KENCAN

KaiHun!Chibi

KAI (4yo) x SEHUN (4yo)

Hola, ini sequelnya Hitam. Masih ingat? karena pada minta sequel jadi aku bikinin nih. Semoga suka.

Malam hari sepulangnya dari pusat perbelanjaan, Jongin langsung sibuk memencet tombol yang ada pada benda berbentuk kotak panjang yang berada dalam genggamannya itu, sehingga layar televisi di depannya berkedip-kedip tak jelas. Jongin terus melakukannya, mengganti-ganti chanel televisi terus menerus, entah apa yang dicarinya. Sang noona yang berada di dekatnya pun mulai risih dengan tingkah laku Jongin.

"Jongin, apa yang kau cari hah? Mataku sakit jika kau terus mengganti chanelnya seperti itu." Geram sang noona.

Jongin hanya meliriknya sekilas dan kembali lagi ke kesibukannya sebelumnya. Keningnya berkerut serius, tak menghiraukan noona-nya yang sudah memijat batang hidungnya karena merasa pusing akibat tindakan tidak jelas sang adik.

Sang noona akhirnya merebut paksa remot tv itu dan memencet tombol merah setelah sebelumnya memberikan smirk pada Jongin.

Jongin menatap jari telunjuk noona-nya yang seakan bergerak slow motion. Tinggal satu senti, Jongin berkedip dan saat membuka matanya –BIP. Mati.

Jongin mengerucutkan bibirnya, tangannya bersidekap, menarik nafas dalam dan

"EOMMAAAA NOONA NAKAL, JONGIN SEDANG MENONTON TV TAPI NOONA MEMATIKANNYA EOMMAAA. TOLONG JONGIN." Teriknya sekuat tenaga.

Eommanya yang sedang berada di dapur, tak jauh dari tempat kedua anaknya itu hanya menghela nafas.

"Nyalakan lagi saja, sayang." Balas sang Eomma sabar.

Jongin, langsung tersenyum cerah. Entah Jongin itu bodoh atau memang polos hingga masalah sekecil itu tak bisa ia pecahkan. Ia kembali merebut remot tv itu dari tangan sang noona lalu menyalakannya, dan kembali pada kegiatan yang dilakukannya sebelum sang noona mengganggu.

Noonanya Jongin mendengus. "Sebenarnya apa yang kau cari Kim Jongin?" Tanyanya.

Jongin berbalik menatap noonanya. Noonanya kan sudah besar mungkin dia tau tentang hal itu. Pikirnya.

"Jongin sedang cari drama cinta-cintaan noona. Besok Jongin sama Hunnie mau kencan, tapi Jongin tak tau apa yang dilakukan pasangan kekasih saat sedang berkencan. Hunnie kan kekasih pertama Jongin, Jongin tak mau Hunnie marah sama Jongin. Noona, bantu Jongin ya." Ucapnya panjang lebar. Memberikan senyum cerah berharap sang noona terpesona dan langsung menuruti keinginannya.

Noonya menggigit bibir menahan tawanya. Bagaimana bocah berumur empat tahun memikirkan hal seperti itu. Dan apa itu, mencari drama cinta-cintaan untuk ditirunya. Batinnya geli.

Setelah berhasil mengontrol tawanya, Ia menatap sang adik yang masih bertahan dengan senyum cerah di wajahnya. Sedikit kasihan pada sang adik yang terlihat sudah lelah menahan senyumnya, ahirnya dia berbaik hati memberikan tips kencan.

"Ekhm. Kalau kau mau berkencan kau harus punya uang, apa kau punya uang?" Tanyanya.

Jongin menggeleng. "Uang buat apa noona?" Tanyanya.

"Nanti kalau Hunnie-mu lapar bagaimana? Jadi kau harus punya uang."

Jongin lesu mendengarnya, tapi sedetik kemudian dia kembali tersenyum cerah, "Jongin kan punya Jong-Jong noona. Lalu apa yang nanti Jongin lakukan kalau sudah berkencan sama Hunnie, lalu Jongin harus bawa Hunnie kemana noona?" Tanya Jongin antusias.

