A/N: Hime senang sekali banyak yang memberi tanggapan positif pada fic abal ini. Semua dukungan itu tanpa sadar membuat tangan Hime tergerak untuk mengetik… dan terimakasih juga untuk Ura dan Hikaru, the other part of my mind, yang meneror Hime untuk update kilat (mungkin ga sekilat itu)
Kebanyakan pertanyaan tanya siapa ayahnya Anzen dan kayaknya belum ada yang benar. Ura bilang belum ada yang benar nebak itu pasti karena Hime dan fic ini yang gaje, aneh setengah mati…
Dan syukurlah, reply URL-nya ga rusak karena fic-nya Hime yang KOKORO sempat mengalaminya.. jadi Hime ga bisa balas review untuk fic itu, miaw..
Ah iya, Hime dapat banyak pertanyaan tentang umur Naruto dkk, jadi keterangannya:
Kyuubi: 25
Itachi: 25
Shikamaru (mulai muncul di chap ini): 23
Sasuke: 18
Kiba: 18
Naruto: 16
Anzen & Hikage: 4
Thanks for Nami Kusunoki atas penjelasan cara uploadnya dan IceQueen Rei-chan Yuki yang sudah ngajari Hime cara bales review :))
Anywayyyy, here's the second chap XD
Himano Hime presented
2nd chap of Birthday Gift
Pairing: SasuNaru, ManyNaru (masih ada kemungkinan ganti pairing)
Rate: T
Genre: Family, Romance
Warning: Sho-ai, maybe OOC, MPREG
DON'T LIKE DON'T READ
Hope you enjoy it~ ^^
Naruto menggeliat kecil. Menggosok matanya kasar. Sinar matahari pagi masuk melalui celah-celah tirai, meneruskan cahaya sampai ke retinanya. Anzen masih tidur dengan tenang di pelukannya.
Anzen terlihat seperti replika Sasuke kecil hanya saja dengan rambut hitam, bukannya raven. Tentu saja, ia tampan dan Naruto tahu bagaimana gadis-gadis kecil seumuran Anzen memuja putranya. Ia bangga pada Anzen, Anzen adalah figur anak lelaki yang diinginkan oleh setiap orangtua.
Anzen. Anzen. Anzen. Uzumaki Anzen. Putranya yang ia banggakan. Uzumaki termuda.
Naruto memeluk Anzen erat. Benar. Ia seorang Uzumaki, sama sekali bukan Uchiha. Ia tak akan membiarkan seorang pun melukainya selama ia masih hidup.
Anzen tertidur nyenyak. Pelukan kaa-sannya hangat, nyaman, membuatnya merasa tenang dan aman. "Kaa-san?" ia membuka matanya malas, memanggil kaa-sannya.
Pemuda pirang itu tersenyum. "Selamat pagi, pangeran kecil" ia mencium dahi Anzen lalu beranjak bangun.
"Kau tidak mau bangun?"
Anzen menggeleng, "Nanti aku menyusul ke bawah, kaa-san~"
Naruto mengedikkan kepala heran, tidak mengatakan apa-apa. Begitu ia pergi untuk menyiapkan sarapan, Anzen duduk di ranjangnya. Memikirkan kejadian kemarin. Kemarin ia melihat dua pria mencium kaa-sannya. Kaa-sannya bersikap aneh sejak bertemu dengan pria berambut hitam itu.
Juga.. kenapa Kyuu-jisan mencium kaa-sannya? Ia pernah melihat Kyuubi mencium Naruto, tapi hanya di dahi. Mereka sering melakukannya sebagai tanda sayang. Tapi kemarin Kyuubi mencium kaa-sannya di bibir kan? Apa maksudnya itu?
.
Naruto menyelesaikan menata meja makan dengan tersenyum. Cukup sehari ia bersikap seperti kemarin. Ia sudah membuat Kyuubi dan Anzen cemas…
Naruto menghembuskan nafas, merasa dirinya tak berguna. Seharusnya ia bisa menghadapi ini sendiri tanpa membuat mereka khawatir. Ia toh bukan dirinya yang dulu lagi kan? Seorang anak 11 tahun yang tak bisa melawan lelucon konyol mereka..
