Jaejoong menatap Yunho bingung, juga sebaliknya—Yunho menatap Jaejoong bingung. Mereka berdua lalu menatap namja yang—sepertinya, sedang kesakitan di hadapan mereka.

Namja itu perlahan mendongak, memperlihatkan wajah imut ke evil-evilannya(?) ke hadapan Yunho dan Jaejoong yang masih setia menatapnya bingung tanpa ada sedikit pun tindakan.

"Ugh~ Jae Umma, Appa Yun~ Tolong Min-ie~ Min-ie lapaaar~"

.

.

.

BLUE DAFFODIL

Han Rae

Mianhae...

Warning :: Typo (s), YUNJAE Couple as Main Character, Shonen Ai, Pointless, Gaje.

Rate :: T

Jung (U-Know) Yunho dan Kim (Jung) (Hero) Jaejoong milik GOD, Their Parents, DBSK, TVXQ, Tohoshinki, JYJ dan YJS

Park (Micky) Yoochun, Kim (Park) (Xiah) Junsu dan Shim (Max) Changmin as Supporting role

Dont Like Dont Read

Please press back button...

Flame Allowed* but with solution too...

Jika kalian merasa ini adalah JUNK fic / Tidak pantas berada di Sub Screenplay, dengan lapang dada saya akan menghapusnya...

Review Please...

.

Now Playing;

Disvelocity – TVXQ || Love Like This – SS501

.

.

.

Future Child

[Chapter 2]

.

.

.

"Ha?"

Kedua makhluk yang saling bermusuhan itu berkor. Mereka berdua menautkan kedua alis mereka bersamaan.

"Appa Yun?" Namja bermata musang menunjuk dirinya.

"Jae Umma?" Namja cantik bermata doe ikut menunjuk dirinya.

"Kau Gila?" Lagi, mereka berdua berkor, entah mengapa sepertinya kedua otak namja itu sedang berhubungan saat ini.

Namja tinggi yang entah dari antah berantah mana itu berasal, memutar matanya merespon ucapan ke dua namja yang Ia panggil 'Jae Umma dan Appa Yun' itu.

"Aagh! Kalian tega sama Min-ie! Umma! Appa! Min lapar! Min mau makaaaaan!"

Namja yang sepertinya tak sadar umur dan tinggi badannya itu kini merengek tak jelas sembari berguling-guling di hadapan kedua makhluk yang semakin menyerit bingung.

"Jung, apa sekolah memperbolehkan orang gila masuk ke sekolah ini?" Namja cantik bermata doe berbisik takut ke namja musang di sampingnya.

"Sepertinya boleh. Buktinya mereka membiarkan dirimu yang jelas gila, menjadi siswa di sekolah ini," balas namja musang itu cuek.

"YAAAK! APA MAKSUDMU HAH!?" Jaejoong—sang namja cantik kembali berteriak geram sembari mencengkeram kerah baju Yunho—sang namja musang.

"Kau bodoh atau tuli sebenarnya?"

"TIDAK DUA-DUANYAA!"

"Kau bohong."

"TIDAK!"

"Hoo~ Aku tidak percaya." Yunho memeletkan lidahnya.

Jaejoong menggeram kesal, dengan segenap tenaga yang Ia punya, dengan sebelah tangan yang bebas Ia melayangkan tinjunya ke arah Yunho.

"UMMA JANGAN PUKUL APPA!"

DEG!

Kepalan tangan itu menggantung di udara. Jaejoong tak tahu kenapa tiba-tiba tenaganya hilang ketika mendengar teriakan namja tinggi itu. Yunho dan Jaejoong menatap heran namja tinggi itu. Namja tinggi itu tengah menatap mereka berdua sedih. Yunho dan Jaejoong saling bertatapan, perlahan Jaejoong menurunkan tangannya yang tergantung di dari lalu melepas cengkeramannya dari kerah baju Yunho. Namja tinggi itu tak menatap Yunho ataupun Jaejoong, Ia kini menunduk dalam sembari mengepalkan tangannya.

Yunho dan Jaejoong entah mengapa merasa kasihan terhadap namja itu. Mereka sama sekali tidak mengenal tapi, entah mengapa, mereka berdua dapat merasakan perasaan sedih dari namja itu.

"Kau kenapa?" Jaejoong mendudukan dirinya di hadapan namja itu. Namja itu mendongkak menatap Jaejoong sembari menggigit bibir bawahnya.

"Kau takut terhadap kami?" Kini giliran Yunho yang mendudukan dirinya di hadapan namja itu. namja itu terdiam menatap Yunho.

"Umma... benarkan namamu Ju—Kim Jaejoong?"

Jaejoong menyerit heran bingung kenapa namja di hadapannya bisa mengetahui namanya.

"K-kau Jung Yunho kan?"

Sama seperti Jaejoong, Yunho 'pun bingung kenapa namja di hadapannya bisa mengetahui namanya namun Yunho tak ambil pusing dan langsung membenarkan ucapan namja itu.

Namja tinggi itu kini menatap Yunho dan Jaejoong dengan mata berkaca-kaca.

"UMMA! APPA! MIN-IE KANGENNN!"

Namja itu tiba-tiba saja langsung memeluk Jaejoong dan Yunho. Mereka berdua tentu kaget ketika namja itu tiba-tiba memeluk mereka, namun entah mengapa saat merasakan namja itu melirihkan kata 'Umma, Appa' perasaan nyaman menyeruak masuk ke dalam tubuh mereka dan entah sejak kapan mereka berdua membalas pelukan namja itu sembari menutup mata.

. . .

Jaejoong tak sanggup menutup mulutnya yang terbuka sempurna ketika melihat tumpukan piring di samping namja itu. Namja itu masih saja tak ambil pusing dengan tumpukan piring di sampingnya dan memilih untuk terus menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, bahkan Ia membiarkan Yunho dan Jaejoong yang menatapnya horor di hadapannya.

