Author's Note: saya tidak bisa percaya kalau saya mendapat review lebih dari yang saya kira *peluk reader dan reviewer* Berhubung tanggapannya positif, sesuai janji fic ini saya lanjutkan XD
Special thanks to: N.h, Sandy, Rafi Orion Black, Roxeus Wams, ayu de lunar, MoonSacrifier, YuI-chan d'GoldenSnake, ELLE HANA, Just reader, tama no kiseki, and Aurora Fujimine.
Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling. No money is being made and no copyright or trademark infringement is intended.
Warning(s): this fic contain SLASH, AU in future chapter and a bit Canon in the beginning, OOC and typo. So if you don't like, please don't read! 'kay?
Pairing: Tom Marvolo Riddle Jr. / Harry Potter
:::
Chapter 2: Wool's Orphanage
November 1934
"Sudah berapa kali kukatakan untuk tidak berlari di koridor!"
Susan Cole membentak dua orang anak yang berlari melewatinya di koridor. Kedua anak yang dibentaknya segera menghentikan langkah kaki kecil mereka. Dua anak itu membalikkan tubuh mereka dan tersenyum kecil sebelum mereka kembali berlari ke arah sebuah ruangan yang berada tidak jauh dari koridor itu; meninggalkan wanita tersebut sendirian.
Ia menghela nafas melihat kelakuan anak-anak asuhnya. Terkadang anak-anak di panti asuhan yang dikelolanya ini bisa bersikap baik dan penurut. Tapi terkadang, mereka benar-benar menjadi anak nakal dan sangat susah diatur. Tidak jarang ia harus memberi mereka hukuman terlebih dahulu untuk mengontrol kenakalan mereka.
"Tidak baik menghela nafas di pagi hari seperti ini, Mrs. Cole."
Ia menoleh ke arah asal suara dan mendapati Martha—pekerja yang membantu di panti asuhan ini—sedang membawa sebuah keranjang penuh dengan cucian para penghuni tempat ini.
"Katakan pada anak-anak itu agar tidak membuatku seperti ini, Martha. Tidak bisakah satu hari saja mereka tidak membuat ulah?"
Martha terkekeh. "Anda tahu sendiri kalau mereka masih anak-anak."
Mrs. Cole tidak menjawab. Ia tahu benar apa yang dikatakan pekerjanya mengingat berapa lama ia sudah mengelola panti asuhan ini. Tapi tetap saja terkadang tingkah laku anak-anak itu sering membuatnya mengurut kening.
"... Apa sarapan sudah siap?" tanya Mrs. Cole; berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia mendapati gadis di hadapannya itu mengangguk singkat. "Kalau begitu suruh anak-anak untuk sarapan. Aku tidak mau melihat mereka masih berada di kamar ataupun di luar."
Tanpa menunggu perintah untuk yang kedua kalinya, Martha berjalan melewati Mrs. Cole. Lewat sudut matanya, matron panti asuhan itu melihat Martha berjalan ke arah ruangan yang sering digunakan sebagai ruang bermain. Menghela nafas pelan, Mrs. Cole berjalan ke arah tangga panti asuhan itu; bermaksud untuk menyuruh anak-anak yang masih berada di kamar mereka untuk turun sarapan.
xoxoxo
"Billy Stubbs, letakkan kelincimu di lantai dan makan makananmu atau aku terpaksa akan menyita peliharaanmu."
Anak laki-laki bertubuh kecil itu segera melakukan apa yang diminta ketika Mrs. Cole menatap tajam padanya. Ia meletakkan kelinci peliharaannya di pangkuannya sementara mulai menyantap sarapannya. Seolah-olah anak laki-laki bernama Billy itu tidak ingin menjauh dari peliharaannya. Melihat anak asuhannya menurut, Mrs. Cole tersenyum tipis. Sepasang matanya kemudian beralih ke arah anak-anak lain di ruang makan itu. Hampir semuanya terlihat sedang menikmati sarapan mereka.
