Gumiya menatap halaman sekolah dari jendela kelasnya. Dia datang teralu pagi dan rasa kantuk masih menyerangnya. Seharusnya, dia bolos saja pagi ini. Lebih asyik tidur di bawah selimut dibandingkan datang ke sekolah dan menyerap pelajaran—terkadang gurumu bahkan sebenarnya tidak peduli apakah ada yang mendengarkan dirinya atau tidak.

Ketika kemudian teriakan dari koridor depan kelasnya menarik perhatiannya, pemuda berambut hijau itu sudah bisa menebak ada sesuatu yang salah. Gadis-gadis yang dikenalnya sebagai pengagum berlebihan dari sahabat baiknya, Kasane Ted, tidak pernah terdengar heboh sebelum Ted datang dan sekarang Ted belum datang, artinya memang ada sesuatu yang salah.

Pemuda berambut hijau itu kemudian berjalan menuju tempat duduknya dan mendengar seorang gadis dari kelas sebelah bicara dengan napas tertahan.

"Kau sudah dengar? Lily yang bilang kalau Ted-kun punya pacar."

"Apa?! Siapa cewek itu?! Katakan padaku siapa cewek itu!"

"Aku nggak kenal, tapi mereka kelihatan mirip banget!"

"Mirip banget?"

"Jangan-jangan dia fans fanatik yang mencoba meniru penampilan Ted-kun."

Gumiya melirik sepenuhnya kali ini. Semalam ketika mereka membahas tugas, Ted sama sekali tidak mengatakan apapun soal gadis itu. Dia sukses dibuat penasaran.

"Arraa! Itu dia itu dia! Itu mereka!"

Pandangan gadis-gadis itu tertuju pada jendela, tempat dimana pemandangan pintu gerbang Utaunoda bisa terlihat dengan jelas. Mau tidak mau, Gumiya juga penasaran dengan kehebohan itu bukan? Bayangkan, baru kemarin dia menyatakan ide bodoh itu dan Ted langsung mengikuti arahannya? Memangnya temannya itu polos tingkat dewa apa?!

Gumiya tersenyum lebar saat mendorong seorang gadis yang berebutan tempat dengannya. Gadis itu melangkah mundur dengan horror. Tentu saja, Nakajima Gumiya tidak dikenal sebagai sadistic genius tanpa alasan yang jelas.

Mata hijau daunnya melirik ke segala arah, berusaha memperlebar jangkauan pandangnya. Tapi, dia tidak perlu melakukannya karena sosok yang dicarinya terlihat dengan sangat-sangat jelas.

Senyuman Gumiya berubah menjadi cengiran lebar. Dia bisa melihat motor sport merah milik Ted memasuki pelataran sekolah menuju tempat parkir. Pengendaranya yang biasanya cuma sendiri, pagi ini terlihat membawa satu sosok lainnya. Sosok dengan jaket berwarna merah yang senada dengan milik Ted.

"Hemm, sengaja agar kelihatan mesra agar memakai jaket yang sama?" Gumiya sungguh merasa sahabatnya sangat polos. Sungguh terlihat dibuat-buat jika sebenarnya gadis-gadis (yang bodoh) itu dapat menyadarinya.

"Mana-mana? Kau bisa lihat wajahnya?"

"Yang memakai jaket merah itu kan?"

"Sengaja biar sama seperti Ted-kun!"

"Biar kelihatan mesra maksudnya?"

"Sial! Seharusnya ini tidak terjadi! Kita padahal sudah sepakat untuk tidak saling mendahului kan?"

"Eh, tungguh dulu! Cewek itu... dia murid sekolah kita berarti?"

"Apa?!"

"Wah, benar juga! Makanya mereka berangkatnya bareng!"

"Anak kelas berapa sih? Kok berani-beraninya?!"

"Sial! Harus disamperin ke kelasnya ini!"

Iris hijau Gumiya melirik gadis berambut gelombang yang berdiri paling dekat jendela dengan sorot mata membunuh. Dia tidak ingat nama gadis itu, tapi yang jelas dia pernah memberikan sekotak besar coklat berbentuk hati untuk Ted ketika valentine tahun lalu—super niat deh, itu komentar Gumiya saat itu.

Kemudian, sorot matanya kembali menuju sosok berjaket merah yang terlihat berjalan sangat dekat dengan Ted. "Siapapun gadis itu," bisik Gumiya kemudian, "dia akan menerima sambutan besar, terutama dari para gadis."