"Kemana semua makanan itu hilangnya?" Jaejoong berbisik horor.

"Sepertinya di perutnya ada Black hole." Yunho yang terpukau(?) dengan kemampuan makan namja itu asal berucap, namun Jaejoong mengangguk cepat menyetujui ucapan Yunho yang tak masuk akal itu. Jaejoong menatap dari bawah sampai atas tumpukan piring yang menjulang tinggi bagaikan gedung pencakar langit.

"Oi, Kim kau tak mau pesan sesuatu?" Jaejoong menatap Yunho takut.

"Kau gila? Kenapa kau malah tanya aku seperti itu? Seharusnya kau pikirkan bagaimana kita bayar tumpukan piring ini!" Jaejoong berucap frustrasi sembari menunjuk tumpukan piring di hadapannya.

"Yah itu gampang. Kalau tak bisa bayar kau tinggal kau bayar dengan tenagamu untuk cuci piring saja," jawab Yunho cuek.

"YAK! KENAPA CUMA AKU!?" Jaejoong memekik tak terima.

"Karena aku tak bisa mencuci piring."

Jaejoong mengerucutkan bibirnya kesal. "Tapi setidaknya kau bantu aku juga!"

"Arraso. Aku bantu dengan doa." Yunho memposisikan tangannya di depan dada sembari menutup mata dan pura-pura berdoa.

"Itu sama saja babooo!" Jaejoong berucap lirih sembari memeras rambutnya kesal. "AAAAGH! Berlama-lama di sampingmu bisa membuatku mati muda!"

"Bagus. Kalau begitu cepatlah mati sana."

"HYAAAA!"

Yunho mendengus kesal ketika mendengar pekikan Jaejoong.

"Pelayan!" Yunho mengangkat tangannya lalu memanggil pelayan. Jaejoong terdiam sejenak lalu menatap Yunho horor.

"K-kau benar-benar ingin memesan Jung?"

"Tentu saja," balas Yunho sembari menatap Jaejoong heran, "Memangnya kau tak lapar 'huh?"

Jaejoong menatap perutnya lalu menggigit bibir bawahnya, "Tentu saja lapar! Gara-gara kau mengganggu makan siangku, aku jadi ga sempat makan tadi!"

"Karena itu pesanlah."

"Babo Jung! Daritadi aku juga mau pesan! TAPI! PIKIR BAIK-BAIK GIMANA CARA KITA MEMBAYAR MAKANAN YANG DIMAKAN NAMJA ITU!" Jaejoong berteriak geram tepat di telinga Yunho.

"HYA! KAU KIRA KUPINGKU MIC APA!? AKU TIDAK TULI! Pelan-pelan bicara bisa ga sih!?"

"Kau membuatku kesal sih!"

"Ke—,"

"Tuan anda mau pesan lagi?"

Yunho dan Jaejoong sontak mendongak menatap seorang yeoja yang tersenyum menatap mereka. Lain dengan Yunho yang memasang wajah santai, Jaejoong memasang wajah pucat pasi.

"Aku pe—uph!" Yunho melotot garang ke arah Jaejoong yang tiba-tiba saja membekap mulutnya.

"Apa-kau-gila-Jung?" Jaejoong membisik penuh penekanan, tangannya menangkupkan wajah Yunho erat, dan membawa wajah itu 7 cm di depan wajahnya. Tanpa di ketahui oleh Jaejoong, entah mengapa pandangan Yunho terpusat pada bibir Jaejoong yang bergerak bersamaan dengan ucapannya.

Entah mengapa, melihat benda kenyal berwarna merah alami itu lebih menyenangkan daripada melihat wajah panik Jaejoong.

"HOOOI! JUNG YUNHO!"

Yunho mengerjap bingung—sepertinya Ia merasa sedang berada di dunia lain beberapa detik yang lalu. Ia menatap Jaejoong yang tengah menatapnya seakan ingin memakan Yunho bulat-bulat.

"Ada apa?"

Ckit!

Perempatan muncul di dahi Jaejoong.

"ADA APA?! HELL! AKU UDAH NGOMONG PANJANG-PANJANG LAYAKNYA PIDATO KENEGARAAN DAN KAU BERKATA ADA APA!? KAU BENAR-BENAR GILA JUNG!" Jaejoong berteriak geram sembari mencubit kedua pipi Yunho ganas. Yunho mengerang kesakitan.

"YAH! Kalau ketampananku hilang kau mau tanggung jawab 'huh?" Yunho mengusap pipinya yang memerah kesal.

"Hish! Tampan dari mananya kau? Jangan bermimpi!" jawab Jaejoong ketus sembari melengos menatap namja yang masih belum berhenti makan itu.

Yunho memutar bola matanya bosan, "Sudahlah. Ah, saya pesan Black pepper Fried Chiken dan Americano."

Jaejoong kembali menatap Yunho horor.

"Kau benar-benar gila Jung," desis Jaejoong tak habis pikir.

Yunho hanya melirik Jaejoong lalu kembali menatap yeoja di hadapannya, "Juga Jus Jeruk dan apa makanan pedas di sini...," Yunho menatap buku menu di tangannya, "Ah, Spicy Vegetable Soup saja."

Jaejoong menatap bingung yeoja yang tengah mengulangi pesanan Yunho. Setelah yeoja itu pergi Jaejoong menatap Yunho dengan pandangan menuntut jawaban.

"Kenapa kau pesan sebanyak itu? jangan bilang kalau nafsu makanmu sebesar alien ini?" tanya Jaejoong sembari menunjuk alien, eh salah, tiang listrik, eh maksud saya namja yang tengah makan dengan lahapnya di hadapan mereka.

