Hola Minna. saya datang dengan rate baru. masih uji coba. harap maklum kalau masih jelek. hehehe
My first rate M.
DISCLAIMER : TITE KUBO.
WARNING : OOC, AU, GAJE, MISSTYPO (maaf kalau ada kekurangan pengetikan)
RATE : M (for safe)
ATTENTION : Fic ini adalah fiksi belaka, jika ada kesamaan atau kemiripan situasi dan cerita dengan fic lain atau cerita lain dalam bentuk apapun itu tidak disengaja.
.
.
.
" Tidur denganku. Aku akan bayar sebanyak apapun yang kau inginkan."
Gadis berambut pendek hitam itu masih menatap tajam pria dengan rambut berwarna orange menyala itu. Pria itu menatapnya tanpa ekspresi berarti. Seolah pria itu hanya ingin menidurinya dan menikmati tubuhnya saja. Sedetik yang lalu gadis yang bernama Rukia, yang menyembunyikan nama aslinya dengan Yuki merasa terkejut luar biasa. Ada kenangan tiba-tiba menyibak disana, kenangan buruk. Bahkan pria itu saja mungkin tak menyangka akan kenyataan ini.
" Jadi bagaimana? Kau mau? Aku bisa membayarmu sebanyak mungkin." Lanjut pria itu lagi.
Gadis bermata indah itu perlahan melepaskan lengannya dari pria orange itu. Masih seperti dulu dan sama sekali tidak berubah.
" Apa tuan tahu kalau mawar itu punya duri? Duri yang tajam dan bisa membuat luka ditangan tuan. Itulah aku. Kalau tuan tahu cara memangkas duri itu dan tidak melukai tangan tuan, aku bersedia menyerahkan malam pertamaku pada tuan. Tapi... jika tuan tidak tahu caranya, silahkan pergi."
Pria itu hanya mendengus kesal. Sepertinya dia baru saja merasakan rasa kesal yang luar biasa.
Pria tampan itu kembali meraih lengan si gadis dan menggenggamnya erat.
" Apa maksudmu? Gadis murahan sepertimu itu bisa kubeli berapapun! Jangan sombong dengan mengatakan duri atau mawar itu! Atau jangan-jangan kau memang tidak mampu melakukannya!" sindir pria itu.
Dengan sekali sentakan, Rukia mendekatkan wajahnya kearah pria itu. Lalu dengan satu tangannya yang bebas, yang tidak digenggam pria itu, Rukia menarik leher sipria hingga sejajar dengannya dan mencium bibir merah pria itu. Pria itu cukup kaget dengan tindakan tiba-tiba Rukia.
Tanpa ragu, Rukia menjilat bibir merah si pria berambut orange itu. Tentu saja aksi mereka langsung ditonton oleh pengunjung klub malam itu. Banyak yang membelalakkan mata dan berteriak heboh. Rukia masih tidak peduli dan tetap melanjutkan kegiatannya.
Rukia menjilat permukaan bibirnya meminta ijin masuk kesana. Karena sudah mendapat ijin masuk, Rukia lantas langsung beradu lidah dengan tuan rumah itu. Rukia memejamkan matanya mencoba menikmati tiap detik yang berlalu dengan adegan ini. Dan sepertinya pria itu mencoba rileks untuk ikut menikmatinya. Baru saja akan menikmatinya, Rukia lantas menarik bibirnya menjauh dari sana. Tidak ada keinginan untuk menjamaah lebih dalam lagi. Lalu dengan pandangan yang sepertinya meremehkan, Rukia kembali berbicara.
" Tuan jangan asal bicara seperti itu kalau belum menemukan buktinya. Namaku Yuki, bukan sembarang nama. Harap tuan ingat itu..."
Gadis itu pergi meninggalkan panggung itu dengan memberikan tanda tanya pada pemilik mata cokelat itu.
