+= If I Were a Boy =+
Naruto © Masashi Kishimoto
If I Were a Boy © Arale L. Ryuuzaki
Pair: SasukexFemNaruto
Genre: Hurt/Comfort/Romance
Rated: Kok ga ada rated T+ sih?
Warning: TYPO, OOC, AU, dan kekurangan lainnya…
.
Part 2:
Identity
.
"Karena aku benci dilahirkan menjadi seorang perempuan," aku melangkah keluar kelas dan meninggalkan Konohamaru yang menatapku miris.
0o0o0o0o0o0o0
Brak!
Kubanting pintu kamar apartemenku dan langsung menghempaskan diri keatas kasur di sudut kamar. Kenapa? Padahal aku sudah berusaha mencari kampus yang letaknya jauh dari kotaku. Tapi, kenapa aku tetap bertemu dengan orang-orang yang mengenal masa laluku. Dan kenapa harus Konohamaru? Kenapa harus anak yang sangat tahu masa laluku yang kelam dan sangat ingin ku lupakan.
~Flashback On~
Dia, pemilik mata kelam yang menyedot perhatian semua orang yang ada di sekelilingnya. Dia, pemilik wajah rupawan dengan kulit pucat bak porselen yang rapuh. Dia, pemilik senyum ramah yang menghangatkan hati setiap wanita. Dia, orang yang sanggup membuatku, Namikaze Naruto, gadis kelas 3 SMA Suna jatuh hati.
Hari itu, aku bertekad untuk menyatakan perasaanku padanya.
Sepulang sekolah biasanya aku bermain sepakbola dengan anak-anak klub di lapangan bola milik sekolah. Sore itu saat kegiatan klub berakhir, aku mengatakan tekad ku pada juniorku, Sarutobi Konohamaru.
"Yosh, Konohamaru. Aku akan menyatakan perasaanku padanya hari ini," aku mengepalkan tangan dan berteriak tanpa keraguan.
"Ne… Naru-chan senpai, kau yakin?" tanya Konohamaru dengan wajah cemas.
"Tentu saja!" jawabku sambil berkacak pinggang.
"Hm... Kalau begitu, semoga berhasil," Konohamaru tersenyum dan menepuk punggungku.
"Un, arigatou Konohamaru," aku mengacak-acak kepala junior dua tahun dibawahku itu. "Ah, itu dia," teriakku saat melihat sosok pemuda yang kusukai melintas, "Aku kesana dulu. Doakan aku yaa…" dan berlari meninggalkan Konohamaru.
Aku berlari menghampiri pemuda yang setahun belakangan selalu mengisi hatiku dengan senyumnya, keramahannya, dan paras tampannya.
"Hai, Sai. Kau baru pulang?" tanyaku sekedar basa-basi pada pemuda itu dan menyamakan langkah disampingnya. Jantungku berdetak cepat, suhu tubuhku meningkat, dan wajahku memanas.
"Ah, kau ternyata, Naruto. Ya, seperti yang kau lihat. Walau aku sudah tak lagi menjabat ketua OSIS, tapi mereka tetap merengek minta bantuan padaku," senyum ramahnya masih menghiasi wajah tampannya walau dalam kondisi lelah, ituah yang kusukai darinya.
"Wah, repot juga ya jadi orang yang bisa diandalkan," kataku sambil menyilangkan tangan diatas kepala.
"Kau, sendiri? Pasti baru selesai ikut latihan dengan anak-anak klub sepak bola."
"Ehehe," aku menunjukkan cengiran khasku padanya.
"Kenapa kau tidak ikut bergabung secara resmi saja?"
"Kalau memang peraturan mengizinkan, sudah dari kelas 1 aku bergabung dalam klub," keluhku.
Dia hanya tertawa.
Kami pun berjalan dalam diam.
"Ne… Sai. Ada yang ingin ku katakan," kataku memecah keheningan.
"Ya?"
Aku menghentikan langkahku dan memutar badanku agar berhadapan langsung dengannya.
"Aku menyukaimu. Apa kau mau jadi pacarku?"
Sai terkejut dengan pernyataanku yang tiba-tiba. Tiba-tiba raut wajahnya berubah drastis.