Yunho menatap namja itu, "Tidak. Malah kebalikan darinya, aku malah jarang makan."

"Lalu kenapa pesan dua porsi seperti itu?"

Yunho menatap Jaejoong jengah, "Tentu saja satu untukmu, babo. Aku tau kau kelaparan dan aku tahu kau pasti tak mau pesan sendiri karena memikirkan namja itu, jadi sekalian saja aku pesankan untukmu."

Jaejoong terdiam sejenak, "Ang... Goma—"

"Jangan berterima kasih. Ini aku lakukan untuk kebaikanku sendiri. Aku tak mau kau lemas gara-gara kelaparan dan membuatku repot mengurusi namja jadi-jadian sepertimu."

Ucapan terima kasih yang baru saja akan meluncur bebas dari mulut Jaejoong kembali masuk dan terkurung jatuh ke dalam tubuh Jaejoong.

"HEH, BERUANG JELEK! SUDAH BERAPA KALI AKU BILANG, AKU BUKAN NAMJA JADI-JADIAN!" lagi-lagi Jaejoong berteriak geram.

"Aku bukan beruang jelek!" Yunho membalas tak terima.

"BERUANG MESUM!"

"AKU TIDAK MESUM!"

"BERUANG IDIOT!"

"AKU TIDAK IDIOT, BABO!"

"BERUANG MATRE!"

"YAK! AKU BAHKAN BELUM PERNAH MEMINJAM SEPESERPUN DARIMU YA! JANGAN MENUDUHKU SEENAKNYA, GAJAH BENGKAK!"

"HYAA! AKU GA BENGKAK! DAN AKU BUKAN GAJAH!"

"NENEK SIHIR!"

"HYAAA!"

Pasangan bodoh itu kembali beradu mulut dan saling tunjuk menunjuk tak sadar kalau mereka sedang berada di Café yang sedang penuh dengan pelanggan, sedangkan namja setinggi tiang listrik di hadapan mereka tak peduli dan memilih memakan makanan yang ada di hadapannya daripada mengurusi kedua orang dan pandangan heran yang ditujukan pada mereka bertiga—ah, tepatnya hanya kedua orang itu yang menjadi pusat perhatian.

Adu teriakkan itu akhirnya terhenti ketika pesanan mereka datang. Nafas mereka terengah saking capeknya berteriak namun kedua mata itu masih saja melempar death glare tak jelas. Nyaris bersamaan mereka memalingkan wajah dari satu sama lain dan mulai menyantap makanan yang tersedia di hadapan mereka.

Jaejoong benar-benar menikmati apa yang sedang dimakannya, berbanding terbalik dengan Yunho yang masih misuh-misuh tak terima di bilang beruang oleh Jaejoong.

Jaejoong melirik Yunho yang menyeruput Americano pesanannya dengan alis yang bertaut kesal. Seulas senyuman puas ketika melihat wajah kesal Yunho, terlukis di wajah cantik Jaejoong, namun senyuman itu terhapus dan berubah menjadi raut bingung.

Jaejoong menatap makanannya sejenak lalu menatap Yunho, lalu kembali menatap makanannya dan akhirnya Ia berakhir dengan menatap Yunho heran.

Yunho yang merasa jengah dengan pandangan Jaejoong padanya mendelik kesal ke arah Jaejoong, "Kumohon jangan katakan kau mau protes lagi. Biarkan aku menikmati makanan ini tanpa terganggu dengan suara nenek sihirmu!"

Jaejoong mendesis kesal, "Suaraku bukan seperti nenek sihir! Aku tidak mau protes, aku hanya ingin bertanya."

Yunho menatap Jaejoong bingung sembari mengunyah makanannya, "Tanya apa?"

Jaejoong menunjuk makanannya, "Kenapa kau memesan makanan pedas untukku?"

Yunho mengunyah makanan di mulutnya sampai habis lalu menatap Jaejoong, "Setiap hari kau selalu membawa makanan pedas untuk makan siangmu, jadi ku pikir kau suka makanan pedas."

Jaejoong memiringkan kepalanya tak mengerti, "Kenapa kau bisa tahu?"

Senyum mengejek tersungging di wajah Yunho, "Mana mungkin aku tidak tahu, kau tak ingat tiap hari makan siangku selalu terganggu gara-gara mengurusimu?"

"Itu salahmu sendiri. Aku tak meminta untuk kau urusi!" ketus Jaejoong.

"HYAH! Berterima kasihlah sedikit!"

"Untuk apa berterima kasih? Kau menggangguku tahu!"

"Ck! Aku juga terganggu karena kau! Hish, dosa apa aku jadi harus mengurusi gajah lepas sepertimu!"

"HYAH! AKU BUKAN GAJAH! Harusnya julukanku singa bukan gajah! Aku ini keren seperti singa!"

"Keren seperti singa? Jangan mimpi Kim! Jelas-jelas aku yang lebih pantas jadi singa!"

"Singa dari mananya? Kau itu beruang Jung!"

"DENGAR GAJAH JELEK! AKU BUKAN BERUANG!"

"AKU BUKAN GAJAH! AKU TIDAK JELEK! AKU INI KEREN!"

"DALAM MIMPIMU!"

"Mimpi yang jadi kenyataan!" Jaejoong tertawa girang, Yunho mendecak kesal.

"Dengar Kim! Kau tak punya kaca di rumah? Kulitmu putih, matamu besar dan indah, hidungmu bangir, bentuk wajahmu ditambah rambut pirang dan tubuh mungilmu itu! Kau lebih pantas di bilang CANTIK daripada TAMPAN! Tampan itu harusnya seperti aku yang manly ini!"

