Highschool Romance © Couphie
Hey, Class President! © Kaori Monchi
Disclaimer : All characters isn't mine. The original story of "Hey, Class President!" is belong to Kaori Monchi. Here I just re-write and re-make the story into Kristao version. And of course I try to make the story not too similar with the anime.
Pairing : Kristao as the main pair (slight other official pair)
Warning (!) :
OOC, AU, Yaoi! (Yes. This is Yaoi!), BL, Typos (maybe), LIME! Explicit Content! Sexual Harassement scene! POV switching without attention!
.
.
.
DON'T LIKE? WHY READ?!
I've warned you!
No plagiarism!
.
.
.
Couphie
—Highschool Romance—
Chapter 2 : Touch
Sore itu langit yang sejak awal sudah terlihat mendung tiba-tiba menjatuhkan muatannya, bagaikan ember raksasa yang digulingkan dari langit. Belum lagi hujan deras itu diiringi dengan guntur menggelegar dan kilat menyambar-nyambar di angkasa.
Kris dan Tao masih dalam perjalanan pulang. Terdiam dalam masalahnya masing-masing—Kris dengan sesuatu yang menggembung di antara kakinya dan Tao yangg sibuk mengeratkan pelukannya pada Kris. Oh, ayolah. Semua juga tahu kalau Huang Zitao adalah penakut nomor dua setelah Suho—yang mengaku sebagai ayah si Panda. Jadi wajar saja jika ia ketakutan berkendara di tengah hujan deras dan jalan yang licin.
"G-gēge... Pelankan motormu... K-kau tidak lihat jalannya licin? Ka-kalau terjadi kecelakaan bagaimana?" tegur Tao dengan suara lirih dan bergetar.
Kris yang merasa iba pada Tao, akhirnya memelankan laju motornya—sedikitnya itu membuat Tao dapat bernafas lebih ringan.
"Panda, rumahmu masih jauh. Kemungkinan untuk menembus hujan sangat berbahaya apalagi jalan menuju ke sana sangat padat dan menanjak. Lebih baik kau berteduh di rumahku saja—aku akan mengantarmu jika hujan sudah mereda. Bagaimana?"
"Umm... t-terserah gēge saja."
.
.
.
.
.
Ketika mereka sampai di rumah Kris tepat pada pukul tujuh malam, hujan masih belum berhenti. Rumah Kris sendiri terlihat sangat sepi karena para pelayan dan pengurus rumah tinggal di bangunan terpisah di belakang rumah induk.
"Tao, lebih baik kau hubungi orang rumahmu dan katakan kau akan menginap malam ini. Cuaca di luar sangat tidak memungkinkan untukmu pulang." saran Kris saat melihat pemuda manis itu termenung menatap jendela lebar yang belum tertutup tirai, menampilkan cuaca buruk yang mengamuk di luar sana.
"Ah, baiklah." Tao membuka ransel anti air yang tadi ia pakai lalu mengeluarkan ponsel pintarnya dari sana.
"Halo?" sapa Tao setelah menunggu sambungan itu terhubung selama beberapa saat.
"..."
"Ya. Aku tidak bisa pulang, Bu. Cuacanya buruk sekali."
"..."
"Eum. Aku di rumah Kris gēge."
"..."
"Ya. Tenang saja. Sampaikan salamku pada ayah. Paipai~"
Setelah sambungan itu terputus, Tao menatap ponselnya dengan bibir mengerucut sebal. Jika bukan karena hujan yang menahannya di sini, ia pasti sudah tidur nyenyak di kamarnya.
Putra tunggal keluarga Huang itu mengedarkan pandangannya, dan mendapati Kris turun dari tangga lantai dua. Menghampirinya.
"Jika kau sudah selesai, mandilah. Aku tidak ingin kau sakit karena memakai baju basah itu. Pakai saja bajuku. Kau bisa memakai kamar mandi di kamarku—yang itu!" kata Kris sambil menunjuk sebuah pintu cokelat yang terletak tak jauh dari ujung tangga di lantai dua.
Tao hanya mengangguk dan segera beranjak menuju kamar yang ditunjuk Kris.
.
.
.
Tao terkagum-kagum saat melihat kamar Kris yang luasnya dua kali lipat dari kamarnya di rumah. Kamar mandinya juga sangat mewah. Dan yang membuat Panda itu mampu berdecak kagum sekaligus ingin tertawa keras adalah perlengkapan mandinya—dan juga kosmetik beserta aneka perawatan kulit yang lengkap.