Sebelum benar-benar pergi, Rukia berhenti sejenak dan mengerjap matanya berkali-kali. Menahan air yang mungkin akan mengalir deras tanpa penyumpalnya.
" Kau masih sama... Kurosaki..." bisik Rukia.
.
.
*KIN*
.
.
Kurosaki Ichigo masih termangu diatas panggung itu. Tanpa sadar mengelus bibirnya yang masih basah karena kegiatan tadi. Memang gadis itu tidak mengecewakan. Permainan bibir dan lidahnya saja hampir membuat Ichigo terangsang hebat dan ingin meminta lebih. Pantas saja banyak pria yang tak bisa melupakan bibir sang primadona itu. Persis seperti kata Renji. Salam pertama tidaklah buruk untuk pelacur itu.
" Wow... kawan. Apa itu tadi! Luar biasa! Kau baru pertama kali bertemu langsung mendapat durian runtuh! Kalau saja itu aku! Kau tahu... ciuman sang primadona saja dihargai 1 juta Yen! Dan baru saja kau dapat gratis. Bagaimana rasanya?" tiba-tiba Renji muncul dan langsung menepuk keras bahu Ichigo. Kali ini gantian yang merasa seperti orang linglung. Sedari tadi Renji mengoceh tapi pria itu masih saja tidak sadar dengan kedatangan Renji. Apa labu orange ini masih dalam hipnotis sang primadona? Astaga!
" Yoo Ichigo!" panggil Renji. Tapi masih tidak ada jawaban. Benar-benar anak ini. Akhirnya dengan tidak sabar Renji menendang kaki Ichigo.
" Adaawww! Hei Babon! Siapa suruh kau tendang kakiku!" jerit Ichigo.
" Masa playboy kelas kakap sepertimu masih terhipnotis oleh ciuman dari pelacur klub malam? Itu bukan seperti dirimu. Atau... kau memang sudah terbius oleh pesona Cleopatra dari klub malam itu?" ejek Renji.
" Cleopatra kepalamu! Tidak kok. Aku hanya... sedikit familiar dengan gadis itu. Rasanya aku sudah lama bertemu dengannya. Seperti aku... pernah mengenalnya..." gumam Ichigo.
" Tentu saja kau mengenalnya!" sela Renji.
Ichigo menoleh kearah Renji dan menatapnya penuh tanya.
" Diakan pelacur. Wajahnya pasti ada dihotel atau klub malam mana saja demi melayani pelanggannya. Pasti dia..."
" Bodoh! Ayo pergi. Sudah malam ini. Aku harus rapat besok..." celoteh Ichigo.
Tidak. Bukan bertemu dia dihotel atau klub manapun. Bukan tempat seperti itu. Ichigo yakin pernah mengenalnya. Tapi tak yakin dimana dia tahu gadis itu. Haruskah Ichigo memastikannya? Tapi bagaimana?
Tidak. Tidak perlu tahu sejauh itu siapa gadis itu. Dia hanya pelacur. Dan tidak lebih. Ichigo sudah merancang kehidupannya seperti ini. Dia tidak boleh mengacaukannya. Tidak. Hanya saja...
.
.
*KIN*
.
.
Rukia menyandarkan tubuh mungilnya pada dinding kamar mungilnya. Perasaannya masih berkecamuk luar biasa. Tidak menyangka akan ada kejadian seperti itu. Bahwa dia... setelah 10 tahun... bertemu dengan orang itu lagi.
Dan dari apa yang terjadi tadi, sepertinya orang itu benar-benar sudah melupakan siapa dirinya. Orang itu tidak mengenalnya. Oh tidak. Jika orang itu mengenalnya, mungkin Rukia sudah tak ada muka lagi untuk bertemu dengannya. Bisa dipastikan mungkin saja pria itu tak mau lagi bertemu dengannya. Atau mungkin menyesal mengenalnya. Itu pasti. Tapi sayang. Rukia tak bisa melupakan perasaannya sendiri. Meskipun bertahun-tahun berlalu. Perasaan ini masih melekat erat didalam dirinya.
