Chapter 1
.
.
.
REMEMBER
.
.
.
"Kai, aku duluan!" seruku pada Kai, teman seperjuanganku, sembari keluar dari ruang dance.
"Ya!" sahut Kai tanpa mengalihkan pandangannya dari cermin besar di hadapannya sambil menggerakkan tubuhnya mengikuti alunan musik yang terputar.
Perkenalkan, namaku Oh Sehun. Usiaku 18 tahun. Aku berada di tingkat akhir Senior High School. Aku bersekolah di SM Senior High School. Temanku yang tadi namanya Kim Jongin, atau yang ngebet banget pengen dipanggil Kai. Entah dia dapat nama Kai darimana, aku juga tidak tahu, dan tidak ingin tahu.
Hari ini aku pulang dari latihan dance lebih cepat daripada biasanya. Biasanya aku akan pulang pada pukul 17.00, maka hari ini aku pulang pukul 16.00, lebih cepat satu jam dari biasanya. Bukan tanpa alasan aku pulang cepat hari ini, karena aku akan pergi menonton konser solo dari penyanyi yang sedang naik daun, Xi Luhan, hyung yang selama ini sangat aku rindukan, hyung yang selama 8 tahun ini pergi meninggalkanku.
Ku langkahkan kedua kakiku memasuki kamar apartemenku yang ada di lantai empat. Aku hanya tinggal sendirian di sini. Semua keluargaku ada di Kanada. Hanya ada paman dan bibiku, satu-satunya keluargaku yang ada di Seoul. Mereka berdua tinggal di rumah lamaku. Konser akan berlangsung pukul 18.30, itu berarti masih ada waktu satu setengah jam untuk makan, mandi, dan berpakaian.
Setelah siap dengan semuanya, aku meraih jaket di atas ranjang, dan kemudian keluar dari apartemenku menuju ke lantai bawah.
Ku tancapkan gas motor matic warna putih kesayanganku membelah jalanan kota Seoul dengan kecepatan sedang. Banyak teman sekolahku yang bertanya-tanya, kenapa aku selalu mengendarai motor jika pergi ke sekolah? Jawabannya, ya karena aku ingin. Mungkin di zaman modern seperti saat ini, sangat jarang ada seseorang yang sepertiku. Aku cukup tampan, kedua orang tuaku adalah orang berada, tapi kenapa aku malah menggunakan motor sebagai kendaraan sehari-hari? Bukannya aku tak mampu beli, hanya saja aku malas. Berkali-kali kedua orang tuaku menawariku sebuah mobil, namun selalu aku tolak.
Beberapa menit kemudian, aku tiba di lokasi tempat konser berlangsung. Suasananya cukup ramai. Banyak para fangirls dan fanboys yang hadir. Aku mendudukkan pantatku di kursi yang telah disediakan. Aku duduk di kursi yang paling belakang. Salahkan diriku yang baru tahu tentang konser ini beberapa hari yang lalu, salahkan diriku yang kehabisan tiket VVVVVVVIP.
Aku menatap sekelilingku. Para penonton sudah memadati venue. Mereka pada membawa lightstick, banner, poster, dan yang paling utama adalah kamera. Tapi aku tidak membawa itu semua. Aku hanya membawa dompet dan ponsel. Apa aku harus menggunakan ponselku untuk merekam atau memotret Luhan Hyung yang berada di atas panggung nanti? Jawabannya, terlalu jauh.
Tak lama kemudian, konser dimulai. Samar-samar aku bisa melihat Luhan Hyung yang berjalan menuju ke atas panggung. Aku merutuki diriku sendiri yang tidak bisa mendapat tempat duduk paling depan, alias VVVVVVVVIP itu. Hh! Menyebalkan!
Suara teriakan dari para penonton mulai terdengar begitu Luhan Hyung memberi salam dalam Bahasa Korea. Ya, Bahasa Koreanya masih cukup baik, meskipun dia adalah asli orang China. Aku tersenyum mendengar suaranya. Suara yang sudah lama aku rindukan. Tiba-tiba, aku merasakan ponsek di saku celanaku bergetar. Dengan segera, aku merogoh benda persegi panjang tersebut dan mengeceknya. Ternyata ada sebuah pesan. Itu dari Lay Hyung, pelatih dance di sekolahku.
