Summary: Berawal dari pertemuan para otaku yang direncanakan di Internet. Haruno Sakura jadi terlibat Uchiha Sasuke yang menjadi idola sekolahnya. "Tunggu! Kita satu sekolah?" Sebuah kisah manis yang dibumbui romansa, persahabatan, dan keluarga.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Chapter 2:

Yamanaka Ino tak percaya ini! Laki-laki yang kini sudah duduk berkumpul bersama mereka –walaupun sempat sedikit cekcok dengan salah satu anggota grup mereka– dan Ino masih tak percaya! Pria itu! Laki-laki itu berwajah lebih tampan dibandingkan boyband Korea atau artis Hollywood seantro dunia! Bagi Ino tentunya.

Lihat rambutnya, lihat postur tubuhnya yang tinggi, tegap dan mempesona! Matanya yang setegas dan segelap batu obsidian, hidungnya yang mancung sempurna, dan bibirnya yang tipis dengan bentuk yang indah. Laki-laki ini adalah wujud asli Noctis, foto profil Sasuke sendiri!

"Uchiha Sasuke, hn." Ucap pria itu menyebutkan nama lengkapnya. Ino hampir memekik, namun ia hanya diam dengan senyuman andalannya dan mulai berdebar sendiri.

"Haruno Sakura desu," kata gadis berambut antik yang masih menatap pangeran Ino yang duduk bersebelahan dengannya dengan tatapan sebal. Efek perseteruan mereka masih berdampak keras bagi suasana diantara mereka. Jadi tadi untung saja Ino menyarankan segera menyebutkan nama lengkap masing-masing untuk mencairkan suasana.

"Namaku Uzumaki Naruto-dattebayo!" Kata bocah pirang dengan senyuman cerah. Dan nampaknya itu membuat Hinata lebih gugup dibanding biasanya. Karena sejak duduk di sebelah kanan Naruto, gadis itu bahkan jadi sebisu batu. "Hinata-chan! Giliranmu!" Naruto menyikut lengan Hinata pelan untuk menyadarinya, gadis itu gelagapan dan segera menarik nafas dalam-dalam sebelum berbicara, gugup.

"A-ano, na-namaku Hyu-Hyuuga Hinata," katanya, lalu bungkam kembali.

Ino tersenyum, dan sekarang waktunya dirinya memperkenalkan diri, semua menatapnya, termasuk Uchiha Sasuke. Senyum andalannya lebih bersinar lagi, "namaku Yamanaka Ino," dan sedetik kemudian Uchiha Sasuke dan yang lainnya mengalihkan pandangannya ke Sai. Sial, Sasuke itu terlalu jaga image untuk jadi nyata. 'Dia pasti tertarik padaku, dia hanya perlu di dorong sedikit lagi!' Batin Ino tak mau kalah.

Ino beralih ke Sai, pria itu tampak aneh. Dari tadi hanya tersenyum, dan memandang Sakura. 'Apa jangan-jangan Sai naksir Sakura? Ah! Tidak mungkin! Sai mungkin hanya tertarik dengan rambut Sakura yang berwarna merah muda itu!' Batin Ino dengan optimisnya. Merasa malam itu yang menjadi pusat perhatian lebih adalah Haruno Sakura. Tentu saja Ino agak tidak terima, gadis itu terlalu simple! Not not match today! Kecuali rambutnya yang nyentrik!

Naruto? Jelas-jelas laki-laki itu menggoda Sakura terus menerus, walaupun hanya di tanggapi tidak serius dengan Sakura. Naruto suka bercanda, dan Sakura adalah objek utama leluconnya. Kesimpulannya, Naruto selalu ingin membuat Sakura tertawa.

Sai? Sudah dikatakan tadi, Sai dari tadi terpaku, seperti terhipnotis memandang Sakura. Alasannya? Entahlah, hanya Sai yang tahu!

Sasuke? Ini kurang meyakinkan, tapi bisa dilihat, Sasuke terus memperhatikan Sakura melalui ujung ekor matanya. Sesekali mereka kedapatan bertatapan, lalu membuang muka bersamaan. Dari tatapan Sasuke, sepertinya pria itu ingin mengatakan sesuatu yang sudah hampir diucapkan, namun itu menghilang begitu saja.

Ino tak mau kalah! Tidak dengan Sakura.

"Namaku Sai," Sai berkata, dan saat itulah pertanyaan kedua muncul, "sekarang nama sekolah." Kata Sai, "aku dan Naruto-kun bersekolah di Konoha Quality Gakuen Barat. Khusus laki-laki," jelas Sai kemudian ia melirik Sakura lagi, berharap gadis itu memberi jawaban selanjutnya. Namun kini Ino yang buka suara.

"Aku dan Hinata bersekolah di Konoha Quality Gakuen Timur, khusus perempuan. Bagaimana denganmu, Sasuke-kun?" Ino menyerobot kesempatan sebelum yang lainnya bertanya pada Sasuke. Dari nada suara yang dilembut-lembutkan dan senyuman penuh harap, Sasuke langsung dapat menyimpulkan. Calon fans!

'Kuso!' Batin pria berparas tampan itu sebelum menjawab pertanyaan Ino. Diliriknya sebentar gadis merah muda yang menatapnya intens lewat ekor matanya. "Konoha Highschool, sekolahku disana."

Beberapa kali mengerjap, Sakura tak percaya kata-kata yang di lontarkan pria itu. Mulutnya menganga sedemikian rupa, "tunggu! Kita satu sekolah?" Kata Sakura tak percaya, semua perhatian kembali pada gadis yang sempat shock itu. Sasuke menatapnya nanar, memilah-milah ingatan.

Tunggu! Merah muda? Beberapa hari yang lalu gadis yang terkena bola basket? Bukan, dari dulu ia sering melihat beberapa keganjalan, dan merah muda? Ya itu dia! Dia pasti gadis mencolok itu, sialnya Sasuke tak pernah memperhatikan, walaupun hanya rambutnya saja yang mencolok sih. Sasuke menaikkan bahunya, memberi respon terhadap Sakura, "hn, mana ku tahu."

"Hah? Kalian ini bagaimana? Kalian satu sekolah tapi tidak saling mengenal?" Tanya Ino tak percaya pada dua mahluk yang lebih tak percaya.

"Tunggu! Sasuke-kun ternyata Sasuke-kun yang itu? Uchiha Sasuke-kun?" Kata Sakura masih tak percaya. Pantas saja dari tadi ia diserang deja vu ketika Sasuke menyebutkan namanya.

"Hn? Selain tidak punya mata, ternyata telingamu abnormal juga hn?" Cemooh Sasuke sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Kau pikir siapa lagi yang namanya Uchiha Sasuke?"

Sakura terpaku, lama sekali. Dan untuk kesekian kalinya, gadis itu memekik pelan. Tangannya menepuk pundak Sasuke keras, "Uchiha Sasuke-kun yang di sekolah itu kan tinggal di depan rumahku- eh? Jadi kau-" Sakura terpaku, Sasuke memegang kepalanya frustasi, oke Sasuke baru tahu tentang itu juga. Keempat temannya hanya menganga ria.

