Spring
.
.
.
.
.
.
Disclaimer : Mereka hanya milik Tuhan dan bebeb Mimin cuma punya Cho kkkkk~
Cast : DBSK, Suju, BTS
Genre : Romance, Hurt, Angst, Slice of Life
Rate : T
Happy reading!
.
.
.
.
.
~ Chapter 1 ~
.
.
.
.
.
.
" Nggghhhh..."
Butuh waktu beberapa detik bagi namja yang tengah berbaring itu untuk membuka matanya dan memegangi dahinya yang terasa perih. Dia mendapati sebuah benda lembut pada sebelah kanan keningnya.
Matanya kemudian mengedar ke kanan dan ke kiri, dia sadar jika dia sedang tidur disebuah kamar kecil yang hanya ada sebuah lemari, meja persegi pendek dan dia meraba tempat yang dia tiduri, sebuah kasur lipat.
Dia pun mengambil kesimpulan bahwa ruangan ini bahkan lebih kecil dari kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Astaga...
Namja itu adalah Jaejoong yang akhirnya sadar bahwa dia berada di tempat asing. Dia mencoba untuk duduk sembari memegangi keningnya tapi saat berhasil duduk, dia merasakan nyeri pada perutnya.
Jaejoong ingat bahwa tadi dia dipukul di bagian perutnya, lalu dia tidak sadarkan diri. Lalu dia ada dimana? Apa ada seseorang yang menolongnya dan membawanya kemari? Siapa?
Ceklek
Pertanyaan Jaejoong langsung terjawab saat seseorang membuka pintu kamar itu. Jaejoong mendapati seorang namja yang tidak begitu tinggi, dengan pipi agak cabi masuk ke dalam kamar itu.
" Oh? Kau sudah bangun?"
Suara namja itu terdengar melengking, mirip lumba - lumba menurut Jaejoong. Namja itu berjalan mendekat dan duduk bersila disamping tempat tidur yang Jaejoong tengah duduki.
" Kau tidak apa - apa? Kenapa memegangi plester di keningmu? Apa masih sakit? Perutmu masih terasa nyeri?"
Jaejoong mengedipkan matanya berkali - kali setelah mendengar pertanyaan yang datang bertubi - tubi padanya. Dia bingung menjawab yang mana terlebih dahulu.
" Ng? Maaf, kau pasti bingung hehehehe... Aku Kim Junsu, bagaimana luka di keningmu? Masih terasa sakit?"
Jaejoong menganggukkan kepalanya.
" Perutmu?"
Jaejoong menganggukkan kepalanya lagi.
" Maaf, hmmmm apa kau... Tidak bisa bicara?" Tanya Junsu dengan hati - hati takut menyinggung namja yang ada di depannya
Astaga...
Jaejoong bahkan tidak ingat bahwa dia belum mengeluarkan suaranya, dia merasa bingung dan canggung!
" Maaf kalau aku menyinggu-"
" Ah, tidak... Aku yang minta maaf"
" Omo!" Ucap Junsu kencang, membuat Jaejoong tersentak kaget " Suaramu lembut sekali, indah!"
Jaejoong melongo mendengarnya, kenapa namja gempal di depannya ini terkesan aneh sih? Suaranya lembut? Uh? Tidak salah?
" Lanjutkan!" Ucap Junsu dengan riang
" Ne, aku hmmm... Jaejoong"
" Hanya Jaejoong?"
Jaejoong ingat bahwa dirinya sedang kabur dari rumah, jika menyebutkan marganya tentu keluarganya akan dengan mudah menemukannya.
" Itu... Han Jaejoong namaku"
Akhirnya marga Han-lah yang diucapkan olehnya, Han adalah marga dari pengasuhnya sejak kecil. Hanya dia yang mengerti keinginan Jaejoong sejak dulu, tidak seperti eommanya yang menyebalkan tapi Jaejoong sayangi.
" Oh, Han Jaejoong" Ucap Junsu seraya menganggukkan kepalanya
" Maaf... Tapi apa kau yang menolongku?"
" Bukan! Tapi hyungku, hmmm... Bukan hyung kandungku, tapi dia seperti hyung kandungku. Dia yang pemilik rumah ini"
" Oh begitu..."
