Chapter 2: Mathematics and Introduction
"Hei, kau murid baru di sini, kan?"
Matthew mendongak dari buku matematika yang sedang dibacanya. "Ya"
Seorang pemuda Perancis berambut pirang sebahu menyeringai sambil memegang sebuah mawar di tangannya. "Aku Francis Bonnefoy, siapa namamu, mon-cher?"
"Em…Matthew…Matthew Williams"
"Ah, Mattieu, nama yang indah. Apa kau ahli dalam trigonometri?"
"Em…lumayan. Aku agak ahli dalam matematika"
"Oh, kau juga jenius. Kau suka matematika, Mattieu?"
"Ah…tidak terlalu juga…"
"Oh, begitu? Baiklah aku pergi~" kata Francis sambil beranjak pergi setelah meninggalkan setangkai mawar merah di tangan Matthew yang memandang bingung padanya.
"Hi…Gilbert, kenapa kau ada di sini?"
Gilbert mendongak dari pemandangan Matthew dan Francis yang berdiri di depan kelas yang membakar jiwa dan raganya itu dan melihat seorang gadis berambut cokelat tersenyum padanya. Dua murid lain, yang kelihatannya adalah temannya, berdiri di belakangnya.
"Eliza?" tanya Gilbert mengenali temannya sejak kecil yang bersekolah di Allied academy dalam rangka pertukaran pelajar dari sekolahnya, Axis academy di German.
"Ya, Gil. Aku Elizaveta" kata gadis itu dengan nada sarkastik terkandung dalam suaranya. "Kenapa? Cemburu karena pacarmu diambil orang?"
"Berisik!" seru Gilbert. "Tak mungkin Mattie akan meninggalkan orang awesome sepertiku!"
"Menurutku ke-awesome-an mu itu membuat orang agak malas berbicara dengamu" kata Elizaveta. "Kau terlalu narsis"
"Aku tidak narsis. Aku yang awesome ini menyatakan kebenaran" seru Gilbert.
"Apalah" kata Elizaveta. "Ayo pergi, Lily, Belgie. Ngomong apa pun sama si manusia awesome ini, susah banget nyambungnya"
Sebelum Gilbert bisa mengatakan apa pun, guru sudah berjalan memasuki kelas. Membuatnya terpaksa menutup mulut.
"Duduk di tempat kalian. Kelas trigonometri akan dimulai"
Matthew segera menghampiri Gilbert dan duduk di kursi di sebelah Gilbert. Gilbert memandang tangan Matthew yang masih menggenggam setangkai mawar merah yang diberikan Francis padanya.
Mata Gilbert menyipit. "Apa itu, Mattie?" tanya Gilbert.
"Francis memberikannya padaku"
"Kenapa tidak dibuang saja? Bunga tak awesome begitu…" geram Gilbert.
"Tidak mungkin, Gil. Itu tidak sopan…" kata Matthew.
"Kalian berdua!"
Gilbert dan Matthew mendongak dan melihat seorang gadis Rusia berambut perak panjang melotot pada mereka berdua. "Sedang ada pelajaran yang berlangsung, apa kalian tidak bisa melihatnya?"
"Maaf…" gumam Matthew pelan.
"Kalian kan bisa menyimpan percakapan gak penting kalian sampai kelas selesai! Atau jika kalian merasa begitu pintar, kenapa kalian tidak menjawab pertanyaan di papan tulis? Itu kalau kalian mendengarkan penjelasan guru! Dan kurasa kalian sama sekali tidak mendengar karena kalian terlalu sibuk mengobrolkan sesuatu yang gak penting!" kata gadis itu.
Gilbert mengepalkan tangan dengan marah pada gadis itu. Dia benar-benar marah pada gadis itu karena Matthew terlihat sangat sedih dan bersalah karena dimarahi oleh gadis itu. Benar-benar gak awesome! Dia pikir siapa dirinya! Ratu sekolah ini? Gak awesome sekali!
Bisik-bisik mulai terdengar di seluruh kelas.
Gilbert melotot pada gadis itu kemudian berdiri untuk menjawab pertanyaan trigonometri gak awesome itu.
Tapi yang membuatnya terkejut (dan kebahagiaan cowok dan cewek di kelas itu), Matthew ikut berdiri bersamanya dalam diam.
Mengabaikan bisik-bisik, desah napas, dan suara-suara gak awesome lain yang membuat Gilbert benar-benar ingin marah-marah, dia mengambil kapur dan memandang soal di papan tulis. Di sebelahnya, dia bisa mendengar Matthew menuliskan jawaban pertanyaan itu dengan tangan bergetar, jelas masih ketakutan karena amukan gadis Rusia itu, di papan tulis.