Kyuubi dan Anzen sudah duduk. Seperti biasa, Kyuubi duduk di depan Naruto dengan koran pagi di tangan, Anzen di sebelah kanan Naruto.
"Bagaimana sekolahmu, Anzen?" Kyuubi bertanya kaku.
"Ah, Anzen punya teman baru! Benar kan Anzen?"
Anzen mengangguk. "Rumahnya tak jauh dari sini. Ia bilang akan menjemputku nanti."
"Hee? Itu bagus! Kau bisa mengundangnya makan di sini kapan-kapan." Naruto menyahut bersemangat sambil mengunyah telur dadar.
"Kaa-san.. paling tidak telanlah dulu makananmu" Anzen sweatdrop melihat kaa-sannya.
Bel pintu berbunyi. Naruto segera menelan makanannya, berdiri untuk membukakan pintu. Tidak ada orang di depan pintu, setidaknya tidak sebelum ia menengok ke bawah.
"Apa kau mau menjemput Anzen?" Naruto berjongkok.
Anak itu jelas seumuran dengan Anzen. Ia berambut hitam diikat ke belakang. 'Seperti nanas…' Naruto membatin.
"Merepotkan. Anzen ada?" ia menyahut malas, kedua tangannya dimasukkannya ke dalam saku.
Entah apa yang dipikirkannya, Naruto mengangkat tangannya untuk membelai pipi bocah itu. Rasanya ada sesuatu dari anak itu yang membuatnya merasa aneh..
"Kaa-san?"
Naruto terlonjak kecil. Baru menyadari Anzen sudah berdiri di belakangnya menatapnya heran. Tangan kanannya masih berdiam di pipi sang bocah berambut hitam yang mulai menatapnya heran.
"Bisakah.. kami berangkat?"
"Ah, ya! Maafkan kaa-san" dengan gugup, Naruto segera menyingkirkan tangannya. "Kau sudah membawa bekalmu?"
Anzen mengangguk, menyandangkan tasnya di bahu, "Aku berangkat, kaa-san"
"Hati-hati di jalan~" Naruto memasang cengiran rubahnya kembali sambil melambai pada mereka. Setelah mereka menghilang di balik pintu, ia masih berdiri di tempatnya, mengira-ngira kenapa ia merasakan hal aneh pada… siapa? Nara.. Hikage? Ya, itu.
Ia mendesah. Mungkin hanya hormonnya. Atau sesuatu yang disebut Kyuubi mother instinct.
"Ada apa?"
Naruto menoleh mendapati Kyuubi berdiri di sebelahnya, sedang memasang dasi. "Tidak ada.."
Refleks, ia menggeser tangan Kyuubi, menggantikannya memasang dasi.
"Apa kau yakin mau bekerja hari ini?"
"Apa?" ia bahkan hampir melupakan semua masalah tentang Uchiha. "Oh, itu. Ya, kurasa aku akan baik-baik saja. Maksudku, apa yang bisa dilakukannya? Menculikku lagi?" Naruto mulai tertawa garing yang langsung terhenti melihat Kyuubi tampak marah.
"Yang mereka lakukan padamu itu bukan sesuatu yang bisa ditertawakan! Kau tidak tahu betapa aku menghabiskan 3 bulan untuk menyesali tidak membunuh mereka!"
"…"
"Hey, kita bisa pindah kalau kau mau"
"Tidak bisa! Bagaimana dengan pekerjaanmu? Lagipula mana ada yang mau menerima pegawai yang pendidikannya bahkan belum lulus SMP selain Neji?"
Kyuubi terdiam. Naruto benar. Mereka butuh pekerjaan ini. Lagipula apartemen ini mereka sewa dengan setengah harga karena pemiliknya adalah teman Kyuubi. Entah dimana lagi mereka bisa menemukan apartemen semacam ini dengan harga segitu.
