"Sekarang aku pacaran sama Sei."

"Sei? Siapa?" Satsuki seketika merasa lemas. Sahabat dekatnya sekarang sudah punya pacar.

"Akashi Seijuuro-senpai. Barusan tadi siang dia tembak aku."

Mata bulat beriris langit itu jelas-jelas tak berbohong.

Satsuki bingung mau berkata apa. Ini nih berita bagus atau buruk,sih?

Demi menjaga perasaan bahagia temannnya yang barusan ditembak, dia mengucapkan kalimat yang rasanya agak kelu di lidahnya.

"Selamat ya,Tetsuna! Semoga langgeng." Mata disipit-sipitkan dan sudut bibir dinaik-naikkan agar terlihat ikut bahagia.

Si biru muda kembali memeluk si merah jambu. "Aku lega."

Masih didalam pelukan, Satsuki bertanya, "lega kenapa?"

"Kirain kamu gak setuju aku pacaran sama Sei. Lagian kan aku ga ada cerita ke kamu." Pelukan semakin dieratkan. "Makasih Satsuki, udah dukung aku."

Dalam rengkuhan itu, si gadis rambut panjang itu tak tau harus bereaksi apa.

.

.

Just Like Another Story

Kuroko No Basuke by Fujimaki Tadatoshi

Just Like Another Story by Racelew

AU++, OOC, Fem!Kuroko

[Chapter ini ada AoMomo]

.

.

[Satsuki POV]

Semenjak Tetsuna pacaran sama ketua OSIS yang mau pensiun itu, aku jadi merasa sedikit jauh. Bukan sedikit, banyak sebenernya. Bayangkan saja, aku yang biasanya selalu makan siang bareng dia jadinya malah makan bareng Dai-chan yang dakian itu.

Dia sadar gak sih, kalau aku itu kangen sama dia? Kangen bikin dia ngambek atau sekedar meluk dia? Huh..

Bulan pertama, makan siang masih bareng samaku tapi pulang kesekolahnya udah sama Akashi-senpai yang absolute itu. Dia rela nungguin si Akashi-senpai yang bimbel sore itu di perpustakaan. Jadi, dia pulang bersamaan dengan anak kelas 3. Awalnya sih aku agak gak terima, tapi yasudahlah, demi kebahagian teman. Lagian, dia senang kalau udah diperpustakaan.

Masuk bulan kedua, berangkat ke sekolah udah sama Akashi-senpai. Kan aku jadi ga bisa nyalin PR Tetsuna. Untuk informasi aja nih,ya, kalau aku chat si Tetsuna dipagi hari ya pasti gak dibalas karena dia jarang banget megang hp. Tapi mungkin beda cerita lagi kalau yang ngechat itu si Akashi-senpai..mungkin ya..aku tak mau berburuk sangka...

Nah, di bulan ketiga mereka pacaran, rasanya Tetsuna udah jarang banget ada disamping aku. Makan siang dia sekarang itu dikantin bareng babang kesayangannya. Katanya sih, si Akashi-senpai itu pengin ngoptimalkan waktunya bisa ketemuan bareng Tetsuna, soalnya beberapa bulan lagi angkatan Akashi-senpai ikut UN.

Bukannya aku sahabat yang posesif, tapi rasanya kok aku jadi butiran debu,sih?:(

Udah 3 bulan lho aku diginiin. Rasa-rasanya kokoro ini kesal. Belum lagi banyak yang manas-manasin dari belakang.

Contohnya tuh ya kayak gini.

"Eh, Momoi. Kok udah gapernah lagi main sama si Kuroko? Jangan-jangan dia lupain kau." Suara si anu berbicara.

"Iya, Momoi-chan. Kamu itu udah dilupain. Ngapain sih kamu tetap ngajak makan bareng kalau ujung-ujungnya selalu ditolak? Udah ah, main sama kita-kita aja." suara si anu kedua berbicara.

"Tau,nih si Momoi sok setia. Sama gue aja ah, mainnya. Elu kan asik, pasti sama siapa aja klop." Suara si anu ketiga berbicara.

