Hallo, Everyone sudah terlalu lama aku meninggalkan akun ini. setelah sebelumnya buntu ide. Sampai aku lupa semua isi komennya. Buat yang kurang puas dengan FF ini silahkan tidak usah dibaca, simple aja.

Buat yang anti sama FF-ku, aku juga anti sama mereka. haha.. bukannya Cuma mereka aja yang bisa anti. Kalau bisa pengennya aku protek tapi situs ini kan umum. Sekali lagi aku tegaskan ini FF SASUSAKU dan NARUHINA walaupun awalnya Sasuhina. Karena aku penggemar Sasusakusara Family.

Oke.. setelah lama Hiatus sebagai gantinya aku langsung buat chapter yang panjang. Jadi siapin kopi, roti, gorengan atau cemilan biar gak bosen.

Seperti biasa, masih banyak kekurangan di FF ini termasuk soal EYD dsb.

Disclaimer: MK

Tangan Sakura sibuk mengaduk-aduk jus stroberi yang ada dihadapannya. Udara sejuk pendingin udara café sedikit mengusik kulit, ia hanya menggunakan kaos ketat dengan rok sedengkul. Di samping jus stroberinya terdapat sebuah buku berisi novel atau sekedar coret-coretan seperti diari yang ia buat selama ini. maksud hati ingin menenangkan pikiran dan menyelesaikan novelnya di café tapi mood sialannya sedang tak bisa diajak kompromi. Alhasil waktu 3 jam nya berlalu hanya untuk duduk termenung disana. Sudah seminggu sejak kejadian di tempat penginapan itu, pikiran Sakura menjadi kacau. Apalagi jika ia mengingat apa yang dikatakan Shion ketika ia mencercarnya tentang minuman yang diberikan untuk Sasuke disana. Pernyataan Shion benar-benar memukul dirinya.

"Minuman itu.. kau yang melakukannya kan?" Shion berbalik menghadap Sakura dan tersenyum sinis. Mereka sedang berada di tempat pemandian wanita, dan kebetulan Hinata sedang tak ada disana jadi Sakura bisa leluasa mengintrogasinya.

"Minuman itu memang ideku tapi kau yang menikmatinya kan?" ucap Shion. Sakura terbelalak mendengar ucapan Shion.

"A-apa maksudmu?!"

"Kau pikir aku tak tahu, aku mendengar semuanya.. kau dan Sasuke.." keringat mengucur di pelipis Sakura, bukan karena udara di sauna itu yang panas akan tetapi mendengar perkataan Shion yang penuh sirat.

"I-itu.."

"Kali ini aku memaafkanmu tapi lain kali jangan harap kau bisa menyentuh Sasuke lagi, dan kau pikir bagaimana reaksi Hinata jika mengetahui semuanya?" secercah perasaan takut menghantui Sakura tapi ia berusaha melawan wanita iblis di depannya,

"Tidak.. Aku yakin Hinata akan memakluminya, ini adalah kecelakaan. Dan kau adalah penyebabnya!" bentak Sakura tapi Shion menanggapinya dengan santai.

"Ckck.. wanita tetap saja wanita, kurasa kau sangat tahu bagaimana sensitifnya Hinata jika mengenai Sasuke. Kau pikir ia tak tahu bahwa kau menyimpan perasaan pada Sasuke?" Sakura terkikih mendengar ucapan lucu Shion.

"Haha.. Aku tak percaya mendengar ucapan ini dari bibir orang sepertimu. Kurasa kau terlalu sering menonton drama televisi, Sasuke itu sudah seperti saudara bagiku, sama halnya dengan Naruto atau Sasori. Jadi mana mungkin aku melihatnya sebagai seorang pria." Shion menekuk kedua tangannya dan sesekali merapikan rambutnya.

" Haha.. Mungkin kau berpikir selama ini aku adalah ancaman terbesar bagi Hinata tapi itu tidak benar. Kau adalah ancaman terbesar baginya!" sakura terkejut mendengarkan pengakuan Shion.

"Cih.. Omong kosong macam apa ini?"