"Maaf. Aku tak pernah menganggapmu sebagai perempuan. Lagipula kau tak manis sama sekali."
"Eh?" aku shok dengan jawaban yang keluar dari mulut Sai.
"Yah, seharusnya kau berkaca. Gadis dekil sepertimu tak pantas untuk menjadi kekasihku. Dan maaf saja, aku tak mau mempermalukan diriku dengan berpacaran dengan gadis sepertimu."
Aku hanya bisa menunduk mendengar kalimat yang dilontarkannya.
"Kau sering ikut latihan dengan klub Sepakbola sekolah dengan mengenakan seragam sekolah lengkap, dan terkadang sepulang kegiatan klub kau tidak mengganti bajumu dan tetap pulang mengenakan seragam yang sudah basah oleh keringat dan dipenuhi lumpur. Aku tak pernah bertemu dengan gadis sekotor kau selama aku hidup."
~Flashback Off~
Aku terbangun dengan kondisi peluh membasahi tubuh, kejadian itu kembali membayangiku. Kejadian yang membuatku memutuskan suatu perubahan terbesar dalam hidupku.
Dari kecil aku memang dibesarkan di lingkungan dominan laki-laki. Ayahku, pemilik klub sepakbola yang telah menghasilkan para pemain bermutu yang diantaranya terkenal di liga pro. Kakakku Kyuubi, ketua Genk berandalan terbesar di kotaku dan juga disegani di kota-kota sekitarku. Jika kau melihat logo 'Jinchuuriki' pada salah satu kendaraan yang melintas di daerahmu, bisa dipastikan kalau pemiliknya merupakan salah satu anak buah kakakku.
Ibuku? Aku tak pernah tahu ibuku orang yang seperti apa. Bagaimana caranya berbicara, bagaimana caranya memanggilku, bagaimana caranya berjalan, bagaimana wajahnya ketika tersenyum. Aku tak pernah melihat wajahnya langsung. Kenapa? Karena, beliau sedang dalam perawatan di Rumah Sakit Jiwa. Ya, ibuku mengalami gangguan jiwa. Apa penyebabnya? Aku!
TOK-TOK!
Aku tertegun mendengar suara ketukan dari pintu apartemenku. Siapa yang malam-malam begini datang berkunjung?
"Ya, sebentar," ujarku melangkah menuju pintu masuk. Saat kuintip siapa yang berada di balik pintu, aku mendapati Konohamaru yang berdiri mematung dengan wajah kalut.
"Mau apa?" tanyaku ketus dari balik pintu.
Dia terlihat salah tingkah, "Ano, senpai. Maaf mengganggu malam-malam begini. Aku mau minta tolong soal perlengkapan untuk ospek besok. Aku kehilangan catatanku. Aku lupa barang-barang apa saja yang harus dibawa besok. Dan senior yang ku kenal cuma Naruto senpai. Jadi…"
Akupun membukakan pintu, "Masuklah."
"Arigatou, maaf menganggu," Konohamaru melangkah masuk kedalam ruanganku, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti.
"Kenapa?"
"Ano, senpai. Bagaimanapun aku kan laki-laki, sedangkan kau perempuan. Kalau berkunjung malam-malam begini…"
Aku tertawa.
"Memangnya kau mau menyerangku?" kikikku tertahan. Air mata keluar dari sudut mataku karena menahan geli.
"Bu-bukan begitu… Ta-tapi, aku hanya memikirkan pendapat para tetanggamu."
Aku sedikit menelengkan kepalaku.
"Sudahlah, disini individualismenya tinggi, jadi mereka tak akan peduli dengan apa yang tetangga mereka lakukan," aku melangkah meninggalkan Konohamaru yang akhirnya melangkah masuk juga.
"Ini," aku menyerahkan sebuah buku panduan berwarna orange yang sudah lusuh. "Ini buku panduan milikku 2 tahun lalu, saat masih mahasiswa baru. Isinya tak banyak yang berubah dari buku panduan tahun ini. Kau boleh memakainya dulu.
"Arigatou, Senpai," cengir Konohamaru.
