"Argh! Entahlah! Itu bukan urusanku!" jawab Inuyasha ketus.

"Huuh! Kau ini! Kalau menurutmu bagaimana Sa—"

Kagome hendak bertanya pada Sango. Tetapi saat ia memalingkan wajahnya, Sango sudah tidak ada di tempatnya semula. Kagome pun mengalihkan pandangannya pada pintu ruangan yang sudah terbuka lebar.

.


.

Inuyasha © Takahashi Rumiko

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Pairing : Miroku x Sango

Warning : OC, OOC (semoga tidak terlalu), typo (jaga-jaga), GJness (pasti), dst.. dst..

Timeline : Errr.. Anda pikirkan saja sendiri.. –plakk-

.


Author's POV

Di halaman belakang kediaman keluarga Miyanoshita, Miroku dan Kirei sedang duduk di bangku panjang yang terletak di dekat sebuah kolam kecil. Kirei yang mengajak Miroku ke tempat itu pun mulai bersuara, "Tuan pendeta, aku sudah membicarakan perihal pernikahan kita kepada ayahku. Dan ia langsung menyetujuinya."

.

Glek..

.

Miroku menelan ludah sebelum menjawab, "A—Ano, apa tidak sebaiknya kau pikirkan lagi keputusanmu itu, Nona?"

"Sudah kubilang, aku yakin sekali. Apa sebenarnya kau tidak ingin menikahiku, Miroku-kun?" tanya Kirei sambil memperpendek jarak di antara mereka.

'Tentu saja tidak!' ingin sekali Miroku menjawab seperti itu. Tapi alih-alih menyuarakan hal yang sebenarnya, ia malah menjawab, "Bu—Bukan begitu. Tentu saja aku ingin... Errr— Menikahimu. Tapi apa tidak terlalu cepat?"

"Tidak. Aku ingin secepatnya membina sebuah keluarga denganmu. Aku mencintaimu, Miroku," kata Kirei sambil mendekatkan wajahnya pada Miroku.

Miroku yang memang lemah pada wanita cantik tidak bisa menolak saat Kirei mencium sudut bibirnya. Walaupun ia juga tidak membalas ciuman itu. Beberapa detik setelah bibir mereka bertemu, terdengar suara ranting patah di dekat mereka duduk.

Miroku memalingkan wajahnya dan melihat Sango yang sedang mematung di balik pohon besar di halalaman belakang itu. Gadis itu terlihat terluka. Bibirnya bergetar, matanya berair. Sambil mengepalkan tangannya, ia pun berlari masuk ke dalam rumah.

"Sango!" panggil Miroku sambil melepaskan diri dari Kirei.

Tapi sebelum ia sempat berlari untuk mengejar gadis yang sebenarnya ia cintai, Kirei menahan Miroku. Dengan mata yang berkaca-kaca, ia memohon pada Miroku, "Jangan pergi!"

Dalam hati, Miroku hanya bisa memarahi diri sendiri karena ia begitu lemah terhadap wanita itu. Ia pun duduk kembali di sebelah Kirei. Sementara itu, Sango sudah kembali ke kamarnya. Inuyasha dan Shippo sudah tidak ada di ruangan itu, sementara Kagome dan Kirara sudah tertidur.

Di sudut ruangan, Sango tidak bisa menahan air matanya. Saat berlari tadi, ia sungguh mengharapkan Miroku untuk mengejarnya. Tapi ternyata harapannya itu hanyalah harapan kosong karena Miroku lebih memilih untuk bersama Kirei.

Sakit sekali. Sango sungguh terluka. Miroku pernah berjanji untuk menikahi dirinya begitu petualangan mereka berakhir. Dan Sango mempercayai hal tersebut dengan bodohnya.

Seharusnya Sango tahu kalau kata-kata Miroku itu tidak bisa dipercaya. Seharusnya Sango tidak boleh jatuh cinta pada pendeta mesum—yang mencintai seribu wanita—itu. Tapi bagaimana pun, rasa itu telah ada. Sango mencintai Miroku.

Dan sekarang, ia kehilangan pemuda itu.

Setelah berpikir beberapa saat, Sango mulai menyalahkan dirinya sendiri. Selama ini bukankah ia selalu menolak Miroku? Bukankah ia yang selalu meremehkan pemuda itu dan terus bersikap jual mahal, padahal sebenarnya ia juga mencintai pemuda itu? Ah, harga dirinya memang terlalu tinggi untuk mengakui perasaannya pada Miroku. Tapi salah Miroku juga, karena ia selalu bersikap tidak serius. Membuat Sango bingung dengan perasaannya.

