Chapter 2
Lollipop's Love
Disclaimer Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Teen Ficiton
Rate : T
Main cast : Sasuke, Sakura
Cast lain menyusul . . . .
Pair : Sasusaku
Warning : AU, OOC, abal, bahasa non formal, ngebingungin, gaje, Typo(s), jelek, alur pasaran, dll
Summary :: Berawal dari Lollipop rasa tomat yang menurutku aneh. Berawal pula dari rasa penasaranku akan rasa dari permen bergagang itu. Hingga berujung pada cinta kepada seseorang yang begitu menyukai lollipop tomat. [Bad Summary]
.
.
~DON'T LIKE, DON'T READ~
~NO BASHING, NO FLAME~
~AND DON'T COPY THIS FF WITHOUT MY PERMISSION~
.
.
Happy Reading~
.
.
Oke, di chapter sebelumnya sempet lupa mau nyantumin beberapa kosakata yang pasti sudah kalian tau, tapi biar afdol author cantumin disini.
BEM : Badan Eksekutif Mahasiswa. Organisasi kemahasiswaan yang ada dikampus. Biasanya orang-orang ini yang mewakili aspirasi mahasiswa, membentuk event-event kampus, singkatnya semacam OSIS
UKM : Unit Kegiatan Mahasiswa. Singkatnya, Ekstrakurikuler
Italic : Flashback
Bold : Inner
[Uchiha Sasuke]
Oke, disinilah aku berada. Di kediaman Haruno, tepatnya didepan ayah Sakura. Aku memang sedikit gugup dibuatnya apalagi dengan tatapan menyelidiknya.
"Berhentilah menatapnya seperti itu, tou-san" ucap seorang gadis dari arah tangga lantai dua. Aku bisa melihat gadis pink itu baru saja turun dari kamarnya. Penampilannya sederhana namun nyaman dipandang. Hah? Barusan apa yang kukatakan tadi? Baiklah lupakan!
Ia berjalan pelan menghampiri ayahnya dan duduk disampingnya. "Hahaha.. Baiklah anak muda maafkan aku. Jadi.. apa yang membuatmu datang sepagi ini kerumahku, Uchiha?" ia mengubah ekspresi mengintimidasi tadi menjadi ekspresi yang biasa. Iya biasa, tidak datar, tidak juga garang. Tak ada ekspresi yang berarti. Aku menarik nafas sejenak.
"Saya ingin meminta izin kepada anda untuk membawa Sakura berlibur di vila saya." ucapku tegas. Ya laki-laki memang harus tegas 'kan?
"Hanya berdua?"
Aku menggeleng pelan. "Bersama teman-teman kampus. Karin dan Itachi-nii juga akan ikut."
"Berapa lama kalian akan disana?"
"Belum kami pastikan. Tapi yang pasti tidak lebih dari seminggu. Mungkin 3 sampai 4 hari."
"Nyalimu besar juga membawa anak gadisku pergi berlibur selama itu tanpa pengawasanku." Aku sedikit tersentak namun tetap tertutupi oleh ekspresi datarku. Aku harus bisa membawa Sakura.
"Aku akan menjaganya disana. Ada Itachi-nii yang menjaga Karin. Dan akan kupastikan Sakura aman bersamaku."
"..."
Aku melirik Sakura yang duduk dengan tenang. Gadis ini memang berbeda dan aku sadar sejak pertama kali kita bertemu di ruang BEM. Aku kembali menatap Ayah Sakura.
"Mereka berdua adalah harta ku yang berharga. Kalau sampai sesuatu terjadi pada mereka, akan kupastikan kau membayarnya dengan mahal, Uchiha!" ucapnya tajam. Aku menganggup mantap.
"Aku takkan mengecewakanmu."
Kulihat ia menghela nafas pelan. "Sakura, temani anak ini jalan-jalan atau pulangkan dia." Ia segera beranjak pergi setelah sebelumnya ia tersenyum sangat tipis kepadaku. Ayah ini punya cara sendiri untuk mengizinkan. Tapi aku Uchiha, dan Uchiha akan selalu mendapat apa yang diinginkan.
Dan disinilah aku, di taman yang tak jauh dari rumah Sakura. Aku memutuskan untuk mengobrol sebentar dengannya.
"Sekali lagi maafkan ayahku, Sasuke-senpai" Sakura memandang lurus kearah air mancur mini yang berbentuk cupid.
"Aku memaklumi itu. Kau mempunyai ayah yang hebat." Kulihat ia tersenyum tipis.
"Oya, kapan kita akan berangkat ke Osaka?"
Aku berfikir sejenak. "Mungkin 3 hari dari sekarang. Kau punya waktu untuk mempersiapkan semuanya."
"Baiklah, apa yang lain sudah tahu?"
"Kurasa belum. Akan ku beritahu yang lain nanti malam di grup chat"
Sakura mengangguk dan tersenyum. "kau harus tetap hidup sampai hari itu tiba"
"Kau fikir aku penyakitan? Aku harus pulang, sampaikan salamku pada yang lain." Aku beranjak dari bangku taman dan menuju mobil yang terparkir didepan rumahnya.
aku meng-klakson sebagai tanda pamit dan segera pulang. Aku ingin segera istirahat karena berhadapan dengan ayahnya benar-benar menguras tenaga.