.
.
*KIN*
.
.
" Terlambat datang rapat. Lupa tugas yang kuberikan dan terakhir kau tidak mengangkat teleponku. Apa kau masih sibuk dengan beberapa gadis penghibur itu?"
Dan siang ini ceramah rutin dari wakil presdir yang agung itu menggema ditelinga Kurosaki Ichigo. Diruangan yang luas untuk presdir ini, Ichigo tidak diperkenankan untuk duduk. Tapi hanya berdiri sambil menyilangkan tangannya dibelakang punggung didepan meja presidirnya. Sebenarnya Ichigo diangkat jadi GM diperusahaan ini adalah karena Ichigo memiliki kekasih adik dari wakil presdir ini dan sebagian lagi karena memang kerja keras Ichigo. Tapi tampaknya wakil presdir ini tidak begitu menyukai Ichigo. Karena Ichigo punya catatan jelek tentang kepribadiannya.
Presdir sesungguhnya dari perusahaan ini adalah seorang kakek bernama Kuchiki Ginrei. Tapi karena si kakek mulai sakit-sakitan si cucupun yang menggantikannya. Dialah Kuchiki Byakuya yang terkenal amat dingin dan sangat menjunjung tinggi aturan dan kedisiplinan. Menurut kabar yang beredar, orangtua Kuchiki Byakuya meninggal 10 tahun lalu karena kecelakaan. Entah kecelakaan apa yang menimpanya. Sejak itu, Byakuya jadi pribadi yang keras, dingin dan yah... terlalu kaku untuk seorang pria yang hampir 30 tahun. Yang masih belum punya calon istri. Jangankan calon istri, kekasih saja dia tidak punya. Pasti sangatlah aneh bila dia memiliki kekasih. Pasti kekasihnya tidak akan tahan punya kekasih seperti robot.
" ... jadi apa kau mendengarkanku? Tuan Kurosaki?" sindir Byakuya karena sadar anak buahnya sedang melamun tidak jelas.
" Tentu Pak Byakuya. Aku dengarkan semuanya." Jawab Ichigo malas.
" Kalau kerjamu tidak beres lagi, kau akan kularang bertemu dengan adikku. Kau mengerti! Sekarang keluarlah."
Tanpa banyak bicara lagi, Ichigo langsung membungkuk dan keluar dari ruangan yang seperti neraka itu. Oh Tuhan! Kalau Kau ada tolong gantikan presdir menyebalkan itu! Rutuk Ichigo dalam hati.
Ichigo keluar dari ruangan itu. Setelah keluar dari sana, diarah koridor ruangan presdir itu ada seorang pria yang cukup berumur. Mungkin 40 tahun dengan kacamata dan rambut cokelat yang agak klimis. Pria itu bersama 2 atau 3 orang dengan badan besar yang berotot. Bodyguardnya? Ketika Ichigo dan pria berambut cokelat itu berpapasan mereka saling menatap satu sama lain. Lalu pria berambut cokelat itu tersenyum sinis pada Ichigo. Apa pria itu mengenal Ichigo?
Untuk sesaat Ichigo tak mau memikirkannya. Paling juga pria itu terpesona dengan ketampanan Ichigo. Tapi sayang. Ichigo adalah lelaki normal seperti kebanyakan laki-laki lainnya.
.
.
*KIN*
.
.
" ICHIGO!" seorang gadis berteriak kencang dan langsung menubrukkan dirinya pada Ichigo yang baru saja masuk keruangannya untuk menghirup udara segar pasca ceramah menyebalkan itu. Gadis itu memeluk erat Ichigo seperti tidak mau lepas lagi.
" Senna? Kau disini? Bagaimana kalau Byakuya melihatmu?" kata Ichigo panik sambil melirik kearah pintu masuk ruangannya.
