Prequel

"Bu, ke mana kita akan pergi?" Jaejoong kecil bertanya kepada ibunya. Sudah setengah hari mereka berjalan.

"Kita akan mencari tempat tinggal yang baru," jawab sang ibu. Wanita umur tiga puluhan itu menuntun putri semata wayangnya.

"Mengapa kita harus mencari tempat tinggal yang baru? Mengapa kita pindah dari rumah kita?" Jaejoong terus saja bertanya.

Oh Seojin, ibu Jaejoong, membawa anaknya untuk beristirahat sejenak. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan kepada putrinya itu. "Sekarang kita hanya berdua. Kita akan memulai hidup kita yang baru."

Wanita itu harus terlihat tegar di hadapan anaknya, walaupun ia merasa sangat lelah. Ia merasa lelah untuk menanggung beban sendirian. Suaminya baru meninggal sebulan yang lalu. Sang suami pergi dengan meninggalkan banyak utang. Ia terpaksa harus menjual rumah kecil mereka untuk melunasi utang-utang itu dan kini ia tidak tahu ke mana ia dan putrinya harus pergi.

"Bu, aku lelah." Jaejoong kecil mengeluh. Usianya baru tujuh tahun.

.

.

.

Seojin mendapatkan tempat tinggal di daerah perkampungan kumuh. Ia menyewa sebuah kamar. Kamar tersebut hanya berukuran tiga puluh meter persegi, terdiri atas sebuah ruangan yang ia gunakan untuk melakukan segala hal. Mereka harus menggunakan kamar mandi umum yang berada di luar kamar.

Pada awalnya Jaejoong merasa kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya. Ia juga harus pindah ke sekolah yang baru. Di sekolah yang baru ia dibuli oleh siswa lainnya karena ia anak yatim dan sangat miskin. Seminggu pertama di sekolah barunya ia sering pulang ke rumah sambil menangis.

"Sabar, Nak! Kau harus kuat. Jangan menangis!" Hanya itu yang bisa Seojin katakan kepada putrinya. Putrinya harus tumbuh menjadi anak yang kuat agar bisa menghadapi kerasnya kehidupan.

Seojin mendapatkan pekerjaan sebagai pengasuh anak pada sebuah keluarga. Suami istri majikannya baru pulang bekerja pada malam hari. Ia baru bisa pulang jika salah satu majikannya sudah pulang. Hal itu menyebabkan dirinya jarang bersama dengan putrinya sendiri dan lebih sering mengasuh anak majikannya.

Tentu saja Seojin merasa bersalah kepada Jaejoong. Seharusnya ia lebih memperhatikan anaknya sendiri daripada anak orang lain. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain. Ia harus mencari nafkah untuk dirinya dan Jaejoong.

Beruntungnya Seojin memiliki putri seperti Jaejoong. Anak tersebut mengerti akan kondisi mereka. Putrinya tidak pernah mengeluh, walaupun sebenarnya Jaejoong merasa kecewa dan sedih.

"Mengapa kau tidak bermain bersama mereka?" Seojin memergoki Jaejoong sedang memandang ke arah anak-anak perempuan lain yang sedang bermain boneka dengan wajah yang cemberut.

"Mereka tidak mengizinkanku untuk ikut bermain karena aku tidak punya boneka," jawab Jaejoong lemah.

Hati Seojin merasa sakit mendengar jawaban putrinya. Ia tidak punya uang untuk membelikan boneka untuk Jaejoong. Putrinya itu tidak mempunyai mainan apa pun. "Sekarang ibu belum mempunyai uang. Bulan depan kau akan berulang tahun. Ibu akan membelikan boneka sebagai hadiah ulang tahunmu."

Jaejoong menggeleng. Ia tersenyum kepada ibunya. "Tidak perlu, Bu. Aku tidak ingin bermain bersama mereka. Aku bisa bermain bersama ibu."

Dada Seojin terasa sesak. Hatinya terluka melihat senyuman pada wajah putrinya itu. Ia ingin melihat Jaejoong bahagia seperti anak-anak lain.

.

.

.

Jaejoong sangat pandai menyanyi. Ia mengikuti lomba menyanyi pada festival sekolahnya dan keluar sebagai juara pertama. Para guru yang menjadi juri sangat terpana mendengar suara merdunya.

"Bu, aku menang lomba menyanyi di sekolah!" Dengan gembira Jaejoong berlari pulang ke rumah sambil memegang piala.

Seojin terkejut melihat putrinya pulang dengan membawa piala. Ia tidak tahu bahwa Jaejoong mengikuti lomba menyanyi di sekolah. "Mengapa kau tidak memberi tahu ibu bahwa kau mengikuti lomba menyanyi di sekolah? Jika ibu tahu, ibu pasti akan datang untuk mendukungmu."

Wajah Jaejoong masih berseri-seri. "Jika aku memberi tahu ibu, ibu pasti ingin datang, sehingga ibu tidak pergi bekerja. Aku tidak ingin ibu kehilangan pekerjaan hanya karena diriku."

Seojin menitikkan air matanya. Ia merasa bangga kepada Jaejoong. Ia memeluk putrinya dengan sangat erat. Ia merasa bersalah karena ia jarang memberikan perhatian kepada putrinya.

Para tetangga juga mengucapkan selamat kepada Jaejoong. "Ny. Seojin, suara putrimu itu memang sangat merdu. Ia pantas menjadi juara. Aku yakin ia akan bisa menjadi penyanyi terkenal suatu saat nanti."

Seojin tertegun. Selama ini ia belum memikirkan masa depan Jaejoong. "Jaejoongie, jika kau besar nanti, kau ingin jadi apa?"

"Aku ingin menjadi penyanyi seperti ayah," jawab Jaejoong dengan polosnya.

Wajah Seojin memucat. Menjadi seorang penyanyi tidaklah mudah. Mendiang suaminya juga memiliki suara yang sangat merdu. Namun, bertahan di jagad hiburan tidaklah mudah. Suara dan teknik yang bagus tidaklah cukup. Ia tidak ingin Jaejoong berakhir seperti sang ayah. "Apakah kau benar-benar ingin menjadi seorang penyanyi?"

Jaejoong mengangguk dengan yakin. "Aku sangat suka menyanyi."

"Sayang sekali jika bakat putrimu itu disia-siakan, Nyonya. Mengapa kau tidak mencoba untuk mendaftarkan Jaejoong untuk ikut audisi yang diadakan oleh agensi-agensi hiburan?"

.

.

.

Demi mewujudkan cita-cita Jaejoong, Seojin mendaftarkan putrinya untuk ikut audisi. Sesuai harapan, Jaejoong lolos audisi. Anaknya itu mempunyai kesempatan untuk menjadi trainee di sebuah agensi besar. Namun, ia tidak memiliki uang untuk membayar biaya training.

"Bu, itu artinya aku akan menjadi penyanyi kan?" Jaejoong merasa gembira karena ia lolos audisi.

Seojin terdiam cukup lama. "Tidak, ibu tidak ingin kau berhenti sekolah hanya untuk menjadi trainee di agensi itu."

Jaejoong terlihat kecewa oleh jawaban ibunya. "Mengapa? Aku kan masih bisa menjadi trainee tanpa meninggalkan sekolahku."

"Ibu tidak mempunyai uang untuk membayar biaya training-mu," Seojin tidak bisa berbohong. Anaknya itu sangat cerdas.

Jaejoong terlihat sedih. Namun, ia mengerti kondisi ekonomi keluarganya. Ia pun menerima keputusan sang ibu.

Impian Jaejoong untuk menjadi seorang penyanyi tidak musnah begitu saja. Suatu saat nanti ia pasti bisa menjadi terkenal. Jika ia berhasil menjadi penyanyi terkenal, ia dan ibunya tidak akan hidup dalam kesusahan lagi.

Setiap hari Jaejoong terus berlatih vokal, mengasah kemampuan bernyanyinya. Teknik menyanyi ia dapatkan dari sang ayah.

Seojin merasa sedih melihat betapa keras putrinya berlatih. Ia tidak bisa menyuruh Jaejoong untuk berhenti. Ia tidak bisa menghancurkan impian anak itu. Ingin sekali ia mewujudkan cita-cita anaknya, tetapi bagaimana? Ia merasa tidak berguna sebagai orang tua.

.

.

.

Menginjak bangku SMP, Jaejoong mulai membantu Ibunya bekerja. Ibunya berhenti menjadi pengasuh anak dan berjualan sayuran di pasar. Sepulang sekolah ia pergi ke pasar untuk membantu sang ibu.

"Putrimu cantik sekali, Nyonya." Banyak pedagang di pasar yang menggoda Jaejoong. Tidak hanya pedagang, kuli angkut dan preman pasar pun sering menggodanya.

Seojin mulai khawatir. Putrinya sudah beranjak remaja. Kecantikan Jaejoong mulai terlihat. Ia tidak suka melihat putrinya diganggu oleh pria mata keranjang. "Sebaiknya kau belajar saja di rumah. Ibu bisa berjualan sendirian."

"Mengapa? Ibu akan kerepotan melayani pembeli sebanyak ini." Jaejoong masih berpikiran polos.

Seojin tahu bahwa pelanggannya membludak karena putrinya. Mereka membeli barang dagangannya agar bisa dilayani oleh gadis cantik seperti Jaejoong. Hal ini mendatangkan keuntungan baginya. Akan tetapi, ia tidak suka putrinya dipandangi oleh pria-pria nakal. Lebih baik ia kehilangan pelanggan daripada membahayakan putrinya. "Ibu ingin kau lebih fokus pada pendidikanmu. Nilai rapormu semester lalu tidak begitu bagus."

.

.

.

Beranjak SMA, Jaejoong mulai bekerja paruh waktu di toko swalayan. Walaupun ibunya melarang, ia tetap memaksa. Ia tidak tega melihat ibunya berjuang untuk mencari nafkah sendirian. Ibunya tidak lagi muda. Ibunya menjadi sering cepat lelah dan sakit-sakitan.

Saat tiba di rumah setelah bekerja di toko swalayan, Jaejoong melihat kamar yang merupakan tempat tinggalnya dikerumuni tetangga. "Ada apa ini?" Ia melihat ibunya berbaring di atas tempat tidur dalam keadaan lemah.

"Ibumu pingsan saat berjualan di pasar," kata salah satu tetangganya. "Sebaiknya kau membawanya ke dokter."

Jaejoong dengan ditemani oleh ketua RT membawa ibunya ke dokter. Setelah memeriksa ibunya, dokter menyuruh Jaejoong untuk membawa ibunya ke rumah sakit. "Ibuku sakit apa, Dok?"

"Sebaiknya kau membawa ibumu ke rumah sakit. Ibumu akan menjalani pemeriksaan lebih lanjut di sana. Aku akan membuat surat rujukannya," ujar dokter yang memeriksa ibu Jaejoong.

Setelah menjalani pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit, Seojin dinyatakan mengidap kanker. Penyakitnya sudah cukup parah.

"Mengapa kau baru memeriksakannya sekarang?" Dokter di rumah sakit memarahi Jaejoong.

Jaejoong terdiam. Pikirannya kosong. Ibunya sudah sakit cukup lama, tetapi tidak memberi tahu dirinya.

Jaejoong meminta ibunya untuk berhenti bekerja. Kini giliran dirinya yang akan menanggung beban hidup mereka.

Tentu saja Seojin tidak mau berhenti bekerja. Ia tidak bisa membiarkan Jaejoong berjuang sendiri. "Kau kan harus sekolah. Aku tidak ingin kau putus sekolah."

"Aku bisa sekolah sambil bekerja. Aku akan mencari pekerjaan tambahan selain pekerjaan di toko swalayan." Jaejoong bersikeras. Ia bukan anak penurut lagi seperti waktu ia kecil. Ia sekarang sudah dewasa.

"Pelajar SMA sepertimu bisa bekerja apa?" Seojin sangat mengkhawatirkan putrinya.

"Apa saja." Jaejoong tampak bersemangat.

Seojin benar-benar khawatir. Ia takut Jaejoong menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang.

.

.

.

Jaejoong lulus SMA dengan nilai di ambang batas. Ia bahkan pernah hampir dikeluarkan dari sekolah karena sering membolos. Namun, pihak sekolah merasa iba kepadanya dan tidak jadi mengeluarkannya dari sekolah.

Dengan bermodalkan ijazah SMA Jaejoong mencari pekerjaan. Namun, hal itu tidak mudah. Akhirnya ia pun memilih untuk menjadi karyawan tetap di toko swalayan tempatnya bekerja paruh waktu. Hanya tempat itu yang bersedia memperkerjakannya.

"Jae, suaramu bagus. Kau juga cantik. Mengapa kau tidak ikut audisi saja?" ujar manajer toko.

"Aku sudah sering ikut audisi dan selalu lolos," jawab Jaejoong.

"Lalu mengapa kau masih bekerja di sini?" Manajer toko merasa heran.

"Aku harus bekerja untuk mengobati ibuku," balas Jaejoong. Ia harus bekerja dengan semangat. "Jika aku sudah punya uang yang cukup untuk berobat ibuku, aku akan mengejar impianku untuk menjadi seorang penyanyi.

Manajer toko merasa kagum pada semangat Jaejoong. Gadis itu selalu bekerja dengan sangat baik di tokonya. "Aku akan mendukungmu. Jika kau memerlukan bantuan, katakan saja kepadaku!"

.

.

.

Pada suatu malam Jaejoong pulang ke rumahnya dengan basah kuyup. Hujan turun dengan sangat deras. Ia menemukan 'rumahnya' dalam keadaan gelap. Mengapa ibunya tidak menyalakan lampu? Apakah ia lupa membayar tagihan listrik bulan ini, sehingga perusahaan listrik memutus aliran listrik ke rumahnya? "Bu, mengapa ibu tidak menyalakan lampu?" Ia menggapai sakelar di dinding dan menyalakan lampu. Betapa terkejutnya ia menemukan ibunya tergeletak di lantai tanpa sadarkan diri.

Jaejoong bingung. Ia harus segera membawa ibunya ke rumah sakit. Sekarang sudah larut malam. Para tetangga sudah tidur.

Jaejoong memapah ibunya sampai ke tepi jalan raya. Ia mendudukkan ibunya di bangku halte. Ia menunggu taksi yang lewat, tetapi dalam keadaan hujan deras seperti itu jarang sekali kendaraan yang lewat.