Pemuda berambut merah panjang itu mendesah. "Baiklah.. pastikan handphone-mu selalu aktif. Segera hubungi aku kalau terjadi apa-apa ya."
Ia mengambil tasnya di meja, mengecup kening adiknya lembut. "Jaga dirimu baik-baik ya"
Bibir Naruto mengerucut. "Aku bukan anak kecil lagi, Kyuu-nii."
Kyuubi tertawa kecil. Anak kecil atau bukan, ia tetap overprotektif pada adik tunggalnya itu. "Hn. Ittekimasu"
"Itterasai.."
Begitu Kyuubi menghilang di balik pintu, Naruto mengeluarkan kartu nama pemberian Itachi kemarin. Ia melihatnya berkali-kali, menimbang-nimbang perkataan Itachi. Ia belum memberitahu Kyuubi tentang Itachi yang ingin berbicara dengannya karena ia tahu itu hanya membuat segalanya semakin rumit.
Dengan ragu ia menekan nomor telepon yang tertera di kartu nama. Seseorang menjawab pada panggilan kedua.
"Halo? Itachi?"
Percakapan itu bergaung di lorong yang sepi. Sang pemuda pirang yang sedang mengkhawatirkan benar atau salahkah tindakannya itu tak punya banyak waktu setelah percakapan itu selesai. Ia harus segera berangkat atau ia akan terlambat.
.
Naruto memang datang agak terlambat hari itu, tapi setidaknya ia bersyukur Sasuke tak datang sepanjang hari. Tapi rupanya Sasuke datang tadi pagi untuk memberikan nomor teleponnya. Kiba yang menerimanya dan menawarkan menyobeknya jika ia mau.
Butuh waktu beberapa lama bagi Naruto untuk berpikir sebelum ia mengantonginya. Tak ada gunanya melarang Sasuke mendatanginya jika Itachi sudah menemukannya. Lagipula ia harus mengakui bahwa ia merindukan Sasuke…
Mungkin ia memang harus meneleponnya nanti.
Anzen bilang ia tidak melihat Itachi sama sekali hari itu, membuat Naruto lebih lega. Kyuubi masih mengkhawatirkannya, ia tahu.
Naruto jadi merasa bersalah telah merahasiakan janjinya dengan Itachi.
.
Matahari sudah terbenam hari itu. Naruto sedang menyiapkan makan malam di meja. Sendirian. Anzen sudah bilang padanya sebelumnya, ia ada piket hari ini karena itu ia akan pulang telat. Hikage menawarkan ayahnya untuk mengantarkannya pulang, jadi Naruto tak perlu khawatir.
Ia mendesah. Berharap mereka segera datang karena ia mulai paranoid. Itachi memang sudah berjanji tak akan menyentuh Anzen sampai pembicaraan mereka selesai, entah apa yang ingin dibicarakannya. Walau begitu ia tidak benar-benar yakin bisa percaya padanya.
Ia juga belum menelepon Sasuke. Entahlah. Hanya saja rasanya.. ia belum siap. Ia tak tahu apa yang akan dikatakannya pada Sasuke. Lagipula apa yang diharapkannya? Bila Sasuke tahu semua yang terjadi, ia pasti akan menjauhinya.
Persiapan makan malam sudah beres. Ia duduk di kursinya, melamun sambil memandang semangkuk misoshiru hangat. Syukurlah, bel pintu berbunyi.
Anzen, Hikage, dan seorang Hikage versi dewasa–yang ia duga adalah ayah Hikage– berada di depan pintu. Pria itu terlihat seumuran Kyuubi atau mungkin lebih muda, wajahnya terlihat malas dan cuek, sama persis seperti wajah Hikage. Ia memakai kemeja dan jas yang tidak dikancingkan, dasinya sendiri pasti sudah dilepas. Kedua tangannya dimasukkannya ke dalam saku celana.
Sementara Naruto mengamati penampilan ayah Hikage, pria itu juga melakukan hal yang sama, dengan lebih cepat. Alisnya bergerak dengan tatapan menilai.
