Chapter 2
.
.
.
Pertemuan kedua mereka terjadi tak jauh setelah pertemuan pertama.
Ketika itu ia sedang mengamati lukisan indah seorang dewi air yang entah bagaimana mengingatkannya pada Hinata. Ia melipat kedua lengannya, terus menatap lukisan setinggi hampir dua meter dengan kerjapan yang minim. Beberapa orang berlalu lalang dengan gelas-gelas wine di tangan, bergilir dari satu lukisan ke lukisan lain tanpa lelah. Sesekali, ia mendengar decak kagum untuk si pelukis yang terkenal jenius di antara para pecinta karya seni.
Galeri ini baru dibuka tadi pagi. Pembukaannya diberitakan besar-besaran. Gedung bergaya Eropa klasik dipakai untuk menampung ratusan karya si pelukis terkenal. Gaara yang juga diundang ke pembukaannya telah jauh-jauh hari mengosongkan jadwal agar dapat menghadiri pembukaan galeri pelukis yang berkali-kali menerima penghargaan tertinggi. Sayangnya, ia harus kembali mendiskusikan bisnis macetnya bersama Temari. Kegagalannya untuk menghadiri pembukaan sedikit terobati dengan hamparan lukisan yang tidak mengecewakan.
Ia mundur selangkah, mencari sudut terbaik untuk menampung semua gambar megah dewi yang terpampang di depannya. Hinata. Apa yang mengingatkannya pada Hinata? Mungkin karena ia baru bertemu dengan mantan istrinya seminggu lalu. Mungkin karena ia selalu memimpikannya akhir-akhir ini. Atau mungkin karena aura tenang si dewi air?
Seorang butler dengan seragam hitam-putih menawarkan wine. Ia mengambil segelas, sepintas menanyakan lukisan dewi air pada pelayan yang sepertinya masih duduk di bangku kuliah. Ia tidak berharap banyak, namun pelayan dengan bow-tie ternyata cukup paham mengenai lukisan si pemilik galeri. Ia menyesap wine-nya mendengar penuturan bersemangat dengan mata yang terus tertancap pada si dewi air.
Setelahnya, ia meminta gelas wine lain.
Ia butuh banyak wine, karena akhirnya ia tahu mengapa sang dewi air mengingatkannya pada Hinata.
Memang Hinata-lah yang ditorehkan dengan penuh damba oleh sang pelukis.
Kehidupan seperti mengejeknya. Ia masih berdiri dengan tubuh kaku, menatap lukisan Hinata dengan gelas wine ke-tiga di tangannya. Mulai terjadi hiruk-pikuk yang tak ia indahkan. Ia mendekatkan gelas ke bibir, mencicipi semua pahit satu minggunya dalam seteguk, dan ketika itulah Hinata muncul. Menggandeng anaknya yang berambut klimis. Digandeng suaminya yang terus tersenyum.
Ia sedikit merasa tertohok melihat si pelukis yang terkenal 'palsu' dan sering melempar komentar menusuk justru nampak seperti seorang penyayang dengan kelembutan hati melimpah saat berada di sisi istrinya. Berbalik 180 derajat dibanding dirinya yang justru dingin pada wanita yang dulu pernah berbagi hidup dengannya dan malah bersikap 'manis' pada perempuan-perempuan tanpa ikatan yang ia ajak ke ranjang setelah menghabiskan malam di bar.
Ia tidak suka mengakuinya, tapi saat mengetahui Hinata menikah dengan si pelukis 'palsu', ia sedikit berharap pernikahan Hinata sengsara dan hanya membawa nelangsa. Dengan demikian, Hinata bisa mengingat pernikahan mereka yang dulu datar sebagai sesuatu yang lebih baik. Dia memang bukan suami idaman. Ia tidak memperlakukan istrinya dengan layak. Ia juga mengkhianatinya berkali-kali. Tapi paling tidak, ia tidak pernah benar-benar berlaku kasar. Ia ingin Hinata mengingat itu, lalu membandingkan dengan pernikahannya sekarang yang jauh lebih menderita.
Tapi kenyataannya, Hinata bahagia. Bisa jadi dia malah sudah tidak mengingat pernikahan pertamanya lagi. Bahagia menjadi Igarashi Hinata, istri dari Igarashi Sai yang selalu mencintainya, dan Ibu dari Igarashi Kyo yang tak henti menyediakan tawa di keluarga kecil mereka.
