Ohayou minna,, terima kasih atas respon, kritik dan saran buat cerita ini. Kritik dan saran masih diterima. Selamat menikmati :)

Naruto adalah milik Masashi Kishimoto-sensei

Forgive me, Hinata

Hari itu sangat dingin, awan-awan gelap menghiasi kota Tokyo. Seorang gadis berambut indigo masih berdiri di halte bus yang mulai ramai. Bus yang akan mengantarnya masih setengah jam lagi tiba. Sedangkan cuaca seperti ini, ia seharusnya mendengarkan ramalan cuaca tadi. Bukannya malah langsung mematikan tv, berlari keluar tergesa dan tidak sempat membawa payung.

Bawaannya hari ini cukup banyak. Ia membawa catatan pembukuan dan beberapa buku lainnya. Tas tangannya sudah penuh oleh buku, bahkan tangan kanannya juga menyandang buku besar lainnya. Selain dirinya yang gila akan buku, ia juga bekerja di perpustakaan kota. Ini bencana bila salah satu buku yang ia bawa basah.

Gadis indigo bernama Hinata Hyuuga itu semakin khawatir. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, dengan cepat Hinata bangkit dari kursi tunggu, menyimpan buku yang disandangnya pada tempatnya tadi duduk dan mulai mengaduk isi tasnya yang cukup besar.

Setelah benda kecil itu didapat, Hinata segera menjawab telpon.

"Ha-halo?"

"Hinata? Kau sudah naik bus?" Tanya seseorang yang panik di seberang sana.

"Belum, masih sekitar tiga puluh menit lagi busnya baru datang."

"Syukurlah." orang yang dikenal Hinata sebagai Ino Yamanaka itu menghela nafas lega. "Kembali ke sini. Aku butuh bantuanmu. Tak apa kan kalau kau lembur?"

Hinata sedikit bingung. "Tapi Ino..."

"Hinata kumohon! Aku baru di sini dan aku butuh bantuanmu."

Hinata sedikit tersenyum. "Baiklah, tunggu ya." Maka dengan putusnya sambungan telpon, Hinata segera membawa kembali bawaannya dan bergegas kembali ke perpustakaan.

Forgive me, Hinata

"Kau sangat baik Hinata..." Celetuk Ino ketika mereka selesai membereskan buku yang baru datang. "Aku sangat bingung karena catatan buku ada padamu, dan aku sulit menemukan rak bila harus membereskan semuanya sendirian."

Hinata mengangguk dengan sebuah senyuman manis, meletakkan penanya setelah selesai menulis pembukuan. "Tidak apa-apa Ino, aku senang bisa membantu. Dan berkatmu aku tidak perlu khawatir buku yang kubawa kebasahan." Hinata menatap ke luar jendela besar yang berada di seberang mejanya, hujan lebat mengguyur kota Tokyo. Bahkan bila Hinata menunggu tadi, bukunya akan sulit menghindar dari air.

"Baiklah, sebagai gantinya bagaimana bila kita ke cafe? Ada cafe bagus di sekitar sini." tanya Ino ketika mendekati meja Hinata.

"Tapi ini sudah malam. Dan aku belum memasak apa pun untuk makan malam hari ini."

Ino sedikit mengerucutkan bibirnya lucu, kecewa. "Ada yang menunggumu pulang?"

Iris sewarna batu bulan itu meredup, menyiratkan kesedihan.

Seseorang yang menunggunya pulang ya? Ada, tadinya memang ada. Sang ayah adalah orang yang selalu menunggunya pulang dengan senyuman dan kata selamat datang yang akan menguapkan rasa lelahnya setelah lelah bekerja.

Sejak lulus sarjana dan bekerja di beberapa kantor, Sang Ayah mulai sakit-sakitan. Tanah yang dimiliki Ayah Hinata dijual untuk merawat ayahnya dan membeli sebuah rumah kecil di pinggiran kota. Hinata tidak keberatan ketika ia harus bekerja lebih keras untuk sang Ayah. Juga kehilangan masa pubernya demi merawat Ayahnya. Tapi tiga tahun lalu satu-satunya keluarga yang dimiliki Hinata pergi. Penyakit paru-paru yang diderita sang Ayah akhirnya mengakhiri hidupnya. Mungkin selama sang Ayah di desa dulu, beliau menyimpan rahasia kesehatannya dan tetap bekerja meski tahu keadaan tubuhnya tidak baik. Maka dari itu Hinata menangis dengan keras ketika sang Ayah pergi, memilih keluar dari kantor tempatnya bekerja dulu karena merasa tak ada lagi alasan untuknya bekerja keras sekarang.