Ya, hampir semuanya kecuali seorang anak laki-laki berumur tujuh tahun yang duduk di ujung meja. Anak laki-laki berambut gelap itu terlihat tidak berniat untuk sarapan. Tidak berminat lebih tepatnya karena sejak tadi ia hanya mengaduk-aduk makanan di atas piring miliknya.
"Mengapa kau tidak makan makananmu, Harry?" tanya Mrs. Cole kepada anak laki-laki tersebut.
Mendengar namanya dipanggil, anak itu mendongakkan kepalanya sehingga sepasang iris mata hijau cemerlang tertangkap oleh mata wanita itu. Mrs. Cole sedikit mengerutkan alisnya ketika anak bernama Harry itu kembali menunduk sambil menghela nafas.
"Tom," kata anak itu nyaris berupa bisikan, "sampai kapan Anda akan mengurungnya di Ruang Hukuman, Mrs. Cole?"
Wanita itu mendengus mengingat seorang anak laki-laki yang sejak kemarin menerima hukuman darinya karena melakukan sesuatu yang buruk terhadap peliharaan Billy. "Sampai nanti malam," kata wanita itu.
Harry mendongak. Kedua mata emerald miliknya menatap tidak percaya ke arah wanita itu.
"Anda tidak bisa mengurungnya selama itu, Mrs. Cole!" pekik Harry sehingga ia menarik perhatian seluruh anak-anak di ruang makan tersebut. "Tidak bisakah Anda menyudahi hukumannya? Kumohon... ia sudah berada di dalam sana seharian penuh."
"Hukuman itu pantas untuknya, Harry. Sekarang berhenti memohon untuk anak itu atau kau akan mendapat hukuman. Nikmati sarapanmu kemudian mandi."
Anak laki-laki berambut hitam berantakan itu tidak membantah. Walau enggan, ia mulai memakan sarapan paginya. Sesekali ia melirik ke sekitarnya. Anak-anak yang lain terlihat menyantap makanan mereka dengan lahap. Di ujung meja yang satunya, kedua iris mata hijau cemerlangnya mendapati Mrs. Cole dan juga Martha juga sedang sibuk dengan makanan di depan mereka. Tanpa suara, anak laki-laki itu mengulurkan tangan mungilnya ke arah sebuah keranjang yang penuh berisi roti yang terlihat lezat.
Ia mengambil dua potong roti berukuran besar dan setelah memastikan tidak ada yang melihatnya, ia memasukkan roti tadi di balik jaket yang ia pakai. Ia tidak tahu kalau sejak tadi ada sepasang mata yang diam-diam mengamati apa yang dilakukannya.
xoxoxo
Ia melangkahkan kaki-kaki kecilnya menaiki satu per satu anak tangga yang menghubungkan kedua lantai di gedung itu. Dengan sedikit mengendap-endap layaknya seorang pencuri, anak laki-laki itu berjalan ke arah sebuah ruangan yang berada di ujung koridor yang ia lalui. Sesampainya di depan pintu ruangan tersebut, ia mengulurkan jemari kecilnya untuk membuka pintu yang memang hanya dikunci dari luar sementara kuncinya tetap tergantung pada lubang kunci.
"Tom..."
Harry kecil memanggil seseorang yang berada di ruangan temaram tersebut. Ruangan yang hanya diterangi sinar matahari dari sebuah jendela kecil di ruangan tersebut. Mrs. Cole memang sengaja tidak memberi penerangan berupa lampu atau semacamnya di ruangan ini.
"Tom... kau masih di sana kan?"
Suara gemerisik dari arah salah satu sudut ruangan sudah cukup bagi anak laki-laki berambut berantakan untuk tahu kalau orang yang dicarinya masih berada di ruangan ini. Dengan langkah perlahan ia mendekat ke arah asal suara. Ia segera menghembuskan nafas lega ketika melihat sosok yang dikenalnya sedang mendudukkan dirinya di sudut ruangan sambil memeluk kedua lututnya.