Jaejoong tidak putus asa. Kendaraan pribadi yang lewat pun coba ia hentikan. Akan tetapi, pengemudi kendaraan-kendaraan itu tidak mau berhenti dan menolongnya.

Tubuh Jaejoong sudah sangat basah kuyup. Ia harus segera membawa ibunya ke rumah sakit. Setelah beberapa lama akhirnya ada juga kendaraan yang berhenti di hadapannya. "Tolong! Aku harus segera membawa ibuku ke rumah sakit."

Pengemudi itu turun dari dalam mobilnya. Ia kemudian membantu Jaejoong untuk membawa ibunya ke dalam mobil.

Jaejoong menangis sambil memeluk ibunya. Ia takut terjadi hal yang buruk kepada ibunya. Ia tidak ingin kehilangan ibunya, satu-satunya anggota keluarga yang ia miliki.

"Apa yang terjadi kepada ibumu?" Pria yang menolong Jaejoong dan ibunya bertanya.

"Aku tidak tahu. Saat aku pulang ke rumah ibuku sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai." Jaejoong menangis tersedu-sedu.

"Pria itu memutar mobilnya untuk mencari jalan pintas. Wanita paruh baya yang ia tolong harus segera dibawa ke rumah sakit.

"Ke mana kita akan pergi? Kita menjauhi rumah sakit yang menjadi tujuan kita." Jaejoong terlihat panik.

"Kita akan menuju rumah sakit terdekat. Rumah sakit yang kau maksud terlalu jauh. Ibumu harus segera mendapatkan pertolongan medis." Pria itu menjelaskan.

"Akan tetapi, rumah sakit yang kau maksud sangat besar. Biaya pengobatannya pun pasti sangat mahal. Aku tidak akan sanggup untuk membayarnya. Tuan, tolong putar kembali mobilmu!" Jaejoong memelas.

"Nona, tenanglah! Kau tidak perlu khawatir. Yang penting ibumu bisa segera tertolong." Pria tersebut terlihat tenang.

Jaejoong menatap pria yang menolongnya itu dengan tajam. "Bagaimana aku bisa tenang? Aku tidak mempunyai banyak uang untuk biaya rumah sakit. Cepat putar balik mobilmu!" Ia berteriak karena panik.

Pria itu tidak menggubris Jaejoong. Ia tetap mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.

Jaejoong kehabisan energinya. Ia pasrah saja membiarkan ke rumah sakit mana pun pria itu membawanya.

.

.

.

Dengan lemah Jaejoong menunggu ibunya di depan ruang gawat darurat. Sekarang adalah akhir bulan. Gajinya bulan ini sudah hampir habis. Bagaimana ia akan membayar biaya rumah sakit? "Tuan, bisakah kau meminjamkan aku uang untuk membayar biaya rumah sakit?" Ia bertanya kepada pria yang duduk di sampingnya. "Aku akan membayarnya bulan depan, setelah aku menerima gaji."

Pria itu tersenyum. "Tentu saja. Akulah yang memutuskan untuk membawa ibumu ke rumah sakit ini. Jadi, aku juga harus bertanggung jawab untuk membayar biaya rumah sakitnya."

Jaejoong berbicara dengan lemah. "Tidak, Tuan. Bukan itu maksudku. Aku tidak memintamu untuk menanggung biaya rumah sakitnya. Aku hanya bermaksud untuk meminjam uang darimu."

Pria itu masih tersenyum. "Ya, aku mengerti maksudmu. Kau tidak perlu khawatir."

Jaejoong tidak menyukai cara pria itu tersenyum kepadanya. Pria itu adalah orang asing. Pasti pria tersebut memiliki maksud tersembunyi di balik kebaikannya.

.

.

.

Dokter memanggil Jaejoong setelah memeriksa keadaan Seojin. "Ibumu harus segera dioperasi."

Jaejoong tertegun. Dari mana ia bisa mendapatkan uang untuk biaya operasi ibunya? Bosnya di toko juga belum tentu mempunyai uang sebanyak itu.

Jaejoong keluar dari ruangan dokter dengan lunglai. Kepalanya terasa sangat berat. Ia sudah tidak sanggup untuk menangis. Ia bingung.

"Apa kata dokter?" Pria itu masih saja setia menemani Jaejoong di rumah sakit.

Jaejoong duduk di bangku terdekat. Tatapannya tampak kosong. "Ibuku harus segera dioperasi. Setelah dioperasi pun bukan berarti ibuku akan sembuh. Ia masih harus menjalani terapi." Ia menghela nafas.

"Oh," komentar pria itu. "Ayo kita urus administrasinya! Ibumu harus segera dipindahkan ke ruang rawat inap."

Jaejoong tidak juga beranjak dari tempat ia duduk. "Bagaimana aku membayar semuanya?"

Pria tersebut terdiam sejenak sambil memandang Jaejoong. "Itu urusan nanti. Yang penting sekarang ibumu bisa mendapatkan kamar di rumah sakit ini." Ia menarik tangan Jaejoong.

Jaejoong meminta kamar di kelas paling rendah di rumah sakit itu untuk ibunya. Kelas terendah saja belum tentu ia bisa membayar semua biayanya.

"Maaf, kamar kelas dua sudah penuh," ujar petugas administrasi rumah sakit.

"Kalau begitu, kamar lain saja," ujar pria yang bersama Jaejoong. "Sekalian kelas VIP saja."

"Apa?" Jaejoong menatap pria itu dengan tajam. "Tuan, apa kau sudah gila? Bukankah aku sudah memberitahumu bahwa aku tidak punya uang?"

"Jangan dengarkan dia! Ia sedang panik karena ibunya sakit. Tempatkan Ny. Seojin di kamar VIP," ujar pria itu kepada petugas administrasi. Ia kemudian menarik Jaejoong untuk duduk di ruang tunggu. "Apa kau bisa tenang sedikit, Nona? Berhentilah berteriak kepadaku di depan banyak orang!"

"Bagaimana aku bisa tenang? Apa kau ingin menghancurkan hidupku?" Jaejoong terlihat sangat marah.

"Aku sudah mengatakan kepadamu bahwa aku akan membayar biaya rumah sakit untuk ibumu," balas pria itu.

"Tuan, aku tidak akan sanggup untuk membayar utang kepadamu. Aku juga masih harus mencari uang untuk biaya operasi ibuku," ujar Jaejoong.

"Kau tidak akan bisa berpikir jika kau panik. Kau harus menenangkan dirimu. Memangnya uang akan turun dari langit begitu saja jika kau panik?" ujar pria itu lagi.

Jaejoong terdiam. Ucapan pria itu ada benarnya juga.

"Nah, bagus! Kau terlihat sangat manis jika kau duduk dengan tenang seperti ini."

.

.

.

Jaejoong membiarkan pria itu mengurus semua administrasi rumah sakit. Ia tidak punya pilihan lain. "Urusan administrasi sudah selesai. Mengapa kau masih di sini dan tidak pulang?"

"Aku khawatir kau akan berbuat bodoh dengan berteriak-teriak lagi di rumah sakit jika aku pergi meninggalkanmu." Pria itu terkekeh.

Jaejoong menatap tajam pria itu. "Aku tidak akan melakukan hal itu. Aku masih waras."

Pria itu tertawa. "Kau pasti sangat lapar. Aku akan pergi ke kantin untuk membelikanmu makanan."

Jaejoong tidak menyukai keterlibatan pria itu. Ia tidak suka orang asing mencampuri urusannya. Ia berpikir untuk segera melunasi utangnya kepada pria itu agar pria itu tidak mencampuri urusannya lagi.

.

.

.

"Terima kasih atas semua bantuanmu, Tn. Jung! Entah apa yang akan terjadi kepadaku jika kau tak menolongku." Seojin sudah sadarkan diri. Ia kini menempati ruang rawat VIP.

Pria yang membantu Jaejoong untuk membawa ibunya ke rumah sakit bernama Jung Yunho. Pria tersebut berusia 25 tahun dan baru merintis bisnisnya. Ia mewarisi sebuah rumah besar dari kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Ia tidak mempunyai anggota keluarga yang lain.

Jaejoong menampakkan wajah masamnya. Ia tidak suka ibunya menjadi akrab dengan pria yang menolong mereka. Ia tidak ingin berurusan dengan orang seperti Jung Yunho. Orang miskin sepertinya pasti dianggap rendah oleh orang kaya.

.

.

.

"Pria itu baik sekali ya," komentar Seojin setelah Yunho pergi.

Jaejoong masih saja cemberut. Ia tidak suka ibunya memuji Jung Yunho. "Ia adalah orang kaya. Membayar biaya rumah sakit bukanlah sesuatu yang besar baginya."

"Mengapa bicaramu begitu ketus, Jae?" Seojin tidak tahu apa yang membuat putrinya kesal. "Apa kau marah kepada ibu karena ibu sakit-sakitan?" Ia merasa sedih karena selalu menyusahkan Jaejoong.

"Tidak, Bu. Mana mungkin aku marah kepada ibu." Nada bicara Jaejoong melembut.

"Lalu apa yang membuatmu kesal, Sayang?" Seojin membelai rambut putrinya.

"Aku hanya merasa lelah, Bu," jawab Jaejoong. "Hari ini aku harus mengambil kerja lembur agar aku bisa segera melunasi utang kita kepada Tn. Jung."

"Maafkan ibu, Nak!" Seojin memandang putrinya dengan mata berkaca-kaca. "Ibu tidak bisa berbuat apa-apa. Ibu hanya bisa menyusahkanmu." Ia merasa sangat bersalah kepada Jaejoong. Bukannya membantu Jaejoong untuk menggapai cita-citanya, ia justru semakin menghambat putrinya. Andaikan saja ia tidak sakit.

Jaejoong memeluk ibunya. "Ibu tidak boleh berkata seperti. Aku sangat menyayangi ibu. Hanya ibulah yang aku punya."

Seojin membelai punggung putrinya. Ia merasa bangga mempunyai anak yang sangat berbakti seperti Jaejoong. Pantaskah ia menerima karunia ini?

Jaejoong melepaskan pelukannya kepada ibunya. "Sekarang aku harus pergi bekerja." Ia mengeluarkan boneka beruang kesayangannya dari dalam tasnya. "Selama aku pergi bekerja, boneka ini yang akan menjaga ibu." Ia meletakkan bonekanya di samping ibunya.

"Mengapa kau tinggalkan bonekamu di sini? Bukankah selama ini kau selalu membawanya ke mana pun kau pergi?" tanya Seojin heran.

Jaejoong memaksakan senyumannya. Ia sedang mengalami masa sulit. Sulit baginya untuk tersenyum. Namun, ia harus tetap bersemangat demi ibunya. "Aku tak bisa berada di sisi ibu untuk menjaga ibu. Boneka itu membawa separuh jiwaku. Anggap saja ia adalah pengganti diriku agar ibu tidak merasa kesepian. Ibu bisa mengajaknya berbicara. Hehehe. Akan tetapi, ibu jangan berharap ia akan membalas perkataan ibu."

Seojin ikut tersenyum. "Kau selalu bisa membuat ibu tersenyum."

Setelah berpamitan kepada ibunya, Jaejoong pun pergi ke toko swalayan untuk bekerja. Ia harus bekerja semakin keras.

.

.

.

Tak lama setelah Jaejoong pergi, Yunho datang mengunjungi Seojin dengan membawa kantung plastik besar. "Jaejoong ke mana?"

"Ia baru saja pergi untuk bekerja," jawab Seojin.

Yunho mengeluarkan berbagai macam makanan dari dalam kantung plastik yang dibawanya. Ia membawa buah-buahan untuk Seojin dan dua buah kotak makanan untuk dirinya dan Jaejoong.

"Tn. Jung, kau tidak perlu repot-repot membawa semua ini untukku." Seojin merasa tidak enak kepada Yunho karena ia sudah banyak merepotkan pria itu.

"Aku tidak merasa repot. Ibu tidak usah khawatir," ujar Yunho. "Boleh kan aku memanggilmu 'ibu'?" Ia menata buah-buahan yang dibawanya di atas meja.

Seojin merasa sangat tidak enak. Anak muda itu terlalu baik, padahal Yunho hanyalah orang asing. "Tentu saja boleh. Kau boleh memanggilku sesukamu."

"Terima kasih." Yunho tersenyum lebar. "Ibu juga jangan memanggilku 'Tn. Jung'. Panggil saja aku dengan namaku, Yunho."

Seojin mengangguk. "Baiklah, Yunho." Ia sangat menyukai anak muda yang ramah dan baik hati itu.

"Mengapa di sini ada boneka?" Yunho melihat-lihat boneka yang berada di sebelah Seojin. "Apakah ini milik ibu?"

"Boneka itu milik Jaejoong," jawab Seojin.

Yunho tertawa. "Ia sudah besar, tetapi masih bermain dengan boneka. Siapa nama boneka beruang ini?"

"Jaejoong tidak memberinya nama," jawab Seojin lagi.

"Kalau begitu, namakan ia 'Yunniebear' saja," usul Yunho. "Boneka ini mirip denganku kan? Hahaha!"

Seojin ikut tertawa. "Tentu saja kau lebih tampan daripada boneka itu."

Yunho merasa senang mengobrol dengan Seojin. Wanita itu terasa seperti seorang ibu baginya. Jika ibunya masih hidup, mungkin ibunya seperti Seojin.

Yunho kehilangan kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Usianya saat itu masih sepuluh tahun. Sejak itu ia hidup sendirian, hanya ditemani oleh para pelayan di rumahnya. Ia sudah menganggap para pelayan senior di rumahnya sebagai keluarganya.

Yunho adalah pemuda yang sangat ramah. Ia sangat suka berbicara dan bercanda. Sepanjang hari ia mengajak Seojin mengobrol banyak hal. Ia juga banyak bertanya mengenai Jaejoong kepada Seojin, di mana Jaejoong bekerja, warna kesukaannya, makanan kesukaannya, dan apakah Jaejoong sudah mempunyai kekasih."

Seojin terkekeh menertawakan Yunho yang terlalu semangat menanyakan putrinya. Ia merasa bahwa pemuda itu tertarik kepada putrinya. "Tidak, Jaejoongku belum mempunyai seorang kekasih. Mana sempat ia memikirkan hal tersebut. Ia terlalu sibuk bekerja untuk membayar biaya pengobatanku."

