Perancis.

Negara yang terkenal menghasilkan para seniman piawai dan jenius di tiap abadnya.

Negara dengan bahasa komunikasi terseksi sedunia,

Juga negara yang memiliki sejuta keindahan di tiap sudut wilayahnya.

Dengan gemerlapnya visualisasi yang selalu memanjakan mata tiap yang melihatnya, membuat banyak orang mengelu-elukan tempat kelahiran dari pemimpin pasukan terkenal dan pintar,

Napoleon Bonaparte

...dimana...

...mengingat tinggi sang komandan yang cukup menggelitik tenggorokan siapa saja yang awalnya meremehkan keenceran otaknya meskipun pada akhirnya mereka terbungkam oleh tiap-tiap kalimat lektur dari sang cemerlang.

Ah, tenang saja, kawan.

Aku tidak akan mengajarkan sejarah pada kesempatan kali ini.

Hanya ingin menyangkut pautkan sesosok Bonaparte kepada manusi—maksudku makhluk yang sedang berdiri tegak sambil memandang rendah kepada lawan bicaranya yang baru saja merosot jatuh ke atas lantai kamarnya yang berlapis parkeet kayu berwarna coklat temaram.

Mereka saling mengunci pandang satu sama lain, membiarkan nafas terputus-putus tak bersuara dari sang coklat bersama kedua matanya yang masih saja membulat serta sang hitam yang mulai menyukai memandang angkuh pada 'musuh' barunya.

Jika kalian bertanya apa kesamaan dari seorang pahlawan yang dielu-elukan, Bonaparte dengan raven, aku jamin ini hanya soal presepsi atas jarak tiap susunan tulang dari ujung sendi kaki hingga permukaan tengkorak mereka berdua.

Sembilan puluh persen dapat dipastikan...tinggi mereka hampir –sedikit lagi—sama, bung!

Mengingat kebanyakan pria berdarah Eropa biasanyamemiliki tinggi tubuh yang 'wow' dibanding keturunan lainnya.

Oh maaf, mengapa kita menjadi membahas hal ini?

Sungguh tak sopan saya menjamu para penikmat dengan hal yang bertele-tele. Mari kita lanjutkan ke area yang sebenarnya, sang tempat kejadian perkara.

"K-kau...siapa? Ma-makhluk apa kau?" Suara ketakutan Eren yang telah direnggut dengan aliran udara dari tenggorkan keringnya, membuat suaranya terdengar terbata dan miskin nada.

Mulut dari kedua bibirnya yang berukuran ideal dan nyaris kering membuatnya terlihat tanpa penjagaan dan siap untuk diserang kapan saja.

Namun dibalik itu semua, alur pikiran di dalam otak sang brunette, mulai bekerja sedikit demi sedikit.

Kedua bola matanya perlahan mengamati keadaan fisik makhluk asing di depannya. Mencoba mengingat-ingat ucapan temannya yang pernah mencirikan makhluk yang bukan berasal dari dimensi manusia.

...katanya, ia tidak akan memiliki kaki untuk berpijak ke lantai alias melayang di udara...

—tidak, orang aneh di depan Eren ini jelas berpijak pada lantai...tidak melayang atau pun mencoba terbang menggunakan sayap atau apalah itu yang membuat kau berpikir bahwa dia bukan makhluk dari dunia ini.

...katanya, kulitnya itu berwarna pucat hingga syaraf-syaraf yang ada di bawah kulitnya terlihat dengan jelas...

Kulitnya memang pucat, namun...bagaimanapun dilihat dari tempat Eren mengamati, syaraf-syaraf itu tidak menunjukkan batang hidungnya.

...katanya, surai sutera di kepalanya terlihat seperti sapu ijuk yang sangat berantakan...

Heck! Apanya yang berantakan? Justru rambut hitamnya itu adalah rambut terapih yang pernah Eren lihat seumur hidupnya. Bahkan mengkilap lembut mengikuti alur gerak wajahnya bagaikan iklan model shampoo terkenal!

Kedua mata hijau emerald yang masih suci itu pun tak sengaja terhenti pada wajah sang 'tersangka' saat memulai pengamatan ulang. Skak mat di area yang biasanya diincar paling banyak oleh kaum hawa.