'Kuso!' Dan runtukan itu kembali menyerang batin Sasuke karena ia tiba-tiba terserang migrain.

.

.

.

"Sakura! Kenapa kau bisa tidak tahu tentang Sasuke-kun! Dia itu super-super tampan!" Pekik Ino tertahan. Keenamnya berjalan di sekitar Konoha Town Square, mereka menuju ke tempat berseluncur dekat taman. Laki-laki berada di belakang, dan gadis-gadis berada di depan sambil bergossip.

Mereka seperti tripple date! Ketiga lelaki tampan itu dengan sabarnya mengikuti langkah ketiga gadis yang asyik berbincang tentang segala hal.

"Mana aku tahu! Aku tidak ingat wajahnya. Yang aku tahu gadis-gadis di sekolah sering menyebutkan namanya. Dia tinggal di rumah yang begitu besar, aku jarang keluar rumah kecuali ke sekolah. Lagi pula aku tidak begitu kenal dengannya, makanya aku tidak begitu peduli." Jelas Sakura sambil mengerucutkan bibirnya. Sakura menoleh ke Hinata, "Hinata, ayo ikutlah mengobrol dengan kami. Jangan diam saja." Kata Sakura dengan senyum merkahnya, yang disambut anggukan malu-malu oleh gadis itu.

"Tetapi tetap saja kan!" Ino menggerutu, "tunggu! Sakura, bagaimana menurutmu kalau aku dan Sasuke-kun berpacaran? Apa cocok?" Kata Ino tiba-tiba. Sakura mengernyitkan mata. Hinata menatap Ino dengan tatapan sulit diartikan.

"I-Ino-chan yakin? Se-sejak putus dari Shika-Shikamaru-kun-"

"Hinata! Please deh! Jangan bahas itu," kata Ino galak, membuat Sakura dan Hinata terkejut. "Sekarang waktunya membuat gerakan baru, aku rasa Sasuke-kun tertarik padaku, lihat, dari tadi dia menatapku," Sakura menatap Sasuke dengan ragu-ragu, malah arah yang dituju Sasuke adalah dirinya, jelas-jelas ketika Ino melirik Sasuke, Sasuke tidak memberi respon sama sekali. Namun ketika Sakura bertemu mata Sasuke, laki-laki itu langsung membuang muka dan berdeham.

"Yah, aku rasa begitu." Kata Sakura sambil membalikkan tubuhnya pelan. Hinata tampak takut-takut, Sakura tersenyum canggung. Ya, ini akan sulit. Niat utama mereka jadi lebur.

"Apa menurutmu aku tipenya Sasuke-kun?" Tanya Ino, Sakura mengangkat bahu kembali.

"Aku tidak tahu, aku bahkan baru mengenalnya." Bisik Sakura. Ini lebih menyebalkan dari pada yang ia duga. Ino terus melontarkan pertanyaan yang tak mungkin ia jawab.

Uchiha Sasuke dari tadi terus memandang punggung gadis yang paling pendek dan paling er-bulat-er diantara ketiga gadis di depannya. Tapi setelah dilihat-lihat, Sakura memiliki wajah yang lugu, pipi bulat di wajah ovalnya yang memerah seperti mawar merah segar di musim semi. Dengan mata hijau bundar yang bersinar ketika ia sedang berbicara, atau menatap kagum sesuatu di tengah jalan. Tangannya yang mungil yang dari tadi terus membenahi topi rajutannya dimana tersembunyi mahkota merah jambu yang begitu memukau.

'Tsk! Apa yang ku pikirkan?' Surau Sasuke di dalam hati. Sasuke menatap teman pirang jabriknya yang sedari tadi menggerutu karena ia ingin tahu apa yang dibicarakan oleh para gadis-gadis. Dan pria berambut cepak, dengan senyuman yang selalu membuat gadis-gadis yang mereka temui di sepanjang jalan jadi meleleh seperti lilin terbakar, terus memandang arah yang membuat Sasuke agak penasaran.

Entahlah, Sai menatap Sakura saja dari tadi. Apa yang membuatnya begitu? Naksir Sakura? "Hn? Apa yang kau lihat Sai?" Tanya Sasuke secara tiba-tiba. Dari nada suaranya sedikit terlontar sesuatu yang mengintimidasi.

"Tidak ada! Hanya saja aku suka saja memperhatikan Sakura-san. Dia," Sai terdiam, kata-katanya baru saja membuat pemuda kuning di sebelah Sasuke menahan nafas, "Sakura-san itu," Sai menggantungkan kata-katanya, "unik."

Sasuke hampir tersedak. Unik? Ya memang unik. Rambutnya saja sih. Tapi setelah dipikir-pikir, kenapa juga Sasuke betah melihat Sakura dari tadi, dia biasanya sedikit tak suka dengan perempuan yang cerewetnya hampir sama dengan fans-fansnya. Mungkin Sakura memang unik.

"Hmpf! Sakura-chan itu punyaku tau!" Gerutu Naruto, mencoba mencakar Sai yang segera menghindar dari jangkauan Naruto. Sasuke menghela nafas.

.

.

.

"Kyaaa! Sasuke-kun! Kita dansa yuk!" Kata Ino langsung menggaet lengan Sasuke yang menganggur. Tanpa persetujuan apapun, Sasuke sudah ditarik ke tengah-tengah tempat seluncur oleh gadis bermata biru laut itu. Sasuke hanya menatapnya tak bergeming. Dan tepat ketika lagu diganti menjadi lagu klasik bersuasana romantis membuat segalanya tepat. Gadis dan pria yang sempurna berdansa diatas es dengan indahnya.

Sakura terkikik geli, sementara Hinata hanya diam sambil memainkan jarinya. Sakura menepuk pundak gadis di sebelahnya, "hei, Hinata... Ajaklah salah satu dari mereka. Kau mau yang mana?" Goda Sakura membuat pipi Hinata semerah tomat.

"A-aku... Ma-maksudku, ak-aku tidak mau ber-berdansa dengan Na-Naruto- eh! A-aku tidak mau berdansa de-dengan dua-duanya," kata Hinata dengan sedikit terguncang, ia keceplosan menyebutkan nama pemuda jabrik yang dari awal pertemuan mereka membuat hati Hinata berdebar. Bayangkan saja, pria itu begitu ramah, tulus, dan senyumnya pun menawan. Semua gadis pasti jatuh cinta padanya, menurut Hinata.

Sakura menyeringai, kemudian ia menarik tangan Hinata dan menyeretnya ke Naruto dan Sai. Agak susah memang karena mereka berjalan menggunakan sepatu seluncur. "Naruto, temani Hinata berdansa sana," kata Sakura segera mendorong kedua sejoli itu agar masuk ke area seluncur. Naruto sebenarnya agak kecewa, Sakura yang seharusnya diajaknya berdansa. Oh, sudahlah!

