Judul : Guilty Life
Disclaimer : Naruto miliknya Masashi Kishimoto, semua Chara yang ane pakai minjem om Kishi.
Warning : OC, GaJe, Terinspirasi dari Highschool DxD tapi Insya Allah alurnya beda
Summary : Dikirim ke dimensi lain dengan dalih untuk membunuh Iblis yang ada disana, padahal Hinata hanya dibuang oleh keluarganya karena diramalkan akan menghancurkan klannya sendiri. Hinata baru menyadari itu setelah dia diberitahu iblis yang harusnya ia bunuh. Ia mengikat kontrak dengan si Iblis dan menjadi pelayan Iblis demi mengetahui kebenaran tentang dirinya. Terinspirasi dari Highschool DxD, alur beda.
Sesuai janji saya, saya update ini fict jika responnya bagus.
Fazrulz21: gak ada sacred gear. Baiklah, cahp depan saya ganti namanya jadi Grim reaper, dan ini pangkatnya beda dengan yang di DxD, maaf yah
Dikdik717, huddexxx69, black market, kirei-neko, , akira no rinnegan : iya ini dilanjutin
Akbar123: Jika diibaratkan sama Dxd mungin Naruto ebagai Rias, Yugito sebagai Koneko (sama-sama kucing), Yami sebagai Akeno, Lee sebagai Issei, Hinata sebagai Asia"
.
.
"Berbicara"
'dalam hati'
[Baca do'a atau mantra atau kalimat kutukan]
.
.
Malam ini 10 Oktober… begitu gelap, tak ada bintang yang bertaburan di langit. Bulan sang dewi malam pun enggan menampakkan dirinya. Pada malam ini juga terlihat simbol lingkaran sihir berwarna merah darah di lapangan belakang kuil. Nampak seorang bocah berumur 7 tahun berada di tengah simbol merah tersebut. Tubuh kecilnya mencoba untuk berdiri, tapi sayang, lingkaran sihir nampak memberi beban gravitasi yang melebihi gravitasi normal. Nampak juga beberapa orang berpakaian pendeta berdiri diluar lingkaran sihir.
"K… kenapa? Kenapa aku harus dikirim ke Odium? Apa dosaku!?"
Dengan menahan beban yang luar biasa, bocah berambut pirang jabrik dengan 3 garis di masing-masing pipinya kepada pendeta berteriak dengan penuh amarah.
"Dosamu adalah… Keberadaanmu"
Setelah seorang pendeta yang nampak seperti pemimpin menjawab, lingkaran sihir mengeluarkan cahaya terang, dan mengeluarkan beberapa rantai lalu mengekang tubuh bocah bermata sapphireitu.
"Gyaaah!"
Bocah pirang menjerit kesakitan mengingat rantai tersebut menjerat dengan keras. Rantai menarik bocah itu kedalam lingkaran seolah dia tengah ditelan bumi. Lingkaran sihir memudar dan beberapa saat kemudian menghilang beserta bocah pirang tadi.
.
.
.
Rambut indigo panjang.
Mata bulan.
Mengenakan pakaian Miko.
Saat ini orang yang dengan ciri-ciri diatas berdiri di tengah simbol berwarna putih terang dan berbentuk segitiga sama sisi, tiap-tiap sudut segitiga tersebut ditempati oleh orang berpenampilan seperti Pendeta.
"Kembalilah dengan selamat, dan bunuhlah iblis yang ada di dunia yang akan kamu datangi." Pendeta yang berdiri di salah satu sudut segitiga tengah berbicara dengan wanita yang berada di tengah-tengah segitiga.
Simbol segitiga tersebut bersinar terang dibarengi dengan suara bising.
"Baik, Otou-sama."
.
.
.
Aku, Hyuuga Hinata perlahan membuka kedua mata. Aku memiringkan kepala lantaran bingung. Tempat ini… Odium tak semengerikan yang aku baca di buku, sungguh berbeda dengan yang aku bayangkan. Kukira Odium itu dunia penuh dengan monster mengerikan yang bisa membunuh kita, dunia dengan bau amis yang menyebabkan kita ingin menutup hidung. Tapi ini.. berbeda. Langit berwarna ungu gelap, tanah.. maksudku lantai tempatku berpijak tergenang air setinggi mata kaki.
'Ini beneran neraka?'
Terbesit keraguan dalam benakku. Bagaimana Aku mengkonfirmasi dimana ini?
Tanya kantor polisi?
Mana mungkin.
"Onee-sama."
Ehh? Aku mendengar suara bocah memanggilku, tapi aku tak melihat siapapun.
"Lihatlah kebawah."
