[REMAKE] Katie Ashley – The Proposition #1
.
.
.
Disclaimer: cerita sepenuhnya milik Katie Ashley, terjemahan indonesia dari buku aslinya sepenuhnya milik LoveReads.
.
versi HunHan yang saya remake, memiliki alur dan bahasa yang sedikit berbeda dari novel aslinya, TETAPI tetap tidak merubah inti ceritanya. alur, pemakaian bahasa, dan nama tokoh ada yang saya ubah. ff ini dibuat hanya untuk kesenangan semata. tidak ada unsur lain didalamnya.
luhan1220
.
.
.
The Proposition
.
.
Rasa sakit yang menikam masuk ke dalam jantungnya bergerak zig – zag menembus dada. Perasaan seperti ini sudah sangat familiar baginya saat ulang tahun ketiga puluh sudah semakin mendekat, melayang di atas seperti awan gelap, sementara menjadi ibu bersama dengan suami idaman, masih menghindarinya. Tidak memiliki suami dan anak lebih menyakitkan apalagi setelah kematian kedua orangtuanya. Setelah kehilangan ibunya dua tahun yang lalu, dia –Luhan, sudah bersumpah akan menggantikan cintanya yang telah hilang dengan mencari suami dan memiliki seorang anak. Sayangnya, tidak satupun dari kehidupannya terlihat berhasil sebaik yang direncanakan di dalam kepalanya.
.
.
Chapter 1
.
.
Oh Sehun menggosok mata birunya yang kabur. Mengintip melalui sela jari – jarinya melihat jam di layar komputer. Sialan, sudah jatuh lewat. Bahkan jika Sehun ingin menyelesaikan proyek itu, otaknya sudah terlalu panas. Dia hampir tidak bisa membaca kata- kata di depannya. Sehun mematikan komputernya, pikirannya tenang karena baru saja dipromosikan sebagai wakil presiden pemasaran yang berarti bisa menunggu sampai besok pagi dan tidak akan ada orang yang akan memarahinya jika mengulur – ngulur waktu.
Sambil mengerang Sehun bangkit dari kursinya dan meregangkan tangannya ke atas kepalanya. Meraih tasnya dan menuju pintu. Saat Sehun mematikan lampu kantornya, perutnya bergemuruh. Mungkin tidak ada makanan di rumah untuk dimakan, jadi Sehun perlu membeli sesuatu di perjalanan pulangnya nanti.
Jika di ingat – ingat, Sehun jauh lebih bahagia dengan memohon untuk makan malam dari salah satu saudarinya yang sudah menikah. Setidaknya sebelum melontarkan salah satu kecaman mereka tentang bagaimana dirinya tidak akan bisa menjadi seorang bujangan selama sisa hidupnya, dan di usia tiga puluh dua, sudah waktunya bagi Sehun untuk menetap dan memiliki keluarga.
"Omong kosong," gumamnya pelan pada pemikiran itu. Wanita cleaning service atraktif yang sedang menyusuri lorong mengangkat kepalanya.
Dia kemudian memberikan sebuah senyuman menggoda. "Selamat malam tuan Oh Sehun."
"Selamat malam Hayoung," jawabnya.
Sehun memencet tombol lift, berusaha menahan keinginannya untuk menutup kesenjangan sosial diantara mereka dengan memulai percakapan. Sehun menyapukan tangannya disela – sela rambut hitamnya dan menggelengkan kepalanya. Berbicara dengan Hayoung kemungkinan besar akan mengarah pada beberapa janji untuk bertemu di lemari gudang, walaupun Sehun akan sangat menikmatinya, tapi ia sudah sedikit tua untuk mendapatkan jenis seks semacam itu dengan Hayoung.
Lift membawa Sehun turun ke lantai pertama. Suara – suara teriakan menyambut telinganya saat ia melangkah keluar, menyebabkan dirinya menggerutu karena frustasi. Suara pria dan wanita.
"Kris, aku tak percaya kau menyudutkanku disini, di tempat kerja!" desis seorang wanita.
