"Kau adalah makhluk terkutuk!" sebuah nada gertakan diluncurkan dari mulut pemuda bermandikan cahaya itu kepada sosok yang diselimuti kabut aura hitam.
"Cih! Dasar makhluk sok suci!" Balasnya. "Apa itu saja gertakanmu?"
Kedua pedang berbahankan metalik itu saling beradu. Saling menghilangkan batas margin yang seharusnya terlarang untuk dihancurkan.
Dan kini mereka telah menghancurkannya.
Bukankah kebaikan dan kejahatan saling berseteru?
TRANG!
Bunga-bunga api keluar dari pedang yang beradu itu. Mereka saling beradu untuk meneteskan darah dari lawannya. Terus meminta salah satu tumbal diantara mereka berdua.
Sementara itu, kedua kubu saling menumpahkan darah untuk mendukung pemimpin mereka masing-masing.
Gerhana bulan masih menyelimuti sebagian kecil belahan bumi dengan kegelapan.
Kini warna cincin kemerahan itu seperti darah yang menghiasi langit kelam.
#
Hetalia Axis Powers © Hidekaz Himaruya
Luminous Prince © Eka Kuchiki
#
Pemuda itu memutar bola matanya, "Hah! Itu pasti cuma alasanmu saja agar bocah ini bisa bebas masuk ke dalam kubu ini!"
"Dasar. Kau masih saja tidak mau mengakui kalau aku lebih peka dalam melihat aura seseorang." balas remaja itu dingin.
Anak kecil bermata biru itu hanya menatap kedua orang itu dengan heran. Sejak tadi, kedua orang itu saling beradu argumen. Padahal mereka satu kubu.
"Norge!" sebuah suara memanggil pemuda itu.
Pemuda itu hanya mendengus kesal, "Dasar anko uzai," gerutunya. "Mengganggu saja."
Kemudian mata violetnya menatap remaja bermata hijau dihadapannya, "Kali ini kau bebas, Arthur," katanya sinis. Kemudian dengan angkuhnya ia membalikkan badannya hingga jubahnya berkibar. Remaja yang dipanggil Arthur tadi hanya mendelik kesal.
Anak kecil itu menarik jubah Arthur, "Kak Arthur, kenapa kakak marah-marah dengan kakak itu?" tanya anak itu. Pertanyaan yang polos—layaknya anak kecil.
Arthur menatap anak itu, "Dia itu menyebalkan, Alfred," jawabnya. "Hei! Sudah kubilang berulang kali, jangan panggil aku 'kak'!"
"Tapi kau kan lebih tua dariku!" tukas Alfred. "Apa kau mau kupanggil 'paman'?"
"Apalagi itu, git!"
Rusaklah sudah image gentleman Arthur. Semua gara-gara bocah manis bernama Alfred.
Anehnya, Alfred tidak ketakutan melihat amarah Arthur—ia malah tertawa melihatnya.
"Aku tahu kau harus dipanggil apa!" seruan Alfred mau tak mau membuat telinga remaja bermata hijau itu menatapnya.
"Kau lebih pantas dipanggil Iggy!" teriak Alfred sambil menyunggingkan senyum polosnya.
"BLOODY HELL! PANGGIL SAJA AKU ARTHUR!" teriak Arthur kesal sambil menjambaki rambut pirangnya. Kesabarannya sudah diambang batas.
"Kenapa kau menjambaki rambutmu?" tanya Alfred polos.
Arthur menarik tangan Alfred dengan kasar. Membuat bocah itu meringis kesakitan.
Sebenarnya Arthur tidak tega menyakitinya, tapi kali ini ia sedang dilanda bad mood. Dan Alfred sebagai pelampiasannya.
Ia merasa bersalah.
Dengan gerakan perlahan, ia melepas tangan Alfred kemudian menggandeng tangan mungil itu—dengan lembut.
"Sekarang kita akan ke kamarmu."
Arthur menggandeng tangan mungil itu ke suatu tempat.
.
Alfred memandang kagum melihat kamar yang disediakan untuknya. Kamar yang disediakan untuknya cukup luas. Dimana lantai keramik berwarna putih susu dan dinding kamar yang berwarna biru laut. Warna yang cocok bagi anak seperti Alfred.