Aku mengikuti instruksi suara itu dan melihat kebawah dan melihat boneka kecil berbentuk anak cewek berambut pirang dengan gaya twin-tails. kira-kira tingginya hanya selutut kakiku. Ehh? Boneka bisa bicara?
"Onee-sama, bermain lah denganku."
Boneka itu menarik-narik baju miko ku dengan tangannya. Ekspresinya begitu imut membuat diriku ingin mencubit pipinya.
"Hh ummm… adek mau main apa?" walaupun sebenarnya tujuanku kemari hanya ingin mencari seseorang… maksudku sesosok iblis, tetapi aku tak kuasa menolak permintaan permintaan boneka manis ini.
"B… benarkah? Onee-sama mau bermain denganku? Semuanya yang ada disini gak ada yang mau bermain denganku," boneka itu mengatakannya dengan nada sedih.
"Ayo kita bermain malaikat dan iblis!"
"Oke, baiklah tapi gimana cara mainnya? Dan adek gak usah manggil kakak dengan honorific –sama." Aku mengiyakan permintaan boneka kecil yang ada didepannya sekaligus menanyakan aturan mainnya. Apa kejar-kejaran kayak penjahat dan polisi yah.
"Baik, Onee-chan. Aturan mainnya sederhana, iblis dan malaikat kan gak bisa akur. Tiap ketemu pasti saling membunuh, nah gitu aturannya. Onee-chan yang jadi iblis, aku yang jadi malaikat. Bersiap yah.. 1, 2, ,mulai!"
-CLASHHH!-
"KYAAA!" belum sempat Aku paham dengan maksud boneka tadi, dia sudah menebas lengan kiriku dengan sebilah pedang tipis yang menyembul keluar dari telapak tangannya. Saakkiiiiitt! Lengan kiri ku putus!
"Onee-chan main yang serius dong!" apa-apa an! Dia bukan boneka! Dia iblis!. Dia hendak menebas tapi aku langsung lompat kebelakang. Baju miko yang aku pakai di bagian depan terlihat sobekan horizontal. Fiuhh... hampir saja mengenai dadaku.
Aku langsung berlari sekencang-kencangnya menjauhi boneka psycho itu, aku tahu jika memperlihatkan punggung kita pada musuh itu sama saja dengan bunuh diri. Tapi masa aku harus menangkis pedang itu dengan tanganku kan tidak mungkin. Satu-satunya cara adalah berlari menjauh dan memikirkan strategi sambil menghindar.
"Onee-chan berlarilah lebih cepat, aku lebih cepat darimu, onee-chan!" dia berlari mengejarku. Cepat sekali larinya! Tapi aku sudah agak jauh dari si pshyco itu.
[Kami-sama , berikan aku cahaya untuk memurnikan jiwa jahat yang ada didunia ini]
Setelah aku membaca sebait do'a sederhana tadi, telapak tanganku dengan cepat diselimuti cahaya putih. Cahaya tersebut membentuk tombak dengan panjang kira kira 1 meter. Aku berhenti berlari lalu memutar tubuh kebelakang sehingga berhadapan dengan boneka pshyco, boneka iblis itu masih berlari dengan mengacungkan pedang. Aku melemparkan tombak cahaya tadi ke boneka iblis dan gotcha! Tombak itu tepat mengenai jantungnya! Walaupun aku gak yakin kalau boneka memiliki jantung sih… ah, tapi siapa peduli. Tombak cahaya tadi pasti bisa membakar habis iblis itu, kan cahaya adalah racun bagi iblis. Boneka iblis itu sudah jatuh terkapar kelantai dengan genangan air setinggi mata kaki. Aku sebenarnya kasian sih, tapi… dia sudah menyerangku dan terlebih lagi dia iblis.
"Onee-chan , sakit sekali…" What the? Boneka iblis masih bisa berdiri! Seharusnya dia sudah mati akibat tombak cahaya tadi.
"Apa ini Onee-chan? Ini cahaya kan? Onee-chan kan ceritanya jadi iblis kenapa malah ngelempar tombak cahaya kayak malaikat? Onee-chan curaaang!"
Lagi-lagi aku dibuat terkejut! Dia masih bisa bicara normal seolah tidak terjadi apa-apa. Dan terlebih lagi dia mencabut tombak yang tertanam ditubuhnya memegang tombak cahaya dengan tangannya. Seharusnya dia gak bisa memegang itu! Jangankan memegang, berada didekat cahaya sepekat yang aku buat saja pasti sudah gemetaran. Jangan-jangan dia bukan iblis lagi. Kalau bukan iblis dia itu apa? Malaikat? Jangan bercanda! Mana mungkin malaikat ada disini. Jika iya pasti itu Shinigami.