- Sehunieeeeee! Kau tahu, aku bisa melihat dengan jelas Xi Luhan dari sini... kekeke -
Aku mendengus sebal begitu selesai membaca pesan dari Lay Hyung tersebut. Dia mendapat tiket VVVVVVVVIP itu. Kemarin aku sudah memohon padanya agar menukar dengan tiket milikku. Namun dia menolaknya, dengan alasan dia sangat mengidolakan Luhan Hyung. Bahkan aku sampai mengiming-imingkan uang padanya yang jumlahnya tidak sedikit. Itu hasil dari tabunganku selama ini. Namun tetap saja, dia menolaknya. Menyebalkan sekali bukan.
Luhan Hyung kemudian mulai menyanyikan sebuah lagu. Lagu terbarunya yang berjudul Catch Me When I Fall menjadi pembuka konsernya pada malam hari ini. Aku melambai-lambaikan tanganku ke atas, menikmati lagu yang ia bawakan. Para penonton yang lain pada ikut bernyanyi. Sedangkan aku hanya diam saja, karena aku tidak hafal lagu tersebut. Siapa suruh lirik lagunya dalam Bahasa Mandarin? Aku tidak tahu Bahasa Mandarin.
Aku tersenyum mendengar suara Luhan Hyung yang sedang bernyanyi. Dia selalu bisa menghayati setiap lagu yang dibawakannya. Sama seperti dulu, saat dia menyanyikan sebuah lagu untukku. Saat kami masih dekat. Aku jadi teringat masa-masa itu.
_ Seorang anak laki-laki berumur 12 tahun terlihat sedang menekan tuts-tuts piano di hadapannya sambil menyanyikan sebuah lagu berbahasa Mandarin. Beberapa detik kemudian, terlihat seorang anak laki-laki lain yang umurnya sekitar 8 tahun-an nampak berjalan menghampiri anak laki-laki yang sedang bermain piano tersebut. Dia lalu berdiri di sisi piano dan mengamati anak laki-laki yang tengah bermain piano itu sambil tersenyum.
"Hyung!" panggil anak laki-laki itu.
"..."
Merasa tak mendapat respon, anak laki-laki itu lalu ikut menekan-nekan tuts piano yang dimainkan oleh anak laki-laki yang dipanggilnya 'Hyung' itu.
"Ya! Oh Sehun!" teriak anak laki-laki itu kesal pada anak laki-laki di depannya itu karena sudah mengganggu dirinya.
Anak laki-laki yang dipanggil Oh Sehun itu menatap anak laki-laki di depannya datar. "Kenapa?"
"Ya! Harusnya aku yang bertaya kenapa! Kenapa, huh? Kenapa kau mengangguku?"
"Karena Luhan Hyung tidak menjawab panggilanku."
Anak laki-laki yang ternyata bernama Luhan itu mendengus sebal. "Ada apa, huh? Kenapa kau tadi memanggilku?"
Sehun meringis. "Ajari aku bernyanyi ya, Hyung..."
"Shireo," tolak Luhan.
"Wae? Kenapa Hyung tidak mau?"
Luhan lalu menatap Sehun intens. "Itu karena suaramu masih belepotan."
"Mwo? Ya! Luhan Hyung! Suaraku tidak seperti itu!" elak Sehun.
"Benarkah?"
Sehun mengangguk. "Ne!"
"Aku tetap tidak mau."
"Waeyo...?!"
"Ya karena aku tidak mau."
"Baiklah kalau Hyung tidak mau. Kalau begitu, Hyung yang bernyanyi, aku yang menari saja. Bagaimana?"
"Baiklah. Aku setuju!" Luhan lalu mulai menekan tuts-tuts piano nya lagi, dan mulai bernyanyi. Sedangkan Sehun mulai menggerak-gerakkan tubuhnya mengikuti irama lagu. _
Aku menyunggingkan senyumku mengingat peristiwa itu. Entah kenapa aku tidak bisa melupakan kenangan-kenanganku bersama Luhan Hyung.
Konser telah usai beberapa menit yang lalu. Sehun buru-buru melangkah menuju ke belakang panggung. Menerobos kerumunan orang-orang yang mulai meninggalkan gedung tersebut.
Di belakang panggung, ia bisa melihat Luhan yang berjalan bersama manager serta bodyguard-nya memasuki ruang ganti. "Luhan Hyung!" seru Sehun. Namun Luhan sudah terlanjur memasuki ruang ganti. Dia kemudian melangkah menuju ruang ganti tersebut, namun dua orang security menahannya.