" Kau akan kemana tadi? Kenapa bisa pingsan dipukul pencopet di terminal bus?"
" Ah... Aku... Pergi merantau"
" Oh? Orangtuamu?"
" Tidak ada"
" Astaga... Kau tidak punya siapapun lagi?"
Dengan ragu Jaejoong menganggukkan kepalanya.
" Ya ampun... Kalau begitu kau disini dulu saja" Lirih Junsu
" Terima kasih"
" Aku akan memasak makan malam, nanti kalau sudah selesai aku akan kemari lagi"
" Makan malam?"
" Iya... Eoh! Apa aku belum cerita bahwa kau pingsan seharian ini?"
Jaejoong menggelengkan kepala.
" Ini sudah hampir malam, ya sudah... kau disini dulu, nanti aku kembali lagi"
" N-ne"
Usai Junsu keluar dari kamar, Jaejoong kembali berbaring dan menatap langit - langit kamar itu. Entah dia ada dimana, kali ini dia tidak mau lagi mengikuti keinginan eommanya yang menjodokannya diusianya yang masih dua puluh empat tahun ini!
Ayolah...
Dia masih muda, masih senang bermain dan menghibur diri walaupun dia juga mengurus perusahaan appanya mengingat dia adalah pewaris utama dalam keluarganya.
Jaejoong pikir Changmin sepupunya adalah orang yang paling tepat untuk menggantikan kedudukan harabojinya nanti. Dia pintar, mengikuti kelas akselerasi hingga dia lulus menjadi sarjana diusianya yang baru menginjak dua puluh tahun dan itu terjadi di awal tahun ini.
Sedangkan Jaejoong baru saja lulus tahun kemarin dan langsung bekerja di perusahaan appanya. Belum genap setahun, eommanya meminta Jaejoong bertunangan dengan seseorang yang tidak dia kenal.
Huh?
Memangnya masih zaman dijodohkan? Jaejoong ingin mencari seseorang yang dia cintai. Tunggu cinta? Ya... Cinta, Jaejoong hanyalah seorang pemuda yang terlahir kaya, yang ingin merasakan apa itu cinta tulus. Memangnya salah?
Dan eommanya menjodohkan dia bukan untuk pertama atau kedua kali tapi sudah lima kali dan kali ini Jaejoong memutuskan untuk kabur. Kabur entah kemana yang penting jauh dari sang eomma dan membuat eommanya sadar apa yang dia inginkan!
.
.
.
.
.
.
" Jaejoong sshi"
Tok
Tok
Tok
Jaejoong membuka matanya, sepertinya tadi dia kembali tertidur karena masih lelah. Junsu masuk ke dalam kamar dan tersenyum manis melihat Jaejoong yang sedang mengusap matanya.
" Ayo keluar, kita makan malam dulu" Ajak Junsu
" Ne?"
" Ayo"
Namja gempal itu membantu Jaejoong untuk bangkit dan menggandeng Jaejoong keluar dari kamar itu. Mereka duduk di ruang makan dimana sudah tersedia nasi, sup dan kimchi.
" Maaf ya sederhana" Ucap Junsu
" Tidak apa - apa"
" Kita tunggu satu orang lagi, sebentar lagi dia pulang"
" Ne?"
" Dia yang menolongmu walaupun gagal menangkap pencopetnya" Junsu mengerucutkan bibirnya
" Ah, begitu"
Oke, kini Jaejoong tahu bahwa bukan Junsu yang menolongnya. Jaejoong juga ragu karena tubuh Jaejoong kecil dan terlihat rapuh?
Ceklek
" Aku pulang"
" Yunho hyung, selamat datang!"
Junsu bangkit dari duduknya kemudian berlari ke depan untuk menyambut seseorang. Jaejoong hanya duduk diam menanti Junsu sembari memandangi makanan yang sangat minimalis di depannya.
Biasanya, ada belasan lauk yang bisa Jaejoong pilih untuk setiap kali makannya, bahkan kadang belasan lauk itu diambil sedikit dan Jaejoong membuang sisanya. Tapi lihat ini, makanan sederhana di depannya...
Hanya nasi, sup dan kimchi. Makanan yang bisa dibilang hanya makanan penutup bagi Jaejoong. Disini, kehidupan barunya akan dimulai, benar bukan?
