Pernikahan bukanlah suatu permainan. Tapi bagaimana jika Sasuke dan Sakura yang terjebak dalam drama yang dibuatnya sendiri harus memainkan sesuatu yang bernama pernikahan? /"Pernikahan ini hanya berlangsung tujuh bulan."/"Oke, dan peraturan terpentingnya,tidak ada yang boleh jatuh cinta di antara kita"/"Tentu saja!"/Bagaimana bisa mereka akan hidup sebagai sepasang suami istri?
Marriage Contract?
Naruto © Masashi Kishimoto.
Sasuke Uchiha & Sakura Haruno
Inspirasi : K-drama Full House
(Tapi alur akan berbeda dengan K-dramanya.)
Fanfiction ini masih jauh dari kata bagus. Jika ada kesalahan diksi, pengetikan kata
maupun lainnya,saya mohon maaf dan mohon bimbingan dari para senpai sekalian.
Karena saya masih baru di dunia Fanfiction,saya mohon bimbingannya.
Arigatou Gozaimasu~
.
.
Uchiha Sasuke—laki –laki tampan itu kini duduk dalam diam di samping Haruno Sakura. Di depan mereka Uchiha Fugaku sedang menatap mereka dan hal itu sudah dilakukan sejak lima belas menit yang lalu. Tentu saja kegiatan pengamatan kepala keluarga Uchiha itu membuat Sasuke,Sakura maupun Mikoto dan Karin yang berada di ruangan itu menjadi tidak enak. Terlebih lagi Sasuke dan Sakura.
"Ekhem.." suara dehaman dari Fugaku memecah keheningan. Pria beranak dua itu melipat tangannya di dada kemudian kembali diam.
Sasuke sweatdrop. Sebenarnya ayahnya ini sedang melakukan apa?
"Ja-jadi Tou-san?" Sasuke mencoba membuat ayahnya bicara. Fugaku menatapnya makin tajam. Kami-sama sebenarnya ayahnya ini memikirkan apa? ,pikirnya.
"Kenapa kalian ingin menikah cepat?" suara Fugaku membuat efek kembang api di belakang Sasuke dan Sakura. Akhirnya!
"Kami sudah berpacaran hampir empat tahun Tou-san, jadi aku merasa hubungan ini sudah siap untuk menjadi lebih serius. Maaf karena tidak pernah memberitahukan aku berpikir kalau kalian tidak akan menerima gadis seperti Sakura," ujar Sasuke panjang tanpa intonasi.
Sakura mendelik mendengar ucapan Sasuke. Tidak ada yang salah dari kalimat Uchiha bungsu itu hanya saja mengapa bagian terakhirnya seperti menggambarkan dirinya bukan calon istri yang baik? Sabar Sakura, sabar mungkin itu hanya perasaanmu saja. Mungkin..
"Aku menyetujuinya, asalkan kalian tidak main-main soal ini," kata kepala keluarga Uchiha itu. "Aku akan mempercepat pernikahan kalian. Mungkin akan dilaksanakan bersamaan dengan ulang tahun perusahaan," lanjut Fugaku.
Sasuke terkejut. "T-tapi itu seminggu lagi. Kami belum ada persiapan?"
Sakura menggigit bibir bawahnya. Dramanya akan berubah seminggu lagi? Dia belum siap!
"Kau dan Sakura-chan hanya perlu diam saja. Kami yang akan mengurusnya," Kini Mikoto yang bersuara disusul oleh anggukan Karin dan gumaman singkat Fugaku.
"Bagaimana dengan orang tuamu,Sakura-chan?" tanya Mikoto.
Sakura tersenyum simpul. "Orang tuaku telah lama meninggal,Kaa-san," jawab gadis musim semi itu pelan.
Bukan hanya Mikoto,Fugaku dan Karin. Sasuke yang mendengar itu sontak melirik Sakura. Kemudian Sakura terkekeh pelan. "Aku tidak apa-apa, jadi ku mohon jangan menatapku seperti itu,hehe"
Semua di ruangan itu tersenyum termasuk Sasuke walaupun ia hanya menarik sudut bibirnya,tersenyum samar.
…
Hari pernikahan itu tiba. Sakura duduk di depan meja rias dengan wajah ditekuk. Sejak seminggu yang lalu, Ino dan juga Shion tidak henti-hentinya menanyakan tentang hubungannya dengan Sasuke. Apalagi saat ia memberikan kabar jika pernikahannya dipercepat. Bahkan sampai hari ini, kedua gadis berambut pirang itu kompak menghujaninnya pertanyaan sekalipun saat Sakura dirias.
"Jika wajahmu kau tekuk begitu, orang-orang akan mengira aku menyiksamu," Sakura tidak memerdulikan laki-laki tampan yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.
Sasuke mendengus kemudian mendekati Sakura. "Kau tahu, aku tidak pernah membayangkan hidupku akan berakhir disebuah pernikahan kontrak," Sasuke hanya diam mendengar ucapan sakura seraya menatap bayangan mereka berdua di cermin.