Hinata mungkin lupa, tapi Gaara akan selalu mengingatnya.
Sekarang Hinata memang tidak mencintainya lagi, tapi ada satu titik di kehidupannya di mana Hinata mau melakukan apa saja untuknya. Paling tidak Hinata pernah mencintainya. Itu cukup. Ia tidak pernah membayangkan dirinya mengejar-ngejar perempuan, apa lagi seseorang yang telah bersuami dengan usia di atas tiga puluh. Tapi dirinya ada di sini, mendesahkan nafas untuk tipe yang dulu bahkan tak akan diliriknya. Jatuh dalam sebuah perasaan bodoh hanya dalam waktu satu minggu.
Kehidupannya benar-benar merubah menjadi parody semenjak Hinata mengucap kata cerai. Parody psiko, tapi tetap saja lucu.
Lalu ia melihat itu dan seluruh hidupnya benar-benar seperti bahan tertawaan.
Hinata 'menggurui' suaminya yang terlalu banyak minum wine.
Dulu Hinata bahkan tak pernah mengucapkan kata 'tidak' untuknya. Apa saja Hinata lakukan. Hal-hal paling baik dan paling konyol rela ia lewati. Nada suaranya selalu lembut di situasi apapun. Stabil, terkendali, tak berubah sedikit pun. Jika ia pulang malam, Hinata menyediakan air hangat untuknya. Bila ia datang dengan keadaan mabuk, Hinata yang melepaskan pakaiannya. Kini, ia paham alasan mengapa Hinata bersikap demikian. Keberadaannya tak berefek sedikit pun untuk mengacaukan spektrum emosi wanita yang ia pikir tergila-gila padanya.
Mencintai membuat orang bersikap tak semestinya. Sai yang palsu berubah tulus bersama wanita yang ia cintai, Gaara yang tak perduli menjadi lelaki gila di dekat wanita yang ia puja, Hinata mengambil peran istri-mudah-panik berdampingan suami yang ia sayangi.
Seperti sadar yang memukul bahwa ia mencintai perempuan bermata rembulan, sadar juga kembali memukulnya. Kali ini lebih sakit.
Ia sadar sekarang. Hinata tak pernah mencintainya.
Tak pernah sedetik pun.
.
.
.
Mereka punya dua anak.
Anak pertama mereka lahir di musim dingin. Ia berada di kantornya ketika telepon berdering, mengabarkan istrinya telah berada di rumah sakit. Dadanya membuncah dengan berbagai perasaan. Ia bahagia dengan kedatangan anggota baru keluarga mereka, namun pada saat bersamaan perih membayangkan Hinata yang harus berjuang menahan sakit tak terkira. Ia menggenggam tangan istrinya, mengucapkan kata-kata cinta tanpa henti. Rembulan itu sedikit meredup. Peluh membasahi sekujur tubuhnya. Gaara mengelus pelan pelipis Hinata dengan Ibu jari, berdo'a mengharap Tuhan berbaik membalikkan rasa sakit untuknya saja.
Suara tangis bayi disusul dengan desahan nafas panjang Hinata yang meski lelah, bercahaya dengan bahagia. Gaara menumpukan kepala di atas jemari mereka yang bertaut. Mengucap terima kasih tanpa henti.
Mereka memberi nama Yuki, bayi mungil yang meski terlahir prematur, tumbuh menjadi anak gadis bertabur gembira.
Anak kedua mereka lahir di musim panas. Gaara menghabiskan waktu marah-marah pada siapa saja yang mengangkat teleponnya. Ia berada jauh di Paris, menghadiri konferensi tak berguna sementara Hinata berjuang melahirkan anak kedua mereka. Ia menekan nomor yang sama berulang kali, memaki-maki mendengar nada tunggu begitu lama.
Kankurou membalas dengan seribu satu keluhan, mengatakan ia tak diizinkan masuk ke ruang bersalin. Gaara mendecak. Ia tak menyuruh Kankurou masuk. Ia hanya ingin teleponnya masuk supaya ia bisa mendengar suara Hinata. Mengapa juga dia membolehkan Kankurou melihat persalinan istrinya? Tak akan pernah.