"Apa kau.. kakak Anzen?"
Mata Naruto mengerjap. Sedetik kemudian, ia mengerti kenapa pemuda Nara itu bertanya begitu. Ia tersenyum maklum, "Bukan. Aku kaa-sannya Anzen."
Walau ekspresinya tidak banyak berubah, Naruto yang sudah mengenal seorang Uchiha tahu persis orang di depannya agak kaget. Pasti ini kali pertamanya bertemu seorang pria, remaja 16 tahun yang mengaku ibu dari anak berumur 4 tahun.
Anzen berjalan masuk. Ia sekarang berada di sisi Naruto, Hikage dan ayahnya masih ada di ambang pintu.
"Bagaimana kalau kalian ikut makan malam di sini saja?" Naruto menawarkan.
Ayah Hikage memutar mata, bertukar isyarat mata. Wajah mereka berdua sama-sama menampilkan ekspresi bosan, membuat Naruto memiringkan kepala penasaran.
"Bila tidak mengganggu.."
Naruto menggeleng cepat, tersenyum lebar. "Tentu saja tidak."
.
"Apa istrimu tak keberatan kau makan malam di sini, tuan Nara?" tanya Naruto menyiapkan makan malam untuk dua tamu tambahan.
"Aku tidak punya istri" ia menjawab dengan cukup santai.
"Eh? Ah, maafkan aku! Aku tidak bermaksud–"
"Bukan masalah. Aku dan Hikage tinggal berdua."
Uzumaki pirang itu diam. Sedikit banyak merasa simpati pada Hikage yang tidak tinggal bersama ibunya. Apa ibunya sudah meninggal? Atau mungkin mereka bercerai?
"Aku belum mengenalkan diri, namaku Nara Shikamaru"
Naruto memberi cengiran hangatnya, "AKu Uzumaki Naruto. Yoroshiku nee~"
Sedari tadi, Anzen dan Hikage hanya diam sambil memandang satu sama lain begitu pun saat mereka mulai makan. Naruto dan Shikamaru mencoba menghindari keheningan dengan terus berbasa-basi.
Hampir semua orang segera akrab dengan Naruto, tak terkecuali Shikamaru. Nara Shikamaru sepertinya orang baik. Dari pembicaraan malam itu, ia tahu kalau Shikamaru bekerja di perusahaannya sendiri, perusahaannya besar dan ia hampir sekaya Uchiha (tentu saja ia tidak benar-benar mengatakan ini).
Shikamaru tinggal bersama Hikage dan para pelayan. Ia single parent. Naruto tak berani bertanya apa yang terjadi dengan ibu Hikage, tidak sekarang.
Suatu kebetulan, ternyata ia tahu kafe tempat Naruto bekerja. Ia bilang ia adalah teman Neji dan Chouji dan mereka mulai bersemangat membicarakan masalah itu.
Pemuda Nara itu bilang ia tidak suka hal yang merepotkan, dan hampir semua hal merepotkan, jadi tak banyak yang disukainya. Ia punya kebiasaan merokok karena seorang guru yang dihormatinya. Ia suka mengamati langit dan bermain shogi.
Hanya butuh semalam saja sampai mereka jadi akrab.
.
"Hei, Hikage" Shikamaru memulai pembicaraan. Matanya tak lepas dari jalanan.
Hikage membuka sebelah matanya malas-malasan. "Hm?"
"Apa kau yakin yang tadi itu 'ibu' Anzen?"
"Entahlah… Anzen memanggilnya 'kaa-san'. Mungkin.."
"Ia tidak mungkin lebih tua dari 17 tahun… dan lagi, bukankah ia lelaki?" Shikamaru berdecak. Ia bahkan agak ragu tentang gender sang Uzumaki.
"Aku tidak tahu, tou-san. Apa kau penasaran? Biasanya kau akan berpikir 'terlalu merepotkan menanyakan hal semacam itu'"
Shikamaru terdiam. Tangannya tetap di setir, matanya tetap di jalanan, tapi pikirannya melayang ke pemuda pirang yang baru makan malam bersamanya (dengan Hikage dan Anzen juga, sebetulnya)
"Jangan bilang tou-san tertarik padanya.." Hikage mencibir.