"Oh." Yunho sedikit tersenyum. Di dalam hatinya ia merasa sangat senang karena Jaejoong belum memiliki tambatan hati.

"Apakah kau menyukai putriku?" tanya Seojin tanpa basa-basi.

Pipi Yunho memerah. "Ah, mengapa ibu berpikir seperti itu? Aku hanya penasaran saja mengenai putrimu. Putrimu itu sangat ketus. Tidak heran jika ia belum mempunyai seorang kekasih. Para lelaki pasti takut untuk mendekatinya, padahal ia berwajah sangat cantik. Hahaha!"

"Kau tidak perlu takut untuk mendekatinya. Sebenarnya ia adalah gadis yang lembut. Ia bersikap seperti itu sebagai bentuk pertahanan diri," balas Seojin. "Kau adalah pemuda yang sangat baik. Aku sangat menyukaimu. Aku akan membantumu untuk mendekati putriku jika kau mau."

"Benarkah?" seru Yunho.

Seojin tertawa. "Akhirnya kau mengakui bahwa kau menyukai putriku. Kau tidak bisa mengelak lagi, Jung Yunho."

Wajah Yunho semakin memerah. Ia merasa sangat malu. Ini adalah pertama kalinya ia menyukai seorang gadis. Ia tertarik kepada Jaejoong karena sifat Jaejoong yang pekerja keras dan pantang menyerah.

.

.

.

Jaejoong terkejut saat melihat banyak makanan di atas meja di kamar rawat ibunya. Sepulang dari toko swalayan, ia langsung pergi ke rumah sakit. "Siapa yang membawa makanan sebanyak ini? Apakah para tetangga kita datang berkunjung tadi siang?"

"Yunho yang membawa semua itu," jawab Seojin.

"Yunho?" Jaejoong mengerutkan keningnya.

"Oh, maksudku Tn. Jung." Seojin menambahkan penjelasan. "Ia yang membawa semua itu untuk kita."

Jaejoong berusaha untuk menahan emosi di hadapan sang ibu. "Oh, jadi sekarang ibu memanggilnya dengan menyebut namanya," sindirnya.

Seojin bisa merasakan bahwa putrinya itu tidak menyukai Yunho. Ia bisa memahami hal itu. Putrinya itu tidak suka dibantu oleh orang asing. Jaejoong berpikir bahwa orang kaya seperti Jung Yunho pasti memiliki maksud buruk terselubung saat membantu orang miskin seperti mereka. "Berhentilah berprasangka buruk kepadanya! Ia adalah orang yang sangat baik. Ia membantu kita dengan tulus."

"Bu, kita baru mengenalnya kemarin. Bagaimana ibu bisa begitu saja memercayainya?" Jaejoong berusaha untuk menyadarkan ibunya.

Seojin menghela nafas. Ia tidak ingin berdebat dengan putrinya. "Jika kau tidak percaya kepadanya, itu adalah hakmu. Ibu bisa memahami dirimu."

"Aku akan segera melunasi utang kita kepadanya. Manajer juga bersedia meminjamkan sedikit uang kepadaku." Jaejoong memberi tahu ibunya.

Seojin tidak membalas lagi perkataan Jaejoong. Ia merasa sedih melihat putrinya seperti itu.

Tidak ada orang yang benar-benar tulus di dunia ini. Itulah yang Jaejoong pikirkan. Karena ia miskin, tidak ada yang mau berteman dengannya. Teman-temannya di sekolah selalu mengolok-olok dan memandang rendah dirinya, apalagi anak-anak yang berasal dari keluarga kaya.

Jaejoong berpikir jika ada orang yang memperlakukannya dengan baik, pasti orang tersebut mengharapkan balasan. Bosnya di toko memperlakukannya dengan baik karena ia adalah pegawai yang pekerja keras. Jika ia tidak bekerja dengan baik, pastilah bosnya itu juga tidak akan berbuat baik kepadanya.

Kehidupan yang keras telah membentuk pola pikir Jaejoong. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Pria yang bernama Jung Yunho itu, entah apa maksud dan tujuannya.

.

.

.

Setiap hari Yunho datang untuk menjaga Seojin saat Jaejoong pergi bekerja. Ia tidak berani datang jika ada Jaejoong. Gadis itu selalu menatapnya dengan penuh rasa tidak suka. "Bu, sepertinya Jaejoongie membenciku."

Seojin merasa kasihan kepada Yunho. "Mengapa kau berpikir seperti itu? Ia memang ketus kepada semua orang." Ia mencoba untuk menghibur pemuda itu. "Aku akan berbicara kepadanya agar ia tidak bersikap seperti itu lagi. Sikapnya itu sangat buruk."

.

.

.

"Jae, sikapmu itu sangat buruk kepada Yunho. Ia merasa sedih dan mengira bahwa kau membencinya." Seojin berbicara kepada putrinya.

"Jadi, sekarang ibu berada di pihaknya?" Jaejoong merasa kecewa kepada ibunya. "Jadi, sekarang ibu lebih menyayanginya daripada anak ibu sendiri?"

"Kumohon jangan salah paham, Sayang!" Seojin memberikan pengertian. "Sikapmu itu sangat buruk. Kau tidak boleh bersikap seperti itu kepada siapa pun, bukan hanya kepada Yunho."

Jaejoong terdiam. Ia sadar bahwa sikapnya sangat buruk. Ia bersikap seperti itu karena ia sangat tidak menyukai pria itu. Ia bahkan mulai cemburu karena pria itu mulai merebut perhatian sang ibu darinya. Ia menyesal karena tidak setiap waktu ia bisa menjaga ibunya, sehingga pria itu memanfaatkan hal tersebut untuk mengambil hati sang ibu.

"Kau tahu, Jae? Ia menyukaimu. Yunho menaruh hati kepadamu." Seojin berharap Jaejoong akan luluh jika ia memberitahu Jaejoong hal ini.

Jaejoong masih terdiam, tidak membalas. Jadi, pria itu mendekati ibunya untuk mendapatkan hatinya? Licik sekali. Kini ia tahu motif pria itu yang sebenarnya.

.

.

.

Setelah memeriksa kondisi kesehatan Seojin, dokter memanggil Jaejoong untuk membicarkan hal yang sangat penting. "Ibumu harus dioperasi secepatnya. Bagaimana keputusanmu?"

Jaejoong merasa terjepit. Ia berada dalam keadaan yang sangat sulit. Dari mana ia bisa mendapatkan uang untuk biaya operasi ibunya? Biayanya sangat mahal. Utangnya kepada Yunho saja belum lunas.

Yunho? Ya, pria itu bisa membantunya. Bukankah pria itu menyukainya? Jika Yunho benar-benar menaruh hati kepadanya, pria itu pasti akan membantunya. "Lakukan saja semua persiapan operasinya! Ibuku akan dioperasi secepatnya."

.

.

.

Jaejoong duduk sendirian di kantin rumah sakit. Ia sangat bingung. Ia sangat kacau dan kalut. Rasanya ia ingin menangis, tetapi tidak ada bahu untuk bersandar. Ia hanya bisa menyimpan semua bebannya sendirian.

Apa yang harus Jaejoong lakukan? Semua itu terlalu berat baginya. Ia tidak sanggup untuk menghadapi cobaan ini. Ke mana ia harus berlari? Kepada siapa ia harus meminta tolong?

Mengapa dunia ini begitu kejam kepadanya? Mengapa harus dirinya yang mendapatkan cobaan ini? Ia hanyalah gadis berusia delapan belas tahun. Cobaan ini terlalu berat baginya. Ia lemah. Ia rapuh.

Jaejoong kembali ke kamar rawat ibunya. Ia melihat Yunho sudah berada si sana. Darahnya mendidih melihat pria itu.

"Jaejoongie, lihatlah! Yunho membawakan makanan kesukaanmu," seru Seojin.

Jaejoong berjalan mendekat. Ia duduk di tepi tempat tidur. "Aku tidak lapar, Bu," jawabnya lemah.

Seojin merasa sedih melihat putrinya seperti itu. "Kau harus makan, Nak! Ibu tidak ingin kau juga jatuh sakit. Siapa yang akan merawat ibu jika kau sakit? Makanlah, Nak!" Air matanya meleleh. Ia mengambil kotak makanan di samping tempat tidur. Ia mencoba untuk menyuapi Jaejoong. "Makanlah, Nak! Makanlah, walau hanya sedikit!"

Hati Jaejoong terluka melihat air mata ibunya. Ia telah membuat ibunya menangis. "Ibu tidak boleh menangis. Maafkan aku yang telah membuat ibu bersedih." Tidak mau terus membuat ibunya bersedih, ia pun makan dari suapan ibunya.

Yunho terharu melihat interaksi ibu dan anak itu. Ia merasa iri kepada Jaejoong yang masih bisa disuapi oleh ibunya. Ia bisa merasakan kasih sayang di antara mereka berdua.

.

.

.

Jaejoong memaksakan dirinya untuk bersikap lebih ramah kepada Yunho. Ia tidak ingin membuat ibunya terus bersedih dengan bersikap ketus kepada pria itu. Selain itu, ia juga sangat membutuhkan bantuan pria itu untuk membayar biaya operasi ibunya.

Yunho merasa senang karena sikap Jaejoong kepada dirinya mulai berubah. Seojin pasti sudah menasihati Jaejoong.

"Tn. Jung, bisakah kita berbicara sebentar? Ada hal penting yang harus kubicarakan denganmu." Jaejoong terlihat salah tingkah. Ia bingung bagaimana harus bersikap kepada Yunho.

"Tentu saja." Jantung Yunho berdebar-debar. Kira-kira apa yang ingin Jaejoong bicarakan dengannya?

Jaejoong keluar dari kamar rawat ibunya. Yunho mengikutinya dari belakang. Ia terus berjalan menjauh dari kamar ibunya. Dadanya terasa sesak. Bagaimana ia harus menyampaikan itu kepada Yunho? Ia membawa Yunho ke taman di rumah sakit tersebut. "Tn. Jung, aku memerlukan bantuanmu," ujarnya ragu-ragu. Ia tidak suka meminta bantuan orang lain. Ia merasa gengsi. Ia menggigit bibir bawahnya, lucu sekali.

Yunho tidak bisa berkonsentrasi. Pandangannya mengarah pada bibir Jaejoong.

"Tn. Jung, apa kau mendengarkanku?" Jaejoong akhirnya menyadari bahwa Yunho melihat ke arah bibirnya. Ia menjadi salah tingkah. Dasar mesum! "Tn. Jung?"

"Ya?" Yunho masih memandang bibir Jaejoong.

"Aku ingin meminjam uang darimu lagi." Jaejoong merasa sangat malu untuk mengatakannya. "Ibuku harus segera dioperasi. Aku akan berusaha melunasi pinjamanku kepadamu secepat mungkin." Wajahnya terlihat memelas.

Yunho tersenyum. Ia menepuk bahu Jaejoong. "Kau tidak perlu khawatir, Jae. Kau selalu bisa mengandalkanku."

Jaejoong merasa lega karena Yunho mau membantunya. Namun, di sisi lain ia merasa resah. Ia harus berpura-pura baik kepada pria itu.

.

.

.

Seojin tersenyum melihat putrinya masuk ke kamar rawatnya bersama Yunho. Mereka berdua terlihat akur. "Apa yang kalian berdua bicarakan?"

Jaejoong tidak ingin membuat ibunya merasa bersalah. Ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. "Aku ingin meminta maaf kepada Tn. Jung karena selama ini aku telah bersikap buruk kepadanya." Ia memandang tajam ke arah Yunho. Ia berharap Yunho bisa memahami kode darinya.

Yunho mengerti maksud Jaejoong. Ia tersenyum. "Sebenarnya kau tidak perlu meminta maaf kepadaku. Aku sama sekali tidak marah kepadamu. Tidak ada yang perlu kumaafkan."

"Oh," Seojin merasa lega. "Baguslah kalau begitu. Aku senang mendengarnya."

Senyuman masih melekat pada bibir Yunho. Ia merasa senang bisa membantu Seojin dan Jaejoong. "Jae, mulai sekarang panggil aku 'Yunho' saja. Rasanya aneh kau memanggilku dengan sebutan 'Tn. Jung'."

Jaejoong tidak suka melihat senyuman pria itu. Dengan membantuku dan ibuku, bukan berarti kau memenangkan hatiku, Tn. Jung. Aku tidak akan menyerahkan hatiku kepada dirimu, tidak akan pernah.

.

.

.

Seojin akan dioperasi hari ini. Sebelum dioperasi, ia berbicara kepada putrinya. "Jae, bisa saja operasi ibu ini tidak berhasil dan ibu akan mati."

Jaejoong menatap ibunya. Ia berusaha menahan tangis. "Mengapa ibu berkata seperti itu? Ibu tidak akan mati. Dokter yang akan mengoperasi ibu adalah dokter yang terbaik. Apakah ibu tidak percaya pada kemampuan mereka?"

"Hidup manusia ada di tangan Tuhan, bukan di tangan dokter." Seojin memandang langit-langit. "Hal yang paling kukhawatirkan adalah dirimu. Aku sama sekali tidak takut mati." Ia membelai wajah putrinya. Ia mengusap air mata yang jatuh dari mata Jaejoong. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepadamu setelah aku pergi."

Air mata Jaejoong turun semakin deras. "Bu, kumohon ibu jangan berpikir seperti itu. Ibu akan sembuh. Operasinya akan berhasil. Kita akan segera pulang ke rumah. Ibu tidak boleh mati karena ibu belum menyaksikan diriku menyanyi di atas panggung sebagai seorang penyanyi."

Seojin ikut menangis. Hal yang paling ia sesalkan adalah ia tidak mampu membantu mewujudkan impian putrinya untuk menjadi seorang penyanyi. Ia memeluk putrinya dan mereka menangis bersama.

Setelah berbicara dengan Jaejoong, Seojin meminta Jaejoong untuk memanggil Yunho yang berada di luar. Ia ingin berbicara berdua dengan pemuda itu.

"Apakah ibu sudah siap?" Yunho membelai punggung tangan Seojin, mencoba memberikan semangat kepada wanita itu.