"Apa yang harus kulakukan? Kau tidak menjawab telepon atau emailku. Aku harus melihat apakah kau baik – baik saja."
"Aku bilang padamu tinggalkan aku sendiri, dan aku serius!"
"Tapi aku mencintaimu, Luhan. Aku tidak ingin kehilanganmu."
Saat mendengar suara gemerisik, suara wanita itu naik satu oktaf. "Berhenti! Jangan berani – beraninya kau menyentuhku!"
Sisi protektif Sehun seakan bangkit saat mendengar nada wanita itu, membuat Sehun bergegas menyusuri sudut itu.
"Hei! Lepaskan tangan sialanmu darinya!" teriaknya. Pasangan itu kaget saat melihatnya. Wajah wanita yang dinodai air mata itu menjadi memerah, dan Luhan menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan intens Sehun.
Seketika itu, Sehun mengenalinya –Xi Luhan, bagian periklanan di lantai 4, dan wanita yang pernah ia bujuk tapi tidak berhasil untuk diajak pulang dari pesta perusahaan perayaan natal. Dari caranya menolak untuk menatap matanya, dia tahu Luhan juga mengenalinya.
Sehun mengalihkan perhatiannya kepada pria itu, Kris, matanya melebar karena ketakutan. Kris buru – buru melapas tangannya dari bahu Luhan dan mundur beberapa langkah. Kris tampak seperti siap untuk lari keluar ke pintu exit terdekat. Sehun kemudian menyadari bagaimana penampilannya begitu mengintimidasi dengan tinju terkepal di samping sisi tubuhnya, rahangnya menegang.
Kris mengangkat tangannya tanda menyerah. "Aku tidak yakin apa yang anda pikir sedang terjadi, tapi kami hanya berbicara."
Sehun menyipitkan matanya. "Kupikir dari cara dia menangis dan memohonmu untuk berhenti menyentuhnya, itu jauh lebih dari sekedar berbicara." Sehun mulai akan bertanya kepada Luhan, apakah ia baik – baik saja, tapi Luhan langsung melesat melewatinya dan melarikan diri masuk ke dalam toilet. Sehun melototi Kris.
"Dengar anda salah paham. Aku–."
"Apa yang tidak kuketahui? Kau jelas tidak bisa membiarkan bekas pacarmu atau mantan istrimu, atau apapun dia bagimu untuk pergi, meskipun dia tidak bisa tahan saat kau menyentuhnya." pootong Sehun.
Tawa gugup meledak dari mulut Kris. Dia terdiam pada saat Sehun memiringkan alisnya kearahnya sambil maju selangkah. "Percayalah, anda begitu sangat, sangat salah. Luhan bukan mantanku."
"Lalu apa masalahnya?"
Kris berdeham. "Baik, anda mau tahu kenyataanya? Begini. Aku gay, dan Luhan sudah menjadi sahabatku sejak SMP."
Mulut Sehun menganga. "Oh. Maaf."
"Tidak apa – apa. Aku mungkin akan melakukan hal yang sama jika kupikir ada seorang bajingan yang mengganggu seorang wanita." Dia melirik ke arah toilet dan meringis. "Sialan, aku benci ketika dia marah padaku. Aku hanya tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk memperbaiki kesalahan, kau tahu?"
Sehun menggeserkan kakinya, merasakan percakapan mulai mengarah ke area emosional, yang mana Sehun selalu mencoba untuk menghindarinya apapun yang terjadi. Mengangkat satu tangannya keatas. "Hei, itu benar – benar bukan urusanku."
Tapi saat kata – kata itu meninggalkan bibirnya, Sehun yakin Kris tidak memperhatikan apa yang dikatakannya. Ekspresi kesedihan dari wajah Kris seolah mengatakan kalau Sehun tidak akan lolos tanpa mendengarkan semua kisah dramatisnya, kecuali benar – benar melarikan diri darinya.
Sambil menghela nafas, Kris mengusap rambut hitamnya. Dengan suara rendah, "Dia tergila – gila soal anak semenjak dua tahun terakhir ini. Karena aku menyayanginya, aku berjanji padanya akan menjadi ayah dari anak yang akan dikandungnya dan menyumbang sperma untuk alasan itu."
