broken chapter 2

Chapter 2 update. cepet kan? cepet banget malah.

gak usah banyak bacot dari author, silahkan baca.

RnR please :)

Hari masih gelap, aku sudah membuka kedua langit dimataku. Kulirik jendela kamarku yang tak tertutup tirai, benar-benar masih gelap.

Hanya terlihat secercah cahaya dari arah timur, cahaya dari matahari yang sedang mengambil ancang-ancang untuk terbit. Kini mataku memandang sebuah jam besar yang tertempel di dinding kamarku.

05.00

Ahh, jam 5 pagi.

Kini aku tak bisa melanjutkan tidurku lagi. Naruto yang memiliki kebiasaan bangun disaat matahari telah berada tepat diatas Konoha. Kini. . . Arghh, aku rindu Naruto yang pemalas itu.

Lalu, sekarang apa yang bisa kulakukan sepagi ini. Emm, sebaiknya aku keluar hanya untuk melihat Konoha di pagi hari.

Sepertinya menarik.

Aku mengambil jaket kuningku dari lemari dan segera mengenakannya.

Aku melangkahkan kakiku tak tentu arah. Selama masih di Konoha, aku tak peduli harus pergi kemana.

"Hyaa!" aku tersentak saat mendengar suara itu.

Sepertinya aku mengenal suara itu. Asalnya dari arah barat, tepat di lapangan yang kemarin ditunjukan oleh Guru Kakashi. Sebuah senyum terukir di bibirku saat melihat siapa yang tengah berdiri di lapangan.

Hyuuga Hinata.

Ia sedang berlatih, seperti yang ia lakukan kemarin. Tanpa ragu aku melangkah kearahnya.

"Hinata." aku memanggilnya, menyebut namanya yang indah.

"Ehh?" ia terkejut dengan kehadiranku, hingga ia terjatuh dengan posisi duduk di tanah.

Wajar saja ia terkejut, kemunculanku yan tiba-tiba ini bagaikan setan.

"Hinata. ini aku, Naruto." ucapku meyakinkannya.

"Naruto?" tanyanya seraya berusaha untuk berdiri.

Aku tertawa.

"Ternyata kau, Naruto. Kau mengagetkanku." ucapnya sembari tersenyum. Aku mengamati wajahnya yang letih namun tetap terlihat cantik. Ya, cantik.

"Ada apa, Naruto?" ia menghentikan lamunan singkatku.

"Aku hanya ingin menemanimu berlatih. Boleh tidak?" ujarku dengan spontan dan tenang. Aku sama sekali tidak berpikir untuk berlatih saat subuh begini. Tapi aku ingin menemaninya.

"Um, te. . .tentu saja boleh." sahutnya dengan sedikit malu. Aku melirik ke arah timur. Langit yang tadi hitam, kini terlihat berwarna merah kekuning-kuningan.

"oh iya, aku ingin melihat matahari terbit. Temani aku ya." kataku kepada Hinata yuang seketika wajahnya memerah.

"Tentu saja" sahutnya. Aku menggerakan bola mataku ke segala arah, namun tak juga kutemukan apa yang kucari. Sebuah tempat yang tinggi sebagai tempat untuk menyaksikan sang Surya yang sebentar lagi bangun. Aku kecewa saat tak menemukan gedung tinggi di dekat sini.

"Em, Hinata. Bagaimana ini? Kita-"

"Dari atas pohon saja" ujarnya memotong kalimatku. Ia benar-benar telah mengerti maksudku bahkan sebelum aku mengatakan apapun. Tak kusangka sejauh ini ia mendalami perasaanku.

"Kau benar, Ayo." kami melompat ke puncak sebuah pohon besar yang rindang. Pohon ini cukup tinggi dan juga kuat. Dengan seksama, kami amati Mentari yang perlahan menyembul dari balik bukit. Sebuah pemandangan yang indah Maha Karya Sang Pencipta. Aku melirik kesamping, menatap wajah Hinata yang berseri bagaikan Surya dihadapan kami ini.