"Tom..."
"Mau apa kau kemari, Bocah?"
Harry merenggut kesal mendengar panggilan yang paling tidak disukainya meluncur mulus dari bibir anak laki-laki yang bahkan umurnya sama dengannya. Walau mendengar ia dipanggil dengan sebutan seperti itu, tidak membuat Harry menjauhi sosok di depannya. Malah ia semakin mendekat lalu berjongkok di depan sosok itu.
"Aku datang membawakanmu sarapan. Kau pasti belum makan, Tom," kata Harry. Ia mengulurkan dua buah roti yang diambilnya dari meja makan beberapa saat yang lalu. Kedua mata hijau cemerlangnya tampak berbinar-binar walau penerangan di ruangan ini sangat minim.
Ia mendengar anak laki-laki di depannya itu mendengus kemudian memalingkan wajahnya ke arah dinding. Merasa diacuhkan, Harry menarik lengan anak laki-laki bernama Tom tersebut sehingga akhirnya sepasang iris mata hitam menatap tajam ke arahnya. Namun, ia yang sudah biasa mendapat tatapan seperti itu tampaknya sama sekali tidak ambil pusing.
"Makan," suruhnya.
"Aku tidak lapar, Bocah."
Harry mengeram. "Aku tahu kau pasti lapar jadi jangan protes dan makan saja apa yang kubawakan. Dan jangan sekali-kali kau memanggilku Bocah, Tom. Umur kita bahkan sama sekali tidak jauh berbeda."
"Aku tidak peduli. Bagiku kau tetap seorang Bocah."
Sebuah telapak tangan melayang dan mengenai kepala Tom. Anak laki-laki berambut hitam itu langsung melayangkan tatapan tidak sukanya ke arah Harry.
"Kalau kau hanya kemari untuk menggangguku," desis Tom. Nada suaranya terdengar dingin dan menusuk, "sebaiknya kau segera keluar dari ruangan ini sebelum kau bernasib sama dengan hewan peliharaan Stubbs bodoh itu."
Harry terdiam mendengar ancaman Tom. Perlahan ia bangkit berdiri. Tom sudah mengira anak laki-laki itu akan pergi dari ruangan ini. Tapi sayangnya ia salah. Bukannya menjauh, Harry malah mendekat ke arah anak laki-laki itu kemudian mendudukkan dirinya di samping Tom dengan punggung yang menempel pada dinding yang dingin. Sekali lagi ia tidak memedulikan raut wajah tidak suka dari sosok di sampingnya.
"Dasar keras kepala," dengus Tom sambil mengalihkan perhatiannya ke arah jendela kecil yang sering digunakan sebagai penerangan di ruangan tersebut.
"... Tom," panggil Harry lagi setelah beberapa lama keduanya hanya diam. "Apa yang kaulakukan pada kelinci milik Billy?"
Tom tidak menjawab. Ia masih sibuk memandang dinding tebal di sampingnya.
"Aku tahu kau yang melakukannya jadi tidak perlu menghindar lagi."
Tom memutar kedua bola matanya mendengar perkataan Harry. "Harus kukatakan berapa kali kalau bukan aku yang melakukannya," katanya.
Harry mengeram. "Jangan mencoba berbohong. Aku tahu kalau kau yang melakukannya karena bekas lukaku lagi-lagi sakit," kata Harry dengan suara berbisik.
Harry menundukkan kepalanya menatap lantai di bawah kakinya. Ia tahu kalau Tom mendengar apa yang dikatakannya barusan dan semua itu memang benar. Sejak dulu ia tidak mengerti mengapa setiap kali Tom marah atau kesal, bekas luka di dahinya akan sakit bahkan terkadang membuatnya sakit kepala. Ia benar-benar tidak suka kalau keadaannya seperti itu.