Ah, entah namja beruang satu ini memuji atau mengejek sebenarnya -_-

"HEKH! Dengar ya Jung! Kau lebih pantas di bilang ANEH daripada TAMPAN! Lihat muka kecilmu seperti alien! Kebiasaan menyendirimu di dalam perpustakaan seperti kutu buku! Dan juga sifat NARSIS-mu yang sudah over itu! KAU ITU ANEH BUKANNYA TAMPAN! Dan HELL! Manly dari mananya! PLEASE JUNG STOP DREAMING!"

"HYAK! APA KA—"

"Puaah~ akhirnya kenyang."

Yunho menghentikan teriakannya ketika mendengar helaan nafas lega dari namja tinggi itu. Jaejoong mendengus kesal lalu menatap namja tinggi yang tengah mengelus perutnya yang membuncit seperti sedang hamil 7 bulan.

"Heh kau!" Jaejoong menunjuk namja itu.

"Ne Umma? Waeyo?" tanya namja itu sembari tersenyum lebar.

"JANGAN PANGGIL AKU UMMA!" Jaejoong memekik kesal. Yunho dan namja itu sontak menutup kuping mencegah kuping mereka agar tidak iritasi(?) akan teriakan Jaejoong.

"YAK! KIM! Bisakah kau hentikan memekik seperti anjing tercekik tali seperti itu?!"

"JANGAN SAMAKANKU DENGAN SPESIESMU!"

"HYAH! AKU BUKAN SE—,"

"Ukh, Umma, Appa berhenti."

"JANGAN PANGGIL UMMA/APPA!" Kedua makhluk yang saling berdebat itu langsung berteriak kesal ke arah namja tinggi itu, namja tinggi itu mengerut ketakutan, Ia menunduk dalam.

Melihat reaksi namja tinggi itu sontak membuat Yunho dan Jaejoong merasa bersalah.

"Mianhae, kami tidak sengaja," Jaejoong berkata pelan sembari mengusap rambut namja itu kikuk. Namja itu mendongak menatap Jaejoong lalu mengangguk pelan. Jaejoong menghela nafas lega lalu tersenyum kecil.

"Ah, sebentar... Aung, bisa kau jelaskan tentang dirimu pada kita? Aku saja bingung memanggilmu apa."

Namja itu terdiam sejenak lalu tersenyum lebar.

"Namaku Jung Changmin." Namja tinggi itu menepuk dadanya semangat.

"Jung? Hei, apa dia saudaramu?"

Yunho mendelik kesal ke arah Jaejoong, "Kau pikir marga Jung hanya dipakai oleh keluargaku apa?"

Jaejoong mendengus kesal lalu kembali menatap Changmin.

"Aku berumur 13 tahun. Aku anak satu-satunya dari pasangan Jung Yunho dan Kim Jaejoong yang berubah marga dari Kim menjadi Jung setelah menikah dengan Appa."

Berbeda dengan ekspresi bahagia luar biasa yang ditampilkan oleh Changmin, wajah Yunho memucat parah sedangkan Jaejoong merasakan seluruh tubuhnya merinding seketika.

"Aku datang dari masa depan. Kurang lebih... 17 tahun yang akan datang. Aku datang menggunakan peloncat waktu yang ada di ruang bawah tanah keluarga Park."

"Ha?" Yunho dan Jaejoong berkor keheranan.

"Dari masa depan?" Yunho menyerit bingung.

"Menggunakan peloncat waktu?" Jaejoong mengerjapkan matanya tak percaya.

"Kau Gila 'ya?"

Ah, entah mengapa Changmin merasa deja vu dengan reaksi 'Appa & Umma'nya tadi.

"Aku tak gila, Umma, Appa. Kalian mau bukti? Lihat saja bajuku ini," Changmin menarik bajunya di bagian dada, "Aneh bukan? Tidak seperti style baju di tahun ini bukan?"

Jaejoong mengangguk ragu sedangkan Yunho masih menatap Changmin tak percaya.

"Appa~ hentikan menatapku seperti itu! Aku tidak bohong! Nih lihat!" Changmin menunjukkan benda yang melingkar di tangannya dan menekan tombol sehingga muncul hologram peta, jam, dan 3 titik berbeda warna yang berkedip-kedip, "Ini peta dan waktu di sini, lalu titik-titik ini adalah kita, yang hijau untuk Appa, merah untuk Umma dan aku yang warna kuning."

"Itu seperti mainan anak-anak," komentar Yunho tak percaya.

Changmin memutar kedua matanya kesal, "Ah! Katakan padaku apa yang bisa membuat kalian percaya kalau aku dari masa depan!?"

Yunho dan Jaejoong berpandangan sejenak lalu kembali menatap Changmin.

"Senjata!"

Sejenak Changmin menganga tak percaya, "Kalian seperti bocah!"

"HYAH!"

Changmin menghela nafas merespons pekikan tak terima kedua orang tuanya. Ia berbalik lalu mengeluarkan sebuah alat berwarna perak seperti pistol mainan.

"Aku tak bisa membawa senjata karena aku belum cukup umur untuk memegangnya. Tapi aku harap ini bisa meyakinkan kalian."

Changmin mengarahkan pistol itu ke arah sendok makan di hadapannya sembari mengisyaratkan Yunho dan Jaejoong sedikit menjauh. Yunho menjauhkan tubuhnya dari meja sedangkan Jaejoong menyembunyikan sebagian badannya di belakang badan Yunho.

Mata Yunho dan Jaejoong tak berkedip menatap laser berwarna biru yang keluar dari alat itu.

Ching~

Puf!

Dan kini kedua mulut berbeda bentuk itu mengangga tak percaya melihat sendok itu mengecil seukuran ibu jari. Yunho mengambil sendok itu lalu menatapnya kagum sama seperti Jaejoong yang menatap sendok di tangan Yunho dengan mata yang tak berkedip saking terkagumnya Ia.

