Disclaimer: Hetalia (c) Hidekaz Himaruya, dan nama-nama serta lagu yang saya sebutkan, saya minta maaf. That's truly just for parody! Maaf, sekali lagi maaf yaa . Pokoknya saya sudah minta maaf, lho! *maksa*
Rating: T karena kita kelas 9 (?). Tapi anak Playgroup aja biasa liat Rate M+ ==''
Warning: segala kegajean dan keabalan di dunia ini ditambah typos tralala, serta OOCisme bertebaran di seluruh angkasa sebelum adanya peristiwa Big Bang sang boyband Korea, tak lupa juga human names used termasuk nama-nama gaje pikiran author.
Jangan lupa ya, human names ciptaan author~ *bakalan dilupain*
Ice: Emil Fergusson
Norge: Nick (or Nicholas) Thoresen
Male dan Fem! Nenes: Absurdrahman (Abdurahman woii!) Putra alias Rama, dan Santika entah siapa cari aja di profil author (author gak niat, bunuh saja.)
Kita lihat anak-anak Hetagakuen yang abis ulangan Bahasa Indonesia. Kebanyakan dari mereka sih mencar-mencar dan gak bareng sama temen sekelasnya, begitu juga sama anak-anak kelas 9.5 tercinta dan tercantik. Mari kita lihat satu per satu, dimulai dari kedua orang anak Indonesia yang really-really suka mencontek, terutama pelajaran Matematika yang terkutuk.
"Rama~!" Panggil Santika sewaktu Rama baru keluar dari ruang 10.
"Apa? Tadi Bahasa Indonesia susah gak?"
"Gilaa... Gampang bangeet! Tapi Mtk ntar gimana ya?"
"Iya, kita butuh contekan! Sayang kita gak seruangan, gak bisa kerjasama!"
"Bener!"
"Udah deh, kalo gitu kita hanya mengandalkan orang pintar (?) yang ada dalam ruangan masing-masing. By the way, pegang HP lo?"
"Pegang dong, kalo pengawasnya galak kayak pak Germania sih baru gue kaburin ni HP."
"Kita kerjasama lewat SMS atau BBM, setuju?"
"Setuju!"
Tiba-tiba, dua ekor makhluk entah dari kelas berapa nongol ke hadapan twins yang merencanakan nyontek dan melakukan dua pelanggaran (memakai HP dan nyontek) itu.
"Santika, Rama. Tadi gimana ulangannya?" Sapa makhluk gaje dengan band aid warna pink motif hati dan winnie the pooh di hidung untuk menutupi komedo.
"Gampang banget," jawab Rama enteng. "Kamu sendiri gimana, Aussie?"
"Ya, lima nomer ngasal. Taruhan salah dua puluhan soal. Lumayan, dapet 60, lulus... Kan KKM buat lulus sama dengan atau lebih dari 5,5."
"Meuni diitung mas, pinter banget." Komentar Santika.
"Nggak terlalu susah ah, Aussie! Kamu aja yang males belajar! Aku aja waktu periksa lagi kukira-kira salah 10 soal... Dapet 8!" Kata makhluk yang bernama New Zealand.
"Kamu sih pinter, Zealand! Kenapa tadi gak ngasih contekan sih!"
"Pengawasnya kan Pak Nusantara, guru kesiswaan. Tau kan, yang namanya kesiswaan itu kayak gimana?"
"Errh..."
"By the way, emang kalian ruang berapa sih?"
"Ruang 04... Sumfeh gak enak sangaat!"
"Kedengeran sama anak kelas 9.4 kamu bisa dibunuh, lo."
"Bodo ah! Belajar yuk!"
"Tumben kamu ngajak belajar, Aussie."
"Iya, biasanya kerjaanmu cuma bunuh orang pake bumerang, makan koala, dan nyate kanguru buat dikorbankan ke Dewa matahari Maya di Stonehenge kan?"