"Ajussi! Aku ingin bertemu Luhan Hyung!" ujar Sehun.
"Maaf, anda tidak bisa masuk," balas security itu.
"Ayolah Ajussi... ini penting. Aku sudah lama tidak bertemu dengan Luhan Hyung. Kira-kira sudah..." Sehun mulai menghitung dengan jari-jari kedua tangannya. "Delapan tahun! Ya, delapan tahun. Aku mohon Ajussi... biarkan aku masuk, ne..."
"Sekali tidak bisa ya tidak bisa."
"Ajussi! Apa aku harus membayar ajussi agar bisa diizinkan masuk? Katakan! Berapa yang harus ku bayar?"
"Maaf, tetap tidak bisa."
"Ajussi! Aish... jinjja?!"
Sehun lalu mengacak-acak rambutnya kasar. Berjalan mondar-mandir di depan dua security tersebut. "Bagaimana caraku masuk?" gumamnya pelan. Ia lalu menoleh begitu mendengar pintu ruang ganti tersebut terbuka. Itu Luhan, keluar bersama manager serta bodyguard-nya.
"Luhan Hyung!" panggil Sehun.
Luhan yang merasa namanya disebut menoleh, menatap ke arah Sehun yang baru saja memanggilnya itu. Ia lalu berjalan menghampiri Sehun, dan berhenti di hadapan pemuda tampan itu. "Um... kau memanggilku?"
"Y-ya! Luhan Hyung, apa kau mengingatku?"
Kening Luhan berkerut. "Kau siapa, ya? Apa kau salah satu penggemarku yang menonton konserku tadi?"
"Luhan Hyung, ini aku Sehun, Oh Sehun. Tetangga Hyung dulu. Masa Hyung lupa, sih."
"Maaf, tapi aku memang tidak mengenalmu, dan tidak pernah melihatmu sebelumnya."
Jleger
Bagaikan petir di siang bolong, Sehun tertegun mendengarnya. Dia tidak percaya bahwa Luhan akan dengan mudah melupakannya. Pasti Luhan Hyung hanya bercanda. Iya kan? Pasti itu. Batin Sehun.
"Hyung, kita dulu bertetangga. Dan kita sangat dekat. Delapan tahun yang lalu, Hyung... sebelum Luhan Hyung pindah ke China..."
"Maaf, tapi aku benar-benar tidak mengenalmu. Permisi." Luhan lalu melangkah pergi meninggalkan Sehun yang masih syok di tempatnya.
Sehun menatap punggung yang mulai menjauh itu tak percaya. "Andwe! Tidak mungkin! Tidak mungkin Luhan Hyung melupakanku. Andwe!" ucapnya sambil geleng-geleng kepala. Dia lalu melangkah pergi dari tempat tersebut dengan suasana hati yang benar-benar buruk.
Sehun membuka laci meja belajarnya. Mengambil sebuah album foto dari sana. Ia lalu melangkah menuju ranjangnya dan mendudukkan tubuhnya di sana.
Dibukanya album foto itu perlahan. Pemuda tampan itu tersenyum kecut melihat galeri foto yang ada di dalamnya. Itu adalah kumpulan foto dirinya dan Luhan sembilan tahun silam, sebelum Luhan pindah.
Sehun mendecakkan lidahnya. "Apa aku harus menunjukkan foto-foto ini kepada Luhan Hyung agar dia ingat padaku?" lanjutnya. Ia lalu menutup album foto tersebut dan menaruhnya asal ke atas ranjang. Ia kemudian merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Menatap langit-langit kamarnya yang berwarna hijau muda itu lurus. "Aku tidak akan melupakanmu, Sehunie. Aku akan kembali suatu saat nanti. Aku janji." Sehun lalu mendesah panjang. "Aku bahkan masih mengingat kata-katanya dulu."
—_—
"APA?!" Kai berteriak keras sambil menggebrak meja di depannya begitu Sehun menceritakan semua yang dialami pemuda itu kemarin. "DIA TIDAK MENGENALMU?! OH ASTAGA!"
"Ya! Kecilkan suaramu! Kau tahu, mereka semua melihat ke arah kita," ujar Sehun memperingati.