"Berhentilah bicara begitu." Shikamaru memutar matanya, melihat putranya seakan ia sangat merepotkan.
"Baiklaah… ia manis, walau kurasa ia pria, dan aku cukup menyukainya."
Shikamaru sedikit terkejut mendengar anaknya, seorang anak 4 tahun yang sayangnya mewarisi otaknya, berkata seakan ia merestui ayahnya dengan 'kaa-san' temannya. Hikage bukan tipe yang menyukai orang lain dengan mudah. Sama sulitnya seperti menemukan sesuatu yang 'tidak merepotkan'.
"Apa kau berharap ayahmu jadi gay atau apa?"
Hikage menutup mata lagi. "Setidaknya Naruto-san terlihat lebih baik ketimbang para wanita murahan yang sering menggodamu. Mereka memuakkan."
"Geez…" Shikamaru berhenti, ragu-ragu. "Lagipula aku toh tak mungkin merusak rumah tangga orang kan?"
"Kurasa tidak. Anzen pernah bercerita ia tinggal bersama ibu dan pamannya. Aku tak pernah mendengar ia bicara sesuatu tentang ayahnya.."
Baiklah, Shikamaru. Sudah cukup kau bertanya tentang mendekati seseorang kepada anakmu, ia membatin.
Hikage menutup mata, bersiap tidur. Ayahnya merepotkannya dengan semua pertanyaan itu. tapi sesungguhnya, ia tak terlalu keberatan punya saudara seperti Anzen dan ibu seperti Naruto.
"Naruto-san…" Shikamaru menoleh. "Entah kenapa aku merasa.. familiar dengannya.."
Setelah bergumam, Hikage tidur. Shikamaru kembali menyetir dengan bingung. Penasaran akan kata-kata anak tunggalnya.
.
Suara TV terdengar lantang dari ruang tamu. Anzen-lah yang menyalakan TV, menonton kartun malam favoritnya sambil mengerjakan PR. Naruto sedang mencuci piring di dapur atau lebih tepatnya, sambil melamun.
Kadang-kadang ia masih bermimpi tentang kejadian 4 tahun yang lalu. Mimpi buruk. Tapi mimpi-mimpi itu seperti nyata walau tak sesuai dengan kenyataan. Rasanya ia seperti melupakan sesuatu yang penting. Ia tidak lupa, tapi karena kenyataannya tidak sesuai dengan ingatannya ia terpaksa melupakannya.
Dan sampai sekarang ia masih mengingatnya…
"Tadaima.."
"Okaeri!" Naruto mendongak dari tugasnya, mencuci tangan, mengelap tangannya di celemek, lalu berjalan ke luar dapur. Kyuubi ada di genkan saat ia menyambutnya.
"Okaeri, ji-san" Anzen ikut menyahut tanpa berpaling dari layar TV.
"Kyuu, kukira kau pulang larut lagi?" pemuda pirang itu mengambil tas kerja Kyuubi sementara ia melepas jas dan dasinya.
"Tidak.." Kyuubi tidak bilang apa-apa bahwa ia pulang cepat (biasanya ia lembur sampai tengah malam) karena khawatir akan Naruto dan Anzen.
"Baiklah… kau mau mandi dulu atau makan?"
"Mandi. Rasanya badanku lengket.."
Naruto mengangguk, "Akan kusiapkan air panasnya dulu" ia hampir berlalu saat Kyuubi mencekal lengannya.
"Apa tadi kau bertemu mereka?" mata merah rubinya menatap adik kandungnya tajam. Mata safir itu hanya mengerjap tak mengerti.
"Oh, itu. Jangan khawatir. Mereka tidak menemuiku. Anzen juga bilang ia tidak melihat orang mencurigakan kok." Ia tersenyum, berharap Kyuubi berhenti mencemaskannya.