"Hn. Aku juga"
Sebuah ketukan pintu membuat Sasuke dan Sakura sama-sama menoleh. Sasuke melirik ke arah Sakura yang menghela napasnya.
"Aku akan pergi lebih dulu. Nanti kau akan dijemput oleh Tou-san,"
Sakura mengangguk sebagai jawaban. Ia memperhatikan punggung Sasuke hingga hilang di balik pintu. Beberapa menit kemudian, pintu itu kembali terbuka. Uchiha Fugaku mendekati Sakura dan mengatakan bahwa pernikahan akan segera dimulai.
"Kau terlihat tegang," Sakura hanya tersenyum tipis sebagai jawaban atas pertanyaan calon mertuanya itu.
"Aku adalah ayahmu sekarang." Fugaku mengulurkan tangannya. Sakura menerima uluran tangan itu dengan senyum manis dibibirnya. "Terima kasih, Tou-san.."
…
Kilatan cahaya kamera milik wartawan mengiringi jalan Sakura menuju altar. Berulang kali Sakura menghirup udara kemudian menghembuskannya. Ia sangat tegang sekarang.
Tangan Fugaku yang menggenggam tangannya bergerak terulur pada Sasuke. Kini tangannya telah berpindah pada tangan Uchiha bungsu itu. Mereka saling melirik satu sama lain sebelum akhirnya kembali menghadap ke depan.
Mereka mengucapkan janji suci itu dengan lancar. Suara tepuk tangan terdengar setelah itu. Sakura bernapas lega. Akhirnya acara ini akan segera selesai.
"Baiklah, silahkan mencium pengantinmu"
"A-AP—" Sakura segera membekap mulutnya. Ia lupa akan bagian ini! Dia benar-benar tidak memikirkannya. Sakura menatap Sasuke horror berharap laki-laki itu mengerti maksudnya. Namun, nyatanya malah sebaliknya. Sasuke semakin mendekatkan wajahnya. Tangan laki-laki itu juga sudah berada di belakang kepalanya. Saat Sasuke menariknya untuk lebih dekat, Sakura menahan tubuhnya. Dan aksi Tarik-menahan diri itu berlangsung cukup lama sehingga para undangan menatap ke arah mereka bingung.
Sasuke mendelik ke arah Sakura.
Sakura juga mendelik tak kalah seram ke arah Sasuke.
Jika kalian menurunkan arah pandang kalian, kalian juga bisa melihat kaki mereka saling menginjak satu sama lain.
'Apa yang kau pikirkan gadis bodoh. Kau mempermalukan kita,'Sasuke membatin geram.
'Aku tidak mau dicium olehmu,pantat ayam!' batin Sakura histeris.
Sasuke terus berusaha mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura tetapi gadis itu terus mencoba mundur. Sasuke menggeram. Dia juga tidak ingin mencium Sakura, hanya saja demi drama mereka, ia harus melakukannya dan itu akan ia lakukan di pipi bukan di bibir!
Sakura menggelengkan kepalanya sedangkan Sasuke menganggukan kepalanya.
Akhirnya para undangan hanya bisa sweatdrop melihat adegan aneh dari pengantin baru tersebut.
…
Sakura menatap laki-laki yang sudah resmi menjadi suaminya beberapa jam yang lalu itu tajam. Mereka kini berada di sebuah rumah yang keluarga Sasuke beli untuk mereka tempati. Sakura kesal bukan karena rumah ini tidak bagus, malah rumah ini sangat bagus. Hanya saja bagaimana ia tidak kesal pada suami pantat ayamnya itu, semua barang mereka harus dirinya yang memindahkan dari mobil ke dalam rumah.
"Sudah selesai? Kau lamban,"
Ingin sekali Sakura melempar tas miliknya ke kepala Uchiha bungsu itu. Namun,ia masih harus bersabar. "Sudah" jawabnya singkat lalu mengelilingi rumah barunya.
Sasuke mengikuti kemana pun istrinya itu melangkah. Tak henti-hentinya ia melihat tatapan kagum dari mata gadis berambut merah muda yang kini menjadi istrinya. Mereka sampai pada satu ruangan, ini bisa mereka tebak sebagai kamar tidur mereka nantinya.
Sakura membuka pintu ruangan itu. Emerald-nya menatap kagum kamar tersebut. Ruangannya bersebelahan dengan taman belakang. Antara taman belakang dengan kamar itu hanya dibatasi kaca besar sehingga mereka berdua bisa melihat dengan jelas taman belakang rumah mereka. Sakura mendekati kaca besar itu kemudian memperhatikan taman belakang rumah mereka. Ada sebuah kursi taman dari kayu dan sebatang pohon entah pohon apa itu karena daunnya telah gugur mengingat sekarang adalah musim gugur.
"Rumah ini seperti rumah khayalanku selama ini," ujar gadis cantik itu. Bibirnya membentuk lengkungan manis. Ia tidak menyangka bahwa akan bisa tinggal di rumah seindah ini.