Ia baru bisa mengendurkan otot-ototnya mendengar suara Temari yang serak, mengatakan Hinata baru saja melahirkan bayi laki-laki.
Anak kedua mereka bernama Touta.
Mereka masih tinggal di rumah yang sama meski tahun-tahun berlalu dan bisnisnya me-raja. Ia pergi kerja dengan semangat membawa pulang uang untuk keluarganya, pulang lebih semangat karena dapat berkumpul bersama tiga orang paling berharga. Di meja makan mereka tertawa, menyantap masakan Nyonya Sabaku yang kreatif mengganti-ganti menu makanan.
Tadi pagi Hinata membuatkan tiga menu sekaligus. Tiga Sabaku sama-sama keras kepala. Yang satu ingin omelette, yang satu ingin makan sandwinch, yang satunya lagi merengek ingin dibuatkan spageti pagi-pagi. Belum jam tujuh rumah mereka sudah diramaikan dengan suara-suara berebut makanan. Di siang hari mereka sepakat ingin makan kari saja. Hinata menggeleng mendengar 'saja'. Meski hanya satu menu, itu menu yang repot untuk dibuat. Tiga pasang mata sepakat mengemis. Nyonya Sabaku luluh. Di malam hari mereka duduk di depan TV, menyantap nasi hangat dengan lauk apapun yang bisa diolah Hinata dari bahan makanan yang tersisa.
Hinata memang hanya bertugas memasak. Tugas rumah tangga yang lain digilir Gaara dan kedua anaknya yang bersedia melakukan apa saja asalkan bisa mencicipi masakan sang 'penguasa rumah'.
Itu yang akan terjadi jika seandainya dulu ia sedikit saja mencoba berpartisipasi dalam pernikahannya.
Karena sampai sekarang pun ia tak pernah tahu bagaimana rasa masakan Hinata.
.
.
.
Sudah setahun ia kembali tinggal di rumah yang dulu ditempatinya bersama Hinata. Sudah setahun pula ia tak pernah bertemu dengan wanita yang dulu selalu mengucapkan selamat datang untuknya. Ini pasti karma. Ia sudah menerima bahwa sepertinya ia memang bukan favorit sang kehidupan. Separuh hidupnya menyenangkan, separuh hidupnya… entahlah. Ada satu sisi yang ingin melupakan Hinata. Itu pilihan paling logis. Ia lupa pada Hinata, lupa pada perasaannya, hidupnya pun bisa kembali normal tanpa malam-malam yang ia isi dengan memutar memori lama. Tapi ada satu sisi, yang mungkin masokis, yang tak ingin melupakan Hinata. Biarlah perih. Tak masalah ia nampak seperti cangkang kosong. Itu harga yang harus ia bayar untuk terus mencinta. Sungguh, tak apa.
Bukannya melupakan Hinata, ia justru lupa hari di mana ia tak mencintai Hinata.
Bila mengingat pernikahannya, ia tak bisa lagi mengingat dirinya sebagai seorang suami datar yang tak perduli pada istri. Mungkin otaknya ikut korslet, tapi yang ia ingat, dia mulai mencintai Hinata kala itu. Ah. Sudahlah. Bahkan otaknya ingin membuat pembelaan untuk perilaku masa lalu.
Di tahun ke-lima, ia sudah tak tahan lagi. Dia ingin melihat Hinata duduk di sofa itu, merajut, dan mungkin dirinya yang akan menuangkan segelas teh. Dia ingin. Ingin sekali. Dia menyia-nyiakan pernikahannya selama lima tahun, tapi ia juga sudah menghukum dirinya lima tahun. Adil kan? Dia hanya ingin Hinata berada di rumah ini, meski hanya semenit, melakukan apa yang biasa dilakukannya ketika mereka menikah. Ia tak meminta banyak.
Maka dengan kecamuh di dada, ia menekan paduan nomor yang sudah ia hafal. Tak pernah ia mengirim pesan atau menelepon sebelumnya, tapi ia selalu membayangkannya. Ia mengetik pesan yang tak pernah ia kirim, membayangkan percakapan yang tak pernah terjadi, semua ia lakukan dengan menatap deretan angka-angka sama.