Fake Love


| Trick Two |


Kasane Teto menatap ke sekeliling kelasnya dengan ekspresi datar. Penyebab pertama adalah ini pertama kalinya dia pindah ke suatu sekolah di pertengahan tahun ajaran—dan adaptasi dari London ke Tokyo cukup menyulitkannya. Untunglah selama ini dia tidak melupakan kosa kata kanji dan yang lainnya sehingga dia tidak akan mengalami buta huruf.

Penyebab kedua adalah guru yang mengajar di kelasnya saat ini—kelas 1-C—adalah tipikal cuek yang sebenarnya tidak peduli pada apapun. Teto kenal tipikal guru yang hanya fokus pada penerimaan gaji tanpa peduli pada murid didiknya.

Penyebab ketiga mungkin adalah aura yang dipancarkan oleh teman-teman sekelasnya tampak muram.

Penyebab keempat karena Teto pada dasarnya lebih suka bersikap tenang sebenarnya.

Oke, yang akan dibahas disini adalah penyebab ketiga yang jelas memberikan efek mencekam hingga Teto benar-benar tidak mengerti apa salah dirinya sampai harus menerima tatapan tajam dari semua pihak.

Iris merah gelapnya mengerjap saat mengamati ekspresi dari teman-teman sekelasnya. Rombongan murid laki-laki tampak diam mengamatinya lekat-lekat seolah dia adalah sesuatu yang paling langka dan jarang di temui di dunia ini. Rombongan murid perempuan tampak diam mengamatinya lekat-lekat seolah dia adalah sesuatu paling aneh dan paling mustahil bisa ada di dunia ini. Pandangan mereka mirip, tapi jelas ada sesuatu yang membedakan.

Seolah yang laki-laki memberikan tatapan kekaguman sementara yang perempuan memberikan tatapan kebencian.

Apa mereka tidak bisa menerima murid baru di tengah semester?

Kasane Teto yang malang. Dia tidak mengetahui bahwa dia sudah dijerat paksa oleh sepupunya yang baik hati menjemputnya dan menjatuhkan roti kesukaannya.

"Umm, perkenalkan dirimu sekali lagi," sahut guru berkacamata yang mengajarnya sekarang.

Teto mengangguk pelan dan kemudian berkata dengan suara tenang. "Kasane Teto. Salam kenal semuanya."

"Baiklah, Kasane-san—"

Teto bisa mendengar bisik-bisik dengan ekspresi penasaran. Beberapa orang malah sengaja menunjuk dirinya.

"—adalah pindahan dari London. Mungkin dia tidak akan begitu lancar dalam bicara bahasa Jepang, jadi kalian harus membantunya agar merasa sangat nyaman. Kalian mengerti?"

"Ya, Sensei." Semua orang di kelas itu menjawab dalam satu nada yang sama.

"Kau bisa duduk di kursi kosong yang ada di belakang, Kasane-san."

Teto mengangguk pelan lalu berjalan di antara barisan meja yang telah terisi murid-murid sekelasnya menuju meja di sudut belakang yang persis menghadap jendela yang terbuka. Dia bisa merasakan setiap mata seolah mengikuti gerakkannya dan dia merasa penasaran kenapa mereka harus bersikap seperti itu pada dirinya.

Dia bukanlah pembawa virus beracun yang dapat membahayakan orang lain.

"Aku harap Ketua Kelas dapat membantu Kasane-san dalam beradaptasi di sekolah kita."

Gadis dengan rambut coklat muda gelombang yang persis duduk di sebelah bangku Teto berdiri sambil tersenyum lebar. Dia menyambut Teto dengan ekspresi hangat, sungguh berbeda dari yang lainnya.

Atau memang sengaja dibuat berbeda karena satu dan lain hal?

"Aku Ketua Kelas disini," gadis itu tersenyum hingga membuat iris matanya yang berwarna keunguan menyipit perlahan. "Sakai Mayu."

Teto balas tersenyum tipis padanya saat duduk di tempatnya. "Kasane Teto."

"Boleh aku memanggilmu dengan nama kecilmu?"

Anggukan pelan merupakan jawabannya.

"Baguslah," Mayu kembali tersenyum, "kau juga langsung memanggilku dengan nama kecilku yah."

"Baiklah, Mayu."

Sepanjang pelajaran berikutnya, Teto masih bisa mendengar bisik-bisikan mengarah ke dirinya serta tatapan penuh penasaran. Tapi dia tidak peduli.

Dengan kepala bertopang dagu, Teto mengarahkan pandangan ke luar jendela, menuju langit biru yang cerah serta melihat bagaimana dedaunan di atas pohon bergerak searah angin yang berhembus pelan.