"Baiklah. Let's go, Hinata-chaaan!" Kata Naruto semangat sambil meninju udara, dan dengan mantap menarik gadis yang nyaris pingsan itu ke area seluncur.

Hening.

Sai tersenyum, Sakura menatap canggung. "Yah," Sakura menggaruk kepalanya yang tak gatal dan ditutupi topi, kemudian menatap Sai ragu, "kau mau berselancar?" Tanya Sakura.

Sai menatapnya, masih dengan senyum monotonnya. "Tidak," jawabnya singkat.

"Kenapa?"

"Sederhana," sahut Sai sambil menaikkan bahu, "aku tidak bisa."

Sakura menaikkan sebelah alisnya, kemudian ia sedikit tertawa, "aku bisa mengajarimu, mau coba?" Tanya Sakura pada akhirnya. Sai menatap gadis itu sekali lagi terpaku. Melihat tangan gadis itu terulur, "ayo," katanya lagi. Sai hendak menyambut tangannya, namun sebuah suara menghentikan mereka.

"Hn, Sai, kau dipanggil dia," Uchiha Sasuke berdiri sambil menunjuk ke belakang dengan jempol. Melihat ke arah Ino yang kini kebingungan diantara yang lainnya. "Dia ingin berdansa denganmu," kata Sasuke lagi. Sai mengerutkan keningnya. Bagaimana bisa ia pergi ke sana? Ino ada di tengah area, dan Sai tidak bisa berseluncur.

Sai hanya terpaku di pagar pembatas, ia menatap Ino yang mulai mendekat dan melambai ke arah mereka bertiga, tanpa sengaja, karena terlalu terburu-buru, gadis itu tergelincir dan jatuh diatas es dengan keras. Ia memekik, dan Sai menghampi gadis yang terduduk dengan kaki tertimpa berat tubuhnya, ia jatuh tepat di dekat pintu masuk arena.

"I-Ittai!" Kata Ino ketika Sai memopoh tubuhnya dan membawanya ke kursi kayu dekat taman. Sakura menatap Ino dengan wajah cemas, sementara Sasuke masih diam di pagar pembatas. Menonton pengunjung lainnya berseluncur.

"Ino-san, sepertinya kakimu terkilir. Tapi itu tidak tampak buruk, aku bisa menemanimu pulang sekarang jika kau mau." Tawar Sai, namun Ino segera menggeleng.

"Tidak, aku baik-baik saja! Aku harus berbicara pada Sasuke-kun! Dia itu menyebalkan sekali, kau tahu? Dia meninggalkan aku saat aku sedang melakukan putaran. Aku malu sekali!" Kata Ino sedikit kesal. Sakura menganga. Pantas saja dari tadi Ino terlihat kebingungan di area dansa.

Sakura berjalan menjauhi Ino dan Sai, ia menepuk keras pundak Sasuke. Lelaki itu seketika terkejut dan menatap kesal gadis merah muda itu. Sambil berdecak dan menjauhkan diri satu langkah dari arahnya berdiri semula.

"Hn! Apa?!" Kata Sasuke dengan galak, tangan kirinya mengelus pundak kanannya dengan cepat. Iris hijau itu lagi. Sasuke mendengus kesal. Sakura bukannya takut, tapi matanya makin tegas. Ia berkacak pinggang.

"Kau harusnya tidak meninggalkan Ino!" Kata Sakura agak keras. "Ada apa sih denganmu?" Sakura menatap makin tajam. "Aku tidak menyangka kalau Uchiha Sasuke yang di puja-puja teman-temanku sombongnya selangit!"

Sasuke menaikkan sebelah alisnya, "hn? Aku kemari bukan untuk berdansa dengan gadis itu. Ini adalah acara bersama, kalau ini semacam blind date, mungkin aku tidak meninggalkannya. MUNGKIN." Sasuke berkata sedikit lebar, Sakura sedikit terhenyak, "dan aku tidak peduli dengan Ino atau teman-temanmu di sekolah. Aku tidak pernah menyuruh mereka memuja-mujaku. Hn, menggelikan." Sasuke menusukkan kata-kata yang begitu tajam, Sakura menghentakkan kakinya.

"Setidaknya kau bisa menolak dengan halus, apa kau tidak punya pikiran!? Kau begitu egois dan acara ini pasti batal." Sakura dan Sasuke tampak cekcok, dengan keputusan bersama Hinata dan Naruto menghentikan dansa singkat mereka dan menghampiri kedua temannya.

"Hei! Kalian ada apa sih?" Kata Naruto menghentikan perkelahian keduanya sejenak. Sakura masih mau menghujani Sasuke yang masih berwajah tenang-tenang saja. Sakura ingin sekali mencakar-cakar wajah yang sepertinya pura-pura tidak bersalah.

Sasuke mengangkat bahu, mengabaikan Sakura dan berjalan pergi. "Sakura, Sasuke-kun, maafkan aku. Aku jadi membuat masalah. Aku tahu aku memaksamu Sasuke-kun. Aku hanya ingin mengenalmu saja kok," kata Ino yang kini di bantu berjalan oleh Sai.

Sakura menatap punggung Sasuke, "hn, aku mau pulang. Kalau kalian masih ingin bersenang-senang, bersenang-senanglah sendiri." Kata Sasuke melangkah pergi. Sakura merasakan nafasnya memburu.

Ia tidak suka pria itu, terlalu egois! Sakura memberikan nomor ponselnya ke teman-temannya dan akan membicarakan itu nanti. Dan Sakura mengejar laki-laki yang sudah hampir menghilang dari pandangan mereka. Ino menangis dan ketiga temannya mencoba menenangkan mereka.

.

.

.

Uchiha Sasuke sudah muak. Kali ini tidak bisa ditutupi lagi, ia tidak suka gadis. Bukan berarti ia punya kelainan. Maksudnya gadis-gadis ababil yang mengerubunginya mencoba mencari perhatiannya. Melakukan berbagai versi cara agar membuatnya sedikit saja menoleh. Ada yang terlalu centil, galak, atau berpura-pura manis.

Yamanaka Ino contohnya. Ia terlalu berlebihan. Dramaqueen. Haruno Sakura? Ada apa dengan dia? Dasar gadis cerewet dan galak yang sok tahu. Ia jadi kesal, musnah sudah rasa aneh yang sempat meninggikan Sakura di pandangannya. Tipe Tsundere. Walaupun matanya memabukkan, parasnya membuatnya nyaman, dengan sikap Sakura yang seperti tadi, mungkin saja Sasuke tidak betah. Mungkin.

Semakin malam malah semakin ramai, Sasuke memelankan langkahnya diantara kerumunan orang yang berjalan berlawanan, ia sempat ditababrak seorang pria dan hampir terhuyung. Untunglah ia bisa menyeimbangkan tubuhnya. Pria aneh itu bukannya meminta maaf, malah melesat dengan cepat menghilang di kerumunan. Sasuke mendengus.