"Dari mana kamu dapet statement gaje gitu? Nih! Buku pintar (?) gue! Pasti keluar di ujian~!"
Zealand, Santika, dan Rama melihat buku yang dipamerkan Aussie dengan senyum salesman penjual barang palsu, seperti uang palsu, gigi palsu, rambut palsu, dan koruptor palsu.
Bocoran UN 2010/2011
(TO 1. TO 2, Ujian Sekolah, Ujian Nasional)
.
Contekan (tanpa pembahasan) Ada di sini.
DIJAMIN 80% SAMA
.
.
TAK SAMA, UANG TAK AKAN KEMBALI (salah sendiri nyontek)
.
Penerbit: PT Curangisme Addis Ababa
"Licik." Komentar Zealand begitu lihat cover bukunya. "Prediksi mananya? Itu mah bocoran!"
"Bodo," sanggah sang gila koala. "Cara apapun dihalalkan asal lulus."
"Boleh tuh, yuk belajar!" Kata Rama bersemangat.
Dan mereka pun belajar bersama, alias memindahkan jawaban TO 1 Matematika ke tangan mereka masing-masing dengan seringai bak serigala yang mau diraep sama Jesse McC*rtney.
Mari kita lihat cara belajar yang lain, seperti The Nordics.
Berwald sepertinya bosan seruangan sama anak-anak kelas 9.5. Dia ingin ke ruang 07 buat ketemu Tino, tapi males kalo sendirian.
"Hei, Svi. Mau ikut gak?" Panggil Emil.
"K'm'n'?" Tanya Berwald disingkat-singkat seperti SMS.
"Ke ruang sebelah, Team Nordics yang lain kumpul tuh buat belajar bareng!"
"Ok."
Berwald dan Emil bersama ke ruang 08. Belum-belum, udah disambut dengan deklamasi gaje sangat dari Denmark sang manusia aneh dan nggak jelas.
"Akh Sve, kau datang. Kau datang di saat terangnya sinar bulan~ Sinar bulan adalah muka-muka kami yang merindukan~ Kami merindukan contekan... Contekan yang jujur dan benar, seperti saat kau seruangan~"
"Diam atau kucekoki Sustromming." Ancam Berwald, membuat Denmark sang penyair (?) diam. "Katanya kalian mau belajar?"
"Ahk! Su-saan! Ice!" Teriak makhluk yang terkenal dengan mitologi Kalevala-nya. "Aku kangen!"
Seketika, muka Berwald memerah, semerah cat poster warna ijo toska.
"Lho, ada anak durhaka di sini toh." Kata Nick dingin. "Anak durhaka yang tak mau mengakui kakaknya sendiri, yang nantinya dikutuk jadi PSP buat main Gakuen Hetalia di Zimbabwe."
Ternyata Norway masih maniak Zimbabwe dan sekitarnya toh, dia belum tobat sejak jadi Gayus (ah, lupakan).
"Anak durhaka dari Aztec Saudi?"
"Buktinya, elo gak mau ngakuin gue itu kakak padahal buktinya udah jelas-jelas menggunung bak Mauna Kea, Everest, sama Kilimanjaro yang ditumpuk sepuluh kali di Ethiopia!"
"Emang gue gak mau ngaku! Udah, gue gak mau belajar! Mauna Kea dari Hong Kong?"
"Hong Kong? Nama anak kelas 9.2?"
Seketika, Hong Kong melintas sesaat dan dadah-dadahan ke kamera author padahal cuma figuran. Mentang-mentang populer di INDONESIA!
Balik ke masalah. Setelah berdebat ditemani lagu Carrot and Stick (punishment?) , akhirnya mereka serius belajar juga. Kecuali Denmark.
"11...21...35" Emil membacakan soal.
"Ngg... Kalo pola bilangan tingkat dua rumusnya ribet banget! Dicari dulu selisih bilangannya, terus selisihnya dicari lagi selisihnya!" Keluh Tino.