Dengan kepala yang rasanya akan meledak, Sango menghabiskan malam itu dengan terus bolak-balik antara menyalahkan dirinya sendiri dan menyalahkan Miroku. Bahkan menjelang pagi, ia mulai menyalahkan Kirei. Sebelum ia juga mulai menyalahkan Inuyasha, Kagome, dan semua orang di sekitarnya, gadis itu pun tertidur. Ia kelelahan karena terus berpikir dan menangis semalaman.

.

-xXx-

.

Matahari sudah tinggi saat Sango bangun dari tidurnya. Ia langsung beranjak ke kamar mandi dan membersihkan diri. Di cermin, ia memperhatikan matanya yang sembab. Ia berusaha beberapa saat untuk mengurangi bengkak di matanya sebelum akhirnya menyerah dan kembali ke kamarnya.

Di kamar, Kagome menanyainya setelah melihat mata Sango yang bengkak. Tapi Sango hanya bisa bilang, "Tidak apa-apa."

Kagome mengerti kalau Sango tidak ingin membicarakannya, jadi ia hanya diam saja sebelum kemudian mengajak Sango untuk sarapan.

Di ruang makan, terlihat Inuyasha dan Shippo yang sedang makan dengan bersemangat. Sedangkan Miroku tidak terlihat sama sekali. Sarapan yang disediakan untuk mereka tidak kalah mewahnya dengan makan malam kemarin.

Tapi Sango sama sekali tidak berselera. Setelah makan beberapa suap, ia pamit untuk mencari udara segar. Teman-temannya memaklumi dan hanya mempersilakannya tanpa memberikan komentar apapun.

Sango duduk di bawah pohon tempat mereka beristirahat kemarin. Padahal hanya beberapa jam sebelumnya, ia masih menikmati kebersamaannya dengan pendeta mesum itu. Dan sekarang ia harus menerima kalau Miroku akan menjadi milik orang lain. Masih tenggelam dalam pikirannya, Sango merasakan kehadiran seseorang di sebelahnya.

"Sango...,"

Gadis itu terkesiap saat mendengar namanya keluar dari bibir Miroku. Saat ini pendeta itu sudah duduk di sebelahnya sambil tetap menjaga jarak.

"Mau apa kau kesini? Tidak menemani calon istrimu yang cantik itu?" tanya Sango dengan nada sinis.

"Sango, aku tidak ingin menikah dengannya. Kau tahu itu," jawab Miroku.

"Oh, berarti kemarin aku salah dengar saat kau bilang pada Kirei kalau kau ingin menikahinya?"

"Ayolah, kau tahu kalau itu bohong!"

"Kalau kau memang tidak ingin menikahinya, lalu kenapa kau menciumnya?" Sango mulai menaikkan suaranya.

"Bukan aku yang menciumnya, tapi dia yang menciumku!" kata Miroku dengan suara yang tercekat.

"Ya, dan kau juga tidak menolaknya," kata Sango lagi.

Miroku sempat terdiam sesaat. Ya, ia memang tidak membalas ciuman Kirei. Tapi ia juga tidak menolaknya.

"Sango, dengarkan aku. Yang ingin kunikahi itu kau. Aku berjanji, aku akan menyelesaikan masalah ini. Setelah itu kita bisa melanjutkan perjalanan kita. Dan setelah semuanya berakhir, aku akan menikahimu," kata Miroku.

"Percaya diri sekali kau. Memangnya bagaimana kau akan menyelesaikan masalah ini kalau untuk menolak ciuman Kirei saja kau tidak bisa? Lagi pula, kau pikir aku mau menikah denganmu?"

"Jadi, kau tidak mau menikah denganku? Sango, jujurlah. Aku tahu, kau mencintaiku," kata Miroku yang sedikit terluka dengan kata-kata Sango.

"Kau mencintaiku. Iya kan?" katanya lagi.

"Kau benar-benar terlalu percaya diri, Tuan pendeta. Aku tidak mencintaimu," jawab Sango dingin.

Kali ini Miroku benar-benar hancur. Tapi ia menguatkan diri untuk kembali bertanya, "Jadi, kau tidak keberatan kalau aku menikah dengan Kirei?"

Sango menghela nafas panjang lalu menjawab pendek, "Tidak."

"Baiklah. Aku akan menikahinya kalau begitu," kata Miroku sambil beranjak pergi.

Tak lama setelah Miroku meninggalkannya, tangis Sango pun pecah.

.

-xXx-

.