" Jaejoong sshi, ini Yunho hyung yang membantumu tadi pagi"
Jaejoong sedikit tersentak kemudian mendongakkan kepalanya, tak jauh dari dia berdiri Junsu dan seorang namja yang lebih tinggi darinya, beridung mancung, mata sipit dan wajahnya cenderung kecil.
" Annyeonghasseo" Sapa Jaejoong dengan sopan
" Ne"
" Terima kasih sudah menolongku tadi pagi"
" Bagaimana lukamu?"
" Ah~" Jaejoong reflek memegangi lukanya yang ada di kening " Sudah tidak apa - apa"
" Baguslah"
" Ayo kita makaannnn~"
Junsu menarik Yunho menuju meja makan dan akhirnya mereka makan dengan tenang. Tidak tenang juga karena beberapa kali Junsu berceloteh dengan riang.
" Ne hyung? Ya ya ya ya~ Sewakan saja kamarmu yang di bawah untuk Jaejoong sshi" Ucap Junsu
" Tapi-" Yunho melirik Jaejoong
" Dia kehilangan semuanya hyung, masa kau tega mengusirnya setelah ini"
" Bagaimana ya?"
" Ya ampun hyung, kau ini kejam sekali"
" Iya, aku hanya bercanda Suie..."
" Ish"
" Maaf"
Akhirnya Jaejoong mengeluarkan suaranya, dia bingung apa yang tengah terjadi. Dan suaranya itu membuat Junsu dan Yunho menoleh ke arahnya.
" Kalau tidak merepotkan, aku sebenarnya butuh tempat tinggal dan bisa menyewa tapi sepertinya aku butuh waktu untuk membayar sewa karena dompetku dicopet" Ucap Jaejoong dengan nada lembut
Degh
Jantung Yunho hampir saja berhenti berdetak saat mendengar suara harus dari mulut Jaejoong. Astaga... selama dua puluh empat tahun hidupnya dia baru pertama kali mendengar suara selembut ini.
" Bagaimana?" Tanya Jaejoong, dia menggigit bibir bawahnya gugup
" Hmmm... Yah... Aku tidak mungkin juga membiarkanmu tidur diluar karena aku takut kejadian tadi pagi terulang lagi. Pakai saja kamar yang kau tiduri" Ucap Yunho
" Benar?"
" Kalau boleh tahu, kau kenapa kemari?"
" Mencari pekerjaan?" Jawab Jaejoong ragu
" Kenapa pergi ke Gwangju? Bukannya Seoul lebih banyak lowongan pekerjaan?"
" Aku... Lebih suka perdesaan. Lagipula jika di Seoul aku akan terus mengingat orangtuaku" Jawab Jaejoong dengan lirih
Yunho menangkap nada sedih dari jawaban Jaejoong, dia melirik Junsu dan mendapat tatapan tajam kemudian Junsu berkata tanpa suara bahwa dia akan bercerita pada Yuno nanti.
" Baiklah, semoga saja kau cepat mendapatkan pekerjaan disini" Ucap Yunho akhirnya
" Terima kasih Yunho sshi"
" Ngomong - ngomong berapa usiamu? Aku tidak suka terlalu formal, apa masalah untukmu?"
" Aku dua puluh empat tahun" Jawab Jaejoong
" Mwo?!"
" Wae?"
" Aku kira usaimu sekitar sembilan belas tahun atau dua puluh tahun" Ucap Junsu dan Yunho menganggukkan kepalanya
" Tidak, aku sudah dua puluh empat tahun"
" Kalau begitu, aku akan panggil hyung. Usiaku sembilan belas tahun dan baru lulus sekolah tahun lalu" Ucap Junsu
" Usiaku sama sepertimu, semoga kita bisa akrab ya" Ucap Yunho
Jaejoong menjawabnya dengan tersenyum kemudian dia mengangguk dengan semangat. Semoga saja keputusannya tidak salah dengan pergi dari rumahnya dan pergi ke tempat ini, Gwangju. Jaejoong harap, Yunho dan Junsu orang yang baik dan bisa menjadi temannya selama dia tinggal disini.
