Disclaimer: Shingeki no Kyojin adalah milik Isayama Hajime
.
.
.
.
.
.
Dua tahun telah berlalu sejak kejadian itu terjadi, Levi tidak tau pikiran gila apa yang menghampiri kepalanya saat itu sehingga membuatnya mengangkat tubuh tak berdaya itu, dan membawanya pulang.. Gadis malang itu mengalami luka yang fatal. Terutama dibagian kepala. Sehingga membuatnya melupakan segalanya. Dengan kata lain..
Kehilangan ingatan...
Levi menganggap itu sebagai keberuntungan karena dengan begitu gadis itu tidak perlu merasa tersiksa karena kejadian itu. Kejadian yang disebabkan oleh dirinya sendiri. Namun disatu sisi lain, Levi selalu merasa bersalah setiap memandang wajah Mikasa. Karena ulahnya Mikasa mengalami semua kejadian buruk ini
Pertama kali dalam hidupnya, Levi merasa bersalah setelah melakukan pembunuhan..
Apa sebenarnya yang ada didalam diri gadis ini sehingga membuat Levi merasakan semua perasaan aneh ini? Kenapa dia merasa harus melindungi gadis ini? Pikiran itu selalu datang menghampiri Levi disetiap malamnya
Menghantuinya..
"Kau lebih banyak melamun sekarang"
Tersadar dari lamunannya, Levi menatap gadis itu, Mikasa yang sedang berdiri diambang pintu rumah mereka. Ya rumah mereka.
"Aa bukan hal yang penting"
Pria itu berdiri dan menghampiri sang gadis
Mikasa tersenyum. Senyum tipis yang mengandung ketulusan. Senyum yang membuat rasa bersalah dalam diri Levi semakin bertambah
Jangan tersenyum padaku! Aku monster!
Monster yang telah merebut kebahagiaanmu!
Aku tidak pantas mendapatkan senyum itu..
Tanpa sadar pria itu malah terus menatap wajah Mikasa sehingga mengundang rona merah tipis dipipinya.
"Levi?"
Kembali pria itu tersentak saat mendengar suara tenang sang gadis
"Maaf" ucapnya pelan. Tersimpan maksud yang mendalam saat dia mengucapkan kalimat itu
"Kau benar-benar butuh istirahat" Ujar Mikasa sambil memegang tangan Levi dan membawanya ke kamar.
.
.
.
.
.
Keesokan paginya, Mikasa tampak asik dengan kegiatannya didapur
Gadis itu nampak begitu bersemangat saat mengolah bahan makanan. Sementara Levi masih dengan ketenangan yang sama sedang mengecek sesuatu diponselnya sambil menyesap pelan tehnya
Mereka terlihat seperti pasangan yang bahagia.
Levi mengalihkan perhatiannya dari ponsel saat melihat Mikasa meletakan hasil karyanya pagi ini diatas meja makan. Hanya nasi goreng biasa.. Tapi entah kenapa Levi merasa sangat senang setiap kali gadis itu menyiapkan sarapan untuk mereka.
Dia ingin kegiatan ini terus ada disetiap harinya..
"Aku akan pergi menemui rekan kerjaku setelah ini"
Itu adalah percakapan pembuka dipagi ini setelah mereka melewati sarapan yang penuh dengan keheningan. Mereka memang seperti itu. Tidak akan ada yang bicara saat acara makan berlangsung. Itu seperti sudah menjadi kebiasaan mereka berdua sejak tinggal bersama
"Jam berapa kau akan kembali?"
"Aku tidak tau. Kau tidak perlu menungguku jika sudah mengantuk"
Mikasa terdiam mendengar perkataan pria itu. Apa sebenarnya yang dilakukannya bersama rekan kerjanya? Bahkan sampai saat ini gadis itu tidak tau pekerjaan apa yang Levi lakukan. Dia ingin bertanya tapi selalu merasa enggan. Seperti ada dinding tinggi tak kasat mata yang selalu membatasinya saat ingin menanyakan hal tersebut. Dia ingin tau apa yang dilakukan Levi saat berada diluar rumah
Dia ingin tau semua tentang pria itu..
Yang dia tau hanya namanya Levi dan usianya 34 tahun. Dan satu lagi.. Dia suka minum teh. Itu saja yang Mikasa ketahui tentang Levi.. Tidak ada yang lain
Pria itu seperti kotak yang penuh dengan misteri...
.
.
.
.
.
Sudah pukul sebelas malam...
Gadis bersurai hitam itu tampak gelisah. Levi belum kembali.. Batinnya.
Kenapa dia belum kembali? Ada banyak hal yang ingin dia tanyakan pada Levi. Mulai dari bagaimana mereka pertama kali bertemu dan bagaimana dia bisa berakhir dengan tinggal bersama Levi disini. Pria itu bilang jika Mikasa kehilangan ingatannya. Tapi apa penyebabnya? Apa yang membuat dia kehilangan ingatan? dia bahkan tidak tau sama sekali tentang dirinya sendiri.