"Aku—boleh tinggal disini?" tanya Alferd ragu-ragu.
Arthur menatap bola mata warna langit itu, lalu menganggukkan kepalanya.
"Wow! Thanks!" teriak bocah hiperaktif itu girang sambil menaiki kasurnya lalu melompat diatas kasur. Arthur hanya mendengus pelan melihat kelakuan bocah yang baru saja ditemukannya itu.
Entah apa alasannya memilih—lebih tepatnya menyeret— anak yang masih polos itu untuk masuk ke dalam dunia kegelapan.
#
Ia berjalan sendirian. Dengan mengenakan pakaian layaknya rakyat biasa, orang-orang tidak akan curiga dengan identitasnya yang sebenarnya.
Sampai ditengah jalan, ia melihat seorang anak kecil berlarian kemudian menubruknya hingga terjatuh.
"Ups! Maaf—" kata anak kecil itu.
Mata hijau miliknya bertemu dengan mata biru anak itu. Entah apa yang merasukinya untuk melihat aura anak kecil itu.
'Mustahil…'
Mata hijau itu mengerjap tak percaya ketika melihat aura anak itu. Memang warna aura anak itu masih bercampur dengan warna lainnya. Tapi ada satu warna yang begitu mencolok.
Biru.
Warna aura yang memiliki kekuatan sebanding dengan aura abu-abu.
Aura terkuat kedua yang dimiliki kubu putih—Angel Salvation. Sementara kekuatan auranya—kelabu— juga merupakan aura terkuat kedua di kubu hitam—Darth Saint. Dengan kata lain, kekuatannya sebanding dengan anak kecil ini.
Karena suatu saat nanti, anak kecil itu akan melawannya. Sementara dirinya tak mau melawan anak kecil ini—meskipun ia tak tahu alasan pastinya.
Ini tidak bisa dibiarkan!
#
"Arthur!" teriakan nyaris ultrasonic itu membuat dirinya tersadar.
Ternyata dirinya melamun. Ah, sudah berapa lama ia melamun?
"Mengapa kau terdiam?" tanya Alfred khawatir. "Apa kau sakit?"
Arthur hanya menggeleng, "Aku pergi dulu sebentar." Katanya.
"Kemana?"
Pertanyaan itu tak dijawab oleh remaja berambut pirang itu. Ia melangkahkan kaki keluar dari kamar itu. Meninggalkan anak kecil itu sendirian.
Antonio sedang memasak di dapurnya yang tak begitu besar. Tangannya begitu cekatan memotong tomat menjadi potongan dadu kecil.
Sementara itu, Lovino menunggunya dengan pipi menggembung. Ingin sekali Antonio mencubit pipi putih itu. Antonio melirik kearah anak berambut coklat itu.
"Ngapain kau lihat-lihat, bastard!" bentak Lovino dengan wajah memerah.
Ekspresi wajah itu membuat dahi Antonio berkerut. Ekspresi wajah itu mirip dengan…
#
Bruk!
Tubuhnya menabrak seorang remaja berambut pirang.
"Ma—"
"Kau tidak punya mata, ya?" kata remaja itu tajam.
"Hei! Aku kan tidak sengaja—" Mata hijaunya membelalak saat ia menatap remaja dengan mata yang identik didepannya.
Ini aneh, dia tidak mabuk tomat pagi ini kan?
Tidak—dia tidak mabuk tomat. Ia yakin bahwa matanya tidak salah melihat.
Mengapa pipi remaja itu memerah?
Ingin rasanya ia terkikik melihat ekspresi wajah yang tak sinkron dengan ucapannya—namun ditahannya dalam hati.
Remaja berambut pirang itu hanya mendengus pelan lalu pergi meninggalkannya.
#
Antonio menghapus bayangan itu dari otaknya. Menyebalkan! Mengapa memori seperti itu yang keluar dari otaknya?
'Tapi aku penasaran,' batinnya. 'Siapa dia? Apa dia penduduk baru di daerah ini?'
.
Antonio memandangi Lovino yang sedang memakan paella. Ia tersenyum melihat wajah yang imut itu tampak menikmati paellanya.