"Karena kalian masih kecil, jadi kalian kencan di taman di ujung jalan sana saja. Kalian bisa bermain bersama, berbicara bersama dan semua bersama. Begitu. Kau mengerti sekarang?"

Jongin mengangguk penuh semangat. "Terimakasih noona, Jongin sayang noona." Jongin mengecup pipi noonanya.

"Ini untuk noona." Ucapnya sembari melempar remot tv itu pada sang noona hingga mengenai jidatnya.

Noona Jongin memekik keras. Mendengar itu Jongin segera berlari sekuat tenaga menuju kamarnya, tak lupa menguncinya.

"Hai, Jong-Jong. Sekarang kamu harus bantu Jongin, ne." Gumamnya pada benda yang berada di atas lemarinya.

Jongin meloncat ke atas kursi, menaiki meja belajarnya dan berjinjit untuk menggapai benda berbentuk apel yang dia panggil 'Jong-Jong' itu di atas lemarinya. Setelah berhasil mengambilnya, ia lalu membuka laci meja belajarnya, mengambil sebuah kunci kecil di dalamnya. Jongin mehempaskan tubuhnya di kasur, wajahnya sumringah.

Jongin mendudukkan dirinya, menyimpan Jong-Jong di pangkuannya. Ia lalu memasukkan kunci pada lubang kecil yang berada pada bagian atas terbuka, ia merogoh beberapa lembar uang di dalamnya.

"Terimakasih Jong-Jong." Gumam Jongin pada Jong-Jong.

Ia menutup kembali Jong-Jong dan menyimpannya di tempat semula.

"Jongin siap untuk kencan." Ucapnya senang.

Jongin berjalan menuruni tangga rumahnya dengan ceria, di saku celananya sudah ada uang yang tadi malam ia ambil dari Jong-Jong, tabungannya.

"Kau sudah siap berkencan Jonginnie." Ucap sang noona saat Jongin melawatinya, berusaha untuk menggodanya sedikit.

Jongin berbalik, "Jongin siap noona, Jongin sudah bawa uang dan Jongin akan menjemput Hunnie sekarang." Balas Jongin kembali melanjutkan perjalanannya.

Noonanya hanya mencibir karena niatnya untuk menggoda sang adik gagal karena otak polos adiknya.

Jongin sudah tiba di depan rumah Sehun, perjalanan yang singkat karena rumah mereka yang memang bersebelahan. Ia mengetuk pintu kayu di depannya, tidak menggunakan bel karena tubuhnya yang masih kecil.

Pintu terbuka, menampakkan sosok anak lelaki yang seumuran dengannya hanya saja tubuh anak lelaki itu lebih mungil darinya.

Baru saja Jongin akan mengucapkan salam, anak lelaki mungil di depannya sudah mendahuluinya.

"Jonginnie." Pekiknya riang.

"Annyeong Sehunnie." Sapa Jongin.

Sehun langsung saja menarik lengan Jongin masuk.

"Jonginnie mau main apa hari ini?" Tanya Sehun riang saat mereka sudah duduk di sofa.

Jongin tampak mengerutkan keningnya. "Bukankan hari ini kita akan kencan Hunnie? Apa Hunnie tidak mau ya?" Nada suaranya terdengar sedikit kecewa.

"OMO, Hunnie lupa. Kalau begitu Jonginnie tunggu Hunnie di sini ya." Sehun langsung berlari setelah mengakhiri kalimatnya.

Sehun berlari menuju kamarnya. Ia tampak menggeledah sebuah kotak yang berisi banyak mainan. Wajahnya berbinar kala dirinya menemukan benda yang dicarinya. Dia lalu berjalan ke depan cermin, memasang benda yang tadi dicarinya –yang ternyata adalah jepitan rambut– pada rambutnya. Memakai sedikit bedak pada wajahnya agar tampak segar dan tadaa Sehun sudah tampak imut dengan jepit rambut yang bertengger di rambutnya.

Sehun lalu berjalan dengan pelan menuju Jongin yang sedang menunggunya.

"Uaaahhh Hunnie cantik sekali memakai jepit rambut itu." Ungkap Jongin kagum saat melihat Sehun berjalan ke arahnya.