Dan anu anu lain yang tak dapat kuhitung lagi berapa banyak.

Sebagai seorang sahabat, aku akan balas perkataan mereka dengan kalimat yang kurang lebih terdengar seperti ini.

"Kan bentar lagi dia mau LDR. Wajar aja menurut aku. Lagian, aku ga ngerasa ditinggalkan kok."

Kalimat terakhir sebenarnya agak dikasih filter bohong sih.

Entah perasaan aku aja, si Tetsuna jadi sering diomongin sejak pacaran sama Akashi-senpai itu. Tambahan lagi, dia jadi terlihat lebih berisi. Aku ngomong bukan gak ada bukti. Dulu itu, tangan Tetsuna jelas banget warna urat nadinya. Sekarang uratnya udah samar-samar.

Mungkin kebanyakan makan kue vanilla kali,ya? Jadi lemak tubuh udah mau mampir kebadan kurusnya itu.

Terserah deh soal badan. Yang jelas, aku disini lagi bingung.

Bagusnya aku gimana..?

.

.

[Normal POV]

Seisi kelas sudah terbiasa dengan hal yang berubah Satsuki dan Tetsuna.

Mereka sudah maklum kalau Satsuki main bareng sama Riko and the geng dan pergi pulang sekolah bareng si Aomine. Bahkan, kalau Satsuki posting foto ke instagarem bareng teman-teman lain, mereka sudah gak pernah lagi komen 'kok ga main lagi sama si Kuroko?'.

Tetsuna sekarang mainnya bareng anak-anak OSIS karena hubungannya dengan Akashi. Dia yang biasanya pulang sekolah langsung baca novel, sekarang nongkrong bareng anak kelas sebelah yang menjabat sebagai anggota OSIS.

Padahal dulu pas SMP,Satsuki pernah pacaran sama Hayama Kotarou,anak basket yang suka pamer alias sombong. Tapi, hubungannya dengan Tetsuna tetap lancar. Malah,karena itulah mereka semakin dekat, soalnya Satsuki selalu curhatin semua hal detail dari yang penting sampai yang ga penting.

Tapi kenapa sekarang malah jadi gini,sih? Apa ada yang salah?

Karena penasaran dengan hal ini, Satsuki merencanakan sebuah misi yang hanya dia dan Aomine yang bisa.

"Dai-chan, 1 menit lagi jam pulang. Aku dan kau langsung cabut keluar kelas ya. Gak usah salam sensei, sekali-sekali. Nanti langsung ganti baju,ya! Bawa baju ganti kan?" Tangan si empu suara sibuk membereskan buku yang ada dimejanya.

"Bawa,dong. Memangnya kenapa langsung cabut gitu aja? Gak sopan tau." Walaupun Aomine dakian, dia masih ada rasa hormat yang begitu besar pada senseinya.

"Nanti aku diajak Riko-chan ngegosip dulu kalau gak buru-buru cabut dari kelas. Aku malas."

"Oh gitu. Eh,kau beneran mau buntutin mereka berdua? Jadi kita nunggu dulu dong sampai si Akashi-sensei selesai bimbel?" Aomine bertanya sambil menyandang tasnya yang sudah agak bulukan.

Satsuki mengangguk. "Gapapa,kan? Kita berdua nunggu di kantin aja sambil makan-makan. Abis itu kita ikutin mereka. Tolong ya?"

Aomine senang dalam hati.

Sebenarnya, sejak kelas 10, dia sudah menyimpan rasa sama si merah jambu satu ini. Kalau permintaan tolongnya begini mah, dengan besar dada –salah. Dengan lapang dada dia menyanggupinya.

Terdengar dering bel tanda pulang sekolah. Suasana kelas mendadak rusuh.

Keadaan itu memberikan Aomine dan Satsuki langsung menerjang pintu keluar kelas disaat yang lain pada mengantre untuk salam guru.

Saat mereka berdua sudah diluar kelas, terdengar suara bel tanda pengumuman dari speaker.