"Setelah kau menghabiskan makananmu, aku akan mengantarmu pulang." kata Antonio.
Anak itu berhenti menyuap.
"Pu—Pulang?" tanyanya tergagap.
"Iya," jawab Antonio singkat. "Memangnya ada apa?"
Lovino tidak menjawab. Mata ambernya mulai berkaca-kaca.
Antonio kebingungan melihat ekspresi Lovino, "Kau—kenapa?"
Lovino menggenggam erat bajunya, "Kakekku... baru saja meninggal," jawab Lovino pelan. Bulir air mata mengalir di pipi putihnya. "Aku... tak tahu harus tinggal dengan siapa..."
Antonio menatap iba Lovino. Ia mendekati Lovino. Kemudian ia berlutut dan mengusap kepala anak itu.
"Tenang, Lovi," Antonio mengusap kepala Lovino dengan lembut, berusaha menenangkan anak kecil yang masih terisak itu.
"Kau boleh tinggal bersamaku kalau kau mau."
Pernyataan Antonio tadi membuat Lovino menghentikan tangisnya lalu menatap sang pemilik mata hijau itu.
"Kau—serius?"
Antonio mengangguk pasti. Senyum tulus terulas di bibirnya.
"Orangtuaku sudah meninggal," jawab Antonio. "Jadi aku tinggal sendiri disini."
Ketika dirinya membelai rambut Lovino, terdengar suara pintu terbuka.
"Hei! Siapa itu?" teriak Antonio. Ia menggendong Lovino lalu mendekapnya dengan erat.
"Dasar tidak awesome! Ini kan aku!"
Awesome? Berarti—
"Gilbert! Francis! Kenapa tidak ketuk pintu dulu?" seru Antonio kesal. Siapa juga yang kesal kalau ada orang yang masuk ke rumahmu tanpa mengetuk pintu dulu.
"Kau yang tidak awesome!" bentak Gilbert. "Suaraku yang awesome ini sampai habis gara-gara meneriakkan namamu! Kau sedang apa sih?"
"Sudah, sudah," Francis melerai mereka berdua. "Tadi Gilbert langsung masuk ke dalam, makanya aku susul—"
Bugh!
"Ouch!" Antonio memegangi perutnya yang sakit. Lovino melepaskan diri dari pelukan remaja berambut coklat itu.
"Wow! Headbutt yang awesome!" seru Gilbert. Francis langsung menyikut Gilbert.
"Pelukanmu itu terlalu erat, bastard!" teriak Lovino. "Aku nyaris mati kehabisan nafas!"
"Mon cher, kau tidak apa-apa kan?" tanya Francis sambil merentangkan tangannya—bersiap untuk memeluk.
Gilbert –yang melihat gelagat Francis— langsung menarik tubuh sahabatnya yang mesum itu. "Hei! Dasar tidak awesome! Kalau mesum jangan disini!" serunya—membuat Francis sukses pundung di pojokan.
Kemudian mata rubi Gilbert beralih ke Lovino, "Siapa kau?" tanyanya.
"Ada perlu apa kau menanyakan diriku?" balas lovino dingin.
"Dasar gak awesome!" seru Gilbert. "Kau ini tidak pernah diajarkan tata krama ya?"
Akhirnya Gilbert dan Lovino saling beradu mulut. Membuat Antonio dan Francis berfacepalm ria.
"Ternyata Gilbert bisa akrab juga dengan anak kecil, ya." ujar Francis.
"Ngaco kamu!" seru Antonio. "Yang kayak gitu dibilang akrab?"
Pernyataan polos dari Antonio itu membuat Francis gemas. Ingin rasanya ia meraep pemuda berkulit coklat itu.
"Antonio! Dirimu polos sekali! Gak ngerti majas ironi ya?"
Malam hari ini begitu indah. Lengkungan bulan sabit itu seperti senyuman. Bintang-bintang itu bagaikan sebuah permata yang bertebaran dilangit.
Mata amber Lovino setengah terbuka, sudah dua kali ia menguap.
"Uahem..."
Dan itu yang ketiga kalinya.