"Kyaa!" tiba-tiba ia berteriak, langsung aku sadari bahwa ranting yang ia pijaki ternyata patah, dan hal itu membuat keseimbangannya menghilang. Dengan sigap aku menangkapnya, melilitkan kedua tanganku di pinggangnya, agar ia tak terjatuh. Wajah kami bertemu, bisa kulihat dengan jelas wajah cantiknya yang bersemu merah. Aku mendengar detak jantungnya saking dekatnya posisi kami saat ini. Cantik, manis, anggun, lemah lembut, baik, apa yang kurang dari gadis lavender ini? Apa?

Ia sempurna.

Ia Bersinar.

"Na. . .Naruto. . ." bisiknya dengan suara sangat pelan namun cukup untuk membuatku menyadari bahwa kami belum merubah posisi.

"Ohh, maafkan aku." Kataku sembari melepaskan lilitan tanganku dari pinggangnya. Ia sudah mendapatkan keseimbangannya kembali.

"Terimakasih" ucapnya lembut seraya tersenyum tulus. Aku sedikit memalingkan wajahku, saat aku menyadari ada sedikit rasa gugup yang menghampiriku saat aku melihat senyumnya.

"Oh ya, ayo kita berlatih bersama." aku mencoba mengalihkan pembicaraan sebelum ia menyadari perubahan reaksi wajahku. Ia mengangguk yakin.

Huh. Lelah juga, baru berlatih selama 5 jam saja aku sudah merasa lelah. Terpaksa aku meninggalkan Hinata yang masih berlatih seorang diri di lapangan itu.

Oh iya, sudah jam 10 pagi, aku belum sarapan. Bagaimana dengan Hinata, jangan-jangan dia juga belum sarapan. Gawat, nanti dia bisa sakit.

Segera aku berlari ke lapangan tempat Hinata berlatih.

"Hinata! Hinata!" aku memanggilnya setengah berteriak dan berlari sekuat tenaga kearahnya.

"Ada apa Naruto? Ada masalah apa?" tanyanya dengan nada sangat cemas.

"Gawat, ini gawat." kataku sembari mengatur nafas yang masih tak beraturan. Hinata serius menatapku dan wajahnya menampakan kecemasan.

"Ada apa ini? Ayo katakan."

"Hinata, apa. . Apa kau sudah sarapan?" spontan pertanyaanku langsung membuat alisnya berpaut. Ia mendengus.

"Kukira apa." celetuknya dengan sedikit sebal.

"Hahaa, ayolah Hinata. Kau pasti belum sarapan kan? Ayo kita pergi ke Ichiraku Ramen!" seruku penuh semangat sambari menarik tangannya dan membawanya pergi bersamaku. Sedangkan aku dengar suara tawa kecil darinya yang berjalan dibelakangku, dan tangan kirinya masih di genggamanku.

Aku senang bisa membuatmu bahagia, Hinata.

"Hey, sedang apa kau?." suara yang indah namun terkesan galak itu menghentikan langkahku saat aku dalam perjalanan menuju rumahku. Aku membalikan badanku, tepat dugaanku, Sakura.

"Memangnya kau tidak lihat aku sedang berjalan. Untuk apa kau tanya lagi."

"Naruto Bodoh." ucapnya seraya tertawa lepas.

Aku mengernyitkan dahiku.

"Aku tahu aku bodoh, dan orang itu yang paling pintar. Ya kan?" kataku seraya menunjuk seseorang yang berjalan mendekati kami dengan gayanya yang lambat dan terkesan dingin. Sakura menoleh kebelakangnya, wajahnya berseri saat melihat siapa yang datang.

"Sasuke!" serunya girang.

"Apa yang kau lakukan disini, Dobe?" suara dari si pemilik rambut model pantat ayam itu masih sedingin yang dulu.