[Pengumuman. Pengumuman dan pengumum-umuman. Ada kabar bahagia untuk kaka abang yang mau lulus sekolah alias kelas tiga,niih! Bimbel hari ini ditiadakan,cuuy. Mantap! Pasti seneng de –woi,Mibuc-]

Seisi sekolah hening sejenak mendengar pengumuman barusan sebelum munculnya suara mic yang ditepuk-tepuk.

[Maaf atas ketidakberesan pengumuman barusan. Bagi siswa kelas 3, bimbel hari ini ditiadakan berhubung ada rapat guru setelah pulang sekolah ini. Terimakasih.]

Setelah bel tanda pengumuman berakhir, suasana sekolah mendadak jadi semakin ricuh dengan teriakan heboh siswa kelas 3 yang bahagia.

Wajah Satsuki mendadak ceria."Dai-chan, berarti kita gak usah nunggu di kantin." Namun, wajah cerianya langsung berganti dengan wajah panik. "Cepet ganti baju! Nanti kita ketemu di pagar sekolah. Nanti kita ikutin aja mereka dari situ." Satsuki langsung berlari secepat kilat menuju WC.

Mungkin hanya Aomine seorang yang kecewa mendengar pengumuman itu. Modus makan berdua dikantin bareng gebetan gagal,bung.

Tapi gapapa deh, mungkin menguntit orang lagi pacaran bisa dihitung jadi modus berlama-lama disamping gebetan.

Ehm.

Satsuki yang baru sampai WC langsung berganti baju layaknya orang kesambet.

Jangan sampai aku keduluan mereka. Jangan sampai aku keduluan mereka.

Hanya dalam 30 detik, Satsuki sudah mengganti seragamnya dengan sweater hijau muda dengan celana panjang denim. Rekor baru,bung.

Tak mau buang-buang waktu, dia berlari menuju pagar sekolah dan menemukan Aomine yang sudah menunggunya.

"Huft..huft..Kok..kau duluan yang disini,sih?" Satsuki tak menerima kalau dia kalah cepat dengan si biru tua. Padahal dia duluan ke kamar mandi dan lari kencang.

"Baka. Aku pakai kaos dalam. Sambil jalan aku buka seragam dan aku pakai jaket. Soal celana..aku ganti selayang di kelas kosong. Gampang. Gaperlu ke WC."

Hati Satsuki dongkol. Jadi cewek kadang ngerepotin dan gak bisa sesimpel jalan hidup cowok.

"Ck, yaudah. Sini sini, Dai-chan. Kita sembunyi dibalik pohon." Satsuki berjalan menuju pohon besar itu dan diikuti Aomine dibelakangnya.

Mereka berdua menunggu kehadiran si merah dan biru muda dengan sabar. Perlahan-lahan, sekolah menjadi sepi. Yang awalnya keluar pagar segerombol, lama kelamaan jadi satu dua orang saja.

Hingga akhirnya, orang yang diincar pun tiba.

Akashi dan Tetsuna sedang jalan berdampingan dengan background cahaya matahari sore yang bersinar dengan lembutnya. Setelah sampai di luar pagar, mereka belok ke kiri.

"Lho? lho? kok belok kiri? Kan rumah mereka itu arahnya belok kanan?!" Satsuki yang mengintip dari balik pohon mulai menjalani misi stalker stalkernya.

"Aduh,Satsuki.."Aomine menyembulkan kepalanya diatas kepala Satsuki. "Mungkin mereka lewat jalan lain. Kau langsung main heboh aja."

Si gadis pink merogoh-rogoh tasnya dan mengeluarkan 2 topi,2 kacamata hitam, dan satu masker wajah.

Satu topi dipakai setelah menggulung rambut panjangnya dan kacamata dipasang diatas pangkal hidung. Sisa barangnya diberikan pada lelaki disampingnya.

"Nih pake topi,kacamata,sama maskernya."

Aomine menatap bingung barang yang barusan diberikan Satsuki. "Kenapa harus pakai masker juga? Aku lagi gak flu."