.
.
[Author POV]
Sakura sedang memetik gitar kesayangannya. Bibirnya bergumam mendendangkan lagu yang terdengar merdu. Suaranya yang halus serta melengking indah saat nada tinggi benar-benar indah di dengar. Sakura adalah anak paduan suara dengan tipe suara sofran terbaik disekolahnya dulu.
Lampu indikator di smartphone-nya berkedip tanda ada pesan masuk. Ia membuka akun Line-nya dan tersenyum.
Sasuke U : 3 hari dari sekarang kita berangkat ke Osaka
Ino Y : Serius? Yeay! Liburaaan! Pantai!
Naruto U : Good job teme! Bagaimana perasaanmu setelah menghadap calon mertua tadi?
Sasuke U : Tak ada yang terjadi di rumah Sakura.
Karin H : Sasuke tadi kerumah? Sakura jahat!
Sakura H : Apa penting memberitahumu, Karin-nee?
Sai S : Kufikir Naruto tadi tidak ada menyebut nama Sakura
Sakura terkikik geli melihat isi chattingan teman-temannya. Benar-benar ramai.
Sasuke U : Berisik!
Itachi U : Baka-otouto sudah besar :D
Ino Y : Sepertinya sukses ya acara pendekatannya, Sasuke-senpai?
Mendadak Sakura memiliki ide jahil diotak jeniusnya. Ia menyeringai.
Sakura H : Sasu-senpai terlihat gugup tadi. Dia bahkan bilang akan menjagaku disana, aku akan aman bersamanya. Kalian harus lihat ekspresi seriusnya tadi. :D
Sasuke U : berisik, pinky!
Naruto H : CIEEEEE Sasuke sedang mengencangkan tali sepatunya, guys!
Kiba I : ayam itu maju selangkah demi meraih restu induk buruannya.
Ino Y : Kita akan dapat pajak jadian.
Itachi U : Ia bahkan konsultasi masalah pakaian dengan kaa-san semalam.
Sasuke U : Jangan mengada-ngada, aniki.
Sakura tertawa terpingkal-pingkal. Ia benar-benar puas mengerjai senpai ayamnya itu.
Itachi U : Sikat otouto! Sakura masih perawan kok.
Sakura H : APA HUBUNGANNYA! -_- bhay!
Sakura mematikan paket datanya dan pergi tidur. Percakapan calon kakak iparnya benar-benar membuatnya panas.
Hari dimana mereka berlibur tiba. Itachi dan Sasuke sudah ada di ruang tamu kediaman Haruno.
Tak lama Karin dan Sakura turun. Mereka tampak cantik mempesona seperti biasa.
"Jaga putriku, Uchiha." Kizashi menatap tajam kedua Ucjjha muda itu. Mereka mengangguk.
"Tentu paman." Jawab Itachj mewakili.
Karin memeluk ayahnya di ikuti Sakura setelahnya. Mereka tersenyum hangat.
"Sampaikan salamku pada kaa-san ne. Kami pamit, jaga diri tou-san." Mereka berempat pergi menggunakan satu mobil. Jalanan yang lenggang membuat perjalanan mereka cepat sampai di tempat yang sudah di janjikan. Selama perjalanan, ini adalah permen lolipop ke empat yang sudah dimakan Sasuke. Sakura yang memperhatikan dari lolipop pertama hanya mendengus. 'Apa enaknya lolipop rasa tomat?'
Naruto mengemudikan mobil yang membawa Hinata, Sai, dan Ino untuk mengikuti mobil Itachi. Dibelakangnya ada rombongan Shikamaru, Temari, Neji, dan Tenten yang ikut melaju. 3 rombongan mobil itu membelah jalanan Konoha menuju Osaka.
Tujuan mereka adalah vila dan pantai pribadi milik Uchiha. Itu merupakan daerah keluarga yang memang khusus untuk liburan keluarga Uchiha.
3 jam berlalu, mereka akhirnya sampai di gerbang vila. Setelah memparkirkan kendaraan, mereka bergegas masuk. Para pria membawa beberapa tas para wanita. Mukade sudah menyambut mereka dengan wajah senang.
"Selamat datang tuan muda Uchiha beserta teman-temannya." Ia menunduk hormat diikuti pelayan yang lain. Itachi tersenyum.
"Kamar kami sudah siap semua?"
Mukade mengangguk sopan "Sesuai permintaan anda. Mari saya antar kalian ke kamar."
Semuanya mengikuti langkah kaki Mukade menuju kamar yang sudah disediakan. Sebuah kamar yang luas menyambut mereka. Satu kamar diisi oleh tiga orang. Terdapat sebuah ranjang king size dengan cat berwarna putih bersih. Ada sebuah lemari pakaian yang besar, sebuah penghangat ruangan, satu AC, dan kamar mandi yang luas lengkap dengan pemanas air.
Para wanita memakai dua kamar begitupun laki-laki. Sakura, Karin dan Ino berada di kamar yang sama. Sedangkan Hinata, Tenten, dan Temari ada di kamar sebelah. Kamar pria berada di hadapan mereka.
Pintu kamar Sakura diketok beberapa kali. Karin membuka pintu kamarnya.
"Ada apa? Sudah selesai membereskan pakaianmu?"