Changmin meniup-niup ujung pistolnya dengan bangga.

"Kalian percaya sekarang?"

Yunho dan Jaejoong mengangguk cepat. Tapi sedetik kemudian muka mereka memucat.

"Kalau dia benar-benar dari masa depan..." Yunho menatap Jaejoong takut.

"Berarti benar kalau aku dan Jung itu..." Jaejoong menatap Yunho panik.

Yunho dan Jaejoong menatap Changmin dengan pandangan tolong-katakan-kalau-kami-TIDAK-AKAN-menikah

"Ho, tentu saja kalian menikah. Dan bahkan berhubungan badan sehingga terbentuklah aku."

BERHUBUNGAN BADAN!?

"ANDWAAEEEEEE!"

. . . .

Changmin yang tengah asik mengemut lolipop besar di tangannya tak memperdulikan kedua makhluk yang berjalan lemas di belakangnya.

"Aku... menikah... dengan beruang jelek itu? Hicks... aku masih normal..." Jaejoong berkata lirih sembari menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Tidak mungkin! Tidak mungkin! Itu semua tidak mungkin!" Yunho menggelengkan kepalanya kuat.

"Oya, Umma, Appa aku tinggal di mana?"

"Di rumah dia!" Yunho menunjuk Jaejoong sedangkan Jaejoong menunjuk Yunho. Mereka mendelik kesal lalu kembali mengalirkan listrik kesal dari kedua mata mereka.

"Kenapa di rumahku?! Di rumahmu kan bisa!" Yunho menunjuk dahi Jaejoong kesal.

"Persediaan makananku bisa terancam kalau dia tinggal di rumahku!" Jaejoong membalas kesal.

"Itu sih deritamu!"

"HYAK! SUDAH KAU SAJA YANG RAWAT DIA!"

"TIDAK BISA! KAU SAJA!"

"KAU SAJA!"

"KAU!"

"KAU!"

"TIDAK! KAU SAJA!"

"ENAK SAJA! KAU SAJA!"

"HYAK! DENGAR GAJAH! KAU-SAJA-YANG-MERAWATNYA!"

"DENGAR BERUANG! AKU-TIDAK-MAU!"

"KAU HARUS MAU!"

"APA HAKMU MENGATURKU HAH!?"

"AAKH! TAK ADA HABISNYA BERDEBAT DENGAN ORANG BABO SEPERTIMU!"

"HYAK! AKU TIDAK BABO!"

Jaejoong dan Yunho menggeram kesal lalu memalingkan wajah dari satu sama lain.

"Hey Chan—eh? Ke mana dia?" Yunho menatap sekelilingnya, tak di dapati keberadaan namja tinggi itu di manapun.

Jaejoong yang penasaran ikut mencari keberadaan Changmin di sekitar mereka, namun hasilnya sama—Ia juga tak menemukan keberadaan namja itu.

"Ah sudahlah. Dia pergi berarti kita bebas." Yunho berucap santai sembari melenggang pergi meninggalkan Jaejoong yang menatapnya tak percaya. Jaejoong tak percaya Yunho benar-benar tak peduli dengan namja itu—walaupun Jaejoong juga tak menyukai keberadaan namja(yang menurutnya)gila itu di sampingnya—tapi Jaejoong tak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Ia takut namja itu tersesat.

CTAR!

Jaejoong memekik kaget ketika tiba-tiba suara kilat terdengar keras. Ia mendongak menatap langit yang menghitam lalu menghela nafas berat.

"Sudahlah! Dia juga punya peta 'kan?" tanyanya entah pada siapa lalu segera berlari ke rumahnya.

. . .

"AKU PULAAANG! HUA! UMMA AMBILKAN HANDUUUK!" Jaejoong memekik frustrasi sembari mengibaskan rambutnya yang basah karena hujan. Namun setelah menunggu selama beberapa menit sosok sang Umma tak terlihat sama sekalipun.

Jaejoong menyerit bingung, "Umma?"

Jaejoong berjalan mengelilingi rumah tetapi tak menemukan sosok sang Umma, namun saat Ia memasuki dapur, mata doenya menangkap note kecil yang tertempel di pintu kulkas.

'To : Baby Jae.

Jae, mianhe!

Appa harus ke Jepang untuk mengurusi masalah bisnis, dan Umma ingin ikut ke sana—hitung-hitung sekalian bulan madu kedua~ kyang~ XD

Jaga rumah baik-baik ya! Umma tinggalkan uang di tempat biasa. Ah, semoga saat Umma pulang Umma bisa bawa adik baru untukmu khikhikhi~

-Umma-'

Jaejoong mengangga tak percaya membaca note dari sang Umma yang terkesan tak mempedulikan nasib anaknya sama sekali dan lebih mementingkan hubungannya dengan sang Appa.

Jaejoong mendengus kesal lalu berjalan cepat ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang basah karena terkena hujan. Tak perlu waktu lama Jaejoong sudah kembali keluar dengan wajah segar.

Ia berjalan sembari bersenandung pelan ke dapur, Ia membuka kulkas dan mengambil susu kotak yang selalu tersedia di dalam kulkas.

CTAR! CTAR!

Jaejoong menghentikan kegiatan meminum susunya dan menatap ke arah jendela. Jelas terlihat hujan turun sangat deras di luar bahkan angin pun berhembus tak kalah kencangnya.

Jaejoong berjalan mendekati jendela dan menyentuh permukaan jendela yang dingin. Jaejoong terdiam sejenak, tiba-tiba terbayang wajah Changmin yang tengah tersenyum lebar.

"Apa dia baik-baik saja?" Jaejoong bergumam pelan. Ia mengangkat bahu tak peduli lalu kembali menyesap susunya namun Ia menyerit bingung ketika tidak merasakan setetes susu di gelasnya.