Meskipun kedua mata kelabu yang sangat menakutkan disana diakui sebagai teror mimpi buruk, pemuda delapan belas tahun ini...sepertinya diam-diam mengagumi wajah pucat menawan yang sedang ia lihat dari sudut pandang andalan.

Tulang rahang yang besar, tulang pipi yang pas pada tempatnya dan...sial, maskulin sekali! Bahkan Eren dapat mengatakan bahwa wajahnya kalah tampan dari pria ini.

Sebenarnya kau hanya kurang percaya diri pada punyamu, Jaeger.

Selagi mahasiswa muda sibuk dengan alam pikirannya, tanpa disadari, si tamu malah berjalan melalui dirinya yang masih duduk di lantai. Saat kedua langkah kaki melewati samping tubuhnya, Eren tersentak dari dunia khayal dan langsung menengadahkan tulang dagunya untuk melihat punggung kokoh yang sedang dibalut dengan kaos lengan panjang berwarna abu-abu tua polos dan celana jins berwarna senada dengan atasan yang dipakai.

"Bersihkan ruangan ini secepatnya...aku tidak tahan bau busuk yang membuat udara disini terkontaminasi. Kau dengar, bocah?"

Oh! Apa ini? Kenapa tiba-tiba? —tanya Eren segera dalam hati.

"Sebelum kubuat dirimu makin menderita dengan siksaanku...anak ingusan." Tanpa si hitam membalikkan kepalanya menatap si coklat, Eren sudah dapat merasakan aura kegelapan keluar dari tubuh asing ini. Malah setelahnya pun terdengar dengusan senang.

Mungkin memang sejatinya Eren adalah orang yang penakut dan suara berat—yang entah mengapa berhasil menghinoptis di tiap kata yang diucapkan empunya pita suara—itu sangat mengancam hidup, ia hanya dapat menuruti apa yang dikatakan.

Tidak.

Kalimat tadi itu adalah perintah. Bagaimanapun kau ingin menolaknya, kau tak bisa melakukannya.

Apa-apaan ini?!

.

.

.

It is A Life!

[ Shingeki no Kyojin (c) Hajime Isayama] Fanfic

T

Modern!AU, OOC, typo(s), non-baku, Rivaille and Eren

By SedotanHijau

.

.

.

Hampir tengah malam, suara-suara dari barang yang ditumpuk, digeser, di masukkan ke kantong plastik besar, dideretkan dan lain-lain terdengar dengan cukup berirama didalam kamar yang sedang diperebutkan oleh dua pemilik.

Rival yang sedang gotong royong dalam kerja bakti membersihkan, membereskan dan menghancurkan predikat kamar yang paling berantakan sedunia terlihat serius dengan tugas-tugas yang sudah ditentukan sebelumnya.

Suara kepakan alat pembersih berbahan bulu ayam imitasi menjadi salah satu lagu latar malam ini.

Eren yang baru saja mengikat plastik ketiga dari sampah yang ia berhasil kumpulkan dari kamarnya sendiri, mengelap peluh seperti petani yang habis memetik pucuk daun teh di tengah terik matahari.

Dramatis sekali.

"Fiuh, selesai sudah untuk sampah..." Gumam Eren sambil melihat betapa tidak sadarnya dia selama ini sampah-sampah telah menumpuk berbulan-bulan di dalam singgahsananya.

Ia menatap sejenak pucuk dari plastik sampah yang telah disimpul ikat, lalu membelalakkan matanya lagi dan lagi saat menyadari sesuatu yang harusnya ia sadari dari awal.

Pemuda yang memiliki tinggi 170 cm ini langsung menatap tubuh yang sedang asyik dengan dunianya sendiri. Dunia bersih-bersih lebih tepatnya.

Sepertinya Eren memiliki satu fakta lain dari raga yang ada disana.

Raga yang dapat menembus dinding dan jendela dapurnya.

Raga yang dapat menembus pintu jati yang sudah pasti berbahan padat yang dimiliki kamar ini.

Raga yang dapat menembus pintu jati...

Raga yang dapat menembus...

Raga yang dapat...

MENEMBUS! –pekik Eren hampir terjungkal dari tempatnya berdiri di ujung kamar tanpa bersuara karena saking kagetnya ia.