Maka di sinilah ia, bekerja sebagai staf perpustakaan kota dengan gaji yang biasa saja. Mungkin bila ia masih bekerja di perusahaan tempatnya bekerja dulu, kini dia bisa menjadi wanita karir yang sukses.

"Hinata?" Ino melambaikan tangannya di hadapan wajah Hinata yang termenung. "Kau melamun?"

Menyadari lambaian Ino, Hinata menggeleng pelan. "Tidak." Hinata tersenyum.

"Kalau kau tidak mau, besok aku akan mentraktirmu makan siang. Sebagai ucapan terima kasih." Ino sedikit meringis, merasa tidak enak.

"Tidak apa-apa. Ayo kita pergi." Hinata bangkit dari kursinya, membereskan bawaannya.

"Kau yakin? Tidak apa-apa karena masih hujan?"

Hinata mengangguk. "Buku yang tadi kubawa akan kutinggal. Jadi tidak masalah, dan ada beberapa payung di pintu masuk. Tapi kau yang teraktir kan?" lagi-lagi Hinata tersenyum.

"Tentu saja!" Ino tampak kegirangan. "Sangat menyenangkan bisa pergi ke cafe itu denganmu. Biasanya aku cuma datang sendiri."

Forgive me, Hinata

"Kita sudah sampai!"

Ino berhenti di sebuah cafe yang terlihat cukup nyaman. Ada beberapa set meja yang terbuat dari kayu berada di luar, terkena derasnya hujan yang tak kunjung reda. Beberapa kaca besar di toko itu sedikit tembus pandang. Hingga Hinata dapat melihat sedikit deretan bangku di dalam dan pengunjung cafe yang duduk tepat di sisi jendela sedang menikmati pesanan mereka.

Ino dan Hinata menutup payung mereka, kepala mereka aman dari guyuran hujan karena ada sebuah canopy yang melindungi mereka.

"Ayo Hinata." Ino mendorong pintu kayu cafe yang dicat putih. Lalu terdengar suara lonceng ketika pintu dibuka cukup lebar. "Tempat ini sangat nyaman."

Hinata hanya mengangguk, mengikuti Ino memasuki cafe itu. Payung mereka di simpan di tempat penyimpanan payung yang ada di samping pintu. Hinata diam sebentar, menyapukan pandangannya pada meja cafe yang berjajar. Terlihat rapi dengan meja kayu dan sofa yang terlihat berisi dan nyaman. Tiap meja disekat dengan menggunakan penyekat kayu yang diberikan hiasan tanaman rambat yang sepertinya terbuat dari plastik.

Ino menarik tangan Hinata, membawa mereka pada meja yang cukup jauh, dan ada jendela kaca di sisi meja yang langsung memperlihatkan pemandangan di luar.

"Mau pesan apa?" Ino menyodorkan daftar menu pada Hinata.

Hinata menerimanya dan mulai membaca beberapa menu yang tersedia. Secangkir kopi dan chinnamon roll menjadi pilihan Hinata.

"Tidak mau pesan omelet?" tawar Ino.

"Tidak usah. Aku takut tidak mampu menghabiskannya."

"Ya, tak heran kau menjaga porsi makanmu. Mungkin karena itu badanmu sangat bagus." Cerocos Ino. "Aku sudah menyerah pada diet."

Hinata tertawa canggung. "Kau juga sangat cantik Ino. Jangan diet lagi. Badanmu sudah seperti jam pasir."

"Tapi aku iri padamu Hinata! Badanmu sangat ramping, dan dada besarmu itu sangat sempurna." Ino menghela nafas. "Aku ingin punya badan bagus sepertimu Hinata."

"Te-terima kasih..." Hianata sedikit gemetar, dan bingung harus menjawab apa.

Ino mendelik. "Aku sangat iri."