Oke mungkin itu bukan cerita yang diharapkan Sehun. "Jangan bilang padaku kau ketakutan ketika akan berhubungan seks?"
Kris merengut padanya." Hahaha, brengsek, benar – benar lucu. Sekedar informasi untukmu, hal itu akan dilakukan di klinik."
"Dimana letak kesenangannya?" kata Sehun sambil merenung, dengan senyuman licik.
"Hei, aku gay, ingat?"
"Maaf."
Untuk alasan yang tidak dipahami, Sehun begitu tertarik dengan cerita itu, dia merasa perlu meminta Kris untuk melanjutkan ceritanya. "Jadi apa yang terjadi."
Kris mulai menceritakan semuanya kepada Sehun, permasalahan kekasihnya –Tao, yang tidak siap memiliki anak, dan perihal Luhan yang tidak mau sembarangan memiliki percampuran mengerikan dimana pilihan sampel donor utamanya ditukar dengan pembunuh berantai.
Sehun menyeringai. "Kurasa aku bisa memahami pikiran Luhan."
Sebuah dengungan berbunyi disaku Kris. Ia merongoh saku untuk mengeluarkannya."Ah ini dari kekasihku. Aku benar – benar harus pergi." Tatapannya sekali lagi kearah kamar mandi. "Tapi aku benci untuk meninggalkan. . ."
"Kau pergi saja. Aku akan mengantarnya sampai dia masuk ke mobilnya dengan aman."
"Benarkah? Itu bagus sekali." Kris mengulurkan tangannya. "Senang berkenalan denganmu. . ."
"Oh Sehun."
"Wu Yifan, tapi teman – teman biasanya memanggilku Kris" Sehun hanya tersenyum menanggapinya. "Terimaka kasih atas semua bantuanmu dan maaf untuk semua kesalah pahaman pada situasi ini."
Saat telepon berdering kembali. Kris mengernyit dan melambaikan sedikit tangannya sebelum berangkat pergi menjauh dari Sehun. Mendorong pintu kaca dan menghilang dalam kegelapan malam. Sehun mulai melintasi lobi menuju toilet. Dan mengetuk.
.
.
.
"Pergilah Kris! Tidak ada lagi yang harus kukatakan padamu! Belum lagi, kau baru saja mempermalukanku setengah mati di depan salah satu bajingan terbesar di perusahaan ini!" dengan suara melengking Luhan berteriak.
"Aku tidak akan meninggalkan toilet ini sampai aku tahu kau pergi!" sambungnya.
Sehun mendesah. Luhan gadis yang memiliki tekad, itu sudah jelas, belum lagi dia tampak keras kepala.
Di dalam pikiran Sehun terlintas kembali bagaimana cantik dan seksinya Luhan saat terlihat di pesta Natal itu, bagaimana gaun hijau ketat yang ia kenakan menempel di lekuk tubuhnya yang membuatnya tampak sangat menarik. Ketika ia melihatnya melintasi ruangan dengan beberapa teman perempuannya, Sehun telah bertekad untuk menghabiskan malam bersamanya. Senyuman malu – malu dan lirikan ke arahnya melalui bulu matanya yang lentik seolah mencemooh Sehun yang mendekat untuk menutup jarak diantara mereka. Tentu saja, pada saat Sehun tiba di sampingnya, teman – temannya yang suka ikut campur sudah memberitahu Luhan tentang reputasinya yang meragukan sebagai seorang yang suka membuat patah hati wanita dan seorang playboy.
"Dasar wanita," gumamnya pelan saat Sehun mendorong pintu toilet.
Luhan terduduk di atas kain tenun yang menutupi bangku panjang dengan tisu towel yang membasahi matanya. Di satu sisi, roknya tertarik sampai ke tengah pinggulnya, memberi sebuah pemandangan kaki dan paha yang menakjubkan. Pada saat terdengar suara langkah kaki, Luhan mendengus dengan frustasi. Dia mengacungkan jari telunjuknya ke depan.