"Burung bangau kertas itu kau yang buat kan?" tiba-tiba kenangan Sakura melayang ke peristiwa beberapa tahun silam, saat musim panas ketika Sasuke mengalami kecelakaan setelah bermain bola basket. Kakinya terkilir hingga ia dirawat di ruang intensif beberapa hari. Pada saat itu Nenek Hinata yang ada di Jeju meninggal dunia semua keluarga Hyuuga pergi sehingga ia tak ada disana.

Posisi Sasuke sangat terpuruk, orang tuanya yang sibuk malah tak tahu anaknya mengalami cidera dan Hinata tak berada di sisinya. Demi membuat Sasuke semangat lagi, ia sengaja membuat seribu burung bangau kertas yang berisikan kata-kata penyemangat untuk Sasuke, dua hari ia membuatnya dan hanya tidur 2 jam. Sampai-sampai ia dihukum Kakashi sensei karena ketiduran di saat jam pelajaran matematika. Setelah selesai ia memberikan seribu burung bangau kertas itu pada Sasuke dan mengatakan jika itu buatan Hinata untuknya. Ia bersumpah itu adalah kali pertama baginya melihat Sasuke tersenyum tulus.

Dan setelah Hinata pulang ke Konoha, Sakura menceritakan semuanya. Ia merasa senang karena ia dapat berguna untuk temannya namun ia tak pernah tahu bagaimana perasaan Hinata sebenarnya, ia pikir selama Sasuke tak mengetahui yang sebenarnya ini tak akan menjadi masalah.

"Itu.." Sakura tak mampu berkata-kata lagi.

"Kau tahu bagaimana pentingnya burung bangau kertas itu bagi Sasuke?" Sakura menundukan kepalanya mendengar ucapan Shion, selama ini ia begitu naïf. Apakah ia terlalu ikut campur dengan hubungan sahabatnya? Ia tak pernah bertanya Hinata senang atau tidak.

"…"

"Bukan hanya itu, Kau juga membuat sarung tangan, surat cinta, makan siang dan banyak hal untuk Sasuke atas nama Hinata. kenapa tak biarkan Hinata sendiri yang membuatnya? Apa kau pembantunya?"

"Cukup.. itu hal biasa bukan? Mungkin diluar sana banyak melakukan hal itu untuk sahabatnya" amarah Sakura nyaris tumpah, sebelumnya ia tak pernah memikirkan hal ini. dan karena Shion mengatakannya baru ia memikirkan hal itu sekarang, bodohnya. Mungkinkah perbuatannya selama ini membuat Hinata khawatir?

"Tidak.. Tidak ada sahabat yang melakukan hal itu. sebagai sesama wanita seharusnya kau tahu ini bukanlah hal yang dilakukan oleh sahabat. Kau terlalu banyak andil dalam hubungan mereka Sakura. Dan itu bisa berdampak buruk pada hubungan mereka jika suatu hari Sasuke mengetahui semuanya" Sakura mengabaikan semua perkataan Shion dan melangkah pergi.

"Kau sudah melangkah seratus langkah, tinggal satu langkah lagi…" ujar Shion.

"Apa maksudmu?" shion tersenyum mendengar ucapan Sakura.

"Kau tahu maksudnya"

Shion berjalan keluar dari tempat pemandian bahunya dengan sengaja menjeblok bahu Sakura, Sakura kaget dan meringis sambil memegang bahunya, Shion tampak tak peduli sibuk mengambil sepatunya.

"Jika sepatu adalah harga diri wanita, maka aku adalah orang yang bersedia melepaskan sepatuku untuk Hinata dan rela berlari telanjang untuknya. Jangan remehkan persahabatan kami, aku tahu tujuanmu menghasutku seperti ini. tapi kau tak akan mendapatkan apa yang kau inginkan."

"Kini bukan lagi masalah Kau dan Hinata melawanku tapi masalah kau dan Hinata melawan dirimu sendiri" Sakura berdecih kesal mendengar ucapan Shion.

"Cih, Kau pasti sudah sangat berputus asa untuk memisahkan mereka sampai-sampai membawaku kepersoalan kalian" Shion kembali tersenyum sinis.

"Kita lihat saja nanti" Dalam benaknya Shion sangat kesal dengan Sakura, ia bertekad untuk mencari kelemahan wanita itu sehingga ia bisa manfaatkanya untuk melancarkan tujuan utamanya.