Itachi tersenyum. "Kau sendiri sudah selesai?" Karin mengangguk ragu. Dengan cepat, tangannya ditarik dan mereka pergi entah kemana tanpa pamit. Ino dan Sakura mendengus keras.
"Kelakuan kakak iparmu, jidat. Jangan-jangan adiknya si penggila permen rasa aneh itu sama sepertinya." Ino mengerling jenaka. Sakura mengedikkan bahu acuh. Ia segera mandi untuk membersihkan diri. Udara yang dingin benar-benar cocok dengan air yang hangat.
'Mereka punya tempat menenangkan fikiran yang tepat.' batin Sakura.
"Tunggu, Itachi-kun mau kemana?" Karin tengah bersusah payah menyamakan langkah kaki kekasihnya yang besar itu. Ia benar-benar lelah saat ini.
Itachi hanya diam dan mereka sampai disebuah tempat dimana terdapat banyak sekali bunga dihadapan mereka. Itachi berdiri bersama Karin tepat di ladang bunga.
"I-ini.. waw! Indah sekali Itachi-kun" seru Karin. Matanya berbinar kagum. Dihadapannya adalah taman bunga yang menakjubkan. Mirip seperti ladang yang cantik. Ada gerbang kecil yang ditumbuhi tumbuhan menjalar. Itu anggrek?
Ditengahnya terdapat air mancur berbentuk bunga Sakura. Seketika ia ingat adik tersayangnya.
"Kau suka sayang?" bisik pria sulung keluarga Uchiha tersebut.
"Sangat suka. Aku boleh masuk kesana kan?" Itachi mengangguk dan Karin berlari riang memasuki area kebun bunga. Bahkan ada ilalang juga disini. Benar-benar menakjubkan. Ah~ Sakura pasti suka tempat ini.
"Itachi-kun kemari-" ucapannya terhenti ketika ia melihat sebuah danau buatan kecil didalamnya. Lagi-lagi ia menganga. 'Berapa banyak tempat indah disini?'
"Ada danau juga? Aku suka kau mengajakku kemari." Itachi memeluknya dari belakang sambil sesekali mencium rambutnya.
"Hanya suka? tak ada lagi?" Itachi memasang wajah datar. Auranya yang tak mengenakkan benar-benar terasa bahkan tanpa harus dilihat membuat Karin terkekeh dan berbalik untuk menangkup wajah kekasihnya.
"Aku ba-ha-gi-a. Benar-benar bahagia. Aku fikir kita takkan liburan bersama tapi ternyata.. kau memang penuh kejutan, sayang." ucapnya lembut. Ia mengecup sekilas pipi Itachi. Itachi masih berekspresi sama.
"Hanya pipi?" baiklah, Karin benar-benar gemas kali ini. Bagaimana bisa kekasihnya ini begitu manja padanya?
"Kemana kekasihku yang biasanya cuek ini, hm?" Karin mengecup sekilas bibir Itachi. Uchiha sulung itu tersenyum samar. Ia melanjutkan ciuman Karin menjadi sebuah lumatan-lumatan kecil penuh cinta. Ah.. satu pasangan sedang berbahagia sore ini.
.
.
Mereka sudah berkumpul diruang makan yang luas. Berbagai makanan sudah tersedia membuat perut mereka meronta minta diisi. Hidangan pencuci mulut sudah selesai disajikan. Mereka pun makan dengan tenang sambil sesekali bercanda.
"Terimakasih makanannya" seru mereka sambil menyatukan kedua tangannya. Sakura beranjak berdiri dan membereskan sisa makan teman-temannya. Sudah menjadi kebiasaannya untuk selalu membereskan bekas masak. Ia mencuci piring dibantu beberapa pembantu vila.
"Anda tidak perlu membantu, Sakura-sama" bujuk sang pelayan. Sakura tersenyum.
"Tak apa, kali ini saja. Aku terbiasa seperti ini dirumah." Setelah selesai ia segera menyusul teman-temannya ke ruang tengah. Ia duduk disamping Karin.
"Liburan kita dimulai besok ya. Jadi, apa agenda kita besok?" Naruto memulai diskusi santai mereka.
"Bagaimana kalau voli pantai? Kulihat tadi ada lapangan voli" saran Temari. Tenten mengangguk setuju.
"Kita punya bola voli?" Tanya Sakura.
Semua mata tertuju pada Uchiha bersaudara. "Sepertinya kita punya dua."
"Yosh! Sudah di putuskan, besok kita akan bermain voli pantai." Naruto berseru penuh semangat.
Keesokkan harinya..
"Jadi peraturannya sama seperti voli biasa hanya saja tidak boleh satu tim dengan pacar atau gebetan." Ucap Naruto. Para wanita mendesah protes.
"Hn, boleh juga" Sasuke bergumam setuju.
"Tak ada salahnya berpisah sejenak kan?" Itachi menambahkan. Setelah itu permainan dimulai.
Temari cukup lihai men-serve bola. Ia merupakan gadis tomboy yang hobi olahraga. Jadi wajar saja bukan?