Forgive me, Hinata

Pesanan mereka tiba beberapa menit kemudian. Hinata tersenyum cerah ketika chinnamon rolls kesukaannya tersedia ditemani kopi hangat yang menguarkan aroma kopi yang menyegarkan. Sedangkan Ino perlahan menyantap omeletnya.

"Bagaimana menurutmu cafe ini?" Tanya Ino disela kegiatan makannya.

"Ya, seperti katamu ini cafe yang bagus."

"Sudah kubilang." Ino terkekeh kecil. "Biasanya bila agak malam ada band yang menyanyi di sana." Ino menunjuk sebuah panggung kecil yang berada agak jauh dari mereka. Ada alat musik yang lengkap tertata di atas panggung.

Lalu beberapa orang dengan setelan modis naik ke atas panggung.

"Ah, itu mereka!" Ino terlihat girang. "Ayo kita ke depan dan melihat!"

Hinata terlihat terkejut. "Tidak Ino, kau saja. Aku menunggu di sini."

Ino mendesah. "Kenapa tidak mau? Kau akan suka vocalis dari band itu. Dia memiliki rambut perak dan wajah yang tampan."

"Selamat malam semuanya," Suara yang berasal dari pengeras suara itu mengambil alih perhatian para pelanggan, termasuk Hinata dan Ino. "Kami sangat senang masih bisa menghibur hari ini. Semoga kami tidak mengecewakan."

Vocalis itu tersenyum dengan senyuman yang begitu manis. Para pengunjung cafe pun mulai berbisik dan memuji ketampanan sang vocalis. Terutama ketika pria berambut silver itu menyanyi.

"Janji bunga Matahari." Gumam Hinata, ia suka lagu itu.

"Benar kan apa kataku? Dia sangat tampan."

Hinata lalu tersenyum, mengiyakan perkataan Ino.

"Sepertinya cafe ini ramai bukan hanya karena menu dan desain cafenya. Tapi juga karena band itu."

Hinata hanya mengangguk, tidak tahu harus membalas ucapan Ino. Jadi ia memilih menyeruput lagi kopinya. Sesekali Hinata melirik pada sang vocalis. Wajah cantik dan rambut perak itu seolah tidak asing. Ah mungkin hanya perasaannya.

Bahkan tanpa Hinata sadari, sang vocalis terus melihat ke arahnya.

Forgive me, Hinata

Semalaman harus menemani Ino di cafe membuat Hinata agak lelah. Ia tidak terbiasa seperti itu. Ino juga mengejeknya, "Bagaimana bila kau ikut ke klab? Mungkin kau akan absen."

Hinata hanya membalas Ino dengan senyumannya. "Aku tidak suka alkohol, Ino."

Hari ini perpustakaan cukup ramai. Karena ada dua rombongan sekolah dasar yang berkunjung ke sini. Jadi Hinata sangat sibuk.

"Terima kasih atas bantuannya." Seorang pria dengan bekas luka menghampiri Hinata dengan sebuah senyuman ramah.

Pria itu adalah Iruka, atasan Hinata.

"Sama-sama Pak Iruka." Hinata tersenyum, dan membungkuk. Lalu pria itu pergi menyapa pegawai lainnya.

"Ano..." Seseorang memanggil Hinata. Gadis itu segera menegakkan tubuhnya dan melihat ke arah suara.

"Aku mencari sebuah buku. Kau bisa membantuku?"

Iris bulan Hinata melebar sesaat. Bukankah dia adalah vocalis band itu?

"Buku apa tuan?"

"Tentang lagu klasik."

Hinata mengangguk, mengantarkan pria itu ke rak yang berisi buku mengenai lagu klasik.

"Terima kasih, Hinata."

Hinata cukup terkejut, dari mana pria itu tahu namanya? Padahal seragam hitam putihnya tidak memiliki name tag.

Pria itu sedikit tertawa. "Senang bertemu lagi denganmu."

Hinata masih diam, terlalu terkejut.

"Kita saling mengenal tentu saja." Ucap pria itu. "Kita dulu teman satu kantor. Namaku Ootsuki Toneri."

Hinata tersenyum canggung. Pantas saja ia pernah melihat pria berambut perak itu. Hinata ingat, dia memang teman satu kantor. Pria yang duduk tak jauh dari meja kerjanya dulu. Pria populer di kantor karena wajahnya yang cantik.

