Hi, Minna-san... Sakura datang Membawa chapter baru... ^_^

Maaf apabila waktu tunggunya terlalu lama, Sakura dan Yuri - terutama Yuri - sedang sangat sibuk dengan Real-Life kami...

Special Thanks to Popcaga & Nemui Neko-chan...

Selamat menikmati...

Disclaimer: Gundam Seed dan Gundam Seed Detiny sepenuhnya milik Sunrise


Earth

Tang!

Terdengar suara berdentang yang cukup nyaring dari dalam hutan, suara yang dihasilkan oleh benturan dua buah senjata. Suara berdentang itu terdengar berulang kali, diselingi dengan suara gemuruh, seruan, dan juga teriakan dari dua sosok yang sedang bertarung.

Ya, mereka adalah Angel - seorangLight Angel dan seorang Dark Angel - yang sibuk mengadu kekuatan dan senjata andalan mereka. Sang Light Angel melayang beberapa meter di atas tanah dengan kepakan sayap putihnya, sedangkan sang Angel bersayap hitam terlihat sedang berdiri tegap di atas salah satu dahan pohon besar.

Sekian detik telah berlalu, keduanya masih saling menatap satu sama lain dengan serius. Nafas keduanya kian berat, luka dan goresan pun sudah menghiasi beberapa bagian tubuh mereka. Walaupun demikian, tidak ada kata "Mundur" ataupun "Menyerah" tersirat dalam sinar mata kedua Angel tersebut.

"Kau memang luar biasa," sang Light Angel tiba-tiba saja memecah keheningan. "Aku jarang menemukan lawan sekuat dirimu."

Sang Dark Angel tersenyum tipis. "Kau juga tangguh," balasnya. "Kau adalah satu-satunya Light Angel yang bisa seimbang menghadapiku," sang Dark Angel sedikit menurunkan pedang yang ia arahkan pada lawannya. "Bahkan hingga berkali-kali."

"Merupakan suatu kebanggaan besar bagiku bisa bertarung imbang melawanmu, Athrun Zala - The RedKnight," ujar sang Light Angel.

Athrun, sang Dark Angel, kembali mengukir sebuah senyuman tipis di wajahnya. "Seharusnya aku yang berkata demikian, Prince Kira Hibiki."

Mendengar ucapan Athrun, Kira - sang Light Angel - balas tersenyum. Light Angel muda berambut cokelat itu merentangkan kedua tangannya ke depan, lalu mengepalkan tinjunya. Samar-samar terdengar suara gemerincing di sekitar sosok Kira, suara gemerincing logam yang membuat Athrun memperkokoh pertahanannya dengan membenahi posisi berdiri sertapedangnya.

Kira mengayunkan kedua tangannya ke arah yang berlawanan; tangan kanan ke kiri dan tangan kiri ke kanan secara bersamaan, menghasilkan suara gemerincing yang lebih nyaring dari sebelumnya. Sepintas mata emerald Athrun dapat melihatnya, titik-titik kilauan cahaya matahari yang terpantul oleh sesuatu di sekitar sosok sang Light Angel.


-Between Light and Dark - Everlasting-


Underworld

"Tuan Gilbert?"

Seorang pria berambut panjang terlihat sedang duduk dengan nyaman di belakang meja kerja berukuran besar miliknya. Kedua bola matanya terus melekat pada sejumlah lembaran kertas yang ia genggam; hingga ia mendengar namanya dipanggil dari luar ruangannya oleh seseorang.

"Ya? Masuklah," ucapnya tanpa mengalihkan pandangan ke pintu ruangan.

Suara daun pintu yang terbuka dan tertutup pun terdengar, diikuti dengan suara langkah kaki yang semakin mendekat. Setelah ia tidak lagi mendengar suara apa pun, sang Dark Angel bernama Gilbert Durandal itu akhirnya mengangkat wajahnya, menatapsosokseorang pria yang berdiri tegap di hadapannya.