Dia adalah Kuchiki Senna. Adik dari Kuchiki Byakuya. Ichigo sudah mengenal Senna sejak duduk dibangku kuliah. Dan mulai serius sampai sekarang. Awalnya Senna juga sudah tahu siapa Ichigo dan bagaimana Ichigo yang selalu dikerubungi oleh gadis manapun. Tapi perlu dicatat meskipun Senna adalah gadis yang ceria, menarik, percaya diri, pintar, berkelas, dan anggun, dia tetap seorang gadis yang memiliki kecemburuan yang luar biasa. Makanya Ichigo sebisa mungkin tidak menyebut nama gadis lain ketika bersama Senna. Dan Renji, selalu membantu disaat yang sangat genting.
" Aku sudah bilang pada Kakak kalau aku mau mengunjungimu. Jadi tenang saja. Kalau Kakak memarahimu lagi karena aku, aku yang akan bicara pada Kakak! Ichigo! Aku rindu sekali padamu! Ayo kita makan siang..." rengek Senna.
" Tidak bisa. Kakakmu baru saja memberikan begitu banyak tugas padaku. Kalau kali ini aku tidak bisa menyelesaikannya dia akan menggantungku hidup-hidup dan tidak mengijinkanku bertemu denganmu..."
" Apa? Kakak bilang begitu? Keterlaluan! Kenapa dia selalu membatasi aku mau bertemu denganmu kapan... memangnya dia siapa sih!" rutuk Senna.
" Dia kakakmu. Jangan membantah lagi. Kau tak maukan aku mendapat masalah. Pulanglah... nanti malam kita pergi..." kata Ichigo sambil mengelus rambut ungu kekasihnya itu dan berjalan menuju meja kerjanya.
Senna yang tak mau berakhir seperti itu mulai bertindak nakal.
Tanpa Ichigo ketahui, Senna memeluknya dari belakang ketika Ichigo tepat berada didepan meja kerjanya.
" Senna kau─" belum sempat berkata banyak, Senna menjinjit sambil melingkarkan tangannya dileher kekasihnya itu.
Tubuh Ichigo sedikit terbebani karena Senna bersandar sepenuhnya pada Ichigo. Akhirnya Ichigo duduk diatas meja kerjanya dan membiarkan Senna bermain sejenak. Gadis itu mulai liar. Dia mengulum bibir kekasihnya tanpa ampun dan mulai menginvasi lidah sang kekasihnya. Ichigo tak berbuat banyak selain meletakkan kedua tangannya dipinggang ramping sang gadis. Senna terus memperdalam ciuman mereka. Erangan dan desahan silih berganti didalam ruangan itu. Jujur saja, Ichigo bisa saja lepas kendali. Toh ini memang jam makan siangnya. Dan tentu saja tidak akan kenapa-kenapa bukan? Lagipula dia bermain dengan pacarnya.
Ciuman yang tanpa batas itu terus bertambah panas. Tapi, mendadak mata Ichigo terbuka lebar. Ciuman semalam kembali terkenang dalam otaknya. Mata indah gadis itu semalam. Wangi tubuhnya. Rasa bibirnya. Ichigo seolah bisa melihat gadis semalam yang kini berciuman dengannya. Mata indahnya yang menghipnotis Ichigo. Mendadak Ichigo merasa kaku dan aneh. Kenapa gadis ini yang ada didepannya? Bukannya...
Mendadak tangan gadis itu hendak membuka dasi dan kemejanya ketika ciuman itu berlangsung dengan panasnya. Tapi Ichigo langsung menghentikan tangan gadis itu.
" Ichigo?" panggil gadis itu setelah melepas ciuman yang berhenti mendadak itu.
Kali ini ada wajah Senna yang datang. Sialan. Bayangan gadis itu tidak bisa hilang walau sudah lewat semalam!
" Pulanglah. Kita bisa lanjutkan nanti... ok?" pinta Ichigo.