Permainan dimulai oleh tim Sakura yang terdiri dari Naruto, Neji, Temari, dan Ino. Kalian bertanya dimana Karin dan Itachi? Mereka ada dipinggir lapangan sebagai juri. Serve dilakukan oleh temari dengan baik. Bola melambung menuju Hinata. Dengan sedikit gugup ia memukul bola sedikit melewati net sampai di wilayah Sakura. Neji mengejar dengan cekatan dan bola terselamatkan.
Permainan berlanjut semakin seru. Mereka saling mengejar skor. Sakura menerima operan Sasuke dengan baik, ia melompat dan mengarahkan bola pada Sai secara menukik.
13:12 adalah poin sementara. Tim Sasuke memimpin dengan skor tipis. Kali ini Tenten yang melakukan serve. Bola melambung tinggi ke garis lapangan. Sakura mengejar dan secara tidak sengaja menginjak kerang.
"Aww.."
BUKKK
"Sakura!" Karin yang lebih dulu menghampiri dengan wajah khawatir.
Hinata menutup mulutnya. "Darah! Ambilkan kotak P3K" seru Karin. Sakura terlihat meringis menahan perih. Lukanya cukup dalam tepat di telapak kakinya.
"Ini tidak apa nee-chan. Kalian lanjutkan saja."
Semua mengerang protes. Bagaimana bisa mereka bersenang-senang jika Sakura terluka. Naruto menyiram luka Sakura dengan air agar pasir yang menempel hilang. Karin melanjutkan dengan memberikan alkohol dan mulai mengobatinya.
"Jangan menatapku seperti aku ini sakit parah. Ini hanya luka kecil." Protes Sakura. Ia benci dikasihani.
"Dan luka kecil yang kau bilang itu akan membuatmu tidak bisa berjalan dengan benar, Haruno!" Sindir Sasuke. Baiklah gadis musim semi itu terdiam tanpa membalas.
"Kita bisa istirahat dulu lagipula kita sudah bermain sampai 3 ronde." Naruto melerai dan semuanya duduk mengelilingi Sakura. Karin dan Ino memeluknya.
"Kufikir dua hari lagi lukanya akan sembuh. Jadi kegiatan apa yang akan kalian lakukan tanpaku besok?" Sakura membuka diskusi setelah hening hampir 20 menit.
"Biar Sakura-chan bisa ikut, bagaimana kalau kita naik jet ski?" Semua mata memandang Naruto heran.
"Kenapa?"
"Aku baru tahu kau punya ide yang cukup bisa diterima oleh akal sehat orang normal, Naruto." Ejek Ino. Yang lain mengangguk dan terkekeh geli.
"Hn, otakmu mengalami sedikit perkembangan, dobe"
"Aku tidak sebodoh itu tahu." Semua tertawa keras sebelum akhirnya kembali ke vila. Sakura dengan berat hati harus mau digendong Sasuke sampai ke kamarnya. Istirahatlah Sakura, terutama hilangkan rona merah bak tomat di wajahmu itu. Kkk~
Malam hari..
Ino baru saja menutup pintu kamarnya. Tiba-tiba suara Sai menginterupsi
"Hei, belum tidur?" Ino melirik jam di tangan yang menunjukkan pukul 10 malam.
"Sai-senpai, kau sendiri?" Sai tersenyum tipis. Ia menggandeng tangan Ino dan masuk ke kamarnya.
"Lho? Kenapa-"
"Ikut saja"
Sai membuka balkon kamarnya yang langsung mengarah kearah pantai. Kamarnya kini kosong. Neji dan Shikamaru sedang diluar entah dimana.
"Waw.. indah sekali padahal malam hari." Angin yang sejuk dan dingin menerpa kulit mereka berdua. Sai memeluknya dari belakang posesif.
"Sai-"
"Menurutmu kita ini sekarang seperti apa?" Sai bergumam pelan. Ino menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Maksud senpai?"
"Menurutmu hubungan kita saat ini seperti apa?"
Ino tak ingin menjawab. Lebih tepatnya ia tak ingin salah paham atas sikap lembut Sai selama ini.
"Apa kau tak merasakan sesuatu saat ini? Sesuatu yang meledak di hatimu? Atau apapun itu?"
"Aku tahu senpai paham apa yang kurasakan. Aku hanya tak ingin salah paham."
Sai tersenyum simpul. Ia seakan mendapat jackpot malam ini. Ia membalikkan badan Ino agar saling berhadapan. Manik hitam tajamnya menatap dalam manik biru Ino.
"Ino aku mencintaimu. Maukah kau menjadi kekasihku? Maaf aku bukan laki-laki yang romantis tapi aku akan memberikan kebahagiaan untukmu." Ia menggenggam kedua tangan Ino dan membawanya kedalam dekapannya tangannya tepat didepan dadanya sambil sesekali mengecupnya. Ino hampir saja menangis.
"Tentu. Aku tidak mungkin menolaknya." Ino tersenyum lembut begitupun Sai yang tersenyum tipis. Mereka berpelukan cukup lama.
Ino berbisik pelan "Tolong jaga aku, Sai-kun"
"Of course, my lady"
Mereka bertatapan cukup lama seakan-akan mereka sedang berbicara. Dengan satu gerakan Sai menyatukan kedua bibir mereka. Dengan lembut Sai menggerakan bibirnya untuk mengecup bibir gadis yang kini resmi menjadi kekasihnya. Ino mengalungkan lengannya di leher Sai tanpa ragu dan membalas ciumannya. Sedikit demi sedikit lumatan-lumatan lembut tercipta. Sai meraih pinggang Ino dan menariknya mendekat. Tak ada kegiatan lain untuk mereka selain bercumbu dibawah sinar bulan. Tubuh mereka kian menempel seiring angin malam yang semakin menusuk.