Uchiha Sasuke sudah berada di dekat halte, disini ia akan menunggu Itachi atau orang rumah agar menjemputnya. Ia menguap karena ngantuk, kemudian dengan pelan ia meraba saku mantel kirinya. 'Hn? Ponsel, dimana ponselku?' Ia bertanya-tanya ketika ia tak menemukannya disana, dan dengan gegabah dan panik, Sasuke meraba saku kanan mantelnya. 'Tsk! Kuso!'

Angin musim dingin terasa lebih menusuk malam ini, Sasuke melirik ke arah menara jam yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ia mengepalkan tangan, jarak dari sini ke rumahnya cukup jauh. Dan ia tidak mengerti cara menggunakan jasa angkutan umum. "Ponselku tertinggal," Sasuke mengacak kepalanya yang terbungkus topi, dan mendengus kesal untuk ke sekian kalinya. Ia ingat sekali menaruh benda itu diatas meja belajarnya di kamar. Dan lupa mengambilnya.

Sekarang ia harus bagaimana? Sasuke berjalan ke telpon umum. Ia menghela nafas lega, namun ia kembali teringat, kalau di dalam saku mantelnya tak ada satupun barang. Tunggu dulu! Sasuke ingat kalau tadi ia menaruhnya di saku mantel. "Kuso!" Sasuke menggeram dalam kesendiriannya, dilihatnya telpon umum itu terdapat tulisan 'out of order' Sasuke memukul keras benda tak bersamah itu, dan ia ingat orang tadi yang menabraknya. Berhati-hatilah dengan pencopet di malam Natal. Ia kembali ke halte, memikirkan seribu satu cara agar bisa kembali ke kerajaannya.

"Ternyata kau disini!" Suara tinggi dengan khas perempuan membuat Sasuke menoleh ke arah sumbernya, yang tak lain seorang gadis berambut merah jambu pendek, dengan nafas terenggah dan uap yang keluar seiring ia menghembuskan nafas lewat mulutnya. Haruno Sakura melepaskan topi rajutannya yang terlihat miring, dan menatap geram Sasuke.

"Kenapa kau pergi begitu saja? Apa kau tidak malu?" Tanya Sakura dengan galak, matanya hampir mirip permata zambrud berkilat dalam amarah. Bibirnya terlihat menunjukkan ekspresi tak suka.

"Hn, aku tidak mood," kata Sasuke duduk di kursi halte dan membiarkan gadis itu berputar dan berdiri di hadapannya. Ia terlihat kesal, topi rajutannya masih bergelantungan ada di genggaman tangan kirinya.

"Apa? Tidak mood? Kau pikir kita semua harus mengikuti mood'mu? Aku tidak mood saat melihatmu pertama kali, tapi aku tetap berada disana, setidaknya untuk menghargai kehadiran mereka." Kata Sakura lagi. Kini suaranya makin meninggi, dan orang-orang mulai melirik mereka. Sasuke membuang muka dan ia kini merasa menjadi pusat perhatian.

Sasuke menarik nafas dan menjulurkan tangannya pada Sakura. Sakura terkejut dan menatap bingung, mata bundarnya menjadi lebih jinak dan ia terlihat heran. "Hn, pinjam ponselmu." Ungkapnya secara tiba-tiba. Sakura mengerutkan alisnya, apa katanya? Ponsel.

"Uchiha-sama, aku belum selesai berbicara denganmu! Jangan coba mengalihkan perhatian!" Omel Sakura lagi, Sasuke menatapnya sebal. Ia bangkit dan membuat Sakura mundur beberapa langkah dengan spontan, namun Sasuke menarik lengannya agar kembali mendekat, tak ada jarak diantara tubuh mereka yang dipaksa mepet oleh Sasuke. Sebelah tangan Sasuke menjambak rambut merah jambu Sakura. Gadis itu sedikit terkejut.

"Kyaaaa! I-ittai, i-ittai!"

"Dengar pink! Aku sudah cukup kesal dengan semua hal tentang hari ini. Jangan coba-coba memancingku dengan omelanmu seakan-akan semua ini salahku!"

Sasuke melepaskan jambakannya, dan Sakura hampir saja mencakarnya akibat ulahnya itu. Namun Sasuke kembali menyodorkan tangannya. "Hn, ponsel!" Pintanya galak. Sakura dengan ragu-ragu meronggoh kantong mantelnnya dan mengeluarkan ponsel flip berwarna merah jambu, dengan berbagai sticker 3D yang bermodel lucu-lucu dengan bentuk unik di beberapa tempat.

Dengan mengeryit rendah, Sasuke merampas ponsel itu dan menekan beberapa nomor di ponsel itu. Sakura membelalak, mengetahui kalau Sasuke ingin menlepon, "jangan! Batrainya habis-" Sakura menutup bibirnya, dan merasakan suasana horor, ia gelagapan sendiri.

Sasuke merasakan keningnya mulai berkedut, merasakan kalau urat-uratnya mulai meradang di jidat kirinya. Sasuke menatap Sakura dengan kesal seiring ia melihat layar ponsel yang menghitam, gadis ini membawa ponselnya yang tanpa daya. Ia menyerahkan ponsel itu pada Sakura dan duduk di halte. Wajahnya kusut, menimang-nimang, apa yang mungkin ia lakukan sekarang. Ia tidak pernah menaiki angkutan umum, taxi? Ia akan mencobanya, tapi entahlah, ia tidak tahu caranya, ditambah kini dompetnya hilang. DAN IA LAPAR.

Sasuke berdeham seiring suara perutnya berbunyi, namun Sakura masih berdiri disana. Ia tersenyum geli mendengar suara perut kelaparan Sasuke, sebelum akhirnya ia kelepasan tertawa. Dan respon pria itu hanya mendengus pelan, ia bahkan belum sempat memesan apa-apa setiba di cafe tadi, karena Ino menyeret yang lainnya keluar sebelum ia melakukan tindakan mengisi perutnya yang memang kosong sejak tadi siang.

"Makanya, jangan sok jual mahal begitu. Kalau lapar, kita cari makanan saja," kata Sakura setelah berhenti tertawa, "ayo," kata Sakura lagi melihat Sasuke yang tak kunjung bangkit.

"Hn, aku tidak akan kembali ke kelompok." Ujarnya memberi peringatan. Sakura berkacak pinggang.

"Ino bilang ia diantar pulang Sai, dia mengirimiku pesan singkat tadi. Hinata dan Naruto mungkin akan berjalan-jalan sebentar," jelas Sakura, Sasuke bangkit dan melepaskan topi rajutannya, membersihkan salju yang menempel seperti kutu disana.

Sakura terpana, ternyata rambut Sasuke yang halus jatuh ke bawah pada bagian depan, dan mencuat naik pada bagian belakang, berwarna segelap horizon biru. Membuatnya begitu spesial dengan manik hitam yang berkilat penuh keagungan. Ia menatap Sakura sejenak, dan memakai topinya lagi.