Dan saat itu. Untuk pertama kalinya Senna melihat kejanggalan pada kekasihnya. Hari itu. Kekasihnya menolak dia sentuh.
.
.
*KIN*
.
.
" Tuan Kuchiki bukan pria kaku bukan? Bagaimana kalau negosiasi kita lakukan ditempat yang lebih hangat. Bukankah para lelaki banyak menghabiskan waktu dimalam hari ditempat yang menyenangkan bukan? Kau jangan terlalu kaku sebagai pria. Bertingkahlah seperti pria normal. Aku akan menunggu sambutan baik darimu. Tuan Kuchiki..."
Kuchiki Byakuya mendesah menyesal dalam mobilnya malam ini.
Kenapa dengan mudahnya dia mengiyakan tawaran dari investor itu. Yah dia adalah investor besar untuk proyek Kuchiki selanjutnya. Byakuya sudah tahu bahwa investornya kali ini, Aizen Sousuke adalah pria hidung belang yang selalu haus akan wanita. Dia setiap malam selalu ada dihotel dengan semua gadis yang berbeda. Dan disinilah Byakuya terjebak. Diklub malam dipinggir Tokyo. Sebenarnya ini bukan tugasnya untuk melobi investor seperti ini. Tapi karena ini adalah proyek besar jadi harus dia yang turun tangan. Dan itu sekarang seperti memakan buah simalakama. Jika dia tidak datang maka proyek ini akan berakhir. Jika dia datang, entah pemandangan apa yang akan dilihatnya.
Ini pertama kali dalam hidupnya.
Dan dia adalah bangsawan Kuchiki yang terkenal. Mana mungkin sembarangan masuk kedalam klub aneh begini.
Akhirnya mau tak mau Byakuya masuk kesana dan berdoa semoga saja tidak ada hal aneh.
Dan benar saja. Musik keras, para wanita yang berdandan minim, dan bau alkohol dimana-mana. Kalau saja Byakuya tidak kuat, mungkin dia akan berakhir menyedihkan disana. Byakuya masuk kedalam klub itu dan mulai mencari-cari investor kaya itu. Akhirnya dengan pandangan yang jeli, Byakuya berhasil menemukan pria mesum itu dengan sejumlah wanita dikanan kirinya. Tentu saja sepertinya itu adalah wanita rendah yang menjual tubuhnya. Pakaiannya saja minim begitu. Jujur saja. Byakuya sangat tidak menyukai wanita seperti itu. Baginya wanita pelacur seperti itu tidak layak untuk ada didunia ini. Yang seperti itu hanyalah sampah.
" Oh. Kau sudah datang tuan Kuchiki. Duduklah. Kita nikmati malam sebentar..." panggil Aizen yang sepertinya sudah terpengaruh oleh minuman beralkohol itu. Tanpa banyak bicara Byakuya duduk disana.
" Aku tak punya keinginan untuk menghabiskan malam disini. Sebaiknya... kita tunda pertemuan kita." Ujar Byakuya.
" Hei... ada apa? Kau tidak suka wanita dan minuman? Kita kan pria. Apalagi kau masih lajang. Habiskan waktumu disini. Dan aku akan langsung tanda tangani kontrak itu. Bagaimana?" tawar Aizen lagi.
Byakuya tampak berpikir cukup lama. Banyak gadis dengan pakaian minim dan dandanan yang tidak senonoh mulai mengerubunginya. Ini bisa jadi bencana buruk. Sebaiknya dia pergi. Tidak bisa!
" Maafkan aku... aku akan atur waktu lagi agar kita bisa bertemu. Dan sepertinya bukan ditempat seperti ini." Sahut Byakuya.
Pria itu segera berdiri dan pergi dari sana. Tapi banyak halangan datang. Beberapa gadis tampak menariknya untuk ikut bergabung. Bahkan setelah jauh dari tempat Aizen, gadis-gadis itu masih mengerubunginya. Bahkan sampai menarik jas Byakuya.