"Aku sangat siap," jawab Seojin mantap. "Yunho, tolong jaga putriku!"

Yunho menatap Seojin dalam. Ia merasakan sesuatu di balik perkataan Seojin. Perasaannya menjadi tidak enak.

"Aku tidak tahu apakah operasiku ini akan berhasil atau tidak," lanjut Seojin.

Yunho tidak berkata apa-apa. Ia merasa sedih.

"Mau kan kau menjaga Jaejoong?" tanya Seojin.

Yunho mengangguk. Ia tidak berkata apa-apa. Lidahnya terasa kelu.

Seojin tersenyum. "Aku tahu bahwa aku bisa mengandalkanmu. Kau adalah pria yang sangat baik. Sekarang aku bisa merasa tenang. Aku tidak khawatir lagi untuk meninggalkan dunia ini."

.

.

.

Yunho dengan setia berada di sisi Jaejoong saat menunggu operasi Seojin. "Jae, kau belum makan. Ayo kita makan dahulu!"

Tatapan Jaejoong terlihat kosong. "Aku sama sekali tidak lapar. Kau makan saja sendiri."

Yunho bingung bagaimana harus membujuk Jaejoong untuk makan. Gadis itu sangat keras kepala. "Baiklah, aku akan pergi ke kantin."

Yunho kembali dari kantin dengan membawa roti isi untuk Jaejoong. "Makanlah! Isinya ikan tuna pedas."

"Aku tidak lapar." Jaejoong masih tidak menatap Yunho.

Yunho menghela nafas. "Ibumu pasti akan memarahiku jika ia tahu bahwa aku tidak bisa memaksamu untuk makan."

Jaejoong akhirnya menoleh ke arah Yunho. Sebegitu percayanyakah sang ibu kepada pria itu?

"Makanlah demi ibumu!" Yunho merasa sudah menang dari Jaejoong. "Kau tidak ingin membuatnya kecewa, bukan?"

Jaejoong mengambil roti isi dari tangan Yunho dan memakannya. Ia tidak mau membuat ibunya bersedih.

Yunho tersenyum melihat Jaejoong makan. Menurutnya Jaejoong terlihat sangat lucu.

Jaejoong akhirnya merasa bahwa Yunho memperhatikannya. Ia menjadi salah tingkah. "Mengapa kau memandangku? Apakah cara makanku sangat aneh?"

Yunho menggeleng. "Tidak, bukan begitu. Kau terlihat sangat cantik saat makan."

Jaejoong tidak suka dipuji dan dipandang oleh Yunho. Ia merasa hal itu mengerikan. Ia tidak menyukai pria itu. Jika bukan karena ibunya, ia tidak akan mau berdekatan dengan pria itu.

.

.

.

Setelah berjam-jam akhirnya Seojin keluar dari ruang operasi. Namun, dokter langsung memanggil Jaejoong untuk membicarkan kondisi kesehatan Seojin.

"Nn. Kim, kami telah mengangkat sel kanker dari tubuhnya. Akan tetapi, ..." Sang dokter menghela nafas.

Jaejoong merasa sangat gugup mendengarkan penjelasan dokter. Apakah kondisi kesehatan ibunya semakin parah? "Apa?"

"Kami tidak bisa mengangkat sel kanker seluruhnya. Penyakit ibumu sudah sangat parah. Sel kankernya sudah menggerogoti beberapa organ tubuhnya. Ibumu tidak bisa sembuh sepenuhnya. Untuk mencegah perkembangan sel kankernya, ibumu harus terus menjalani terapi." Dokter menjelaskan.

Jaejoong merasa sedikit lega. Setidaknya ibunya masih bisa hidup.

"Terapinya bisa berlangsung selama bertahun-tahun," lanjut dokter. "Terapinya akan dilakukan seminggu sekali."

Jaejoong sangat ingin ibunya sembuh. Ia ingin ibunya menjalani terapi. Akan tetapi, satu hal menjadi kendalanya, biaya terapi yang sangat besar. Gajinya di toko swalayan tidak akan cukup untuk membayar biaya terapi. Selain itu, ia juga harus membayar biaya hidup mereka sehari-hari dan masih ada utang kepada Yunho dan manajer toko yang harus dilunasi.

.

.

.

Jaejoong berjalan dengan lunglai dari ruang kerja dokter ke kamar rawat ibunya. Apa yang harus ia lakukan? Hanya satu orang yang terlintas di pikirannya, yang bisa membantunya, yaitu Yunho. Akan tetapi, ia tidak ingin berurusan dengan pria itu lagi. Sepertinya ia tidak mempunyai pilihan lain. Ia hanya bisa mengandalkan pria itu.

Jaejoong merasa malu jika ia harus terus meminta tolong kepada Yunho. Ia juga belum tentu bisa mengembalikan semua pinjaman dari pria itu. Apa yang harus ia lakukan?

Tiba-tiba sebuah ide terlintas di otak Jaejoong yang sudah buntu. Bukankah pria itu menyukainya? Jika pria itu mencintainya, pria itu pasti tidak akan ragu-ragu untuk membantu dirinya. Ya, ia harus membuat pria itu jatuh cinta sangat dalam kepada dirinya. Itu tidak menyukai ide ini. Namun, ia tidak mempunyai solusi lain untuk masalahnya. Selain itu, ibunya juga pasti merasa senang jika ia menjadi kekasih pria itu.

.

.

.

Jaejoong memaksakan dirinya untuk bersikap lembut kepada Yunho. Ia harus membuat pria itu tergila-gila kepadanya. Dengan sengaja ia menggoda pria itu dengan tingkahnya yang sangat menggemaskan. Ia merasa jijik kepada dirinya sendiri karena melakukan hal itu.

Jaejoong tahu bahwa Yunho senang melihat bibirnya. Oleh karena itu, ia mengoleskan lip gloss pada bibirnya. Ia kemudian menjilati bibirnya, menggigit bibir bawahnya, atau menggembungkan pipinya sambil memanyunkan bibirnya di hadapan Yunho. Benar saja, pria itu tidak berkedip memandang bibirnya. Kau sangat mudah untuk dijebak, Tn. Jung. Ia tidak sadar bahwa dirinyalah yang terjebak. Ia tidak akan bisa melepaskan diri dari pria itu.

.

.

.

Yunho merasa bahwa Jaejoong sudah mulai menyukai dirinya. Gadis itu tidak membencinya lagi. Ia mulai memberanikan diri untuk menjemput Jaejoong di toko swalayan.

"Siapa pria itu? Sejak tadi ia hanya berdiri di luar dan tidak masuk." Salah satu karyawan toko swalayan melihat gerak-gerik Yunho yang menurutnya mencurigakan.

Jaejoong melihat ke luar toko, ke arah pandang rekan kerjanya. Ia juga ingin tahu apa yang dimaksud oleh rekan kerjanya itu. "Oh, ia temanku. Ia pasti datang untuk mencariku." Ia merasa tidak enak kepada manajer toko dan rekan-rekan kerjanya.

Yunho merasa senang saat melihat Jaejoong keluar dari toko dan berjalan menghampirinya. Gadis itu tersenyum kepadanya.

"Apa kau datang untuk menemuiku?" Jaejoong berpura-pura tersipu. "Ada apa?"

Yunho terpesona melihat Jaejoong. Detak jantungnya menjadi tak beraturan. "Kapan kau selesai bekerja? Aku ingin mengajakmu makan bersama."

"Sebentar lagi jam kerjaku selesai," jawab Jaejoong. Ia tersenyum sangat manis. Ia mengerti bahwa saat ini Yunho sedang mengajaknya berkencan. "Akan tetapi, aku tidak bisa menerima ajakanmu. Ibuku sudah menunggu di rumah. Ia menungguku untuk mencicipi masakan buatannya." Ia menggembungkan pipinya.

"Oh, ya sudah. Kita pergi makan lain kali saja. Memakan masakan ibumu lebih penting. Aku sangat iri kepadamu. Kau masih bisa menikmati masakan yang dibuat oleh ibumu dengan penuh cinta." Yunho merasa sedikit kecewa karena ia gagal mengajak Jaejoong berkencan. Namun, ia sangat memahami alasan Jaejoong.

"Uhm, bagaimana jika kau ikut makan bersama kami di rumah?" usul Jaejoong. "Kita masih bisa makan bersama. Ibu juga pasti senang bertemu denganmu."

"Benarkah?" Mata Yunho berbinar-binar.

Jaejoong mengangguk dengan imutnya. "Tunggulah setengah jam lagi! Jam kerjaku akan berakhir setengah jam lagi."

.

.

.

Seojin merasa sangat gembira karena Yunho datang berkunjung ke rumahnya, apalagi pemuda itu datang bersama putrinya. "Mohon maaf, tempat kami kecil!" Ia merasa sangat tidak enak kepada tamunya itu.

Yunho melihat-lihat sekeliling rumah Jaejoong, lebih tepatnya kamar. Tempat tinggal mereka hanya terdiri atas sebuah ruangan yang berfungsi sebagai kamar tidur, dapur, dan ruang makan. Ia merasa sedih melihat kondisi tempat tinggal Jaejoong. Bagaimana bisa Jaejoong dan ibunya sanggup bertahan hidup di tempat seperti ini?

Jaejoong menatap Yunho yang sedang melihat-lihat rumahnya. Ia menatap pria itu dengan perasaan tidak suka. Dasar orang kaya! Ia berpikir Yunho merasa jijik dan merendahkan tempat tinggalnya.

Seojin sudah menganggap Yunho seperti anaknya sendiri. Selama kurang lebih tiga minggu pemuda itu setia menemaninya di rumah sakit saat Jaejoong bekerja. "Maaf, kami hanya punya ini untuk dimakan." Ia menghidangkan semangkuk bubur encer di hadapan Yunho. Ia memperlakukan tamunya dengan sangat baik, terlepas dari menu makanan yang dihidangkannya.

Hati Yunho bagaikan teriris melihat makanan yang tersaji di atas meja. Bagaimana Jaejoong dan Seojin bisa sehat jika hanya memakan bubur encer?

Jaejoong tidak suka Yunho mencuri perhatian Seojin darinya. Seojin adalah ibunya, bukan ibu pria itu. "Bu, aku mau tambah buburnya." Ia berusaha menarik perhatian ibunya.

"Kau bisa mengambilnya sendiri, bukan? Pancinya berada tepat di hadapanmu," balas Seojin.

Jaejoong menampakkan wajah masam. Ia merasa marah, bukan kepada ibunya, melainkan kepada Yunho.

Yunho melihat wajah cemberut Jaejoong. Ia berpikir bahwa Jaejoong pasti kecewa karena sang ibu tidak mau mengambilkan bubur untuknya. Ia pun berinisiatif untuk mengisi mangkuk Jaejoong dengan bubur. "Makanlah yang banyak agar kau bisa mengisi ulang tenagamu!"

Jaejoong berusaha untuk menyembunyikan amarahnya. Ia tidak boleh merusak suasana. "Terlalu banyak."

"Ini tidak terlalu banyak. Kau sudah bekerja seharian. Kau pasti sangat lapar," balas Yunho.

Jaejoong tidak membalas lagi. Ia mencoba untuk menekan emosinya. Entah sampai kapan ia bisa menahan diri. Ia harus bisa bertahan sampai ibunya sembuh.

.

.

.

Yunho terus melakukan pendekatan kepada Jaejoong. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati dan perlahan, mengingat sifat Jaejoong yang tidak terlalu ramah kepada lawan jenis.

Jaejoong bisa merasakan bahwa Yunho berusaha untuk mendekatinya. Sesungguhnya ia merasa sangat tidak nyaman dengan perhatian-perhatian yang diberikan oleh Yunho. Namun, di sisi lain ini merupakan keuntungan baginya. Pria itu adalah satu-satunya jalan agar ibunya bisa terus menjalani pengobatan.

"Persediaan obat ibu sudah habis. Aku belum bisa membelinya. Aku harus menunggu sampai aku menerima gaji minggu depan." Secara tidak langsung Jaejoong meminta Yunho untuk membelikan obat untuk ibunya.

"Kau tidak perlu khawatir. Aku yang akan membelikannya," ujar Yunho.

Jaejoong berpura-pura merasa tidak enak, padahal di dalam hatinya ia merasa lega. "Aku merasa tidak enak karena selalu menyusahkanmu. Ia adalah ibuku. Akulah yang harus bertanggung jawab, bukan dirimu."

"Aku sudah tidak punya orang tua. Aku menganggap ibumu sebagai ibuku sendiri. Aku sama sekali tidak merasa direpotkan." Yunho menatap Jaejoong dengan tulus. "Jika kalian membutuhkan sesuatu, jangan sungkan-sungkan untuk mengatakannya kepadaku!"

"Terima kasih banyak." Jaejoong menunduk. Ia menghindari tatapan pria itu yang membuatnya tidak nyaman. "Aku tidak akan pernah bisa membalas semua kebaikanmu."

Yunho tersenyum. "Kau tidak perlu berpikir untuk membalasnya. Aku sama sekali tidak mengharapkan apa pun."

Bohong! Kau pasti berharap untuk mendapatkan diriku, bukan?

"Apa kau masih menganggapku sebagai orang asing, padahal aku sudah menganggap ibumu seperti ibuku sendiri?" Yunho terlihat terluka.

"Tidak, sama sekali tidak. Kau adalah orang yang sangat istimewa bagiku." Jaejoong menjadi seorang penjilat.

Perasaan Yunho melambung tinggi mendengar ucapan Jaejoong. Apakah Jaejoong juga menyukai dirinya? Mungkin sudah saatnya ia menyatakan perasaannya kepada Jaejoong. "Jae, sebenarnya aku..."

Jaejoong mengerutkan keningnya. "Apa?"

"Aku... Ah, bagaimana aku mengatakannya kepadamu?" Yunho merasa sangat gugup.

Jaejoong merasa was-was menunggu perkataan Yunho. Apakah Yunho akan mengatakan suatu hal yang buruk? Apakah pria itu ingin menagih semua utang-utangnya? Wajahnya memucat.

Yunho menatap mata Jaejoong dalam-dalam. "Jae, aku menyukaimu. Maukah kau menjadi kekasihku?"