Sungguh, Jepang berbeda dengan Inggris.

.

.

"Jadi, kau menuruti saranku?"

Kasane Ted tersenyum lebar sambil menganggukkan kepalanya.

Pemuda berambut hijau yang bertanya tidak tahu harus merespon apa. "Aku benar-benar tidak bisa membedakan antara kau teralu polos atau kau teralu bodoh, Ted."

"Apa yang kau bicarakan?"

Gumiya memajukan tubuhnya dan mengubah suaranya menjadi bisikan. "Kau memungutnya dari jalan?"

"Dia sepupuku, baka, baru datang dari London kemarin."

"Hemm, karena itulah kau memanfaatkannya?" Pemuda bermata hijau itu menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda tidak mengerti apa maksud sahabat karibnya. Dia tahu kalau Ted memang tidak pernah punya niat buruk terhadap apapun di dunia ini dan dia yakin rencana yang sebenarnya asal dia katakan kemarin adalah penyebab dari semua ini.

"Memanfaatkannya? Maksudnya?"

Apakah Ted sedang mencoba membodoh-bodohi si jenius itu? "Kau pacaran dengannya?"

"Tidak."

"Kau berpura-pura pacaran dengannya?"

"Yap. Seperti apa yang kau bilang kemarin kan?" Ted nyengir lebar. "Aku beruntung sekali ya. Momennya pas banget! Kau punya ide brilian, dia datang, lalu kusadari semua gadis nyentrik itu menjauh dariku. Yeay."

Sekali lagi, Gumiya tidak habis pikir, apa sih yang dilihat gadis-gadis itu dari Ted?

"Tidakkah kau bersikap jahat padanya?"

"Pada siapa?" tanya Ted bodoh.

Gumiya mengambil buku catatannya dan memukul kepala Ted dengan benda itu. "Sepupumu, bego!"

"Aah... aku justru merasa aku menolongnya." Ted mengangguk sambil tersenyum. "Seriusan kok, tadi gadis-gadis langsung mengerubuninya dan aku berpikir itu bagus, dia sudah dapat banyak teman di hari pertamanya. Aku hebat kan?" Tawa riang keluar dari bibirnya.

Yeah, teman-teman yang akan membunuhnya. Itu pasti.

"Memangnya gadis itu setuju akan idemu?"

"Dia tidak mengatakan apapun dan sesuai dengan asumsimu, orang diam berarti setuju."

Atau mungkin kebingungan setengah mati, Ted. Perhitungkan probabilitas itu juga dapat terjadi.

Gumiya menghela napas panjang. "Terus, tadi pagi juga termasuk skenario? Kau sengaja berangkat bersamanya ke sekolah sekaligus mengumumkan hal itu pada gadis-gadis gilamu?"

"Mom yang menyuruh, lagian kenapa dia harus berangkat terpisah denganku sementara dia tinggal di rumahku?"

"Seriusan?"

"Serius," jawab Ted santai sambil mengambil komik yang ada di atas meja Gumiya. Dia membalik-balikkan halaman komiknya, mencoba melihat seperti apa ceritanya sekilas.

"Dengan orang tuamu yang jarang ada di rumah?"

"Yap."

"Itu artinya kalian akan tinggal berdua saja?"

"Hemm... yap." Dia meletakkan komik Gumiya dan gantian mengambil PSP Gumiya.

Para penggemar Ted akan membunuh gadis itu jika Ted lengah sedikit saja.

"Hampiri dia ke kelasnya sekarang!"

"Eh? Buat apa?" protes Ted, dia baru saja ingin memainkan PSPnya.

Gumiya memberikan tatapan tajam. "Aku tidak habis pikir, apa sih yang dilihat cewek-cewek itu darimu!"

"Entahlah. Aku juga tidak habis pikir." Ted menggusap tengkuknya dengan kikuk. "Aku harus ke kelasnya nih?"

Tangan Gumiya sudah meraih buku catatan Ted dan memukulkannya ke kepala pemuda berambut merah itu. Setidaknya, Gumiya yang bahkan tidak ada hubungannya dengan ini semua—okelah, memang dia yang mengusulkan ide, tapi Ted lebih keteraluan lagi!—berniat untuk menolong gadis itu.

