Tittle: Comeback Please

Disclaimer: Cast ciptaan tuhan dan milik tuhan. Fanfict punya saya murni dari otak saya. Baca fanfict ini sambil denger lagu Baby Dont Cry mungkin?terserah kalian deh._. #kayang oke, ini bacotnya banyak banget ya, langsung dibaca aja deh~~

Rated: Unrated...

WARNING: TYPO, GAJE. SILENT READER JANGAN BACA.

-Comeback please-

-Comeback please-

Sehun merasakan kantuk ketika mengemudikan motor sport merahnya. Tapi ia menamparkan tangannya sendiri pada pipinya untuk membantu menyadarkan dirinya. tapi...

"AAAAAAA!"

BRAK.

Sebuah mobil sedan mewah bermerk Lamborghini, menabrak motor sportnya. Sehun yang tidak sempar mengambil ancang-ancang untuk menghindar karena rasa kantuk yang dialaminyapun menjadi korban atas kecelakaan ini.

"Ch… chomi…" Sehun merasakan sakit yang amat samat pada kakinya. Ia terpental sejauh 3m jauhnya saking kerasnya tabrakan itu. Kakinya 'mungkin' patah karena tertimpa motornya sendiri, terlebih lagi ia menabrakkan kakinya pata pembatas jalan akibat tidak sengaja. Buru-buru si penabrak membawa Sehun kerumah sakit.

Di rumah Chomi.

Firasat buruknya semakin menjadi-jadi. Apalagi ketika gelas yang dipegangnya tak sengaja terjatuh.

Drrt. Drrt. Getar telefon genggam milik Chomi. "Sehun, ada apa" ucap Chomi dalam hati ketika membaca nama yang tertera pada layar kaca telefon genggamnya itu. "Halo, Sehun ada apa?" "Selamat malam, benar ini nomor nona Chomi?" "Ya benar, tapi ada apa ya? Dan mengapa hp ini ada pada anda" tanya Chomi "Ini rumah sakit Korea, Sehun-ssi mengalami kecelakaan. Saya melihat nomor ini di daftar panggilan paling atas, langsung saja saya hubungi nomor ini, bisakah anda kerumah sakit sekarang?"

Apa. Yang. Terjadi. Chomi menerawang jauh memikirkan apa yang dibicarakan oleh, hmm menurutnya suster rumah sakit ini.

" …. " diam, Chomi tak berbicara sedikitpun

"Permisi?" ucap seseorang diseberang yang notabenenya adalah suster rumah sakit

"saya…akan segera kesana" Chomi menjawab lalu memutuskan telfon tersebut.

Chomi yang sudah tidak dapat berpikir jernih berlari kencang menuju lift, lift itu pun membawanya turun kelantai dasar. Orang orang yang melihatnya tampak bingung. Bagaimana tidak? Pakaiannya adalah pakaian tidur, rambut acak acakan karena sempat tertidur sebelum meminum segelas air putih. Yang diherankan orang orang adalah, ia menangis kencang, seperti orang gila. Tapi Chomi tidak memerdulikan tatapan aneh orang-orang. Ia sibuk mencari taksi. Belum sampai 1 menit menunggu, sebuah taksi menghampirinya. Dan siap membawanya menuju rumah sakit. "Ahjussi, bisakah anda lebih cepat sedikit?" Chomi berkata sambil menahan tangisnya, "ne" jawab pengemudi taksi singkat.

15 menit kemudian, taksi itu sampai di rumah sakit terbesar di Seoul (ini ngarang). "ini uangnya ahjussi" ucap Chomi sambil menyerahkan sejumlah uang kertas "terimakasih, nak" ucap si pengemudi halus, dan beberapa detik kemudian taksi itu berlalu dari hadapan Chomi

"Sehun" teringat tujuannya datang kesini, ia secepatnya menuju meja suster dan menanyakan ruang pasien yang ditempati Sehun. "Anda bisa menuju ICU di ujung sana" ucap suster seraya menujuk tangannya di mana ruang ICU berada "terimakasih.."