"Aku bersumpah jika kau tidak meninggalkan aku sendirian, aku akan menendang bolamu dengan sangat keras, tidak akan ada lagi pertanyaan tentang apakah kau bisa menjadi ayah dari anak – anakku lagi!"
Sehun terkekeh. Semua sikap malu – malunya menguap dalam sekejap ketika gadis itu mengatakan kepadanya dengan gamblang bahwa ia tidak punya keinginan untuk menjadi salah satu gadis yang mudah dia taklukkan atau hubungan satu malam.
"Sebenarnya, aku bukan Kris."
Saat mendengar suara orang asing, Luhan menarik tisu towel menjauh dari matanya. Rasa ketakutan menyapu wajahnya saat melihat Sehun berdiri di hadapannya. Dengan cepat, Luhan menyentak roknya ke bawah dan merapikan rambutnya yang acak – acakkan dengan jarinya.
"Aku tidak berharap bertemu dengan anda, tuan Oh Sehun,"
Sebuah seringai muncul di wajah Sehun. "Tidak, aku membayangkan kau berharap akan mengebiri Kris."
Pipi dan leher Luhan memerah sewarna dengan rambutnya. "Aku minta maaf, anda terpaksa mendengar itu, dan aku sangat menyesal anda juga harus ikut terseret di tengah – tengah argumen kami. Seberapapun memalukannya, aku menghargai apa yang coba anda lakukan."
"Aku senang bisa membantu."
"Um, aku sangat berterima kasih. Dan aku meminta maaf telah mengacaukan malam anda."
Tidak pernah luput menggunakan sebuah kesempatan, Sehun menyeringai. "Kau tidak merusak. Bahkan, malam masih panjang. Jadi. . . izinkan aku membelikanmu minuman, bagaimana?"
Luhan memutar tisu towel di tangannya sebelum melemparnya ke tempat sampah. "Um, baik sekali tawaran anda, tapi hari ini sangat berat dan melelahkan. Aku mungkin harus segera pulang."
"Kita bisa berjalan tepat di seberang jalan ke tempat O'Malley." Di saat keraguan Luhan berlanjut, Sehun tertawa. "Aku berjanji itu bukan suatu tawaran untuk memberikanmu alkohol dalam kondisi emosional lemah agar bisa mengajakmu pulang denganku." Diam – diam, Sehun berharap minum satu atau dua gelas mungkin bisa mencairkan lapisan es Luhan dan memberinya kesempatan bergerak untuk meraup keuntungan.
Sehun tidak terlalu terkejut ketika perasaan syok membanjiri wajah Luhan. "Benarkah?"
Dia menyilangkan jarinya di atas hatinya. "Aku berjanji," katanya berbohong.
Sudut bibir luhan tertarik keatas seolah dia sedang menahan senyuman. "Baiklah. Setelah aku mengalami hari ini, aku pastinya memerlukan minuman."
Luhan melirik ke belakang cermin, yang tepat berada dibelakangnya. "Oh, aku benar – benar berantakan. Bisakah anda memberiku waktu beberapa menit untuk merapikan diri?"
"Tentu saja, aku akan menunggu diluar."
.
.
.
Dengan senyuman khasnya, Sehun menahan pintu masuk O'Malley terbuka untuk Luhan. "Biar kutebak. Karena bersamaku, kau tidak merasa khawatir tentang sekelompok bajingan yang sedang mabuk akan menggodamu."
Tepat. Mungkin hanya satu bajingan yang sedang mabuk. Sambil melirik ke arah Sehun. "Tergantung seberapa banyak yang kau minum."
Mata Sehun melebar sebelum dia tertawa. "Aku akan mencoba menjaga diriku sendiri."
Seorang wanita muda berambut pirang berdiri di depan meja penerima tamu. Dia tersenyum lebar saat melihat Sehun dan membetulkan bajunya untuk memberinya pemandangan yang lebih baik pada belahan dadanya. Sehun menghargai usahanya dengan memberikan sebuah senyuman.