Satsuki mencubit lengan kekar si lelaki biru tua. "Geblak. Buat nutupin muka,lho. Disini yang kulitnya item cuma kau sendiri. Kalau mukamu gak ketutup ya misi kita langsung kebongkar. Yaudah cepat pakai! Kita nanti kehilangan jejak mereka!"

Hati Aomine agak-agak ngilu. Sudahlah dikatai geblak, terus dibilang item lagi. Padahal dia rajin sekali mandi.

Hidup ini gak adil.

Setelah aksesoris penunjang misi terpasang sempurna, mereka keluar pagar sekolah dan mulai membuntuti sepasang kekasih yang sudah ada 15 meter didepan mereka.

"Dai-chan,kira-kira mereka mau kemana,sih?" Satsuki bertanya sambil memperhatikan si merah biru muda dengan seksama.

"Jangan banyak ngomong,Satsuki."

Gondok. Kesel. Apa-apaan sih si Dai-chan bales pertanyaannya kayak orang lagi marah.

Haduh,Satsuki. Andai kau tau apa penyebab si dakian itu marah. Makanya, jadi cewek peka,dong.

Ehem.

Si merah dan biru muda berbelok menuju kafe yang terkenal sebagai tempat abg labil hunting-hunting foto.

"Dai-chan, itu mereka masuk ke kafe. Yok kita kesitu." Satsuki berjalan cepat didepan Aomine dan menoleh kebelakang sambil tersenyum, "Ayo!"

Aomine yang tadinya berniat buat ngambek langsung lumer. Ternyata, cukup dikasih senyum dari pujaan hati emang bisa bikin hatinya bahagia.

Pintu kafe dibuka Satsuki dan mereka berdua masuk kedalam. Aroma kue manis yang kental langsung menerjang indra penciuman.

"Aduh,wanginya..laper.."Satsuki menatap lapar etalase yang memajangkan kue-kue yang menggoda iman.

"Geblak." Aomine menarik poni Satsuki yang mencuat dari topinya. "Kau kesini mau makan atau jalani misi?"

Satsuki balas memukul Aomine. "Gak usah main tarik-tarik,dong. Sakit, baka."

Sambil mengelus-elus kulit kepalanya yang sakit dan memasukkan poni mencuatnya kedalam topi, Satsuki mencari-cari dimana sang korban stalker berada dan menemukan mereka yang sedang asyik tertawa di meja pojok dekat kaca.

Berpikir sejenak, Satsuki memilih tempat yang membelakangi mereka. "Dai-chan, ubah suara dan gaya bicaramu,ya. Oh ya, panggil aku 'Miiko' dan kau akan kupanggil 'Tappei'. Kita pakai nama samaran biar gak ketahuan. Terus,kita bicaranya lewat chat aja, biar ga banyak ngomong."

Aomine yang dikasih tau cuma manggut-manggut. Dalam hati merasa bahagia. Gak jadi makan berdua dikantin malah nge-date di kafe,cuy!

Setelah mereka berdua duduk, sang pelayan langsung mendatangi dan memberi buku pesanan.

"Gue mau strawberry shortcake sama lemon tea,ya mbak." Satsuki berbicara ke pelayan duluan dengan nada suara yang dicempreng-cemprengkan. Kemudian matanya melirik ke Aomine. "Elo mau apa,beb?"

"Hm..gue mau samaan kayak elo aja. Uhuk uhuk. Lemon tea gue yang anget ya. Flu soalnya." suara Aomine terdengar lebih berat dan agak serak. Gila,dipanggil beb sama doi!

Pelayan cantik itu segera mencatat pesanan mereka dan pergi berlalu.

Satsuki mengambil handphone ditasnya lalu mengetik sesuatu dengan jarinya yang cepat.

"Tappei." Satsuki memanggil Aomine dengan nama syarat sambil menggoyang-goyangkan handphonenya.

Aomine yang mengerti maksud orang dihadapannya langsung mengecek handphone dan menemukan pesan baru.

From : Momoi Satsuki

To : Aomine Daiki

Message : Kita jangan berbicara dulu. Sekarang kita nguping pembicaraan mereka,ya.