Jantung Jaejoong mencelos. Ini benar-benar di luar dugaannya. Secepat itukah pria itu menyatakan cinta kepadanya?

Yunho memperhatikan raut wajah Jaejoong. Raut wajah gadis itu masih datar-datar saja. Sepertinya gadis itu masih syok oleh pengakuan cintanya. "Kita memang belum lama saling mengenal. Aku mengerti itu. Akan tetapi, aku benar-benar menyukaimu, Jae."

Jaejoong bingung. Ia belum mempunyai rencana untuk menghadapi hal ini. Apakah ia harus menerima atau menolaknya? Terlalu cepat untuk menjadi kekasih pria itu. Ia belum siap. Namun, jika ia menolaknya, ia khawatir jika pria itu pergi menjauh darinya dan hilanglah pegangan yang ia andalkan.

"Kau tidak perlu menjawabnya hari ini. Kau masih punya banyak waktu untuk mempertimbangkannya," ujar Yunho. Ia sangat takut jika Jaejoong justru menjauhi dirinya. "Aku akan menerima dengan lapang dada apa pun jawabanmu."

Jaejoong merasa kepalanya berputar-putar. Ia merasa sangat bingung. Ia harus segera memutuskannya. "Aku mau. Ya, aku mau menjadi kekasihmu." Ia menarik paksa bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman.

Yunho terkejut. Ia juga tidak menyangka bahwa Jaejoong akan langsung memberikan jawaban. Perasaannya semakin melambung tinggi. "Benarkah? Apakah kau serius? Apakah kau tidak ingin mempertimbangkannya lagi?"

Jaejoong sudah tidak bisa mundur lagi. Ia tidak boleh terlihat plin-plan. Hal itu akan menjadi nilai minus di mata Yunho. Ia pun mengangguk. "Aku serius." Dirinya terjebak. Ia tak bisa melepaskan diri dari pria itu.

.

.

.

Jaejoong harus menjalankan perannya dengan baik. Ia menjadi terbiasa untuk berpura-pura. Ia harus membuat Yunho semakin jatuh cinta kepadanya. Ia harus membuat Yunho semakin menginginkan dirinya. Pria itu menyukai kepolosannya, sifat pekerja kerasnya, dan kemandiriannya. Ia harus menonjolkan hal-hal tersebut di hadapan pria itu. Aku tidaklah sepolos yang kau pikir.

Seojin sangat mendukung hubungan Jaejoong dengan Yunho. Ia sangat menyukai kepribadian Yunho. Menurutnya Yunho pasti bisa menjaga putri semata wayangnya itu dengan baik. Pemuda itu bisa memahami sifat putrinya. "Kau akan pergi berkencan. Berdandanlah dan pakai pakaian yang lebih bagus!" nasihatnya kepada Jaejoong.

Jaejoong sangat mengetahui selera Yunho. Pria itu menyukai dirinya yang berpenampilan santai dan polos. "Tidak apa-apa. Ia mengerti bahwa aku tidak mempunyai pakaian yang bagus."

"Setidaknya pakailah baju terbaik yang kau punya," komentar Seojin.

"Jika aku memakai baju itu sekarang, lain kali apa yang akan kupakai?" Jaejoong berargumen.

Seojin hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar perkataan Jaejoong. Ia sudah tidak bisa mengatur putrinya lagi.

.

.

.

Jaejoong merasa sangat takut. Banyak hal yang mengganjal di pikirannya. Bagaimana jika ia memegang tanganku? Bagaimana jika ia menciumku? Aaahh! Aku tidak mau.

Yunho membandingkan pakaian yang dikenakannya dengan pakaian yang dikenakan oleh Jaejoong. Terlihat jelas perbedaan jauh kelas sosial mereka. "Ayo kita pergi ke toko pakaian!" Ia menarik lengan Jaejoong.

Jaejoong tidak suka tangannya disentuh oleh seorang pria. Ingin sekali ia menarik kembali tangannya dan memukul pria itu. Namun, ia harus menahan dirinya. Ia harus bertahan. Ini belum apa-apa Kim Jaejoong. Kau pasti bisa melaluinya.

Yunho membawa kekasihnya ke dalam sebuah toko pakaian. "Pilih saja pakaian mana pun yang kau suka!"

Jaejoong merasa sangat kebingungan. Ia belum pernah mengunjungi toko pakaian sebesar ini. Biasanya ia membeli pakaian obral di toko kecil di pinggir jalan. Ia terkesima melihat banyaknya pakaian yang dipajang di toko ini.

"Mengapa kau diam saja? Ayo dilihat-lihat!" Yunho berpikir bahwa Jaejoong malu-malu.

Jaejoong menggeleng. "Tidak usah. Lebih baik uangnya untuk membayar biaya terapi penyakit ibu." Ia mengatakan hal itu bukan untuk membuat Yunho terkagum-kagum kepadanya. Hal itu tulus dari hatinya.

Jaejoong tidak peduli bahwa ia mengenakan pakaian yang lusuh. Yang terpenting baginya adalah kesehatan sang ibu. Ia tidak perlu merasa khawatir para lelaki merasa jijik melihat penampilannya, sudah ada Yunho yang mencintai dirinya yang sederhana.

Yunho merasa sangat sedih. Ingin sekali ia membahagiakan Jaejoong. Yang bisa membuat gadis itu bahagia adalah kesembuhan sang ibu. Apa pun akan ia lakukan demi kesembuhan Seojin. "Kau tidak perlu mengkhawatirkan pengobatan ibumu. Kau bisa mengandalkanku."

Jaejoong mencoba tersenyum. "Kau sudah terlalu banyak mengeluarkan uang untuk pengobatan ibuku. Aku tidak ingin kau mengeluarkan uang lebih banyak lagi untuk membelikanku pakaian. Aku juga masih bisa membeli pakaian dengan uangku sendiri."

Yunho benar-benar merasa tidak berguna. Ia ingin Jaejoong mengenakan pakaian yang bagus seperti gadis-gadis lain. Apa gunanya ia menjadi orang kaya jika membelikan baju untuk kekasihnya saja tidak bisa? "Jae, sepotong atau dua potong pakaian saja tidak masalah bagiku. Uang yang kukeluarkan tidak akan terlalu banyak."

Jaejoong akhirnya luluh. "Baiklah, aku akan memilih sepotong pakaian untukku dan sepotong untuk ibuku." Ia berbalik meninggalkan Yunho untuk memilih-milih pakaian.

Jaejoong merasa sedih. Ia berbalik untuk menyembunyikan air mata yang berhasil lolos dari matanya. Sudah lama sekali ia dan ibunya tidak membeli baju baru, terutama ibunya.

Yunho merasa sesak di dadanya. Gadis yang ia cintai hidup dalam kesusahan. Untuk membeli sepotong pakaian saja Jaejoong harus berpikir keras. Kekasihnya itu masih saja sempat memikirkan sang ibu.

Jaejoong bingung untuk memilih pakaian. Yang ia perhatikan pertama kali adalah label harganya. Ia menjerat Yunho hanya demi kelangsungan pengobatan ibunya, bukan untuk menguras harta pria itu. Ia sudah merasa sangat berdosa dengan mempermainkan perasaan pria itu. Ia tidak ingin semakin bersalah dengan bersenang-senang dengan uang kekasihnya itu.

Kencan seharusnya menjadi hal yang menyenangkan, tetapi tidak bagi Yunho. Hatinya tersayat-sayat melihat Jaejoong melihat-lihat label harga yang tertempel pada pakaian-pakaian yang dipajang. Gadis-gadis lain mungkin akan memilih pakaian mana pun yang mereka inginkan, semahal apa pun itu. Kekasihnya ini sangat unik. Ia merasa bersyukur menemukan gadis seperti Jaejoong.

Yunho tidak ingin terus bersedih dengan memperhatikan kekasihnya yang sedang memilih-milih pakaian di toko. Ia pun pergi ke bagian mainan anak-anak di toko tersebut. Ia melihat-lihat boneka.

Yunho bermaksud untuk membelikan Jaejoong sebuah boneka. Kekasihnya itu selalu membawa boneka beruang lusuh di dalam tasnya. Ia ingin membelikan boneka baru untuk Jaejoong.

.

.

.

Jaejoong akhirnya selesai memilih dua potong pakaian, satu untuk dirinya dan satu lagi untuk ibunya. Ia memilih pakaian termurah yang dapat ia temukan di toko tersebut. Ia pun bergegas mencari Yunho untuk menunjukkan pilihannya. Ia pun menemukan kekasihnya sedang kerepotan membawa sebuah boneka beruang besar. "Mengapa kau membawa boneka beruang besar itu?"

Yunho tersenyum melihat kekasihnya. "Aku membelinya untukmu. Apa kau suka?"

"Untuk apa kau membelinya?" Jaejoong tidak suka Yunho menghamburkan uang untuk hal yang tidak berguna.

"Apa kau tidak suka?" Senyuman di wajah Yunho memudar melihat Jaejoong sama sekali tidak tersenyum.

Jaejoong menyadari kesalahannya. Tidak seharusnya ia mengatakan hal itu. "Tidak, bukan begitu. Aku menyukainya. Boneka beruang itu lucu sekali. Akan tetapi, boneka itu terlalu besar. Di mana aku akan menyimpannya? Kau tahu sendiri seperti apa rumahku."

Yunho terdiam. Yang Jaejoong katakan memang benar. Ia lupa bahwa tempat tinggal Jaejoong hanyalah sebuah ruangan berukuran tiga puluh meter persegi. Boneka sebesar itu tidak akan bisa disimpan di sana. Ia kemudian berpikir untuk membelikan rumah untuk Jaejoong dan ibunya. "Untuk sementara boneka ini akan kusimpan di rumahku sampai aku menemukan tempat tinggal yang lebih besar untuk kalian."

Jaejoong tersentak oleh perkataan Yunho. Tidak, ia tidak ingin menerima apa pun lagi dari Yunho yang tidak berhubungan dengan kesehatan ibunya. Tidak, ia tidak ingin semakin merasa bersalah. "Yunho, cukup! Jangan membuatku semakin berutang kepadamu!"

Yunho tidak menyangka bahwa Jaejoong akan marah kepadanya. Apakah yang ia lakukan salah?

Jaejoong tidak bisa lagi menahan air matanya. Yunho sudah terlalu berlebihan. Ia tidak ingin pria itu terlalu memanjakannya. Ia tidak akan sanggup untuk menanggung semua rasa bersalah itu.

Yunho memeluk Jaejoong dengan ragu-ragu. "Jae, aku hanya ingin membahagiakanmu. Bukankah wajar jika seorang pria memberikan banyak hal kepada kekasihnya? Kumohon jangan marah kepadaku! Jika kau tidak menyukai barang pemberianku, kau bisa menolaknya."

Menolak pemberian orang lain akan menyakiti hati orang yang memberi. Jaejoong akhirnya menyadari hal itu. Ia sudah lebih tenang sekarang. Tangisnya sudah reda. "Maaf! Tidak sepantasnya aku menolak semua kebaikanmu. Aku hanya merasa tidak terbiasa dengan hal itu."

Yunho tersenyum. Ia mengusap air mata Jaejoong. "Nanti juga kau akan terbiasa." Tidak terbiasa menerima kebaikan orang lain? Sungguh memprihatinkan hidup kekasihnya itu.

Jaejoong ikut tersenyum. Ya, ia harus membiasakan diri. Ia harus menyesuaikan diri dengan kehadiran pria itu dalam hidupnya, entah sampai kapan.

.

.

.

Selesai membeli pakaian, Yunho mengajak Jaejoong makan di restoran. Ia tidak mengajak ke restoran yang terlalu mewah. Ia khawatir Jaejoong akan merasa canggung. "Kau ingin makan apa?"

Jaejoong melihat-lihat daftar menu. Buku menu tersebut menyertakan gambar dari makanan yang dimaksud. Ia melihat gambar daging panggang. Kelenjar ludahnya memproduksi air liur dalam jumlah besar. Sudah lama ia tidak makan daging.

Yunho melihat apa yang Jaejoong pandangi. "Kau ingin makan daging seperti yang ada dalam gambar itu?"

Jaejoong langsung menutup buku menunya untuk menghindari godaan. "Aku pesan mie saja."

"Aku yang mentraktir. Kau boleh makan apa saja," ucap Yunho hati-hati. Ia takut menyinggung perasaan Jaejoong.

Jaejoong tersenyum. "Aku ingin mie."

Yunho tidak bisa memaksa kekasihnya itu. Mungkin saja memang benar Jaejoong ingin makan mie. "Baiklah kalau begitu." Ia kemudian memanggil pelayan restoran. "Kami pesan mie dan daging panggang."

Selama menunggu makanan mereka diantar, Jaejoong hanya diam. Ia merasa canggung berduaan dengan Yunho. Pria itu berstatus sebagai kekasihnya, tetapi ia sama sekali tidak mencintai pria itu.

Yunho bingung untuk memulai obrolan dengan Jaejoong. Gadis itu tidak seperti gadis biasanya. "Saat ada waktu luang, apa yang biasa kau lakukan?"

Jaejoong tidak tahu jawabannya. Ia hampir tidak mempunyai waktu luang. "Aku akan menghabiskan waktu bersama ibuku. Ibuku akan bercerita banyak hal dan aku mendengarkannya."

"Oh." Yunho menarik kesimpulan bahwa gadisnya ini tidak suka membagi perasaannya kepada orang lain, termasuk ibunya. Biasanya remaja putri selalu berbagi dengan ibunya. Jaejoong justru kebalikannya. Gadis ini menyimpan banyak beban di hatinya dan tak tahu kepada siapa ia bisa berbagi. "Jika kau mempunyai masalah, kau bisa bercerita kepadaku. Bukankah sekarang aku adalah kekasihmu, hmm?"

Jaejoong merasa sedikit terganggu oleh kata 'kekasih'. Ia sama sekali tidak menganggap Yunho sebagai kekasihnya. "Aku tidak mempunyai masalah. Aku bahagia."

Yunho tahu bahwa Jaejoong berbohong. Gadisnya itu hanya berpura-pura tegar.

Akhirnya, pesanan mereka datang. Yunho memakan daging panggangnya dengan lahap.

Jaejoong mencuri pandang ke arah Yunho yang sedang makan. Sepertinya daging panggang itu enak.

