Naruto and all chacarcters belong to Masashi Kishimoto
AU, Hurt/comfort
Story not fully mine.
.
.
.
The Heartless.
.
.
.
Tidak mudah untuk menggoda Sasuke Uchiha. Meskipun sikapnya terlihat dingin kepada istrinya dan bahkan bisa dikatakan bahwa dia tidak memiliki perasaan cinta pada istrinya, tapi Uchiha Sasuke adalah pria terhormat.
Tentu saja dengan bersikap agresif tidak bisa membuatnya tertarik padaku. Aku harus menarik perhatiannya dengan cara yang tertata dan penuh kehati-hatian.
Aku memasak untuknya, mendengarkannya, membuatnya tersenyum, aku menunjukan bahwa aku menghormatinya, menyayanginya dan bahkan peduli padanya. Sampai lambat laun, aku menjadi seorang wanita untuknya. Wanita yang ia harap ia miliki.
Dan itu bukan Karin.
.
.
.
.
Semuanya berjalan dengan sangat lamban. Seperti sebuah plot cerita yang memerlukan ratusan lembar chapter untuk sampai pada titik klimaks. Proses yang begitu lamban dan lama.
Awalnya aku pikir rencanaku membuat ayah Shizune terjatuh padaku tidak akan pernah mencapai titik sukses.
Tapi pada akhirnya hari itupun datang. Saat itu usiaku 19 tahun.
Aku menunggu Sasuke menjemputku. Bebarapa menit yang lalu aku mengirimkan pesan singkat padanya. Aku meminta tolong agar dia menjemputku.
Bagaimanapun hari sudah larut. Aku tidak mungkin berjalan sejauh beberapa kilometer untuk mendapat taxi. dan Naruto sudah lama kusuruh pulang.
Tentu saja ini bagian dari rencanaku.
Aku melihat sebuah mobil mewah berhenti di sebrang sana. Seorang pria yang masih mengenakan kemeja putih keluar dari mobil itu dan tanpa basa-basi berlari ke arahku.
Sepertinya Sasuke juga baru pulang dari kantornya. Atau lebih tepatnya sengaja menyibukkan diri di kantornya agar pulang telat.
Sasuke tidak suka bertemu dengan istrinya saat dia pulang kerja. Ia selalu pulang tengah malam. Menghindari istrinya.
Hal ini juga adalah salah satu hal yang aku ketahui selama bertahun-tahun hidup di rumah keluarga Shizune.
Bahwa keharmonisan yang di perlihatkan di media masa berbanding terbalik dengan kehidupan rumah tangga yang sebenarnya.
Tentu saja ini menambah peluangku untuk menghancurkan Shizune.
"Paman, terimakasih sudah menjemputku walaupun hari sudah sangat malam." Aku membuat diriku seolah-olah sibuk dengan pakaianku yang kini sedikit transparan karena sempat kehujanan. Sasuke mengangguk.
Untuk beberapa waktu aku tertegun. Sebelah wajahnya yang terkena sinar redup lampu pertokoan membuatnya lebih berkarisma.
Aku tidak bisa tidak tertarik pada Sasuke Uchiha. Dia sangat mempesona bahkan terlihat lebih mempesona saat rambutnya yang biasanya terlihat rapi sekarang agak sembrautan oleh air hujan.
Aku menggigit pipi dari dalam. Betapa saat ini adalah saat yang tepat untuk membuatnya menaruh minat kepadaku. aku bisa saja dengan tiba-tiba mencium pipinya. Atau menggenggam tangannya, atau tidak tanggung-tanggung mencumbunya disini.
Tapi tentu saja aku harus mengontrol diri. Aku tidak mau rencana yang kususun rapi, serta waktu yang ku habiskan untuk sampai pada titik dimana kami bisa sendirian berlalu sia-sia oleh ketidak sabaranku.
Kau harus bersabar, Hinata.
Sasuke berdehem. Dia mengangguk sambil menatap kepadaku sekilas.
Aku tahu itu.