"Maaf karena tidak mengenalimu."

"Tidak apa Hinata, kita memang tidak pernah saling bicara. Tapi aku selalu memperhatikanmu."

Ucapan Toneri dengan sukses membuat wajah putih Hinata merona.

"Pulang kau kerja, mau pergi denganku?"

"Eh?"

"Aku akan menunggumu, sementara itu aku akan membaca buku."

Hinata kebingungan, ini terlalu tiba-tiba.

"Ta-tapi..."

"Anggaplah reuni."

Dengan itu Hinata menyerah, sepertinya Toneri tidak akan menyerah padanya.

Forgive me, Hinata

"Kita jadi pergi kan?"

Hinata terperanjat, tiba-tiba saja Toneri sudah ada di hadapannya. Dengan refleks Hinata mengangguk.

"Bagus."

Hinata mengikuti Toneri, dan kembali terkejut ketika pria itu berhenti di samping sebuah mobil sport yang terlihat mahal. "Masuklah," Toneri membukakan pintu untuk Hinata. "Tidak apa-apa, aku tidak akan menculikmu."

Dengan wajah yang merah padam, Hinata menurut.

Saat di dalam mobil pun tidak ada yang saling bicara. Lalu mobil itu berhenti di dekat sebuah kedai kecil.

"Aku tahu kau suka ke sini."

Hinata terperangah. Dari mana Toneri tahu bahwa ia suka pergi ke kedai eskrim ini?

"Wah, nona Hinata!" Seorang pelayan yang Hinata kenal sebagai Matsuri itu tersenyum. "Datang dengan pacarmu?" goda Matsuri yang dibalas gelengan keras Hinata dan tawa oleh Toneri.

"Dia hanya teman, Matsuri."

"Baiklah, aku tidak akan menggoda. Jadi pesan seperti biasanya?" Hinata mengangguk, "Lalu bagaimana dengan tuan tampan ini?"

"Aku pesan yang sama dengannya."

"Baiklah, tunggu sebentar." Matsuri segera pergi ketika ia selesai mencatat.

"Jadi Hinata, kenapa kau keluar dari perusahaan? Banyak yang menyayangkan kau keluar ketika dipromosikan."

Hinata tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Toneri yang langsung to the point. "Ayahku meninggal, jadi rasanya tidak ada lagi alasan untukku di sana."

"Maafkan aku, aku tida-"

Hinata menggeleng. "Tidak apa-apa, itu sudah lama."

"Aku selalu mengagumimu Hinata."

Lagi-lagi Toneri membuat wajah Hinata memerah.

"Kau selalu hebat, mendapatkan pujian dan promosi dengan cepat. Kau adalah satu-satunya yang berusaha keras seperti itu."

"Aku tidak seperti itu, banyak hal yang tidak bisa kulakukan ketika aku kecil. Lalu ayah menyemangatiku. Maka aku berusaha."

Toneri tersenyum. "Yang berusaha memang berbeda. Aku dilahirkan dengan kemampuan yang baik. Aku akan langsung bisa menguasai sesuatu yang hanya dianjarkan sekali saja. Begitu berbakat hingga aku menjadi traveler. Mengelilingi dunia untuk mempelajari apa pun. Hingga kupikir ini sudah saatnya aku berhenti." Toneri memandang Hinata lembut. "Aku sangat menyukaimu, dan cukup lama mencari keberadaanmu."

Hinata diam, tapi hatinya tiba-tiba saja bertalu.

Tidak enak karena sejak tadi Hinata diam, Toneri sedikit berdeham. "Bisakah besok kita bertemu lagi?"

Hinata mengangguk, bahkan ia tidak mengerti kenapa ia harus mengangguk.

"Aku mencintaimu, Hinata."

"Eh?" Hinata berkedip beberapa kali. Kebingungan Hinata juga hanya dibalas tawa kecil dari Toneri.

Tbc

Mind to RnR?

Sankyuu untuk para pembaca fic ini,, saya mengganti judul karena memang ada yang menyarankan itu, dan Ritsu pikir bener juga. Hehe...

Semoga terhibur. Seeu in next chap xD