Setelah membaca pesan itu, Aomine mangacungkan jempol tanda setuju.

Mereka menajamkan kuping masing-masing dan mendengarkan pembicaraan Akashi dan Tetsuna dengan seksama.

"Tetsuna, kamu kok suka banget sih sama vanilla?" terdengar suara Akashi yang sangat lembut.

Aomine mendadak sakit perut. Geli rasanya mendengar suara kaptennya yang biasanya tegas berubah jadi halus-halus kapas.

"Memangnya kenapa,Sei?" suara Tetsuna bertanya.

"Andaikan aku si vanilla ya..."

"Ihihi." Terdengar kekehan lembut dari Tetsuna. "Gak perlu jadi vanilla,Sei..cukup begini aja udah bikin aku sayang,kok."

Satsuki keselek angin. Paru-parunya serasa ada yang nyangkut.

Ternyata si Tetsuna sudah pandai menggombal.

"Miiko." Aomine memanggil Satsuki sambil menggoyang-goyangkan handphonenya.

Kode dari Aomine langsung dimengerti Satsuki. Dia mengecek handphonenya dan menemukan pesan baru.

From : Aomine Daiki

To : Momoi Satsuki

Message : Aku tak menyangka si Tetsu bisa se-OOC itu.

Tangannya mengetik cepat untuk membalas pesan.

From : Momoi Satsuki

To : Aomine Daiki

Message : Sama. Kok bisa jadi kayak gitu,ya..

Baru aja Satsuki menekan tombol send,salah satu pelayan kafe datang dengan nampan berisi pesanan mereka.

"Silakan makanannya, mas, mbak." Makanan dari nampan dipindahkan kehadapan mereka masing-masing. "Oh ya mas, cepat sembuh ya." Mata pelayan mengerling nakal ke Aomine yang tak tau harus merespon apa.

"Maaf mbak, jangan godain pacar gue." Satsuki melirik kesal si pelayan centil dibalik kacamata hitamnya.

Bunga-bunga bermekaran di hati Aomine karena kalimat Satsuki barusan. Katakanlah itu hanya sandiwara, namun rasanya seperti nyata..

"Ih,pacarnya galak banget. Becanda,lho mbak. Hihi.. Selamat menikmati ya, mbak cantik dan mas ganteng." Setelah itu, sang pelayan itu berlalu sambil cekikikan.

Dasar pelayan sableng. Satsuki langsung blacklist kafe ini dari list tempat nongkrongnya.

"Miiko." Suara panggilan Aomine membuyarkan pikiran gelap Satsuki terhadap pelayan barusan.

Langsung saja Satsuki mengecek handphonenya.

From : Aomine Daiki

To : Momoi Satsuki

Message : Udah jangan dipikirin. Emang dasarnya aku ganteng, jadi banyak yang suka.

Sikut petak muncul di kepala Satsuki.

From : Momoi Satsuki

To : Aomine Daiki

Message : Kau pakai topi,kacamata,dan masker, jadinya gak keliatan wajah aslinya. Kalau si pelayan tadi tau gimana wajahmu, pasti dia menyesal. HAHA. Peace. Ok, kita lanjutin lagi misinya.

Aomine berniat untuk menjitak kepala Satsuki yang tertutup topi, tapi tak jadi karena Satsuki sudah tersenyum lebar padanya dan jarinya membentuk simbol 'peace'.

Mereka kembali menajamkan kuping masing-masing sambil mengunyah kue.

"...gapapa,nih kamu pulang pergi samaku terus?" samar-samar terdengar suara Akashi sedang bertanya.

"Gapapa. Memangnya kenapa?" Tetsuna balik bertanya.

"Hm..teman-teman kamu gak keberatan? Ya contohnya si Momoi itu,lho.."

Satsuki tersentak mendengar namanya disebut-sebut.

"Satsuki maklum-maklum aja kok. Kayaknya dia gak keberatan. Dan sepertinya dia menjadi lebih bebas."

Hati Satsuki mencelos. Ingin dia menyangkal perkataan Tetsuna barusan,tapi dia mencoba menahan emosi. Bisa gagal misi stalker dia nanti.