Chomi berlari cepat, lalu masuk keruang ICU. Ia hanya berharap sekarang Sehun sedang membuka matanya. Ia berharap sehun tidak tertidur lelap dalam masa koma.

Sesampainya diruang ICU ia langsung mencari keberadaan Sehun. Ketika ia menemukan tubuh Sehun, ia langsung menuju tempat tidur yang sedang ditiduri Sehun. Tapi kenapa banyak suster disana? Lalu kenapa ada dokter yang mengerubuninya? Tanpa berpikir dua kali, Chomi menghampiri Sehun namun, "maaf anda dilarang mendekat" "ta… tapi saya kekasihnya" "pasien ini sedang ditangani, mohon jangan menganggu berjalannya proses ini" Chomi lemas. Chomi merasa jantungnya mencelos, ia melihat kaki Sehun dilumuri darah. Wajahnya? Juga dilumuri darah, tapi sudah dilapisi perban.

Sekitar 2 jam Chomi menunggu diluar ruang ICU karena tidak boleh ada penunggu diruang ICU ketika ada pasien yang sedang ditangani.

Dokter keluar dengan mimic wajah yang aneh. Chomi bingung "apa yang terjadi pada Sehun?" dokter itu diam, "apa yang terjadi pada Sehun!" marah karena tak dijawab Chomi berteriak membuat penunggu pasien lainnya menoleh kearahnya lalu kembali sibuk dengan kesibukan masing-masing. "Sehun-ssi mungkin akan mengalami kelumpuhan"

DEG.

Chomi lemas, tangannya yang semula memegang tangan dokter pun terjatuh. Badannya sangat lemas. Kenapa Sehun bisa mengalami kelumpuhan diumur semuda ini? Bahkan mereka belum lulus SMA. Ia tidak mau Sehun dicibir karena menggunakan kursi roda kesekolah. Tidak itu tidak bisa terjadi. Nafas Chomi memburu. Ia masuk keruang ICU dan menemukan Sehun terkulai lemah tak berdaya. Matanya tertutup rapat tidak seperti yang ia harapkan.

"Sehun bangun! Sehun jangan bercanda! Kenapa kau tertidur disini? Kau seharusnya tertidur di rumah, dikamarmu! Sehun bangun" Chomi berteriak bagai kesetanan.

Tapi, tunggu. Chomi tidak melihat orang tua Sehun, jangankan orangtua, teman teman Sehun pun tak ada. Sebelumnya, Sehun tidak pernah bercerita tentang latar belakangnya, orangtuanya, ataupun sekolahnya. Chomi bingung tapi ia tak mau berlarut-larut memikirkan hal tak penting seperti itu. Ia duduk dikursi samping kanan tempat tidur Sehun. Ia takut melihat Sehun sekarang. Bukan takut seperti melihat hantu, tapi takut Sehun pergi untuk selama-lamanya.

Tanpa sadar, Chomi tertidur disamping Sehun. Sehun sudah bangun sejak 5 menit yang lalu. Sehun merasakan sakit yang amat sangat di kakinya, namun ia menahannya takut Chomi terbangun. Wajah Chomi menghadap kepadanya. Bibir itu, bibir yang membuat pikirannya melayang membayangkan rasanya. Ingin mencium bibir itu, tapi ketika Sehun mengangkat kepalanya "ARGHHH" sakit, sangat sakit pikir Sehun. Chomi terbangun "Sehun kau sudah bangun? Sehun kau kenapa? Sehun kau mau apa? Aku panggil dokter dank au jangan kemana mana" Chomi panic, ketika ia hendak berjalan menuju ruang dokter sebuah tangan menahannya "tidak usah" ucap Sehun "tapi kau terlihat kesakitan!" Chomi marah kepada Sehun dan ingin melepaskan tangan sehun pada tangannya Sehun menekan tangannya di pergelangan tangan Chomi tanda ia tidak setuju dengan ucapan Chomi, Chomi akhirnya mengalah dan duduk disamping Sehun.

"Kau tau?semalam aku memimpikanmu" kata Sehun tenang

"Hah?" Chomi membalas

"Ya, dan aku tidak bohong"

"Kau memimpikan apa?"