Mengutuk dirinya sendiri yang malah terbawa suasana dan melupakan tujuan utamanya untuk bertanya tentang rahasia dibalik 'sulap' si tamu.

Eren Jaeger...baru saja menyaksikan ke-abnormalan dan kini malah asyik membantu orang aneh ini untuk membersihkan kamarnya tanpa menuntut imbalan yang setimpal.

Imbalan?

Apalagi kalau bukan sebuah penjelasan.

Penjelasan mengenai hal aneh yang sebenarnya tidak mau disaksikan lagi oleh Eren. Karena hal itu sanggup membuat semua bulu kuduknya berdiri tak karuan dan ngeri.

Ingin sekali ia berteriak meminta penjelasan, namun sayang entah kenapa nyali Eren kali ini ciut ketika ingin membuka suara. Seperti ia tahu dia akan mendapat bahaya lain jika mengeluarkan sepatah kata pada si raven.

Sungguh, sebenarnya kau hanya berpikir terlalu berlebihan, Eren.

Penglihatan Eren terus terkunci pada tubuh yang membelakanginya bergerak kesana kemari sambil menepuk-nepuk sisi rak buku gantung di dinding penyekat antara ruang kamar dengan ruang dapurnya. Setelah raga itu sepertinya cukup puas dengan hasil kerjanya sendiri, ia berjalan ke arah kamar mandi.

Ah, ini dia!

Detik-detik menegangkan...

Apakah ia akan melakukan hal yang serupa-tak-normal seperti beberapa jam yang lalu itu?

Eren menguatkan otot di seluruh wajah dan genggaman pada kedua tangan ketika raven mendekati pintu kamar mandi...

KLAAK—BLAAM!

OH!

Tidak.

Itu cara normal.

Membuka pintu layaknya orang biasa.

Diawali dengan memutar kenop pintu lalu menarik pintu untuk membukanya dan menutupnya kembali dari dalam ruangan.

Normal, kan?

Eh? Jadi tadi itu apa?

Hanya ilusi Eren Jaeger semata?

Apa hanya karena ia kelelahan?

Tapi...yang di dapur itu...ap—

BRUAAGH!

Demi bulu ayam imitasi berwarna warni! Suara apa itu barusan?!

Eren segera melesat ke kamar mandinya dan saat memanggil penghuni baru di dalamnya,

"H-hei apa yang—...PFFFTT!" Eren yang terkejut dan sedikit panik merubah raut wajahnya menjadi menahan tawa setelah sepersekian detik melihat apa yang ia lihat sekarang.

Imej raven yang begitu cool berubah drastis menjadi komikal ketika ia baru saja terjatuh dengan posisi kepala tersender pada dinding porselen luar bathtube serta kedua kaki yang melayang ke atas dan dominan hampir menyentuh dinding dalam kamar mandi. Seperti sikap lilin pada kelas aerobik.

Eren mencoba untuk menahan tawa beratnya dengan menggantikan tawa ringan sambil menghampiri 'bos' barunya. Ia mengulurkan tangan berniat untuk membantu setelah pria berambut hitam itu menurunkan kedua kakinya bersandar ke atas lantai.

Jelas sekali amarah terlihat di setiap sudut wajahnya, sayang itu tidak disadari oleh si rambut coklat. Ia masih asyik menebar riangnya di atas penderitaan raven.

"Cih!" Saat pria lain tidak mau menyambut uluran tangan yang diberikan untuknya, Eren sedikit kecewa.

"Kau benar-benar kacau, bocah!" Amarah lain mulai menyebar merata pada kamar mandi berdominan porselen putih susu.

Eren yang masih menebarkan senyumannya, menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.

Terlihat ia sedikit gugup...

"Hahaha aku akan memban—woaaah!"

DBRUAAAGH!

Suara dentuman keras bagian ke dua, saudara-saudara sekalian.

Gemericik air terdengar di indera pendengaran Eren ketika ia bergerak membenarkan posisinya sambil meringis kesakitan yang diarasakan di bagian dahinya.

Ia baru saja membentur bidang yang keras.

Membuka matanya satu untuk melihat apa yang baru saja ia tubruk...

Ah...

Ia sepertinya baru saja menubruk mimpi buruk yang paling buruk.

Lari untuk hidupmu, Jaeger!—itu pun jika kau bisa.