Keadaan café sudah semakin ramai, Sakura melihat orang berlalu-lalang dari balik jendela café. Tiba-tiba seseorang yang tak asing masuk ke dalam café tempat ia berada. Sasuke, sedang apa ia disini? Tapi kelihatannya pria itu tak menyadari keberadaannya.

Sejak kejadian malam itu Sakura memang berusaha menghindarinya, ia sangat malu. Padahal ia sendiri yang meminta Sasuke untuk melupakannya dan menganggapnya tak pernah terjadi, tapi nyatanya ia yang malah bersikap seperti ini. Ok, dia akui ia tak bisa melupakan malam memalukan itu dan ditambah lagi sekarang ia dalam keadaan kacau. Lihatlah dandanannya, ia hanya mengenakan kaos seadanya dan rok berwarna pucat pudar tanpa make up menempel diwajahnya. Belum lagi masalah komedo kecil dihidungnya, pokoknya gak banget!

Diam-diam Sakura pergi dari tempat itu, takut jika Sasuke melihatnya disini. Sialnya, Sasuke memilih kursi tepat di sebelah pintu masuk. Jadi tak ada pilihan lain selain ke toilet. Sakura berjalan perlahan-lahan seperti seorang pencuri sambil menutupi wajahnya menggunakan buku catatan yang ia bawa.

Ketika berada dalam toilet ia segera mengambil alat make up yang ada dalam tasnya. Segara ia memakai bedak untuk menutupi komedonya, tak lupa lipstick untuk memberi kesan segar di bibir pucatnya dan mascara.

Dalam benaknya ia hanya perlu menyapa Sasuke, menanyakannya sedang apa disini lalu pergi. itu sudah cukup, namun ketika langkah kakinya keluar dari toilet. Sakura dikagetkan dengan sosok yang tengah berdiri didepannya.

"Sasuke-kun!" Sasuke tersenyum geli melihat ekspresi kaget Sakura, kali ini gadis itu tak dapat menghindarinya lagi.

"Apa aku tampak seperti hantu? Sampai kau kaget seperti itu?" Sakura gelagapan mendapatkan pertanyaan Sasuke, tak seharusnya ia bersikap seperti itu. ia pun berpura-pura tersenyum dan membuat dirinya terlihat sesantai mungkin.

"Ah..ah.. T-tidak.. Apa yang sedang Sasuke-kun lakukan disini"

Bukannya menjawab Sasuke malah mendekatkan badannya pada Sakura. denyut jantung wanita itu berdetak seribu kali lebih cepat. Sorot tajam mata Sasuke membuatnya terhenyak mengingatkannya kembali akan malam mengerikan itu. seperti kejadian kemarin mana mungkin ia dapat melupakannya begitu saja.

Keringat mengalis deras dari pelipis Sakura, wajah wanita itu terlihat tegang dan tak nyaman. Sasuke dapat melihat sorot ketakutan dari Sakura. tiba-tiba ia merasa bersalah, ini pasti karena kejadian malam itu. Sasuke merasa dirinya seperti monster yang telah memakan sahabatnya sendiri.

Tak tahan dengan tatapan intimidasi Sasuke, tangan Sakura mendorong keras tubuh Sasuke. kepalanya menunduk malu. Saking malunya sampai-sampai ia tak sadar telah menjatuhkan sesuatu yang berharga miliknya.

"Gomeen.. Sasuke-kun" Mata Sasuke terbelalak, ia merasa aneh dengan sikap Sakura, jelas sekali wanita itu menghindarinya atau malah membencinya. Perasaan bersalahnya semakin menjadi-jadi. Ia mengambil benda milik Sakura yang terjatuh dilantai, Sasuke ingin memberitahu Sakura jika miliknya terjatuh tapi wanita itu berlari sangat cepat. Ia hanya dapat melihat punggungnya dari jauh.

"Sasuke-kun!" Sasuke segera berbalik menghadap si pemilik suara, senyum manis mengembang dari bibirnya. Dan menyembunyikan buku catatan Sakura di dalam saku balik jasnya.

"Hinata".