"Terimakasih" Lirih Sai.
Ino tersenyum kecil "Sama-sama, Sai-kun"
.
"N-naruto-kun" cicit seorang gadis manis berambut ungu dibelakangnya.
Laki-laki yang dipanggil Naruto itu menoleh. "Kau mencariku Hinata-chan"
"U-um" Hinata dengan rasa gugup dan wajah memerahnya masih berdiri kaku. Naruto tersenyum melihatnya.
"Mendekatlah Hinata-chan" Naruto menggapai tangan kekasihnya dan menuntunnya untuk duduk disampingnya.
Oh tak tahukah Naruto bahwa sudah banyak uap yang keluar dari dalam kepala Hinata?
"Hei, Hinata-chan?"
Hinata menoleh "H-ha'i, Na-naruto-kun?"
"Kau ingat pertemuan pertama kita?"
Flashback
Naruto berdecak kesal sambil beberapa kali mengatai Sasuke yang seenaknya saja meninggalkannya di kantin bersama gadis-gadis ganas itu. Ia kini sedang berjalan didaerah taman belakang sekolah. Mata birunya menangkap sesosok ah tidak ada 4 siswi sekolahnya yang sedang mengepung seorang gadis yang terlihat begitu ketakutan. Ia bergegas mendekat dan sedikit menguping percakapan mereka.
"Heh kau itu bisu atau tuli hah?!" Bentak salah satu siswi berambut coklat sebahu.
Gadis yang dibentak itu menunduk semakin dalam. 'Pasti salah satu fans Sasuke.' Batin Sasuke.
PLAKK
Naruto membulatkan matanya baru saja ia ingin menghampiri, tiba-tiba gadis berambut ungu itu menatap mereka.
Deg
'Cantik' Naruto sedikit tersenyum.
"Bagus tatap aku! Inget ya, jangan pernah melihat Naruto apalagi berniat mendekatinya. Karena Naruto milik kami."
"A-aku-"
PLAKK
"Hey kalian!" Keempat gadis itu membeku melihat wajah marah Naruto. Mereka langsung pergi meninggalkan Naruto dengan gadis baru itu ditaman.
"Hei, mana yang sakit?" Naruto memegang pipi kanan bekas tamparan fans nya.
"Mereka benar-benar mengerikan. Kenapa tidak kau lawan?" Naruto mengelus lembut bekas tamparan gadis-gadis tadi dengan tatapan... khawatir?
Hinata menunduk dan menangis.
"Siapa namamu?" Ucap Naruto lembut. Gadis dihadapannya memerah malu.
'Lucu sekali gadis ini. Manis' batin Naruto
"H-hyuuga Hinata" gadis itu sedikit tersenyum.
Naruto sedikit teringat kata-kata gadis-gadiz barbar tadi. "Hinata-chan, apa benar kau sering memandangiku?"
Blushh
Bagus sekali Naruto. Sekarang gadis itu memerah sempurna. Tak lama, Hinata pingsan dan langsung ditahan oleh Naruto.
"Lho? Hei Hinata-chan bangun. Hei kau kenapa? Duh yang benar saja dia pingsan hanya dengan pertanyaanku?" Naruto memutuskan untuk membawanya ke UKS dan membaringkannya disana.
Ia menelpon Sasuke. "Hei, teme aku di UKS" dan panggilan terputus.
Sasuke menatap datar ponselnya. Apa pedulinya huh?
Naruto memandangi gadis yang kini tidur dengan damai. 'Aku akan menjagamu, nona violet'
Flashback off
Naruto tersenyum dan Hinata semakin memerah. "Sejak saat itu aku memperhatikanmu, dan menjagamu jika kau sadar itu."
"A-aku tahu itu N-naruto-kun"
Naruto mengaitkan tangannya dengan tangan Hinata. Kekasihnya yang hampir 2 tahun menemaninya.
"Aku bahagia memilikimu, Hinata-chan"
"U-um a-aku juga."
Naruto menangkup pipi Hinata dengan tangannya yang lain. Hinata yang sedikit gugup pun tersenyum dan menutup matanya. Mendapat respon yang positif, ia mendekatkan wajahnya, memiringkan sedikit dan menggapai bibir tipis kekasihnya. Tak ada pergerakan yang berlebihan. Hanya sebuah kecupan kecil dan manis. Mereka benar-benar menyukainya.
Diujung sana, Neji mengepalkan tangannya.
"Sudahlah Neji-kun, biarkan Hinata-chan bahagia. Naruto bisa menjaganya." Ucapan lembut Tenten menyadarkannya. Ia menghela nafas berat. Penyakit sister complex-nya sudah mendarah daging rupanya.
Tenten menariknya pergi menjauh "Kenapa kita tidak jalan-jalan aja?"
Dan disinilah Neji dan Tenten berada yaitu sebuah kolam renang yang sepi. Suasananya tenang, sejuk dan juga temaram.