Mereka berdua berjalan di sepanjang koridor kelas. Setiap mata tertuju pada mereka. Betapa tidak, yang satu adalah Nakajima Gumiya, seorang pelajar teladan dengan sikap cool, walaupun yah tabiatnya sedikit diluar perkiraan. Yang satu lagi adalah Kasane Ted, seorang pelajar tampan, model sebuah majalah remaja terkenal, pintar dalam ilmu bela diri, dan dengan sifat baik hati yang mampu meluluh-lantakkan hati setiap gadis yang mengenalnya.

Sebuah kewajaran jika para gadis-gadis begitu menggilai mereka bukan?

Sayangnya, Gumiya berhasil membentengi untuk melindungi diri dengan perkataan pedas yang selalu dilontarkannya sementara Ted harus terseok susah payah menghadapi semua kelakuan penggemarnya.

Salahnya sendiri untuk memilih peran baik hati bukan?

Mereka sudah berada di depan kelas 1-C dan Gumiya melirik Ted dengan ragu. Bagaimana Ted akan menghampiri gadis itu nantinya?

"Aku harap kau tidak melakukan tindakan bodoh, Ted."

"Tindakan bodoh seperti apa maksudnya?" Ted justru tertawa lebar dan melangkah masuk. Serta merta semua mata di dalam kelas itu tersorot padanya. Bahwa selama ini, probabilitas seorang Kasane Ted masuk ke kelas mereka adalah limit mendekati nol, hampir tidak mungkin terjadi.

"Ini tindakan yang kumaksud," bisik Gumiya pelan, lebih untuk dirinya sendiri dibandingkan untuk orang lain.

Ted berjalan dan menghampiri segerombolan gadis yang sibuk menata rambutnya—seriusan, Gumiya berpikir kalau lebih baik mereka mencabut saja rambutnya hingga ke akar, botak mungkin akan menjadi gaya yang lebih bagus untuk mereka.

"Apa kaliah melihat Teto?"

"Aah... Senpai... aah... umm..." Salah satu gadis di rombongan itu kelihatan gugup hingga sulit bicara. Jemarinya tidak henti merapikan rambutnya. "Umm... Teto-chan... etto..."

Gumiya menggaruk rambutnya. Mendadak dia merasa kesal melihat gadis itu. "Berhentilah merapikan rambut dan bicara dengan tenang!" serunya cepat.

Mata gadis itu terbelalak cepat. Dia segera menurunkan tangannya dan menundukkan kepalanya. Rasa takut kelihatan amat menguasai dirinya. "Teto-san mungkin sedang makan siang bersama Mayu-san."

"Dimana?" tanya Gumiya cepat, tentu saja dia tidak peduli gadis itu mau ketakutan setengah mati atau apapun, yang terpenting adalah dia mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.

"Di... kantin... mungkin..."

"Oke. Terima kasih." Dan kemudian tangan Gumiya langsung merangkul Ted agar secepatnya mereka bisa pergi dari tempat itu.

Ketika mereka berjalan di koridor menuju kantin, Ted menatap Gumiya sebal. "Kau tidak perlu membuatnya seperti itu."

"Membuatnya siapa seperti apa?"

Ted menggerakkan kepalanya ke belakang, memberi isyarat: yang barusan kita ajak bicara.

"Apa?" Gumiya bersikap tidak mengerti. Percuma dia menjadi siswa berprestasi kalau dia bahkan tidak tahu arti isyarat barusan.

"Gadis di kelas Teto tadi! Tuhan, ingatanmu jadi pendek ya?"

"Aku hanya mengingat sesuatu yang penting, Ted, dan sebaiknya jika kau ingin membuat gadis-gadis itu berhenti bersikap fanatik padamu, kau harus mulai mengabaikan mereka." Karena Ted hanya diam, Gumiya kembali melanjutkan dengan kalimat dingin seperti biasanya, "dengar ya, aku memang memberi saran supaya kau pacaran, tapi bukan berarti hanya dengan melakukan itu semua akan selesai begitu saja."

"Ya..." Ted menggaruk belakang lehernya dengan kesal. "Aku tahu..."

"Jangan berlagak tahu padahal sebenarnya tidak!"

Ted memandang Gumiya sebal. Kenapa sahabatnya yang satu ini teralu banyak bicara sih?

Mereka sudah sampai ke wilayah kantin sekolah. Semua meja terlihat penuh dan antrian pada loket makanan begitu panjang hingga membuat Ted dan Gumiya kehilangan selera makan mereka. Ya, itu tidak masalah, toh dari awal mereka ke kantin bukan untuk mencari makanan bukan?