"Begitu.." agak lega, Kyuubi melepas lengan Naruto.
"Kyuu, santailah sedikit. Kurasa kau malah lebih paranoid dari aku, kau tahu?" salah satu alisnya naik dan bibirnya mengerucut.
Ia memang masih kekanak-kanakkan, Kyuubi membatin. Tapi ia memang manis dan lucu…, lanjut batinnya. Kyuubi mengacak-acak rambut adiknya (yang tingginya memang hanya setinggi bahu Kyuubi) lalu pergi ke kamarnya tanpa mengatakan apa pun.
Naruto memegang rambutnya yang baru diacak Kyuubi dengan jengkel. Sambil menggerutu tentang 'dianggap anak kecil', ia pergi menyiapkan air panas.
.
"Kaa-san" Anzen mencoba menarik perhatian ibunya. Naruto menaruh sumpit di sebelah mangkuk sebelum menoleh pada putranya.
"Ano.." Anzen tampak ragu, "Aku ingin minta Nintendo DS.."
Naruto mengerjapkan mata beberapa kali.
"Maksudku– Takai selalu memamerkan game barunya padaku, ia sangat menyebalkan dan–" bibir Anzen mengerucut, lalu mukanya memerah, lalu bicaranya terdengar meracau. Ia tidak biasa bicara panjang lebar dan berekspresi. Rasanya sangat konyol dan memalukan membicarakan masalah kekanak-kanakkan seperti ini pada kaa-sannya, masalah seperti dirinya yang iri pada anak lain.
Naruto hanya diam. Wajar bagi anak kecil seperti Anzen meminta game. Anzen jarang meminta mainan, mungkin karena ia tak mau merepotkan Naruto. Naruto sendiri mengenal Takai yang dibicarakan Anzen, ia tinggal di apartemen lain dekat sini. Takai menyebalkan, ia kelas 6 SD dan sering mengerjai anak kecil seperti Anzen. Pemuda pirang itu bahkan bisa membayangkan bagaimana Takai menghina anaknya.
Anzen masih meracau dengan wajah merah. Mungkin sedikitnya ia mewarisi sikapku.., gumam Naruto dalam hati.
Butuh waktu semenit untuk membuat anaknya diam. Naruto berjongkok, tersenyum pada Anzen. "Kalau kau memang ingin itu, nanti kaa-san akan belikan tapi jangan bilang-bilang pada Kyuu-jisan ya?" ujarnya sambil mengacungkan telunjuknya di depan bibir, isyarat untuk diam.
Anzen tersenyum pada kaa-sannya, mengangguk bersemangat lalu pergi.
"Ada apa Naru?" Kyuubi memasuki ruang makan dengan handuk terkalung di leher. Naruto menggeleng.
Ia meninggalkan Kyuubi untuk makan. Pemuda bermata safir itu menghitung-hitung. Ia punya tabungan, jumlahnya memang tak banyak tapi akhir minggu ini ia mendapat gaji, mestinya itu cukup untuk membelikan Nintendo DS Anzen.
Selama ini, ia merasa Kyuubi sudah terlalu banyak membantu. Kyuubi memang kakaknya, tapi ia punya hidup sendiri. Anzen putranya, semestinya ia harus bisa menghidupi mereka berdua kan? Dan Kyuubi bahkan tak pernah mendekati wanita manapun, itu pasti karena Kyuubi harus mengurusnya dan Anzen..
Naruto menghela nafas. Ia harap ia bisa mandiri, mendapat pekerjaan lain agar ia bisa berhenti merepotkan Kyuubi. Dengan begitu Kyuubi bisa lebih santai, mencari wanita cantik sebagai pendamping hidupnya, dan menikmati hidupnya sendiri. Bukannya lembur terus-menerus untuk membiayai keluarga adiknya.
.
"Itachi" seorang pemuda berambut pirang panjang memanggil pemilik ruangan itu. Di tangannya ada beberapa map.