"Sudah saatnya kau tidur," Antonio menarik selimut lalu menyelimuti Lovino.
"Tapi aku tak mau tidur!" tukas Lovino. Sifat tsundere dan keras kepalanya mau tak amau membuat Antonio menahan tawanya.
"Ya sudah, aku akan menemanimu sampai kau tertidur."
Antonio duduk disamping Lovino lalu menyanyikan lagu tidur berbahasa Spanyol. Suara lembut milik Antonio membuat pelupuk mata Lovino semakin berat, kemudian membawa anak mungil itu ke dalam alam mimpi.
Antonio menyelimuti tubuh mungil itu perlahan, lalu mengecup dahi Lovino dengan lembut.
"Selamat malam, Lovino."
12 tahun telah berlalu.
Remaja yang dulu masih ingusan dan belum mengenal dunia kini telah menunjukkan taringnya.
Antonio Fernandez Carriedo.
Kini dia adalah seorang pemuda tampan yang genap berusia 25 tahun. Meskipun begitu, dia terlihat seperti remaja. Sifatnya yang periang—bahkan terlalu periang— membuatnya terlihat lebih muda.
Seperti Antonio, Lovino Vargas—anak yang diangkatnya menjadi adik angkat— juga tumbuh menjadi seorang remaja yang tampan. Sama seperti kakak angkatnya, Lovino tak pernah berubah. Sifat tsundere memang melekat erat di dalam jati dirinya.
Mereka masih seperti dulu.
Tapi lebih banyak perubahan pada diri mereka. Setidaknya salah satu dari mereka yang telah berbeda.
Lovino kini dapat mengendalikan angin. Menerbangkan benda-benda sesuka hatinya. Bahkan ia dapat menerbangkan benda yang lebih berat dibanding berat tubuhnya sendiri.
Ya, dia adalah pengendali angin. Lebih tepatnya, dia adalah pemilik aura hijau.
Setidaknya ia dapat melindungi dirinya sendiri dari bahaya.
Tapi terkadang hal itu membuat sang kakak angkat merasa iri.
Karena ia tak mempunyai kekuatan aura apapun untuk melindungi siapapun.
Termasuk dirinya sendiri.
Di siang yang cerah—dan panas menyengat— seharusnya ini menjadi waktu yang tepat Lovino untuk siesta. Namun sialnya, ia masih belum menemukan pemuda maniak tomat itu untuk menggantikan tugasnya memanen tomat.
Dan kini tubuhnya tengah terpapar sengatan matahari. Jelas tidak mungkin ia berharap tanaman tomat itu meninggi dan melindungi tubuhnya dari sengatan matahari.
Dimana sih, si bodoh itu?
"Lovi!" Antonio memeluk Lovino dari belakang. Senyum manis pemuda berkulit coklat itu terukir dibibirnya. Semburat merah kini menjalari pipi Lovino.
"Tomato bastard! Lepaskan aku!" bentak Lovino. "Atau kau mau kuterbangkan seperti kemarin?"
Oke, penyakit tsundere Lovino kumat lagi.
"Nggak deh, sudah cukup," Antonio tidak mau dirinya diterbangkan oleh pusaran angin buatan Lovino dan membuat dirinya mendarat tidak selamat diatas pohon.
Lovino mendengus kesal. Antonio memetik beberapa buah tomat dan memasukkannya ke dalam keranjang yang telah terisi sebagian.
"Kelihatannya kau semakin kuat," ujar Antonio sembari memetik buah tomat yang ranum.
Mata amber Lovino menatapnya dengan curiga, "Memangnya kenapa, bastard?"
"Hanya berkomentar saja." Jawab Antonio.
"Dasar aneh!" cibir Lovino. Ia memetik buah tomat disamping kirinya lalu memasukkannya ke dalam keranjang.
Antonio tersenyum hambar. Hal itu membuat Lovino mengerutkan dahinya.
"Kenapa lagi? Kau habis mabuk tomat?"
'Seandainya saja aku bisa melindungimu...'
"Bukan—bukan apa-apa!"
Pernyataan yang berada diotaknya gagal disampaikan kepada Lovino.
Setelah itu, Antonio tidak berkomentar apa-apa lagi.
