A/N:

Balas review yaa ...

Terima kasih untuk Lazyper dan xoxo yang sudah review di chapter 1.

Oh ya, untuk xoxo iya ini pendek soalnya drabble.

Sebenarnya karena malas menjabarkan menjadi OS saja maka dipilih drabble XD


Disclaimer:

Karakter yang dipakai dalam cerita ini diambil dari NARUTO karya Masashi Kishimoto


ForgetMeNot09

present

.

.

.

ES KRIM

.

.

.

Ino menatap pria di hadapannya, penuh makna, dengan binar mata bak manik yang menyala-nyala. Bibir gadis itu berkedut, ingin sekali menampilkan senyum atau bahkan tawa. Sayang, gerakan kecil itu mampu menarik perhatian sang pria, yang lantas membalas dengan tatapan bingung. Kedua tangan besar yang pria itu gunakan untuk mengurung tubuh ramping Ino, kini tak lagi mencengkeram kuat pada dinding di sisi kiri dan kanan sang wanita.

Kernyitan heran kembali muncul tatkala kedut bibir Ino kian kentara. Pria itu tak habis pikir, apa sebenarnya isi kepala Ino. Wanita itu baru saja mendapat ancaman darinya, dan kini malah ingin tertawa. Apa ia sudah tak sayang nyawa?

"Kau menertawakanku?"

Ino menelengkan kepala, matanya menyusuri penampilan sang pria dari ujung kepala hingga kaki. Rambut cokelat yang tampak tersisir rapi, tatapan mata gelap yang tajam, sepasang tato segitiga merah menempel dengan angkuhnya di kedua belah pipi, dan bibir yang gelap karena pengaruh nikotin. Tatapan Ino berhenti sejenak. Sedikit memutar fantasi tentang rasa dari bibir itu. Namun belum sampai khayalan itu terjadi, Ino tersentak, akuamarinnya menyala. Menggeleng sejenak lantas melanjutkan pengamatannya. Rahang yang kuat, gemeretak gigi sang pria nyaris terdengar. Rupanya ia benar-benar kesal.

Jakun di leher terlihat naik turun. Kulitnya kecokelatan, dengan setetes dua tetes peluh. Merasa pipinya menghangat, Ino menurunkan pandangan pada pakaian yang dikenakan sang pria. Kemeja rapi, dengan jas tersampir di bahunya. Celana hitam yang senada dengan pantofel membungkus kakinya sempurna.

Ino tersenyum sinis, lantas mendongak, tatapannya kembali pada wajah pria itu. Pandangan mata mereka beradu, kali ini Ino memasang mimik menantang.

"Tidak akan pernah, Inuzuka," bisiknya.

Kiba, pria itu, geram.

"Kau benar-benar keterlaluan, Yamanaka!"

Sekuat tenaga Ino mendorong tubuh kekar Kiba, yang meski enggan memilih untuk mengalah, menarik tubuhnya mundur.

"Kau yang keterlaluan! Selama ini aku selalu menjaganya, dan sekarang kau mau memintanya? Oh tidak semudah itu Ferguso."

Ino melenggang pergi, mengabaikan tatapan memelas Kiba.

"Beli saja sendiri!"

Dan wanita itu, dengan seringai penuh kemenangan, mulai membuka bungkus es krim yang sejak tadi ia genggam.

.

.

.

TAMAT