Kai lalu menatap sekelilingnya. Dan benar saja, seluruh pasang mata yang ada di kantin tersebut sedang menatap ke arahnya. Pemuda itu kemudian membungkukkan badannya sambil berucap maaf ke arah mereka. Dia lalu beralih menatap Sehun serius. "Tapi, bagaimana bisa Luhan Hyung melupakanmu?"
Sehun mendesah panjang. "Molla."
"Apa dia mengalami amnesia?" tebak Kai.
"Sepertinya tidak."
"Lalu?"
Sehun mengendikkan bahunya tak tahu. Dia lalu menatap ramyun di hadapannya sambil mengaduk-aduknya. Tidak ada nafsu untuk menyantapnya.
"Wah wah wah! Sepertinya ada yang sedang gundah gulana, nih!" ujar seorang gadis yang bertubuh gemuk sambil membawa banyak makanan di tangannya. Dia lalu mendudukkan dirinya di samping Sehun.
Kai yang melihat gadis itu menatap tak percaya. "Kau benar-benar seekor gajah," ujarnya. Bagaimana tidak, di kedua tangannya terdapat dua porsi ramyun, dan ada pula dua bungkus snack yang diapit di kedua lengannya.
"Biarin," sahut gadis yang ternyata bernama Lee Ji Hyun itu.
Kai lalu beralih menatap Sehun yang sedang menatap kosong pemandangan di hadapannya sambil mengaduk-aduk ramyun di atas meja. "Sepertinya kau butuh hiburan, Hun." Dia lalu menghela napas panjang. "Baiklah... nanti malam jam delapan, aku akan menjemputmu."
Sehun langsung menatap Kai heran. "Kemana?" tanyanya.
"Ke suatu tempat yang mungkin bisa membuatmu rileks."
"Baiklah. Aku akan menunggumu nanti malam." Sehun lalu bangkit dari duduknya. "Aku mau ke kelas dulu." Ia kemudian melangkah pergi meninggalkan kedua temannya itu.
Sesampainya di koridor, Sehun menghentikan langkahnya karena ponsel di saku celananya bergetar. Ia lalu merogohnya. Ada panggilan masuk dari mamanya di Kanada sana.
"Hello dear! How are you today? " seru suara di seberang telepon.
"Aku baik-baik saja, Eomma," jawab Sehun.
"No no no. Call me Mommy, okay! "
Sehun mendengus. "Ya ya ya. Mommy. Ada apa Mommy meneleponku? Aku masih di sekolah sekarang."
"Yeah... I know it. Mommy cuma ingin mengetahui kabarmu. Oh, ya Steven. Kapan kau akan ke Kanada? Kakakmu si Kris sudah sangat merindukanmu. You know, tidak hanya Kris saja yang merindukanmu, tapi Mommy, Daddy, Grandma, Grandpa, and semuanya yang ada di sini merindukanmu."
"Mommy... please! Berhenti memanggilku Steven, oke. Namaku Sehun, Oh Sehun. Mommy sendiri 'kan yang memberiku nama Sehun," protes Sehun kesal.
"No! Daddy-mu lah yang memberimu nama seperti itu. Lalu, kapan kau akan pulang ke sini?"
"Hh! Masih lama, Mommy... Lagian, bukankah rumahku ada di sini, kenapa aku harus pulang ke sana?"
"Karena rumahmu sekarang ada di Kanada, Steven..."
"Ya! Berhentilah memanggilku Steven! Aku tidak suka nama itu."
"Ya! Bukankah dulu kau sangat menyukainya? Apalagi kalau Luhan yang memanggilmu seperti itu. Oh, ya. Kemarin aku melihat Luhan di televisi. Wah... anak itu semakin tampan dan terkenal."
"Oh... Mom. Sudah dulu, ya. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi. Mommy bisa menghubungiku lain waktu. Annyeong!" Sehun lalu mengakhiri panggilan itu. Dia tidak mau mamanya sampai bertanya macam-macam tentang Luhan. Mamanya tidak boleh tahu kalau Luhan yang sekarang tidak mengenal dirinya.
Sehun lalu melanjutkan langkahnya menuju ke ruang kelasnya 3-1. Ia kemudian mendudukkan tubuhnya di bangkunya begitu dia memasuki ruang kelasnya. Menutup kedua matanya, dan menghirup oksigen dalam-dalam, dan menghembuskannya pelan.