"Ada perlu apa kau ke sini, Rau?" tanya Gilbert.

Pria berambut pirang bernama Rau Le Crueset sempat memberikan penghormatan pada Gilbert sebelum ia menjawab, "Ada yang harus saya laporkan kepada anda, Tuan Gilbert."

Gilbert mengangguk kecil. "Tentang apa?"

"Ini mengenai beberapa Light Angel yang berhasil saya tumpas beberapa hari yang lalu," jawab Rau.

"Lanjutkan," ucap Gilbert sambil meletakkan kertas-kertas yang sejak tadiiagenggam; kemudian iamemfokuskan pandangannya pada sosok pria bertopeng di hadapannya. "Apa ada sesuatu yang penting dari mereka?"

Rau mengangguk. "Saya berhasil mendapatkan informasi mengenai…" Rau sempat memberi jeda selama beberapa detik sebelum akhirnya melanjutkan. "Pedra dan Shera."

Mata Gilbert melebar seketika. "Apa? Kau mendapatkan informasi di mana para Light Angel menyembunyikannya?"

Rau menggelengkan kepalanya; tanda bahwa ia tidak tahu. Kontan sikap itu menimbulkan sorot kekecewaan pada mata Gilbert. "Tapi saya mendapatkan suatu informasi yang menarik."

"Apa itu?" tanya Gilbert yang terdengar mulai tidak sabar.

"Para Light Angel tidak memilikinya," ucap Rau. "Seorang Light Angel menyedihkan yang saya bunuh mengatakan bahwa Pedra dan Shera telah hilang sejak belasan tah-."

Brak!

Suara gebrakan meja terdengar memenuhi ruangan. "Apa katamu?" seru Gilbert yang sudah berdiri dengan perasaan terkejut tergambar jelas di wajahnya. "Apa maksudmu? Mereka kehilangan Pedra dan Shera? Bagaimana mungkin?"

"Mendiang Via Hibiki, Ratu Skyworld terdahulu…" Rau berusaha menjawab sedatar mungkin. "Telah memberikan Pedra dan Shera kepada seorang manusia, dan orang itu membawanya pergi," Rau memberi jeda selama sekian detik lagi. "Itulah informasi yang berhasil saya dapatkan."

Raut wajah Gilbert menegang, kedua tangannya bahkan sudah terkepal di atas meja. Setelah beberapa saat berlalu, akhirnya pria berambut hitam itu menghela nafas dan kembali bersuara.

"Kerja yang bagus, Rau," ucapnya sambil kembali duduk di kursi kerjanya. "Kau boleh pergi."

Rau menganggukkan kepalanya, memberi hormat pada Gilbert dan kemudian membalikkan tubuhnya.

"Oh, tunggu," suara Gilbert membuat Rau kembali menghadap sang pemimpin. "Jika kau bertemu dengan mereka," Gilbert menyerahkan beberapa lembar kertas yang ia baca dan perhatikan sebelum Rau datang. "Suruh mereka menghadapku."

Rau menerima kertas-kertas pemberian Gilbert, lalu beranjak meninggalkan ruangan tersebut. Di saat ia akan melangkahkan kakinya ke luar ruangan, barulah Rau teringat akan informasi penting lain yang belum ia sampaikan.

"Tuan Gilbert?" panggilnya.

"Ya?" jawab Gilbert.

"Mengenai seorang manusia yang membawa pergi Pedra dan Shera…" ucap Rau. "Dia adalah…"


-Chapter: 1-


Earth

"Kira!"

Seorang Light Angel bermata amethyst yang masih sibuk dengan aktivitasnya tiba-tiba saja tersentak, samar-samar kedua telinganya mendengar sesuatu dari kejauhan. Seseorang baru saja meneriakkan namanya, seseorang yang sangat ia kenali.

"Kira!" suara itu terdengar lagi. "Tolong kami!"

