?" Hinata bertanya dengan wajah penasaran.
"Aku tidak menyangka kalau dia ada di departemen yang sama denganku," ujar Sakura.
"Kau ... mengenal Naruto-kun?" tanya Hinata hati-hati.
"Ah, tidak. Aku hanya mengenal seseorang yang dekat dengannya," jawab Sakura. Entah hanya perasaannya saja atau tidak, ia seperti mendengar Hinata menghela napas saat mendengar perkataannya.
"Jadi, siapa orang yang sedang kaucari itu, Sakura-chan?"
Sakura tampak berpikir dan menimbang, apakah tepat jika ia menanyakan tentang keberadaan orang itu pada Hinata? "Etto ... apa kau mengenal seorang siswa bernama ... U-Uchiha Sasuke?" tanya Sakura hati-hati.
"Uchiha Sasuke? Aku tidak tahu kalau ada seorang siswa departemen musik bernama Uchiha Sasuke," jawab Hinata.
"Hmm, begitu. Di sini juga tidak ada namanya," gumam Sakura sambil memandang map biru yang masih dipegangnya. "Atau mungkin dia berada di departemen lain? Tapi rasanya tidak mungkin," gumam Sakura lagi.
"Kau yakin dia bersekolah di sini?"
"Tidak," sahut Sakura polos yang langsung membuat Hinata bingung. "Tapi aku melihatnya tadi pagi memasuki ruang pembakaran yang ada di ujung taman yang tadi kita lewati, dan dia memakai seragam sekolah kita," sambung Sakura yakin.
"Kalau begitu, mungkin dia siswa dari departemen seni rupa," tebak Hinata.
"Hee?"
Hinata mengangguk pelan. Ia lalu mengambil map putih di rak penyimpanan berkas data siswa-siswi KAA dan membukanya. "Ruang pembakaran itu tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang. Hanya guru, siswa-siswi dari departemen seni rupa dan siswa dari departemen lain yang sudah mendapat ijin saja yang boleh masuk ke sana," jelas Hinata. "Coba kau cari di sini," ucap Hinata sambil menyodorkan map putih itu pada Sakura.
Sakura langsung mengambil map putih yang diberikan Hinata dan kembali menelusuri nama-nama yang tertulis di sana. "Uchiha ... Uchiha ... Uchiha," gumam Sakura. "Ketemu!" seru Sakura senang karena mendapati nama orang yang ia cari-cari selama ini ada pada data siswa KAA tahun ini.
Hinata lalu ikut melihat apa yang ditemukan Sakura. "Ah, dia memang siswa departemen seni rupa, tepatnya dia mendalami seni membuat tembikar," ujar Hinata yang membaca keterangan di dalam map itu.
"Eh? Tembikar?"
Hinata mengangguk. "Mm-hmm, itu sebabnya mungkin kenapa Sakura-chan melihatnya memasuki ruang pembakaran," sahut Hinata.
"Tidak mungkin. Setahuku dia adalah seorang violinist, makanya kupikir dia berada di departemen musik," ucap Sakura bingung.
"Hmm, dia temanmu?" tanya Hinata.
"Eh?" Sakura bingung menjawab pertanyaan Hinata yang satu itu. "Mungkin ... teman lama?" ujar Sakura ragu. "Hmm ... apa kau mau menemaniku mengunjungi departemen seni rupa, Hinata-chan? Aku ... hanya ingin memastikan apakah Uchiha Sasuke yang ada di sekolah ini sama dengan Uchiha Sasuke yang kukenal," ucapnya kemudian. Hinata tampak berpikir. "Ah, tapi kalau kau tak bisa, tidak apa-apa. Aku bisa pergi sendiri," sergah Sakura cepat.
"Bu-bukan seperti itu. Sebenarnya, hubungan antara siswa di departemen seni rupa dan departemen musik sedikit tidak baik," jelas Hinata.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Sakura heran.
Hinata menggeleng pelan. "Aku juga tidak tahu sejak kapan itu terjadi, tapi sudah lama siswa departemen musik tidak bergaul dengan siswa dari departemen seni rupa. Tapi kalau Sakura-chan memang ingin bertemu dengan teman lamamu itu, kurasa tidak masalah. Kita hanya perlu menutupi simbol departemen musik di seragam kita," sambung Hinata sambil melirik lambang departemen musik KAA yang ada di seragam Sakura.
"Kalau begitu biar aku saja yang ke sana," ucap Sakura.
"Tidak apa-apa. Aku akan menemanimu, Sakura-chan," tukas Hinata lembut. "Lagipula kau bisa tersesat kalau pergi sendirian," sambungnya.