'Tomato bastard, kau menyembunyikan sesuatu dariku!' batin Lovino sambil menatap tubuh pemuda berambut coklat itu kembali menyibukkan dirinya dengan memetik tomat.
'Kenapa?'
Ditempat lain, seorang remaja bermata biru dan poni mencuat sedang menghentakkan kakinya, dan membuat tanah yang dihentaknya terbelah.
Dibelakangnya, pemuda berambut pirang berantakan itu melihat teknik sang remaja. Ia mengangguk sekali jika teknik yang dilakukan remaja itu benar.
Arthur Kirkland menatap adik angkatnya, Alfred F. jones. Ia masih tak mengerti mengapa tubuh remaja itu bisa lebih tinggi dibandingkan dirinya?
Ya, lebih tepatnya remaja itu adalah adik angkatnya.
Remaja yang dulunya hanya anak polos yang hiperaktif.
Padahal perbedaan umur mereka nyaris 8 tahun. Apakah anak itu kelebihan kalsium?
Kali ini pikiran Arthur tidak lagi terfokus pada masalah tinggi badan. Pikirannya kembali mundur saat usia Alfred menginjak 12 tahun.
#
Ia tak sanggup melihat penderitaan remaja itu. Usianya yang masih sangat muda...
"Sakit..." rintih remaja itu pelan—namun terdengar ditelinganya.
Rintihan itu benar-benar mengiris hatinya, mengoyakkan lapisan hatinya hingga mengeluarkan darah.
Sementara itu,sang pengubah aura—sekaligus orang yang dipanggil Dark Lord— itu tak bergeming dengan semua rintihan itu. Malah senyumnya semakin sadis saat tangannya bisa mencengkram leher remaja itu.
Proses yang sangat menyakitkan untuk mengganti aura birunya menjadi aura yang baru.
Aura yang sama dengan warna miliknya.
Tapi, bagaimana dia bisa bertahan mendengar semua rintihan itu? Apalagi remaja bermata biru itu kini meneteskan air mata—saking tak tahan oleh rasa sakitnya.
'Bertahanlah, Alfred...' batinnya.
Namun pemilik mata biru yang tengah kesakitan itu tak bisa mendengarnya.
'...Sebentar lagi proses pengubahan auramu akan selesai,'
Tapi ia tetap memasang wajah tegar. Membiarkan remaja itu tetap menjerit kesakitan.
' Bertahanlah...'
#
Otaknya memutuskan memori itu ketika ia merasakan kedua lengan orang lain memeluknya.
"Artie!" pemilik suara itu membuat pipi pemuda yang dipeluk itu terlihat memerah.
"Bloody hell! Ngapain kau memelukku, git!" bentak Arthur. Alis tebalnya kini saling bertaut.
"Hahaha! Ekspresimu kali ini jelek sekali, Artie!" Alfred melepaskan pelukannya dan tertawa terbahak-bahak. Mungkin ia menertawakan bentuk alis Arthur yang menyatu.
"Diam kau!" Arthur memalingkan wajahnya yang kini mulai senada dengan tomat segar.
"Artie, kita latihan lagi, yuk!" Alfred menarik tangan Arthur dengan semangat 'hero' yang dimilikinya.
"Woi! Aku sudah melatihmu selama 3 jam, you git! Apa itu tidak cukup?"
Alfred menggeleng sambil memamerkan deretan gigi putihnya, "Ha! Artie, kamu sudah tua ya? Makanya tidak kuat lagi melatihku?" ejeknya.
"Bloody hell! Aku belum tua, bodoh! Umurku baru 25 tahun!" bentak Arthur.
"Tapi aku masih ingin melatih auraku!" sahut Alfred ngotot.
Arthur menghela nafas. Sebenarnya ia sudah merasa lelah karena latihan aura tadi telah menguras sebagian tenaganya.
Tapi di dalam Darth Saint, hanya dirinya dan Alfred yang memiliki aura kelabu.
Mau tidak mau, ia harus menuruti permintaan remaja sialan itu. Melatihnya setiap hari membuat dirinya ingin gantung diri.