"... Bekas lukamu yang sakit sama sekali tidak membuktikan apa-apa, Evans. Mengapa kau tidak berhenti saja mengurusi orang lain dan urusi saja masalahmu. Aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang kaukatakan barusan."
Anak laki-laki berambut hitam berantakan itu kembali merenggut. Mengapa Tom sama sekali tidak pernah mau tidak berbicara ketus kepadanya?
Harry sama sekali tidak mengerti dan sepertinya ia tidak akan pernah mengerti dengan perilaku teman sekamarnya. Ia tahu kalau sebenarnya Tom bukanlah orang yang jahat. Tom juga bukanlah orang yang tidak mau peduli pada orang lain. Ia hanya tidak tahu bagaimana caranya berinteraksi dengan para penghuni panti asuhan ini.
Harry tahu Tom memiliki sedikit kepedulian padanya. Buktinya ketika ia mengalami mimpi buruk, Tom mau membagi tempat tidurnya untuk Harry walau gerutuan dan nada tidak suka selalu mengawali terlebih dahulu. Tapi pada akhirnya, anak laki-laki berambut gelap tersebut mempersilahkan Harry untuk tidur di sampingnya. Bukankah itu pertanda kalau Tom setidaknya memiliki sedikit kepedulian?
"... Kalau kau di sini hanya diam dan bertingkah seperti orang bodoh, lebih baik kau keluar dari tempat ini, Bocah."
"Ugh, mengapa kau tidak pernah berhenti berbicara ketus seperti ini, Tom. Memang apa salahnya untuk sekali saja tidak berbicara seperti itu. Aku hanya ingin menemanimu. Daripada kau hanya menggerutu tidak jelas, mengapa tidak kau makan saja sarapanmu sebelum Mrs. Cole datang."
"Mengapa kau tidak pergi dari tempat ini saja dan tinggalkan aku sendiri?"
Tiba-tiba Harry berdiri sehingga membuat Tom sedikit menjauh karena gerakan Harry yang tiba-tiba seperti tadi. Melirik lewat sudut matanya, Tom melihat Harry berdiri di hadapannya sambil berkacak pinggang. Kedua mata hijau cemerlangnya menatap tajam ke arahnya.
"Kau menyebalkan!" bentaknya sambil menghentakkan kaki kanannya ke lantai yang keras. "Apa salahnya untuk sedikit ramah pada orang yang mau peduli padamu? Apa salah untuk bersikap ramah, Tom?"
Tom tidak menjawab. Yang ia lakukan hanyalah diam sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela kecil yang saat ini sedang menampilkan langit cerah di luar sana. Sepertinya hari ini salju tidak berniat turun sama sekali.
Ia tertegun mencerna apa yang baru saja ia pikirkan. Sejak kapan ia menjadi peduli terhadap suaca di luar sana? Sejak kapan ia bersikap seperti ini? Ia mengerang dalam hati; berusaha mengacuhkan apa yang baru saja ia pikirkan. Ia juga terlihat tidak memedulikan Harry yang saat ini berbicara panjang lebar kepadanya. Terkadang ia sama sekali tidak mengerti mengapa ia bisa tahan berlama-lama dengan anak laki-laki berambut hitam berantakan ini.
Tom kecil menghela nafas panjang. Telinganya sudah berdenging sejak tadi karena mendengar ocehan Harry yang sepertinya tidak akan ada habisnya. Sepasang mata hitamnya segera beralih dari pemandangan di luar sana ke arah Harry. Ia menatap tajam ke arah anak laki-laki itu sehingga membuat Harry sedikit tersentak.
"Bisakah kau diam, Bocah? Kau membuat kepalaku sakit," katanya.
Harry terdiam sebentar sampai akhirnya sebuah senyum lebar terpatri di wajahnya. "Habiskan roti ini maka aku akan diam."
Mendecak pelan, Tom menerima dua potong roti yang diulurkan kepadanya. Dalam diam, ia menghabiskan sarapannya dengan sepasang mata emerald yang mengawasi apa yang ia lakukan. Kalau dengan ini ia bisa membuat anak laki-laki di hadapannya tutup mulut untuk sementara, sepertinya tidak ada salahnya ia lakukan.