"Bisakah kami mendapatkan satu tempat, Soyou?"
"Tentu, Sehun. Ikut aku." Saat Soyou berjalan sambil menggoyangkan pinggulnya di depan mereka, Luhan memutar bola matanya malas pada Sehun yang meresponnya dengan mengedipkan matanya. Soyou menunjukkan tempat duduk pada mereka di meja remang – remang di belakaang bar, sambil menyerahkan buku menu, kemudian menatap langsung ke arah Sehun.
"Sampai jumpa!" ucap Soyou sambil mengedipkan mata genitnya kepada Sehun.
Sehun memberikan lambaian kecil kemudian mengalihkan perhatiannya ke menu. Merasakan tatapan panas Luhan, Sehun kembali melihatnya.
"Apa?"
"Tidak apa – apa." Gumamnya.
"Jika tidak apa – apamu menganai Soyou, aku sudah bilang aku sering datang kemari."
"Aku tidak mengatakan apa – apa." Luhan membantah.
"Kau tidak harus mengatakannya Luhan. Tatapanmu yang mematikan itu sudah cukup memberikanku jawaban." Sehun menyeringai kearahnya. "Karena aku tahu kau ingin bertanya, Soyou bukan salah satu dari gadis yang ingin kutaklukkan, dan aku tidak pernah melihatnya di luar O'Malley. Selain itu, ayahnya pemilik tempat ini, dan ia tidak akan ragu untuk menendangku!"
Untuk beberapa alasan, Luhan mendengar pernyataan itu sangat melegakan. Namun dia berhasil menjaga wajahnya benar – benar tanpa ekspresi sambil mengangkat bahunya. "Itu bukan urusanku."
Sehun hanya tertawa kecil. Tidak lama kemudian seorang pelayan mendatangi meja mereka, mencatat semua pesanan yang dipesan oleh Sehun. Luhan menyandarkan sikunya diatas meja dan menempatkan kepalanya di tangannya. Sebuah napas panjang kejengkelan lolos dari bibirnya.
"Hari yang buruk?"
"Tidak ada yang khusus. Hanya saja rasanya lebih sulit daripada apa yang ada didalam pikiranku."
"Karena kau menginginkan bayimu sendiri?"
Luhan tersentak dan hampir menjatuhkan margaritanya. "Tunggu, bagaimana kau bisa. . ."
"Kris telah bercerita padaku."
Luhan melebarkan matanya saat aliran hangat menari – nari melewati pipi dan lehernya. "B-Benarkah? Apa lagi yang dia katakan?"
Sehun meneguk minumannya lagi sebelum menjawab. "Dia mengatakan dia seharusnya menjadi ayah bayimu, tapi dia membatalkannya."
Meskipun Luhan hanya sekali meneguk minumannya, ruangan seakan – akan miring dan berputar di sekelilingnya. Luhan menggelengkan kepalanya, mecoba membebaskan dirinya dari mimpi buruk dengan mengalihkan pembicaraanya. Ini tidak boleh terjadi. "Aku akan membunuhnya!"
"Kau tidak perlu melakukan itu, Luhan."
Luhan membungkuk dimana wajah mereka hanya terpisah beberapa inci. "Karena kau pikir, kau tahu segalanya, katakan padaku apakah kau memahami hal ini. Pernahkan kau menginginkan sesuatu yang begitu buruk sehingga kau berpikir kau akan mati jika kau tidak memilikinya? Hanya memikirkan itu saja akan terus membuatmu terbangun di sepanjang malam. Kau tidak bisa tidur, tidak bisa makan, tidak bisa minum. Kau begitu termakan oleh keinginan itu, tidak ada hal lain yang penting dan kau tidak yakin hidupmu akan layak jika kau tidak dapat memilikinya. "Air mata kepahitan menyengat matanya, dan dia menggigit bibir bawahnya agar tidak terisak tepat di depan Sehun.
Sementara Sehun tetap diam, Luhan menggelengkan kepalanya dan bersandar kembali di kursinya. "Ck! Aku tidak percaya, Aku telah menceritakan semua masalahku kepadamu. Seorang pria seperti dirimu tidak mungkin bisa memahami perasaan bagaimana menginginkan seorang bayi sepertiku."