Kira mengeratkan giginya, ia menyadari panggilan tersebut merupakan pertanda bahwa rekan-rekannya sedang menghadapi kesulitan. Angel berpakaian lengan panjang berwarna putih dengan vest biru langit itu tanpa sadar telah menghentikan aktivitasnya, membuat untaian-untaian logam di sekitarnya berhenti menari di udara.

'Sial… Ini bukan waktu yang tepat.'

Di saat Kira masih sibuk dengan pikirannya, sebuah kilatan cahaya merah tiba-tiba saja melesat ke arah Angel muda itu. Beruntung Kira menyadari datangnya kilatan cahaya tersebut tepat pada waktunya. Ia segera menyilangkan kedua tangannya, membentuk sebuah tirai tak kasat mata untuk melindunginya dari serangan sang Dark Angel. Suara gemuruh pun tercipta saat cahaya halilintar merah menghantam tirai pelindung Kira, disusul dengan timbulnya kepulan asap putih yang cukup tebal.

"Ada apa denganmu?" terdengar suara seorang pria dari balik asap yang mulai menyebar ke segala arah. "Jangan lengah saat sedang bertarung denganku!"

Sosok Kira segera terlihat setelah asap putih di sekitarnya mulai memudar, ia menatap lurus ke arah sang Dark Angel berambut navy blue di depannya. Kedua Angel dari kubu yang berbeda itu saling menatap selama beberapa detik, berusaha membaca gerakan dan pemikiran lawan mereka.

"Maaf," tiba-tiba saja sang Light Angel berambut cokelat angkat suara. "Kita lanjutkan pertarungan ini lain kali, Athrun Zala."

Mata emerald Athrun melebar seketika. Ia baru akan membuka mulutnya untuk bertanya, ketika dilihatnya Kira mengayunkan kedua tangannya secara hampir bersamaan. Suara gemerincing pun kembali terdengar di sekitar sosok sang Light Angel, disusul dengan kemunculan ratusan jarum tajam berwarna putih yang langsung melesat ke arah sang Dark Angel.

Athrun segera menegakkan pedang Claymore hitamnya ke tanah, menciptakan sebuah perisai pelindung di hadapannya. Sang Dark Angel bermata emerald itu sempat merasa lega karena telah berhasil menahan serangan tersbut tepat waktu. Namun, perasaan terkejut kembali tergambar di wajahnya, saat jarum-jarum yang tertahan oleh perisainya meletup dan menghasilkan kabut tebal di sekeliling tempatnya berada.

"Apa-apaan ini?" geram Athrun sambil mengayun-ayunkan lengannya yang bebas, berusaha memudarkan kabut tebal yang menghalangi pandangannya sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah.

Ke mana pun Athrun memandang, ia tidak dapat menemukan sosok sang Light Angel. Saat ini yang tersisa dari sang lawan hanyalah kabut yang perlahan semakin memudar dan beberapa serpihan es yang bertebaran di mana-mana.

"Cih," Athrun mengembalikan pedang yang ia genggam ke tempatnya; menempatkan pedang Claymore itu ke dalam sarung yang terletak di belakangpunggungnya, setelah ia tidak berhasil menemukan tanda-tanda keberadaan sang Light Angel di sekitarnya. "Dia melarikan diri rupanya…"

Athrun menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan, kemudian membersihkan mantel panjang berwarna merah tua yang ia kenakan dari butiran pasir dan tanah kering yang melekat. Setelah selesai, ia mengangkat wajahnya dan menatap langit dengan mata emerald-nya yang teduh.

"Kira Hibiki…" gumamnya sambil tetap menatap ke langit.

'Seorang Light Angel berhati lembut, huh?'


-The Prince, The Red Knight and The Ace Hunter-


"Light Angel Keparat!" seorang Dark Angel terlihat sedang melesat terbang di antara pepohonan, mengejar sesosok Angel bersayap putih tidak jauh di depannya. "Kuhabisi kau!"