Sasuke yang berada di belakang Sakura bergerak mendekati gadis itu. Pemuda tampan bermarga Uchiha itu menyenderkan dirinya di kaca besar itu, posisinya tepat di samping Sakura. "Hn. Baguslah jika kau suka." Sasuke menoleh ke arah Sakura begitu juga dengan gadis musim semi itu. Sebuah senyum terbentuk di bibir tipis Sasuke. Hal itu sontak membuat Sakura terkejut. Cahaya matahari sore menembus kaca melewati celah di antara mereka. Entah apa yang dipikirkan Uchiha tampan itu, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Sakura. Sakura hanya bisa diam terpaku. Sasuke memiringkan kepalanya dan sebuah bisikan terucap dari bibir laki-laki bermata hitam itu.
"Karena kau suka rumah ini, kau yang bertugas membersihkannya,"
Tunggu. Bukan bisikan romantis?
Sakura mengerjapkan matanya berulang-ulang. Sasuke sudah kembali pada posisi awalnya. Gadis musim semi itu masih mencerna dengan baik ucapan dari suami kontraknya itu.
"A-APA?!" teriak Sakura histeris setelah mengerti ucapan dari Sasuke. Sasuke hanya mengangguk kemudian menidurkan dirinya di tempat tidur. "Bukankah ini rumah impianmu? Anggap saja rumahmu, jadi kau bisa bebas membersihkannya. Aku tidak perlu menyewa pembantu, kita sama-sama untung kan?"
Sakura hanya mendengus. Ia malas berdebat dengan laki-laki bernama Uchiha Sasuke itu. Berdebat dengan laki-laki itu sama saja membuang waktunya. Di balik wajah datar dan irit bicara , ia sangat yakin jika suami kontraknya itu sangat cerewet.
"Terserah. Aku ingin mandi," Sakura membuka tas kopernya dan mengambil pakaian gantinya. Tanpa memerdulikan Sasuke yang terus mengamatinya,Sakura masuk ke dalam kamar mandi. Beberapa saat kemudian suara air terdengar.
Sasuke bangun dari posisinya. Ia berjalan mendekati tas Sakura yang masih terbuka. Mata hitamnya menangkap setumpuk benda berwarna merah muda,putih dan juga polkadot. Entah penasaran atau apa,Sasuke mengambil benda itu. Anak bungsu dari Uchiha Fugaku dengan Uchiha Mikoto itu menggigit bibirnya berusaha menahan tawanya. Benda berwarna mencolok itu adalah pakaian dalam Sakura. Yang membuat Sasuke tertawa melihatnya adalah diusia Sakura yang ke dua puluh empat tahun, gadis itu masih menggunakan dalaman berwarna merah muda dengan gambar hamtaro.
Sasuke meletakan benda itu lagi. Mata hitamnya mengerling pada dahan pohon yang berada di taman belakangnya. Pohon itu telah memberinya ide gila dan ia akan melaksanakan pikirannya.
…..
Sakura—gadis cantik yang kini menyandang nama Uchiha itu keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Kamarnya sepi. Sasuke yang sebelumnya berbaring di tempat tidur saat ia mandi sudah tidak ada. Mungkin saja laki-laki itu sedang keluar,pikirnya. Ia melihat tas koper Sasuke sudah kosong. Laki-laki berambut mencuat itu pasti sudah membereskan pakaiannya. Kini gilirannya. Sakura memindahkan isi tasnya ke dalam lemari. Saat pakaiannya sudah berada di dalam lemari, gadis itu merasa ada yang kurang. Segera ia memeriksa ulang tas kopernya tapi tasnya memang sudah benar-benar kosong.
"Aku yakin sudah memasukan semuanya," gumamnya dengan nada panik. Sakura memeriksa baju-bajunya yang ada di lemari tapi di sana juga tidak ada. Mata emerald-nya tidak sengaja mengarah pada dahan pohon di taman belakang rumahnya. Pohon yang berada di depan kamarnya itu kini nampak berbeda. Banyak kain berwarna mencolok tergantung di tiap dahannya. Sakura mendekat ke arah kaca guna melihat lebih jelas apa yang menggantung di dahan pohon itu.
Emerald-nya melebar.
BLUSH!
"Itu pakaian dalamku!" soraknya terkejut. Segera ia berlari keluar kamar. Dengan cepat ia menuruni tangga. Berlari melewati Sasuke begitu saja. Pemuda itu tetap menyesap kopinya dengan tenang. Namun,bahu pemuda itu terlihat bergetar. Sasuke mati-matian menahan tawanya.
Sementara itu Sakura menaiki kursi taman yang berada di samping pohon itu. Tangannya terulur berusaha mengambil semua pakaian dalamnya yang menggantung di dahan pohon tersebut. Pikirannya sudah menujuk satu tersangka. Siapa lagi yang akan melakukannya.