"Kalian berdua sama saja." aku melirik mereka berdua secara bergantian.

"Sama-sama menganggapku orang paling bodoh sedunia. Kalian sama saja!" ujarku dengan suara lantang dan segera pergi meninggalkan mereka yang masih mematung disana.

Apa?

Kalian heran?

Aku yang seharusnya heran.

Kalian berdua tentunya ingat, aku yang mengalahkan ketua Akatsuki, aku yang menyelamatkan desa Konoha. Tapi kalian masih saja berpikir bahwa Sasuke yang terbaik dari segi apapun.

Egois.

Egois.

Aku beranjak ke Gedung terbesar di Konoha, Gedung Hokage yang baru saja selesai diperbaiki setelah hancur akibat perang. Aku memasuki ruang Hokage, dan terlihat disana Nenek Tsunade, Kak Shizune dan Hinata. Kenapa aku bertemu Hinata lagi. Aku senang tapi. . .

"Ada apa Naruto?" Nenek Tsunade menyadari kedatanganku ini ingin meminta sesuatu. "

Apa sudah ada Misi kelas S?"

"Tidak." Nenek menjawab dengan tegas sesuai dengan posisinya sebagai Hokage. Aku mendengus kesal.

"Berapa bulan aku harus menunggu agar misi itu datang?"

"Tenanglah Naruto, Jika ada permintaan misi kelas S, kau pasti orang pertama yang aku panggil."

"Aku pegang janji nenek. Awas saja jika misi itu jatuh ketangan Sasuke. Aku tidak sudi." aku membalikan badan dan siap untuk meninggalkan kantor Hokage.

"Ayo Hinata, katakan saja." bisik kak Shizune saat aku sudah menggenggam kenop pintu.

"Ta. . .tapi aku tidak. Tidak. . ." gagap Hinata muncul lagi. Pasti ada sesuatu yang berhubungan denganku. Sebaiknya aku segera pergi.

"Kejar dia, Hinata." kini Nenek Tsunade yang mendukung Hinata. Memangnya ada apa?. Seolah tak peduli, aku melangkahkan kaki menjauhi gedung Hokage

"Tunggu, Naruto." panggilan Hinata membuatku terpaksa menghentikan langkahku diluar gedung Hokage. Aku sedang ingin beristirahat. Ayolah Hinata, tak bisakah kau mengatakannya besok saja. Ah, tidak, aku penasaran dengan apa yang ingin ia katakan.

"Naruto, aku ingin bicara." aku menunggu.

"Aku. . .Aku. . ."

"Naruto!" suara gadis lain membuat kami menoleh kearah asalnya suara itu. Seorang gadis berambut pirang panjang yang terikat, yang poninya menutupi sebelah matanya, bermata biru kehijauan, sedang berlari kearahku.

"Ada apa, Ino?" tanyaku penasaran.

"Sakura ingin bicara denganmu. Ia menunggumu di taman." katanya seolah menyampaikan pesan dari Sakura.

"Tunggu dulu, Hinata, apa yang akan kau katakan tadi?"

"Naruto, kau tidak ingin Sakura marah karena menunggumu terlalu lama kan?" Ino terlihat berada dalam suatu ancaman. Huh, ya, jika Sakura marah, semua orang pasti takut.

"Sudahlah Naruto, temui saja Sakura." ucapan Hinata sedikit mengejutkanku.

"Lalu, bagaimana dengan hal yang ingin kau katakan tadi?"

"Nanti saja, lagipula hal ini tidak terlalu penting." ia tersenyum manis seperti biasa. Namun aku bisa melihat semburat kekecewaan dalam matanya.

"Ayo cepat!" geram Ino seraya menarik tanganku menjauhi Hinata.

Disana, di bangku taman, terduduk seorang gadis cantik dengan rambut merah muda sebahu yang tergerai indah. Mata hijau emelardnya yang berkilau itu menatapku, memberi isyarat agar aku mendekat.