Apalagi remaja itu memasang wajah memelas, membuatnya makin tidak enak untuk menolaknya.
"Baiklah," Arthur menyerah. "Tapi hanya sejam!"
"Artie pelit ah!" dumel Alfred. "Dua jam ya?"
"Kalau kau protes lagi," Arthur mencabut pedangnya lalu mengarahkan ke hadapan remaja itu. "Aku tak segan-segan akan mencincangmu."
Alfred menelan ludahnya melihat pedang Arthur yang terbuat dari baja hitam itu hanya berjarak beberapa senti dari lehernya. Kelihatannya ia tidak main-main.
"O—oke, tadi cuma bercanda kok!"kata Alfred.
"Bagus," Arthur menyarungkan kembali pedangnya. Mata hijaunya menatap mata azure milik Alfred.
"Kita kembali ke tempat latihan."
Jubah hitam itu kembali berkibar, diikuti dengan langkah kaki dibelakangnya.
Antonio melintasi sebuah hutan yang tak jauh dari rumahnya. Ia ingin berburu rusa. Tadinya ia ingin mengajak Lovino, tetapi pemuda tsundere itu tidak mau menemaninya dan memilih untuk siesta.
Sebuah pisau tangan tergenggam ditangan kanannya. Mata hijaunya mencari-cari buruan.
Sampai akhirnya ia memutuskan untuk berhenti sejenak didepan sungai.
Ia membasuh wajahnya dengan air sungai itu. Air sungai yang jernih itu menyegarkan dirinya.
Ia ingin mengambil air itu untuk minum. Tapi gerakan tangannya terhenti ketika mata hijaunya menangkap wajah seseorang yang terpantul di air sungai.
Tak lama kemudian, ia merasa mengantuk lalu memejamkan matanya.
Sosok yang berada dibelakang Antonio kini membawa tubuh yang tak sadarkan diri itu ke sebuah tempat.
Tempat yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.
#
T.B.C.
#
Eka's note : Wuah! Pada nyangka ini pairingnya EspUK/UKEsp ya? Bukan, readers tercinta! Nama karakter yang saya cantumkan itu adalah nama tokoh utamanya! Makanya jangan heran kalau Antonio sama Arthur bakal sering tampil disini... Soal nanti saya akan membuat pairing ini atau tidak nantikan saja! *dilempar ke laut*
Gimana chappie yang ini? Cacat? Abal? Gomen, saya agak bingung nentuin plotnya. Maklum, Five Princes milik saya aja belum selesai dibuat udah bikin kayak ginian. #curcolabaikan
Mau ngasih tau, yang tulisan miring itu semuanya flashback. Jadi jangan heran kalau saya nggak ngasih pemberitahuan kalau itu flashback! XD
Jadi, kekuatan para tokoh disini tergantung dari auranya. Contohnya, jika auranya berwarna biru, maka dia mempunyai elemen air. Untuk mengetahuinya lebih lanjut, saya sudah membuat salah satu contoh cerita Five Prince yang menjelaskan sedikit tentang aura. Lihat diblog saya, .com
Untuk mengetahui desas-desus mengenai pembuatan fic ini, kita lihat F.A.Q. 2 berikut ini.
F.A.Q. 2
Q : Arthur dan Alfred disini usianya berapa?
A : Sama seperti Antonio dan Lovino.
Q : Sebelum ada disclaimer ada satu paragrap bercetak miring. Itu tentang apa?
A : Potongan cerita kejadian 100 tahun yang lalu. Saat perang antara dua kubu yang akan diceritakan pada setiap chapter.
Q : Aura setiap orang berbeda-beda, jadi apakah semua orang elemennya tidak sama?
A : Beberapa aura ada yang memiliki kesamaan elemen, baik itu aura positif maupun aura negatif. Untuk mengetahui lebih lanjut, anda bisa melihat diblog saya.
Q : Pairing apa saja yang akan muncul dalam fic ini?
A : Macam-macam, tapi yang paling sering keluar kayaknya Spamano dan USUK. Baru kayaknya lho! *digampar*
Q : Updatenya lama gak?
A : Saya gak bisa jawab kalau yang itu! *dilempar ke Antartika*
Review please?