Jaejoong menatap gelasnya lalu menghela nafas ketika mengetahui kalau susu di dalam gelas itu telah habis. Ia beranjak ke dapur untuk mengisi kembali gelas di tangannya dengan susu.

Ia mengisinya perlahan namun entah mengapa pikirannya melayang ketika mengisi susu itu.

Bagaimana keadaan anak itu? Apa dia baik-baik saja? Apa dia kehujanan dan kedinginan di luar sana?

"AISH!" Jaejoong mendesis kesal, bagaimana pun Ia mencoba, bayang-bayang anak itu selalu menghantuinya. Entah mengapa Ia sangat mengkhawatirkan anak itu.

Dengan cepat Jaejoong mengambil payung dan pergi keluar. Ia berjalan cepat ke arah tadi Ia kehilangan Changmin sembari menyerukan nama anak itu berulang kali.

"Huachi!"

Jaejoong mengusap hidungnya kasar. Saking terburu-burunya Ia, dia sampai tak sadar kalau sedang menggunakan pakaian yang tipis. Ia memeluk tubuhnya yang sedikit bergetar sembari mencengkeram erat payung yang melindunginya dari hujan yang semakin deras.

"CHANGMIIIN!"

Sekali lagi Jaejoong berteriak menyerukan nama Changmin walau Ia sendiri tahu suaranya pasti akan teredam derasnya hujan. Tubuhnya benar-benar kedinginan saat ini, dinginnya hujan dapat Ia rasakan sampai tulang, namun Ia tak bisa menyerah. Rasa cemasnya terhadap Changmin lebih menyiksanya daripada dingin hujan itu.

Cipak, Cipak, Cipak.

Jaejoong terus melangkah di atas jalan yang tergenang air, Ia tak peduli dengan celana panjangnya yang sudah basah setengahnya.

"CHANGM—"

"JAEJOONG!"

Jaejoong tersentak lalu berbalik. Ia sangat berharap kalau yang memanggilnya adalah Changmin, namun ternyata sosok namja tinggi berwajah kecil itu yang terlihat.

"Huh? Jung?"

Yunho berlari ke arah Jaejoong dengan nafas yang terengah, "K, kenapa kau di sini?"

Jaejoong menatap sekeliling lalu menggigit jarinya, "Aku khawatir padanya."

Yunho mengangguk lalu menormalkan nafasnya, "Aku juga sama. Aku tak bisa menghentikan pikiran burukku tentang keberadaannya. Entah kenapa aku takut dia kenapa-napa."

Jaejoong mengangguk membenarkan ucapan Yunho, Ia menatap Yunho cemas.

"Kau sudah bertemu dengannya?"

Yunho menatap Jaejoong jengah, "Pertanyaan bodoh macam apa itu? kalau aku sudah bertemu dengannya pasti dia sudah berada di sampingku sekarang!"

"Hish! Aku kan hanya bertanya! Kenapa kau jadi mengataiku bodoh sih!?" ketus Jaejoong tak terima.

Yunho memutar bola matanya, "Lagipula kenapa harus kau tanyakan pertanyaan yang jelas jawabannya ada di depan mata sih?"

"YAK! Aku kan ha—huatchi!" Jaejoong tak sempat menuntaskan ucapannya ketika Ia kembali bersin. Bibirnya semakin pucat, Ia memeluk dirinya yang semakin bergetar itu untuk mencari sedikit kehangatan.

Set.

"Eh?"

Jaejoong mendongak menatap Yunho yang tengah memasangkan mantel ke tubuh Jaejoong. Jaejoong menatap mantel di tubuhnya lalu menatap Yunho.

"K,kenapa?" tanya Jaejoong heran ketika Yunho memasangkan syal ke lehernya. Yunho menatapnya sejenak lalu menarik tangan Jaejoong.

"Hish, kau gila? Kau sadar tidak sekarang suhu udara sangat dingin, kenapa kau keluar dengan menggunakan pakaian tipis itu? Lihat! Tanganmu saja sudah membeku seperti ini!"

Jaejoong tak berbicara, selain karena bibirnya yang kedinginan tak bisa berhenti bergetar, Ia juga bisa mengeluarkan ucapan karena Ia terlalu terpaku menatap Yunho yang tengah menghangatkan tangan Jaejoong dengan kedua tangan Yunho yang di gosok di permukaan tangan Jaejoong sembari sesekali menghembuskan nafas hangat ke tangan Jaejoong.

Entah mengapa efek hangat yang di rasakan Jaejoong di tangannya berefek sangat besar, bahkan wajahnya juga ikut memerah dan menghangat.

"Sudah hangat?"

Jaejoong sedikit tersentak ketika mata onyx Yunho menatap langsung ke mata doenya. Jaejoong mengangguk cepat.

"N-ne, sudah hangat."

Yunho menghela nafas lega lalu kembali menatap sekelilingnya sedangkan Jaejoong hanya menunduk dan menyerit heran sembari memegang dada di bagian jantungnya yang berdetak lebih cepat.

Jaejoong menggigit bibir bawahnya kuat. Kenapa jantungnya berdetak keras seperti ini?

"Sekarang ayo kita cari dia."

Jaejoong sontak mendongak menatap Yunho.

"Ah, tunggu!"

Yunho menatap Jaejoong bingung, "Ada apa?"

"Syal dan mantelmu."

"Sudahlah! Pakai saja, kau kedinginan kan? Aku baik-baik saja kok."

Jaejoong menggigit bibir bawahnya ketika Yunho berbalik dan berjalan ke arah kanan. Jaejoong menatap syal yang melilit di lehernya lalu mengangguk yakin.

Set!

"Ugh!"