Sang Light Angel sempat menolehkan wajahnya untuk sesaat, sekedar untuk mengamati secara sepintas sosok sang Dark Angel yang memburunya. Setelah itu ia mengeratkan giginya, rasa cemas, takut dan bahkan panik sudah mulai menguasai hati dan pikirannya. Tubuhnya sedikit bergetar, bercak darah dan luka telah menghiasi pakaian dan tubuh Angel bermata biru itu. Tangan kanannya mencengkeram erat lengan kirinya yang terluka, berusaha menahan aliran darah yang terus mengucur keluar.

"Sial…" bisik sang Light Angel dengan lirih, sepertinya ia mulai lelah dan kehabisan tenaga.

Di saat yang bersamaan, sang Dark Angel telah mempersiapkan serangannya. Ia mengepalkan tangan kanannya dan mengarahkannya pada sang Light Angel. Sebuah bola api keluar dari kepalan tangan sang Dark Angel, melesat langsung ke arah sang Light Angel yang gerakannya sudah mulai melambat dan tidak beraturan.

Serangan bola api sang Dark Angel tepat sasaran; mengenai punggung dan sayap sang Light Angel dan membakarnya, membuat sang Light Angel kehilangan kendali atas tubuhnya dan terjatuh ke tanah. Tubuh sang Light Angel sempat terseret sampai beberapa meter, hingga akhirnya ia membentur sebuah batu besar.

Sang Light Angel dengan susah payah berusaha bangkit dari posisinya, menyandarkan punggung ke batu besar di belakangnya, dan menatap kedatangan sang Dark Angel. Dilihatnya sang Dark Angel baru saja menapakkan kedua kakinya di tanah, sebuah senyuman mencela tersungging dengan sempurna di wajah Angel bersayap hitam itu.

"Bedebah!" sang Dark Angel melangkah perlahan ke arah korbannya sambil mengangkat tangan kanannya. Sesaat kemudian sebuah bola api menyala di atas telapak tangannya. "Pergilah menyusul teman-temanmu ke alam baka!"

Sang Light Angel hanya menatap sang lawan dalam diam. Rasa putus asa sudah benar-benar menguasai dirinya. Sebentar lagi ia akan mati, menyusul para Light Angel yang telah mendahuluinya karena menjadi korban peperangan.

Di saat sang Dark Angel mengangkat tangan kanannya lebih tinggi untuk melancarkan serangan terakhirnya, tiba-tiba saja terdengar suara gemerincing di sekitarnya. Sesaat kemudian sang Dark Angel tidak bisa bergerak. Sesuatu yang terasa begitu dingin di kulit telah mengunci gerakannya; sehingga ia tidak mampu melanjutkan serangannya.

"A-apa ini?" geram sang Dark Angel sambil berusaha melepaskan dirinya dari sesuatu yang melilit tubuhnya dengan sangat kuat. "Keparat! Lepask-."

Sang Dark Angel tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, rantai tak kasat mata yang melilit seluruh tubuhnya tiba-tiba saja menjalar ke leher dan mencekiknya dengan sangat kuat; hingga ia tewas kehabisan nafas dalam hitungan detik. Tubuh tak bernyawa sang Dark Angel pun langsung jatuh tersungkur, menyisakan sang Light Angel yang menatap peristiwa di hadapannya dengan mata terbelalak.

"Tolle?" terdengar suara seorang pria dari atas ketinggian, membuat sang Light Angel mengangkat wajahnya. "Kau baik-baik saja?"

Sang Light Angel bernama Tolle Koenig langsung menghela nafas lega. Rupanya, ia telah diselamatkan oleh sang Pangeran Skyworld tepat pada waktunya. Jantungnya masih berdetak dengan sangat kencang, nafasnya pun berpacu dengan cepat akibat rasa takutnya akan kematian. Apa yang baru saja ia rasakan dan alami benar-benar merupakan sebuah pengalaman yang tidak ingin ia rasakan lagi sepanjang hidupnya.