Yunho tahu bahwa Jaejoong menginginkan daging panggang yang sedang dimakannya. "Apa kau mau mencicipinya? Rasanya enak sekali."

Jaejoong menggeleng. Ia lanjut memakan mienya.

"Aku sudah kenyang." Yunho sengaja tidak menghabiskan daging panggangnya.

Jaejoong menatap Yunho dengan tajam. "Kau harus menghabiskan makananmu. Di luar sana masih banyak orang yang tidak bisa makan."

"Jae, aku sudah kenyang. Perutku sudah tidak muat lagi," balas Yunho santai.

Jaejoong merasa sangat kesal kepada Yunho. Dasar orang kaya!

"Bagaimana jika kau saja yang habiskan?" Yunho menyeringai.

Jaejoong terdiam. Ia benar-benar ingin mencicipi daging panggang itu. Ia ragu apakah ia akan memakannya atau tidak. Ia sudah tidak bisa menahan godaan tersebut. Ia pun menarik piring Yunho ke arahnya. "Lebih baik aku makan, daripada harus dibuang." Ia memakan daging panggang itu dengan lahap.

Yunho benar-benar merasa kasihan melihat kekasihnya. Gadis itu lebih memilih untuk memakan makanan sisa daripada memesan satu porsi utuh. Terlihat sekali bahwa Jaejoong senang bisa makan daging. Entah kapan terakhir kali gadisnya itu makan daging. Mungkin saja Jaejoong tidak pernah makan daging seumur hidupnya.

Jaejoong tidak menghabiskan daging panggang itu meskipun ia masih ingin makan. Ia kemudian memanggil pelayan dan meminta daging panggang sisanya dibungkuskan.

"Mengapa tidak kau habiskan? Apa kau sudah kenyang?" tanya Yunho.

"Aku akan memberikannya kepada ibu. Ibu pasti senang karena bisa makan daging, meskipun sedikit." Jaejoong tersenyum membayangkan wajah ceria ibunya.

"Ibumu tidak boleh makan daging panggang. Kita pesan sup ikan saja untuk ibumu." Yunho memanggil pelayan untuk memesan satu makanan lagi untuk dibungkus.

.

.

.

Selesai makan, Yunho mengantar Jaejoong sampai ke depan gang tempat tinggal Jaejoong. Mobilnya tidak bisa dibawa masuk ke dalam gang.

"Terima kasih atas pakaian dan makan malamnya. Aku merasa senang," ujar Jaejoong.

"Aku juga merasa senang," balas Yunho. "Lain kali kau yang menentukan ke mana kita akan pergi berkencan."

Lain kali? Entahlah, Jaejoong merasa sangat tidak nyaman pergi berkencan dengan pria itu. Dunia mereka berbeda. "Bisakah lain kali kita membawa ibu?"

Yunho terkejut mendengar pertanyaan Jaejoong. Saat berkencan tentu saja yang ia harapkan adalah pergi berdua dengan kekasihnya.

"Ibu ingin sekali pergi ke pantai," lanjut Jaejoong lirih.

"Oh, tentu saja." Yunho tidak bisa menolak permintaan kekasihnya.

"Terima kasih." Jaejoong tersenyum tipis.

.

.

.

"Bu, Yunho membelikan baju baru untuk ibu. Aku yang memilihkannya. Apa ibu suka baju pilihanku?" Jaejoong sangat antusias memperlihatkan baju baru untuk ibunya.

Seojin tersenyum. "Bajunya bagus sekali. Mengapa kalian membeli baju untuk ibu? Seharusnya kalian membeli baju untukmu saja. Kau lebih membutuhkannya daripada ibu."

"Yunho juga membelikan baju untukku." Jaejoong memperlihatkan baju barunya.

"Ibu senang. Sepertinya ia bisa menjagamu dengan baik," ujar Seojin.

Jaejoong merasa sedih mendengar perkataan ibunya. "Aku tidak perlu siapa pun untuk menjagaku. Aku bisa menjaga diriku sendiri dan ibu."

Seojin membelai rambut putrinya. "Nak, kau sudah semakin dewasa. Ibu juga tidak akan hidup selamanya di dunia ini. Jika ibu pergi, siapa yang akan menemanimu?"

Jaejoong menitikkan air matanya. "Bu, jangan berkata seperti itu lagi. Kita akan selalu bersama, ibu dan aku, kita berdua."

Seojin menggeleng. "Tidak, Nak. Penyakit ini terus menggerogoti tubuh ibu. Entah sampai kapan ibu bisa bertahan."

Jaejoong terisak. "Ibu akan sembuh. Ibu pasti akan sembuh. Aku akan melakukan semua cara agar ibu bisa sembuh." Ia semakin emosional.

"Yunho adalah pemuda yang baik. Ia juga sangat mencintaimu," lanjut Seojin.

Jaejoong mengerti arah pembicaraan ibunya. Ibunya itu ingin ia menikah dengan Yunho. Berat baginya, tetapi jika itu yang ibunya inginkan, ia harus melaksanakannya. Kebahagiaan sang ibu adalah segalanya bagi dirinya, bahkan di atas kebahagiaannya sendiri.

.

.

.

Perhatian Yunho kepada Jaejoong dan Seojin semakin bertambah. Tanpa kenal menyerah ia terus mendekati Jaejoong. Tiga bulan sudah mereka menjadi sepasang kekasih. Ia merasa bahwa sudah saatnya ia melamar Jaejoong secara resmi.

Jaejoong tidak memiliki pilihan lain selain menerima lamaran Yunho. Ibunya tampak sangat bahagia saat Yunho datang dan mengemukakan maksud untuk melamar dirinya. Ia tidak ingin senyuman di wajah ibunya itu pudar.

Pernikahan Yunho dan Jaejoong hanya dihadiri oleh teman-teman dekat Yunho dan tetangga Jaejoong. Pesta pernikahan mereka tidak terlalu digelar secara mewah. Jaejoong tidak terlalu menyukai kemewahan. Ia merasa canggung.

Jaejoong merasa tidak percaya diri bersanding bersama Yunho di pelaminan. Ia juga malu bertemu dengan teman-teman Yunho. Strata sosial mereka berbeda jauh.

Berbeda dengan Jaejoong, Yunho merasa bangga menggandeng istrinya. Ia merasa beruntung bisa menikahi gadis seperti Jaejoong yang sederhana, pekerja keras, dan pantang menyerah.

"Aku tidak mengerti mengapa Yunho memilih gadis itu untuk menjadi istrinya. Memangnya apa kelebihan gadis itu selain wajahnya yang cantik? Pasti gadis itu hanya mengincar harta Yunho." Beberapa teman perempuan Yunho bergosip. "Masih banyak gadis yang lebih cantik dari kalangan kita."

Seorang pemuda tinggi, sahabat Yunho, datang menghampiri gadis-gadis itu. "Yunho memilih gadis itu karena kesederhanaannya dan sifatnya yang pekerja keras. Ia sudah muak dengan tingkah gadis-gadis kaya seperti kalian yang hanya bisa menghamburkan uang ayah kalian."

"Setidaknya kami mengamburkan uang ayah kami, bukan uang orang lain," balas salah satu dari gadis-gadis itu.

"Bagaimana jika suatu saat nanti ayah kalian bangkrut? Apa yang akan kalian lakukan?" tanya sahabat Yunho itu. "Setidaknya istri Yunho tidak akan meninggalkan suaminya jika suaminya itu jatuh miskin. Justru ia akan berusaha untuk membantu suaminya untuk bangkit lagi."

Para gadis itu terdiam. Mereka tidak pernah berpikir bahwa hidup bagaikan roda yang berputar. Tidak akan selamanya mereka berada di atas.

Yang paling berbahagia atas pernikahan ini adalah Yunho dan Seojin. Seojin merasa beban berat di pundaknya terlepas. Kapan pun Tuhan akan memanggilnya, ia tidak akan merasa khawatir lagi.

Jaejoong sangat tidak bahagia dengan pernikahannya ini. Ia melakukan ini untuk ibunya. Ia akan bertahan untuk menjalaninya asalkan ia bisa selalu melihat senyuman di wajah sang ibu.

.

.

.

Yunho membawa istri dan mertuanya tinggal di rumah besarnya. Ini adalah pertama kalinya mereka datang ke rumahnya.

Jaejoong terpana melihat sekelilingnya. Rumah suaminya itu besar sekali. Ia merasa canggung saat para pelayan menyambut kedatangannya. Ia tersenyum kaku kepada mereka.

"Jika kalian membutuhkan sesuatu, kalian bisa mengatakannya kepada mereka." Yunho memberi tahu istri dan mertuanya.

Yunho mengantar Seojin menuju sebuah kamar di rumahnya. "Ini adalah kamar ibu, sedangkan kamar kami ada di ujung lorong."

"Kamar ini terlalu besar untukku." Seojin merasa terharu. "Terima kasih."

"Rumah ini mulai sekarang adalah rumah kalian juga. Kalian bisa melakukan apa pun di sini." Yunho tersenyum.

Setelah mengantarkan ibu mertuanya ke kamar, Yunho membawa istri barunya ke kamarnya di ujung lorong. "Ini adalah kamar kita."

Jaejoong memaksakan senyuman tipis di bibirnya. Ia tidak ingin menempati kamar yang sama dengan suami yang tak dicintainya itu. Aku pasti bisa melaluinya.

"Jika kau tidak menyukai dekorasinya, kau bisa menggantinya, termasuk semua furnitur di dalamnya. Kau juga bisa mendekorasi ulang rumah kita sesuai seleramu," lanjut Yunho.

"Tidak, semuanya sudah bagus, bahkan terlalu bagus untukku," balas Jaejoong.

.

.

.

Malam pun tiba. Jaejoong merasa sangat tidak tenang. Ini adalah malam pengantinnya. Ia benar-benar takut dan tak menginginkannya.

Yunho mengira bahwa istrinya itu hanya merasa gugup dalam menghadapi malam pengantin mereka. Tidak pernah terlintas di pikirannya bahwa istrinya itu merasa takut dan tidak menginginkannya. "Sayang, mengapa kau berdiri jauh dariku? Ayo kemari! Aku tidak akan menggigitmu. Hehehe."

Jaejoong ingin menangis. Ia merasa sangat takut. Ia ingin lari dari tempat ini. Perlahan kakinya melangkah mendekat ke arah suaminya.

Yunho melingkarkan lengannya pada pinggang Jaejoong. Ia menatap wajah cantik istrinya itu. Ia kemudian mengecup kening sang istri. Ia merasakan tubuh istrinya sangat dingin. Segugup itukah Jaejoong?

Perlahan Yunho menuntun istrinya ke tempat tidur. Mereka berdua duduk di tepi tempat tidur. Ia menggenggam erat tangan Jaejoong untuk menghangatkan tangan Jaejoong yang sangat dingin. "Apakah kau merasa kedinginan?"

Jaejoong menggeleng. Ia tidak berkata apa-apa. Jantungnya berdegup sangat kencang.

"Kau tidak akan kedinginan. Aku akan menghangatkanmu." Yunho mulai melancarkan rayuannya.

Jaejoong masih mematung. Pikirannya kosong.

Yunho menganggap sikap Jaejoong malam ini sangat wajar. Istrinya itu baru berusia delapan belas tahun, tujuh tahun lebih muda darinya. Sangat wajar jika Jaejoong sangat takut melewati malam pertama. Pengetahuannya pasti masih sangat kurang mengenai hal itu.

Yunho berbisik di telinga Jaejoong. Ia berbisik dengan suara yang lembut. "Kau tidak perlu terlalu khawatir. Aku akan berusaha membuatmu senyaman mungkin. Mungkin kau mendengar bahwa rasanya akan sakit. Percayalah kepadaku, rasa sakitnya hanya sebentar. Kau akan melupakan rasa sakitnya, digantikan oleh rasa yang lain."

Jaejoong bergidik mendengar bisikan Yunho. Rasanya ia seperti akan menghadapi hukuman mati saja.

Yunho mencium lembut istrinya itu. Ia tidak ingin membuat istrinya ketakutan.

Jaejoong pasrah saja saat Yunho menciumnya. Ia memejamkan matanya. Ia hanya diam.

Diam, hanya itu yang sanggup Jaejoong lakukan. Ia harus bertahan, melalui malam yang menyedihkan ini, malam di mana ia akan menyerahkan kesuciannya kepada pria yang tidak ia cintai. Biarlah ia hancur, asalkan ibunya bahagia.

Yunho membaringkan istrinya di atas tempat tidur. Ia masih mencium istrinya dengan lembut dan penuh perasaan.

Pikiran Jaejoong kosong. Jiwanya melayang entah ke mana. Yang ada saat ini hanyalah tubuh tanpa jiwa.

Yunho mulai memberikan sentuhan-sentuhan lembut, mencoba mengirimkan rangsangan. Istrinya itu hanya diam.

Yunho memandang mata Jaejoong yang sayu. Istrinya terbaring lemah di atas tempat tidur. Ia merasa ada yang aneh dengan sikap istrinya itu. Namun, ia berpikir bahwa hal itu wajar, mengingat usia Jaejoong yang masih sangat muda.

Hati Jaejoong terasa sakit saat Yunho melepaskan gaun tidurnya. Hawa dingin menyerang tubuhnya. Ia merasa hancur. Batinnya menangis.

Yunho menggerayangi tubuh telanjang istrinya. Semua bagian ia jamah.

Jaejoong merasa kotor. Pria itu menyentuh kulitnya. Dadanya terasa sesak.

Tidak berdaya, itulah keadaan Jaejoong saat ini. Kemalangan seakan tak pernah berhenti menghampirinya. Sejak kecil hidupnya sudah penuh penderitaan. Hanya senyuman sang ibu yang mampu membuatnya bertahan.

Mimpi, cita-cita, semua itu terasa sangat jauh dan sekarang semakin menjauh. Sirnalah sudah harapannya. Kini ia menjadi istri seseorang. Ia tidak lagi mempunyai kesempatan untuk menggapai impiannya.

"Aaargh!" Jaejoong berteriak saat dirinya terkoyak. Rasa sakit pada fisiknya tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Hancur, begitulah dirinya saat ini.

"Sssh! Tidak apa-apa. Kau akan baik-baik saja." Yunho berusaha menenangkan sang kekasih hatinya.