Sakura menggeram "UCHIHA SASUKE!"
...
Sakura duduk meringkuk di tempat tidur dengan wajah masam. Ia masih sangat kesal pada suami kontrak berambut pantat ayam yang mengerjainya tadi. Sasuke keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih basah dan meneteskan air. Ia menatap datar Sakura yang menekuk wajahnya di tempat tidur. Melihat wajah gadis berambut merah muda seperti itu membuatnya ingin tertawa.
"Kenapa kau masih di sini?" Sasuke mendudukan dirinya di samping Sakura. Sakura menatapnya tajam lalu menendang kakinya. Sasuke meringis kemudian balik menatap Sakura tajam. "Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Untuk apa kau di sini? Gunakan saja kamar sebelah. Ini kamarku, bukankah kau bilang 'anggap saja rumah ini seperti rumahmu' ? ujar Sakura menirukan ucapan Sasuke sebelumnya.
Sasuke berdecih. Ia tetap membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Siapa yang peduli dengan gadis hamtaro merah muda itu—ini sebutan baru dari Sasuke untuk Sakura. Sakura mendesis kemudian mendorong Sasuke sehingga laki-laki tampan itu berguling dan jatuh ke lantai.
"Apa yang kau lakukan,gadis bodoh?!"
Sakura menjulurkan lidahnya kemudian membaringkan tubuhnya. Gadis merah muda itu menarik selimutnya dan berniat untuk tidur. Sasuke yang melihatnya langsung saja kembali menidurkan dirinya di samping Sakura. Sakura membalikan tubuhnya, dan lagi-lagi gadis musim semi itu menendang Sasuke sehingga laki-laki berwajah bak malaikat itu kembali terjatuh ke lantai. Sasuke berteriak kesal. Kesabarannya sudah habis. Segera ia mengangkat Sakura yang baru saja menutup matanya ke pundaknya. Sakura membuka matanya terkejut.
"Turunkan aku,Sasuke! Kau mau bawa aku kemana! Hei!"
Sasuke tidak menanggapi Sakura yang terus berteriak histeris dan memukul-mukul punggungnya. Pemuda itu berjalan menuju ruangan yang dikhususkan untuk menaruh seluruh pakaiannya. Ia menurunkan Sakura secara kasar di ruangan itu. Sakura sedikit meringis.
"Kau tidur saja di sini! Cih."
Mata Sakura terbelalak ketika Sasuke meninggalkannya dan mengunci pintunya.
"Uchiha Baka! Buka pintunya! Hei manusia tidak memiliki perasaan!" Sakura meremas rambutnya. Percuma saja jika ia berteriak ,Sasuke tidak akan mendengarkannya.
Sakura mengedarkan pandangannya mencoba mencari sesuatu untuk alasnya tidur. Ruangan ini penuh dengan pakaian-pakaian milik Sasuke. Mata hijau Sakura menangkap sepasang pakaian yang tergantung di luar lemari. Ini pasti pakaian yang akan digunakan Sasuke besok,pikirnya.
Sakura menjentikan jarinya, sebuah senyum aneh terukir di wajahnya. Ini saatnya untuk balas dendam pada Uchiha ayam itu.
…..
Sasuke menatap bayangannya di kaca. Uchiha Sasuke akan selalu tampan,pikirnya memuji diri. Sebuah teriakan dari bawah membuatnya menoleh ke arah pintu.
"Cepatlah turun Sasuke!"
Sasuke mendesis. Ia segera saja turun , dan melihat istrinya telah duduk di meja makan dengan sarapan yang telah selesai. Sasuke memandang aneh Sakura yang tersenyum kepadanya dan sesekali terkekeh. Padahal baru kemarin malam wajah istri merah mudanya itu masam. Sasuke tidak memerdulikan Sakura yang terus saja tersenyum. Ia mendudukan dirinya,mulai menyantap sarapannya.
Suara sumpit yang dilitekan terdengar. Sasuke menatap Sakura. Sakura hanya tersenyum di tatap aneh oleh suaminya itu. "Aku berangkat," Sasuke berujar dengan nada aneh. Mata hitamnya masih mengawasi Sakura. Ada yang aneh dengan istri kontraknya itu.
"Hati-hati di jalan,sayang!"
Suara teriakan Sakura dari dalam rumah membuat Sasuke bergidik. Apa kepala gadis merah muda itu terbentur? Lebih baik jika ia mengabaikan saja gadis merah muda itu.
…
Uchiha Sasuke berjalan angkuh diikuti Itachi dan pegawai-pegawainya. Namun,jika dihari-hari sebelumnya semua akan menundukan kepala saat Uchiha itu berjalan tidak untuk hari ini. Semua membekap mulut mereka masing-masing. Semuanya nampak menahan tawa mereka. Termasuk sekertaris dan pegawai lain yang mengikuti Sasuke dan Itachi. Sasuke merasakan ada yang tidak beres di sini. Ia membalikan badannya dan mendapati hampir semua orang yang ada di belakangnya berusaha menahan tawanya. Bahkan Itachi sudah tertawa terbahak-bahak.
