Tenten memijat pelipisnya pelan. Jemarinya kini mencengkram kuat pensil yang dipegangnya untuk menulis. Beruntung benda itu tak patah. Tenten menatap jam dinding yang sudah jelas menunjukkan lewat tengah malam. Ia mengengguk salivanya hampa, matanya berkedip manahan liquid - liquid yang hendak meleleh. Ia menggigit bibir bawahnya pelan.

Setelah itu, ia menarik nafas dan kembali memfokuskan diri pada soal matematikanya.

Fake Omiai.

.

.

.

Gadis bunny yang super 'feminim' itu berjalan tanpa beban menyusuri koridor menuju ruang guru. Sebelah tangannya memegang lembaran - lembaran kertas yang memuat jawaban seratus soal latihan dari Tsunade-sama, sang Kepala Sekolah.

Ia meminggirkan tubuhnya menyadari lebih banyak orang dari arus balik. Ia menengok sekejap tangannya guna mengecek keadaan kertas sebelum ia melihat seseorang berlari kencang di hadapannya dan...

Bruk!

Prang!

Keduanya terjatuh. Tenten dengan sigap segera menurunkan rok sailornya yang terangkat karena jatuh tadi. Berbeda dengan gadis yang menabraknya, ia langsung menggapai benda yang ia bawa. Benda yang kini sudah hancur berkeping - keping.

Gadis pigtail itu berdiri masih menatap benda itu, sebelum ia menatap Tenten tajam.

"Kau harus bertanggung jawab, aku tidak mau tahu!"gadis itu menghembuskan nafas kasar. "Kau tidak tahu benda ini sangat spesial untukku!"

Tenten yang sedari tadi membersihkan lembaran kertasnya itu berdiri jua menyamakan tinggi keduanya.

"Kau yang menabrakku, lalu apa maksudmu aku harus tanggung jawab? Kau berlari, dan aku berjalan. Berpikir logis."Tenten memandangnya pongah.

"Aku meminggir tadi,"gadis itu menajamkan indera penglihatannya.

"Aku berjalan, dan juga meminggir."Tenten tak mau kalah. "Lagipula itu hanya kotak musik, itu bisa dibeli. Aku membawa lembaran jawaban soal, kalau robek kau mau menjawab semuanya?"

"Aku ingin memberikan kotak musik ini pada Neji-kun!"suara gadis itu meninggi.

"Kau pikir dia-"

"Kalau ia sampai mengoyakkan kertas jawaban soalmu karena ingin memberi sesuatu untukku, akan kujawab semua soal itu."Nada bariton dari belakang membuat keduanya menoleh. "Kau tidak mengerti apa artinya memberi jadi diamlah."

"Neji-kun..."

Tenten mendelik pada gadis pigtail itu,"Tetapi kalau pun kau memberikan benda spesial itu secara utuh padanya, belum tentu benda itu akan jadi spesial juga di matanya."Tenten berganti menatap Neji. "Kau sendiri tahu apa tentang memberi? Kau hanya terbiasa menerima dan itu pun tak akan berarti banyak bagimu."

Mendengar pertengkaran itu, desas - desus yang sudah pasti lebih memojokkan Tenten terdengar di beberapa sudut. Namun itu tak pernah membuat sang Brunette itu takut.

"Setidaknya aku bisa tersenyum, tidak seperti mulutmu yang hanya bisa memaki."Ucap Neji datar.

"Ternyata kau bangga dengan senyum buatan yang kau punya itu. Terlalu banyak perempuan yang menyatakan perasaannya padamu dan siapa yang tidak tahu bagaimana caramu menolak mereka? Lalu kau bilang aku hanya bisa memaki?"Tenten menajamkan hazelnya kala amethyst itu mencoba menusuknya."Hey, Hyuuga. Memangnya kau lebih hebat apa dariku? Kau tidak lebih suci dariku."

"Bukankah kau memang merasa kalau kau adalah orang paling suci di muka bumi?"

Tenten melayangkan kepalan tangan kuatnya pada rahang Neji namun lelaki itu sigap mengelak. Kini justru pergelangan tangan kecil itu berada dalam cengkraman kuat Neji.