Breaking news, telah terjadi kecelakaan beruntun di perbatasan konoha dan Suna. Kecelakaan tersebut melibatkan 3 buah mobil sedan dan sebuah mobil truk berisi barang-barang. Korban meninggal 4 orang dan 1 orang koma. Sampai saat ini polisi masih mengusut penyebab kecelakaan beruntun itu. sialnya tak ada CCTV yang terpasang di lokasi kejadian dan juga kecelakaan terjadi di saat jam sepi sehingga menyulitkan polisi dalam penyidikan kasus ini. Sakura membolak-balik berita dalam ponselnya tapi sedang kegiatannya terhenti setelah sebuah panggilan nomer tak dikenal masuk.

"Moshi-moshi?"

"Sakura ini gawat!"

Seorang wanita bersurai pink sedang berjalan terburu-buru. Ia sudah tak menghiraukan tengah malam yang menyimpan bahaya dan rasa takut. ia menengok kebelakang, terasa seseorang tengah mengikutinya. namun ia tak menemukan apa-apa. Ia pun kembali berjalan, sesekali ia merekatkan jaketnya kuat untuk melawan dinginnya udara malam. Setelah mendengar cerita ayahnya di telpon Sakura segera bergegas menemui orang tuanya.

Ini gawat.. sangat gawat, bagaimana bisa orang tuanya berbuat hal segila ini. kematian palsu mereka saja sudah membuatnya gila apalagi ini? sebuah kecelakaan beruntun, mereka ingin di hukum mati atau apa.

"Sstt.. Sakura-chan!" Sakura segera mencari sumber suara yang memanggilnya. Suara pria itu terdengar hati-hati seperti takut kalau-kalau ada yang menemukan mereka disini.

"Oto-chan.." pria paruh baya itu menggandeng putrinya dan membawanya ke belakang sebuah gedung tua tak terpakai.

Disana terlihat seorang wanita paruh baya dengan mobil penyok disampingnya.

"Astaga.." Sakura tak dapat lagi menyembunyikan rasa terkejutnya.

"Jika bukan karena ibunu yang bersikeras untuk menyewa rental mobil untuk ke Suna kita pasti tak akan mengalami hal seperti ini!" sebuah pukulan mendarat di kepala Kizashi karena sang istri tak terima disalahkan begitu saja.

"Nani? Kenapa salah aku heh? Apa kau lupa siapa yang membawa mobil ini! apa kau bodoh tak bisa membedakan gas dan rem?"

Sakura sudah tak tahan lagi melihat pertengkaran orang tuanya, keadaan mereka sudah kacau dan saling menyalahkan tak akan menyelesaikan semuanya.

"KALIIIAANNN DIIIAAMMLAAH!" kedua orang tuanya menatap Sakura ngeri sang ibu berusaha menenangkan putrinya.

"Tenang saja.. Kami telah memastikan tak ada saksi dan CCTV jadi kita aman." Sakura tak percaya dengan apa yang dikatakan ibunya

"Nani? Tenang? empat orang nyawa menghilang dan satu orang koma bagaimana bisa kalian hanya memikirkan keselamatan kalian padahal kalianlah penyebab kecelakaan itu terjadi?" sang ayah membekap mulut putrinya.

"Apa kau mau membuat pengumuman keseluruh dunia bahwa kami yang melakukannya? Pelankan suaramu" air mata mengalir dari pipi Sakura, mereka tak mengerti bagaimana perasaan keluarga korban setelah mengetahui jika keluarga mereka pulang dalam keadaan tak bernyawa.

"Hiks.. Kalian tak mengerti bagaimana rasanya ditinggalkan orang yang kalian sayangi. Karena kalian tak merasakannya, masih segar diingatanku ketika pria berseragam datang ke rumah kita dan mengatakan kalau kalian meninggal akibat kecelakaan. Saat itu aku masih belum mengerti apa itu kematian jadi aku terus menunggu kalian tapi yang kudapati adalah kesepian" kedua orang tua Sakura memeluk erat putrinya, mereka tak menyangka Sakura harus menjalani penderitaan selama mereka tak ada di sisinya. Hanya demi melanjutkan kebohongan kematian mereka.