"Ada apa?" tanya Sasuke tajam. Orang-orang di sana segera menundukan kepalanya. Hanya Itachi yang masih tertawa. Sasuke menatap kakaknya itu tajam. Itachi mencoba meredakan tawanya kemudian menepuk bahu adiknya itu.
"Kau bertengkar dengan Sakura-chan?" tanya Itachi yang sesekali tertawa.
Sasuke hanya menggeleng.
"Coba kau lihat celana bagian belakangmu hahahaa," Itachi kembali tertawa terbahak. Sasuke segera menyentuh celana bagian belakangnya. Tangannya merasa ada yang tidak beres di sana. Sebuah lubang yang pinggirannya berwarna kecoklatan karena terbakar ada di sana. Sialnya lubang itu cukup besar dan berada di bagian paha belakangnya.
"Sasuke, hahaha kenapa celanamu bisa hangus seperti itu? Sakura-chan tidak tidur kan ketika menyetrikanya?" Itachi semakin tertawa keras.
Sasuke berusaha melihat lubang di celananya. Mata hitamnya membulat. Pantas saja jika semua menertawakannya. Lubangnya besar dan menampilkan pahanya!
Hari ini giliran Sasuke yang menggeram "Sa..ku..ra.." gumamnya tajam lalu segera menuju ruangannya tanpa memerdulikan orang-orang di sekitarnya yang terus memperhatikan kakinya.
Kapan lagi melihat pemandangan gratis seperti itu kan?
….
"Hahahhahaa" Sakura tertawa sampai berguling-guling di sofa. Ia sudah membayangkan bagaimana wajah suaminya itu ketika menyadari celananya hangus karena ulahnya. Sejak pagi ia sudah mati-matian menahan tawanya agar Sasuke tidak curiga. Suara dering ponselnya,menghentikan aksi tawa gadis itu.
"Ino? Hahaha. Ada apa?"
Ino diseberang sana mengrinyit mendengar sahabatnya itu tertawa. Tapi ada sesuatu yang lebih penting dibanding menanyakan sebab gadis merah muda itu tertawa.
"Sasori-senpai memintamu untuk datang ke tempat kemarin. Katanya ia masih butuh beberapa foto lagi. Majalah mingguan itu butuh beberapa lagi fotomu untuk model pakaiannya,"
Sakura segera bangun dari posisi tidurnya. Dengan semangat ia mengiyakan. Masih dengan ponsel yang ia selipkan di bahu , Sakura menyiapkan keperluannya.
"Tentu Ino! Aku akan segera ke sana. Kita bertemu di sana,"
"Kau semangat sekali? Ingat ya.. kau sudah mempunyai Sasuke, jangan melihat kebelakang dan mengingat Sasori-senpai lagi," Suara Ino di seberang sana membuat Sakura mendengus. Seandainya saja sahabatnya ini tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Sudahlah. Aku akan segera berangkat!"
….
Sasuke keluar dari kantor dan berniat menenangkan dirinya di café teras tempat biasa ia berkumpul dengan teman-temannya. Istri merah muda menyebalkannya itu berhasil membalas dendam dan membuatnya malu. Untung saja di ruangannya ia pernah meninggalkan satu pasang baju dan celana.
Sasuke turun dari mobilnya. Mata hitamnya menangkap seorang wanita berambut merah sedang duduk seraya menyesap minumannya. Kaki Sasuke bergerak mendekati wanita itu. Dengan wajah datar ia mendudukan dirinya di depan wanita berkaca mata itu. Karin—wanita itu nampak terkejut kemudian meletakan kembali cangkirnya ke meja.
"Eh? Sedang apa kau di sini? Kenapa wajahmu juga semasam itu,hm?" tanya Karin diiringi tawanya.
Sasuke yang masih belum mau menatap Karin hanya bergumam sebagai tanggapan. Karin menggelengkan kepalanya,kemudian kembali menyesap kopinya. "Lalu kau? Untuk apa kau kemari,Karin?"
Karin memukul kepala Sasuke dengan majalah yang ada di meja. Wanita berkaca mata itu berpura-pura mendelik ke arah Sasuke namun setelahnya ia tertawa.
"Sejak dulu kau tidak pernah mau memanggilku Nee-san, bahkan saat kita masih bersekolah kau tidak mau memanggilku senpai. Aku lebih tua darimu walaupun hanya satu tahun tahu!"
"Cih" tanggap Sasuke . Pemuda tampan itu tidak sanggup walau hanya untuk menatap wajah cinta pertamanya yang kini menjadi kakak iparnya. "Dulu kau termasuk senpai yang sering mengejar-ngejar dan meneriakan namaku di sekolah,"
Karin yang mendengarnya kembali tertawa "Itu masa lalu yang memalukan. Sekarang aku menemukan yang lebih tampan darimu,hihi. Kakakmu itu berhasil mengambil hatiku seluruhnya,"
Karin berdiri dari duduknya. Ia melihat jam tangannya kemudian mengambil tas yang berada di sampingnya. "Aku harus menemui Itachi-kun , aku dan dia sudah berjanji ingin makan siang bersama. Kau mau ikut?" tanya Karin seraya membenarkan letak kaca matanya.