Gadis pigtail itu tersentak melihat detik - detik masalah akan memuncak, ia lebih memilih berlari menjauh disusul banyak orang yang membuat desas - desus tadi. Mereka lebih memilih tak terlibat masalah tentunya.

Tenten menatap kepergiannya heran.

"Jangan main - main denganku, Hyuuga."Ia berdesis. "Lepas!"

Tenten menarik pergelangan tangannya ingin menjauh, namun sudah diketahui bahwa Neji lebih memiliki tenaga dibanding tubuh kecilnya.

"Aku... atlet taekwon-do!"ia menggeram seraya sekuat tenaga mencoba melepaskan tangannya dari Neji. "Aku le-bih kuat...darimu! Daripada me-lukai tubuhmu, lebih ba-ik lepaskan aku. Lepas! Hyuuga!"ia mendecak di akhir kalimat.

Amethyst semu itu menatap geraknya, ia ingin tertawa melihat bagaimana gadis berperilaku boyish itu kini sedikit terlihat lemah. Namun ia tahu pasti, Tenten memang atlet berbakat. Gadis itu bisa saja menendang perutnya seperti yang ia lakukan pada Shion, atau gadis itu mungkin bisa menendang 'miliknya' dengan lututnya. Ia yakin Tenten punya alasan mengapa ia tak mau melakukan itu.

Neji mengangkat tangan gadis yang kini dalam cengkramannya itu, membuat Tenten harus menjinjit agar tubuhnya seimbang. Ia masih fokus melepaskan tanggannya hingga ia tak sadar wajahnya sudah sangat dekat
dengan Neji. Jemari kakinya entah sampai kapan masih memiliki kekuatan untuk menahan tubuhnya. Terlebih saat jantungnya berdebar menatap wajah lelaki itu.

"Hey!"Tenten meneriaki. "Lepaskan aku atau aku akan jatuh di atas tubuhmu! Itu menjijikan buatku dan citramu akan rusak, Hyuuga!"

Amethyst itu menatapnya lekat seolah tatapannya bisa melumpuhkan dan melunakannya. Neji berkedip, dan gadis itu seolah terbawa kembali ke dunia nyata. Ia kembali dilempar ke bumi. Hazelnya menatap Neji penuh rasa bersalah, matanya bergerak kemana pun asal tak bertemu dengannya. Liquid terlihat di sana mulai melapisi lensanya, Neji mengernyit aneh melihatnya, membuat ia melonggarkan cengkramannya. Tenten menarik pergelangan tangannya perlahan, seolah memohon untuk dilepaskan.

Masih terekam di ingatan Neji raut rasa bersalah gadis itu tadi. Ia berpikir mungkin perbuatannya sudah kelewat batas untuk Tenten, atau mungkin karena hal lain? Ia mengira Tenten akan menyemprotnya dengan makian lagi, atau mungkin gadis itu akan meninjunya berkali - kali, tapi apa yang ia lihat tadi? Gadis itu hampir menangis? Neji menghela nafas tak sadar kalau sejak tadi gadis itu sudah berlalu saat ia lepas darinya.

.

.

"Apa yang kau lakukan tadi, hah?!"

BUK!

Tenten meninju keras punggung satu - satunya orang di gedung aula olahraga. Lelaki itu hanya sedikit kaget atas pukulannya dan menoleh, ia mendapatkan Tenten di belakangnya.

"Ap-"

"Kau pikir aku itu apa?!"

Buk!

Gadis itu meninju rahang kiri sang pemuda berbusana olahraga itu.

"Tana-"

"Jangan berperilaku seenaknya!"

Buk!

Lalu rahang kanannya.

Tenten menatap lelaki itu penuh dendam. Neji hanya balas melihatnya tanpa berniat mengelak atau melawan.

"Apa?!"Tenten mengepal tangannya geram. "Ayo serang aku! Jangan pikir aku lemah!"

Buk!

Sekuat tenaga ia menonjok hidung mancung pemuda di hadapannya itu. Membuat si penerima sedikit berkunang.