"Kita tidak akan dibunuh jika ketahuan kalau kita siswi dari departemen musik, kan?" tanya Sakura dengan wajah ngeri.
Hinata terkekeh pelan mendengar pertanyaan polos Sakura— lagi. "Tidak. Mereka hanya memberikan tatapan mengerikan yang mungkin akan membuatmu ingin keluar dari gedung barat secepatnya," jawab Hinata.
Sakura menghela napas lega. "Kalau cuma begitu saja, aku tidak akan takut," tukas Sakura yakin. Ia dan Hinata lalu bergegas menuju gedung barat di mana departemen seni rupa berada, sebelum jam istirahat berakhir.
-oo-
"Kenapa kita berjalan memutar, Hinata-chan?" bisik Sakura pada Hinata yang berjalan di sampingnya. Mereka sudah berada di departemen seni rupa dengan masing-masing dari mereka mendekap sebuah buku di depan dada untuk menyembunyikan lambang departemen musik di seragam mereka.
"Agar mereka mengira kalau kita ini siswa departemen seni drama," jawab Hinata yang ikut berbisik. Ia melirik kanan kiri dengan cemas, takut-takut kalau ada siswa seni rupa yang menyadari mereka.
"Di mana ruang belajar siswa tahun kedua mereka, Hinata-chan?"
"Seingatku ada di ujung koridor ini," balas Hinata.
Mereka terus saja berjalan dengan waspada. Beberapa langkah lagi mereka akan sampai di kelas yang berada di ujung koridor saat suara seseorang membuat langkah mereka terhenti secara tiba-tiba.
"Hinata?" Panggil suara datar yang sangat dikenal Hinata.
Hinata lalu berbalik dan tersenyum kikuk ke arah pemuda tampan berambut hitam panjang yang juga memiliki iris serupa amethyst seperti milikinya. "Ne-Neji-nii," ucapnya gugup.
"Kenapa kaubisa ada di sini?" tanya suara itu lagi.
Hinata kembali memandang sosok kakak sepupunya yang bernama Hyuuga Neji itu saat menyadari ada orang lain yang berada di samping kakaknya itu. "A-aku sedang menemani—"
"Haruno-san?"
Sakura yang sedari tadi hanya bisa berdiri terpaku sejak Neji memanggil nama Hinata, segera berbalik saat mendengar sebuah suara yang sepertinya familiar di telinganya. "Re-Rei-san?" ucap Sakura tidak percaya.
"Ternyata memang kau! Kita bertemu lagu, Haruno-san," ujar Gaara sambil tersenyum kecil pada Sakura yang masih terpaku.
Hinata dan Neji yang melihat pemandangan itu hanya bisa melempar pandangan bertanya. Sakura sendiri hanya bisa tersenyum kikuk pada Gaara yang tidak disangka-sangka ternyata bersekolah di sekolah yang sama dengannya.
'Bagaimana mungkin kebetulan seperti ini bisa terjadi?' jerit Sakura dalam hati.
-TBC-
Kamus Author :
Sensei = Digunakan untuk menyebut atau memanggil guru, dokter, politikus, atau tokoh yang mempunyai wewenang
Je suis désolé = Maafkan aku
Hontou, ni? = Benarkah?
Ha'i, ha'i, wakarimashita! = Baiklah, baiklah, aku mengerti
Avec plaisir, monsieur = Dengan senang hati, tuan
Gomen (bentuk informal dari gomenasai)= Maaf
Grand-mère = Nenek
Ittekimasu, minna = Aku pergi, teman-teman!
Itterashai! = Selamat jalan!
Natsukashii na = Rindu sekali
Hajimemashite, Haruno Sakura desu = Perkenalkan, aku Haruno Sakura
Yoroshiku onegaishimasu, minna-san = Mohon bantuannya, teman-teman
Sugoi! = Hebat!
Authors note :
Finally, siap juga chapter dua dari fict ini~~ *ngelap keringet*
Semoga bisa memuaskan para reader...
Dan makasih buat semua reader yg udah bersedia baca fict ini baik yg siders apalagi yang sudah bersedia mereview *kecup satu2*
Dan utk chapter sebelumnya, aku emang sengaja menyiratkan ttg masa lalu Sakura ataupun kenangan Sakura dengan Sasuke...
Syukurlah kalo reader pada penasaran, hahaha #ditimpuk
Supaya penasaran kalian terjawab, ikuti terus jalan cerita fict ini ya~~~ *kedip kedip mata*
Akhir kata,
mind to review or give me some advice/critism for this fict?
Sign,
C.C
29122013