Mereka mendudukkan diri ditepi kolam renang sambil mencelupkan kakinya. Tenten menatap dalam diam wajah Neji.
"Ini sudah dua tahun Neji-kun, apa kau belum bisa melepaskan Hinata?" Sudah menjadi rahasia umum bahwa Neji sangat protektif kepada sepupunya.
"Bukan begitu, hanya saja aku yang menjaganya selama ini. Sulit merelakannya dengan laki-laki bodoh seperti Naruto."
Tenten tersenyum "Naruto bisa menjaganya. Buktinya dua tahun ini ia menjalankan tugasnya dengan baik. Kau harus percaya dengannya."
Neji diam tak menjawab dan Tenten pun tak ingin memperpanjang.
"Hei, aku penasaran. Kenapa kau memilihku?" Pertanyaan Tenten membuat Neji menoleh heran.
"Pertanyaan macam apa itu?"
"Sudahlah jawab saja."
"Apa kau pikir aku butuh alasan umtuk mencintaimu?" Nada dan tatapan tegas Neji membuat Tenten merona tipis. Pasalnya Neji tak pernah mengatakan hal berbau perasaan. Hanya sekali itupun ketika ia menembaknya. Ia mengalihkan pandangannya kearah lain.
Neji menyeringai. "Kau yang bertanya kenapa malah kau yang malu, hm?" Bisiknya.
Tenten merinding seketika. Menurutnya suara Neji terdengar seksi.
"A-aku hanya bertanya" Tenten mengerucutkan bibirnya kesal.
Neji memeluknya dari samping dan mengecup sesekali leher Tenten.
"Berhentilah menciumi leherku! Ini geli."
"Diamlah"
Didalam vila..
"Bangun pemalas." bentak Temari sambil menjitak kepala kekasihnya itu.
"Merepotkan. Kenapa aku harus bangun disaat cuaca sedang mendukung untuk tidur, huh?"
Temari memandangnya geram. "Apa hanya tidur yang bisa kau lakukan?"
"Kau mau apa, Temari?" Shikamaru tahu, Temari pasti ada maunya.
"Aku.. entahlah aku hanya ingin membuatmu bangun."
Shikamaru memandangnya datar. "Kau benar-benar merepotkan"
"Hei kenapa malah tidur lagi?!"
Shikamaru tak peduli dengan tingkah Temari yang menurutnya menyebalkan itu. Gadis itu bahkan kini niat sekali membangunkan dirinya.
"Hei pemalas jangan hanya tidur"
"Yak! Bangun Shika"
"Shikamaruuuuu! Bangun.. Mmmphh"
Shikamaru membungkam teriakan Temari dengan sebuah ciuman mendadak darinya. Temari yang masih duduk dengan Shikamaru yang setengah tiduran. Tangannya bertumpu untuk menyanggah tubuhnya.
"Apa harus ku cium dulu baru kau akan diam, hm?" Shikamaru menyeringai senang melihat ekspresi menggemaskan kekasihnya. Ia kembali mendekat dan mencium bibir Temari lagi, lagi, dan lagi. Ini akan menjadi hobi baru bagi Shikamaru sekaligus jurus untuk mendiamkan Temari yang rewel dikemudian hari.
.
.
.
Sakura sedang berkutat dengan buku sketsanya. Ia bersandar tenang di kepala ranjang sambil sesekali memandang langit malam. Langit merupakan sumber inspirasi terbesarnya selain hujan dan pemandangan yang apik. Ia sedang merancang model karakter untuk tugas menggambarnya di kampus. Sakura suka menggambar, ia juga suka menonton anime sebagai bahan inspirasi karakternya.
Tok tok tok..
"Masuk" seru Sakura dari dalam. Sasuke muncul diujung pintu dengan wajah datarnya. Ia masuk dan menutup pintunya. Sebuah permen yang Sakura yakini rasa tomat itu sudah bertengger manis di mulut Sasuke.
"Bagaimana kakimu?" Sasuke duduk disofa tak jauh dari ranjang. Tangannya menggapai buku didekatnya.
"Sudah lebih baik. Senpai suka membaca buku?" tanya Sakura.
Sasue mengangguk "Hn. Kau sedang apa?" Sakura memperlihatkan hasil rancangannya kepada Sasuke dan kembali menggambar.
"Aa.. tugasmu?"
"Ha'i senpai"
Suasana menjadi hening. Sakura sibuk dengan sketsanya sedangkan Sasuke sibuk dengan lolipop dan buku bacaannya. Tak ada yang berusaha untuk mencairkan suasana seakan-akan mereka menyukai keheningan ini. Sesekali Sakura melirik ke arah Sasuke yang masih setia dengan permen favoritnya.
Suara pintu terbuka menampilkan sosok Ino yang ceria. Dengan brutal ia menerjang Sakura dan berseru bak ibu-ibu memenangkan hadiah undian.
"Jidat! Kau tahu, aku baru saja jadian dengan Sai-kun. Oh God, aku bahagia sekali. Kau tahu-" ucapan Ino terhenti ketika melihat isyarat mata Sakura yang menyuruhnya diam sambil melirik ke arah Sasuke yang memperhatikan mereka. Ino berbalik dan meringis malu.
"Oh? Hai Sasuke-senpai hehe.. Sudah lama disini?" Ino duduk bersila dengan kaku. Sasuke bergumam 'hn' andalannya sebelum kembali membaca.