"Jangan pikir semua perempuan akan luluh padamu! Aku tidak main - main, Hyuuga!"Tenten meneriakinya. "Aku tidak terima atas perlakuanmu! Kau tidak boleh sembarangan menarik gadis agar jaraknya sangat dekat denganmu! Tidak ada perempuan yang murah! KAU PIKIR KAU SIAPA?!"

BUG!

Tenten meninju perutnya tanpa rasa bersalah.

Gadis itu menatapnya benci. Tak peduli tatapan sayu yang ditutup - tutupi oleh pemuda itu. Tak peduli cairan merah kental yang mengalir dari hidung sempurnanya. Gadis itu seolah tak kenal kata maaf.

"Jangan pernah mencoba melunakkanku atau kau akan dapat lebih parah,"Tenten menatapnya kejam dan berlalu dari aula olahraga itu.

Neji menatap kepergiannya. Ibu jarinya mengusap darah yang mengalir dari hidungnya.

Sementara dalam perjalanan menuju kelasnya, Tenten berjalan dengan santainya. Ia memang izin ke toilet pada gurunya tadi.

Tap tap.

Tenten menoleh. Hazelnya berkeliaran mengamati sekitar, setelah beberapa saat ia kembali berjalan tak peduli.

Tap tap.

Ia menoleh segera ke asal suara. Ia diikuti, pasti. Gadis itu berjalan lagi tanpa takut.

Tap... tap.

"Keluar sekarang,"ucap Tenten lantang tanpa menoleh. Namun tetap saja, tak ada yang menampakkan diri.

"Kalau aku sampai mendapatimu, habis kau. Lebih parah dari si Hyuuga Neji,"gadis itu menunjukkan smirk samarnya.

"Aku."

Tiga gadis itu menoleh cepat pada sahabat mereka, Tenten.

"Ha?"Sakura melongo. "Hinata bertanya pada kita siapa yang telah memukuli Neji dan kau bilang..."

"Ya, aku."

Hinata menatapnya sedih bercampur amarah,"Nande, Tenten?"

Gadis bercepol itu menatap sekitar dengan poker face andalannya, namun jauh dalam benaknya, ia sedih melihat Hinata begitu.

"Hyuuga Neji wa watashi no Onii! Oshiete, Tenten!"desak Hinata. Seolah gagap gadis itu hilang diterpa sedihnya.

"Aku melakukannya sengaja,"ucapan gadis itu justru membuat Sakura dan Ino menjadi heran. Amarah sedikit bangkit dalam diri keduanya.

"Aku ta-hu kau itu atlet!"Hinata berdiri menatapnya dengan air mata berjatuhan. "Tapi bu-bukan itu caranya me-nunjukkan kekuatanmu..."

Sakura dan Ino mengapit gadis bersurai indigo panjang itu. Mereka mengusap lengan dan punggungnya mencoba menenangkannya.

"Apa hanya karena kau dijodohkan dengan Nii-san, makanya kau jadi semarah itu?"Hinata menatap sahabatnya. "Itu salah Jii-san! Itu salah Tanaka jii-san! Itu bukan salah Nii-san! Memukulinya tak akan merubah apa pun!"

Sakura dan Ino saling berkomunikasi lewat tatapan mendengar Neji dijodohkan dengan Tenten.

"Aku sengaja melakukannya karena aku punya alasan."Tenten berdiri menyejajarkan seraya menatapnya balik. "Aku ingin ia enyah dari hidupku. Aku ingin ia membenciku, agar ia dapat membatalkan omiai kami. Kau puas?"Tenten menatapnya lalu pergi dari sana tanpa pamit.

"Kau bukan sahabatku!"teriak Hinata. Membuat orang - orang di seisi kantin sedikit menoleh padanya. Tapi tidak bagi orang yang diteriaki, ia hanya sedikit berhenti lalu melanjutkan perjalanannya.


Esoknya.

Tenten memarkir sepedanya di parkiran. Ia mengeluarkan rok sailornya dari tas dan hendak langsung berjalan ke toilet guna mengganti bawahannya mengingat ia menggunakan celana training panjang. Tidak lucu bukan kalau ia berangkat ke sekolah menggunakan sepeda dengan bawahan rok?