Yunho menatap ke arah belakang ketika merasakan sesuatu sedikit mencekik lehernya.

"Kau pakai syal ini! Aku cukup dengan mantelnya!" Jaejoong berucap cepat dengan wajah yang memerah karena dingin. Lalu tanpa menunggu Yunho berucap sepatah katapun Ia langsung berlari ke arah kiri.

"KITA BERTEMU LAGI DI SINI NANTI!" teriak Jaejoong dari kejauhan.

Yunho terdiam. Ia menyentuh dan menatap syal yang ada di lehernya lalu tersenyum geli.

"Dasar bodoh."

. . .

Langit masih saja betah untuk menguras air matanya. Hujan masih saja betah menghajar bumi dengan kasarnya. Seolah tak peduli, sang angin ikut memperkeruh suasana ini dengan berhembus sangat kuat yang membuat suhu udara semakin menurun.

Lain dengan orang-orang yang bersembunyi di dalam kehangatan rumah. Kedua anak muda yang saling bermusuhan itu malah terus mengitari daerah yang sama tanpa mempedulikan keadaan tubuh yang semakin membeku kedinginan.

"Jaejoong!"

Jaejoong yang tengah menggosokkan kedua tangannya menoleh ke arah Yunho yang berlari ke arahnya.

"B, bagaimana?"

Jaejoong menunduk lalu menggeleng lemah. Yunho menghela nafas berat.

"Bagaimana ini... langit belum menunjukkan tanda-tanda untuk menghentikan hujan ini. Sial! Udaranya semakin dingin dari yang tadi! Kau tak apa?"

Jaejoong menggeleng lemah lalu mendongak menatap Yunho, "Aku tak apa... tapi Yun... bagaimana keadaannya? Bagaimana kalau dia kehujanan? Atau bahkan dia pingsan karena kedinginan? Yun, ottoke? Aku sangat khawatir padanya."

Jaejoong semakin khawatir, perasaan khawatir itu seolah mengiris hatinya. Walau Ia baru bertemu dengan Changmin, entah mengapa Ia merasa punya ikatan batin teramat kuat terhadap anak itu.

Yunho menatap Jaejoong yang tengah menatapnya dengan air mata yang menggenang di mata doenya, lalu perlahan menarik Jaejoong ke dalam pelukannya.

"Tenanglah. Dia pasti baik-baik saja," hibur Yunho. Jaejoong mengangguk lemah di dalam pelukan Yunho.

Walaupun Yunho bisa menghibur Jaejoong, tapi Yunho sama seperti Jaejoong; Ia juga mengkhawatirkan keadaan Changmin. Tak dapat Ia pungkiri kalau dadanya terasa sesak saat memikirkan keadaan Changmin.

"Jae, apa kau tahu di mana tempat yang menarik di sekitar sini?"

Jaejoong menatap Yunho kesal, "UNTUK APA!? Jangan bilang kau mau bersenang-senang di saat seperti ini!?"

Yunho sedikit mengaduh ketika Jaejoong memukul dadanya keras, "TIDAK! Aku pikir mungkin dia tertarik ke tempat ramai!"

Jaejoong terdiam sejenak lalu dengan tergesa melepaskan diri dari pelukan Yunho dan berlari menjauh.

"Yak! Kau mau ke mana?"

"TAMAN! AKU BELUM CEK KESANA!" teriak Jaejoong tanpa menatap Yunho. Yunho terdiam sejenak, Ia juga belum memeriksa taman. Lalu tanpa aba-aba Ia segera mengejar Jaejoong sembari berharap semoba Changmin berada di sana.

Jaejoong dan Yunho sama sekali tak memperdulikan tubuh mereka yang semakin basah, bahkan Jaejoong tak memperdulikan tubuhnya yang bergetar hebat saking kedinginannya.

Tak penting keadaan mereka! Tak peduli kalau tubuh mereka sakit keesokan harinya! Yang penting Changmin! Keadaan Changmin lah yang terpenting saat ini!

Dengan nafas terengah Yunho dan Jaejoong sampai di depan gerbang taman. Kedua pasang mata itu menjelajah taman yang—tentu saja—kosong itu dengan teliti. Berharap ke beradaan namja itu terlihat.

CTAAR!

Yunho dan Jaejoong bersamaan tersentak kaget ketika petir berbunyi sangat nyaring di atas sana bersamaan dengan hujan yang semakin deras. Yunho dan Jaejoong bertatapan lalu menutup kedua mata mereka—untuk berdoa.

Kumohon tunjukan keberadaan Changmin pada kami!

"HUACHI!"

Yunho dan Jaejoong membuka mata bersamaan lalu menatap satu sama lain.

"Kau bersin?" tanya Yunho.

"Bukannya kau yang bersin?" Jaejoong bertanya balik bingung.

"Ukh... dinginnya."

Kedua pasang mata itu membulat ketika mendengar suara lirih yang bergetar lalu mereka menatap cepat ke arah bangunan yang berbentuk seperti Iglo di sudut taman. Yunho dan Jaejoong saling bertatapan sejenak sebelum berlari ke arah bangunan itu.

"CHANGMIN!"

Yunho dan Jaejoong berteriak keras ketika memasuki iglo itu. terlihat seorang namja yang tengah duduk di sudut iglo sembari menekuk kedua kakinya itu mendongak menatap Yunho dan Jaejoong.

"U-Umma? Appa?"

Tangis bahagia Jaejoong langsung pecah, Ia langsung melepaskan pegangannya pada payung dan langsung menerjang Changmin dan memeluknya erat.

"BODOH! DARIMANA SAJA KAU!? KAU MEMBUATKU NYARIS MATI KARENA CEMAS TAU!" teriak Jaejoong histeris, perasaan khawatir yang menguap membuat air matanya tak bisa Ia kontrol.