Byakuya terbelalak menyaksikan kegilaan gadis-gadis itu. Dia ingin menendang gadis itu atau apapun itu. Tapi dia pria dan tidak pantas melakukan hal kasar pada gadis. Meskipun mereka pelacur atau apapun itu mereka tetap seorang gadis.
Sulit melepaskan diri dari sana. Byakuya ingin berteriak tapi suaranya teredam oleh musik keras itu.
" Lepaskan dia. Kalian tidak lihat dia tidak mau!" tegur seseorang. Bagi Byakuya itu adalah suara penyelamat bagai malaikat untuknya. Untuk sesaat dia bisa bernafas lega bisa melepaskan diri dari gadis mengerikan itu.
" Yuki? Apa maksudmu? Dia kan pelanggan. Yoruichi bilang perlakukan pelanggan dengan baik. Kenapa kau menyuruh kita melepaskan dia?" ujar gadis berambut merah dan berdada besar itu.
" Kau benar. Tapi dia pelangganku! Jadi lepaskan dia dari tangan kotormu itu!" kata gadis yang dipanggil Yuki itu. Gadis berambut hitam dan bertubuh mungil itu sedang memegang rokok ditangannya.
" Apa? Pelangganmu?" kata gadis berambut merah itu lagi.
Yuki, gadis berambut hitam itu melepas rokoknya dan menginjaknya dengan ganas dilantai. Lalu berjalan mendekati gadis berambut merah sambil menarik beberapa helai rambutnya dan menghembuskan asap rokok itu tepat diwajahnya.
" Ya! Kalau sudah mengerti cepat pergi dari pelangganku sial!" kata gadis mungil itu lagi.
Karena kesal, beberapa gadis yang sempat menyerang Byakuya itu melepaskan mangsa mereka dengan kesal. Lalu pergi meninggalkan pria itu dan Yuki.
Gadis mungil itu bersedekap dada sambil tersenyum sinis dan memandang remeh pada gadis-gadis murahan itu. Jelas gadis bernama Yuki itu juga seorang pelacur. Dilihat dari pakaiannya yang minim. Tapi sepertinya dia adalah penguasa diklub ini. Dengan sekali kata-kata semua gadis lain menurut padanya.
" Tuan. Sepertinya kau salah tempat." Ujar gadis bernama Yuki itu sambil memandang geli pada pria dihadapannya.
" Apa?" ulang pria itu.
" Kau seperti pria terhormat. Dan kaku. Apa kau pertama kali datang kemari? Kau begitu lugu." Kata Yuki lagi.
" Apa maksudmu? Jadi kau ingin menarik paksaku seperti gadis-gadis itu untuk menemanimu tidur dan membayarmu?"
Yuki tertawa terbahak seakan baru mendengar lelucon lucu yang sangat lucu. Byakuya sampai termangu menyaksikan tawa gadis itu.
" Maaf tuan. Apa katamu? Tidur denganmu? Jadi kau mau tidur dengan pelacur sepertiku?" tebak Yuki.
Byakuya terbelalak mendengar kata-kata gadis itu. Benar. Gadis ini berbahaya!
Karena tak mendengar kata-kata dari Byakuya, gadis itu melangkah maju mendekati pria itu. Pria itu mundur seiring dengan langkah gadis itu. Lalu mendesak pria berambut hitam panjang itu hingga didinding klub.
" Apa kau takut?" bisik Yuki ditelinga pria itu lagi.
Pria itu langsung berwajah merah merona. Meski didalam klub itu remang, tapi Yuki tahu bahwa pria itu terkejut dengan aksi Yuki tadi. Lalu gadis itu melangkah mundur perlahan.
" Sudahlah tuan. Tak perlu memasang wajah seperti itu. Meski kau tak percaya, dan aku tidak minta kau percaya, aku belum pernah tidur dengan siapapun. Lagipula... pria terhormat sepertimu bukan tipeku. Oh ya... sebenarnya aku bisa saja mengenai harga saat menolongmu tadi. Tapi... berhubung ini pertama kalinya kau datang... jadi kulepaskan. Sampai jumpa tuan..."