Sang raven yang ikut terjatuh—lagi—karena kaki panjang Eren berhasil tertaut tak sengaja pada salah satu kaki pria lain yang baru saja berdiri dari jatuhnya.

Karena tiba-tiba dan hal tadi membuat raven kehilangan keseimbangan, mau tak mau tanpa persiapan lain, ia ikut andil dalam rasa sakit bagian tubuh belakangnya terbentur kerasnya permukaan bathtube yang sudah terisi genangan air di dalamnya sejak awal.

Kausnya...basah.

"M-maaf! Aku..." Eren berbicara di atasnya.

"Cepat menyingkir dari atas tubuhku, bodoh!" Jelas ini adalah sebuah perintah.

Eren segera menuruti sambil sesekali menampakkan wajah merasa bersalahnya. Disaat mereka berusaha keluar dari bak mandi panjang yang berlebar tak luas untuk menampung dua raga, mereka sempat bertatapan sejenak.

'Eh? Jika dilihat benar-benar...sepertinya aku pernah melihat orang ini.'

Secara bersamaan, mereka berdua sedang memiliki pemikiran yang sama.

Sayang mereka tidak mengetahuinya~

Well, yeah...

Seperti cinta pada pandangan pertama...namun tidak berlaku untuk mereka.

Ini seperti horor dan teror pada pandangan pertama...khususnya untuk sang brunette.

Eren yang menapaki lantai kamar mandi lebih awal melihat cairan sabun yang menjadi penyebab ia mendapatkan teror lain malam ini. Lalu tak jauh dari sana terdapat cairan licin lain yang ia yakini sebagai penyebab suara dentuman keras pertama.

Meskipun ia menyadari dengan sangat terlambat bahwa hal itu akibat kecerobohan dirinya pada pagi hari ini—dalam masa kalang kabutnya.

Oh...semoga Eren selamat malam ini.

Penyiksaan yang mungkin akan ia terima dari orang asing dan tak jelas asal usulnya itu.

.

.

.

"Jadi jelaskan padaku apa yang telah terjadi empat jam yang lalu!" Eren yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri—dan tentunya setelah membersihkan kamar mandi juga bersama 'teman' barunya itu akhirnya meminta penjelasan sambil menggosokkan permukaan handuk pada rambut kecoklatan tua miliknya.

Melihat mood sang raven yang sepertinya membaik setelah mengamati tiap sudut ruangan apartemen ini dengan rasa puas—begitu yang disimpulkan Eren ketika mengamati dari kejauhan, sedikit...aura membunuhnya yang sedari tadi keluar dengan mudahnya, telah hilang.

Perubahan pribadi yang cukup signifikan hanya karena kamar kapal pecah Eren telah menjadi suasana layaknya kamar hotel bintang lima.

"Hah?" Jawab makhluk lain yang akhirnya mendapatkan baju ganti yang ukurannya pas pada tubuhnya setelah mencoba beberapa setel pakaian milik tempat yang sedang dijajah. Ia yang mandi sebelum Eren, melihat orang yang mengajak bicara itu kini sedang memakai pakaian tidurnya.

Tenang...tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Mereka sama-sama kaum adam, kan?

Tenang saja.

"Katakan padaku, ba-bagaimana caramu...bagaimana kau bisa me-menembus dinding dan pintu?" Suara tuntutan lain meski dengan nada bicara yang agak menurun karena sedikit ragu dan...takut?

"Entahlah."

What the...banget ini cowok satu!

Apa maksudnya 'entahlah' disini, hah?!

Eren menepuk dahinya sedikit frustasi dan tak sabaran.

Berjam-jam ia mau diperintah-perintah dan kini...ini yang bisa ia dapatkan?

Tidak adil!

"Kau tahu? Kau itu berhasil membuat aku yang semula tidak percaya pada dunia 'lain', menjadi sedikit ragu terhadap kepercayaan yang aku percayai sejak lama itu. Bahkan seingatku, di keluargaku, tidak ada yang memiliki kekuatan indera keenam...jadi...kenapa? Kenapa kau bisa...?" Eren duduk dipinggir kasur kesayangannya sambil memperhatikan tamunya itu yang sedang duduk di sofa single sambil salah satu punggung tangannya ia pakai untuk menopang tulang pipi kanannya lalu kaki kanannya ia silangkan diatas kaki kiri dengan sempurna.