" Nah, kamar mandi hanya ada satu dan kita pakai bergantian. Kamar Junsu ada di bawah juga, tidak jauh dari kamarmu. Sedangkan kamarku ada di atas, jika ada apa - apa kau bisa memanggilku atau Junsu atau... Hmm... Ada satu orang lagi yang tinggal disini. Besok pagi akan kami kenalkan dengannya, kamarnya ada di sebelah kamar Junsu"
Penjelasan Yunho yang panjang itu membuat Jaejoong menganggukkan kepalanya, jadi masih ada satu orang lagi yang tinggal bersama Yunho di rumah ini.
" Iya, namanya Kyuhyun, sembilan belas tahun sama sepertiku dan dia sedikit pendiam tapi baik kok" Ucap Junsu
" Arasseo"
" Kalau begitu aku akan mandi duluan. Jaejoong ah, kau bawa baju ganti bukan?"
" Ya, tadi aku lihat tasku ada di dalam kamar. Bajuku ada di dalam sana semua" Jawab Jaejoong
" Oke"
" Aku akan membereskan ini semua"
Junsu bangkit untuk membereskan meja makan sementara Yunho berjalan menuju tangga, Jaejoong merasa dirinya harus membantu Junsu jadi dia membawa piring bekas makannya ke wastafel dan membantu Junsu mencuci piring.
Jujur saja, Jaejoong jarang mencuci piring atau bisa dibilang dilarang karena di rumahnya dulu banyak maid yang mengerjakan tugas rumah seperti ini. Jadi, dia sangat senang bisa mencuci piring bersama Junsu malam ini.
" Hmmm... Sudah selesai, aku akan mandi. Nanti kalau aku sudah selesai aku panggil hyung ya"
" Ne"
Jaejoong memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan membuka tasnya. Dia mengeluarkan semua pakaiannya dari dalam tas dan beberapa benda penting miliknya.
" Oh!"
Mata Jaejoong membulat saat dia melihat sebuat kotak sedang di dalam tasnya. Jaejoong membuka kotak itu dan menemukan benda kesayangannya. Emas Cartier, merk kesukaannya.
" Aku bisa menjualnya... Hah... Sedih sekali... Tidak apa - apa lah, besok aku jual saja" Putus Jaejoong akhirnya
Namja cantik plus tampan itu menaruh pakaiannya ke dalam lemari yang ada di dalam kamar itu, bajunya terlihat sedikit di dalam lemari itu. Mungkin setelah menjual emas - emas itu Jaejoong bisa membeli beberapa potong pakaian.
Jaejoong menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri kemudian matanya menatap benda berwarna putih berbentuk persegi panjang yang Jaejoong tahu adalah ponselnya. Jaejoong mendekat dan mengambil benda itu, retak parah bahkan bisa dibilang rusak karena tidak mau menyala.
" Huh? Rusak? Tidak apalah"
Jaejoong hanya bergumam tidak peduli kemudian mengambil tas ranselnya, dia merogoh bagian dalam tasnya dan mengambil sesuatu dari sana. Sebuah tas untuk kosmetik berbentuk persegi panjang namun terbilang kecil, dia sengaja menaruh tas kecil itu di dalam sana untuk keadaan terdesak.
" Untunglah tidak hilang" Ucap Jaejoong setelah membuka tas kecil itu
Dia menaruh sejumlah uang, beberapa koleksi cartier miliknya juga dia selipkan lagi disana. Dia sengaja menyimpannya karena takut kekurangan uang, dia kabur dengan persiapan yang sangat mantap bukan?
" Yah... Aku bisa tinggal sangat lama disini. Ya sudah nanti aku berikan pada Yunho, semoga saja eomma tidak bisa menemukanku dalam waktu dekat ini. Maafkan aku eomma"
Tidak sampai lima belas menit Junsu memanggil Jaejoong untuk mandi. Usai mandi, Jaejoong serta Junsu duduk di ruang tamu sembari mengobrol ringan dan menonton televisi.
" Aku pulang"
Junsu tersenyum melihat seorang namja berambut sedikit ikal masuk ke dalam rumah. Dia adalah Cho Kyuhyun, penghuni di rumah Yunho.