"Terimakasih Jonginnie. Jadi ayo kita kencan Jonginnie."

Jongin mengangguk.

"Eomma, Hunnie mau pergi kencan sama Jonginnie, ne." Pamit Sehun pada eommanya. Eommanya hanya mengangguk mengijinkan. Tidak terlalu menanggapi kata 'kencan' yang diucapkan anaknya.

Jongin berjalan dengan semangat, tangannya menggandeng tangan Sehun.

"Jonginnie, jalannya pelan-pelan. Nanti rambut Hunnie rusak." Tegur Sehun.

Jongin akhirnya memperlambat jalannya, sementara Sehun sudah memeluk lengan Jongin.

"Jonginnie, kita kencan dimana?" Tanya Sehun. Mendongakkan kepalanya dengan pelan, takut tatanan rambutnya rusak.

"Kita akan kencan di taman. Apa Hunnie suka?"

Sehun mengangguk dengan semangat, tapi wajahnya berubah horror.

"Jonginnie, rambut Hunnie rusak." Adunya.

Jongin menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Sehun.

"Sudah. Hunnie sudah cantik." Ucapnya, setelah selesai memperbaiki rambut Sehun. Hanya menyisirnya sedikit dengan jari, supaya poni Sehun kembali menutupi keningnya.

Sehun tersenyum ceria. "Terimakasih, Jonginnie."

"Nah, sekarang Hunnie mau main apa?" Tanya Jongin.

Mereka sekarang sedang duduk di bangku taman.

Sehun menatap Jongin bingung. "Kita kan mau kencan Jonginnie, kenapa Jonginnie mengajak Hunnie bermain." Gerutunya lengkap dengan pout di bibir.

"Kata noona, kita main saja karena Jonginnie sama Hunnie kan masih kecil." Jelas Jongin.

"Begitukah? Tapi Hunnie liat di televisi kalau sedang berkencan mereka akan berciuman." Ucap Sehun polos.

"Hanya berciuman? Kalau sudah berciuman apa lagi Hunnie?"

Sehun tampak berpikir keras. "Hmmmm... Tak ada. Mereka hanya berbincang lalu pulang."

Jongin mengangguk mengerti. "Kalau begitu kita berbincang saja dulu, berciumannya nanti setelah kita akan pulang. Bagaimana?"

"Terserah Jonginnie saja."

Jongin dan Sehun hanya memperhatikan anak lain yang sedang bermain. Mereka juga ingin bermain, tapi mereka tak ingin merusak acara kencan mereka.

"Huweee Jonginnieeeee hiks."

Jongin kaget saat Sehun tiba-tiba menyembunyikan wajahnya di punggungnya dan menangis dengan keras.

"Hunnie, kenapa menangis?" Tanya Jongin pada sehun yang masih menyembunyikan wajahnya di punggung Jongin. Jongin ingin berbalik menatap Sehun tapi tidak bisa, karena Sehun yang menyembunyikan kepalanya di punggungnya sekarang juga mencengkram erat lengan Jongin.

"Hiks Hiks... itu~" Sehun menunjuk pada semak-semak, tapi wajahnya masih berada di punggung Jongin.

"Kenapa? Tak ada apa-apa. Sudah, Hunnie jangan menangis lagi ya. Nanti Hunnie tidak cantik lagi." Bujuk Jongin.

Sehun buru-buru mengangkat wajahnya, menghapus jejak air mata di pipinya, merapikan poninya dan mengecek jepit rambutnya, apakah masih bagus atau tidak.

"Jadi, kenapa Hunnie menangis?" Tanya Jongin pada Sehun yang masih sedikit terisak.

"Dia melihat Hunnie, Hunnie takut." Tangannya menunjuk ke arah semak-semak tapi wajahnya sama sekali tak mengarah kesana.

"Siapa?" Tanya Jongin lagi.

"Kucing itu melihat Hunnie. Hunnie takut Jonginnie." Rengek Sehun, air matanya sangat ingin keluar tapi ditahannya karena tak ingin terlihat jelek di depan sang kekasih.