Gadis bermata indah itu melambai pada Byakuya.
Detik itu, pertama kali dalam sejarah seorang Kuchiki Byakuya, pria ini sudah terhipnotis oleh mata indah sigadis klub malam itu.
Tapi benarkah apa yang dikatakan oleh gadis itu?
Karena penasaran, dan Kuchiki Byakuya selalu ingin tahu, Byakuya berlari mengejar gadis itu. Mencarinya dikerumunan klub malam ini. Tapi gadis itu hilang bagai ditelan bumi. Banyak gadis disana yang hampir berpakaian sama dengan gadis yang tadi. Kemana gadis itu menghilang. Secepat itukah?
.
.
*KIN*
.
.
Renji setengah mabuk setelah keluar dari klub malam itu. Kepalanya masih berdengung luar biasa. Memang tidak salah dia memilih klub. Klub malam ini meski dipinggir Tokyo memang menyediakan layanan yang menyenangkan. Semua gadisnya cantik dan seksi juga ramah. Seandainya besok tidak ada rapat atau apapun itu yang menyebalkan sudah pasti dia akan tidur dengan salah satu gadis yang menggoda iman itu. Tapi sayang... sebenarnya Renji juga penasaran dengan gadis bernama Yuki itu. Sejak tadi dia mencarinya tapi gadis itu tidak muncul. Baik di bar maupun dipanggung klub itu. Benar-benar deh.
" Abarai Renji?"
Renji terdiam mendengar suara itu. Tidak-tidak. Meskipun dia mabuk tapi mana mungkin dia mendengar suara presdirnya sendiri. Presdirnya bukan pria brengsek. Dia pria baik-baik dikantornya. Mana mungkin ada atasannya.
" Kau... teman Kurosaki kan? Abarai Renji."
Kali ini suara itu jelas didepannya dan pria dingin itu menyapanya. Renji berubah gugup. Mendadak mabuknya hilang dikepalanya. Atasannya memergokinya ada diklub malam!
" Maafkan aku pak! Aku kesini baru kali ini dan aku tidak melakukan apapun! Hanya minum saja! Tolong jangan pecat aku!" ujar Renji nyaris terisak dan menunduk dalam-dalam pada atasannya. Sebenarnya Byakuya juga tidak sengaja bertemu Renji. Baru saja Byakuya akan menyalakan mesin mobilnya dia melihat bawahannya keluar dari klub itu sambil setengah linglung. Sudah pasti dia mabuk. Tapi Byakuya tidak berpikir sampai seperti itu.
" Apa maksudmu? Aku bukan atasan menyebalkan yang ikut campur masalah anak buahnya. Tapi... kau baru keluar dari klub ini?" kata Byakuya. Bagaimanapun dia penasaran.
" Eh... ya tentu saja... ada apa bapak menanyakan hal itu?"
" Apa kau tahu... tentang seorang gadis... Yuki? Itu namanya. Yuki. Dia sering datang keklub ini?" tanya Byakuya.
" Yuki? Oh! Primadona klub ini? Tentu saja! Aku mengenalnya. Sebenarnya belum. Karena aku belum pernah bertemu dengannya secara langsung. Banyak pria yang ingin tidur dengannya. Tapi menurut kabar dia belum pernah tidur dengan pria manapun. Bukankah itu bikin penasaran? Benarkah pak? Setiap pria yang sudah bertemu dengannya tidak akan pernah melupakan kesan pertama dengan gadis itu. Termasuk Ichigo!" kata Renji terus menyerocos.
" Ichigo?" ulang Byakuya.
" Iya! Ichigo! Ahh! Sepertinya kemarin aku saja yang sedang sial. Pria itu kemarin mendapat salam perkenalan dari gadis itu. Tentu saja aku tahu, playboy seperti Ichigo akan penasaran sampai─" tiba-tiba Renji menutup mulutnya.
