A/N : Jeng...jeng... saya kembali lagi...

trima kasih banyak buat yang udah ripiuw pic abal ini, untuk saat ini polling masih di buka

Pairing: Sakurax? (Sasuke, sasori, itachi, gaara), untuk hasil sementara...

Sasori 1

Sasuke 3

Itachi 1

Special thanks for...

Hidan gila, AnRs, hanazono yuri, Sa CherryBlossom, aku anak sonelf, dan Mordegage.

Happy Reading... ^_^

A Naruto Fanfiction

Naruto © Masashi Kishimoto

Dreams © Rin Tsubaki

.

.

Rin Tsubaki

Proudly Presents

DREAMS

CHAPTER 1 The Girl Named Sakura

Gadis bernama Sakura itu menghela napasnya untuk yang kesekian kalinya. Tak terasa sudah 10 menit ia terduduk di bangkunya. Wali kelasnya yang tak kunjung muncul membuatnya mengeluarkan sebuah buku bersampul merah dari tasnya, lalu mencoretnya untuk sekedar menghilangkan kebosanan. Pandangannya kosong untuk beberapa saat, namun senyum lembutnya mengembang di bibirnya sesaat kemudian. Ia menghapus coretan di bukunya kemudian menuliskan beberapa bait kata, lalu memberikan tanda jeda di beberapa bagian. Sakura bersenandung lirih sambil menatap hasil karangannya itu. Apakah itu sebuah puisi atau... lagu?

Sakura POV

Namaku Haruno Sakura, aku seorang gadis biasa yang tinggal berdua bersama bibiku di Konoha. Dulu aku mempunyai keluarga sendiri dan tinggal di Kota Suna, tapi sejak kedua orangtuaku meninggal saat aku berumur 9 tahun, bibi Anko mengajakku untuk tinggal bersamanya di Kota Konoha.

Aku cukup beruntung bisa bersekolah di KHS lewat jalur beasiswa, sebab tidak mungkin aku bisa bersekolah di sini mengingat penghasilan bibiku yang pas-pasan, bahkan aku harus menunjangnya dengan bekerja part time setiap hari.

Aku menghela napas sebal, huh lama! Bukankah seharusnya di hari pertama sekolah, wali kelas akan datang duluan? Payah. Kalau tidak salah siapa ya namanya, Kekaishi(?).. eh bukan Keroro(?)... terlalu jauh, Kakishi... hmm... Kaka..ah ya Kakashi-sensei, itu dia. Seperti apa ya orangnya...

Bosan, hanya itu yang tergambar di otakku saat ini. Ku keluarkan buku yang sengaja kusampul merah dari dalam tasku, membukanya di halaman yang kosong lalu mencoretnya menggunakan pensil mekanik yang telah kukeluarkan sebelumnya.

Dapat kurasakan semilir angin menghembuskan poniku perlahan dari arah kiri. Rupanya, bangku yang kududuki ini cukup strategis. Aku menopangkan daguku menggunakan telapak tangan kananku lalu memandang halaman samping KHS yang ditanami beberapa pohon gingko itu.

Entah kenapa pandanganku terasa melembut, kuraih karet penghapus lalu menghapus coretan-coretan asal yang sebelumnya kutorehkan di atas buku. Dengan senyum yang secara reflek kukembangkan, kutulis bait-bait kata yang secara otomatis terangkai di kepalaku. Setelah merasa selesai, kuberikan tanda jeda di beberapa bagian yang kupikir cocok untuk nada tinggi.

Tanpa kusadari, ternyata daritadi aku telah menyenandungkan nada-nada yang secara reflek pula tersusun di kepalaku. Haaah... kurasa aku memang tidak bisa menghilangkan kebiasaan yang telah kulakukan sejak aku berumur 7 tahun. Buku merah ini adalah saksi di mana aku sering menuliskan karya-karyaku, yang kebanyakan berupa lirik sebuah lagu.

Ku lirik, jam dinding yang terpasang di depan kelas. 20 menit sejak bel masuk dibunyikan. Ku masukkan kembali buku merahku ke dalam tas lalu menyibakkan poni yang mengganggu ke belakang telingaku.

Ku pandangi sejenak rambut hitam yang terselip di sela-sela jariku. Rambut hitam ya... entah kenapa aku seringkali merindukan warna rambut lamaku. Warna mencolok yang membuatku mudah sekali dikenali meski aku berada di antara keramaian sekalipun. Warna itu... merah muda... sewarna dengan permen gulali, membuatku teringat pada ibuku yang begitu kusayangi. Dari dulu, aku tak pernah tahu mengapa Anko-san begitu membenci rambut merah mudaku.

Suara bising karena semua siswa sedang mengobrol mengisi gendang telingaku. Dapat ku lihat banyak siswa laki-laki yang saling bercanda sambil melempar kertas satu sama lain sedang, yang perempuan yang bergosip dengan suara melengking.

Aku terkadang heran dengan gadis-gadis kaya raya itu, memakai hem ketat, rok yang digulung ke atas sehingga hanya menutupi setengah pahanya, 2 kancing kemeja yang sengaja di buka, euwh. Apa peraturan di KHS ini mengijinkan para siswa perempuan berpakaian seperti itu? Hah... entahlah, rasanya aku tidak ingin tahu.