Eren memberikan sorot tanya ke arah figur baru disana. Sedangkan lawan bicaranya hanya memperhatikan si coklat dengan pandangan mata sayu nan tegas dan selalu mengingatkannya pada kucing hitam yang ia pelihara—oh! Eren tidak menemukan kucing kesayangannya itu dimana pun saat ia sedang membereskan kamar.

Kemana kucing hitam kesayangan Eren, ya?

Apa Grumpy berkeliaran di jalan lagi seperti biasa? Lalu baru kembali ke kamar pada pagi harinya? Mengingat itu kebiasaan buruk kucing hitam Eren yang belum sembuh-sembuh hingga sekarang.

Meski sudah mengunci pintu kamarnya, tetap saja kucing itu pintar mencari siasat untuk keluar kamar. Hebat dan ajaib!

"Lalu...apa maksudmu dengan apartemenku ini adalah apartemen milikmu? Kau tidak salah kamar atau...?" Setelah pertanyaan sebelumnya tidak mendapat jawaban, Eren langsung memfokuskan pada masalah utama lainnya.

"Entah. Aku tidak ingat. Aku hanya mengingat letak apartemen, kamarku dan beberapa isinya."

HAH?!

Rahang bawah Eren benar-benar terbuka lebar sekilat mungkin setelah mendengar ucapan yang tidak membawa masalah ini ke solusi.

"Tunggu...kau amnesia?"

"Jika kau mengingat tempat tinggalmu, apa kau termasuk amnesia? Kurasa tidak."

"Oke, kalau begitu pertanyaan yang hampir saja lupa kutanyakan padamu."

"..."

"Siapa namamu?"

"Tidak ingat."

UHUK!

Oh my...

"Ehem—oke, kau bawa kartu identitas atau apapun yang dapat membantuku untuk mengenalmu lebih detail?"

"Tidak."

Hei...ini...

"Kau sekolah, kuliah atau kerja?"

"...entah."

...ini...

"Lalu apa buktimu jika kau memang tinggal di kamar ini? Kau bilang bahwa sudah tinggal disini sejak dua tahun yang lalu hingga sekarang. Hal ini sangat aneh...karena aku menyewa tempat ini sudah dari setahun yang lalu. Kau yakin kau tidak salah kamar?"

Eren sudah mulai was was akibat hal yang tidak masuk akal dan kebetulan sudah terjadi seharian ini.

Seketika misteri bertambah banyak dalam waktu beberapa jam saja.

Hei...ini bercanda, kan?

"Tidak. Ini kamarku yang kusewa sejak dua tahun lalu." Pria yang tidak mengingat namanya sendiri masih saja bersama pembawaan tenang dan raut wajah yang selalu datar. Tidak terlihat ketakutan ataupun kegelisahan. Dia sepertinya menjawab dengan jujur.

Tapi...Eren masih berani bersumpah kalau soal tembus-menembus dinding serta pintu itu bukan tipu muslihat ataupun delusi karena keadaan Eren yang tidak sedang mabuk.

Namun jika ia menjelaskan pada orang lain, apakah mereka akan percaya?

Hahahaha pasti tidak, bukan?

Yang ada dia yang akan disangka tak waras!

Ck, lelucon apa ini?

"Lalu apa buktinya?" Tanya Eren sekali lagi dengan masih berusaha menahan rasa sabarnya. Ia cukup frustasi dan ingin sekali melaporkan cerita ini pada orang lain termasuk teman masa kecilnya.

Tapi...mempertimbangkan apa yang ia pikirkan sebelumnya...hal itu masih sulit karena ia masih belum mempunyai bukti konkrit yang memadai.

Eren memantapkan hati untuk memecahkan masalah ini sendiri terlebih dahulu. Dengan alasan tidak ingin membuat orang lain salah paham dan memastikan dirinya sendiri akan orang ini.

Pasti...pasti ada alasan yang membuat ia ikut andil dalam kubangan masalah unik ini.

Dan aku pun bertanya-tanya mengapa cerita ini seketika menjadi sedikit bergenre misteri, huh?