"Tolle?" sang Pangeran Light Angel - Kira Hibiki - sekarang sudah berdiri di depan Tolle sambil menatapnya khawatir. "Tolle, apa yang-."

"Kupikir tadi aku benar-benar akan mati…" potong Tolle. "Terima kasih, Kira…"

Kira tersenyum tipis, lalu ia meletakkan satu lututnya di tanah. "Maaf, aku terlambat," ujarnya lembut sambil mengulurkan tangan dan meraih tangan Tolle yang terluka. "Lukamu parah sekali."

Suara tawa yang terkesan lemah dan dipaksakan terdengar dari mulut Tolle. "Sudahlah," ucapnya. "Aku beruntung karena hanya terluka seperti ini."

Lagi-lagi Kira tersenyum. Dengan senyuman miris terukir pada wajahnya, ia menatap luka sayatan di tangan Tolle dan melambaikan telapak tangannya yang bebas di atas luka Light Angel bermata biru itu. Ia membalut luka Tolle dengan rantai es tak kasat mata miliknya, lalu perlahan-lahan luka itu mulai mengecil dan menghilang pada akhirnya.

"Berbaliklah!" ucap Kira setelah ia selesai menyembuhkan luka di tangan Tolle. "Akan kusembuhkan sayapmu."

Tolle mengangguk kecil, kemudian ia mematuhi prmintaan Kira. Setelah ia membalikkan tubuhnya, ia merasakan rantai es Kira langsung membalut kedua sayapnya yang patah dan terbakar. Sesaat kemudian, ia merasakan suatu sensasi yang luar biasa langsung menjalar dan merasuk ke dalam tubuhnya - sebuah sensasi dingin dan menyejukkan - yang seakan-akan mampu mengembalikan keadaan kedua sayapnya kembali seperti sedia kala.

"Terima kasih, Kira," ucap Tolle sambil berusaha berdiri setelah sayapnya pulih.

Kira membantu Tolle berdiri tegap, lalu menjawab, "Ya, bukan masalah," tiba-tiba sesuatu terlintas di benaknya, membuatnya mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan bertanya, "Di mana yang lain?"

Tolle menundukkan wajahnya sejenak. Hal itu membuat Kira menatapnya bingung. "Mereka…" Tolle sempat memberi jeda. "Yang lain sudah tewas sebelum kau datang."

Kedua mata amethyst Kira melebar seketika, sebuah sensasi yang terasa sangat menyakitkan pun langsung melanda hatinya. "A-apa? Tidak mungkin…"

"Mereka tewas saat kami diserang beberapa Dark Angel…" ujar Tolle.

Kira mengeratkan giginya. "Seandainya tadi aku datang lebih cepat."

Tolle menoleh pada Kira, sebuah senyuman tipis terukir di wajahnya. "Kira, semua ini bukan salahmu," ucapnya. "Kita hidup di tengah peperangan, korban berjatuhan di mana-mana bukanlah hal yang tidak lazim."

"Meski begitu…" gumam Kira.

"Sudahlah, percuma saja kau menyesalinya," ujar Tolle. "Lebih baik kita kembali ke Skyworld sekarang."

Kira mengangguk, lalu ia memapah bahu Tolle dan membantunya melangkah. Saat mereka berdua bermaksud untuk mengepakkan sayap mereka dan terbang, tiba-tiba saja terdengar suara aneh di sekitar mereka.

"Hey? Kau dengar sesuatu?" tanya Tolle sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

Kira ikut mengedarkan pandangannya hingga mata amethyst-nya menangkap sesuatu. Dilihatnya semak belukar di samping kirinya dengan seksama, memperhatikan sepasang mata orange yang mengintip dari celah semak tersebut.

Kira tersenyum tipis, lalu menjawab, "Apa? Aku tidak dengar apa-apa," sambil menatap Tolle.

Tolle membalas tatapan Kira dan mengangguk kecil. "Mungkin hanya perasaanku saja."