" Aku menyisakan makanan di dalam kulkas, kau bisa menghangatkannya kalau mau Kyu" Ucap Junsu
" Ne hyung" Kyuhyun melirik Jaejoong yang duduk di sebelah Junsu
" Oh, dia penguni baru di kamar bekas Hojun. Namanya Han Jaejoong"
" Annyeonghasseo" Sapa Jaejoong sopan
" Ne, aku ke kamar dulu" Ucap Kyuhyun sembari berjalan ke dalam kamar yang ada disebelah kamar Junsu
" Maaf ya kalau dia tidak sopan"
" Tidak apa - apa Junsu ah"
" Dia memang dingin pada orang baru tapi setelahnya tidak kok"
" Dia bekerja sampai jam segini?" Jaejoong melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam
" Biasanya sampai jam dua pagi"
" Ne?! Kerja apa?"
" Dia mendapatkan beasiswa akselerasi dan sekarang sudah ada di semester empat. Sibuk mencari uang untuk eomma dan appanya di Busan"
" Kenapa dia memilih beasiswa disini?"
" Ku dengar kehidupan di Seoul terlalu berat juga semua serba mahal. Lagipula Kyu punya asma, lebih bagus tinggal di desa seperti ini"
" Oh begitu"
" Iya, pulang kuliah dia langsung bekerja di kafe yang sama dengan Yunho hyung dan setelahnya bekerja di pom bensin. Pagi jam lima dia pergi berkeliling bersama Yunho hyung untuk mengantarkan susu dan koran"
Mulut Jaejoong terbuka mendengar menjelasan Junsu, ada orang yang segiat itu bekerja? Waw... Baru kali ini Jaejoong menemukan orang yang benar - benar giat dan gigih.
" Kalau Yunho? Dia mahasiswa juga?"
" Hm... Iya, setelah cuti beberapa semester akhirnya tahun ini dia ada di semester akhir. Sembari bekerja namun dia lebih santai, bekerja di kafe dan pagi mengantarkan susu juga koran"
" Oh begitu... Untuk harga sewa disini bagaimana?"
" Lima puluh ribu won"
" Hah? Tidak salah?"
" Murah ya?"
" Iya"
" Yunho hyung itu menyewakan kamar yang ada di rumah ini agar tidak kesepian saja. Tidak sendirian di dalam sini, ada yang menjaga rumahnya dan dia seperti hyung bagi kami, selalu membantu kami kalau kami kesusahan. Orangnya sangat baik hehehe... Dan soal makanan, kami biasanya patungan untuk mengisi kulkas"
" Oh begitu"
" Tapi kalau kau belum ada uang kau bisa membayar uang sewanya nanti"
" Sedang apa?"
Dua namja yang sedang mengobrol itu menolehkan kepalanya dan mendapati Yunho turun dari tangga.
" Mengobrol" Jawab Junsu
" Sudah jam berapa?"
" Sepuluh" Jawab Junsu kemudian tersenyum kikuk
" Masuk kamar dan tidur, kau ada kelas pagi seminggu ini bukan?"
" Iya" Jawab Junsu tidak ikhlas, dia mengerucutkan bibirnya " Aku tidur dulu hyung"
Junsu bangkit dari duduknya setelah berpamitan dengan Jaejoong dan Yunho. Jaejoong ikut bangkit dari duduknya dan memberikan sebuah senyuman pada Junsu. Kemudian Junsu pergi ke dalam kamarnya karena memang sudah waktunya dia tidur.
" Hmmm... Yunho sshi" Panggil Jaejoong
" Yunho saja"
" A-ah ne... Itu, untuk uang sewa..."
" Kau kan baru kecopetan tidak apa - apa jika belum ada"
" Tidak! Aku sudah menanyakannya pada Junsu, aku akan membayarnya"
" Eh?" Yunho menaikkan salah satu alisnya
" Aku masih punya simpanan, sebentar"
Jaejoong berlari kecil ke dalam kamar dan kembali membawa berlembar uang. Yunho memperhatikan saja bagaimana namja yang sudah memakai piyama itu berjalan ke arahnya dengan rambut bergerak lembut, sungguh indah dilihatnya.
" Ini" Jaejoong menyodorkan uang yang dipegangnya dengan sopan
" Banyak sekali?"
" Untuk tiga bulan"
" Tiga bulan?"
" Iya, sepertinya aku akan lama tinggal disini. Tidak apa - apa kan?"