Dia menunggu. Terus menunggu sampai…
"Halo?"
Ya, Tuhan.
"Halo? Ada orang di sana?"
Dia menelan ludah. Posisi duduk sudah tak nyaman lagi baginya, jadi ia memilih berdiri, menghadap jendela besar di ruang tamu.
"Ini aku."
"Aku?"
"Aku…"
"Gaara-kun?"
Hinata masih ingat suaranya. Boleh ia sedikit saja berharap?
"Bisa kau ke sini?"
"Ke sini?"
"Ke rumah kita," dia tercekat "Maksudku, rumah yang dulu pernah kita tempati."
Sedetik kemudian, dia langsung merasa bodoh. Mereka tidak pernah berkomunikasi selama bertahun-tahun dan ia menelepon begitu saja, memberi perintah. Apa yang dia lakukan? Dia merindukan Hinata jadi Hinata-lah yang harus ke sini? Hinata yang bersusah payah menyusuri jalan, memutari setengah kota, sementara dia hanya duduk-duduk saja, begitu? Kalau Hinata terlambat datang dia mau apa? Marah-marah? Bertanya mengapa Hinata mengabaikan perintahnya, manusia paling agung dan paling penting sejagad raya?
Ternyata dia tidak berubah, Gaara terkekeh. Masih si egois yang sama, tak perduli apakah ia mencinta atau tidak. Lima tahun belum cukup baginya. Keparat.
"Gaara-kun, aku rasa… aku tidak…"
"Tidak usah," dia memotong, memandangi rimbunan hijau pohon-pohon di halaman "Aku akan menjemputmu. Kapan kau bisa ke sini?"
Ya, dia egois. Ya, dia bajingan. Lalu kau mau apa?
.
.
.
Dan karena ia masih si bajingan egois, karmanya masih berjalan.
Dengan ego meluap-luap dia menggandeng lengan Hinata. Bila ada orang dari masa lalu yang melihat ia dan Hinata, mungkin mereka akan berbisik "Tidak tahu malu", tapi dia hanya akan membalas dengan senyum yang lebih menunjukkan ego. Bisa menggandeng Hinata baginya adalah pencapaian terbesar. Hinata miliknya. Sekarang Hinata hanya miliknya.
Dia menuntun punggung mungil Hinata masuk ke dalam mobil. Setelahnya, ia menikmati senyum yang Hinata berikan, merasakan desiran sampai ke sum-sum tulang belakang. Dia terpaku beberapa detik sebelum membalas dengan dengan setingai pendek, lalu menutup pintu dengan bangga yang tumpah ke mana-mana. Ini adegan bodoh, tapi biarlah ia hidup menjadi orang bodoh bila itu berarti Hinata akan terus berada di sisinya.
Dia seperti menyetir mobil yang menuju ke surga. Belum pernah menyetir membawa begitu kepuasan. Ia mengangguk, memberi respon baik untuk kalimat-kalimat Hinata. Wanita itu akhirnya mau ia ajak ke rumah setelah perbincangan lama. Meski hanya untuk waktu sekian jam, ia tak terlalu mempermasalahkannya. Pertama, paling tidak ia diberikan kesempatan. Kedua, kesempatan sekecil apapun dapat mengarah ke hal-hal yang lebih besar –mungkin Hinata akhirnya sadar ia mencintainya. Tiga, baginya untuk sekian jam ini Hinata adalah istrinya, Sabaku Hinata, bukan seorang Igarashi.
Mungkin Hinata hanya menjadi dirinya yang baik dan selalu bersikap ramah. Mungkin ia hanya mencoba menjadi seorang teman, tapi Gaara yakin dia bisa merubah pemikiran Hinata suatu saat nanti.
"…lalu aku bilang 'memang sudah prosedurnya begitu'. Tetap saja dimarahi." Dahi Hinata berkerut, campuran sedih dan mencoba berpikir mencari kesalahannya "Mungkin aku salah, ya?"
Gaara menggeleng, memutar setirnya untuk belok ke arah kanan "Kalau memang prosedurnya begitu, kau tidak salah. Dia saja yang idiot."
"Benarkah?"
"Ya."
Hinata berseri, senyumnya lebar "Terima kasih, Gaara-kun. Aku lebih semangat sekarang."