Bodoh.. Seharusnya dialah yang harus paling tau tentang dirinya sendiri. Tapi yang terjadi sekarang adalah Mikasa yang mempunyai pengetahuan minim bahkan terlampau minim tentang dirinya sendiri.
"Kau sangat menyedihkan Mikasa" Satu tetes air mata mengalir dipipi pucatnya.
Kenapa hidupnya bisa penuh tanda tanya begini? sama seperti pengetahuannya tentang Levi, yang Mikasa tau tentang dirinya hanya nama dan usianya. Saat pertama membuka matanya, yang pertama dilihatnya adalah wajah Levi. Dia tidak tau apa-apa saat itu. Kebingungngan melanda dirinya kala itu. Informasi yang dia dapat dari Levi hanyalah namanya Mikasa berusia 16 tahun yang kehilangan ingatan akibat kecelakaan. Selebihnya pria itu hanya diam saja saat diberi petanyaan lain sehingga membuat Mikasa menyerah untuk bertanya lagi.
Gadis itu menghelah napasnya dan mulai memejamkan matanya. Memikirkan hal rumit dalam keadaan hilang ingatan hanya akan menguras energinya. Lebih baik dia tidur. Seperti kata Levi, tidak usah menunggu jika sudah mengantuk.
Dan gadis bersurai hitam itupun tertidur walau dengan perasaan yang campur aduk.
Pintu kamar itu terbuka perlahan saat wajah letih Levi muncul. Dia memandangi Mikasa yang tampaknya sudah tertidur lelap. Berjalan mendekat ke arah tempat tidur, Levi terdiam memandang wajah damai sang gadis. Pria itu menunduk, mengusap pipi sang gadis dengan sorot mata penuh kelembutan. Jika Mikasa sedang sadar gadis itu pasti akan merona saat ditatatap seperti ini. Membayangkannya saja, sudah membuat sudut bibir pria itu terangkat. Disaat sedang tidurpun, Mikasa tetap saja terlihat cantik..
Suasana yang tiba-tiba menjadi dalam, mendorong Levi secara perlahan menempelkan bibir keduanya.
Maafkan aku. Batinnya
Levi terus melumat pelan bibir Mikasa. Mencurahkan segala bentuk perasaannya dengan ciuman tersebut. Perasaan bersalah yang terus menghampirinya selama ini. Dan juga perasaan asing yang terasa sangat baru baginya.
Perasaan cinta...
Dan tanpa sadar dia mulai terbawa suasana. Terbukti dari napasnya yang mulai memburu dan lumatannya yang semakin kuat
"ngh.."
Secara tiba-tiba, Levi menghentikan lumatannya saat mendengar lenguhan pelan itu. Iris biru kelam dan keabuan nampak saling memandang. Mikasa dengan wajah lesunya memandang Levi dengan pandangan yang sulit diartikan oleh pria itu. Levi terdiam sambil memikirkan alasan yang tepat untuk menjelaskan tentang apa yang baru saja terjadi, saat tiba-tiba gerakan dari Mikasa sukses membuat iris biru kelam pria itu membesar
Gadis itu memeluknya
Dan menangis
"Aku merindukanmu" Pelukannya semakin erat. Sementara Levi masih terdiam. Tampak tak percaya dengan perlakuan gadis itu.
Kenapa kau mengatakan itu padaku? Batin Levi getir.
Tak ingin terlalut dengan pemikiran buruknya, Levi membalas pelukan Mikasa sambil mengusap punggung dan bagian belakang kepala sang gadis.
"Maaf.. Aku membangunkanmu" Ah sejak kapan dia menjadi seorang yang lembut seperti ini? sejak dia bertemu Mikasa? mungkin.. Gadis ini membawa pengaruh yang aneh dalam hidupnya. Levi selalu menikmati perasaan menggelitik setiap kali melakukan kontak fisik dengan Mikasa. Rasanya sangat mendebarkan. Namun pikiran itu selalu datang menghampirinya.. Pikiran buruk tentang apakah pantas seorang pembunuh sepertinya merasakan perasaan yang bernama cinta? terlebih pada seorang Mikasa?
Dua orang itu nampak berbaring diatas ranjang. Saling memeluk dan tak mau melepaskan. Mereka ingin waktu terhenti disaat ini. Dan membiarkan mereka menikmati saat-saat seperti ini tanpa harus memikirkan hal lain. Mikasa semakin mengeratkan pelukannya saat merasa air matanya tak sanggup lagi ditahan. Entahlah.. Dia hanya terlalu merindukan Levi. Mikasa tidak mengerti dengan perasaannya sendiri yang semakin hari semakin menjadi pada Levi. Bisakah mereka menemukan kebahagiaan? Bisakah suatu saat nanti mereka hidup bahagia bersama?
Bisakah?
.
.
.
.
.
.
TBC
Mohon maaf kalo masih berantakan yaa T_T