Ino spontan berbalik menghadap Sakura dan melotot ke arahnya. "Kenapa kau tidak bilang jika ada Sasuke-senpai disini?" bisik Ino kesal.
Sakura mengangkat bahu acuh seakan berkata 'Itu salahmu yang tidak melihat kiri kanan terlebih dahulu'
Sasuke bangkit dan meletakkan kembali buku yang dia ambil pada tempatnya. "Aku pergi. Istirahatlah"
Sepeninggal Sasuke, Ino menatap curiga ke arah sahabat pink-nya. "Apa?" tanya Sakura.
"Kenapa Sasuke-senpai ada dikamar kita? Oh lengkap dengan permen anehnya itu. Apa jangan-jangan kalian habis berbagi-"
"Dia hanya menjengukku Ino. Hentikan pemikiran konyolmu"
Mata Ino memicing "Jidat, rumor yang kudengar, Sasuke-senpai bukan tipikal orang yang mau repot-repot menjenguk orang apalagi seorang wanita. Hei, kalian ada hubungan apa?"
Sakura memutar mata jengah "Sudah kubilang ia hanya menjengukku. Apa yang aneh dengan itu?"
"Jelas saja aneh, Sakura. Yang kita bicarakan disini adalah Sasuke Uchiha si bungsu-"
"Ino cukup. Kita hanya teman. Kembali pada topik Sai-senpai, jadi itu alasanmu ke dapur dan tidak kembali lagi?" Sakura membahas kembali topik awal yang Ino bicarakan. Wajah Ino bersemu merah membuat Sakura tersenyum.
"D-dia membawaku ke kamar dan-"
"Dia membawamu ke kamarnya? Lalu apa kalian sudah melakukan-?"
Pletakk
"Kami belum sejauh itu, jidat" potong Ino. Wajahnya semakin memerah maksimal.
"Belum? tunggu! memang apa yang kau fikirkan Ino?
"Y-ya maksudku, kami tidak berhubungan seks. H-hanya sekedar c-ciuman saja"
Sakura terperangah mendengarnya. "Kau tau? Aku bahkan tidak memikirkannya sampai ke arah sana"
Ino mendelik. "Kata-katamu tadi menjebakku."
"Kau memotong ucapanku, jangan lupakan itu."
"Memangnya siapa duluan yang memotong perkataanku?" Sakura diam menyadari kesalahannya.
"Baiklah, kau yakin hanya sebatas itu?"
Ino mengangguk. "Hubungan kami bahkan belum sampai 24 jam jadi masih terlalu awal bagi kami untuk berhubungan badan."
"Maksudmu kau akan melakukannya nanti?"
"Um.. jika aku sudah yakin, aku akan memberikannya jika situasi memungkinkan."
Sakura mengangguk pasrah dan menutup buku sketsanya. Ia menatap Ino tajam.
"Kau yakin dengan keputusanmu ini?"
"Jika yang kau maksud adalah berpacaran dengannya, aku sudah yakin. Aku bahkan sudah memikirkan ini sejak beberapa minggu yang lalu."
"Ino aku tak mau-"
"Kau tenang saja, jidat. Aku akan bahagia. Kali ini Sai-kun takkan menyakitiku."
"Apa hobimu sekarang adalah memotong perkataan orang lain, huh? Aku harap ketika kalian ada masalah, kau tidak kabur lagi. Aku tidak ingin masalahmu nanti menghambat jalan karir dan kuliahmu." Ino tersenyum mendengar penuturan Sakura yang begitu dewasa. Ia sungguh menyayangi wanita di hadapannya ini.
"Aku akan berusaha." keduanya saling berpelukkan. Selalu ada perbedaan pendapat diantara mereka, namun rasa sayang mereka lah yang akan mendekatkan mereka kembali.
Hari ini cuaca benar-benar cerah. Rencana Naruto untuk bermain jet ski benar-benar terlaksana. Sekarang mereka sudah berkumpul lengkap dengan pelampung yang sudah mereka pakai dan jet ski yang sudah terparkir rapih. Pemandangan yang cukup langka adalah Sasuke tidak sedang memakan lolipop seperti biasa.
"Oke, kita naik berpasangan ya. Sakura-chan kau akan naik jet ski dengan teme. Teme, jaga Sakura-chan ya." Naruto mengedipkan sebelah matanya ke arah Sasuke yang dibalas tatapan datar bungsu Uchiha tersebut.
"Hei harusnya aku yang mengatakan itu padanya" protes Karin tak terima. Dia kan kakak kandung Sakura.
Semua hanya tertawa dan berjalan menuju jet ski masing-masing. Sakura berjalan dibelakang Sasuke. Pria tampan itu sudah naik di atas jet ski. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu Sakura naik.
"Kau siap?" Sasuke menoleh kebelakang. Sakura mengangguk mantap.
"Pegangan. Kita akan melaju menyusul yang lain" Sakura terkejut ketika tangannya dibawa melingkar ke pinggang Sasuke. Ia hanya diam dan Sasuke mulai menjalankan jet ski-nya.