"Hn, dompetku dicopet, sekarang pakai uangmu dulu, nanti aku ganti." Gumam Sasuke sambil berjalan, Sakura terbengong-bengong, dicopet? Sakura mengejar Sasuke dan menarik lengan mantelnya.

"Apa? Dicopet? Kita harus lapor polisi, itu-"

"Hn, sudahlah. Tidak ada kartu kredit atau hal penting disana, hanya ada beberapa uang saja." Kata Sasuke santai, ia berjalan mendahului Sakura yang masih terpaku, ia mengejar Sasuke, dan berjalan mengimbangi langkah berat nan lebar milik pemuda jakung itu. "Tunggu," Sasuke berhenti dan menatap Sakura. "Kita bisa mencari telpon umum dulu?"

Sasuke tiba-tiba mendapatkan titik cerah, ia lebih memilih pulang dari pada 'kencan' bersama gadis aneh ini, namun Sakura menggeleng, "jangkauan komunikasi telpon umum se-Konoha sedang dicabut, ingat? Kemarin lusa kan ada badai salju." Jelas Sakura pelan. Sasuke lupa, ia ingat kemarin bahwa sementara waktu fasilitas telpon umum tidak bisa digunakan, "memangnya kenapa? Kau ingin menghubungi siapa?" Tanya Sakura.

"Rumah, atau Anikiku," ujar Sasuke malas, "hn, ponselku tertinggal, dompetku hilang, dan acara otaku gagal. Sempurna." Sakura mendengus, ia kemudian menaikkan bahunya. Ada apa sih dengan pria ini? Sombong, menyebalkan, galak, suka mengeluh lagi. Dasar.

Sakura dan Sasuke sampai di sebuah restoran ramen yang terkenal seantro Konoha. Ichiraku Ramen. Keduanya duduk di bagian dalam restoran yang hampir penuh. Sakura memesankan dua ramen spesial ukuran sedang.

Selama menunggu pesanan, keduanya diam dalam kebisuan. Sakura yang mengetuk-ngetuk meja, dan Sasuke yang tampak memperbaiki posisi syalnya. Mata mereka bertemu ketika detik-detik terakhir ramen mereka tersaji.

"Hei, kau nanti mau pulang bersamaku? Kita bisa naik taxi sama-sama. Rumah kita bersebrangan, kan?" Tawar Sakura di tengah-tengah hidangan yang mulai di tata diatas meja oleh pelayan berpakaian tradisional. Sasuke menaikkan sebelah alisnya, dan Sasuke menatap mata hijau itu dalam-dalam. Ia menaikkan bahu.

"Hn, karena terpaksa," Sasuke menghela, "aku tidak menolak." Sakura mendengus, apa-apaan itu? 'Cih! Sombongnya!'

"Hah? Ternyata begini sifat asli Sasuke-kun yang dipuja-puja di sekolah? Sungguh membuatku ingin memukulmu saking kerennya." Kata Sakura dengan sindiran yang membuat Sasuke menatap tajam.

"Hn, itu bukan masalahku." Kata Sasuke sebelum akhirnya ia bisu dalam santapan malamnya. Ia tak menyangka kalau malam Natalnya di habiskan bersama gadis asing yang ternyata selama ini begitu dekat dengannya.

"Ngomong-ngomong, kau kelas apa?" Tanya Sakura, ia mengambil gelas berisi air yang dinaungi es batu berbentuk balok kecil-kecil. Dan segera meminumnya, masih menunggu jawaban pria itu yang kini menatapnya heran.

'Apa dia se'kuper itu? Sungguh, tidak mudah di percaya. Oh, harusnya aku tidak heran.' Sasuke berguman dalam hati, ia mengalihkan perhatiannya, "X-A," jawab Sasuke. Sakura mengangguk-angguk mengerti.

"Aku di kelas X-B, kelas reguler," ujar Sakura santai. Di sekolah mereka biasanya dibagi menjadi tiga kelas tiap angkatannya. Kelas Unggulan, Reguler, dan Beasiswa. A, B, dan C. Kelas unggulan biasanya berisi murid-murid cerdas dengan tingkat ekonomi kelas atas. Kelas Reguler biasanya berisi murid berkemampuan rata-rata tapi masih tetap dikatalogkan pintar, dengan tingkat ekonomi merata. Kelas Beasiswa biasanya berisi murid-murid jalur beasiswa, dimana disana terdapat banyak siswa berbakat, dan berkemampuan tinggi namun mempunyai masalah dalam ekonomi.

"Hn," Sasuke hanya bergumam, ia menghabiskan satu mangkuk ramen tanpa sisa. Dan Sakura terbengong-bengong, laki-laki memang predator makanan yang luar biasa. Mereka bisa menghabiskan segunung mie dengan sekali telan. Oke, itu berlebihan! Tapi setidaknya bisa kalian ungkapkan seperti itu.

Sakura mengamati Sasuke yang sudah melepaskan topi rajutannya karena gerah, mengacak rambut bagian belakangnya, dan menyisirnya dengan kelima jari kirinya. Sakura mengunyah sisa terakhir dan tiba-tiba, ide aneh terbesit di kepalanya. Sakura tersenyum lebar.

"Ne, ne! Sasuke-kun," panggil Sakura akhirnya, Sasuke menoleh, dan melihat Sakura sejenak. "Kau tahu? Selagi kita disini, kita bisa menghabiskan beberapa jam lagi disini kan? Aku masih punya sisa uang, kita bisa jalan-jalan sebentar kan? Mau tidak?" Ajak Sakura sambil mengepalkan tangannya semangat.

Sasuke menaikkan alisnya, "hn, kalau kau mau kencan denganku, bilang saja. Tidak usah menggunakan modus menjijikkan seperti itu," ledek Sasuke. Sakura merasakan matanya berkejit marah.

"Ya sudah, kita pulang saja sekarang." Rajuk Sakura bangkit, dan menaruh uang sebesar bon yang di berikan diatas meja. Sasuke mengikutinya dari belakang.

Keduanya masih bisu-bisu saja, dan Sakura sepertinya sudah lelah bersikap baik dengan pria itu. Menyebalkan. Mereka berdua berhenti ketika menara jam berdenting menunjukkan pukul dua belas, Sakura merasakan bibirnya menyunggingkan senyuman. Ia bertepuk tangan gembira sendirian, kemudian menangkupkan kedua tangannya, "christmast wish! Kami-sama! Semoga keluarga dan teman-temanku diberikan umur yang panjang, semoga aku bisa semakin rajin belajar, semoga mulai hari ini semua akan berjalan lebih baik dari sebelumnya, dan kumohon agar sifat jelek Uchiha Sasuke-kun bisa segera berkurang seiring semua doaku terkabul!" Sakura merasakan ia hampir tertawa mendengar gumaman tak jelas Sasuke di sampingnya yang merasa tak terima. Tapi keduanya tetap berjalan beriringan.