"Bebas gimana maksud kamu,Tetsuna?" Akashi kembali bertanya.

Ada jeda sebentar sebelum Tetsuna menjawab, "Kami ga perlu bersifat kayak anak kecil lagi harus makan siang bareng. Gaperlu lagi harus ini itu barengan. Sejujurnya, aku merasa terkekang kalau main sama dia."

Nafsu makan Satsuki mendadak hilang.

Tetsuna kembali melanjutkan, "Mengingat masa dimana aku masih sering sama Satsuki itu membuatku kesal. Dia bisa mendapat banyak teman, bahkan sampai dikelas-kelas sebelah. Tapi aku gak diajakin. Asik sendiri gitu,deh."

Rasanya Satsuki sudah tidak memiliki kekuatan untuk menelan sisa kue yang masih ada dalam kunyahan.

"Tapi sekarang kamu udah berubah,kan Tetsuna?" suara Akashi terdengar.

"Iya. Itu semua karena bantuan kamu,Sei. Terimakasih. Um.. Maaf ya kalau aku mendadak curhat."Tetsuna berbicara.

Rasa sedih,kecewa,dan terkhianati tak dapat ditahannya lagi.

Si merah jambu langsung beranjak dan pergi keluar kafe. Aomine yang paham akan kondisi pun langsung mengejar.

"Eh!Eh! Mas ganteng! Belum bayar,uy!" sang pelayan mencegat Aomine yang hampir saja lolos keluar dari pintu keluar.

Tanpa berpikir panjang, Aomine menyerahkan satu lembar uang biru ke tangan pelayan tadi.

"Ambil aja kembaliannya."

.

.

Suara segugukan terdengar dari si gadis merah jambu yang lagi duduk diayunan taman.

"Hey.." Aomine yang duduk di ayunan sebelah memanggil, "sudahlah.."

"Da..dai-chan...aku tak menyangka kalau Tetsuna bisa ngomong kayak gitu. Sakit. Sahabat yang paling aku percaya ternyata..ternyata.."

Kalimat selanjutnya tak terucap karena tangisan si empu suara pecah.

"O..oi..jangan menangis lagi. Orang-orang disini bisa salah paham." Aomine memperhatikan beberapa anak kecil yang sedang memperhatikan mereka berdua.

"Pergi saja kalau kau mau. Aku gak minta kau temani aku kesini."

Kalau saja dalam kondisi normal,Aomine akan menjitak kepala gadis menyebalkan itu.

Namun,kali ini kondisinya berbeda.

Tangan Aomine terulur, melepas kacamata dan topi yang sedari tadi dipakai Satsuki, kemudian berjongkok didepannya.

"Satsuki..kuakui kau memang pintar memberi nasehat dan menghibur orang lain, tapi kau bodoh kalau untuk dirimu sendiri..."

Satsuki hanya diam menatap Aomine sambil segugukan.

"...aku tak pandai menghibur, tapi ada hal yang mau kubilang." Aomine menatap bola mata Satsuki yang penuh dengan linangan air mata. "Kalau Tetsu bisa mencari kebahagiaan, berarti kau juga bisa..."

Si gadis merah muda berhenti segugukan.

"...dan jangan jadi bodoh karena setia." Aomine mengakhiri perkataannya.

Sejenak,ada keheningan diantara mereka.

"Dai-chan..berdirilah, kau seperti orang mau boker kalau jongkok begitu."

Aomine langsung berdiri dan bersiap-siap memaki..

..sebelum kedua tangan Momoi melingkari pinggangnya.

"Terimakasih,Dai-chan..."

.

.

TBC to C3.

AN. Ini udah dilanjut ya, Prince'ss218 Friend A:-) Terimakasih reviewnya, Akiko Daisy.. eh emang ada humornya yak?:') aku merasa garing malah wkwk.. ini udah dilanjut ya..

Terimakasih untuk follow dan favoritenya:)

Dan untuk yang sedang otw kesuatu tempat nun jauh disana, jangan marah baca ini ya HAHA!