Di kantor Minato;
"USA? Bukankah kau menolak tawaranku untuk bersekolah di luar negeri. Kenapa mendadak kau mau menerima tawaran itu? Bukankah kau sudah menolaknya mentah-mentah," seru Minato sambil terus sibuk dengan berkas-berkas yang ada di meja kerjanya itu.
Menjadi seorang pengusaha yang sukses tidaklah mudah, karena sangat sulit untuk membagi waktunya untuk keluarga terutama untuk putranya. Alhasil, inilah yang akan terjadi: perbincangan yang canggung dan banyak kata yang tersimpan tak terucap.
Hening.
"…aku berubah pikiran Ayah, aku mau kuliah di USA. Lagi pula di sana ada Neji; Ayah ingat Neji kan?"
Saat mendengar kata Neji, Minato langsung menunjukan reaksinya; ia kini melihat Naruto tepat di matanya sambil mengernyitkan alisnya, seolah bertanya.
Kini kedua lautan saling beradu dalam bisu.
"Ah. Apa kau yakin Nak?" tanya Minato serius.
"Ya Ayah, aku yakin. Dan Ayah tidak usah khawatir, di sana ada Neji. Lagipula kita kan memiiki rumah di USA, walaupun memang sedikit jauh dari rumahnya, tapi satu komplek kok." Kekeh Naruto.
"Jika itu keputusanmu."
"Jadi… Ayah mengijinkannya?" kini dapat terlihat senyuman di bibir Naruto.
"Hm." Jawab Minato singkat sambil kembali fokus pada dokumen-dokumen di mejanya.
"Lalu, kapan aku bisa pergi?" Naruto sedikit ragu.
"Kapan saja kau mau."
"Terima kasih Ayah. Kau memang yang terbaik!"
Minato hanya tersenyum hangat pada anaknya itu.
Dan kini Naruto pergi meninggalkan kantor Ayahnya untuk memberi tahu Kushina, Bundanya tercinta tentang kepergiannya ke USA.
Di sisi Lain;
'Uchiha Sasuke, that bastard!'maki Neji dalam hati sambil mengepalkan tangannya kesal.
Lalu dia mengambil telpon rumahnya dan mulai memijit angka-angka yang ada untuk menelpon seseorang. Setelah beberapa lama, tetap saja tidak ada jawaban, Neji memutuskan telponnya sambil memaki-maki telpon di hadapannya.
"Argh…! Mana lagi tu anak! Keadaan genting kayak gini susah banget dihubungin!" namun jemarinya mencoba menghubungi nomor itu terus menerus.
Kekesalannya memuncak dan dia menutup teleponnya dengan keras, namun untungnya tidak sampai rusak atau dibantingnya. Ya… mengingat Hiashi yang sangat galak, tak heran Neji yang terlampau kesal itu masih bisa mengontrol emosinya dengan tak membuat kehebohan di pagi hari, khususnya saat Ayahnya itu ada di rumah.
'Tahan emosimu Neji… ingat, Ayah di rumah, Hiashi-Otou-san ada di rumah,' Neji mencoba menenangkan dirinya agar tidak langsung membanting sesuatu yang berada tepat di depan matanya.
'Hey… so what?' suara lain menggema di otaknya.
'You asking me? Daddy is home! H-O-M-E! get it! HOME! HERE!' otak Neji berteriak
'Oh yeah…' suara otaknya itu menjawab dengan santai seolah tak berdosa.
Akhirnya Neji menyerah dan mulai menghubungi nomor yang lain, syukurlah kali ini ada yang mengangkat.
'Finale!'
Suara seorang nenek tua terdengar dari ujung telepon sana, "Moshi-moshi, kediaman Keluarga Aburame. Ada yang bisa saya bantu?"
Neji menarik napas lega, karena ternyata otaknya yang pintar masih berguna di saat-saat seperti ini.
Sebenarnya Neji hanya menerka saja, karena beberapa bulan yang lalu Shino pernah bercerita tentang neneknya yang selalu ia kunjungi setiap libur sekolah dan sempat diberi tahu nomor teleponnya, untuk mengantisipasi kejadian seperti saat ini. Namun bodohnya saat itu Neji tak terlalu ambil pusing dan melupakannya seperti angin yang berlalu.
Tak terpikir olehnya akan terjadi hal seperti ini.
Tak disangka kali ini dia merasa sangat berterima kasih atas kejeniusannya karena biasanya ia selalu sebal menjadi anak genius, yang sangat kaku dan menanggung beban yang berat, lebih dari anak-anak lain.
Terutama beban sebagai penerus Keluarga Hyuuga.
Untunglah Neji seorang Jenius hingga dapat ingat dengan nomor telpon Kediaman Aburame. Walaupun awalnya hanya tebakan belaka.
"Aku Neji, Hyuuga Neji. Aku hanya ingin bicara dengan Shino, ada hal penting yang harus kami diskusikan," seru Neji pada nenek tua itu.
"Ah, Hyuuga-san. Mohon tunggu sebentar."
Neji menunggu dengan sabarnya hingga suara stoic Shino terdengar, "Yo Hyuuga."
"Hi, I know, to the point. Ini soal Naruto," Neji mencoba untuk tetap tenang dan menjaga suaranya agar tetap stabil dan rendah hingga emosinya tidak tampak terlalu jelas.
"Naruto, kenapa dengannya?" kini dapat terdengar suara Shino mulai berubah, entah perubahan macam apa namun terasa berbeda dengan yang sebelumnya.
Sungguh sangat sulit untuk memprediksikan seorang Aburame, sama halnya dengan para Hyuuga dan Uchiha yang selalu berhasil mengendalikan emosi mereka hingga tak mudah terbaca oleh siapapun.