Pemuda berambut jigrak itupun segera mengeluarkan alat tulis dari tas pinggang yang dibawanya dan mulai menyalin isi buku orange itu.
"Sudah, bawa saja. Lagipula aku sudah tak membutuhkannya," Ujarku sambil melangkah menuju dapur.
"Baiklah kalau begitu," Konohamaru menyimpan kembali alat tulisnya.
"Kau mau minum apa?" tawarku.
"Tidak usah repot-repot, Senpai."
"Tidak apa-apa. Sekalian permintaan maafku soal kejadian tadi siang," kataku sambil memasang tampang menyesal.
Konohamaru tersenyum simpul, "Kalau begitu, kopi."
0o0o0o0o0o0o0
"Ohayo, Naruto-senpai," terik beberapa mahasiswi baru saat aku lewat sambil menguap.
"Pagi," jawabku sambil terus melangkah menuju kelas kuliah pagiku.
Kemarin malam aku kurang tidur karena terlalu lama ngobrol dengan Konohamaru. Kami kembali mengenang masa-masa SMA yang tak terasa sudah dua tahun berlalu. Mulai dari para guru yang sepertinya kebanyakan tidak berubah dari sejak jaman SMAku, sampai klub sepakbola tempatku biasa menghabiskn waktu sepulang sekolah.
Tapi, yang membuatku kepikiran adalah sebuah pertanyaan yang dilemparkan Konohamaru sesaat sebelum dia meninggalkan apartemenku.
"Kenapa kau memotong rambut panjangmu? Padahal rambutmu begitu indah."
Yah, apa boleh buat. Demi menyembunyikan identitasku, aku memotong rambut panjangku yang sudah ku pelihara bertahun-tahun. Lagipula ayah dan kakak memang sudah lama mendesakku memotong rambut panjangku.
"Anak lelaki tak cocok berambut panjang. Lagipula, bisa mengganggu saat kau bermain bola," kata ayahku saat melihat rambut panjang sepunggungku.
"Kau tak cocok berambut panjang Naruto, mengganggu pemandangan. Lebih baik babat habis saja rambutmu itu," kata Kyuubi-nii saat mengantarkanku berangkat sekolah.
Tiba-tiba seseorang mengacak-acak rambutku. Aku segera menoleh, melihat siapa yang berani berbuat seperti itu padaku.
"Sasuke," ucapku tertahan saat mengetahui siapa yang menyentuhku.
"Hn," seperti biasa, pangeran stoic itu hanya mengeluarkan suara seperti dengusan.
"Ku kira siapa," aku segera menarik turun tangannya dari puncak kepalaku.
"Kau kenapa, Dobe? Tidak biasanya melamun pagi-pagi begini," tanyanya penasaran.
"Tidak apa-apa," aku berbohong.
"Kau tidak cukup pintar untuk membohongiku, Naruto. Katakan ada apa?" dia memandangku penuh curiga.
Aku hanya bisa menunjukkan cengiran khasku padanya agar dia tidak terlalu cemas. "Tidak ada apa-apa kok, Teme. Aku hanya sedikit mengantuk."
Sasuke kembali mengacak-acak kepalaku. "Kalau ada apa-apa, ceritalah padaku. Kita kan sahabat."
Aku hanya bisa tersenyum.
"Ini," Sasuke memberikan sebuah bungkusan ke tanganku.
"Apa ini?"
"Makanan dari nenekku."
Ah, nenek. Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku mengunjungi nenekku. Kalau tidak salah, saat aku baru lulus SMA. Aku mengunjunginya sambil membawakan piagam kelulusanku padanya. Apa kabarnya ya? Apakah dia sehat-sehat saja? Apa katanya kira-kira saat melihat penampilanku yang sekarang? Padahal dia sangat menyukai rambut panjangku. Setiap aku berkunjung ke rumahnya, pasti dia membantu mengikat rambut panjangku.
TAK!
"Ittai," ringisku sambil memegang jidatku yang sekarang terasa sakit.
"Lagi-lagi kau melamun."
"Teme, jelek! Sakit tahu!" berangku.
"Apa sih yang kau lamunkan?"