Bukan berati pula aku bangga dengan penampilanku yang sangat mirip dengan seorang nerd seperti ini. Baju yang kupakai memang kedodoran, tapi itu semua karena saat pengambilan seragam aku terlambat datang, sehingga hanya ukuran baju ini yang tersisa. Mengecilkan ukuran bajunya ke penjahit terlalu merepotkan karena mengeluarkan biaya.

"A-anou, b-bo-bolehkah kalau a-aku duduk di si-ni?"

Suara gadis itu menyadarkan lamunanku. Ku pandangi wajah gadis itu dengan seksama, wajahnya yang sedang menunduk tertutupi oleh rambut indigo lurusnya.

"Tentu, duduklah," ucapku datar.

"A-a-arigatou gozai-masu (terimakasih)," ucapnya terbata-bata seraya mendudukkan dirinya di sebelahku.

Kami berdua duduk dalam diam. Berbagai pikiran melayang di kepalaku. Apa niat gadis ini mendekatiku, bukannya aku bermaksud berpikiran buruk kepadanya. Hanya saja, masa lalu membuatku takut untuk menganggap orang lain sebagai teman. Toh, sejak aku berpenampilan seperti seorang nerd, tak ada yang mau mendekatiku.

"A-ano, na-namaku Hi-hina-ta.. um..uhhh.. Go-gomen (maaf) ka-kala-u aku meng-ganggu..." kudengar gadis itu berucap lirih sambil menundukkan kepalanya lagi. Ku rasa dia meminta maaf padaku karena dia piker aku merasa terganggu oleh kehadirannya.

Mungkin, sikap diamku membuatnya salah paham. Entah kenapa aku merasa sangat jahat padanya, hatiku merasa dia adalah gadis yang baik, tidak seperti gadis-gadis lain. Kurasa untuk tahun ini, punya seorang teman tidak akan menyakitiku. Ku lirik gadis bernama Hinata itu lewat sudut mataku, ia terlihat sangat gugup, kedua tangannya di letakkan di atas pahanya dan meremas roknya dengan sangat kencang.

"Sakura," ucapku singkat.

"E-eh..." Hinata menoleh memandangku.

"Namaku Sakura, Haruno Sakura, salam kenal Hinata-san."

"A-ah pa-panggil aku Hi-Hinata sa-saja, Haruno-san," gadis itu sekarang melepaskan remasan pada roknya, namun ia lalu memainkan kedua jari telunjuknya. Uhh... membuatku gemas saja.

"Jangan panggil aku Haruno, panggil aku Sakura saja."

"Hai"

"Ngomong-ngomong, kenapa kau bicara seperti itu?"

"A-ah, ma-maaf, a-aku g-gugup kalau bi-bicara dengan o-orang a-asing."

"Berhentilah meminta maaf Hinata, ano, boleh aku bertanya sesuatu padamu?"

"H-hai,"

"Kenapa kau mendekatiku? Tidakkah kau merasa takut dijauhi teman-temanmu karena mendekati gadis tertutup sepertiku?"

"A-aku, ti-tidak punya b-banyak te-teman, Sakura-san. Ba-bagi me-mereka a-aku terlalu pe-pemalu dan mem-membosan-kan. Me-mereka ha-hanya ber-teman denganku ha-hanya untuk me-memanfaatkanku saja."

"Dan kau pikir aku berbeda dari mereka?"

"B-bukan, itu ka-karena a-aku tahu Sa-sakura-san orang yang b-baik," Hinata tersenyum manis padaku.

"Gadis bodoh," gumamku.

"Eh... G-gomen."

"Hmmph, hihihi, kau lucu Hinata. Dan berhentilah meminta maaf," ucapku sambil menahan tawa. Ku lihat Hinata mengerjapkan matanya beberapa saat lalu menundukkan kepalanya lagi. Dapat kulihat wajahnya yang memerah total. Rupanya ia malu karena kutertawakan. Huh, biar saja, habis... dia benar-benar membuatku gemas.

"Ne, Hinata..., maukah kau menjadi temanku?"

"H-hai."

"Tapi tidak sekarang."

"E-ehh?"

"Jika kau ingin jadi temanku, cobalah berhenti untuk bicara terbata-bata seperti itu."

"A-akan kucoba," ucap Hinata bersungguh-sungguh.

"Karena bagaimanapun juga, teman bukanlah orang asing, Hinata," ucapku sambil mengacak pelan rambutnya.

"Hai, Sakura-chan."

Grek

Baru saja aku akan mengucapkan sesuatu, sebuah suara terdengar dari arah pintu kelas. Rupanya seorang pria tengah memasuki kelas kami, ia berambut abu-abu (mungkin sudah tua) dan memakai masker, eh masker? Apa dia mantan mantri ya?

"Ohayou anak-anak! Maaf Sensei telat. Aku tersesat di jalan yang bernama kehidupan saat akan menuju kemari.

TSUZUKU

A/N: Jangan lupa polling Sakurax?

Sasori

Sasuke

Itachi

Gaara

Review please ...

Komentar anda adalah suatu kebahagiaan buat Author geblek ini...

Rin Tsubaki