Sasuke tidak menjawab. Pemuda itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Karin hanya mendengus karena tidak ditanggapi. 'dasar pangeran es,' batinnya. Tanpa menunggu tanggapan adik iparnya itu lagi, Karin membalikan badannya berniat pergi menemui Itachi. Namun, tangan Sasuke menahan tangannya. Karin segera menoleh dengan wajah bingung.
"Tidak. Aku tidak ingin mengganggu kalian,Karin—"
"—Nee-san"
Karin terkekeh mendengar Sasuke memanggilnya kakak. Ia menganggukan kepalanya,kemudian melepas genggaman Sasuke. Wanita berambut merah itu masuk ke dalam mobilnya, dan mobilnya meninggalkan café teras tersebut.
Sasuke mengehela napasnya. Ia meremas rambutnya. Bagaimana pun , ia harus melupakan dan menghapus Karin. Karena hati Karin memang sudah milik Itachi seluruhnya,seperti apa yang dikatakan wanita itu sendiri.
….
Sakura menggulung rambutnya tinggi. Sepulang dari bekerja tadi, ia tidak sempat membereskan rumah. Sasuke bisa mengurungnya lagi jika mendapati rumah ini tidak bersih. Mulai dari lantai atas sampai lantai dasar. Teras sampai halaman belakang. Semua Sakura bersihkan.
Sakura duduk di bangku taman yang ada di taman belakangnya. Ia benar-benar lelah membersihkan rumah barunya ini. Tiba-tiba saja ia tersontak dan segera berlari menuju dapur. Ia lupa menyiapkan makan malam.
Tangan Sakura dengan cepat memotong bahan-bahan. Gadis berambut merah muda itu memang mempunyai keahlian dalam bidang ini. Sakura tersenyum akan pekerjaan yang di hasilkan. Semangkok besar sup yang masih mengepul telah terhidang di meja makan.
"Tinggal menunggu dia pulang," Sakura mendudukan dirinya. Ia sangat lelah hari ini.
"Aku pulang," Sasuke memberi salam. Ia sedikit bingung akan keadaan rumahnya yang gelap. Lampu tidak ada yang dinyalakan. Sasuke masuk dan menyalakan semua lampu. Ia melangkahkan kakinya ke ruang makan . Istri kontraknya sedang tidur berbantalkan tangannya di meja makan.
"Waktu yang pas untuk membalasnya," gumam Sasuke. Namun, niatnya berhenti ketika melihat semangkok besar sup yang kelihatannya sudah tidak panas lagi ada di atas meja. Sasuke kembali memerhatikan Sakura. Wajah gadis itu terlihat lelah namun sangat nyaman dalam tidurnya.
CTAK!
"Kami-sama!" Sakura terbangun tiba-tiba seraya memegangi dahinya. Gadis merah muda itu meringis. Sentilan Sasuke di dahinya itu cukup keras. "Ini sakit tahu!" protesnya.
Sasuke tidak menghiraukan Sakura. Pemuda itu mendudukan dirinya dan mulai makan.
"Supnya pasti sudah dingin , biar ku panaskan.."
"Tidak usah." Sasuke terus memakan makanannya. "Oh ya, sebenarnya aku membeli makan malam. Kau saja yang makan, aku akan makan masakanmu saja," lanjutnya.
Sakura menatap Sasuke tidak percaya. Senyum merekah di bibir gadis itu. "Kita makan bersama. Aku juga akan memakan sup dinginnya,"
Sasuke hanya mengangguk dan senyum Sakura semakin melebar. Malam itu mungkin akan menjadi malam yang tenang untuk mereka.
…..
Uchiha Sakura merenggangkan tubuhnya. Cahaya matahari masuk melalui celah-celah ventilasi dan berhasil mengganggu tidurnya. Gadis itu bangun kemudian berjalan malas keluar kamar. Ia tolehkan kepalanya ke arah samping. Pintu kamar Sasuke masih tertutup. Mungkin saja Sasuke masih tidur. Sakura melangkahkan kakinya menuju kamar suami kontraknya itu. Ia membuka pintunya perlahan. Benar saja,Sasuke masih tergulum dalam selimutnya.
Sakura mendudukan dirinya di tepi ranjang. Tangannya menggoncangkan tubuh Sasuke,mencoba untuk membangunkan laki-laki itu. "Sasuke. Bangunlah, tidak ada bahan makanan lagi di kulkas," Sakura kembali mengguncangkan tubuh Sasuke "Sasuke! Bahan makanan sudah habis kemarin!"