Sasuke berhenti, menatap ke arah jendela kaca toko, tempat keduanya tadi sempat bertabrakan. Gambaran patung itu ironis sekali. Punya keluarga saling melengkapi begitu sungguh menyenangkan pastinya. Sasuke menghela nafas, dan mendapati Sakura terbengong-bengong menatapnya. Menatap ke arah dirinya lalu ke arah toko. Ia menepuk kedua tangannya, "aku tahu! Kau pasti ingin berbelanja di toko ini kan? Ayo masuk!" Sakura mendorong punggung lebar Sasuke dan memaksanya masuk ke sebuah toko cindera mata yang menjual berbagai hal-hal menarik penuh diskon.

Sakura hampir lupa, "oh iya! Aku harus membelikan Tou-san, Kaa-san, dan Momoi hadiah Natal!" Sakura berkata dengan heboh, ia menarik lengan Sasuke dan masuk ke dalam rak-rak dimana terdapat berbagai pilihan hadiah. Sasuke hanya ikut-ikutan saja. Ia sebenarnya merasa repot juga jadi teman belanja gadis berisik ini. Sesekali gadis itu menanyakan berbagai hal yang begitu aneh, meminta pendapatnya tentang berbagai hal.

"Kau bagaimana Sasuke-kun? Tidak memberi hadiah Tou-sanmu? Kaa-sanmu? Anikimu?" Tanya Sakura, "aku bawa uang yang cukup untuk membeli beberapa hadiah lagi. Mau?" Tawar Sakura, Sasuke terdiam. Ia menghela nafas panjang.

"Tidak," Sasuke melipat kedua tangannya dan menatap ragu Sakura, "bisakah kita pulang," gerutu Sasuke. Sakura berkacak pinggang.

"Hm, kau ini tidak asyik sama sekali, sekarang aku rasa warna merah cocok untuk momoi," Sakura berpikir panjang menyambit sebuah bungkusan yang Sasuke ragu isinya apa. Namun akhirnya keduanya berjalan ke kasir.

"Momoi, hn? Adikmu?" Sasuke mengekori Sakura, dan mengantri bersama.

"Bukan, anjingku." Sasuke merasakan matanya memanas, nafasnya berderu. Ia ingin memasukkan gadis ini ke mulut buaya agar di telan bulat-bulat. "Aku tidak punya saudara, ibuku keguguran dua kali. Kau pasti senang ya punya Itachi-san."

Sasuke menatap kepala gadis di depannya. Ia menghela nafas dan menaikkan satu alisnya, "hn? Kau tahu Anikiku?" Heran karena Sakura tahu kakaknya tapi Sakura tidak pernah tahu tentang Sasuke.

"Tentu saja, Anikimu tidak seperti kau. Dia ramah dan baik hati." Puji Sakura, Sasuke hanya menaikkan bahu.

"Hn. Asalkan jangan naksir dia, aku tidak mau punya calon ipar cerewet sepertimu. Lagi pula Anikiku sudah punya pacar." Sindir Sasuke. Sakura berbalik dan menghantam pelan bahu Sasuke dengan genggaman tangannya.

"Jangan asal bicara," sanggah Sakura, ia mencibir dan menjulurkan lidahnya, "sejauh ini belum ada orang yang benar-benar kutaksir." Curhat Sakura.

Sasuke mendengus bosan, "urusanku?" Sakura membuang muka kesal. Sasuke hanya menghela nafas.

Keduanya berdiri di meja kasir, dan tiba-tiba mereka mendapatkan sepasang couple ring, hadiah bagi pelanggan ke seratus hari ini. Sakura bersorak riang, Sasuke menutup telinganya. Para penjaga toko hanya tersenyum-senyum pada Sasuke. Kagum karena ketampanannya, dan tergelitik atas dua kelakuan remaja yang mereka kira sepasang kekasih.

Setelah di luar toko, Sakura mengulurkan satu cincin kepada Sasuke, dan Sasuke hanya membalas dengan tatapan merenggut tak mengerti. "Hadiah natal, semoga dengan berlingkarnya cincin ini di tanganmu, bisa membuat Uchiha Sasuke-kun menjadi lebih baik." Sakura merampas tangan Sasuke dan memaksakan cincin besar itu menyelinap di jari manisnya. Dan kebetulan sangat pas sekali. Sasuke mendengus, dan walaupun ia sangat ingin melepaskan cincin itu, tapi ia tak melakukannya.

Sasuke merampas cincin satunya dan melakukan hal yang sama pada Sakura, "hn, semoga seiring cincin ini terpasang, Haruno Sakura berhenti cerewet." Sakura memajukan bibirnya. Dan detik terakhir gadis itu memekik, pergi ke dagang gula kapas yang ada di seberang toko tadi.

"Sasuke-kun, mau beli tidak?"

Sasuke menghela nafas untuk kesekian kalinya. "Hn, kapan pulangnya?"

.

.

.

Sakura sempat membeli balon, dan sebuah gula kapas sebelum akhirnya mereka meninggalkan Konoha Town Square dengan taxi. Selama perjalanan, Sakura terkantuk, matanya setengah terpejam, tangan kirinya memegang kantung berisi banyak hadiah, dan tangan kanannya menggenggam pegangan gula kapas yang tersisa beberapa bagian, karena sudah berhasil dimakan oleh si pemilik.

Sasuke menatap keluar jendela taxi, namun lamunannya berhenti ketika ia teringat isi doa Sakura. Setiap bagian, membuatnya sedikit iri. Sakura mengatakan itu dengan ringan dan hati tulus. Dan Sasuke tersentak ketika kepala mungil itu menumpukan kelelahannya di lengan Sasuke. Sasuke mendengus, ia mendorong kepala Sakura dengan lengannya.

"Kasihan pacarmu, dia lelah sekali. Biarlah dia bersandar di pundakmu." Suara supir taxi menyadarkan Sasuke. Sasuke ingin membenarkan namun bapak-bapak paruh baya itu kembali berucap, "kalian manis sekali, memakai cincin couple seperti itu, aku jadi ingat aku dan istriku dulu," kata supir itu, Sasuke melirik cincin yang terpasang di jari manisnya dan di jari manis Sakura. Oh, apa yang mereka lakukan tadi. Sasuke menghela nafas, mencoba melupakan semuanya.

Sasuke tersenyum masam, mengingat tadi mereka yang akhirnya jadi berjalan-jalan sekitar Konoha Town Square. Dan Sakura memenangkan cincin couple gratisan yang didapatkannya ketika memborong hadiah Natal. Dan Sasuke'lah yang dinobatkan memakai pasangan satunya. Sasuke tidak menolak, ia hanya mendengus bahkan memakaikan cincin satunya lagi pada Sakura.

Dengan pelan Sasuke menarik Sakura kembali, merengkuhnya dalam perjalanan beberapa saat. Mungkin perasaan aneh itu akan menghilang seiring mereka sampai di rumah. Ya, mungkin.