"Ya memang begitu rumusnya! Sama rumusnya juga ada lagi lo!" Kata Nick mengajari. "Pertama-tama, kau cari a pakai rumus 2a. yang diambil itu selisihnya selisih, alias yang paling bawah. Kalo misalnya selisihnya pola bilangan selisihnya itu 4, artinya 2a itu 4."
"Dan a itu 2." Kata Tino sedikit mengerti. "Begitu saja?"
"Nggak, tiga kali nyari. Kalo udah ketemu 2a, kamu cari b pake 3a+b=selisih dari pola (yang kedua). Nih, angka kedua kan 10. Artinya 3a+b=10. a-nya kan 2, masukin saja. 3 dikali 2 ditambah b sama dengan 10. Artinya b itu..."
"4." Kata Tino.
"Terus, kalo udah ketemu, cari c pake rumus a+b+c=soal. Tadi kan soalnya kan 11. Jadi, 2+4+c=11. Artinya, C itu 5."
"Stop, stop. Lo nerangin gimana sih?" Kata Emil sebal. "Jangankan readers, Tino aja gak paham!"
"Salahkanlah yang mengetik ini!"
Berwald sebal karena dia begitu mau mengajari 'istri'nya tapi didahului sama 'mantan'nya, Nick. Tapi, dia sendiri lebih sebal melihat Denmark yang anteng (tumben?) dan bukannya belajar sama sekali.
"Hei, belajar! Kau paham yang kuajari tak?" Tanya Nick.
"Nggak."
"Tak akan kuizinkan mencontek! Nyontek ke aku atau Tino atau Berwald atau Emil, kukutuk jadi buku UUD 1945 yang diamandemen sama author dan Gita KDI!"
"Oke deh! Gue belajar! Tapi kan Mtk gampang, ilmu pasti. 1 ditambah satu sudah pasti dua."
"Apal rumus pelajaran SMP gak? 1+1 sih anak batita aja bisa!"
"Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian." Kata Emil sok dewasa dan menasehati Denmark yang usianya sebenarnya lebih tua. "Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian! Kita harus hidup susah dan usaha dulu, baru bisa menikmati hasil. Maka itu belajar!"
"Tapi kata Sayonara kan 'buat apa susah, buat apa susah, susah itu tak ada gunanya'! Jadi buat apa belajar, kalo belajar itu emang susah? Kalo belajar susah dan susah itu tak ada gunanya, artinya belajar itu tak ada gunanya!"
Langsung aja Denmark digetok, dicekek, dicekoki salmiakki dan sustromming, serta dijampi-jampi.
"Ayo serius!" Kata Tino sebal. "Kau mau lulus atau mau diam di kelas ini?"
"Aku kan cinta sekolah ini..."
"Ya udah, artinya dia gak mau lulus."
"Apa sih, kalian heboh gitu! Ini kan baru TO 1! Yang diambil nilainya kan TO 2 dan UN!"
Sekali lagi, Denmark (nyaris) mati dibunuh oleh empat orang yang beriat belajar bersama.
"AAARGH!" Vash tereak-tereak gaje. Arthur sampe-sampe nyaris budeg.
"Naoon siaa!" Kata Arthur.
"Gue gak bisa Matematikaa! Gue itu bisanya cuma itung duit!"
"Bener!" Kata Alfred kesal. "Lagipula, kenapa kita harus belajar x-x-an sih? Itu kan untuk orang dewasa!"
"Ampun, jangan nganggep pelajaran aljabar, gradien, dan lain-lain itu untuk orang dewasa, ya!"
"Tapi gue cuma bisa ngitung duit! Bisanya cuma aritmatika sosial doang!"
"Masih mending," kata Arthur. "Gue malah cuma bisanya himpunan."
"Gue dong," kata Alfred menyombongkan diri. "Gak bisa sama sekali."
"Pinter. Lo emangnya belajar apa semalem?"
"Bahasa Indonesia. Gue kira pelajaran hari ini tu Bahasa Indonesia sama Inggris."