"Sehun-ssi!" panggil seorang gadis cantik yang diketahui bernama Song Hye Eun. Dia adalah anak dari pemilik sekolah ini.
Sehun membuka matanya perlahan, dan langsung mendesah pelan begitu melihat Hye Eun yang berdiri di hadapannya sambil tersenyum manis yang menurut Sehun sangat menyebalkan itu. "Waeyo?"
"Kau tahu, kemarin eommaku baru saja dari Paris, dan membelikanku ini," ujarnya sambil memamerkan sebuah jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Cocok 'kan kalau aku memakainya?"
Sehun mendecakkan lidahnya. Inilah yang ia tidak sukai dari gadis itu. Sombong, suka pamer, sok kaya, sok cantik, dan sok-sok lainnya. Dia selalu mencari-cari perhatian dari Sehun, yang membuat pemuda itu jengah. "Biasa saja," ucapnya singkat.
"Benarkah?"
"Ya, dan kembalilah ke kelasmu. Mood-ku lagi sangat buruk hari ini. Jadi, jangan menggangguku. Arachi?"
"Sehun-ssi..."
"Pergilah!" usir Sehun.
Gadis itu akhirnya keluar dari ruangan tersebut sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
—_—
Pukul 07.00 malam, Sehun sudah berada di depan gedung apartemennya menunggu kedatangan Kai. Namun teman dekatnya itu belum juga menampakkan batang hidungnya. "Ish... dasar jam karet," dengus Sehun sebal.
Tak lama kemudian, Kai pun datang dengan mengendarai mobil sedan warna silver miliknya. "Maaf bro, aku telat. Biasa, habis dari pom bensin. Hehehe," ujar Kai. "Ayo!"
Sehun lalu masuk ke dalam mobil Kai. Tentunya, sambil menggerutu tak jelas. Kai lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kita mau kemana?" tanya Sehun di tengah perjalanan.
"Ke tempat yang menyenangkan. Kau pasti suka," jawab Kai tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depannya.
Sehun lalu menghela napas panjang. Pasrah dengan Kai yang membawanya kemana pun.
Sehun membulatkan matanya yang sipit begitu ia turun dari mobil. Di hadapannya telah tersaji sebuah bar. Ia lalu menatap penuh tanya ke arah Kai yang baru saja turun dari mobilnya. "Apa maksudnya ini? Kenapa kau membawaku kemari?"
Kai tersenyum. "Ini adalah tempat yang paling pas buat anak muda seperti kita. Apalagi buat seseorang yang sedang gundah gulana sepertimu." Ia lalu merangkul bahu Sehun, dan menarik pemuda berkulit pucat itu untuk masuk ke dalam.
Sehun menutup hidungnya dengan tangannya begitu bau alkohol mulai menyengat memasuki lubang hidungnya. Ia dan Kai lalu duduk di kursi di depan meja bartender.
"Ajussi! Soju satu, oke!" seru Kai pada bartender. Ia lalu menuangkan soju yang dipesannya itu ke gelas kecil begitu ajussi tadi sudah memberikan pesanannya tersebut dan kemudian memberikannya pada Sehun. "Minumlah!"
Sehun mengerutkan dahinya heran. Ia lalu mendekatkan hidungnya ke mulut gelas di depannya. Mencium aroma dari soju itu. Pemuda itu meringis. Tidak menyukai bau itu. Ini adalah pertama kalinya ia datang ke tempat seperti ini.
"Ayo! Minum..." ucap Kai menaik-turunkan sebelah alisnya dan mengangkat gelas miliknya.
Sehun menggeleng. Dia tidak suka soju.
Kai yang melihatnya berdecih. "Ayolah... Seperti ini." Ia lalu menunjukkan kepada Sehun bagaimana cara dia meminum soju itu. "Sekarang giliranmu."
Sehun mendekatkan mulutnya ke gelas miliknya. Menjulurkan lidahnya untuk mencicipi sedikit minuman beralkohol itu.
Kai tertawa begitu melihat ekspresi wajah Sehun setelah mencicipi soju tersebut.
"Ya! Kenapa kau tertawa, eoh? Ini tidak lucu!" amuk Sehun tidak terima ditertawakan oleh Kai.
"Kau sangat lucu Sehun-ah... Dan kau, ternyata masih labil. Hahaha!"