"Ini berkas-berkas untuk kasus kemarin. Seperti permintaanmu, semuanya sudah dibereskan Sasori dan Kisame. Lalu.." ia berhenti saat menyadari pria yang diajaknya bicara tidak mendengarkannya.
"Dei, apa kau ingat proyek 5 tahun yang lalu?" Itachi membuka-buka berkas di tangannya.
"Lima tahun yang lalu, un? Maksudmu bocah Uzumaki itu?" Deidara berjalan ke arah Itachi, melihat berkas yang sedang dibaca si sulung Uchiha.
"Kenapa kau menanyakannya lagi? Kukira kau sudah menyuruh kita berkonsentrasi ke proyek lain? Bocah Uzumaki itu memang menarik, un. Tapi kita sudah membatalkan proyek itu" alisnya bergerak-gerak sembari berpikir.
Itachi menyeringai, "Kebetulan, aku bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Dan anak itu."
Mata biru Deidara melebar. "Kau menemukannya? Lalu?"
"Entahlah" Itachi menjatuhkan berkas di tangannya ke meja. "Aku sendiri masih memikirkan apa yang akan kulakukan selanjutnya. Ia terlalu menarik untuk diabaikan."
Salah satu alis Deidara naik. "Kau memang jahat, un. Aku jadi kasihan pada bocah pirang itu"
Itachi menatap Deidara tajam. "Berikan saja tugasmu yang kemarin pada yang lain. Aku punya tugas baru untukmu"
.
.
Balasan review non-login
Od3rsChWank mi4w-mi4w
Umurnya udah Hime jawab kan? ^^
Masalah Anzen anaknya siapa, sabar ya… lama-lama juga ketahuan. Maaf Hime bikin bingung.. (_ _")
Hime juga pengennya Sasuke dipukul aja terus tuh, Hime bukan Sasuke FC. Tapi kasihan juga sih.. hehehe..
Makasih reviewnya ^^
Dobe siFujo
Maaf karena chap ini Sasuke sama sekali tidak muncul. Mungkin chapter depan dia kelihatan. #chidoried
Permintaannya Anzen udah Hime tulis di summary, dia kepengen ketemu ayahnya dan punya teman. Kalo perasaannya Kyuubi ke Naru sih liat aja di setiap chapter, Hime juga ga ngerti jalan pikirannya Kyuubi.
Masalah pairing, Hime belum yakin… chara-chara itu bertingkah seenaknya di pikiran Hime. Endingnya aja belum kepikiran, Hime mesti nunggu wangsit dulu. XP ato mungkin anda bersedia nyumbang ide gimana Naru bisa bersatu dengan Sasuke?
Makasih reviewnya :)
Rosanaru
Fuuh… Pertanyaan Anzen anaknya siapa, tanyakan saja pada rumput yang bergoyang #diinjak-injak Ura
Gomen, maksud Hime, pertanyaan itu bakal kejawab dengan sendirinya kok nanti ^^
Sekali lagi, Hime belum bisa memastikan pairing akhirnya. Masih nunggu wangsit. Karena itu Hime nulis pairing bisa ganti. Mungkin kalo ada reader yang ngasih ide gimana endingnya… kalo cocok bisa Hime pake. Mungkin. #diinjak-injak Ura & Hikaru
Makasih reviewnya :D
Ryu
Nih udah update~~
Makasih dukungannya, itu sangat berarti~~~ XDD
Happy ending ya? Hime belum pernah bikin happy ending tuh. Dan Hime juga belum tahu gimana endingnya, maaf. Niatnya mau mikir ending sambil jalan XP, lagi-lagi, pairingnya Hime belum bisa pastiin..! Maafkan Hime yang ga becus ini.. DX
THANKS FOR ALL FAV AND ALERT! Hime senang sekali ada yang alert dan fav fic Hime (yang notabene gaje semua)T^T
Sebentar lagi ada UTS, jadi mohon doanya (_ _) karena Hime ga bisa ngetik kalo harus ikut segala macem remidi itu.. dan pastinya itu berarti update akan lebih lama.
PLEASE REVIEW!