Sasuke belum juga mau bangun. Justru laki-laki berambut hitam itu semakin meringkuk nyaman. Sakura mendengus. Ia memikirkan cara untuk membangunkan suaminya itu. Sebuah pemikiran melintas di otaknya. Segera saja ia naik ke atas tempat tidur. Gadis itu merenggangkan otot-ototnya,kemudian—
DUAGH!
"Sakit!" –menendang Sasuke sehingga jatuh ke lantai. Sasuke mengelus dahinya yang mendarat lebih dulu di lantai. Sakura hanya memasang wajah polos ketika diberi tatapan menyeramkan oleh Sasuke.
"Jangan salahkan aku. Aku hanya mencoba membangunkanmu,"
"Cih."
Eh? Bukankah kemarin malam mereka akur-akur saja?
"Bahan makanan sudah tidak ada lagi. Aku tidak bisa membuat sarapan," ujar Sakura yang sudah turun dari tempat tidur. Sasuke tidak menanggapi Sakura, ia memilih keluar dari kamar. "Sasuke! Dengarkan aku. Aku serius!"
"Hn"
Sakura mengejar Sasuke keluar. "Aku serius. Kita tidak bisa sarapan." Ucapnya pada Sasuke. Sasuke hanya mengangguk kemudian masuk ke dalam kamar mandi yang berada di lantai bawah. Gadis yang telah berganti marga menjadi Uchiha itu mendesis. Jika begini, ia ingin sekali mencabut satu per satu rambut pantat ayam suaminya itu lalu menjadikannya kemoceng.
Beberapa menit kemudian Sasuke keluar dari kamar mandi. Sakura yakin jika suaminya itu sudah selesai mandi. "Cepat mandi. Kita akan membeli keperluan," katanya lalu berjalan menuju kamar. "Oke Kapten!"
…..
Mereka berdua mengelilingi swalayan. Berdebat tentang sayuran. Berdebat tentang makanan yang akan dibuat. Berdenat tentang rasa es cream yang akan mereka beli. Berdebat tentang merk makanan ringan. Intinya , acara belanja mereka penuh perdebatan.
Sakura menggerakan jarinya menyusuri setiap merk makanan ringan yang ada. Sasuke yang berada di belakangnya hanya memutar bola matanya jenuh. "Ambil saja yang ada," untuk kesekian kalinya Uchiha Sasuke mengucapkan itu tetapi masih saja tidak dihiraukan oleh Sakura.
"Sakura? Sasuke?" sontak Sakura dan Sasuke menoleh. Mendengar ada yang menyapanya, Sakura langsung tersenyum. Namun, senyum itu semakin lama semakin menghilang ketika menyadari siapa yang menyapa mereka.
"Sasori-senpai , Shion.." sapa Sakura balik diiringi senyum tipis. Mata emerald Sakura mengarah ke Sasuke. Sasuke yang ditatap hanya bisa mendekat tanpa mengatakan apa pun. Dengan gemetar Sakura menggengam tangan Sasuke. Sasuke segera menoleh ketika menyadari tangannya bertautan dengan tangan Sakura. Ia juga bingung melihat ekspresi gadis itu. Sepertinya Sakura berusaha keras untuk tidak menangis. Tapi kenapa?
"Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Bagaimana kalau kita sarapan bersama?" Sasori bertanya ramah. Shion juga menganggukan kepalanya walau yang terlihat adalah senyum tak ikhlas dari bibirnya.
"T-tidak usah senpai . Aku dan Sasuke-kun sudah sarapan," Sasuke semakin bingung. Sakura sedang berbohong. Ia terus memperhatikan gerak-gerik Sakura. Ada yang aneh dari dia. Gadis itu berubah saat Sasori dan Shion menyapa mereka.
"Ah sayang sekali, padahal aku ingin kita bisa berkumpul," ujar Sasori sambil tersenyum. Sakura memperhatikan Shion yang menggelayut mesra pada Sasori. Segera ia memalingkan muka ke Sasuke. Namun tatapan Sasuke padanya semakin membuat perasaannya kalut.
Sakura tidak bisa lagi menahan air matanya saat melihat Shion semakin menujukan kemesraannya dengan Sasori. "S-Sasuke.. ayo kita pulang," Sakura menghapus air matanya kasar,kemudian memaksakan tersenyum kea rah Sasori dan Shion "Kami harus pulang,"
Setelah itu, Sakura hanya bisa menarik Sasuke menjauh dari sana.
….
"Kau menyukai Sasori," suara Sasuke memecahkan keheningan yang berlangsung sejak tadi. Mereka duduk dalam diam di bangku taman yang ada di taman belakang rumah mereka. Sakura menghela napasnya. "Ya. Dia cinta pertamaku," sahut Sakura pelan.
"Tadi kau menangis," Sasuke bersuara lagi. "Menangis karena melihat Sasori dan Shion bersama," lanjutnya.