" Ohh... begitu. Dasar anak muda!" setelah mengatakan hal itu, Byakuya masuk kedalam mobilnya dan melaju pergi.
" Argh! Bisa mati aku dipanggang Ichigo! Kenapa aku mengatakan hal itu! Pasti karena aku mabuk! Sialan!" rutuk Renji.
Sudah pasti kalau Byakuya sampai memenggal kepala Ichigo, Renji yang pertama kali bertanggung jawab!
Didalam mobil, Byakuya terus berpikir. Benarkah gadis itu masih perawan? Atau... tidak pernah tidur dengan siapapun?
Bukankah dia pelacur?
Ada apa denganmu Byakuya? Apa yang kau inginkan dari gadis itu...
Didalam benaknya Byakuya berjanji. Kalau sampai dia bertemu dengan tidak sengaja dengan gadis itu lagi, dia akan berusaha mengenalnya. Mengenal seorang Yuki. Gadis bermata indah yang berhasil mengusik hati seorang Kuchiki Byakuya.
.
.
*KIN*
.
.
Continue...
.
.
gimana Minna? masih aneh bin galau?
hahahaaha...
boleh curhat? *pakenanya*
sebenarnya ini adalah kisah galau saya. emang belum kelihatan. ntar chap depan baru kelihatan.
tapi yang klub malam, atau cewek yang gak bener itu bukan loh. cuma dramatisir aja.
hheheeheh
memang dalam pengerjaannya saya masih tergolong baru dan sedikit kikuk untuk menulis hal-hal vulgar.
jadi tulisan saya mungkin agak kurang dimengerti. tapi saya maklum kok... hehehe
semoga dengan review dari senpai bisa membuat saya tambah pede untuk nulisnya.
ok deh... balas review dulu...
Hy-Chan : nih udah update, makasih udah review.
Ame Kuroyuki : heheeh makasih udah review. iya Rukia lum pernah tuh. diusahain deh... hehehehe
Kyucchi : heheheeh iya dong secara Ichigo kan playboy cap kakap tuh... hehehe makasih udah review.
corvusraven : Dsini kayaknya Byakuya jadi pemeran cowok deh. habis kayaknya bosen sih Byakuya jadi kakak yang baik melulu. jadi saya ganti suasana aja. makasih udah review. heheheeh
Zanpaku nee : hehehe iya nih. cuma bikin suasana baru aja. sayangkan kalo Byakuya cuma jadi kakak yang baik mulu. jadi sekali-kali jadi pemeran cowok untuk Rukia juga. gak kok. adiknya Byakuya gak jadi primadona apapun. cuma adik manja yang seenaknya *wuah* heheeh makasih udah review.
RiruzawaStrife Hiru15 : makasih reviewnya. ok deh saran ditampung. tapi kayaknya kebiasaan sulit hilang. jadi harap bersabar aja ya kalo tulisannya masih jelek. heheheeh makasih reviewnya sangat berharga kok! hehehe'
Voidy : makasih reviewnya. jujur aja. tiap kali senpai Voidy yang review fic gaje saya, saya langsung deg-degan gitu. apanya yang salah ya? apanya yang kurang ya? heheehe gitu. tapi sesuai dengan review senpai, saya kurang banyak ngerti tentang cara menulis yang benar. hehehe jadi saya seringkali menulis apa yang saya dengar dan apa yang saya pikirkan. maaf kalo masih banyak kekurangan dan berantakan. akan saya usahakan perbaiki. heheeh makasih sama review berharganya ya... heheh
done!
ok deh... review berharga senpai sangat ditunggu untuk kelanjutan fic ini. apa layak lanjut ato nggak.
review senpai sangat bergantung dalam pembuatan fic ini. biar saya semangat menulisnya.
Jaa nee!