"Ceritanya panjang," ucap Neji sambil menghela napas panjang.
"Aku punya waktu untuk itu,"
Lalu Neji mulai bercerita tentang semua hal yang menimpa Naruto yang dulu pernah menjadi bagian yang sangat penting dalam persahabatan mereka semua.
"Apa kau yakin? Bunda bisa ikut pergi bersamamu jika kau mau," tawar Kushina pada Naruto.
Sejujurnya sangat sulit bagi Kushina untuk melepas Naruto. Walau bagaimana pun Naruto tetaplah anak kesayangannya.
Naruto hanya tersenyum lemah.
"Tidak usah Bun, aku sudah besar dan bisa menjaga diriku sendiri. Dan aku sangat menyesal karena sudah membentakmu pagi tadi."
Naruto tak berani menatap wajah Ibunya secara langsung, karena jauh di dalam hati kecilnya, ia merasa tak pantas dan sangat bersalah karena sudah berburuk sangka pada Bundanya sendiri hanya karena perkataan wanita yang jelas-jelas bukan siapa-siapa.
Dengan mengingat semua itu, kini Naruto kembali teringat dengan pengkhianatan yang telah dilakukan oleh dua orang yang merupakan salah satu bagian terpenting dalam hidupnya, hingga kebusukan mereka terbongkar.
"Tidak apa, Bunda mengerti. Kau masih labil Naruto, jadi pantas kamu marah-marah seperti itu. Bunda pun salah, karena terlalu memaksakan kehendak terhadapmu, padahal Bunda tahu kau sangat mencintainya. Dan kurasa jika kau tidak mau terpisahkan dengannya, kau bisa mengurungkan niatmu dan menolak tawaran Ayahmu ini. Kau tidak harus pergi," bisik Kushina dan tanpa ia sadari tetesan air mata mulai menetes dari mata indahnya.
"Tidak Bun, ini adalah pilihanku dan tidak ada sangkut pautnya dengan Ayah. Aku sadar, kalian memang benar,"
Kushina kaget mendengar hal itu, dia yakin bahwa sesuatu telah terjadi hingga Anaknya bisa berubah pikiran secepat itu, baru saja tadi pagi Naruto bersikeras untuk tetap tinggal di Tokyo, namun kini dia pun kekeh ingin pergi melanjutkan sekolah di USA.
Bukan berarti Kushina melarang, namun rasanya ada sesuatu yang ganjil. Dan bahkan kini anak kesayangannya mengakui bahwa ia benar tentang kekasihnya.
Batin Kushina bertanya-tanya.
"Hey… apa yang terjadi?" Kushina kini menaruh lengannya di atas lengan Naruto dan menatap lurus pada Naruto.
Naruto hanya menundukan kepalanya dan menggeleng pelan, disusul oleh suaranya yang agak serak, "Tidak ada apa-apa Bunda, ini keputusanku. Dan… aku akan pergi malam ini juga."
Kushina makin kaget mendengar hal itu.
"Nani! Malam ini? Kenapa cepat sekali? Kau kan belum mempersiapkan apa-apa Naruto."
Kini Kushina menggenggam erat lengan Naurto.
"Ayah bilang aku bisa pergi kapan saja. Apalagi dengan nilaiku yang cukup bagus, aku yakin aku bisa memasuki Universitas yang sama dengan Neji."
"Naruto… pikirkanlah lagi, jangan terbawa emosi," bujuk Kushina.
"Tidak, keputusanku sudah bulat dan ini final. "
Dengan itu Naruto pergi meninggalkan ibunya di taman belakang.
"Kau mau kemana? Aku belum selesai…"
Seru Kushina dengan nada yang terdengar seperti komando bagi Naruto untuk kembali duduk namun tidak sambil berteriak.
Naruto memalingkan wajahnya pada Kushina lalu berkata, "Itu keputusanku. Dan sekarang ada hal yang harus aku selesaikan sebelum kepergianku ini. Aku pergi dulu,"
'Naruto…' batin Kushina.
Naruto pun pergi untuk menemui sahabat lamanya, Kiba dan Shino. Namun tak satu pun dari mereka yang berada di rumah.
Hingga Naruto berasumsi bahwa dia telah melukai sahabatnya itu terlalu dalam hingga untuk sekedar bertemu saja mereka enggan.
-.
Kushina hanya dapat memandanginya dari jauh kepergian Naruto; hatinya masih tidak rela terpisah dari anaknya.
"Tenanglah, dia sudah besar. Kau tidak usah khawatir, Koishii." Minato berkata sambil memeluk wanita yang sangat dicintainya itu.
Kushina melarang Naruto dengan keras karena dia tak bisa melepaskan Naruto, anaknya satu-satunya yang jelas ia ketahui sedang patah hati itu.
"Ini sangat berat…" lirih Kushina dalam pelukan suaminya.
Minato hanya membelai rambutnya lembut, "Kau wanita yang kuat, aku yakin kau bisa melewati semua ini,"
Chu.
Minato mengecup kening Kushina.
"Menangislah sepuas hatimu," ucapnya pelan.
-.
Semoga kalian semua suka! dan jangan luppa komentarnya Senpai!
Nevin minta maaf untuk ketelatan update, soalnya Nevin sibuk mempersiapkan untuk UN. Dan Alhamdulillah Nevin telah melewatinya kini tinggal tunggu hasilnya aja!
Nevin akan coba untuk tetap lanjut kalau ada review yang cukup. jadi bagi yang suka dengan plotnya, tolong review.
kalau ada yang review itu, serasa ada yang menghargai hasil kerja keras kita! jadi lebih semangat!
ja nee!
-Nevin c'Edelweys-