Matahari masih belum sepenuhnya berada diatas kepala mereka. Angin yang sejuk, pantai yang bersih dan sepi, ditambah sensasi mengendarai jet ski yang wow bagi Sakura membuat pengalaman tersendiri untuknya. Oh ini adalah pertama kalinya ia naik jet ski dan parahnya bersama senior kampusnya yang paling diincar kaum hawa. Ia penasaran apa reaksi fans Sasuke jika tahu hal ini.
[Haruno Sakura]
Laki-laki yang ehem sedang ku peluk ini adalah Uchiha Sasuke, senior ku di kampus. Pria yang dingin, irit bicara, namun baik hati walaupun secara tak kasat mata. Jika kalian bertanya apa kami berpacaran maka jawabannya adalah tidak. Lalu kenapa aku memeluknya? Itu karena dia yang menyuruhku. Yah daripada aku jatuh dari benda bernama jet ski ini lebih baik aku memeluknya, kan? Aku masih ingin hidup, teman-teman.
Kami memutuskan untuk liburan di vila pribadi keluarga Uchiha yang memang berada dipinggir pantai. Ingatkan aku untuk meminta sebuah vila seperti ini kepada ayahku nanti. Selama mengendarai ini yang kurasakan adalah bahagia. Bahkan aku yakin pelukanku semakin mengerat seiring laju kendaraan ini yang semakin cepat ditambah rasa bahagia yang membuncah di hatiku.
Pasangan Hinata dan Karin-nee ada didepan kami, Ino, Temari-senpai dan Neji-senpai di belakang dan samping kiri kanan kami. Posisinya seperti aku yang berada ditengah-tengah mereka.
"Hei teme, apa hanya segitu kecepatanmu huh?" Naruto-senpai mulai memprovokasi.
"Kau tau aku membawa Haruno bungsu ini, dobe" teriak Sasuke-senpai. Sial sekali laki-laki berambut duren itu.
"Itu hanya alasanmu saja, teme" kulihat Naruto-senpai menyeringai. Baiklah aku muak dengan ini.
"Sasuke-senpai, kalahkan dia." bisikku tepat ditelinganya.
"Kau yakin?"
"Aku percaya padamu, senpai" dia tersenyum. Baiklah Naruto-senpai, lihatlah pertunjukan kami.
"Hei dobe, aku terima tantanganmu" teriak Sasuke.
Kulihat Karin-nee melotot. "Tunggu, biarkan Sakura bersamaku."
Aku mengacungkan jempol ke arah Karin-nee "Ini akan menarik, nee-chan."
Dalam hitungan ketiga, kami sudah melaju mengarungi luasnya pantai pribadi ini. Aku cukup terkejut dengan kecepatan bak suara ini. Aku semakin merapatkan tubuhku ke arah Sasuke-senpai. Bukan bermaksud modus tapi hanya untuk jaga-jaga saja. Dibelakangku, ada rombongan lain yang menyusul dan sekaligus mengawasi kami. Kuharap Hinata akan eh? pantas saja Naruto-senpai menantang kami karena Hinata kini aman bersama Neji-senpai dan Tenten-senpai. Sial! Sekali lagi aku di jebak.
Rute pertandingan dadakan kami adalah tempat awal hingga bendera merah lalu berputar kembali menuju tepi pantai dan harus diulang sebanyak 3 putaran. Jantungku berpacu semakin cepat ketika di belokan pertama, tidak! lebih tepatnya ketika tangan Sasuke-senpai memegangku saat di belokan pertama dan begitu terus sampai akhirnya kita sampai ditepi pantai.
Aku mengatur nafasku sejenak dan menyeringai. "Kau kalah, senpai"
"Ck, baiklah aku mengaku kalah. Teme memang susah di taklukan."
Karin memukul kepala Naruto "Kau ini, kalau adikku terlempar lalu di makan ikan hiu bagaimana?"
Aku memutar bola mata malas "Kau berlebihan Karin-nee. Sudah kubilang ini akan menarik. Lagipula, Sasuke-senpai sudah berjanji kepada tou-san untuk menjagaku. Aku akan aman bersamanya." aku menyeringai iblis sambil melirik ke arah Sasuke-senpai.
"Cieee restu sang pangeran kampus sudah didapatkan" semua mulai meledeknya. Aku tertawa dibelakangnya.
"Awas kau Haruno" gumam Sasuke-senpai sambil melirikku tajam. Mungkin gadis lain berfikir itu adalah tatapan pemikat yang mematikan. Tapi aku tidak akan terpengaruh.
"Jangan menatapku seperti itu. Aku takkan jatuh cinta padamu hanya tatapanmu, senpai"
.
.
.
TBC
Oke, chapter 2 update agak panjang dari chapter kemarin dan keliatan banget maksanya karena saya merasa chapter 2 benar-benar berantakan. Entah nyambung atau nggak tapi saya sudah berusaha dan semoga kalian suka sama chapter ini. Oke, dari awal sampe akhir kira-kira bagaimana menurut kalian? tolong kasih pendapatnya di kolom komentar ya..
Saya masih menunggu review/fav/follow dari kalian. Kritik dan saran juga sangat saya perlukan. Di chapter depan saya usahakan update cepat ya dalam arti saya berusaha untuk update tiap minggu (doakan aja gak kena penyakit writerblock)
Oke segini dulu ya chapter 2, sampai jumpa di chapter 3
12/07/2016