Kira mengangguk, lalu ia kembali menoleh ke semak belukar di sampingnya. Seseorang yang sempat bertatapan langsung dengannya tadi nampaknya sudah pergi, Kira sudah tidak menemukan sosoknya lagi di balik semak itu.

"Ayo pergi?" ucap Kira yang dijawab dengan anggukkan oleh Tolle.

Dengan itu, kedua Angel berambut cokelat itu mengepakkan sayap mereka; terbang dan melesat ke langit menuju Skyworld.


-By: Sakura Yuri-


Skyworld

"Tolle! Kira!" seorang wanita berambut cokelat terlihat sedang melesat terbang menghampiri Kira dan Tolle yang baru saja tiba di halaman depan istana Skyworld. "Apa yang terjadi pada kalian?"

"Hi, Miri…" sapa Tolle dengan nada yang dibuat sesantai mungkin. "Ceritanya panjang…"

Sang Light Angel yang dipanggil "Miri" mengerucutkan bibirnya, lalu meraih kedua sisi wajah Tolle dengan tangan lembutnya. "Kau terluka? Apa yang sebenarnya terjadi?"

Tolle kembali melepaskan tawa yang ia paksakan. "Jangan khawatir, Miri…" ucap Tolle sambil meraih kedua tangan Miri dengan kedua tangannya sendiri. "Kira sudah menyembuhkanku, yang tersisa hanya luka-luka ringan saja."

"Meski begitu," Kira yang berdiri di samping Tolle angkat suara. "Sebaiknya kau segera merawat luka-lukamu."

Tolle mengangguk, sedangkan Miri berkata, "Terima kasih, Kira. Aku akan merawat lukanya."

Kira mengangguk kecil. "Baiklah kalau begitu," ucapnya. "Aku pergi ke istana dulu, kuserahkan Tolle padamu, Miri."

Miri dan Tolle mengangguk, lalu keduanya berpisah dengan Kira yang terbang perlahan memasuki istana putih Skyworld. Ketika ia mulai memasuki lorong istana, hamper semua para Angel yang berpapasan dengannya langsung menghentikan kegiatan apa pun yang sedang mereka lakukan dan memberikan penghormatan pada sang Pangeran. Terkadang Kira membalas penghormatan tersebut dengan senyum dan anggukkan, namun ia lebih sering hanya memberikan senyum tipis pada para Angel tersebut.

"Kira!" terdengar suara dari lorong lain di samping Kira, membuat sang Light Angel berambut cokelat itu terhenti.

"Sai? Ada apa?" tanya Kira pada Angel berambut pirang yang memanggilnya.

"Kira, aku ingin mengembalikan ini," ucap Angel bernama Sai Argyle sambil menghampiri dan menyerahkan sebuah bungkusan kain berwarna cokelat tua pada Kira.

Kira menerima bungkusan itu, mengintip dan mengamati isinya untuk sesaat. "Apa sudah selesai?"

Sai menggelengkan kepalanya. "Maaf, masih butuh waktu beberapa minggu lagi," jawabnya. "Tapi aku sudah menggandakannya. Karena itu, aku mengembalikannya padamu sekarang."

Kira mengangguk. "Baiklah kalau begitu, terima kasih."

Sai balas mengangguk, lalu ia berbalik dan melesat pergi. Kira sempat menatap kepergian Sai sejenak, lalu kembali menatap bungkusan kain di tangannya. Rasa sedih dan penyesalan tergambar jelas di wajah serta sorot mata sang Pangeran Skyworld.

"Aku harus menjadi lebih kuat lagi…" gumam Kira sambil mempererat genggaman tangannya. "Peperangan ini sudah terlalu banyak memakan korban."


-Cagalli & Stellar-


Earth

"Shinn? Shinn?" seorang Angel bersayap hitam terlihat sedang melayang perlahan di antara bebatuan besar sambil menoleh ke sana kemari. "Shinn, kau di mana?"