Harry tersenyum senang ketika Tom mau menghabiskan sarapannya. Dalam diam ia kembali mendudukkan dirinya tepat di samping Tom sehingga membuat kedua bahu mereka bersentuhan. Ia yang tidak mendengar keluhan dari sosok di sampingnya menduga Tom tidak keberatan dengan apa yang ia lakukan.
Menguap pelan, Harry menumpukan kepalanya pada bahu kanan Tom dan mulai memejamkan matanya. Ia mengantuk karena sejak semalam ia sama sekali tidak bisa tidur dengan nyenyak sebab ia terus menerus memikirkan Tom yang dikurung di ruang hukuman. Belum lagi mimpi buruk mengenai sinar hijau dan teriakan seorang wanita sempat membangunkannya semalam sehingga membuatnya tidak bisa memejamkan kedua matanya.
"Apa yang kaulakukan? Bahuku ini bukan bantal yang bisa kau pakai seenaknya," gerutu Tom sambil berusaha menyingkirkan kepala Harry dari bahunya. Tapi bukannya menyingkir, Harry malah semakin beringsut mendekat.
"Aku mengantuk, Tom. Biarkan aku tidur sebentar. Lagi pula aku tidak mau ke ruang belajar. Pelajaran Martha membosankan."
Tom mengacak helaian rambut hitamnya saat melirik ke arah Harry dan mendapati kalau anak laki-laki itu sudah terlelap di bahunya. Ia hendak menyingkirkan sosok Harry tapi urung saat mendapati anak itu memegang erat bagian depan kaos yang dipakainya seolah-olah menyuruhnya untuk tidak pergi.
"Ck! Dasar bocah merepotkan," gerutunya namun tidak berusaha menjauhkan Harry dari bahunya. Malah ia ikut menyandarkan kepalanya di puncak kepala Harry dengan kedua matanya mengamati langit biru di luar sana.
xoxoxo
Mrs. Cole menatap kedua sosok anak laki-laki yang saat ini tengah sibuk dengan dunia mereka sendiri. Menggeleng pelan, ia pun melangkahkan kakinya menjauhi ruangan yang sering dipakai sebagai ruang hukuman. Dalam diam, ia berjalan ke arah ruangannya yang berada satu lantai dari tempatnya sekarang.
Di dalam ruangannya, Mrs. Cole tidak henti-hentinya menatap ke arah jalan raya dari balik jendela. Pikirannya berputar ke tujuh tahun yang lalu. Hari itu, saat malam tahun baru ia kedatangan seorang wanita yang sedang mengandung. Wanita yang ia duga umurnya tidak jauh berbeda darinya terlihat sangat menahan sakit ketika ia membuka pintu panti asuhannya.
Merope. Ia ingat sekali nama wanita itu karena baginya nama tersebut terdengar sangat jarang di pakai. Ia ingat sekali setiap detik, menit dan jam yang ia lalui untuk menolong wanita itu melahirkan bayinya. Ia juga ingat bagaimana di detik-detik terakhir sebelum ajal menjemputnya, wanita itu menyuruhnya untuk memberi nama anak laki-laki yang ia lahirkan tepat saat malam pergantian tahun.
Tom Marvolo Riddle.
Ya, nama yang diambil dari nama Ayah dan nama Kakek anak laki-laki yang tahun ini menginjak usianya yang ketujuh. Ia ingat betul kalau ia sempat mengernyitkan alisnya saat mendengar nama tengah yang diberikan wanita itu untuk anak laki-lakinya. Marvolo bukanlah nama yang bagus bagi di zaman seperti ini. Bahkan nama itu terdengar sangat kuno dan menggelikan. Tapi, ia sama sekali tidak peduli.