"Kalo Bahasa Inggris sih, sambil tidur nilai 98 gue dapet!" Kata Vash.
"Gue malah 100, kali."
"PLDV gimana iniii!" Kata Yekaterina heboh bak The Sims yang kompornya kebakaran.
"Ya gampang, tang-ting-tung aje." Kata Roderich menghibur (?).
"Emang elo bisa Roddy?" Tanya Antonio sambil makan tomat.
"Kagak. Gue lupa terus! PLDV tuh kelemahan gue! Ruang 10, ada yang bisa PLDV kagak?"
"Gue bisa." Kata Raivis. "Tapi sayang, aljabar gue tumpul."
"Senasib." Kata Kiku. "Padahal materi lain gue udah nguasain..."
"Gue bisa aljabar!" Kata makhluk bertopeng berwarna pink keunguan dengan motif hati dan teddy bear (?).
"Dari kelas berapa lo?" Tanya Antonio dengan semangat mengusir '45.
"9.6~ Emangnya elo lupa? Gue, SPG! Sadiq Paling Ganteng!"
Haaah?
"Ganteng ti Monas?"
"Ve! Lanjut ve! Aku gak bisa bilangan bulat!"
Semua shock. Jelas materi itu materi yang paling gampang, yang diajarkan kelas 7 semester 1, bab pertama lagi! Masa' lupa? Kan cuma positif negatif doang!
"Baka! Masa' segitu gak bisa?" Kata Lovino yang muncul entah darimana.
"Kelas berapa kamu, heh? Ini rembug khusus untuk 9.5... Dan SPG gaje, silahkan pergi ato nggak kukasih 'makanan' Inggris sewaktu perang dunia II!" Kata Arthur. Mendengar itu, sang SPG langsung pergi.
"Nggak masalah kan, aku kan juga bisa bantu kalian!"
"Ya udah, buat Lovino udah pasti dibolehin!" Kata Antonio.
"By the way... Nesia bersaudara dan Emil ngilang ke mana ya?"
"Tau tuh, licik amat belajar sendiri. Bukannya bagi-bagi."
"Tenanglah, ntar kita todong." Kata Alfred. "Setahuku, Emil jago semuanya tuh. Dia kan pernah menang olimpiade Matematika di kecamatan bareng sama Berwald dan Tino."
"Phew, bukannya dia paling benci contek-mencontek?"
"Demi kelas! Demi ruangan!"
"Bodo, deh. Daripada dia gak mau, mending kita kerjasama aja. Lovino, karena kamu ada di sini, kamu juga ikutan. Oke?" Kata Gilbert.
"Bagus tuh, da! Jadi kita kerjasama?"
"Setuju. Mencontek itu baik, begitu kata Sherina KDI di album 'Takkan Pernah Ada'." Kata Eduard. Sherina gak pernah masuk KDI, apalagi ngomong 'kerjasama itu baik'.
"Oke, siap HP!"
"Siaap!" Kata anak-anak bagaikan koor penyanyi dangdut di Taman Lawang.
"Toast untuk kerja sama kita! Toast untuk sembilan lima~!" Kata Arthur mengangkat botol minumnya. Semua anak mengikuti, kecuali yang tak ada.
Pak Germania yang (kebetulan) lewat situ melihat toast anak-anak ruang 10. Dia merasa itu adalah solidaritas kesetiakawanan abad 21 (?). Pak Germania terharu melihatnya (toastnya doang yang diliat, niat bejatnya kagak) karena dia berpikir mereka sedang membuat kenang-kenangan sebelum berpisah. Dudul? Sangat.
.
TBC
Saya baru sadar, chapter 1 banyak gagalnya =.=''. Bodo, ah. Masalahnya, dari saya publish chapter 1 di hari kamis itu, saya langsung jatuh sakit sampai senin. Oh god~ Batuk saya ini bener-bener kejam. 4 hari, coba =.=