"Ya. Kau benar," Sakura kembali menyahut. Gadis musim semi itu kembali meneteskan air matanya. "Kau bisa menggunakan itu untuk balas dendam padaku. Bukankah aku sudah membuatmu malu karena mengerjaimu?" ujar Sakura. Sakura menangis semakin keras sedangkan Sasuke hanya bisa diam tidak tahu harus berbuat apa saat gadis di sampingnya itu menangis.
Sebuah tepukan Sakura rasakan pada punggungnya. Saat ia menoleh, ia mendapati Sasuke sedang menepuk punggungnya. Pemuda itu mencoba menenangkannya. Gerakan Sasuke yang kaku saat menepuk punggungnya membuat Sakura tersenyum geli.
"Apa?" tanya Sasuke heran bercampur kesal karena Sakura terkekeh ketika melihatnya.
Mata hitam Sasuke membulat. Sepasang tangan melingkar di punggungnya. Sakura memeluknya. Memeluknya sangat erat. Wajah gadis itu terbenam di dadanya. Perlahan tangannya bergerak,membalas pelukan dari Sakura. "Terima kasih, Sasuke." Ucapan terima kasih Sakura membuat Sasuke tersenyum samar.
"Hn. Terima kasih kembali"
Tsuzuku.
Author :
Krik krik krik krik krik ._. Akina update kilat kan sesuai permintaan dari para pembaca? :3
Akina sangat sangat sangat sangat senanggggg saat membaca review dari kalian. Akina tidak berpikir bahwa fanfic ini akan diterima dengan baik oleh para pembaca.:'D
Terima kasih karena sudah membaca dan Akina minta maaf kalau chapter duanya kurang bagus karena Akina mengerjakannya di dalam kondisi Akina yang lagi sakit T.T doakan Akina supaya cepat sembuh ya T.T
Satu lagi ._. Adegan telepon SasuSaku di chapter satu itu terinspirasi dari pengalaman pribadi Akina loh ._. Akina engga nyangka kalau itu akan menjadi adegan favorit para pembaca hihihi xD
Oke, waktunya balas review.
Untuk Guest-san,Dedew-san,Sonedinda2-san,Bella-san,Akasu na no ei-chan,amu-b,bigbangVIP-san,Cerise Liebe-san,Hanazono yuri-san,khoirunnisa740-san,Uchiharuno din-san, terima kasih banyak dan sudah saya lanjut hihi :3 saya juga sudah berusaha update kilat ;)
Untuk Ricchi-senpai ,Salam kenal senpai! *lambai-lambai :3 Wuaahh senengnya kalau bisa bikin senpai suka sama fanficnya. Terima kasih banyak senpai :)
Untuk Yui-san, Akina juga mau ditelpon langsung diajakin nikah sama si ayammm *disumpel.
Salam kenal Yui-san^^ :) . Terima kasih banyak pujiannya. Akina senang kalau bisa buat orang senyum-senyum sendiri hihi :p
Uchiha Akira-san, Terima kasih Akira-san :3 Adegan di telpon? xD hahahahha Pertanyaan pertanyaan Akira-san akan dijawab seiring cerita ini, jadi tetap baca yah :D #duagh
Untuk Pinky Kyukyu-san Kebetulan yang benat-benar menguntungkan hihi xD SasuSaku jodoh dong B)
Untuk Lin Narumi Rutherford-san hehehe Akina terinspirasi dari full house setelah bergalau ria mendengarkan lagu I Think I Love you ._. wwkwkkw . Pertanyaannya akan dijawab seiring cerita ,jadi tetap tunggu kelanjutannya ya :D
Untuk el-yuMiichann-san Terima kasih banyak. Sakura saya gambarkan disini memang sebagai orang yang polos trus ceplas ceplos xD Salam kenal juga ya :3
Yuni-chan Terima kasih banyak :3 Adegan telepon? Hihihi XD
Untuk Natsuyakiko32-san Salam kenal juga *lambai-lambai
Terima kasih banyak xD
Uchiha Rani17-san Haii salam kenal juga *lambai-lambai
Hihihi xD Terima kasih banyak. Oke siap! Akina akan berusaha update kilat.
Uchiha Yui-chan Kyaaaaa kyaaaaa *ikutan teriak-teriak ._. Salam kenal juga :D pasti Akina lanjutkan :3
Untuk Luca Marvell-san Akina senang bisa bikin orang ketawa XD Terima kasih banyak ;)
Hachikodesuka-san Ops Akina ngalamin itu dikisah nyata loh ._. Terima kasih. Siap! Pasti Akina lanjutkan.
Untuk SSlovers-san Gomen TT Akina tidak bisa buat FF rate M kakak ._.
Dan terakhir untuk Shiina namikaze-san dan ZhaSyahCherry-san Siap! Pasti saya lanjut. Ceritanya seru? Woaahh senangnya hihi xD
Oke sekian dari AkinaJung a.k.a Violet Phantomhive istrinya Ciel Phantomhive#abaikan.
TOLONG Reviewnya~ :3