Sekolah masih amat sangat sepi. Ia sengaja berangkat lebih awal karena ia sedang tidak ingin berbicara dengan Naruto atau pun ayahnya. Dan juga... Ia tak ingin ditemukan oleh mata - matanya.

Gadis itu berjalan keluar dari area parkiran, ia menatap lurus sekitar. Dan...

Ssrk.

Langkahnya terhenti. Bola matanya tak bergerak barang seinci, ia tak menoleh atau mengawasi sekitar. Ia hanya mencoba menggunakan indera perabanya di sekujur tubuhnya untuk merasakan atmosfer sekitar secara diam - diam.

Tak lama, ia kembali melangkahkan kakinya. Meninggalkan parkiran, juga meninggalkan sepasang mata yang mengawasinya. Ia merutuki kakinya yang tanpa sengaja menginjak dedaunan. Untunglah gadis itu tak mendapatinya. Ia mendekatkan walkie talkie di tangannya pada mulutnya seraya berbisik terdengar.

"Third DH, enter. Target dalam pengawasan, exit."

"Mereka mengikutimu,"suara dari koridor atas yang sepi itu membuat Tenten mempercepat langkah kakinya menaiki tangga. Lalu ia mendapati Neji di sana.

Alih - alih tak peduli, Tenten mengambil langkah berbelok untuk segera sampai ke kelasnya.

"Aku bicara padamu,"panggil Neji memberhentikan langkahnya. "Mata - mata itu, jangan terlalu menunjukkan kekuatanmu di hadapan mereka."

Tenten menoleh membalikkan badan, dan melihatnya dari jarak lumayan jauh. "Aku hanya tidak takut, itu saja. Dan aku tahu, mereka dari Hyuuga, 'kan?"

"Hn,"Neji memerhatikan lapangan dari lantai atas. "Hyuuga tidak pernah memiliki sesuatu yang lemah. Jadi semakin kau tunjukkan kalau kau kuat, maka semakin kuat juga Hizashi akan menarikmu."

Tenten tertawa mendengarnya, ia sedikit melangkah ke pembatas koridor, dan memeganginya. "Lalu? Kau pikir aku takut? Tak usah pedulikan tentang aku yang selalu diikuti mereka, pedulikan saja mata - mata itu apabila aku benar - benar mendapatkan mereka."

"Kau begitu angkuh."

"Aku tinggal di Jepang. Negara yang di dominasi oleh kaum lelaki berlagak angkuh. Mereka suka menjadi yang lebih kuat, mereka suka melebihi apa yang perempuan punya. Mereka tidak bisa menghargai perempuan, mereka angkuh, mereka mementingkan harga diri dan gengsi. Itu juga termasuk kau, Hyuuga."Tenten menghadapkan tubuhnya pada Neji. "Lalu apa salahnya jika perempuan melakukan hal yang sama?"

Neji menoleh padanya,"Itu hanya di Jepang. Kau tahu bukan istilah 'Mrs. Right', itu adalah julukan seluruh dunia untuk perempuan."ia menambahkan,"Jangan lupa kalau Naruto atau pun Tanaka jii-san juga laki - laki."

"Mereka menghargai perempuan, Hyuuga. Tou-san menghargaiku, Naruto menghargaiku dan Hinata. Kau sendiri, sejauh ini siapa yang kau hargai?"Tenten menatapnya, terdapat plester putih horizontal menempel di hidung lelaki itu.

Tenten menatapnya sekilas sebelum ia benar - benar meninggalkan Neji. Lelaki itu sempat memerhatikannya dan menaiki tangga menuju lantai tiga, kelasnya.

"Bodoh dia tidak menjawabku. Dia pasti menghargai Ibunya, Hinata, dan Hanabi. Oh ya, terutama Matsuri."Gumamnya mendapati kelas kosong.

-tbc-

Sorry semuaaaa... Bil warnet udah mau anis :v Jadinya udah ga bisa jawab review. Semoga suka chap ini. Thanks for reading ^^