Belum sempat aku berhenti melamun. si boneka pshyco melempar tombak cahaya kearahku dan menggores kaki kiriku, goresannya sangat dalam. Tidak seperti iblis, terkena tombak cahaya bagiku hanya seperti terkena tombak biasa. Tetapi tetap saja, sakit!
Dia si boneka pshyco bergerak mendatangi aku. Sial, aku sudah tidak bisa bergerak. Sepertinya aku akan mati disini, yah … maafkan aku Otou-sama. Sepertinya aku mengecewakanmu lagi. Tak terasa airmata jatuh membelai pipi pucat ku. Hey, aku menangis bukan karena takut mati! Yah memang aku sedikit takut sih, tetapi yang aku tangisi karena aku hanyalah anak yang gak berguna dari anggota klan-ku. Aku juga merasa sedih karena mengecewakan Otou-sama lagi.
Si boneka pshyco bergerak semakin dekat. Ketika masih kecil aku sering membaca buku tentang pangeran tampan menunggangi kuda dengan sebilah pedang di tangan menolong para putri ketika sang putri dalam keadaan bahaya. Aku tahu aku bukanlah seorang putri, tetap mengharap sedikit ketika hampir menemui ajal gak apa-apa kan. Dia si boneka pirang twintails semakin mendekatiku dengan senyum manis yang selalu dipatri di wajahnya.
"Onee-chan, sepertinya malaikatlah yang menang"
Dia berjalan sambil berbicara kayak gitu! Apa-apan dia, dia masih menganggap ini permainan yang kami sepakati tadi. Dan… seharusnya dia yang menjadi iblis tau!
Jarak antara aku dan si boneka psycho tinggal 2 meter, dia mengangkat pedangnya dan mengayunkan ke arahku. Sial aku sudah tidak kuat untuk menghindar, aku hanya berharap keajaiban akan terjadi. Aku memejamkan mataku berharap mati itu tidak sesakit yang orang lain katakan.
1 detik.
2 detik.
3 detik.
Eh, lama sekali, jangan jangan aku udah mati. Tapi rasanya gak sakit. Aku mencoba memberanikan diri membuka kedua mataku, yang pertama terlihat adalah punggung seorang pria laki-laki bersurai jabrik pirang dan memakai jumpsuit hitam orange.
Aku mencoba mengintip kesamping dan melihat si boneka pshyco , aku menyatukan kedua alis ku lantaran bingung, si boneka yang biasanya tersenyum kini nampak ketakutan. Siapa sih dia yang melindungi ku? Apa dia kuat sehingga si boneka dengan sifat psycho pun takut dengannya.
"Kamu akan disiksa dulu sebelum mati jika berhadapan dengan boneka manis ini".
Ih serem! Untung itu belum terjadi. Dia mengatakan itu sambil menengokkan wajahnya menghadapku, aku bisa melihat wajah tan yang dihiasi 3 goresan dan mata sapphire-nya.
"Lama gak jumpa ya Anami."
Oh, jadi boneka itu namanya Anami, tunggu.. kenapa si laki-laki blonde bisa tau namanya? Dan terlebih lagi dia bilang lama gak jumpa, jadi dia udah pernah ketemu si Anami dong.
"Mengapa kamu kembali lagi kesini? Kit-kun?"
"Aku ada urusan dengan Shinigami dunia Odium."
Jujur, aku mulai gak ngerti apa yang mereka obrolin.
"Baiklah, tapi kamu harus bermain denganku dulu Kit-kun.Kita main iblis dan malaikat"
Apa? Dia mau mengajak orang yang dipanggil Kit-kun main seperti itu? Tak akan kubiarkan!
"Baikla-"
"Jangan! Jangan terima tawarannya Kit-san!"
Aku memotong perkataannya. Yang benar saja dia mau bermain dengan boneka psycho itu.
"Heh? Kenapa Miko-san apa ada yang salah?" dia bertanya kepadaku tanpa mengalihkan pandangannya terhadap si Anami.
"Kit-san. Jika kamu bermain dengannya, kamu akan terluka seperti ku! Aku bahkan kehilangan tangan kiriku. Eh? Ketika aku mau menunjukan lengan kiriku yang terpotong, entah kenapa aku masih memiliki lengan ku. Sku yakin sekali lengan kiriku terpotong beserta lengan baju kiriku, terbukti aku sudah kehilangan lengan baju kiriku.