"Tidak, aku mengerti. Aku benar – benar mengerti, Luhan."
"Aku sangat ragu."
Perlahan – lahan, senyuman bergairah menyelinap di wajah Sehun. Sebuah senyuman yang mengirimkan kehangatan ke pipi Luhan serta membuatnya menggeliat di kursinya. "Aku sangat menginginkan dirimu di pesta Natal, kurasa aku akan mati ketika kau menolak untuk pulang denganku."
Nada suara serak Sehun membuat Luhan terkejut. "A-Apa?"
Sehun menggeserkan kursinya begitu dekat dengan Luhan, sehingga membuat Luhan menahan reaksi untuk menjauhinya. Luhan terkesiap oleh kedekatan Sehun. Kilauan penuh gairah menyala di matanya membuatnya seperti si Big Bad Wolf (tokoh serigala besar dan jahat di cerita fiksi) menjulang di atas Luhan.
"Seberapa jelas aku harus katakan? Kau begitu sialan seksi dengan gaun hijau itu. Rambutmu terurai jatuh bergelombang di sekeliling bahumu. Dan kau terus memberiku senyuman kecil polos dari seberang ruangan." Nafas Sehun serasa meghanguskan pipi Luhan sebelum ia berbisik di telinganya.
"Aku tidak pernah ingin berhubungan seks dengan seseorang sebegitu inginnya seperti aku menginginkanmu, Luhan."
Luhan mendorong Sehun menjauh dengan kekuatan yang bisa dia kerahkan. "Ya Tuhan, kau seperti seorang bajingan yang egois! Aku terbuka padamu dengan menceritakan keinginanku untuk memiliki seorang anak dan kau mengatakan kau ingin untuk. . . untuk. . ."
Sehun menyilangkan tangannya didadanya. "Kau sudah dewasa, Luhan. Tak bisakah kau mengatakan seks?"
"Kau benar – benar menjijikkan." Luhan mencengkeram pinggiran gelasnya dan menyipitkan matanya ke arah Sehun. "Jika aku tidak sangat membutuhkan sisa margaritaku, aku akan menyiramkannya ke wajah aroganmu!"
Sehun tertawa melihat kemarahannya. "Sekarang apakah itu caranya berbicara dengan ayah masa depan dari anakmu?" Luhan tersentak.
"Aku sedang membicarakan mengenai sebuah proposisi (usulan) bagi kita berdua untuk mendapatkan sesuatu yang benar – benar kita inginkan. Aku akan memberikanmu sedikit, dan kau memberikanku sedikit pula."
"Apa maksudmu?"
"Aku sedang menawarkan DNA-ku untukmu, Luhan. Kris bilang kau menolak pergi ke bank sperma karena kau mungkin berakhir dengan membawa bibit setan, jadi kurasa aku bisa menjadi kandidat yang baik."
Luhan melebarkan matanya saat gelombang rasa terkejut menggulung keras dirinya. "Kau tidak mungkin serius."
"Tentang bagian yang mana? Aku sebagai pendonor atau aku pilihan yang lebih baik daripada bibit setan?" tanyanya sambil menyeringai nakal.
"Keduanya. . . tapi terutama kau ingin mendonorkan spermamu untukku."
"Ya, aku serius Luhan."
"Apa kau tahu syarat untuk menjadi pendonor sperma?"
Sehun menyeringai kearahnya. "Aku punya ide yang cukup bagus."
"Ini adalah komitmen yang sangat besar Sehun."
"Tenanglah, kita bicara tentang masturbasi ke dalam cangkir plastik, bukan menyumbangkan sebuah organ tubuh. Dan aku yakin aku bahkan kandidat yang lebih baik daripada Kris."
"Dan bagaimana kau bisa yakin seperti itu?"