"Ya! Aish... Ya Kim Jongin! Aku tidak labil." Sehun lalu melangkah keluar dari bar tersebut. Mengabaikan teriakan Kai di belakangnya.
"Aku tidak mau lagi pergi ke tempat itu," ucap Sehun pada pemuda yang berdiri di sebelahnya.
"Ish... Kau tidak asyik," sahut pemuda itu, Kai. Keduanya kini tengah menikmati pemandangan malam di pinggir sungai Han, setelah dari bar tadi.
Sehun lalu melipat kedua tangannya di depan dada. "Kau tau, aku lebih menyukai susu dari pada soju tadi."
Kai yang mendengarnya berdecak lidah. "Kau memang anak kecil."
Sehun yang disebut anak kecil langsung mendelik ke arah pemuda tan itu tajam.
"Jadi, kapan kau akan bertemu dengan Luhan Hyung lagi?" tanya Kai.
Sehun menghela napas panjang. "Entah. Aku tidak tahu." Ia lalu menutup kedua matanya. "Dulu dia berjanji akan kembali."
"Dan sekarang dia sudah kembali," sela Kai. Sehun langsung menoleh ke arahnya. "Dan dia melupakanmu."
"Ya... itu benar."
"Mungkin benar, kalau dia mengalami amnesia."
"Tidak. Dia tidak mungkin mengalami amnesia."
"Lalu? Atau jangan-jangan... dia tidak mengenalmu karena kau jelek?"
"Ya! Kim Jongin hitam! Kau tau, aku ini tampan."
"Ya ya ya, Tuan Oh Sehun yang tampan."
Sehun lalu menatap hamparan air sungai yang tengah. Dihirupnya oksigen dalam-dalam, dan dihembuskan pelan. Keningnya berkerut saat tak sengaja ia melihat seorang wanita berjalan menuju ke tengah-tengah sungai. Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari menuju ke arah wanita itu, mengabaikan teriakan Kai di belakang.
Sehun langsung menceburkan diri ke sungai. Berjalan dengan susah payah menembus air itu. "Ajumma!" teriaknya memanggil wanita itu. "Ya! Ajumma!"
Wanita itu tetap tak menoleh. Mengabaikan teriakan Sehun.
Sehun lalu mempercepat langkahnya. Dan akhirnya ia berhasil meraih tangan wanita tersebut. "Ya! Ajumma!" Ia lalu menarik tangan wanita itu menuju ke pinggir sungai.
"Lepas!" teriak wanita itu mencoba melepaskan tangan Sehun, namun pemuda itu malah mencengkeramnya semakin kuat.
Sehun melepaskan tangan wanita itu begitu tiba di tepi sungai. Kai sudah menunggunya di sana. Pemuda itu menatap cengo temannya dan wanita itu. "Apa yang Ajumma lakukan, eoh? Apa Ajumma mau bunuh diri?" tanya Sehun.
Wanita itu berdecih. "Ya. Dan kau sudah menggagalkannya!"
Sehun mendecakkan lidahnya. Ia lalu menatap wanita itu malas. "Ya Ajumma! Kalau mau bunuh diri itu jangan di sungai. Jasadmu bisa membuat sungai menjadi tercemar."
"Mwo? Ya! Kau! Berhenti memanggilku ajumma! Aku tidak setua itu!" protes wanita itu.
"Benarkah? Tapi penampilanmu memang terlihat seperti seorang ajumma."
"Ya, kau benar, Hun," ujar Kai menyetujui.
"Apa? Hh! Dasar anak labil!" dengus wanita itu. Ia lalu melangkah pergi meninggalkan Kai dan Sehun.
Keduanya saling pandang, dan beralih menatap wanita yang mulai menjauh itu terheran-heran.
"Hh! Ajumma yang aneh," gumam Sehun. "Ayo, kita pulang!" ajaknya pada Kai.
"Pulang? Ya Tuan Oh Sehun! Ini masih terlalu sore untuk kembali ke rumah."
Sehun mendesah. Ia lalu menatap Kai datar. "Kau tidak lihat atau memang pura-pura tidak lihat, huh? Celanaku basah! Kau mau kalau temanmu yang paling tampan ini masuk angin, huh?!"
"Ups... maaf, aku tidak melihatnya tadi." Kai lalu nyengir lebar. "Ayo kalau begitu. Kita pulang."
Tbc...