"Di balik kasur itu terdapat bercak bekas noda tinta berwarna hitam," Mendengar orang misterius itu ingin memberikan bukti di balik kasurnya, ia segera mengangkat kasur dan mencoba memastikan ia akan melihat tiap-tiap sisi yang menandakan adanya bercak yang dimaksud, sayang hasilnya nihil.

"Tidak ada. Kau yakin ada bercak di balik kasur ini?" tanya Eren lagi untuk meyakinkan dirinya yang ragu untuk mempercayai orang baru ini atau tidak.

"Di belakang kabinet televisi, dinding disana tergambar sketsa...burung...elang," Ucap ia yang tidak memberi pembelaan karena ucapannya tak terbukti. Eren menatap sejenak raven—yang pandangannya berubah menjadi sedikit hampa—sebelum berjalan ke arah kabinet yang diatasnya terdapat telivisi. Ia menggeser sedikit untuk memastikan kembali petunjuk yang diberikan. Namun sekali lagi ia tidak dapat menemukan apa-apa.

Eren tersenyum kecut.

Sebagian dari dirinya sepertinya sudah...tidak yakin.

.

.

Sudah beberapa petunjuk bukti yang rambut mangkok berikan, sayang tidak ada yang berhasil dikuak oleh Eren.

Ia hampir menyerah hingga bukti selanjutnya yang diberikan.

"Jika ini nihil, maka...aku akan melaporkanmu pada..." ucapan Eren terhenti karena ia berhasil menemukan benda yang dikatakan oleh orang yang hampir membuatnya menyerah untuk percaya pada ceritanya.

Sebuah boks baja atau kita sebut sebagai brankas kecil, tersembunyi di dalam lantai yang ditutupi oleh alas lemari pakaian.

Kau harus membuka alas lemari pakaian, baru menemukan pintu lain yang ternyata adalah lantai yang memiliki ruang simpan didalamnya.

Cukup rumit jika tidak diteliti dengan benar, namun boks itu memang benar adanya.

Pemuda itu tersenyum dengan penemuan yang membuahkan hasil. Ia memberi senyum pada raven sekilas meski wajah itu masih terlihat datar dan hampir tanpa emosi.

Eren mengangkat boks yang beratnya cukup besar lalu menyerahkan pada temannya.

Pemilik rambut hitam melihat boks itu sejenak lalu memutar kenop yang berbentuk bulat berwarna hitam dengan rangkaian angka di sekelilingnya.

Tak perlu waktu banyak, Eren sangat senang dan lega ketika pria di depannya dapat membuka kotak itu dengan mudah dan langsung melihat isi di dalamnya.

Berharap sebuah petunjuk kecil untuk hari ini.

Sang pria mengambil barang-barang yang tersimpan, Eren pun ikut melihat isinya dengan cukup antusias.

Beberapa lembar kertas dengan gambar sayap dalam berbagai macam bentuk.

Sayap-sayap malaikat, sayap-sayap monster fantasi, sayap-sayap hewan terbang dan sayap berbeda warna yang saling tumpang tindih berwarna putih dan biru tua.

Lalu di tiap sudut kanan bawah kertas tertulis angka tujuh, satu dan dua dengan tinta hitam.

Mengejutkan untuk Eren karena itu adalah nomor kamar apartemennya.

Nomor kamar yang dikatakan raven adalah kamarnya juga.

Sang brunette mengambil lembaran kertas sketsa dengan tinta cat air yang menghiasi di beberapa gambar lalu mengamatinya.

Mencari petunjuk tentang raven.

Tapi ada satu lembar kertas yang memiliki tulisan kecil di baliknya.

'Levi'

Oh!

Mungkinkah ini...

"Levi, itukah namamu?"

Mengangguk, raven menganggukan kepalanya dengan pelan sambil menatap salah satu kertas yang ada ditangannya. Ia seperti mencari jejak lain di atas kertas gambar ini.

"Kau...yang membuat gambar ini," Senyum Eren merekah. Akhirnya, meski hanya petunjuk nama...setidaknya ia dapat memanggil teman barunya dengan nama aslinya—mungkin.

"Salam kenal, Levi!" Eren mengulurkan tangan kanannya dan berharap orang didepannya membalas jabat tangan itu.

Sayang ia hanya diam dan menatap datar wajah Eren yang sumringah.