"Gomen sayang.. tapi kami kan ada disini.. masih hidup! sekarang kita harus mencari cara bagaimana agar kita bisa berkumpul lagi seperti dulu dan membereskan semua kekacauan ini!"

Entah harus senang atau sedih mendengarkan ucapan mereka, kepercayaannya mulai pudar pada mereka ketika mereka terpaksa muncul karena kekurangan uang. tapi biar bagaimana pun mereka adalah orang tuanya, mereka hanya mempunyai dirinya saat ini. dan akhirnya Sakura hanya akan membantu mereka walaupun ia tahu itu salah.

"Kita harus membetulkan mobil ini dan mengembalikannya ke tempat rental." Sebuah pertanyaan mengganjal di hati Sakura.

"Bagaimana bisa kalian menyewa sebuah mobil sedangkan kalian tidak memiliki identitas?" kedua orang tua Sakura saling bertatapan.

"Kami menggunakan identitasmu" Sakura hanya menghela napas panjang ia tahu hal buruk sangat betah berada disisinya.

"Uang kami sudah habis Sakura-chan.. kau kan memiliki banyak teman yang kaya cobalah untuk meminta bantuan mereka. Si Uchiha, Uzumaki, Hyuuga atau yang lainnya." Jelas Mebuki, Sakura menghela napas panjang.

"Tidak.. demi tuhan uang itu banyak sekali! Oh.. Tuhan.. aku bisa gila! Lagi pula kenapa kalian harus meminjam uang dengan renternir!"

"Apa yang kau tahu tentang Sakura?" Naruto mengangkat alisnya mendengar pertanyaan aneh sahabat ravennya.

"Eh? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan Sakura-chan. Ku pikir kau tak peduli dengannya!" sasuke menatap tajam Naruto, membuat si pirang itu bergidik ngeri.

"Jawab saja"

"B-Baiklah.. Apa yang ingin kau ketahui tantang Sakura-chan?" Sasuke terdiam sebentar, sudah sekian tahun mereka bersama tapi ia tak mengetahui apa-apa tentang sahabatnya sendiri. Apakah selama ini ia secuek itu?

"Semuanya" Naruto memejamkan matanya sejenak.

"Hm.. sejak kecil Sakura itu gadis yang periang dan penuh semangat! Dia orang yang sangat peduli pada orang-orang di sekelilingnya. Namun setelah ia kehilangan orang tuanya ia berubah menjadi pendiam dan penyendiri. Dia tipikal orang yang tak mau membuat orang-orang disekitarnya khawatir. Jadi ia berusaha menutupi kesedihannya. Jika orang-orang menebak siapa yang paling pendiam diantara kita maka mereka akan bilang kau atau Hinata tapi sebenarnya itu Sakura"

"Benarkah?"

"Sakura itu gadis romantis tapi kesepian. Ia tak tahu dengan apa yang sebenarnya ia inginkan, perasaan takut tak diinginkan, dikhianati dan rasa tidak percaya diri membuatnya sulit mengungkapkan cinta."

Sekarang Sasuke dapat mengerti kenapa semua cerita dalam buku catatan Sakura berisi tentang rasa kesepian. Dan ada sedikit yang mengganjal dalam benak Sasuke, sebuah kalimat yang terngiang-ngiang di benaknya dalam cerita yang berjudul -The Marmaid Who Loved The Shark- "Tersenyumlah, walaupun dunia ini menyakitkan karena dengan sedikit senyuman kau telah membuat dirimu terlihat lebih kuat… kau adalah salah satu orang yang paling ingin kulindungi di dunia ini"

Kata-kata itu begitu persis bahkan cara penulisan tangannya juga sama. Apa orang yang membuat kertas bangau itu Sakura? Tapi kenapa mereka membohongi Sasuke. Ia tak bodoh sehingga ia tidak bisa membedakan jenis tulisan tangan seseorang.

Jika memang begitu kenyataannya lalu untuk apa mereka berbohong? Terutama Hinata, ia sangat kecewa. Selama ini ia mengira gadis seperti Hinata tak akan membohonginya. Sasuke menertawakan dirinya sendiri, betapa bodohnya ia.