Sepasang mata almond milik wanita itu lagi-lagi tertuju ke arah jalan raya yang tertutup salju bulan November. Untuk kesekian kalinya ia kembali menghela nafas saat mengingat anak laki-laki tersebut. Selama tujuh tahun ia merawat Tom Riddle, ia sama sekali tidak pernah bisa mengerti tingkah anak itu.
Sejak Tom dilahirkan, ia sudah merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan anak itu. Bahkan bukan hanya dia jasa yang berpikir seperti itu. Martha, yang hanya seorang gadis yang tidak menamatkan pendidikan sekolahnya pun berpendapat sama dengannya. Tom yang baru lahir sama sekali tidak terlihat seperti bayi-bayi pada umumnya. Ia jarang bahkan tidak pernah menangis sejak masih bayi. Saat usianya menginjak lima tahun, ia bertingkah tidak seperti anak-anak seusianya. Tom terlihat jauh lebih dewasa dari yang terlihat. Belum lagi kejadian-kejadian aneh yang sering terjadi di sekitar anak itu.
Tom kecil sering menghabiskan waktunya untuk membaca buku. Anak itu tidak seperti anak lain yang lebih mementingkan bermain daripada belajar. Terkadang ia juga menemukan perilaku aneh dari Tom. Pernah beberapa kali ia memergoki Tom mendesis di sudut ruangan kemudian segera diam ketika ia mendekatinya.
Dan kemarin pagi, terjadi sesuatu yang membuatnya harus menghukum anak laki-laki berambut gelap tersebut. Pasalnya, kelinci peliharaan Billy Stubbs ditemukan dalam keadaan tergantung di rusuk-rusuk bangunan oleh Amy. Bukan tanpa sebab ia akhirnya mengurung Tom di ruang hukuman. Dua hari yang lalu, Tom sempat bertengkar dengan Billy karena sesuatu hal yang sama sekali ia tidak tahu. Kedua anak itu menolak untuk berbicara. Dan satu hari setelahnya, terjadilah hal tersebut. Billy yang tidak terima peliharaannya diperlakukan seperti itu menuduh Tomlah yang melakukannya.
Mrs. Cole memijat perlahan tengkuknya. Memikirkan anak laki-laki Riddle itu membuat kepalanya seakan mau pecah. Wanita itu memutuskan untuk beranjak dari tepi jendela menuju ke arah sebuah lemari yang berada tidak jauh dari meja kerjanya. Dikeluarkannya satu botol Gin dari dalam lemari dan kemudian meneguk langsung dari botolnya. Minuman keras memang menjadi salah satu cara ampuh untuk menghilangkan stres yang dialaminya sekarang.
Wanita yang rambutnya sudah mulai beruban itu kemudian mendudukkan dirinya pada sebuah sofa tunggal. Tidak sengaja kedua matanya tertuju pada sebuah foto yang ditempelkan di dinding kantornya. Foto yang ia ingat diambil kira-kira tiga bulan yang lalu di sebuah taman yang berada di dekat panti asuhan tersebut saat ia dan Martha mengajak anak-anak itu untuk berjalan-jalan.
Kedua mata wanita itu menatap lekat ke arah dua orang anak laki-laki yang usianya tidak jauh berbeda. Kedua anak tersebut berdiri di ujung rombongan panti asuhan di mana terlihat seorang anak laki-laki berambut hitam berantakan dengan iris mata hijau cemerlangnya tengah memeluk bahu seorang anak laki-laki berambut gelap.
Harry Evans.
Mrs. Cole kembali meneguk minumannya. Pikirannya kembali ke enam tahun yang lalu di mana pada hari yang sama—di malam pergantian tahun—ia menemukan sesosok bayi di dalam sebuah keranjang di luar pintu panti asuhan.
Tidak ada satu pun benda yang dijadikan pengenal bayi tersebut selain sebuah surat yang menyebutkan untuk merawat bayi itu. Di baris terakhir surat tersebut, menyebutkan nama bayi itu. Harry Evans. Hanya itu. Tidak ada nama tengah maupun barang-barang yang lainnya.