" Tentu, tapi kau masih ada uang untuk selanjutnya? Kau bisa membayar satu bulan dulu kalau kau mau"
" Tidak, untungnya uang simpananku yang ada di tas masih ada"
" Oh, baiklah. Aku terima uangmu" Ucap Yunho akhirnya, dia mengambil uang dari tangan Jaejoong dan tersenyum
" Terima kasih juga karena sudah menolongku dan membawaku ke rumahmu"
" Ya, sama - sama. Semoga kau menemukan pekerjaan yang cocok untukmu ya"
" Iya"
" Kalau begitu selamat tidur Jaejoong ah, jangan tidur larut" Ucap Yunho ramah, dia tersenyum dan meninggalkan Jaejoong sendirian
" Ya, selamat tidur" Gumam Jaejoong, matanya menatap Yunho yang pergi menjauh
.
.
.
.
.
.
.
.
Jaejoong terbangun saat mendengar suara ketukan dari pintu kamarnya. Untung saja dia tidak berteriak memanggil nama Han ahjumma seperti siap pagi saat dia masih tinggal di mansion. Jaejoong sadar jika dia ada di rumah mungil milik Yunho.
" Ya"
" Hyung sarapan..."
Itu suara Junsu dan membuat Jaejoong membuka matanya, jam menunjukkan pukul enam pagi. Pagi sekali? Jaejoong biasanya bangun pukul delapan di pagi hari. Tapi sekali lagi dia menyadarkan dirinya bahwa sekarang dia tidak berada di rumah jadi dia harus beradaptasi dengan cepat.
" Iya" Jawab Jaejoong
Tidak sampai sepuluh menit Jaejoong sudah duduk di kursi berhadapan dengan Yunho dan Kyuhyun. Sedangkan Jaejoong duduk bersampingan dengan Junsu. Di depannya sudah tersedia nasi, telur gulung dan kimchi.
" Makan pagi hari ini sederhana saja ya karena aku sedikit kesiangan" Ucap Junsu
Yunho dan Kyuhyun menganggukkan kepalanya kemudian mulai makan sementara Jaejoong menatap makanan di depannya dengan berbinar. Dia senang bisa melihat makanan yang biasa dimakan warga biasa.
Eommanya tidak akan membiarkan meja makan di mansionnya kosong, dia akan meminta maid untuk memasak makanan kesukaannya atau turun langsung untuk memasak bersama Han ahjumma.
" Hyung? Kenapa tidak makan? Tidak suka ya?" Tanya Junsu
" E-eh?" Jaejoong jadi salah tingkah saat Junsu menegurnya " Tidak! Aku suka Junsu, aku akan makan dengan lahap. Terima kasih untuk sarapannya"
Jaejoong menyumpit telur gulung di depannya dan memasukkannya ke dalam mulut. Mengunyahnya perlahan dan tersenyum karena rasanya begitu pas. Jaejoong suka!
Tak
" Aku sudah selesai, aku berangkat. Annyeong"
Kyuhyun bangkit dari duduknya untuk berpamitan setelah Jaejoong menelan suapan pertamanya, Kyuhyun membungkukkan tubuhnya kemudian membawa mangkuk bekasnya makan menuju wastafel.
" Hati - hati Kyu"
" Ne"
Tap
Tap
Tap
Ceklek
" Kyuhyun sshi berangkat pagi sekali?" Tanya jaejoong
" Iya, dia bilang mau mampir ke perpustakaan kota dulu sebelum pergi kuliah"
" Oh begitu..." Jaejoong kembali melanjutkan makannya
" Aku juga harus segera berangkat usai sarapan bersama Yunho hyung"
" Ne?"
" Aku tinggalkan satu kunci cadangan kau bisa berkeliling disekitar sini kalau kau bosan. Aku akan pulang pukul satu dan mengajakmu berkeliling mencari pekerjaan, bagaimana?" Tanya Yunho
" N-ne?"
" Hanya Yunho hyung yang bisa menemani hari ini karena aku harus ada di toko bunga usai pulang kuliah sampai malam karena banyak pesanan" Ucap junsu
" Oh... Oke kalau begitu, tidak merepotkan kalau kau mengantarku berkeliling mencari pekerjaan?" Tanya Jaejoong pada Yunho, dia merasa tidak enak jika harus menyusahkan Yunho
" Tidak apa - apa. Aku tidak keberatan"
" Oke"
Berselang setengah jam Yunho dan Junsu sudah bersiap di depan pintu dengan Jaejoong yang menatap mereka berdua dari belakang masih dengan menggunakan piyama soft pink kesayangannya yang memang sengaja dibawanya saat kabur dari rumah.