Kurasa inilah waktunya.
"Tidak apa-apa. Aku tahu di usiamu kau perlu waktu untukmu sendiri. Sedikit menikmati waktu liburmu bersama teman sebayamu bisa membuatmu lebih rileks."
Sasuke menatap acak ke jalanan. Kami masih dalam mobil. Suara musik yang popular baru-baru ini sedikit menyamarkan tekanan demi tekanan pada setiap kata yang dia ucapkan. Tapi aku masih bisa menangkap emosi pada wajahnya yang kelelahan.
Apa Sasuke sekarang mengira aku baru saja bersenang-senang dengan kekasihku?
Tsk... yang benar saja! aku bahkan tidak punya waktu untuk membayangkan kencan pertamaku dengan semua rencana-rencana sulit untuk menaklukanmu, Paman Sasuke.
"Tidak... aku tidak bermaksud pulang selarut ini. Tapi tugas kuliahku memerlukan banyak study kesana kemari. Aku dan Naruto hampir ketiduran saat mencari bahan study itu, paman." Aku tidak tahu kenapa aku berusaha meluruskan semuanya ini. Tapi itu benar. Hari ini aku sampai- sampai hampir kecelakaan karena terlalu kelelahan.
"Lagi pula, aku masih punya satu tugas tambahan karena Shizune belum juga pulang dari liburannya." tukasku. Sambil berusaha mengerti apa yang ada di mimik wajahnya. Dia mengangguk.
"Kau tidak usah menjelaskannya, Hinata. aku senang kau begitu bekerja keras untuk pendidikanmu."
Yah... Tentu saja aku harus menjelaskannya.
Aku tersenyum manis. Sebelum mencoba membuka sabuk pengaman yang tiba-tiba sulit aku buka.
Kami sudah sampai di depan rumah.
Tanganku sibuk mencoba membuka sabuk itu. Saat tiba-tiba Sasuke menyadari dan mencoba membantuku.
Wajah kami begitu dekat. Aku bisa merasakan suhu tubuh dan aroma maskulin parfumnya memanjakan penciumanku. Sasuke juga sadar atas jarak yang begitu berbahaya ini, dia menatapku. Tatapan kami terkunci. Aku bisa melihat percikan hasrat lewat matanya.
Aku bisa merasakan suhu tubuhku kian memanas. Dan aku tahu betapa merahnya pipiku saat ini. Meskipun ini adalah kali pertamanya, dan aku merasa asing dengan reaksi seluruh tubuhku saat jarak kami perlahan-lahan berkurang. Tapi aku tahu ini saatnya. Inilah awal keberhasilan dari setumpuk rencana yang aku susun rapi-rapi selama ini.
Aku menunggunya. Aku sudah menunggu hari ini sejak lama.
Perlahan aku mengurangi jarak kami. Membiarkan Sasuke tahu bahwa aku juga menginginkannya.
Beberapa detik kemudian, bibir kami bersatu.
Inilah kali pertamanya aku membiarkan bibir seseorang menyentuh milikku. Ciuman yang sangat hati-hati, ciuman yang lamban dan sensual.
Aku bisa merasakan satu tangannya mencangkup pipiku. Dan sebelah tangannya yang lain menarik pinggangku membuat jarak kami lebih intim.
Aku mengalungkan kedua lenganku kelehernya saat ciuman kami menjadi ciuman yang lebih dalam.
Damn it. He is a damn good kisser!
Aku benar-benar lupa waktu. Nafasnya sangat segar dan bibirnya sangat lembut. Serta sentuhan-sentuhannya yang mengetes pengalamanku. Membuat Aku tidak peduli begitu strategisnya tempat ini.
Karin bisa saja keluar tiba-tiba.
Tapi bukankah itu lebih bagus?
Tidak.
Aku tidak ingin menyelesaikan semua ini dengan singkat. Shizune harus merasakan bagaimana rasanya ketika seseorang yang dia cintai mengkhianati kepercayaannya, melepaskan diri darinya, bahkan meninggalkannya dengan hati yang hancur berkeping-keping.