Gaara menahan senyumnya sendiri. Lihat? Dia juga bisa membuat Hinata bahagia. Padahal dia baru berada di dekatnya tak lebih dari setengah jam. Kalau Tuhan memberinya kesempatan lebih banyak lagi, dia akan memberi lebih banyak kebahagiaan.
Hinata melanjutkan cerita. Gaara memberi respon seperlunya. Sampai di situ, dia seolah berada di kasta paling atas dunia. Tak ada ada lagi kekurangan. Semuanya sempurna. Hinata ada di sini. Hinata tertawa. Dia yang membuat Hinata tertawa.
Paling tidak sampai telepon Hinata berdering.
"Maaf, Gaara-kun. Aku harus ke gallery sekarang. Hon—" wajahnya memerah "M-maksudku, Sai-kun memanggilku."
Begitu saja.
Dia langsung terjatuh ke jurang paling dalam.
.
.
.
Mampukah waktu merubah segalanya?
Seberapa banyak yang dapat dirubah sang waktu?
Ah. Picisan.
.
.
.
Dia terbaring di atas ranjang rumah sakit. Tua dan lelah.
Tahun-tahun mengikis merah di rambutnya, menyisakaan warna kelabu yang kusam. Paras rupawannya tergores keriput dan kesepian yang mematri garis-garis keras. Dia tua, sendiri, dan kesepian. Kedua kakaknya telah mendahuluinya. Mereka membangun keluarga, menciptakan kebahagiaan sampai di detik terakhir, sementara dirinya masih menjalani kehidupan sunyi yang sama bahkan di usia senja sekali pun. Tak ada anak-anak yang tidur menungguinya. Tak ada istri yang mengupas buah untuknya. Dia lelah.
Ia menatap langit-langit kamar, mendengar bunyik 'tik' dari selang infus. Ia pikir rasa cintanya pada Hinata hanya sesuatu yang sesaat. Akan hilang seiring berlarinya waktu. Kenyataannya rasa itu terus menumpuk, tak berkurang sedikit pun dengan pertambahan angka di usianya. Meski empat puluh tahun ia mengendalikan diri, tak bertatap muka dengan Hinata sekali pun, ia tak bisa menghentikan perasaannya.
Memang sakit, tapi tak mengapa. Ia bersyukur Sai membuka gallery di kota-nya sehingga ia dapat bertemu lagi dengan Hinata. Wanita yang pergi jauh itu akhirnya kembali. Dia telah menghukum dirinya lagi selama empat puluh tahun. Apa itu cukup sekarang?
Ia menoleh, menggerakkan lehernya yang kaku, memanggil lelaki paruh baya yang menjadi asistennya selama dua tahun terakhir.
"Kau punya pena dan kertas?"
.
.
.
Yang membuka pintu adalah seorang remaja perempuan berambut kelam. Ia mengerjap melihat nama di surat, lalu menggeleng. Negatif. "Aku rasa salah alamat."
Lelaki berkemeja membalas dengan gelengan lain "Alamatnya memang di sini."
"Tapi tidak ada yang bernama Sabaku Hinata."
"Ohh. Tapi…"
"Kalau Igarashi Hinata memang ada. Nenekku."
Lelaki itu mengerutkan keningnya, menambah efek pucat di wajahnya yang jelas kurang tidur "Aku rasa memang maksudnya Igarashi Hinata." Dia bilang, meski sedikit tak yakin. Mungkin boss-nya berubah pikun di usia tua "Apa Igarashi Hinata ini 'bermata rembulan'?"
Sang pemilik rumah tersenyum, seketika berubah cerah "Ya. Mata paling indah di seluruh dunia."
"Berarti surat ini memang untuknya. Tolong sampaikan."
"Eh? Untuk nenekku?"
Anggukan.
"Aku rasa… bukan."
"Bukannya tadi kau bilang Igarashi Hinata ada di sini?"
"Pernah di sini." Dia mengoreksi, kilau matanya meredup "Nenekku sudah meninggal setahun yang lalu."
.
.
.
Aku suka omelette. Bisa tolong buatkan untukku?
–Gaara
.
.
.
Karena tak semua hal berubah dengan waktu
.
.
.
F I N
.
.
.
Salam,
Ava