" Kami pergi dulu. Kau bisa mengunci pintunya nanti" Ucap Yunho
" Oke"
" Kami pergi hyung, kajja Yunho hyung" Ajak Junsu kemudian berlari keluar rumah
" Apa kau suka warna pink?"
Pertanyaan tiba - tiba itu membuat Jaejoong mengerutkan keningnya namun dia perlahan mengangguk dan dia mendapatkan sebuah senyuman dari Yunho.
" Kenapa memangnya?" Tanya Jaejoong
" kau terlihat manis, apa lagi kau mengikat ponimu ke atas seperti itu"
Blush
" Hyyyuuunngggg~"
" Iya Su!" Yunho berteriak untuk menjawab pertanyaan Junsu " Kami pergi, annyeong" Lanjut Yunho kemudian mengacak rambut Jaejoong
" N-ne"
Blam
Pintu ditutup oleh Yunho meninggalkan Jaejoong dengan sepasang semburat merah muncul di kedua pipinya.
" Aigo... Pagi ini panas sekali!"
Jaejoong mengipasi wajahnya yang terasa panas, dia kemudian memakai sepasang sandal yang ada disana entah milik siapa lalu membuka pintu rumah Yunho. Kalau dipikir - pikir dia belum tahu bagaimana lingkungannya tinggal sekarang.
Ceklek
" Whooaaaa..."
Mata Jaejoong langsung disambut sebuah halaman mungil dengan jalan setapak di depannya. Di kanan dan kirinya terdapat beberapa tanaman hias dan pohon tomat, cabai dan beberapa tanaman lainnya.
Sebuah pohon berdiri tegak tidak jauh dari pintu pagar yang tingginya hanya sedada Jaejoong. Pohon tinggi nan rindang dengan beberapa kelopak bunga yang mulai bermekaran, Jaejoong tentu tahu bunga apa yang akan mekar pada pohon itu karena bunga itu salah satu bunga kesukaannya, bunga sakura.
Jaejoong melangkah maju lagi, melihat keluar rumah di pagar. Jaejoong tersenyum melihat pemandangan musim semi yang indah di depannya, hanya ada beberapa rumah di sekitar rumah Yunho. Rumah - rumah itu tidak berdempetan karena setiap rumah memiliki halaman yang ditumbuhi banyak tumbuhan.
Jaejoong senang, dia suka pemandangan ini. Inilah tempat yang dia dambakan sepanjang hidupnya ketimbang tinggal di kota yang penuh sesak. Udaranya sangat sejuk hingga membuat Jaejoong terharu.
" Selamat datang hidup baruku..."
Jaejoong memejamkan matanya, dia berdoa sebelum memulai hidupnya yang baru. Bekerja di sini, menemukan teman - teman baru, menatap bunga sakura setiap dia membuka pintu di sepanjang musim semi ini. Berharap keluarganya tidak menemukannya dengan cepat. Dia bolehkan berharap itu semua terjadi?
.
.
.
~ TBC ~
.
.
.
Annyeong~
Karena busy yunie udh end Cho update in ff yang ini duluan... Maaf ya~
Friend nya baru setengah jadi... kkkkkkk~
Ada yang nunggu Cho kah?
.
Special Thanks :
.
Jiraniatriana (sipp~), mitaichi (sip juga), eL Re (iyaa), yong1237 (update na nunggu reader lumutan lah~), ismimimi05 (jaemma kan selembut Cho, iya kan? Iya i aja), LillteOoh (sip), Park RinHyun-Uchiha (cup cup cup, Jaemma udah aman kok), Guest (iyaa~)
.
Buat yang udah follow, fav dan para SiDer
.
Sekali lagi maacih
.
Chap ini alurnya lambat ya?
Iya sengaja, lambat dan ga panjang. Buat penjelasan karakter aja, chap depan baru deh cho gas hahahaha~~
.
Jja, see u next chap?
Chuuuuu~