Ia harus merasakan betapa menyakitkannya ketika orang yang dia percaya adalah orang yang membuat berantakan. Seperti apa yang telah dia lakukan padaku.
Sasuke menyedot bibir bawahku. Aku tahu dia sedang mencoba meminta akses lain untuk memperdalam ciuman kami. Aku tidak tahu dari mana hasratku yang meluap-luap ini muncul. Ada banyak keraguan dan hasrat yang bersahutan di kepalaku.
Separuh dariku sangat ketakutan tapi sebagiannya sangat menginginkan ini. Lagi pula aku tidak ingin Sasuke berpikir bahwa aku tidak suka ciuman ini. Atau Rencanaku akan gagal.
Aku sedikit mengulur waktu sampai akhirnya aku sedikit membuka bibirku.
Dan sialan. Sasuke benar-benar sangat handal. Tidak heran tante Karin tidak membiarkan Sasuke lepas darinya walaupun satu menit saat mereka bersama.
Caranya memanjakan lidahku membuat pikiranku kacau. Aku hampir melupakan bahwa pria yang saat ini membuat daerah privatku basah adalah ayah dari si jalang Shizune yang menyebabkan hidupku menjadi sebatang kara.
Dan saat aku mengingat Shizune, aku tidak menyadari bahwa pase ciuman kami saat ini sudah sampai saling bertukar saliva.
Jantungku berdebar, isi kepalaku sangat kacau, suhu tubuhku seolah bergejolak dan aku tidak percaya mulutku sudah mengeluarkan suara-suara menjijikan seperti suara perempuan murahan yang tidak ku kenal.
Ini sangat luar biasa. Tapi sesaat kemudian, Sasuke melepaskan diri.
Seperti yang sudah aku prediksi.
Sasuke bernafas dengan sangat berat. Ia juga tidak berani menatap ke arahku.
Sedangkan aku berusaha bersikap seolah canggung.
"Paman," Aku mulai membuka suara.
Sasuke masih tidak berani menatapku. Ia terlihat sedikit kerepotan membuka sabuk pengamanya sendiri. Sasuke yang saat ini bersamaku, bukan paman Sasuke yang aku kenal.
Sasuke yang saat ini bersamaku adalah Sasuke yang memiliki emosi yang bervariasi, kekhawatiran, sungkan, dan tidak terlihat dingin. Ini membuatku satu tingkat lebih baik dari Karin.
Sasuke yang sekarang besamaku adalah Sasuke yang manis yang baru menemukan hidupnya melalui gadis yang tidak sebaik dengan yang dia pikir.
"Ma-maafkan aku, Hinata. Aku pikir sebaiknya kita masuk." katanya.
Dia terburu-buru keluar dari mobil. Meninggalkan aku sendirian.
Perlahan, aku menyentuh bibirku. Lalu menyeringai.
"Kau tertangkap. Uchiha Sasuke." Ucapku pelan.
.
.
.
.
Heol... saya deg degan. Haha apakah saya update terlalu cepat? saya tidak peduli berapa review yang saya dapat. Karena melihat beberapa orang mereview juga sudah membuat mood nulis saya meloncat-loncat kegirangan (?)
Honestly like i said. This story is not fully mine. I just translate it and add view words here and there.
Cerita aslinya judulnya "The Taste of Revenge" Gtae story di AFF. by Theheartlessvixen.
Aslinya udah komplit. Dan karena aslinya udah komplit cerita ini juga bakalan komplit di chapter 3.
Untuk yang minor, di mohon tau diri untuk menghindari chapter 3.
Its all about Sex. i've warned you Dear #smock.
Mungkin ada beberapa typo yang lepas dari penglihatan saya. tapi semoga tidak menonjol dan mengganggu kenyamanan membaca anda semua.
Dan terimakasih bagi yang sudah membaca, mereview, memfave dan memfollow. Ini adalah sebuah kejutan. Maaf ya gak di bales satu-satu.
ja' mata neh-