"Tidak. Aku hanya teringat nenekku. Kira-kira, bagaimana keadaannya ya?" kataku menerawang.
"Kalau begitu kau kunjungi saja. Lagipula minggu depan Golden Week."
"Ah, benar juga," mataku membulat. "Baiklah, aku akan pergi."
"Aku boleh ikut, kan?" katanya tiba-tiba.
"Eh?"
"Lagipula aku tak punya rencana apa-apa saat golden week."
"Ta-tapi, Sasuke," aku mulai gelagapan. "Rumah Nenek-ku jauh," kataku agar Sasuke mengurungkan niatnya. Kalau pergi dengan Sasuke, bisa-bisa identitasku ketahuan.
"Dimana?"
"Pulau selatan."
"Oh, tenang saja. Aku akan tanggung biaya perjalananku sendiri. Kau tak perlu takut," jawabnya yakin.
"Ta-tapi, kau butuh passport, kan?" kataku terbata.
"Kau kira, kau sedang berbicara dengan siapa, Dobe," katanya sambil melipat tangan di depan dada.
Uhk, sial. Aku lupa kalau dia adalah anak dari presidir sebuah perusahaan terkemuka di kota ini. Tidak heran kalau dia biasa berlibur ke dalam dan luar negeri.
"Eng—" aku mulai berfikir keras. "Ah, sepertinya keberangkatanku perlu difikirkan lagi. Soalnya keuanganku bulan ini sedang sulit," elakku.
"Kalau begitu, kau pakai uangku saja dulu. Kau bisa menggantinya kapan-kapan,"
"Ti-tidak usah. Aku tak mau merepotkanmu,"
"Kau kenapa sih?"
"Sudahlah, ayo cepat kita masuk kelas. Iruka sensei sudah datang," kataku mengalihkan pembicaraan sambil mendorong Sasuke memasuki kelas.
0o0o0o0o0o0o0
3 Hari menjelang Golden Week.
Dua hari lalu aku sudah hampir menghabiskan uang tabunganku untuk memesan tiket penerbangan menuju Pulau selatan. Hari ini, aku berecana membeli beberapa perlengakapan untuk keberangkatan. Termasuk beberapa buah wig. Untuk apa? Tentu saja untuk dipakai! Karena, di passportku tertera bahwa seorang Namikaze Naruto itu ber-gender Perempuan, bukan Laki-laki dan Nenek tidak mengetahui bahwa aku telah membabat habis rambut panjangku.
"Untuk apa wig itu?"
Aku dikagetkan suara seseorang saat sedang memilih beberapa buah wig orange panjang di sebuah toko.
"Sasuke! Sedang apa kau disini?" Aku terkaget saat menyadari Sasuke sudah berdiri di belakangku.
"Untuk apa wig itu?" tanyanya lagi.
"Ti-tidak ada," jawabku sambil mengalihkan pandangan.
"Lalu? Untuk apa kau membeli wig?"
"Si-siapa bilang aku mau beli!" aku mulai panik dan meletakkan asal wig-wig ditanganku.
"Hn. Dobe, aku pernah bilang, kan. Jangan berbohong padaku," Sasuke melemparkan tatapan tajam padaku.
"Co-cosplay! Iya, untuk cosplay!" jawabku asal.
Sasuke menatapku dengan tatapan menyelidik. "Aku baru tahu kalau kau cosplayer yang hobi crossdresser."
"Ahahaha… Ini kan hobi yang memalukan. Tak mungkin aku menceritakannya padamu," tawaku hambar.
"Hn," jawabnya pendek.
"Ah, sebaiknya aku pulang dulu. Kyuubi-nii berencana mampir ke rumah hari ini," aku berbohong.
"Kalau begitu, kuantar kau pulang," tawarnya.
"Ti-tidak usah. Aku bisa naik kereta," aku mulai melangkah keluar dari toko.
Tapi, tiba-tiba lenganku di genggam.
"Dobe, kau aneh sekali akhir-akhir ini. Ada apa sebenarnya?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Ti-tidak ada apa-apa kok. Sudah dulu ya, Teme. Ja," aku segera berlari meninggalkan Sasuke yang sepertinya ikut berlari mengejarku.