Ia membuka loker miliknya dan menatap gundukan kertas burung bangau yang tersusun rapi. Setelah tahu kenyataannya ia tak tahu harus senang atau kecewa. Semuanya sudah tak ada artinya lagi, ia merasa mereka benar-benar mempermainkannya.

Suara langkah kaki membuatnya segera menutup loker. Dua orang wanita cantik berambut pink dan ungu gelap mendekatinya. Hinata mendekati Sasuke sedangkan Sakura membuka loker miliknya.

"Sasuke-kun.. Kau sudah makan siang?"

"Hn"

Hinata kaget mendengar jawaban dingin Sasuke, jika sudah seperti ini tandanya Sasuke sedang marah.

"Kau tidak apa-apa Sasuke-kun?" tapi tak ada jawaban dari bibir Sasuke, wajah Hinata berubah menjadi murung, masalahnya pasti sangat buruk.

Sakura menaruh buku Sastra diantara tumpukan buku dan baju olah raga. Tatapannya kosong seolah tak bergairah, ia bahkan tak mempedulikan keberadaan Sasuke dan Hinata disana. Pikirannya terfokus pada kejadian lusa malam.

Setelah menemui orang tuanya ia buru-buru pulang. Takut kalau keluarga Hyuuga menyadari kepergiannya. Tapi ditengah jalan ia mendapati seseorang tengah mengikuti dirinya. Perasaan was-was menghantui Sakura, ia segera mengambil kayu yang berada disekitaran gudang yang ia lalui. Suasana jalanan sepi dan waktu telah menunjukkan pukul tiga malam. Jika bukan perampok maka ia adalah pemerkosa, lebih baik ia bertemu hantu daripada para bandit itu.

Jika bandit itu menunjukkan diri Sakura akan memukulinya tanpa ampun. Tiba-tiba terdengar bunyi seperti plastic terinjak, Sakura segera mengambil kuda-kuda untuk menghajar si penguntitnya.

"Sakura-chan!" bukan suara baritone seorang pria yang ia dengar tapi suara lembut dari seorang wanita. Matanya terbelalak ketika sosok itu menampakkan wujudnya. Seorang gadis berambut pirang panjang menggunakan mantel tebal.

"Shion.. apa yang kau lakukan di tempat seperti ini?"

"Ikutlah denganku jika kau ingin tahu jawabannya"

Sakurapun ragu tapi akhirnya ia mengikuti Shion dan masuk ke dalam mobil. Setelah 30 menit mereka akhirnya sampai ke tempat tujuan. Di sebuah rumah mewah yang tak asing. Sebelumnya ia pernah kesana ketika mengantar Sasuke kecelakaan. Sasuke tidak tinggal disana karena anak itu lebih senang tinggal diapartemen karena dekat dengan sekolah. hm.. kediaman Uchiha, kenapa Shion membawanya kesana?

Perasaannya tidak enak , berjuta pertanyaan menghinggapi benaknya. Apa Shion melihat semuanya? Ayah, ibu dan kecelakaan itu. buruk.. ini benar-benar buruk. Kenapa nasib buruk selalu menimpa dirinya? Ia berjalan mengikuti Shion dari belakang.

Langkah mereka terhenti ketika berhadapan dengan seorang wanita cantik bergaun biru kombinasi putih anggun. Wanita itu sedang duduk di meja makan, didepannya terdapat wine yang menggiurkan. Namun mata Sakura lebih terpesona dengan kecantikan wanita paruh baya itu. benar-benar berkelas dan mengagumkan, wajah manisnya menunjukkan kalau dia tipe wanita yang lemah lembut dan baik. Shion membungkukkan badannya pada wanita paruh baya itu.

"Aku telah membawanya Mikoto baa-san" wanita yang dipanggil Mikoto itu mengalihkan pandangannya pada Sakura. Sakura teringat nama itu ketika melihat daftar hadir milik Sasuke. segera Sakura memberi hormat pada Mikoto, buruknya ia tak mengenali ibu sahabatnya sendiri. Tapi setidaknya sekarang ia tahu darimana Sasuke menurunkan ketampanannya.

"Kau yang bernama Sakura?" Sakura menganggukkan kepalanya.