Mata coklat gelap Ted menyusuri ke segala arah, berusaha mencari warna merah gelap selayaknya rambutnya—sungguh, warna rambutnya dan rambut Teto sangat jarang di temui di sekolah mereka, entahlah, mungkin ada semacam peraturan tak resmi yang melarang orang lain memiliki warna rambut merah gelap selain Ted di sekolah mereka.

Dia kemudian menemukan gadis itu duduk di salah satu meja yang dikelilingi siswi-siswi yang menatap penasaran kepada gadis itu.

"Lihat, dia sudah punya teman bukan?" Ted tersenyum puas. "Apa yang kau khawatirkan, Gumiya?"

Pemuda berambut hijau itu menatap arah yang ditunjuk Ted, berusaha menganalisis situasinya. Kemungkinan besar, tidak ada yang mempercayai bahwa gadis itu merupakan kekasih (palsu) dari pemuda paling populer di sekolah mereka itu.

Haruskah Gumiya mengatakan yang sejujurnya?

Senyuman terkembang di wajahnya dan dia melirik Ted. "Wah, kelihatannya kau perlu mendeklarasikan secara langsung, Ted."

"Mengenai apa?" Pemuda di sebelahnya mengerutkan keningnya.

"Yah, mengenai status palsumu."

"Hah? Bukankah mereka semua sudah tahu? Aku datang bersamanya tadi pagi dan aku terus mengenggam tangannya."

"Nama belakang cewek itu sama denganmu kan? Hemm," Gumiya menyentuh dagunya, memasang pose berpikir—bohong sih, jelas, semua akal bulusnya tidak perlu dipikirkan lagi sebenarnya, "kalau aku jadi mereka, aku akan berpikir kalau cewek itu adikmu sih—atau mungkin sepupumu, yang mana saja bolehlah."

"Oh ya?" Ted bertanya dengan polosnya. "Yah, gagal dong kalau gitu."

"Nggak akan gagal deh," Gumiya merangkul Ted dengan akrab. Dia menatap Ted dengan ekspresi serius dan penuh keyakinan. "Gampang kok, kau tinggal berjalan kesana, terus kau bilang deh kalau cewek itu pacarmu yang sangat-sangat kau cintai."

"Kau yakin?"

Pemuda berambut hijau itu mengangguk dengan penuh keyakinan. "Kau meragukan kejeniusanku memangnya?"

Ted tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Dia kemudian melepaskan diri dari rangkulan Gumiya, berjalan mantap dan penuh keyakinan menuju tempat sepupunya yang baru datang dari London—yang akan menjadi korban dalam kasus penipuan ini. Semua mata mendadak menatapnya, tentu saja, gadis-gadis itu belum bisa menolak pesona seorang Kasane Ted. Semua obrolan terhenti saat itu juga. Semua kegiatan tak berlanjut saat itu juga. Detik-detik waktu seolah tak bergerak, memenjarakan semua dalam pesona Ted.

Kecuali satu orang. Satu orang yang bersikap tidak peduli dan tetap melanjutkan santapan roti isi kacang merah yang senada dengan warna rambutnya. Gadis manis yang sama sekali tidak terjerat dalam pesona maut yang dikeluarkan oleh Ted.

Kasane Teto tetap mengunyah anpannya dengan santai, bersikap tidak peduli pada dimensi waktu yang memenjarakan teman-teman barunya.

"Teto-chan," suara lembut Ted terdengar.

Gadis itu menatap sepupunya dalam diam. Dia memang tidak harus memberikan respon sesuatu bukan?

"Makan siang bersama teman-teman barumu?"

Kali ini ini, umpan Ted disambar oleh gadis berambut coklat keemasan. Ted membaca badge namanya, tertulis Sakai Mayu disana. "Ya, Senpai! Teto-chan sangat suka anpan di kantin." Gadis dengan mata berbinar itu menoleh ke arah Teto dengan antusias. "Iya kan?"

Teto mengangguk sekilas sambil tetap mengunyah anpannya.

"Senpai mau makan siang? Kursi ini kosong kok!"

Ted melirik kursi di samping gadis itu lalu tersenyum. "Kalau boleh sih, aku ingin duduk di sebelah Teto-chan."

Semua mata tertuju pada Teto sekarang.

"Senpai teralu bersikap berlebihan," gadis Mayu tadi tertawa pelan, "seperti seorang kakak yang tidak bisa lepas dari adiknya. Kita semua tahu kok bahwa Teto-chan adalah sepupu jauh Senpai yang baru pindahan. Senpai sangat baik yah memperhatikan adik sepupu yang bahkan jarang Senpai temui."