.

.

.

Uzumaki Naruto merasakan ia begitu bersemangat. Kini ia punya nomor ponsel Sakura, apa yang harus ia lakukan. Ia maunya menghabiskan malam Natal dan merayakan sisa-sisa malam romantis itu dengan Haruno Sakura. Sungguh, Naruto terpana ketika gadis itu bertemu pandang dengan Naruto saat pertama kalinya ia merasakan kalau ia begitu ingin membahagiakan Sakura. Ya hanya Sakura. Gadis itu tak mempunyai tubuh tinggi yang indah, ia terbilang agak pendek namun pipi menggumpalnya yang manis melengkapi senyumnya.

Semua itu kesalahan besar, ketika Sakura akhirnya berhasil menghilang ketika mengejar Sasuke. Sialan pria egois itu. Membuat rencana hancur dan membawa gadis impiannya pergi. Ia tak keberatan jika harus berakhir menghabiskan malam Natalnya bersama Hyuuga Hinata, gadis itu cantik, anggun, dan manis juga. Tapi Naruto tak pernah ambil pusing, walaupun sebenarnya gadis pemalu itu hampir berkali-kali salah tingkah jika berdekatan dengan Naruto.

"Huwwwaaa! Hinata-chan, rumahmu besar sekali-dattebayo!" kata Naruto setelah mengantar Hinata sampai rumah, dan ternyata jarak rumah Naruto dan Hinata hanya beberapa blok.

"A-arigatou Na-Naruto-kun, sudah ma-mau mengantarku." Kata Hinata sambil membungkuk dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang memanas seiring setiap inci gerakan yang pria itu ciptakan.

"Hehe, tidak usah dipikirkan. Aku pulang dulu ya Hinata-chan! Bye-bye!" Naruto melambai dan berjalan pergi, Hinata menghela nafas, dan memasuki rumah besar bergaya tradisional. Ini rumah besar milik keluarga Hyuuga. Keluarga terkenal dengan berbagai bidang seni.

Namun belum beberapa langkah ia masuk ke dalam rumah, dua orang pria yang ia kenal berdiri di hadapannya dengan wajah tegas. Beberapa pelayan ikut serta ada di belakangnya. Ia meremas jemarinya menggantikan gemetar yang hampir menyerang kakinya.

Pria bersurai coklat panjang yang hampir terlihat mirip, namun yang membedakan hanya usia. Hyuuga Hiashi, pria berumur lima puluh tujuh tahun itu adalah ayah dari gadis yang kini menatap takut-takut. Sementara pria yang ada di sebelahnya lagi adalah Hyuuga Neji, sepupu sang gadis, sekaligus tunangannya.

"Otou-sama, Neji-san, maaf membuat kalian menungguku sampai selarut ini." Kata Hinata dengan suara melemah, namun tak terbata.

"Hm, masuk dan langsung tidur. Jangan melakukan hal lain lagi." Perintah Hiashi, membuat Hinata mengangguk dalam-dalam. Angin malam menusuk, pipi Hinata memerah, matanya menampung bulir kristal yang hampir pecah terbebas. Ia merasa yang hanya bisa mencerminkan dirinya adalah suara retakan di dalam hatinya.

.

.

.

Sai hampir menyelesaikan sketsanya, ia terus menggambar selama beberapa jam terakhir, siluetnya kini tenggelam dalam lautan emosi yang terluap seiring bayangan itu mencoba memudar. Sebuah gambaran mimpi yang coba ia raih. Ia menemukan inspirasinya ketika ia melihat langsung objek yang ada di dalam mimpinya.

Ia mulai mengeluarkan warna merah muda dari tabung cat, ia memoleskannya pada bagian mahkota sang gadis. Mengukirnya halus, dan akhirnya jari kelingkingnya mencolek cat hijau, dan mulai mengukir warna bagai kilauan permata itu pada matanya. Semua terlihat hidup, melihat hasil karyanya yang setengah jadi, hampir sempurna. Sai hanya perlu tahu apa yang gadis itu pandang, memandang apa dia? Pemandangan padang rumput kah? Sehingga ia memandang itu dengan begitu sederhana namun berharga.

Sai merasakan tubuhnya goyah, ketika ia membayangkan gadis itu mengulurkan tangannya padanya. Apa itu? Cinta pada pandangan pertama? Aneh rasanya. Seperti rasa buat anggur yang dikulum, saat terpecah, giginya mengoyak dagingnya, merasakan kemanisan menjalar memenuhi mulutnya. Cinta, menjalar memenuhi setiap robekan kanvas yang tercecer di lantai.

Sai tersenyum tulus.

.

.

.

'Tak'

"Pink! Bangun!" Sebuah jitakan manis melayang di jidat ehem-lebar-ehem Sakura belum juga membuat gadis itu terbangun, ia malah membenarkan posisi dan memeluk Sasuke lebih dalam. Suara berat Sasuke yang cukup keras juga tidak mampu membuat gadis itu mengerjapkan kelopak matanya. Dengan keputusan terakhir Sasuke mengguncang tubuhnya dengan keras sampai hampir terlepasnya pelukan dengan posisi memalukan itu.

Perlahan mata hijau cerah itu terbuka perlahan, keluar dari sangkarnya, mengnyingsing hari yang sudah mau matang dengan sedikit masih ingin kembali terpejam. Namun ia akhirnya bangun juga. Sasuke refleks melepaskan rangkulannya, gadis itu mengucek-ngucek mata dengan bibir maju tak suka. Tangan kecil gadis itu menggenggam erat mantel Sasuke, untuk dijadikan topangan. Ia melirik jam pada dashboard mobil taxi, pukul setengah dua pagi.

"Hn, sudah sampai, bayar sana." Kata Sasuke, ia berdeham dan menatap supir taxi yang tersenyum ramah.

Sakura dengan wajah kusutnya mengeluarkan dompet merah jambu dengan pita-pita dan membayar tagihan. Keduanya keluar, dan kembali ke rumah masing-masing. "Kaa-san! Kaa-san! Bukakan pintunya!" Pekik Sakura dengan ganas, menyadari kalau pintu pagarnya terkunci. Sasuke yang baru saja mengetuk pintu beberapa kali, menunggu dengan sabar. Ia melirik rumah gadis itu, berbeda jauh dengannya. Rumah Sasuke luasnya lima kali dari rumah Sakura, sungguh kontras.

Beberapa saat kemudian, pintu gerbang kayu rumah Sasuke terbuka. Para pelayan kembali menyambutnya dengan hormat. Walaupun sebagian mereka mengenakan pakaian tidur. Sementara Sakura sudah hampir tertidur di dekat pagar, namun Haruno Mebuki segera datang dan mengomelinya.

.

.

.

Haruno Sakura merasakan matanya terasa berat, langkahnya memelan, hidungnya sulit bernafas, dan paru-parunya sesak. Akibat jalan-jalan di malam Natal membuatnya terserang virus flu. Dan sekarang, menjelang liburan akhir tahun ia harus bersekolah untuk melihat hasil nilainya di cawu kedua.