Ah, ia tak menyangka jika Kris yang—katanya—tampan, manly dan dipuja-puja banyak gadis itu ternyata suka sekali bersolek. Ckck...
Tubuh Tao tiba-tiba terasa menggigil dan segera ia bergegas untuk mandi dan mengganti baju basahnya.
.
.
.
"Eum... rumahmu sepi sekali, gē. Apakah tidak ada orang lagi selain kau dan aku di rumah induk ini?" Tao mencoba berbicara dengan Kris kala mereka makan malam—dengan agak canggung tentunya.
"Masih ada kakak dan sepupuku di kamar lainnya. Kupikir mereka akan bermain game sampai larut malam." sahut Kris santai, walau sebenarnya ia merasa berdebar saat melihat Tao saat ini.
Bukan apa-apa sebenarnya. Hanya saja kaus lengan panjang milik Kris yang saat ini dipakai Tao agak kebesaran untuknya. Apalagi bagian kerahnya yang agak melebar membuat baju itu seringkali melorot, menampilkan bahu mulus milik Tao. Sementara bagian lengannya terlalu panjang hingga melewati ujung jarinya. Tao terlalu malas untuk menggulung lengannya ke atas. Lagipula ia kedinginan.
Apa yang bisa Kris perbuat selain menelan ludah dengan kasar? Demi Tuhan! Tao terlihat menggemaskan sekaligus menggiurkan!
"Benarkan? Aku baru tau jika kau punya saudara, gē. Kupikir kau anak tunggal, sama sepertiku."
"Dia tiga tahun lebih tua dariku. Jelas saja kau tidak tau karena aku tidak pernah bilang, Panda."
Tao hanya menatap Kris dengan sebal. Lalu ia menguap tanpa sadar, membuat Kris tersenyum melihatnya.
"Tidurlah di kamarku. Aku akan ikut bermain game bersama kakak dan sepupuku."
Pemuda asal Qingdao itu membulatkan matanya saat menyadari ia akan tidur sendirian di kamar Kris yang luas itu. Mulutnya terbuka ingin menolak sekaligus meminta Kris untuk menemaninya. Tapi tidak jadi. Pikirnya, Kris pasti akan meledeknya habis-habisan setelah ini.
"Uhh... b-baiklah. Aku tidur duluan, Kris gēge. Selamat malam." Tao melangkah pergi dengan lesu.
"Selamat malam, Tao."
.
.
.
.
.
Malam itu Tao tidur dengan gelisah.
Tubuhnya terus menggigil sekalipun ia sudah bergelung dibalik selimut tebal nan hangat. Belum lagi keringat dingin terus keluar melalui pori-pori kulitnya.
Benar sekali.
Tao demam.
Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka perlahan. Sebuah lengan terjulur dari luar, meraba dinding dan mematikan lampu kamar.
Lalu dengan langkah seringan kapas, seseorang—yang entah itu siapa—mendekati tempat tidur yang digunakan Huang ZiTao.
.
.
.
Dimana ini?
Eh? Bukankah ini ruang tata usaha? Kenapa aku ada di sini? Seingatku tadi aku sedang tidur di kamar Kris-gēge?
"Kau Huang ZiTao?"
Aku menoleh saat mendengar sebuah suara yang tak asing. Di sana ada Kris gē. Dengan rambut pirangnya yang berpotongan pendek.
Hal ini membuatku teringat akan pertemuan pertamaku dengan Kris pada saat aku baru saja masuk ke SM Highschool di kelas dua.
Jadi... ini mimpi?
"Ya?" aku mendengar suaraku sendiri menyahutinya.
"Perkenalkan, aku Wu Yifan—kau bisa memanggilku Kris. Aku adalah ketua kelasmu. Akan kuantarkan kau berkeliling saat jam istirahat nanti, tapi sekarang kau ikut aku—akan kutunjukkan dimana kelas barumu."
"Ah. Terima kasih." kataku dengan logat yang aneh saat menggunakan bahasa Korea. Lalu kami berjalan, dengan aku yang menatap punggungnya.
Perlahan aku menyadari jika koridor yang kami lewati perlahan menjadi gelap. Kulihat rambut pirang Kris gēge berubah memanjang dengan perlahan.
