Rated: T

Disclaimer: All of these chara is belongs to Mashasi Kishimoto, but this fic is mine

Warning!: gajelas, bahasa sok puitis, alur lompat-lompat, OOC, dan yang lainnya

NejiTen slight NejiHina

Don't like? don't read

Couple words from author:

Haihaihai para readers yang didunia nyata maupun gaib(?) author kembali lagi setelah absen beberapa hari dari fanfic ini hehe, selama dua tiga hari dua malam aku menimba ilmu nih, dengan mempelajari fic para senior dan tidak mereviews (dikeroyok author-senpai) wkwk, sekali lagi maaf ya tiba-tiba saja pergi tanpa alasan yang jelas(?) oke tanpa basa-basi lagi, aku balas reviews dulu okee?

Fumiyo Nakayama: Hii Fumiyo! ternyata kamu membaca fic aku yang ini juga yaa. terimakasih ya udah ngikutin fic aku yang sebelumnya semoga Fumiyo juga suka dengan fic yang ini hehe, itulah kebiasaan author yang suka mengacak-acak pairing wuahaha *evil laugh #diguyur mba mba warteg. tapi tetep kok main pairing nya tetep NejiTen, the best pairing ever wuhuu hehe.

D'Michi: Hi D'michi-san hehe, salam kenal yaaa. untuk review mu yang di fic satunya aku balas disini aja ya, mm yaa itu gaterlalu lemon kokk, aman dikonsumsi hehe,soalnya aku juga ga pengalaman bikin fic lemon ._. huwaa kamu ternyata jeli juga, makasih ya aku usahakan di chap ini gaada typos nyaa, oke ini udah aku apdet hehe.

YOSH! langsung saja chappie 2 wuhuu!

Chapter 2

Normal Pov

Sinar matahari berdesakan masuk lewat celah-celah tirai tipis di jendela dengan kusen berukir rumit itu. kehangatan mulai menyeruak masuk dikamar yang sedikit gelap itu. tak jauh dari jendela, terlihat seenggok laki-laki berambut coklat lumpur tengah bergelung didalam selimut putih sutera nya. Wajah laki-laki itu terlihat agak gelisah, terbukti dengan alisnya yang berkerut meskipun sedang tertidur. Matahari mulai merambat naik, membuat frekuensi cahaya matahari yang masuk ke kamar itu bertambah banyak. Si laki-laki berambut coklat panjang itu mengernyitkan hidungnya sebelum akhirnya mengerjapkan matanya beberapa kali. Dan, whoala. Terlihatlah sepasang bola mata lavender pucat yang beberapa detik lalu tertutup kelopak mata seputih gading.

Setelah pandangannya mulai fokus, laki-laki itu segera duduk diatas tempat tidur berukuran king size nya. Hal pertama yang ada dipikirannya adalah seorang gadis. buru-buru ia bangkit dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi, untuk membersihkan dirinya. Setelah menghabiskan beberapa menit didalam kamar mandi, laki-laki yang tidak bisa dibilang jelek itu keluar dari sana, lengkap dengan baju berlengan panjang berwarna putih polos yang dipadu padankan dengan celana berwarna abu-abu, pakaian khas klan nya. Tak lupa sebuah penutup kepala di dahinya, yang sengaja ia kenakan untuk menutup tanda itu, tanda terkutuk yang sudah bersemayam didahinya selama bertahun-tahun. setelah siap, laki-laki itu bergegas keluar dan menapaki kakinya menyusuri koridor yang luas. Beberapa pemuda berseragam pengawal membungkuk dan menyapanya, tapi si pemilik mata indah itu tidak menggubrisnya.

Yang terpenting baginya adalah gadis itu, gadis yang selalu menghantui kehidupannya, gadis yang menjadi jantung di tubuhnya.

Pikirannya tenang ketika melihat sosok itu, sosok gadis yang tengah asik menatap kolam ikan yang berada di halaman belakang istana.

"Hinata-sama, apa yang anda lakukan disana?" Si gadis berambut indigo yang ternyata bernama Hinata langsung membalikan tubuhnya.

"Ah, Ne-Neji-nii."

"Anda harusnya sedang latihan untuk upacara itu bukan?" Hinata terkekeh lembut sebelum akhirnya berbicara.