Jaejoong tidak bisa menahan air matanya. Ia menangis tersedu-tersedu.

Yunho kebingungan. Sesakit itukah rasanya? Ia pun menghentikan aksinya. "Sayang, maafkan aku!"

Jaejoong tidak bisa menghentikan tangisnya. Ia tahu bahwa seharusnya ia tidak menangis. Ia akan mengecewakan suaminya jika terus menangis. Namun, ia tak kuasa untuk menahan tangisnya. Ini terlalu menyakitkan baginya.

Yunho merasa sangat bersalah. Ia sudah merasa gagal sebagai seorang suami. Ia telah menyakiti istrinya.

Perlahan Jaejoong bisa menguasai dirinya. Ia mengusap air matanya. "Maafkan aku! Tidak seharusnya aku begini. Kumohon maafkan aku! Ini adalah yang pertama bagiku. Aku masih merasa syok."

Yunho tersenyum. Ia bisa merasa sedikit lega. "Apa kau mau melanjutkannya?" tanyanya ragu-ragu. "Jika kau tidak mau, tidak apa-apa. Aku bisa menunggu sampai kau benar-benar siap."

Ingin rasanya Jaejoong menjawab 'tidak', tetapi hal itu akan membuat hubungannya dengan Yunho menjadi buruk. Jika suaminya itu marah, ia khawatir hal itu akan berimbas kepada ibunya. Bagaimana jika Yunho tidak mau lagi membayar biaya pengobatan ibunya? Akhirnya ia pun mengangguk. Ia sudah terlanjur hancur saat ini.

Yunho merasa senang karena Jaejoong mau berhubungan intim dengannya. Sama sekali tidak ada pikiran negatif di kepalanya.

Jaejoong berusaha untuk berpura-pura menikmati adegan percintaan mereka. Ia mulai memberanikan diri untuk merespon suaminya itu. Ia harus membuat pria itu puas. Ia harus membuat pria itu tetap mencintainya dan membutuhkan dirinya.

Yunho merasa sangat bahagia karena istrinya itu menjadi lebih aktif pada aktivitas mereka. Ia merasa bahwa Jaejoong juga mencintainya.

Tn. Jung, hanya ini yang bisa kulakukan untuk membalas semua kebaikanmu kepadaku dan ibuku. Kuharap kau merasa puas dengan apa yang kuberikan kepadamu. Aku tak mempunyai apa-apa lagi yang bisa kuberikan, selain tubuhku ini.

.

.

.

Jaejoong merasa lega karena akhirnya adegan percintaan mereka malam itu selesai. Suaminya itu memiliki stamina yang cukup tinggi, sehingga ia kewalahan melayani pria itu. Perlu waktu yang cukup lama untuk membuat pria itu mencapai klimaksnya.

Yunho memeluk erat istrinya, membawanya ke dalam dekapan. "Sudah cukup untuk malam ini." Ia mengecup kening istrinya sebelum ia terlelap.

Jaejoong menunggu sampai suaminya benar-benar terlelap. Ia sama sekali tidak mengantuk, walaupun ia merasa sangat lelah. Bagaimana ia bisa tidur? Ia baru saja melewati sebuah mimpi buruk.

Setelah yakin bahwa Yunho benar-benar tertidur nyenyak, Jaejoong melepaskan dirinya dari dekapan pria itu. Ia berlari ke kamar mandi sambil berurai air mata.

Jaejoong menyalakan kran air pada kondisi maksimum. Suara air mengalir menyembunyikan tangisannya.

Jaejoong merendam tubuhnya di dalam bak mandi. Ia ingin menghapus sisa-sisa yang ditinggalkan Yunho pada dirinya. Ia merasa selangkangannya sangat perih.

Jaejoong menggosok tubuhnya sangat keras dengan spon. Ia tidak peduli kulitnya akan terkelupas, asalkan ia bisa menghilangkan bercak-bercak yang ditinggalkan oleh pria itu di tubuhnya. Ia marah, emosi. Ia marah kepada dirinya sendiri atas ketidakmampuannya selama ini. Ia sampai harus berurusan dengan pria itu akibat ketidakmampuannya. Ia benar-benar merasa sebagai orang yang paling tidak berguna di dunia.

.

.

.

Jaejoong tidak terbiasa hidup dilayani oleh orang lain. Pagi hari ia menyiapkan sarapan untuk suami dan ibunya. Ia tidak ingin memanfaatkan fasilitas di rumah suaminya ini.

"Nyonya, biarkan kami yang mengerjakannya! Ini adalah tugas kami. Nyonya menunggu saja di ruang makan." Para asisten rumah tangga kebingungan menghadapi nyonya mereka yang keras kepala. Jika Yunho sampai tahu bahwa sang nyonya rumah bekerja di dapur, mereka bisa terkena teguran.

"Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa melakukannya," ujar Jaejoong. "Kalian bisa mengerjakan hal lainnya."

Yunho mencari-cari istrinya. Ia mendengar suara ribut-ribut di dapur. "Ada apa ribut-ribut? Apa kalian melihat istriku?" Ia terkejut melihat orang yang dicarinya ada di dapur. "Sayang, kau sedang apa? Aku mencari-cari dirimu."

Jaejoong menyunggingkan senyuman palsunya. "Aku sedang menyiapkan sarapan untuk kita."

"Kau tidak perlu melakukannya. Itu adalah tugas mereka," ujar Yunho.

Jaejoong akhirnya menyadari bahwa tindakannya ini bisa merugikan para asisten rumah tangga di sana. "Maaf, aku tidak akan melakukannya lagi."

Yunho tidak ingin istrinya bersedih. "Tidak apa-apa jika kau ingin memasak. Aku juga penasaran seenak apa masakan buatanmu."

Jaejoong tidak ingin memutus rezeki orang lain. Para pelayan di rumah Yunho bekerja untuk mencari sesuap nasi. Ia tahu bagaimana sulitnya mencari pekerjaan. Ia tidak ingin mereka kehilangan pekerjaan karena pekerjaan mereka diambil alih olehnya. "Tidak, aku yakin masakan mereka pasti lebih enak. Aku hanya bisa memasak makanan yang sederhana."

Yunho melihat kesedihan pada raut wajah Jaejoong. Suasana di dapur menjadi sangat canggung. "Ya sudah, tidak apa-apa. Ayo kita ke ruang makan! Ibu sudah menunggu kita." Ia menuntun istrinya. Ia merasa bahwa Jaejoong masih canggung di rumahnya. Tidak apa-apa. Itu adalah hal yang wajar. Istrinya itu tidak terbiasa hidup mewah.

.

.

.

Jaejoong tidak perlu lagi bekerja setelah menikah dengan Yunho. Ia fokus untuk merawat ibunya yang sakit. Di hadapan suaminya ia mengenakan topeng. Hidupnya penuh dengan kepalsuan. Ia berpura-pura bahagia dan selalu tersenyum.

Seojin sangat mengenal putrinya. Ia merasa ada sesuatu yang salah dengan putrinya. "Jae, apa kau bahagia menikah dengan Yunho?"

Jaejoong mengangguk. "Tentu saja. Ia adalah pria yang sangat baik. Ia sangat mencintaiku."

"Bagaimana perasaanmu kepadanya? Apakah kau juga mencintainya?" Seojin sadar bahwa selama ini ia tidak pernah menanyakan hal itu kepada putrinya.

Jaejoong bingung untuk menjawab pertanyaan ibunya. "Aku bersedia menikah dengannya. Menurut ibu kira-kira bagaimana perasaanku kepadanya?"

Seojin terdiam sejenak. Mengapa Jaejoong tidak menjawab pertanyaannya secara eksplisit? "Kuharap kau juga sama mencintainya. Jika tidak, ibu tidak berani membayangkannya."

"Ibu tidak perlu mengkhawatirkan diriku. Ibu berkonsentrasi pada penyembuhan ibu saja." Jaejoong tersenyum agar ibunya tidak khawatir.

Entah mengapa masih ada yang mengganjal di hati Seojin. Benarkah Jaejoong mencintai sang suami?

.

.

.

Terkadang Jaejoong merasa lelah terus berpura-pura. "Bu, malam ini aku tidur dengan ibu ya."

"Mengapa? Bagaimana dengan suamimu? Bagaimana jika ia membutuhkanmu?" balas Seojin.

"Sudah lama aku tidak tidur dengan ibu. Aku merindukan dekapan ibu," rengek Jaejoong.

"Bukankah sudah ada Yunho yang akan mendekapmu?" ujar Seojin. "Seharian kau sudah merawat ibu. Malam hari saatnya kau melayani suamimu. Kau sudah bersuami sekarang. Tugas utamamu adalah melayani suamimu, bukan merawat ibu."

Jaejoong cemberut. Rasanya ingin sehari saja ia berlibur dari perannya sebagai istri Jung Yunho. Ia ingin bermanja-manja kepada ibunya seperti dulu.

"Kau harus lebih memperhatikan suamimu. Saat ia ada di rumah, kau harus lebih banyak bersamanya, bukan bersama ibu." Seojin menasihati Jaejoong. "Pengantin baru biasanya terlihat mesra. Ibu tidak ingin menjadi pengganggu dalam hubungan kalian."

Jaejoong tertunduk. Ia sudah tidak tahan. Ia merasa muak dengan kepura-puraannya. "Ia pasti mengerti. Ibu kan sedang sakit. Tentu saja aku harus merawat ibu."

"Ibu merasa kasihan kepada kalian. Masa-masa pengantin baru harusnya menjadi masa yang indah dan lebih banyak menghabiskan waktu berdua. Ibu tidak perlu kau tunggui sepanjang waktu, lagipula di rumah ini banyak pelayan yang bisa membantu ibu," lanjut Seojin.

Jaejoong terdiam. Ia tidak bisa membantah ibunya. "Baiklah."

.

.

.

Penyakit Seojin semakin parah. Ia harus dirawat di rumah sakit.

Jaejoong benar-benar dalam keadaan terpuruk. Segala cara sudah ia tempuh untuk menyembuhkan ibunya. Apakah tidak ada cara lain lagi?

Akhirnya, Seojin pun menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit. Ia pergi tanpa beban. Ia tidak khawatir meninggalkan Jaejoong di tangan orang yang sangat ia percayai.

Dunia Jaejoong seakan runtuh. Di antara semua kemalangannya, kehilangan ibunya ini adalah yang paling menyakitkan. Ibunya adalah satu-satunya orang yang ia sayangi, alasannya untuk tetap bertahan di dunia ini, menjalani pahitnya kehidupan. Kini sang ibu telah tiada. Untuk apa lagi ia hidup?

Jaejoong menangis sangat keras saat ibunya dimakamkan. Ia menangis sambil meronta-ronta. "Ibu, jangan tinggalkan aku! Aku sayang ibu!"

Yunho kewalahan menangangi istrinya. Istrinya itu menangis seperti kehilangan akal. Ia memakluminya karena selama sebelas tahun Jaejoong hanya punya ibunya. "Sayang, jangan menangis! Ibu tidak akan tenang jika kau seperti ini."

Setelah seminggu Seojin meninggal dunia, barulah Jaejoong bisa mengendalikan dirinya lagi. Air matanya sudah habis. Ia tak bisa menangis lagi. Untuk apa aku hidup jika ibu tidak ada?

Jaejoong mengingat kembali kenangan bersama ibunya. Ia teringat bahwa ia pernah berjanji kepada ibunya bahwa ia akan menjadi seorang penyanyi terkenal. Ia akan membuat ibunya bangga. Ia belum mempunyai kesempatan untuk memenuhi janjinya itu karena ia harus berkonsentrasi untuk menyembuhkan ibunya. Kini ibunya telah tiada, sudah saatnya ia kembali mengejar cita-citanya itu dan membuat ibunya bangga.

Jaejoong memutuskan bahwa ia akan pergi dari rumah Yunho. Ia tidak punya kepentingan lagi dengan pria itu. Untuk apa ia bertahan di rumah itu?

"Sayang, sudah waktunya makan!" Yunho menghampiri Jaejoong di kamar Seojin. Seorang pelayan yang membawa nampan makanan berjalan di belakangnya. "Sejak kemarin kau tidak makan." Ia mengambil mangkuk berisi bubur di atas nampan. Ia mencoba untuk menyuapi Jaejoong.

Jaejoong menggeleng. "Aku tidak lapar," ketusnya. Ia tidak perlu lagi bersikap manis kepada pria itu. Ia tidak peduli jika pria itu berubah membencinya, bahkan ia berharap Yunho menendangnya keluar dari rumah itu.

"Ibu akan marah kepadaku jika kau seperti ini. Aku sudah berjanji kepada ibu bahwa aku akan selalu menjagamu." Yunho merasa sedih melihat istrinya seperti itu.

Jaejoong kembali menangis karena Yunho menyebut-nyebut ibunya. Akhirnya ia mau disuapi oleh suaminya itu.

Jaejoong merasa perutnya bergejolak. Ia merasa mual. Mungkin ia terserang maag karena selama seminggu terakhir ia tidak makan secara teratur. Tubuhnya juga terasa lemas. Ia memuntahkan kembali makanannya.

Yunho mulai panik. Ia takut hal buruk menimpa istri kesayangannya. Ia menyuruh pelayannya untuk menelepon dokter.

.

.

.

Jaejoong pasrah saja saat dokter memeriksanya. Ia terbaring lemah di atas tempat tidur.

"Dokter, istriku sakit apa?" Yunho khawatir Jaejoong sakit seperti Seojin. "Bukan penyakit yang berbahaya kan?"

Dokter tersenyum. Ia menepuk bahu Yunho. "Tenang, Tn. Jung! Kau tidak perlu khawatir. Istrimu tidak sakit. Ia sedang mengandung. Selamat!"

Yunho merasa sangat bahagia mendengar kabar yang menurutnya sangat baik itu. Ia berharap kehadiran buah hati mereka bisa membuat istrinya tidak bersedih lagi.

Berbeda dengan Yunho, Jaejoong tidak menginginkan bayinya. Kemalangannya bertambah satu lagi. Di saat ia baru saja merancang kembali masa depannya dan meraih mimpinya, anak itu hadir dalam rahimnya. Mengapa nasib baik tak pernah datang kepadanya?