"Ukh... mianhae Umma. Aku juga tak tahu kenapa aku bisa hilang." Suara Changmin bergetar, Ia memeluk Jaejoong erat.

"Yang penting kau baik-baik saja 'kan?" Yunho menatap Changmin lembut, Changmin menatap Yunho dengan mata yang berkaca-kaca.

"Ukh... Umma, Appa, Min-ie takut!" tangis Changmin pecah membuat Jaejoong semakin keras menangis dan semakin erat memeluk Changmin. Sepertinya Changmin sedari tadi menahan takut dan air matanya.

Yunho tersenyum lembut lalu mengusap rambut Changmin dan merangkul Jaejoong untuk mencoba membuat kedua namja itu menjadi lebih tenang.

Jaejoong dan Changmin mendongak menatap Yunho dengan mata yang berkaca-kaca. Yunho tersenyum, entah mengapa Ia merasa ekspresi anak bocah yang tengah terpasang di wajah Changmin dan Jaejoong sangatlah mirip.

"Sudah tenang?"

Jaejoong dan Changmin mengangguk pelan. Yunho melebarkan senyumannya.

"Kalau gitu ayo pulang!"

"Yun, ke rumah ku saja dulu. Rumahku dekat dari sini!" Jaejoong menarik Changmin ke arah Yunho yang tengah berdiri di pintu iglo sembari memegang payung Yunho dan payung Jaejoong.

Yunho menatap Changmin yang sedikit bergetar kedinginan lalu menatap Jaejoong.

"Baiklah. Ayo."

Jaejoong menganguk cepat lalu memberikan sebagian payungnya untuk Changmin, Yunho pun memberikan sebagian payungnya untuk Changmin. Changmin kini benar-benar terlindung dari hujan namun Yunho dan Jaejoong dapat merasakan dinginnya hujan di tubuh mereka yang tak terkena perlindungan payung.

Changmin menatap Yunho dan Jaejoong yang tengah tersenyum menatapnya.

"Ada apa?" Yunho bertanya penasaran.

"Apa kau kedinginan?" kini giliran Jaejoong yang bertanya.

Changmin terdiam lalu menggeleng cepat. Senyuman lebar terpasang di wajahnya ketika Ia menggenggam tangan Yunho dan Jaejoong.

"Umma," Changmin menatap Jaejoong yang menatapnya lembut, "Appa," Changmin sekarang menatap Yunho yang masih tersenyum lembut ke arahnya.

Changmin menatap tangan yang berada di dalam tangannya.

"Min-ie sayang kalian!"

.

.

.

TBC or Delete

.

.

.

HUAAA! APA INI!? *histeris

Mianhae, Saya kembali update FF—yang masih—abal ini. *bersimpuh

Ah, dari review banyak yang bilang FF ini mirip sama FF lain ya? Yah, mohon pengertiannya, saya sadari kala IDE FF ini demang pasaran, tapi saya berani bersumpah kalau FF INI MURNI DARI OTAK SAYA. Tidak memplagiat atau copas dari FF lain. Mohon pengertiannya ne~ :3

Sebenarnya saya sudah ingin update FF ini dari beberapa hari yang lalu, tapi, karena keadaan FFn lagi ribut karena Author-author yang tidak bertanggung jawab dan hancurnya War di Review saya jadi ga berani buat update FF ini. Mianhae, jeongmal mianhe

Ah, saya ucapkan terima kasih banyaaaaaak untuk review Reader-deul, gomawo ne. saya bahagia FF bal saya ini mendapat reaksi positif :')

Surat cinta (Red:balasan Review) dari Saya *kedip genit /plak

PhantoMiRotiC || HIDUP BEBEK! *eh *lari dari kejaran Junsu* Yup ini ludah lanjut, gomawo udah review, review again please *doe aegyo eyes bareng BooJae

ImekaJung || Yup ini ludah lanjut, gomawo udah review, review again please :3

Gyujiji || Min-ie si manusia kaleng XD *dicincang Changmin. gomawo udah review, review again please~

SunnyHeells || Semua terjawab di chap ini edar :3, Kalau tom Jerry se kece yunjae, saya yakin saya udah jadi fujoshi semenjak TK XDD *emang tom Jerry udah ada pas lu tk thor? -_-* gomawo udah review, review again please :3

Mrshelmet || KYAAANGG! *ikutan excited, YUNPPA! Kalor NC-an panggil saya ya! *dihajar Umma* gomawo udah review, review again please :3

Yzj84 || Insya Allah saya usahain biar FF ini terus berlanjut. Tapi tentu saja, saya membutuhkan Review untuk melanjutkan FF saya. So Mind to review again? :*

Jaejung Love || Saya berharap semoga ini seru, deket apa enggaknya kita liat nanti~ ._.)v gomawo udah review, review again please :3

hyukkie-chan || gomawo udah review, review again please :3

jung || Gomawo~ XD, gomawo udah review, review again please :3

haru-chan || Mian updatenya gak cepet ne , gomawo udah review, review again please :3

lian cassiopeia || Gomawo~ :3, gomawo udah review, review again please :3

lee meiran || Hiks, kita senasip dear~ *berpelukaan~ /slaped, gomawo udah review, review again please ;3

Guest || Go Min-ie go Min-ie GO GO GO! *nari cheers* gomawo udah review, review again please :3

Yang Login Check PMnya ne~ Saya udah kirimkan Surat cinta untuk kalian~ :D

Dan masih sama seperti chapter satu...

Untuk membangkitkan semangat saya untuk update cepet atau nulis lanjutan FF ini, saya butuh review~

Singkatnya: Makin banyak review, kemungkinan saya update cepet makin ada. /kicked

Well, YJS and Reader-deul mind to review? *Dolphine eyes bareng Jun-Chan*