"Naruto." ia berdiri dari posisi duduknya saat aku datang mendekatinya.

"Ada apa?" tanyaku heran.

Tak biasanya ia memasang wajah memelas seperti itu.

"Maafkan aku. Aku tak bermaksud membuatmu marah. Maaf kan ucapanku dan Sasuke tadi siang."

"Oh hanya itu. Sudahlah lupakan saja. Aku tidak marah. Lagipula aku tahu kalian hanya bercanda, benar kan?" aku berusaha bersikap santai.

Sakura menundukan kepalanya.

"Aku minta maaf." "sudah kukatakan bah-"

"Ini bukan masalah tadi siang lagi Naruto. Aku membahas topik lain." ia memotong kalimatku, dan hal itu membuatku mengernyitkan dahiku.

"Maaf untuk?"

"Maaf karena aku lebih memilih Sasuke."

Aku menghela nafas panjang. Panjang sekali, hingga membuat dadaku terasa sedikit sakit, dan nafas itu kuhembuskan perlahan seirama dengan tiupan semilir angin yang membelai lembut diriku.

"Untuk apa?" sebuah senyum tipis menghiasi wajahku.

Sakura menatapku dengan tatapan mata yang seolah bertanya, apa maksudmu?. Namun ia hanya diam, terpaku seraya terus menatapku.

"Cukup Sakura, kau sendiri tahu bahwa aku tisak menyukai topik bahasan kita saat ini. Kenapa kau masih membahasnya? Hanya membuang waktu, kau tau itu?" aku merasa sikapku ini terlalu parah, bahkan lebih parah dari sikap Sasuke biasanya. Apa sikap 'sok keren' nya itu menular padaku. Hal yang selama ini paling kubenci, ternyata kini berdiam di dalam diriku.

"Naruto, bukankah kau. . ." Ia tak melanjutkan kalimatnya, mencoba menemukan kalimat yang tepat, mungkin.

"Ya, aku menyukaimu. Puas?" ucapku kasar.

Tapi itu dulu, Sakura.

Itu dulu. . .

TBC

err, maaf ending chapter 2 ini jadi terkesan NaruSaku.

Tapi sabar pemirsa, Naruhina emang belum keliatan. Kalo pingin liat Naruhina, tunggu chapter depan.

Okey? Sekarang, Balesan review:

1. Namikaze-Tania-chan

makasi udah review. Nyelamin DVD? Emangnya laut pake diselamin? Hahaa. Death chara? Iya nih ada. Tapi rahasia siapa yang death. Sarutobi, gak usah dimintapun emang udah mati. Di fave? Waah, makasi, jadi malu. Oh ya, ayo lestarikan Naruhina.

2. Hayate Senichi 'D

oke, aku usahain update kilat. Makasi :)

3. The portal Transmissiom-19

Perasaanmu gak enak ya? Baguslah kalo gitu *ditendang* waah, romantis ya? Makasi ya, itu keromantisan yang tidak disengaja *plak*

Ichizora

Like? Waah makasi bgt. Iya nih ada Death chara, biar ceritanya gak datar. Biar ada sedih-sedih dikit gitu.

5. Senju Miru05

Iya, ada death chara, Naruto gak ya? Ikuti aja terus ceritanya (readers: enak aja) salam kenal juga ya. Di Fave? Kyaaa! Makasi banget -bersujud-

6. Haruno Aoi

Makasi banyak ya. okey, saya coba biar bisa update asap.

7. Frezz walker a.k.a Behemoth

ini udah jadi lanjutannya. hehee

Waah, makasi ya buat yang udah review, soal Death chara itu, saya kasi tau deh. Sini mendekat. Yang mati itu adalah. . .

Adalah . . .

Baca aja terus. *dikeroyok warga Konoha(?)* di chap 4 kebongkar kok siapa yang mati. Hiks :'(

review please (~`o`)~ ~(`o`~)