Gumiya benar. Tidak ada seorang pun yang dapat melihat skenario sandiwara mereka. Ted memang harus menegaskannya.

"Bukan," sahut Ted sambil tersenyum. Dia berjalan ke belakang Teto dan menyentuh pundaknya pelan. "Biar gimana pun, aku memang tidak bisa jauh-jauh dari Teto-chan. Aku selalu ingin berada di dekatnya, menatap lekat dirinya."

Seluruh gadis menatap Ted dengan tidak percaya.

"Karena aku sangat-sangat mencintainya."

Sepuluh detik adalah waktu yang dibutuhkan untuk setiap gadis bangun dan kembali kepada kenyataannya.

"Hah?"

"Apa? Barusan Senpai bilang apa?"

"Tuhan!"

"Aku... kupingku kayaknya nggak normal deh. Aku harus ke dokter THT."

"Tunggu dulu tunggu dulu! Tadi Ted-senpai bilang apa?"

"Ya ampun! Ted-senpai incest!" Akhirnya, ada juga yang menangkap maksud ucapan Ted barusan. Butuh waktu 60 detik ternyata untuk membangunkan mereka seutuhnya.

"Seriusan! Gosip dari Lily benar ya?"

"Hah?! Maksudnya apa?! Maksudnya apa?!"

Ted tersenyum lembut dan menundukkan kepalanya, hingga dia bisa mencium aroma kacang merah yang menjadi isi dari potongan anpan yang dipegang oleh Teto. Mulut Ted membuka untuk melahap sisa anpan yang ada di tangan Teto. Cepat, tapi momennya mampu ditangkap oleh semua gadis yang ada disana.

"Anpannya memang enak," sahut Ted sambil mengunyah dan kemudian, dia kembali menunduk mendekati Teto kembali.

—Semua mata terbelalak.

—Semua mulut terbuka lebar.

"Arigatou, Teto-chan."

—Tatkala kecupan lembut Sang Pangeran Sekolah mendarat di pipi bulat Sang Murid Baru.

"Kau memang pacar paling manis sedunia!"

.

.

Siang itu, klub jurnal sekolah heboh. Mereka sibuk meliput berita tentang wabah yang diderita oleh siswi-siswi SMA Utaunoda. Setelah jam istirahat, tercatat bahwa cewek yang pingsan di UKS sejumlah 34 orang, sekitar 23 cewek dari berbagai tingkatan tercatat pulang karena tidak enak badan, sekitar 54 ditemukan menangis di kamar mandi, dan sisanya 45 orang mengikuti kelas dengan tidak bersemangat.

Dewan OSIS menyatakan bahwa mungkin saja terjadi penyebaran virus yang sangat kuat dan hanya menyerang para gadis.

Semua wali kelas panik dan kepala sekolah kemudian menetapkan bahwa semua siswa diliburkan selama seminggu ke depan guna mencegah wabah tidak menyebar hingga mengakibatkan apocalypse yang maha dahsyatnya.

Nyatanya, sang pelaku yang menjadi sumber virus itu tetap bersikap tenang. Ted tetap berjalan dengan santai, beriringan dengan gadis manis yang juga menjadi sumber wabah itu. Dalam hati, Ted tahu bahwa rencana Gumiya akan berhasil. Dia akan lepas dari jeratan mengerikan kekaguman siswi-siswi di sekolahnya. Dia tahu itu dan dia amat yakin.

Tersenyum pada Teto sambil mengenggam erat tangannya, Ted berbisik pelan, "arigatou, Teto-chan. Kau benar-benar malaikat penolongku."

.

.

.

.

.

.

—Tanpa pernah tahu atau memperkirakan bahwa semua tindakannya hari ini akan membuat Sang Malaikat Penolong terjun jatuh hingga neraka terdalam.


| tobecontinued |


pertama, makasih dulu buat yang udah ngisi kolom review kemarin: Kamikura39, Kagami Kagusa, creativeactive, Hana Arny, Aprian. , Nekuro Yamikawa, Chisami Fuka.

kedua, makasih juga buat kamu yang udah baca bagian ini. maap agak lama updatenya.

ketiga, nama belakangnya Mayu siapa ya? Yang dipakai disini adalah nama salah satu mangaka, kalau ada yang tahu, kasih tahu saya biar bisa diganti. nama belakang Gumiya diambil dari Nakajima Megumi, voicebank dari GUMI.

keempat, update tergantung hits cerita.

kelima, boleh berpendapat di kolom di bawah ini ;)