"Naruto! Tunggu!" panggilannya tak kuacuhkan.
Aku segera berlari dan bersembunyi di dalam toilet umum yang kutemukan tak jauh dari toko tempatku bertemu Sasuke tadi. Sial, kenapa aku harus bertemu dengannya? Argh! Aku jadi batal membeli wig. Tak mungkin aku menampakkan batang hidungku pada Nenek dengan kondisi kepala seperti ini. Aku mengacak-acak kepala orangeku sambil berjongkok di sudut kloset bilik toilet umum.
15 menit sudah aku jongkok di atas kloset bilik toilet umum. Kurasa seharusnya Sasuke sudah menyerah mencariku. Perlahan kukeluarkan kepala orangeku dari toilet dan mengedarkan pandangan ke sekitarku. Oke, aman. Akupun segera melangkahkan kakiku kembali ke toko tadi sambil tetap waspada.
"Kak, tolong wig orange panjang tadi, ya," ucapku pada pelayan toko yang kini tersenyum ramah dan mengambilkan beberapa buah wig dan menunjukkannya padaku.
"Yang mana?" tanyanya.
Aku segera mengambil model lurus panjang sepinggang dengan poni. Bahannya lembut, sepertinya dibuat dari bahan rambut asli. Aku segera membayar wig itu yang ternyata harganya lumayan mahal dan segera ngeloyor keluar toko sambil berlari ke arah stasiun kereta tanpa menyadari sepasang mata onyx memandangku sampai sosokku menghilang dibalik peron.
~TBC~
0o0o0o0o0o0o0
.
Fufufufufufufufufu… Akhirnya apdet juga…
Gomen, kelamaan…
Soalnya masa-masa Arale sibuk kuliah sih…
Baru selese kemping acara KBM. Trus ada MID juga, trus ngurus Magang…
Doh! Ribet…
Semoga suka… en yang pastinya masih bakalan berlanjut…
.
Replay review:
.
Yuuchan no Haru999, Sukisuju: sesuai permintaan… UPDATE!
NaMIKAze Nara, I-chan-chan, naru3: Fufufufu, jarang yak SasuFemNaru? Arale bikin fict ini, karena gak rela masangin si "Teme jelek" selain sama si "Dobe ribut". Review terus yaaa…
Yanz Namiyukimi-chan: Warningnya Sho-ai. Soalnya, kan si Naru blom ketahuan gender aslinya *ngelak. Padahal emang gegara salah ketik* :P Jangan lupa review lagii… Makasih.
Fujoshi Nyasar: Kyaaaa~ *ikutan histeris* Fufufufu makasih reviewnya Fujo. Tunggulah detik-detik terbongkarnya identitas Naru-chan.
Namikaze Sakura: Penjelasannya pelan-pelan ya, Sakura-chan. Ehe…
mechakucha no aoi neko: Konohamaru itu item penting di cerita ini. Sebagai orang dari jaman masa lalu Naru-chan, makanya kita siksa-siksa dikit. *SM MODE ON* Arale berpegang pada data-data dari majalah Anim***ter soalnya… didata mereka disebutin kalo rambut Neji (dijaman sebelum Shippuden) warnanya Indigo. Tapi, entah sejak kapan jadi cokelat (nyadar pas liat gambar Neji dengan jaket Chunninnya). Oke, tar Arale ralat! Thanks Reviewnya~
Namikaze Shiruna Kuruta: Fufufufu, udah tau kan…
Cute-Tamacchan: Fufufufu, makasih, Tama. Bun jadi geer neh *idung membesar*. TApi, lemahnya bun adalah suka kehilangan ide cerita ditengah-tengah *kabur*
NaMIAkaze-kawaii: Makasih~ Fufufufu, sebenarnya mau HIATUS sih… Tapi, kok rasanya jadi kaya punya HUTANG yak? Jadi, hiatusnya ditunda sampai 2 Fict di tamatin dulu. Tapi, mohon maklum kalau Updatenya lama… Soalnya Arale juga lagi masa-masa sibuk kuliah :P
kanata.: Kanata anakku… akhirnya kamu gabung juga…
.
Reviewnya ditunggu~
m(_ _)m