Sekitar semenit kemudian, dengan menyelesaikan beberapa diagram, Gilbert kembali meletakkan kapurnya dan bergumam. "Sudah"
"Di saat yang sama, Matthew bergumam. "Saya sudah selesai, pak"
Semua siswa di kelas itu memandangi deretan angka dan baris-baris rumus. Tetapi, mereka berdua menuliskan jawaban akhir yang sama.
Mereka berdua berbalik ke arah sang guru, yang sedang menggosok kacamatanya. Dia kembali memasangnya, dan melihat kedua jawaban itu. "Kalian berdua menjawab dengan benar, meski menggunakan dua jalan yang berbeda. Kalian benar. Kerja yang sangat bagus"
Gadis Rusia tadi terpana melihat jawaban di papan tulis itu.. bisik-bisik semakin keras terdengar di seluruh kelas, sebagian besar dari para gadis berbisik sambil mencuri-curi pandang ke arah Matthew.
Pasti membicarakan masalah kehebatan Mattie, gak awesome! pikir Gilbert kecut.
Elizaveta menepuk bahu Gilbert saat dia kembali duduk sementara Matthew sibuk berbicara dengan Francis yang semakin gencar menggoda Matthew. "Bagus sekali. Kau semakin pintar, ya" katanya.
"Menghina sekali, ya. Dari dulu kan aku yang awesome ini suka matematika. Ngomong-ngomong siapa gadis gak awesome yang marah-marah dengan soknya pada kami berdua yang awesome ini?" bisiknya pada sahabat sejak kecilnya itu.
"Itu Natalia. Dia gadis yang pintar, tapi memang agak sok. Dia selalu menyiksa orang seenaknya. Tidak sekali dua kali ditemukan siswa yang dihajar habis-habisan olehnya. Dia memang gadis yang bermasalah" kata Elizaveta.
"Huh, dasar gadis Rusia gak awesome. Darah komunis Uni Sovietnya pasti kental sekali" kata Gilbert.
"Kau juga tidak berbeda soknya dengan dia" kata Elizaveta.
"Maaf ya, saya yang awesome ini gak sok!" kata Gilbert.
"Kau sok!"
"Tidak!" seru Gilbert.
Elizaveta menghela napas sebelum tersenyum. "Kurasa seberapa pun kau tumbuh, ada yang selamanya tidak akan berubah darimu. Ke-awesome-anmu itu" katanya.
"Benar sekali!" kata Gilbert sambil menyeringai.
Setelah pelajaran, Matthew mengejar Gilbert di koridor. "Hei, Gil…kau masih marah, ya?" katanya.
"Gak penting! Pokoknya buang mawar gak awesome dari si Francis gak awesome itu!" seru Gilbert sambil memandang mawar merah yang bertambah jumlah jadi dua di tangan Matthew.
"Ah, ngomong-ngomong mana kak Arthur dan kak Alfred?" tanya Matthew mencoba mengalihkan pembicaraan.
Gilbert menggeram, tapi saat itu Arthur berjalan dengan wajah merah padam dan mendengus kesal bersama Alfred yang mengejarnya.
"Sepertinya kelas sejarahnya tidak berjalan lancar ya?" kata Matthew saat Arthur sudah mendatangi mereka berdua.
"Kelasnya baik-baik saja. Masalahnya adalah setelah kelas selesai!" seru Arthur dengan nada kesal.
"Apa hal gak awesome yang kau lakukan kali ini, Alfred?" tanya Gilbert.
"Aku! Apa salah hero ini sampai kalian nyalahin aku!" seru Alfred.
"Karena memang pasti itu gara-gara kau" kata Gilbert. "Apa kau mencium Artie dengan awesomenya di depan kelas?"
"Benar. Sang hero ini kan cuma mau nyium aja. Eh, tahu-tahu—"
Arthur langsung menaboknya. "Apaan? Masih banyak orang di sana dan tahu-tahu kau menciumku? Maumu apa sih, git! Kau sudah bosan hidup? Mau mati?" seru Arthur.
"Ah, nggak" kata Alfred sambil mengusap benjolan di kepalanya.
"Baiklah" kata Matthew. "Karena kelas kita berikutnya adalah sejarah, kupikir aku harus pergi…"
"Dadaaahhhh, Mattie…" kata Alfred sambil melambaikan tangannya dengan riang.
"Sampai nanti…" gumam Arthur sambil berjalan ke kelas mereka berikutnya, Bahasa Inggris.