Aku tersentak saat tiba-tiba ia berbalik. Dia adalah sosok Kris dengan penampilannya yang sekarang. Hanya saja ada yang aneh dengan tatapannya.
Ia membuatku takut.
Dan sebelum aku sempat berbuat apapun, Kris gēge mendorongku tiba-tiba, membuatku terjatuh begitu saja.
Yang terjadi selanjutnya membuatku semakin tidak mengerti.
Kris menciumku.
Bukan sekedar menempelkan bibirnya, ia juga menghisap bibirku kuat-kuat hingga terasa sakit dan lidahnya yang panjang bergerak masuk ke dalam mulutku. Aku mencoba berontak. Tapi kedua tanganku entah bagaimana caranya sudah diikat dengan dasi miliknya.
Tubuhku gemetar oleh rasa yang begitu asing.
Bagaimana bisa aku memimpikan hal seperti ini dengan Kris gē?!
Dan saat ciuman kasar itu usai, bibirnya beralih ke telingaku.
"Kau menyukainya, Taozi?" desahnya, "Tidakkah ciumanku sangat hebat dan memabukkan?"
Aku terpaku.
Suara ini... dia bukan Kris!
.
.
.
.
.
Wajah Tao memerah sempurna.
Bibirnya sedikit terbuka, terlihat begitu merah dan agak bengkak—ia terus mendesah karena ulah seseorang yang memiliki wujud Kris.
Bagaimanapun juga, sentuhan ini terasa begitu nyata. Tao benar-benar takut dibuatnya.
Apakah saat ia tengah tertidur tubuhnya disentuh seseorang, pikirnya. Jika benar ini mimpi, kenapa rasanya sulit sekali untuk terjaga?
Tubuh Tao menegang saat lidah milik orang itu menyapu nipple kirinya sementara tangan kirinya bergerak menarik dan memilin nipple yang lainnya.
"Mmmhh... aaaaaah..."
Perlahan dan tanpa diketahui oleh pemuda manis yang kini tengah berada di bawahnya, orang itu membawa tangan kanannya menyetuh bagian bawah tubuh Tao.
Sentuhan tangan itu pada paha bagian dalamnya membuat Tao gemetar. Belum lagi hisapan keras yang dilakukan secara bergantian di kedua nipple-nya membuat tubuhnya makin memanas.
"Emmmmmhhhh... mmm~ aaahhhh!" desahan Tao makin keras saat tangan itu mencengkeram penisnya dari luar celana yangg ia pakai dan memijatnya dengan ritme yang mampu membuat tubuhnya menggeliat akan rasa nikmat.
Tao tak dapat berpikir jernih. Jantungnya berdegup kencang dan nafasnya tersengal. Tangan orang itu yang sebelah kiri ikut merayap turun, memisahkan kedua kaki Tao. Setelah bermain dengan kedua nipple yang kini menegang sempurna dan basah oleh liur, lidah itu menelusur turun melewati perut Tao dan menggelitik pusarnya dengan begitu erotis.
"Aaaaaaangghhhh~ ah... ah... uhhhhhhhmmmmm~"
Lalu dengan giginya, orang itu menarik zipper celana yang dipakai Tao ke bawah. Tangan kirinya meremas pantat Tao dengan gemas dan bergairah. Ia berdesis penuh antusiasme.
Perlahan, jari telunjuknya merayap di antara kedua belah pantat itu lalu mulai menggesek dan menekannya. Tao tersedak saat merasakan permukaan telapak tangan yang dingin menyentuh penisnya secara langsung di dalam celana yang dipakainya.
'Kris gē... apa yang akan diperbuat orang ini padaku?' airmata Tao lolos begitu saja.
Rangsangan yang diberikan pada dua titik itu makin gencar diberikan. Dan tak lama kemudian, pandangan Tao memutih tiba-tiba. Bagian bawah tubuhnya menegang sempurna, terasa panas dan berdenyut hebat. Tubuhnya melengkung dan bergetar hebat. Ia telah mencapai batasnya.
Nafasnya tersedak-sedak seketika.
Samar-samar ia mendengar suara derap kaki yang tergesa, suara benda jatuh dan disusul dobrakan pintu yang amat keras. Ia juga mendengar sebuah suara yang begitu familiar memanggil namanya dengan panik.
"TAO!"
.
.
.
.
.
To be continued
.
.
.
Couphie's Note :
Pendek ya? Iya, tau kok.