"Semua orang menginginkan seorang anak yang sehat, cerdas, dan menarik, bukan? Well, aku baru saja mendapat surat keterangan sehat dari hasil tes kesehatan tahunan perusahaan. Keluargaku tidak memiliki riwayat penyakit berat apapun atau sakit jiwa. Aku lulusan tertinggi dari Universitas Georgia, dan aku memiliki gelar MBA." Sehun mengedipkan matanya kearah Luhan. "Dan kupikir sangat tepat untuk mengatakan aku membawa beberapa gen tampan dan perkasa ke dalam gambaran itu."
"Aku tahu itu. Ck!"
"Ini hanya proposisiku, Luhan. Aku menawarkan untuk menjadi ayah dari anakmu, dan sebaliknya, kau harus berjanji hamil denganku secara alami."
Ketakutan menyelimuti Luhan, membuat dirinya sampai bergidik. "A-Alami? Seperti kau dan aku. . . melakukan hubungan seks?"
"Kebanyakan wanita akan mengatakannya sedikit lebih menarik daripada apa yang baru saja kau katakan." protes Sehun.
Luhan menggeleng marah. "Aku tidak bisa berhubungan seks denganmu!"
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa."
"Kau harus memberiku sebuah alasan, Luhan."
Luhan menunduk menatap serbet kertas, yang kini sudah robek diatas pangkuannya, dan mencoba untuk mengendalikan emosi – emosinya.
"Setelah Joongki –tunanganku, tewas, aku menutup diri selama satu tahun. Kurasa kau bisa mengatakan aku seperti mayat hidup. Bangun tidur, aku berangkat kerja, dan pulang kerumah. Kemudian saat aku mulai melihat sinar matahari lagi, ibuku didiagnosa menderita kanker. Dia benar – benar seperti duniaku, dan selama delapan belas bulan, seluruh hidupku kugunakan untuk merawatnya." Air mata menguburkan matanya. "Kemudian dia meninggal."
Saat melihat ekspresi ketakutan Sehun, Luhan tersenyum dan kemudian berdiri. "Well, terima kasih untuk minumannya dan. . . sudah bersedia mendengarkan ceritaku."
Kemudian Luhan melakukan sesuatu yang mengejutkan dirinya sendiri. Dia membungkuk dan mencium pipi Sehun. Ketika Luhan menarik diri, mata Sehun melotot. "Selamat malam." Gumam Luhan sebelum terburu – buru keluar bar.
.
.
.
Udara musim panas seakan menampar wajahnya saat Luhan mulai berjalan memasuki malam yang telah larut. Emosi maupun fisiknya terkuras habis, kakinya terasa goyah, dan Luhan agak tersandung di trotoar yang tidak rata. Baru saja memasuki gedung parkir yang remang – remang ketika seseorang menyambar lengannya. Luhan berbalik dengan menggunakan semua kekuatannya, kepalan tangannya tertuju pada wajah penyerangnya. Sangat keras.
"Ah! kau memiliki pukulan tangan kanan yang baik." Sehun mengerang, lalu membawa tangannya ke mata kanannya.
"Ya Tuhan, Sehun! Aku minta maaf, aku tidak tahu jika itu kau." Terkejut Luhan saat melihat penyerangnya adalah Sehun.
"Tidak apa – apa. Aku sangat bodoh tidak memanggil namamu terlebih dahulu." Sehun mengintip kearahnya dengan satu mata.
"Mobilku diparkir di sini." Lanjutnya.
"Oh iya, benar juga." Gumam Luhan merasa seperti seorang idiot.
"Dan aku berjanji pada Kris, aku akan memastikan kau sampai ke mobilmu dengan selamat Luhan."
Luhan berusaha melawan debaran jantungnya melihat kebaikan hati Sehun. "Terima kasih." Lalu Luhan menunjuk kearah lorong yang menurun. "Mobilku disana."
"Aku bisa mengantarmu." Ketika Luhan menatapnya dengan sinis, Sehun menyeringai. "Untuk membuktikan etika kesopanan seorang pria pada seorang wanita."
"Oke, kalau begitu." Jawabnya santai, lalu berjalan mendahului Sehun.