Mrs. Cole tidak pernah mengerti mengapa ada dua bayi yang dititipkan di panti asuhan yang dikelolanya dua tahun berturut-turut dan di hari yang sama. Apakah ini hanya kebetulan? Ia menggeleng. Di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan.
Lalu apakah ini takdir?
Sekali lagi ia menggeleng. Ia sendiri tidak tahu apa di dunia ini takdir benar-benar ada.
Ia mengingat bagaimana ia membesarkan Harry selama enam tahun ini dan membandingkan kedua anak itu. Tidak seperti Tom yang pendiam, Harry adalah seorang anak laki-laki yang hyperactive. Tidak jarang anak itu lebih memilih untuk bermain di luar ruangan daripada menghabiskan waktunya untuk mendengarkan dongeng yang ia atau para pekerja di panti asuhan ini.
Harry adalah anak yang cerdas. Bahkan kalau mau belajar, Mrs. Cole yakin kalau anak itu bisa menyamai kepintaran Tom. Harry juga anak yang ceria dan ramah. Walau terkadang ia juga nakal dan membuat onar sama seperti anak-anak lainnya. Tapi tidak pernah kenakalan anak itu menyebabkan teman-temannya menangis.
Saat ia menemukan Harry di dalam keranjang bayi, ia sangat penasaran ketika melihat di dahi anak itu ada bekas luka mirip sambaran kilat. Ia berpikir mungkin saja luka itu di dapatnya saat ia lahir dan akan hilang saat ia tumbuh. Tapi, enam tahun berlalu bekas luka itu tidak pernah memudar. Bahkan kalau diamati, bekas luka itu seolah-olah baru terbentuk kemarin.
Ia juga penasaran karena sering kali anak laki-laki bermata hijau cemerlang itu sering menggaruk bekas lukanya. Pernah ia bertanya mengapa Harry sering menggaruk bekas luka tersebut. Anak itu menjawab kalau bekas lukanya sakit.
Bukankah itu aneh? Ia tidak pernah mendengar kalau bekas luka bisa menimbulkan rasa sakit padahal sudah selama ini.
Mrs. Cole kembali teringat apa yang ia lihat di ruang hukuman barusan. Sejak ia melihat Harry mengambil dua potong roti dari ruang makan, ia mengawasi kepergian anak itu dan mendapati kalau ia pergi ke ruang hukuman untuk menemui Tom padahal ia sudah dengan jelas melarang siapa pun untuk menemui anak itu.
Lagi-lagi ia dibuat penasaran kedua anak itu mengingat Harry adalah satu-satunya anak yang mau berteman dengan Tom. Bukan karena mereka teman sekamar tapi karena Harry adalah satu-satunya anak yang bisa tahan berada di samping Tom untuk waktu yang lama dan Tom sendiri sepertinya tidak keberatan kalau Harry berada di dekatnya.
Ia ingat sejak kecil Tom seakan-akan menarik diri dari pergaulan anak-anak lain di panti asuhan ini. Jika anak-anak di usianya lebih memilih untuk bermain di halaman, Tom akan lebih memilih berada di perpustakaan untuk membaca buku. Ada beberapa orang anak yang mencoba mengajak Tom untuk bermain bersama namun anak laki-laki itu tidak menghiraukan sama sekali ajakan tersebut.
Berbeda jika Harry yang mengajaknya. Walau pertamanya mereka akan berdebat dan Tom berusaha membuat Harry kesal dengan ejekan yang keluar dari bibirnya, pada akhirnya Tom akan mengalah dan memenuhi ajakan Harry walau ia akan lebih memilih untuk tetap diam dan hanya mengamati.
Mrs. Cole kembali menghela nafas. Memikirkan kedua anak itu membuat pikirannya kusut. Sepertinya sampai kapan pun ia tidak akan pernah mengerti hubungan kedua anak itu.
To be Continued
Edited: 09/03/2011