Tidak ada jawaban yang datang, membuat sang Dark angel berambut magenta itu merasa kesal sekaligus khawatir. Sudah beberapa jam terakhir ia mencari keberadaan rekannya yang terpisah darinya saat sedang terjadi pertempuran. Namun sampai saat ini, wanita bermata biru keunguan itu belum juga menemukan tanda-tanda keberadaan dari seorang Dark Angel bernama Shinn Asuka.

"Luna!" suara panggilan seorang pria membuat sang Dark Angel bernama lengkap Lunamaria Hawke terhenti dan menolehkan wajahnya. Dilihatnya seorang Dark Angel lain berambut pirang sedang berdiri di atas sebuah batu tidak jauh di samping kanannya.

"Rey?" Luna membalikkan tubuhnya untuk menghadap Rey yang sudah memanggilnya. "Sedang apa? Sudah menemukan Shinn?"

Dark Angel bernama Rey Za Burrel tidak mengatakan apa pun, ia hanya menunjuk ke suatu arah dengan jari telunjuknya. Luna yang melihat hal itu langsung menghampiri Rey dan memandang ke arah yang ditunjukkan kepadanya. Dilihatnya sebuah menara batu besar dan tinggi yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berada, dihiasi tumpukan dari sejumlah mayat yang berserakan di pinggiran menara batu tersebut.

Kontan Luna mengerucutkan bibirnya, lalu ia melayang mendekati menara batu yang terbentuk secara alami tersebut sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang. Ia sempat mengamati belasan tubuh Light Angel tak bernyawa yang berhamburan di sekitar menara, sebelum akhirnya mengangkat wajahnya untuk menatap puncak dari menara batu tersebut.

"Shinn, kau di sana?" tanyanya dengan suara yang nyaring. "Ayo kita kembali!" tidak ada jawaban. "Hey, Shinn! Mentang-mentang diberi gelar Ace Hunter, kau jadi seenaknya begini!"

Sementara Luna masih sibuk dengan ocehannya di bawah sana, seorang Dark Angel berambut hitam terlihat sedang berbaring santai di puncak menara. Matanya terpejam dan nafasnya begitu tenang, terlihat jelas jika saat ini pria itu sedang sangat menikmati suasana di sekitarnya.

"Shinn! Ayo turun!" suara nyaring Luna akhirnya berhasil menggelitik telinga pria itu. Dengan berat hati, ia mulai membuka kedua matanya secara perlahan.

Ketika kedua kelopak matanya terangkat sepenuhnya, mata ruby Angel berambut hitam itu langsung disuguhi dengan pemandangan hamparan langit biru yang luas. Ia sempat berkedip beberapa kali, berusaha menyesuaikan matanya dengan keadaan sekitar, lalu bangkit dan duduk.

Shinn mengedarkan pandangannya ke sekeliling, kemudian ia kembali memejamkan matanya untuk sesaat. Hembusan angin yang cukup kencang, namun menyegarkan menerpa tubuh dan wajah Angel bermata ruby itu. Hembusan angin tersebut terasa begitu menyejukkan - seolah mampu membawa pergi segala perasaan dan pemikiran buruk untuk sesaat - sehingga membuat Shinn mengukir sebuah senyuman tipis di wajahnya.

'Ketenangan ini…'

Sang dark Angel berpakaian serba hitam itu kembali membuka matanya, lalu mengangkat wajahnya untuk menatap langit dan menikmati hembusan angin di wajahnya.

'Kedamaian ini…'

-To be Continued-


Author's Note:

Claymore: Sebuah pedang dua tangan atau yang biasa disebut dengan "two handed sword" yang biasa dipakai oleh orang zaman dahulu untuk perang


Terima kasih karena sudah membaca Chapter ini...
Seperti sebelumnya, Sakura dan Yuri berharap para Reader menikmati Chapter ini dan bersedia meninggalkan review untuk kami...

-SakuraYuri-87-