Sungguh kontras sekali pemandangan malam ini.

Eren tak keberatan jika Levi tidak membalas jabat tangannya. Sepertinya ia cukup mengerti mengapa ia bersikap seperti itu.

Yah...Levi mungkin masih bingung.

Dan sekarang tinggal satu yang masih belum terpecahkan, namun rasa kantuk luar biasa menyerang syaraf Jaeger muda. Ia menguap dan mulai berjalan ke arah kasur yang ada.

"Ah, kita lanjutkan besok ya," Eren mulai masuk menyusupi selimut yang sudah bertengger dengan manis diatas kasur. Sedangkan Levi masih diam di sofa yang sedari tadi ia duduki.

Eren yang sadar tidak ada pergerakan dari lawan bicaranya, segera bangkit duduk dan menggeser posisinya mendekati si raven.

Ia menarik salah satu tangan yang tergantung diatas sandaran tangan sofa lalu tersenyum,

"Mulai sekarang, kita bisa berbagi tempat tidur hingga masalahmu benar-benar selesai, oke?"

Tak ada reaksi berarti dari Levi selain mengikuti tarikan tangan Eren yang mengajaknya untuk tidur di sebelahnya. Membagi sisi kasur yang tadinya untuk Eren sendiri, kini menjadi setengah bagian untuknya dan bagian lain untuk yang lain.

Oh, sungguh Eren Jaeger yang baik sekali.

Orang asing...yang langsung naik pangkat menjadi temannya itu.

Terlebih lagi masih ada satu hal lain yang belum terpecahkan.

Namun melihat Eren adalah orang yang optimis, sepertinya tidak usah dipertanyakan dahulu bagaimana penyelesaiannya.

Mungkin di dalam hati Eren, ia sedikit...sedikit berharap untuk bisa menikmati masa-masa ini.

Menikmati kehidupannya yang berkembang lebih baik...semoga saja.

"Lampunya kumatikan, ya." Eren memanjangkan tangannya untuk mematikan lampu meja yang ada diatas kakas kecil mungil disebelah tempat tidurnya.

"Dasar, bocah," Terdengar suara berbisik.

Cklik!

"Eh? Kau bilang apa?"

"..."

Eren menatap langit-langit kamarnya yang tidak terlihat karena gelap.

Hening yang tenang...

Hingga terdengar suara lain yang membuat cengiran di sudut bibirnya.

KRUUUYUUUUUKK!~

Meski itu bukan suara yang dihasilkan oleh tubuhnya.

.

.

Selamat datang, Levi!

.

.

.


(gak yakin untuk) tebece


A/N :

terima kasih banyak banget banget banget untuk :

Nacchan Sakura, Yami-chan Kagami, yuzueiri, LinLinOrange, Azure'czar, Keikoku Yuki, Kunougi Haruka, Shigure Haruki, sheila-ela, raudah07, Wanda aka Fanta, black roses 00, misa kaguya hime, silent readers, and YOU!

.

halo...

(udh nntn anime SnK episode 22? bagaimana pendapat kalian semua? gara2 bnyak scene yg nyentuh feels, author sempet gak mau post chapter ini awalnya :') /gak ada hubungannya/ /oke, abaikan/ )

author gak nyangka bakal ada lanjutannya :'D

dan yang bener2 gak nyangka dan bikin kaget adalah dukungan dari semuanya :') terima kasih ya! /speechless/

ah, sebelumnya mohon maaf jika chapter ini si author sok tahu soal sejarah, agak berat, makin gaje, aneh, gak nyambung atau susah dimengerti dan OOC nya kebangetan. /pundung/

author pasrah sama kemampuan author yang minim ini /ditimpuk/ hohoho xD

well, abaikan saja kalau ada adegan2 gak jelas diatas ya :') saya bukan tipe yang bikin seneng pembaca sih /gelinding/ x'D

.

untuk [Azure'czar] terima kasih banyak untuk dukungannya, Zura-san #terharu

semoga bisa terus dilanjut ya cerita ini. ^^ sekali lagi terima kasih!

.

terakhir, semoga kalian semua terhibur and always stay awesome, guys!

salam metal dan cinta!

(mind to RnR or not is up to you, guys~ XD although I want to hear out all of your thoughts!)