"U-upacara minum t-teh? Aku s-sedang ti-tidak ingin, sa-saja, Neji-nii." Neji mengangguk kecil lalu kembali diam.

"Ah! Neji-nii, ma-mau menemaniku?"

"Kemana, Hinata-sama?"

"Kesuatu tempat."

xXx

Neji's Pov

Mataku terpaku pada langit itu, langit yang sedikit kelabu dengan hiasan berupa gumpalan awan berwarna kelabu juga. Samar-samar telingaku berhasil menangkap suara siulan angin di kejauhan, serta gesekan angin dan senandung lembut seorang gadis berambut indigo yang tengah asik merangkai bunga di sebelahku. Tempat ini, tempat yang sangat tenang.

"Lihat, Neji-nii a-aku membuatnya se-sendiri, bagaimana m-menurutmu?" Aku terpaksa membuka kedua mataku untuk melihat 'karya' sederhana gadis itu.

"Bagus sekali, Hinata-sama." Ucapku sambil tersenyum seadanya, lalu kembali memejamkan mataku. tangan kananku kuletakan diatas dahi, di tempat segel itu bersemayam. Segel yang sudah berada di dahiku selama lima belas tahun, segel yang terasa memenjarakanku dikehidupan ini.

Segel yang membuatku tidak bisa bebas memilih jalanku sendiri, seolah segel ini sudah menentukan hidupku, seolah sudah membuat jalan hidupku, menentukan takdirku. Segel yang membuatku harus mengabdi pada klanku sendiri, segel yang menunjukan bahwa aku adalah seorang bunke, yang harus tunduk pada setiap perintah para Souke dan yang terpahit, segel yang membunuh ayahku. Ayahku, meninggal enam belas tahun yang lalu, sebelum para iblis itu memasangkan segel di dahiku dengan seenaknya. Mereka bilang ini takdir, mereka bilang kematian ayahku adalah takdir, seolah mereka membiarkan ayahku mati begitu saja, seolah menumbalkan ayahku.

"Neji-nii? Kau baik-baik saja?" Suara lembut itu kembali membuat lamunanku buyar. "Tentu saja, Hinata-sama." Jawabku sedatar biasanya. Hinata hanya tersenyum kecil. Gadis ini, putri sang kaisar yang ternyata adalah adik dari mendiang ayahku. Yang berarti Hinata adalah sepupuku. Mungkin kalian bingung bukan? Bagaimana adik sepupuku bisa menjadi seorang putri sementara aku? Hanya menjadi seorang jendral yang harus mengawasi seorang gadis kemanapun ia pergi?

Jawabannya, takdir. Itu kata mereka, para tua bangka yang selalu menyebutkan kata takdir. Sedari aku masih kecil, kata-kata itu sudah mereka jejalkan di otakku, menanamkannya disana. Ayah Hinata, Hiashi-sama atau sang kaisar, terlahir dikalangan souke sementara ayahku terlahir dikalangan bunke. Awalnya Hiashi-sama hanya menjadi pemimpin klan, sebelum akhirnya klan kami, klan Hyuuga berhasil merebut tahta kerajaan konoha dan akhirnya berkuasa di negara ini. "Neji-nii?"

"Ada apa, Hinata-sama?"Gadis itu memejamkan matanya lalu menyenderkan kepalanya dibahuku. Aku hanya bisa diam, ya Hinata memang sering seperti ini, menyenderkan kepalanya dibahuku, bahkan tertidur disana. Aku tidak keberatan sama sekali, karena dia adalah adik sepupuku dan juga atasanku. Adik sepupuku yang kusayangi.

"A-aku hanya i-ingin ka-kau tahu bahwa... a-aku sangat me-menyayangimu, Ne-Neji-nii." Belum sempat aku berbicara, gadis itu sudah memotong kata-kataku. "A-aku menyayangimu, le-lebih dari se-sekedar sa-saudara, ka-kau pasti mengerti b-bukan, Ne-Neji-kun."

Okee chappie 2 yahaha, bagaimana-bagaimana? lebih ancur dari yang sebelumnya kah? atau lebih bagus? silahkan reviews yaa. :D