Belum ada lemon? Iyaaaaaaa... tauu koooooookkk...
Lemonnya chap depan. Atau depannya lagi. Hehe. /plak/
Makasih untuk responnya. Saya terharu karena baru kali ini dapet 37 reviews untuk satu chapter, huks! *sedot ingus* QAQ
Jadi saya sangat menantikan respon kalian untuk chapter ini. Sekali lagi, maaf ya pendek. Chapter tiga akan dipublish tanggal 30 pada malam hari. Kenapa? Karna saya pengen. Ada masalah? *pasang muka nyolot* /plak duagh dziiiiighhh/ *bonyok seketika*
Oke, waktunya bales review buat yangg ga login~! (/^w^)/
Guest (1) : IYA HAHAHAHAHA! MODUS BANGET LO KRIS! *ditendang Kris*. Saya bingung mau manggil dirimu apa. Lain kali tulislah nickname-mu aja. Biar gak bingung jadinya. Review lagi ya kalo baca chapter yang ini, emuaaaaahhhh~! (=3=)/ *orangnya kabur duluan*
taoris shipperrr : udah update ya. Sori harus nunggu sebulan. QAQ
adinda faradisa : maaf lemonnya belum ada. QAQ tapi yang di atas adanya lime seger tuh. Hehe.
taotao panda : katanya babeh Kris si Tao kurang kenceng megangnya *suddenly Kris dateng bawa clurit*. Lemonnya belum ada. Kemungkinan chap depan ada lemon adalah 3 banding 2. Ditunggu sajalah~ (T_~)
Guest (2) : ah, maafkan sayaaaaaaaa... kamu bilang kurang panjang tapi di chapter ini malah makin pendek huweeeeeeeeeee QAQ *nangis bareng taotao*
Guest (3) : oh, thaaaaaaaannkksss! I love you too, emuaaaaaaaahh (=3=) /bletak/ *dia suka story-nya thor, bukan sampeyan* ._.
AndiniRenuari :sudah dilanjut~ review lagi yaaaa~ ^^
KrisPanda : LEMONNYA BELUM ADA HUWEEEEEEEEEEEEEEEEE QAQ /plak/
Guest (4) : chapter depan ya, mari kita lihat bersama apakah akhirnya si Kris berhasil narik celananya Tao *senyum mesum*
NDM : maaf makin pendek dan bukannya makin panjang kayak anu-nya Kris. Trus gak bisa cepet, katanya Kris kalo cepet klimaks itu... gimanaaaaaaa gitu. Makasih ya udah penasaran sama saya. *tersipu-sipu* /plak/ (NDM: bukan itu woi!)
anyifantao : makasih. Saya juga suka kamu. *tersipu-sipu (lagi)* /bletak/ #sandalmelayang
ICHII Michi : hohoho... saya memang devil yang awesome *highfive* gak kok, bukan ceritanya yang digantung, tapi celananya zitao yang saya temuin semalam dikamarnya (^/^). Ckckck... dia sudah besar... (=w=) *hah?*
ia : jangan lupa klik 'review' setelah baca okay? Saya juga pengen liat kayak apa Panda yang jalan bebek (=w=)/
Okay, updatenya tanggal 30. Inget kan? Kalo seandainya yang lupa adalah saya silahkan kirim PM atau bingkisan ke rumah saya, hohoho~ /plakkk/
Oh, ada yang mau coba tebak, siapa yang udah grepe-grepe Tao di chapter ini? Ditunggu reviewnya~ emuaaaaaaaaahhhh~ *tebar flying kiss* (=3=)/
Thanks to :
XiuBy PandaTao, thepaendeo, KTHS, putchanC, zhe, Nurfadillah, Guest (1), taoris shipperrr, adinda faradisa, taotao panda, byunkwon24, Guest (2), chikakyumin, KyuKi Yanagishita, dian. huang91, jettaome, youngwoonrici, chanbaekxoxo, Guest (3), AndiniRenuari, KrisPanda, Guest (4), fantaosticpanda, oraurus, wulandarydesy, Baby Ziren KTS, NDM, arvita. kim, Riszaaa, anyifantao, Jin Ki Tao, ICHII Michi, pujochi exo, ia, ayulopetyas11, Tty T. T
.
.
.
Review? Review? Reviiiiiiiiiiieeeeeeeeeeeeewwwww? ^^