"Aku telah mengetahui apa yang telah terjadi antara dirimu dan Sasuke di penginapan itu!" wajah Sakura berubah menjadi merah padam, merasa malu orang lain mengetahui insiden memalukan antara dirinya dan Sasuke terlebih lagi itu ibunya Sasuke. Shion si wanita ular itu pasti yang memberitahukannnya.

"Tidakkk.. itu hanyalah kesalahan, aku dan Sasuke telah sepakat untuk melupakannya." Mikoto tersenyum lembut membuat Sakura merasa aneh, aura wanita itu sangat misterius. Dibalik wajah anggun dan lembutnya tersimpan sesuatu yang ia tak tahu bagaimana menggambarkannya.

"Aku memahami putraku melebihi siapa pun ia tak akan melupakan hal itu dengan mudah." Sakura mengernyitkan alisnya. Dia bingung tapi entah kenapa ia merasa senang mendengar hal itu. ini gila.. ia tahu.. ini tidak benar.. ia tahu.. tapi apakah ia salah jika terselip sebuah angan dan harapan yang aneh. Sakura segera menepisnya karena itu tak akan bekerja. Setahunya nyonya Mikoto bukanlah tipikal orang yang akan merestui anaknya dengan gadis sembarang, apalagi wanita seperti dirinya kecuali dia sudah gila.

"Apa yang kau inginkan dariku?"

"Kau gadis yang pintar! Jadi aku tak perlu membuang waktuku, biar kupersingkat saja aku ingin kau menghancurkan hubungan putraku dan Hinata." seperti yang Sakura duga, Uchiha sangat membenci Hyuuga tapi ia tak menyangka ia adalah orang yang dipilih untuk memerankan tugas penting itu. kenapa bukan Shion saja? walaupun Shion itu payah tapi menggelikan melihat kenyataan seperti ini.

"Kenapa aku?"

"Karena kau mampu dan kau tak memiliki banyak pilihan. Mamalsukan kematian dan terlibat tabrak lari hingga menyebabkan nyawa menghilang. Kau pikir seberapa berat hukuman untuk tindak pidana itu?" tangan Sakura gemetar, seperti sebuah pukulan telak dalam sebuah pertandingan tinju. Dirinya sekarang terjepit antara orangtua dan teman yang ia sudah angggap seperti saudara sendiri.

"Jika aku menolak?" Mikoto tersenyum dan memandang mata yang penuh ketakutan bercampur bimbang milik Sakura.

"Kau tahu jawabannya" Sakura ingin sekali berteriak tidak tahu dan pergi dari sana tapi ia juga harus memikirkan orangtuanya.

"…" Hening sesaat.

Mikoto memerintahkan anak buahnya untuk masuk, dan apa yang Sakura dapati? Kedua orang tuanya yang sudah dalam keadaan terikat dan wajah penuh ketakutan. Mulut mereka di lakban dan Shion melepaskan paksa penutup mulut itu, ibunya menjerit kesakitan. Itu pasti sakit sekali pikirnya.

"Kau tak mempunyai pilihan selain mengikuti permainan kami, atau kalian bertiga akan merasakan dinginnya lantai penjara. Kau tak berpikir ini persoalan orang tuamu saja kan? Seseorang yang melindungi buronan dan membantunya juga akan dikenakan hukuman!" Sakura menatap Shion dengan perasaan kesal, licik sekali. Menggunakan kelemahannya untuk memaksanya melakukan tindakan yang kejam pada sahabatnya sendiri. Tapi Sakura tahu ia tak punya pilihan selain mengikuti keinginan Mikoto dan Shion sebagai imbalannya mereka sepakat membantu menyelesaikan masalah mobil penyok dan menutupi kasusnya dengan rapi. Jadi untuk sementara ini Sakura dan kedua orang tuanya dapat bernapas lega untuk sementara.

'maafkan aku Sasuke.. Hinata.. Kuharap kalian akan mengerti kenapa aku menyetujui ini. Tak apa jika kalian membenciku dan tak akan memaafkanku. tapi aku percaya pada cinta kalian. Tetaplah kuat sampai semua berakhir karena kalian adalah orang yang ingin kulindungi di dunia ini' benak Sakura.