"Terimakasih Miko-san! Aku terharu kamu mengatakannya. Kamu menghawatirkan aku ya, tapi tenang saja kok. Di dunia ini tubuh kita bisa beregenarasi setelah 10 menit dan kita gak bisa mati. Jadi ini tempat yang cocok buat penyiksaan."
Entah aku harus lega karena tanganku tumbuh kembali atau aku harus takut karena bisa saja aku disiksa terus? Tapi aku harus menolongnya dari si pshyco itu.
"Tapi-"
Belum sempat aku mengucapkan sesuatu aku mendengar Kit-san mengucapkan sesuatu
[Aku hanyalah rubah kecil yang menginginkan kekuatan]
[Aku adalah simbolisasi dari kebencian]
[Aku, rubah kecil haus kekuatan, tertawa pada derita dan menolak kebahagiaan]
[Aku, akan mengajari kalian rasa takut yang belum pernah kalian rasakan]
[Bergetarlah dalam ketakutan! Dan berlututlah padaku, Demon Fox!]
Itu… sepertinya pemuda blonde baru saja mengucapkan beberapa kalimat kutukan. Segera setelah ia mengucapkan kalimat kutukan itu tubuhnya diselimuti aura merah darah yang bercampur dengan warna hitam. Aura itu menyelimuti Kit-san dan membentuk rubah ekor satu. Mata sapphire teduh yang ia miliki kini sudah berubah warna menjadi semerah darah dengan pupil menyipit seperti rubah. Tiga garis dipipinya menebal, kuku nya pun memanjang menjadi cakar. Dia… sungguh berbeda dari yang kulihat tadi, aura nya yang hangat kini berubah menjadi mencekam.
"Maafkan aku Anami, kekuatan iblis ku sudah terkuras habis hanya untuk masuk ke Odium. Jadi aku akan menggunakan youjutsu ku sepenuhnya.
Dia Iblis yang hebat karena bisa membuka gerbang Odium sendirian, aku kesini butuh 3 orang pendeta tingkat tinggi sekelas ayahku. Eh… dia bilang apa? Kekuatan iblisku? Berarti dia iblis? Apakah dia iblis yang harus aku bunuh?
Dia yang dipanggil Kit-kun oleh si boneka pshyco dengan kecepatan tinggi memukul Anami membuat Anami terpental beberapa meter dari posisinya semula. Anami kembali berdiri dan menatap Kit-san. kini sebilah pedang tipis muncul dari telapak tangan kiri Anami, membuat dirinya seperti pendekar pedang aliran ganda. Aku kembali dikejutkan oleh Anami, bukan karena sekarang dia memiliki dua pedang, tetapi itu karena pedang yang ia pakai diselimuti oleh aura suci. Aku yakin Kit-san akan terkena banyak damage jika ia tertebas pedang yang dipakai Anami.
Anami berlari mengeliminasi jarak nya dengan Kit-san. Dia melompat menesejajarkan tinggi badannya dengan Kit-san lalu membuat gerakan seperti hendak menusuk ke arah Kit-san. Tubuhnya kecil, tapi kecepatan dan akurasinya bisa diacungi jempol.
Anami berhasil menggores pipi Kit-san. Bekas goresan yang Anami tinggalkan di kulit tan Kit-san terlihat mengeluarkan asap seperti terbakar, sepertinya aura suci itu bekerja dengan baik. Walaupun begitu, Dewi Fortuna berpihak kepada Kit-san. Walau Anami berhasil menggores pipi Kit-san, segera setelah kejadian itu, tangan kiri Kit-san langsung memegang tangan Anami dan dan telapak tangan kanannya memegang sesuatu berbentuk bola merah darah yang berputar dan menghantamkan ke tubuh Anami
Anami (lagi-lagi) terpental dengan jarak yang lumayan -san berlari mengeliminasi jaraknya dengan Anami lalu …
-SRIINGGG-
Rantai hitam bermunculan dari lingkaran sihir yang juga berwarna hitam, dan semuanya mengikat Kit-san. Sekarang Kit-san sudah tak bisa bergerak lagi. Di tengah-tengah lingkaran tersebut terlihat sesosok makhluk misterius berpakaian dan bertudung hitam, seperti Shinigami.
"Anami-chaaaannn! Kamu gak apa-apa?"
Suaranya nyaring mirip suara gadis seusiaku, dia berlari mendekati Anami yang memang sekarang butuh bantuan. Tudung yang ia pakai terbuka memperlihatkan surai merah muda bergelombang dan wajah cantiknya. Tinggi badannya mungkin hanya setinggi bahuku. Kau tahu? Dia bener-bener beda sama Shinigami yang ada di pikiranku. Dia terlalu imut untuk jadi Shinigami.