Jongin kembali mengarahkan pandangannya di semak-semak itu. Matanya menangkap pergerakan seekor kucing kecil yang memang sedang melihat ke arah mereka. Jongin mengerti sekarang. Sehun takut kucing.

"Baiklah, kalau begitu kita pulang saja ya." Ajak Jongin.

"Eh? Kita belum berciuman kan Jonginnie. Ishh." Sehun menggerutu. Tampaknya telah melupakan insiden tatapan mata kucing yang dialaminya barusan.

"Ah, Jongin lupa. Kalau begitu ayo berciuman." Ucap Jongin ceria.

Tubuh Jongin dan Sehun sudah saling berhadapan. Jongin memajukan Wajahnya, mengecup kedua pipi putih dan juga bibir pink Sehun.

"Nah, sekarang giliran Hunnie."

Sehun menunduk, pipinya memerah. "Hunnie malu." Gumamnya pelan.

Mendengar itu, Jongin sedikit kecewa. "Aah Hunnie curang."

Sehun mendongak. Tangan Jongin sudah terlipat di dada, bibir tebalnya juga mengerucut. Karena takut kekasihnya marah Sehun akhirnya membuang jauh jauh rasa malunya. Dengan cepat ia mengecup pipi kiri Jongin.

Wajah Jongin sumringah setelah mendapat kecupan dari Sehun. Dia menyodornya pipi kanannya untuk di cium Sehun. Wajah Sehun tambah memerah, tapi ia tetap memajukan wajahnya mengecup pipi Jongin.

Jongin menyodorkan bibirnya yang sudah dikerucutkan untuk menyambut bibir Sehun.

"iish Jonginnie jangan liatin Hunnie, Hunnie malu." Ucap Sehun pelan.

Jongin akhirnya menutup matanya, bibirnya masih mengerucut.

Cup~ Sehun mengecup bibir Jongin.

"Uaah Hunnie malu." Pekik Sehun. Ia membalikkan badannya memunggungi Jongin dan menutup wajahnya dengan telapak tangannya.

Berbeda sekali dengan Jongin yang tampak begitu ceria setelah mendapat kecupan dari Sehun.

"Kenapa mainnya sebentar ?" Tanya eomma Sehun heran saat ia melihat Sehun memasuki rumahnya. Jongin langsung pulang setelah mengantar Sehun sampai di depan pintu.

"Eommaa~ Sehun sama Jonginnie berkencan bukan bermain." Gerutu Sehun.

Eommanya tertawa tertahan, "Jadi Sehunnie sama Jongin berkencan? Apa yang Hunnie sama Jongin lakukan saat berkencan?" Tanyanya penasaran.

Wajah cemberut Sehun berbah jadi ceria saat kembali membayangkan kencan mereka.

"Hunnie sama Jonginnie duduk berdua di taman lalu Jonginnie mencium Hunnie, Hunnie juga mencium Jongin disini." Jawabnya dengan rona pink di pipinya dan menunjuk bibirnya.

"Aa-apa Hunnie berciuman?" Tanya sang eomma Shock.

Jongin memasuki rumahnya dengan ceria, kepalanya ia goyangkan kiri kanan.

"Jongin pulang, Jongin senang lalalaa." Teriak Jongin saat memasuki rumahnya.

"Eh, kenapa kencannya cepat sekali? Kalian melakukan apa saja?" Tanya noona Jongin.

Jongin mendudukkan dirinya di samping noonanya.

"Tidak ada. Kami hanya duduk berdua, lalu berciuman lalu pulang. Jongin mencium Sehun di sini." Jawab Jongin sambil menunjuk bibirnya.

"B-beciuman? Di bibir?"

Noona Jongin memasang tampang OAO sedangkan Jongin sedang tersenyum sendiri saat mengingat wajah malu-malu Sehun saat menciumnya.

–FIN–

Aku bikinin sequel nih. Udah pada senang kan?

Rencananya ini cuma mau kubikin sekitar seribu words seperti HITAM tapi malah jadinya hampir duaribu words.

Maaf kalau ceritanya MEMBOSANKAN T_T