"Kita akan menikah"

"HAH?!"

"Tapi kenapa dimimpi itu kau memeluk laki laki lain? Dan kau pergi bersama lelaki itu?"

"Tidak usah dipikirkan,, aku hanya akan menikah denganmu"

"Ohya? Kau janji?"

"Tentu saja" gemas karena Sehun bertindak seperti anak kecil, Chomi mengecup puncak kepala Sehun

"AHH" Sehun kesakitan karena tangan Chomi tak sengaja memegang kepalanya, tapi Chomi berniat hendak mengelus kepala Sehun. Chomi berpikir, masa hanya dipegang sepelan itu Sehun kesakitan? "maaf .." kata Chomi "hh… iya" jawab Sehun

Jam makan siang sudah tiba, dan Chomi pun sudah mandi (jangan ditanya mandi dimana) Chomi bingung karena tak ada makanan di ruangan ini.

"Sehun, kau mau makan apa?"

"Kimbab boleh?"

"Kalau begitu aku beli dulu ya.."

"Baiklah.."

Chomi tersenyum hangat lalu berlalu keluar rumah sakit untuk membeli makanan yang diinginkan Sehun. Ketika akhirnya Chomi melewati ruangan dokter, iya teringat akan kepala Sehun yang kesakitan ketika ia sentuh tadi pagi, tanpa berpikir panjang Chomi masuk kedalam ruang dokter itu.

"Permisi…" kata Chomi

"Ya? Silahkan duduk…" ucap dokter yang katanya bernama Suho, tertulis di IDcard yang menggantung di sakunya

"Permisi dokter, saya ingin bertanya tentang pasien bernama Oh Sehun yang sekarang berada diruang ICU,,"

"Oh iya, memangnya ada apa?"

"Bisa beri tahu apa penyakit yang dideritanya?"

Mimik wajah Suho berubah menjadi bingung ketika membaca dokumen pasien bernama Oh Sehun tersebut.

"A.. ada apa dok?" Tanya Chomi

"Dia menderita kanker otak dan lumpuh kaki sementara."

Apa yang diucapkan dokter ini? Kenapa begini? Mungkin aku salah dengar atau dokter ini salah membuka dokumen? Tapi jika benar, bagaimana mungkin?

"Mana mungkin dok!"

"Disini tertera bahwa pasien Oh Sehun menderita lumpuh kaki sementara dan kanker otak"

"Jangan becanda dok"

"Maaf tapi itu yang tertera pada dokumen ini" Suho menyodorkan dokumen itu pada Chomi.

Chomi membaca dalam diam.

BUNGKAM.

BUNGKAM.

BUNGKAM.

Chomi sibuk memikirkan kenapa ini bisa terjadi.

"Apa yang terjadi pada Sehun sehingga ia mendapat penyakit macam itu?!"

"Kakinya, tertimpa motor yang dikendarainya dan juga terjatuh menggunakan kaki dahulu, kepalanya membentur jalan"

"APA?"

"Itu yang dikatakan polisi yang memeriksa kecelakaan itu"

"Dia mengalami kecelakaan tunggal?"

"Tidak, seseorang bernama Zitao telah menabraknya, lagipula Sehun mengambil jalan arah yang salah, ia mengantuk"

"Lalu kemana si Zitao itu? Kenapa dia tidak tanggung jawab?"

"Dia sudah melunasi biaya operasi kemarin, jika tidak anda mungkin dimintai bayaran ketika menghampiri pasien.

Flashback end.

Ya betul, Chomi mengingat semua kejadian yang menimpa kekasihnya itu. Ia sungguh merindukan keberadaan Sehun disampingnya. Merindukan Sehun memeluknya saat ia bersedih. Merindukan canda tawa Sehun. Sangat sangat merindukan semua hal tentang Sehun.

-Comeback please-

-Comeback please-

-Comeback please-

-Comeback please-

-Comeback please-

-Comeback please-

-Comeback please-

-Comeback please-

TBC or END?

Terimakasih buat yang baca fanfict ini, dan maaf fanfictnya pendek, bikinnya cumin semalem sihh._.

AKU SARANG KAMU! /kecup/