"Sialan kau Naru-chan! Kau menyakiti boneka yang sedang bertugas menyiksa para pendosa disini!"
Jadi Anami itu pembantunya Shinigami-sama ya? Tadi aku diincar Anami, berarti Aku pendosa dong? Seprtinya dia marah dengan si Kit-san. Dan dia juga memanggil Kit-san dengan nama Naru-chan. Mereka teman dekat? Tapi... bagaimana bisa iblis berteman dengan Shinigami?
"A-ano Shinigami-sama, Dia adalah Iblis yang disuruh Ayahku untuk di bunuh, pasti dia Iblis yang hebat. Berhati-hatilah."
Shinigami-sama menengok kearahku dan tersenyum
"Ah gak apa-apa kok Miko-chan. Dia hanya Iblis tingkat menengah, gak usah takut kok! Naru-chan udah jinak."
Dia mengatakan itu sambil nunjuk Kit-san, aura yang tadi menyelimuti Kit-san sudah pergi. Matanya kembali berwarna biru dan garis pipinya menipis, cakarnya juga sudah kembali menjadi kuku.
"Hey! Aku sudah menolongmu tahu! Kenapa kamu malah mau membunuhku?! Dan kau, Shinigami cebol! Bersikap sopanlah sedikit pada majikanmu!"
Kit-san bilang kayak gitu dengan nada histeris.
"Jika kau manggil Aku dengan sebutan itu lagi kamu bakal mati!" Shinigami-sama berteriak sambil mengacungkan Grim Schyte yang tadi ada dipunggungnya.
"Baiklah, Aku juga akan memberimu pelajaran tentang sopan santun!" Kit-san gak mau kalah, dia memasang kuda-kuda.
Sebelum mereka saling bertarung, si boneka Anami angkat bicara.
"Shinigami-sama, Keadaan darurat! Data yang terletak di pusat Odium berhasil dibobol. Kita harus cepat pergi kesana dan untuk mu Kit-kun, Jaga Miko-san dan tanyakanlah kenapa dia bisa ke Odium padahal dosanya gak cukup untuk dibawa kemari."
Dengan seenak jidat, Anami nyuruh Iblis itu untuk menjagaku.
"Cih, kita lanjutkan ini lain kali rubah!"
Shinigami-sama mendecih dan segera setelah itu dia dan Anami membentuk lingkaran sihir dan menghilang.
"Aku Uzumaki Naruto, siapa namamu dan kenapa kamu kesini? Anami bilang kamu gak cukup dosa untuk sampai kesini."
Dia mengatakan itu tanpa melihat kearahku. Sombong sekali dia.
"Aku Hyuuga Hinata, seorang Miko. Setidaknya pandanglah lawan bicaramu ketika kamu bicara," kataku kesal.
Dia tidak menjawab, dan hanya menunjuk ke arahku atau lebih tepatnya kearah dada ku. Aku melihat kearah yang ia tunjuk, aku melihat sobekan horizontal bekas pertarunganku dengan Anami, tentu saja itu memperlihatkan sebagian dadaku, wajahku memerah.
"KYAAA, mesum! Hentai! Ecchi! Ero! Bejat! Benar kata Ayahku kalau semua laki-laki itu iblis!"
Aku menjerit sambil menutupi dadaku dengan kedua tangan.
"A-Aku tidak melihatnya!"
"BOHONG!"
"O-oke, aku melihatnya tapi aku kan mengisyaratkan agar kamu menutupinya Hyuuga-san. Lagipula Aku ini emang laki-laki iblis tahu."
Aku diam meresapi apa yang dia katakan. Benar juga sih.
"Hyuuga-san, kenapa kamu kesini? Apa dosamu?" dia mengubah arah pembicarannya.
"Aku disuruh klanku untuk membunuhmu dan akan segera kembali ke dunia ku setelah membunuhmu."
"Ahahahahahahahahahaha"
Aku mengerutkan alis ku. Apa ada yang lucu?
"Apa ada yang salah?"
Dia berusaha menahan tawanya dan menghela nafas untuk menenangkan dirinya
"Kamu tahu Hyuuga-san, setiap manusia, siluman, iblis, bahkan malaikat jika dikirim kesini tanpa perintah langsung dari Kami-sama itu berarti dia sudah dibuang dan dianggap pendosa besar. Dan.. kamu bilang akan segera pulang? Walau kamu berhasil membunuhku kamu gak bakalan bisa pergi dari tempat ini."
"...bercanda?"
Aku gak percaya dengannya, tapi aku gak menemukan sedikitpun kebohongan disorot matanya
"Apa aku terlihat bercanda?"
Cut, Sampai segini dulu. Review yah.