Suara sepatu mereka bergema di lantai beton, mengisi kesunyian tempat parkir. Tidak membutuhkan waktu lama, mereka sudah tiba di samping mobil Accord milik Luhan. "Well, disinilah mobilku."
"Kris akan bangga, aku bisa membuatmu aman tidak kekurangan apapun sampai disini."
Luhan mendengus saat ia merogoh kunci keluar dari tasnya. "Jika dia masih hidup untuk melihatku besok, setelah mengoceh banyak kepadamu seperti yang dia lakukan. Aku terkejut dia belum mencopot papan billboard bertuliskan. 'Tolong Hamili Temanku!"
"Jangan terlalu keras padanya, Lu. Dia sangat peduli padamu."
Mata Luhan membelalak karena terkejut mendengar kelembutan nada suara Sehun. "Aku tahu." Mereka berdiri dengan canggung sejenak, saling menatap. "Well, terima kasih sekali lagi untuk malam ini dan untuk menemaniku berjalan sampai ke mobilku."
"Sama – sama."
Sementara Luhan menekan tombol unlock pada remote alarm mobilnya. Sehun mulai berjalan menjauhinya, tetapi kemudian ia berhenti. Sehun berbalik sambil menggelengkan kepalanya. "Oh persetan!" geram Sehun.
Menarik Luhan yang sedang lengah, Sehun mendorongnya ke mobil. Sehun membungkus tangannya di sekeliling pinggang Luhan, menyentaknya menempel pada Sehun. Aliran listrik menggelitik menjalari Luhan karena sentuhan Sehun, dan aroma tubuhnya menyerang lubang hidungnya, membuatnya merasa pusing.
"Apa yang kau–"
Sehun membungkamnya dengan membungkuk diatasnya dan bibirnya melumat bibir Luhan. Luhan memprotes dengan mendorongkan tangannya ke dada Sehun. Akan tetapi kehangatan saat lidah Sehun membuka bibirnya, membuat Luhan tidak berdaya. Lengan Luhan jatuh lemas di sisi tubuhnya.
Tangan Sehun menyapu dari pinggangnya sampai punggung. Sehun melilitkan jari – jarinya disela – sela rambut Luhan yang panjang saat lidahnya masuk ke dalam mulutnya, membelai dan menggoda Luhan. Tangan Luhan naik membungkus leher Sehun, menariknya lebih dekat dengannya. Ya Tuhan, sudah begitu lama Luhan tidak dicium oleh seseorang, dan Joongki setelah seminggu baru tumbuh keberanian untuk menciumnya seperti ini. Tapi Sehun sangat panas dan ciumannya terasa nikmat, dia orang pertama yang tidak perlu menunggu untuk melakukannya.
Menggunakan pinggulnya, Sehun menahan Luhan dan menjepitnya di mobil saat ia melumat bibirnya. Tepat pada saat Luhan pikir dia tidak bisa bernafas dan akan pingsan, Sehun melepas bibirnya. Menatap ke arah Luhan dengan mata tajamnya yang berkabut dan mabuk akan gairahnya, Sehun tersenyum, membelai pipi merah Luhan. "Mungkin ini akan membantumu mengambil keputusan."
Kemudian Sehun menarik diri dan memulai berjalan kembali menuruni lorong meninggalkan Luhan yang meleleh, kacau, dan sendirian sedang bersandar di mobil.
.
.
.
TBC
.
.
.
08 Agustus 2016
makasih buat temen – temen yang udah review, fav, dan follow ff ini. oiya kemaren juga ada yang nanya, ff ini GS atau YAOI? ff ini GS yaaah for UKE! kenapa GS? Soalnya aku lebih nyaman dan suka kalau baca yang GS. Kkkk~
Special thanks to:
Jamurlumutan462 | rasyaa | Selenia Oh | hun12han20selu | yehethun | Juna Oh | AsmaraAra | Seravin509 | huangfe | ruixi1 | Nilasari247 | keziaf | exindira | Hunna04 | hellenfaringga | fuckyeahSeKaiYeol | Arifahohse | danactebh
.
.
.
with love, apricaa