Jaejoong semakin terpuruk. Ia depresi. Ia semakin kehilangan semangat hidupnya. Ia harus membatalkan rencananya untuk pergi dari rumah Yunho untuk mengejar cita-citanya. Anak yang sedang dikandungnya itu akan menghambat dirinya.

Apakah Jaejoong harus menggugurkan kandungannya? Tidak, ia tidak mau menjadi seorang kriminal. Langkahnya akan semakin sulit jika ia sampai masuk penjara karena kasus aborsi. Lalu apa yang harus ia lakukan? Apakah lebih baik ia mati bersama anak yang dikandungnya itu?

.

.

.

Semuanya telah berakhir. Itulah yang dirasakan oleh Jaejoong. Mungkin mati adalah pilihan yang terbaik baginya. Jika ia mati, mungkin ia bisa bertemu kembali dengan ibunya. Ya, lebih baik ia mati.

Jaejoong bagaikan mayat hidup, mati tidak, hidup pun tidak. Ia hanyalah sesosok tubuh tanpa jiwa.

Yunho merasa sedih melihat kondisi istrinya. Istrinya itu tidak mau makan, bahkan tidak mau bicara. Apa yang harus ia lakukan?

Jaejoong memutuskan bahwa ia akan mengakhiri hidupnya. Ia melemparkan vas bunga ke dinding kamarnya, sehingga pecahannya berserakan di lantai.

Jaejoong mengambil salah satu pecahan vas bunga di lantai. Ia bermaksud memotong nadinya dengan pecahan tersebut. Ia menggoreskan pecahan itu pada pergelangan tangannya, menggores kulitnya. Bagaimana jika aku tidak mati setelah melakukan ini? Masih ada rasa takut pada diri Jaejoong.

"Nyonya, apa yang terjadi? Tanganmu berdarah." Seorang pelayan di rumah Yunho menghampiri Jaejoong yang duduk bersimpuh di lantai. Ia langsung berlari ke kamar majikannya setelah mendengar suara vas bunga yang membentur dinding. Ia mengambil tisu dan mengelap darah di tangan Jaejoong.

"Aku... Vas bunganya terjatuh," lirih Jaejoong.

Pelayan wanita itu merasa prihatin melihat Jaejoong. Sejak Seojin meninggal, Jaejoong dirundung kesedihan.

.

.

.

Jaejoong merutuki dirinya sendiri. Mengapa ia tidak berani untuk mengakhiri hidupnya? Memangnya apa lagi yang ia harapkan di dunia ini? Semuanya sudah hancur.

Yunho bingung bagaimana mengembalikan istrinya seperti sedia kala. Ia sudah hampir putus asa. Sudah sebulan ibu mertuanya tiada, tetapi Jaejoong masih berduka. "Jaejoongie Sayang, kau harus makan demi anak kita. Apa kau tidak menyayanginya? Ia akan kelaparan jika kau tidak mau makan."

Jaejoong menghela nafas. Ia menyerah. Ia memang tidak berguna, tidak bisa melakukan apa pun dengan benar. Mungkin memang sudah menjadi takdirnya harus seperti ini, hidup sebagai istri Jung Yunho.

Yunho melihat secercah cahaya saat melihat Jaejoong tersenyum. Akhirnya istrinya itu tersenyum.

"Aku lapar." Jaejoong tidak bisa terus menyiksa dirinya.

Yunho menyuapi istrinya itu. Ingin rasanya ia menangis karena bahagia.

.

.

.

Jaejoong mulai menjalani hidupnya kembali, walaupun hidupnya itu tidak berarti lagi. Ia tidak mempunyai pilihan lain. Jika ia tidak berani mati, hidup adalah pilihan satu-satunya.

Jaejoong menjalani hidupnya bagaikan robot. Jika waktunya makan ia akan makan, waktunya tidur ia akan tidur. Begitulah hidupnya setiap hari. Ia tidak memiliki keinginan apa pun.

Jaejoong mulai menjalani hidupnya yang penuh kepalsuan. Ia akan tersenyum di hadapan suaminya. Tidak ada yang ia miliki atau ia inginkan. Tidak ada ruginya ia membuat suaminya itu senang.

Yunho merasa senang karena istrinya sudah kembali normal, walaupun tidak sepenuhnya kembali seperti semula. Istrinya itu menjadi lebih pendiam dan tidak bersemangat. Namun, tetap saja ia bersyukur. Jaejoongnya ini masih lebih baik dari kondisi saat baru ditinggalkan oleh sang ibu.

Yunho memberikan perhatian yang sangat lebih kepada istri dan calon bayinya. Ia selalu memperhatikan makanan yang dimakan oleh Jaejoong. Istrinya itu akan memakan apa pun yang ia suruh. Istrinya itu sangat penurut.

"Sayang, apa kau tidak menginginkan sesuatu?" Yunho merasa heran karena istrinya itu tidak menunjukkan gejala mengidam seperti wanita hamil pada umumnya.

Jaejoong menggeleng. Ia memang tidak menginginkan apa pun.

"Apa kau ingin makan sesuatu, mungkin makanan pedas atau asam?" tanya Yunho lagi.

"Tidak," jawab Jaejoong lirih.

"Apa kau serius?" Yunho bertanya sekali lagi untuk memastikan. "Aku akan memberikan apa pun yang kau inginkan."

"Aku tidak ingin apa-apa," balas Jaejoong.

"Baiklah." Yunho menghela nafas. "Jika kau menginginkan sesuatu, jangan ragu-ragu untuk memintanya."

.

.

.

"Sayang, aku mendapatkan tiket konser TVXQ gratis dari temanku. Apa kau mau pergi menonton konser mereka?" Sudah lama Yunho tidak mengajak istrinya itu pergi ke luar untuk berkencan. Saat ibu mertuanya masih hidup, Jaejoong sibuk mengurus sang ibu.

Konser? Tiba-tiba muncul kembali keinginan Jaejoong untuk menjadi seorang penyanyi. Ia merasa iri kepada para penyanyi yang bisa menggelar konser. Ia sering membayangkan dirinya berdiri di atas panggung, menyanyi dan menari, disaksikan oleh ribuan penonton yang mengelu-elukan namanya. "Aku mau."

Yunho merasa senang. Istrinya itu mau juga diajak menonton konser, ke tempat yang sangat ramai.

.

.

.

Jaejoong menitikkan air mata saat menonton konser TVXQ. Ia merasa iri kepada para pemuda tampan itu. Kapan ia bisa seperti mereka?

Yunho mengira bahwa Jaejoong menangis karena terlalu menghayati lagu balada yang sedang dibawakan oleh TVXQ, ditambah istrinya itu juga sedang hamil. Wanita hamil cenderung memiliki emosi yang tidak stabil.

.

.

.

Sepulang menonton konser TVXQ, Jaejoong tidak bisa tidur. Ia terus saja membayangkan dirinya yang menggelar konser. Keinginan itu masih ada dalam hatinya. Ia ingin menjadi seorang penyanyi.

Jaejoong membelai perutnya yang sudah mulai menggembung. Apa yang harus ia lakukan? Mungkin ia harus bersabar sampai anaknya lahir. Setelah itu, ia akan pergi bebas, mengejar impiannya untuk menjadi seorang penyanyi. "Ayahmu sangat menyayangimu. Kau akan hidup bahagia, walaupun tanpa diriku."

.

.

.

Jaejoong harus bersabar dan bertahan selama beberapa bulan lagi, sampai anaknya lahir. Walaupun ia tidak menginginkan anak itu, ia tetap masih memiliki rasa sayang untuk anaknya itu. Bagaimana pun dalam tubuh mereka mengalir darah yang sama. Ia membawa anak itu di dalam rahimnya ke mana pun ia pergi. Terbentuk suatu ikatan di antara mereka berdua.

Kau harus tumbuh menjadi anak yang kuat dan mandiri. Kau tidak akan membutuhkan ibumu. Kau akan menjadi pelipur lara bagi ayahmu. Kau akan menjadi bintang dalam hidup ayahmu.

Aku tidak bisa memungkiri bahwa aku menyayangimu dan aku tidak suka hal itu. Aku membenci diriku karena aku menyayangimu. Kau telah membuat hatiku lemah. Tipu daya apa yang kau lakukan kepadaku, sehingga kau membuatku seperti ini? Ingin aku membencimu, tetapi aku tak bisa membencimu. Kuharap kau hidup dengan baik, tumbuh menjadi orang yang berguna. Jangan seperti diriku yang tidak bisa melakukan apa pun dengan benar. Buatlah ayahmu bangga kepadamu!

.

.

.

Akhirnya Jaejoong melahirkan bayinya dengan selamat, seorang bayi perempuan yang diberi nama Jung Jiyool. Ia merasa bahagia karena bayinya telah lahir dalam keadaan sehat. Sepertinya ini adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupnya.

Yunho memerintahkan para pelayan di rumahnya untuk menyambut kedatangan malaikat kecilnya di rumah mereka. Ia merasa sangat bahagia. Rumah tangganya bersama Jaejoong terasa semakin sempurna dengan kehadiran buah hati mereka.

Setelah Jiyool lahir, Jaejoong semakin menyayangi anaknya itu. Ia selalu tersenyum melihat betapa lucunya Jiyool. Saat-saat paling membahagiakan adalah saat ia menyusui bayinya itu.

Jaejoong mulai merasa ragu pada rencananya semula. Akankah ia sanggup untuk berpisah dari buah hatinya? Tidak, ia belum siap untuk kutinggalkan. Ia masih sangat lemah. Aku akan menunggu sampai ia benar-benar siap untuk kutinggalkan.

Semakin lama Jaejoong semakin merasa gundah. Bagaimana pun ia harus pergi. Hatinya harus kuat untuk berpisah dengan putrinya.

.

.

.

Jaejoong mengambil keputusan yang sangat berat. Jiyool sudah berusia dua bulan. Ini saatnya ia harus pergi. Ia harus pergi sebelum putrinya itu memiliki keterikatan yang lebih erat kepadanya.

Semua orang di kediaman Keluarga Jung tertidur lelap. Jaejoong harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Ia menaruh boneka beruang kesayangannya di samping Jiyool. "Ia akan menemanimu bermain, sehingga kau tidak akan kesepian." Ia mengecup kening Jiyool untuk terakhir kalinya. "Anakku sayang, jaga dirimu baik-baik! Aku tidak pantas untuk menjadi ibumu. Kau tidak memerlukan ibu yang tidak berguna seperti diriku. Jangan ingat-ingat diriku. Kau tidak mengenalku." Air matanya mulai mengalir deras.

Yunho, maafkan aku! Kau terlalu baik untukku. Aku sama sekali tidak pantas untuk kau cintai. Kau bodoh karena telah mencintaiku. Tolong jaga Jiyoolie untukku! Aku tahu kau pasti bisa melakukannya. Kau adalah pria yang sangat hebat. Kau pasti bisa menjadi panutan untuk putri kita. Tidak, bukan, mulai sekarang ia hanyalah putrimu. Mulai sekarang aku bukanlah ibunya. Aku tak punya hak apa pun lagi terhadap dirinya. Jaejoong pergi meninggalkan rumah besar itu dengan berlinang air mata. Entah mengapa malam ini terasa aneh. Para penjaga keamanan di rumah Keluarga Jung tertidur saat berjaga di depan gerbang, padahal tidak biasanya mereka seperti itu. Tuhan seakan memberi jalan kepada Jaejoong untuk memudahkan rencananya untuk meninggalkan rumah itu.

Jaejoong pergi tanpa membawa apa pun. Ia mengenakan pakaian lamanya yang ia beli sendiri dengan gajinya saat ia bekerja di toko swalayan. Ia merasa tidak berhak untuk membawa barang apa pun yang diberikan oleh Yunho. Ia datang ke rumah ini tanpa membawa apa-apa, pergi pun harus tanpa membawa apa-apa. Di sakunya hanya ada sedikit uang yang ia ambil dari celengan pribadinya. Ia tidak berani mengambil sepeser pun uang milik Yunho.

Jaejoong mengira bahwa tidak ada lagi sisa-sisa dirinya yang tertinggal di rumah itu. Ia juga tidak membawa apa pun yang bukan miliknya dari rumah itu. Jiyool adalah pemberian Yunho. Oleh karena itu, ia harus meninggalkan anak itu.

Jaejoong salah besar. Ia lupa bahwa darahnya mengalir dalam tubuh anak itu. Masih ada bagian dari dirinya yang tertinggal di rumah itu. Selain itu, ia juga meninggalkan bonekanya di sana. Ia tidak tahu bahwa kedua hal yang ia tinggalkan itu akan menariknya kembali ke rumah itu.

.

.

.

Guest: adanya prekuel.

Veectjae: ya, betul. JJ adalah istri Yunho.

Real ParkHana: ya, FF Yunjae semakin langka.

Pandacavely: di prekuel diceritakan pertemuan Yunjae.

Yensianx: terima kasih sudah membaca. Memang sengaja dibuat menggantung.

Babiesyunjae: terima kasih. Genrenya memang angst.

Baby niz 137: adanya prekuel.

YunJaeho9095: ya, betul. Jaejoong adalah istri Yunho yang kabur lima tahun lalu.

Syara: kalau pembaca sampai menangis, berarti sukses. Hahaha!

Ray: saya ingin mencoba menulis cerita dengan format yang berbeda dari biasanya. Entah bagus atau tidak. Ceritanya memang dibuat seperti itu karena ada prekuel.

: terima kasih sudah membaca.

Anakyunjae: My 4D Mom ceritanya sudah jadi, tinggal diketik. Ya, liburan sudah berakhir.

Efiflynn: hahaha! Sengaja.

Maechuu: cerita ini tentang Jaejoong. Tidak ada kisah yang menarik dari sisi Yunho. Hahaha!

Natsumi Shinju: ya, jatuh. Hahaha! Jatuh cinta.

Guest: mohon maaf jika mengecewakan, tetapi memang beginilah ceritanya.

Reallyoungest: sepanjang ceritanya memang penuh kejanggapan dan memang sengaja dibuat seperti itu.

Saaaa: kapan-kapan. Hahaha! Mudah-mudahan segera.

Jaenna: pria seperti itu terlalu mudah untuk dimanfaatkan. Saya memang baik. Hahaha!

Versya: kenapa tetap baca? Hahaha! Sama, saya juga tidak suka angst.