Ia akhirnya berhasil sampai ke kelasnya yang sudah hampir terisi penuh. Mereka semua terlihat gaduh. Sakura membuka pintu geser kelas itu, membuat semua menoleh ke arahnya. Sejenak mereka diam, dan sepertinya mereka tampak tak suka. Bisik-bisik iri mulai menyelimuti satu ruangan itu, dimana di dominasi para murid perempuan.

Seorang anak perempuan berlari ke arah Sakura dengan wajah kesal, ia mempunyai postur tubuh yang bisa dibilang sangat seksi, perut rata, dada menonjol. Wajahnya putih bersih, rambutnya dicat merah nyentrik, dengan kacamata ber'frame merah terang pula.

"Sakura, aku tidak menyangka!" Pekiknya histeris, Sakura mengerjap. Kini ia merasakan hal menakutkan. Ia mundur selangkah. Namun ternyata ia malah menabrak seseorang yang kebetulan lewat di belakangnya.

Dan mata Sakura bertemu orang itu, mereka lama bertatapan. Rasanya seperti karamel, jika kau bertemu seseorang yang begitu ingin kau temui, dia orang yang bersamamu saat Chrismast Eve. Walaupun kalian hanya tak sempat bertatap muka selama hari Natal kemarin, mereka sebenarnya merasakan perasaan ganjal. Karena kalian merasa bahagia, aneh bukan? Bahagia karena seseorang yang baru kau kenal selama beberapa jam.

"Sasuke-kun?"

"Hn?"

Keduanya berucap bersamaan, mereka saling tatap. Tap percaya kalau mereka bisa bertemu secepat ini di sekolah, dulunya mereka yang tak pernah saling memperhatikan, dan sekarang setelah mereka bertemu di acara pertemuan otaku, mereka jadi seperti bisa langsung menemukan satu sama lain.

Sakura beralih ke jari manis Sasuke, dimana ia memasangkan cincin itu, masih ada. Sasuke melirik kesepuluh jemari Sakura, dan ia melihat benda berkilau itu masih disana. Sakura menyeringai, Sasuke membuang muka sambil menggaruk kepala.

"A-aku tak percaya ini! Teman-teman! Dugaanku benar! Dua hari lalu saat malam Natal, Sasuke-kun 'kita' kencan dengan Haruno Sakura! Dan mereka sekarang berpacaran!"

Sakura tersentak karena keterkejutannya mendengar ucapan Karin, sementara Sasuke hanya menoleh malas sambil menguap pelan. Semua gadis-gadis mengerubungi Sakura dan Sasuke. Melontarkan beberapa pertanyaan yang bertubi-tubi, tiada henti dan tiada ampun.

"Sasuke-kun? Apa benar?"

"Kyaaa! Lihat! Mereka pakai couple ring!"

"Apa?!"

"Haruno sialan!"

"Sakura apa benar?"

"Tu-tunggu! Semua itu salah paham!"

"Hn," semua diam ketika Sasuke angkat bicara. Mereka -fans Sasuke- dengan mata berbinar dan penuh harap, memohon agar apa yang terucap dari bibir seksi -menurut fans Sasuke- Sasuke tidak mengecewakan mereka. Pria itu tak peduli, dengan segala harga dirinya yang begitu tinggi, Sasuke berjalan melewati mereka tanpa membahas apa-apa yang sudah menjadi hipotesis mereka.

"Tsk, aku lupa benda bodoh ini," bisik Sasuke sembari mencoba melepaskan cincin aneh itu. "Kuso!" Sasuke berusaha melepaskan cincin yang kelewat 'pas' di jari manisnya, dan akhirnya dengan sekuat tenaga-

"Yo! Sasuke!" Sasuke berhenti mengutak-atik jarinya, ia menoleh dan mendapati Shikamaru menghampirinya dari belakang, "tadi ada apa ribut-ribut?"

Sasuke menghela nafas panjang, ia memasukkan sebelah tangannya ke saku celananya, tentu saja tangannya yang masih berisi cincin. "Hn, biasalah," jawab Sasuke tanpa menjelaskan lebih lanjut, karena hal yang sama sudah terjadi sebelum-sebelumnya, dimana penggemarnya heboh sendiri dan membuat suatu 'skandal' yang tak masuk akal.

"Aku tahu, tapi fotomu sudah di tempel di papan mading," Sasuke menghentikan langkahnya, dan menatap heran Shikamaru. Otaknya berputar, foto? Foto apa? "Fotomu, dengan gadis merah muda tadi. Kalian saling memasangkan cincin," Sasuke hampir saja tersedak air liurnya sendiri. Namun ia segera mengendalikan diri.

"Hn? Biarkan sajalah," Sasuke tak mau ambil pusing mengenai masalah ini. Toh yang rugi bukan dirinya, yang di serang habis-habisan pasti Sakura.

"Hoi, hoi, Sasuke. Kau kejam sekali, apa kau tidak kasihan dengan Haruno-san? Dia bakal habis lho." Goda Shikamaru menyusul Sasuke yang mulai berjalan.

"Hn, biarkan sajalah," Sasuke mengulang kalimatnya, namun ada sedikit keraguan di dalam nada suaranya. Shikamaru menguap lebar.

"Jadi kalian benar-benar kencan di Chrismast Eve?" Tanya Shikamaru.

"Hn, tidak, hanya kebetulan." Kata Sasuke pelan, ia jadi benar-benar ragu-ragu, ia melirik ke belakang saru. Melihat Sakura sudah di kerubungi gadis-gadis penggemarnya dari segala angkatan. Dan pucuk kepala merah jambu itu sudah tenggelam di antara tibunan para fansnya.

"Kau harus menolongnya, walaupun itu akan merepotkan." Shikamaru berjalan dan meninggalkan Sasuke yang masih menatap kerumunan itu. Sasuke melirik ke arah jemarinya yang diliingkarkan cincin.

Ia menghela nafas, "kuso!"

.

.

.

(A/N)

Greetings Minna-san!

Ini dia chapter 2, maaf ya kalau kalian menunggu lama. Dan chapter 2 ini lebih panjang dari chapter sebelumnya. Semoga chapter ini lebih baik dari sebelumnya. Kemarin juga sempet ada typoo, tapi saya sudah tangani XD.

Special Thanks for all Reviewers.

AnnisaHM, Fran Fryn Kun, fa vanadium, Cherry Chan, akasuna no ei-chan, KunoichiSaki Mrs Uchiha Sasuke, Shich Hzr, Cha KriMoFe Doujinshi, Dian-chan, Eky-chan, Natsuyakiko32, Canthy, Rinachan, karimahbgz, , Rannada Youichi, Hime Kazekhawa, Puput mochito, , endless night, Yukina Itou Sephiienna Kitami.

Ditunggu Reviewnya ya!