Kebohongan adalah hal yang paling Sasuke benci. Dan Hinata telah melakukan kesalahan yang sangat fatal. Dirinya tak habis pikir kenapa Sakura mau melakukan semua itu. ia mengambil tumpukan kertas bangau dan membawanya ke belakang sekolah. Membuangnya ke dalam tong sampah, sebuah derigen berisi minyak tanah di tuang ke dalam tong besi dan membakarnya menggunakan korek api.

Hinata menyaksikan semua itu, air mata mengalir dari pipinya. Ia membalikkan badan dan berusaha berlari sejauh mungkin sampai sebuah tangan halus menyentuh bahunya.

"Sakura.."

Tatapan penuh kesedihan juga terpancar dari mata Sakura. ia menuntun Hinata ke arah Sasuke. Pria raven itu menatap mereka dingin seolah tak ada rasa bersalah sekalipun.

Plakkk

Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Sakura tak tahu apa yang baru saja ia lakukan, baru saja kemarin ia sepakat untuk merusak hubungan mereka tapi ia kembali menjadi orang yang paling depan untuk membela sahabatnya atau orang yang paling bersikeras untuk mempertahankan hubungan mereka.

"Beraninya kau membakar burung kertas itu! kau tak tahu bagaimana kerasnya Hinata membuat semua itu?" Sasuke tersenyum kecut mendengar ucapan Sakura. Wanita itu benar-benar berpikir dia bodoh dan lucu.

"Karena aku tidak yakin Hinata yang membuatnya! Jadi Aku membakarnya" Hinata dan Sakura tak bisa menutupi keterkejutan mereka.

"Baka! Kalau bukan Hinata siapa orang kurang kerjaan yang mau membuat semua itu?" Sasuke menatap mata Sakura tajam, mata itu akhirnya telah berani menatapnya kembali . sudah begitu lama setelah insiden penginapan.

"Itu juga pertanyaanku? Siapa orang kurang kerjaan yang membuat semua omong kosong ini? Apa motifnya mungkin hanya ia yang tahu!" Ujar Sasuke, tangis Hinata kembali pecah. Perasaan kalut telah melandanya begitu juga Sakura. bagaimana bisa Sasuke tahu? Pasti Shion yang telah mengatakannya.

Hinata berlari meninggalkan mereka berdua, Sakura ingin mengejarnya namun langkahnya tertahan begitu dia mengingat kembali perjanjian lusa malam bersama Mikoto dan Shion. Ia menatap Sasuke yang masih saja acuh. Tapi rasa kekecewaaan itu terpancar jelas. Mereka hanya berdua, Sakura menatap kertas yang terbakar nyaris sempurna. Selaksa perasaan sedih dan kecewa menghinggapi Sakura.

"Apa karena ini bukan dari Hinata jadi sudah tak berarti lagi? tak bisa kah kau melihat ketulusan hati seseorang padamu tanpa melihat siapa orang itu?" Sasuke tak menghiraukan ucapan Sakura yang ia tahu ia telah dibohongi. Tak tahukah bagaimana berharganya burung bangau itu disaat ia terpuruk dulu? Perasaan kecewa Sasuke, entah bagaimana ia menggambarkannya.

"Aku tahu kau pasti menganggapku menyedihkan jadi kau pikir dengan membodohiku seperti ini aku akan senang!"

"Baiklah.. Aku mengakui aku yang melakukan semuanya karena kau begitu menyedihkan tapi jangan salahkan Hinata, dia tak tahu apa-apa mengenai hal ini"

Percakapan mereka berakhir dengan perginya Sakura dari sisi Sasuke. Api sudah padam sejak tadi, ribuan kertas bangau itu telah berubah menjadi abu, bagaimana kerasnya seseorang membuat itu. Sasuke tahu tapi apakah ekspetasinya terlalu tinggi dengan Hinata jadi rasanya begitu sakit. Sasuke mengambil sebuah kertas bangau yang terselamatkan dari pembakaran. "Tersenyumlah, walaupun dunia ini menyakitkan karena dengan sedikit senyuman kau telah membuat dirimu terlihat lebih kuat… Kau adalah salah satu orang yang paling ingin kulindungi di dunia ini"

TBC

Review nya jangan lupa ya! arogatou...