Hari demi hari berlalu dengan Sango dan Miroku yang tidak saling bicara. Miroku sudah berbicara pada Inuyasha dan yang lainnya bahwa ia akan menikahi Kirei. Kagome berusaha untuk membujuknya membatalkan keputusannya itu, tapi Miroku terlalu keras kepala. Akhirnya, kelompok itu pun memutuskan untuk menetap di rumah keluarga Miyanoshita sampai upacara pernikahan Miroku. Selanjutnya mereka akan meneruskan perjalanan tanpa pendeta itu.

Persiapan pun selesai. Esok, Miroku akan menikahi Kirei disaksikan oleh semua teman-temannya—termasuk Sango. Pada pagi harinya, Kagome pun bangun dari tidurnya yang tidak nyenyak. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tetapi ia tidak melihat teman sekamarnya. Lalu ia pun mencari Sango, tapi ia tidak berhasil menemukan gadis itu.

Sampai ketika matahari sudah cukup tinggi dan upacara pernikahan akan dimulai, Sango masih belum ditemukan. Saat mereka memutuskan untuk memulai upacara tanpa Sango, tiba-tiba—

"Tunggu, Miroku!"

Semua kepala pun menoleh ke arah Sango yang tadi berteriak. Gadis itu terlihat kacau, penuh luka di sekujur tubuhnya.

"Sango, apa yang terjadi? Kau tidak apa-apa?" tanya Kagome khawatir sambil menghampiri Sango.

"Kagome, dia—Kirei— bukan manusia! Dia adalah siluman!" teriak Sango.

"Eh? Apa maksudmu, Sango?" tanya Shippo.

"Tadi malam, aku tidak sengaja melihatnya berubah wujud. Lalu... ia mengurungku... di gudang belakang," jawab Sango terpatah-patah.

"Hmm... Jadi kau berhasil kabur rupanya," kata Kirei yang tiba-tiba sudah berada di dekat Sango.

Senyum mengerikan terpasang di wajah cantik gadis itu. Lalu tanpa diduga, ia menancapkan sebuah pisau ke dada kiri Sango.

"Kyaaa!" teriak Kagome histeris.

"Sango! Tidak!" teriak Miroku sambil berlari menuju gadis yang sekarang sudah terkulai lemah.

Tanpa buang waktu, Inuyasha langsung mengayunkan pedangnya pada Kirei. Darah melumuri pakaian pengantinnya dan ia pun langsung terjatuh ke tanah. Sesaat kemudian, wujudnya berubah dari seorang gadis cantik menjadi siluman ular yang mengerikan. Rupanya siluman ular itu memiliki kemampuan untuk menghilangkan hawa silumannya sehingga Inuyasha tidak mencurigainya sama sekali.

Perut siluman ular itu terbelah, manampakkan sesosok mayat gadis—Kirei yang asli. Semua orang, terutama keluarga Kirei menjerit histeris menyaksikan kejadian itu. Sedangkan Inuyasha, Kagome, dan Shippo mengelilingi Sango yang sedang meregang nyawa di pelukan Miroku. Kirara menjilati darah yang keluar dari tubuh majikannya, seolah berusaha untuk menyembuhkan luka itu.

"Miroku... Maafkan aku... Aku berbohong. A—Aku mencintaimu," kata Sango diantara nafasnya yang terputus-putus. Sesaat kemudian, tubuhnya menegang untuk kemudian kehilangan dayanya.

Kagome menangis di pelukan Inuyasha. Sedangkan Shippo memeluk Kirara yang terus mengeluarkan suara yang memilukan.

"Sango! Tidak! Kumohon, jangan... Sango! Sango! Tidaaak!" jerita Miroku sambil mengguncang-guncangkan tubuh gadis yang sudah tak bernyawa di pelukannya.

.

-xXx-

.

"Tidak... Tidak... Tidak!" teriak Miroku sambil membuka matanya. Keringat dingin mengalir dan menetes dari kepalanya. Miroku mengedarkan pandangannya dan menemukan dirinya sedang terduduk di bawah pohon dekat sungai.

Inuyasha dan Kagome sedang berbincang-bincang sambil sesekali bertengkar di tepi sungai. Shippo dan Kirara sedang bermain air di sungai yang jernih tersebut sambil berusaha menangkap ikan-ikan kecil yang berenang di sekitar mereka. Lalu… Sango duduk tidak jauh darinya. Gadis itu sedang membersihkan senjatanya dan menatap Miroku dengan bingung.

"Kau ini kenapa? Mimpi buruk?" tanya Sango.

"Eh? Mi—Mimpi?" Miroku melemparkan pertanyaan retoris. Sebelum akhirnya menangis sambil tertawa, mensyukuri kalau kejadian mengerikan itu hanyalah mimpi.

"Sepertinya, kau mulai gila, Pendeta mesum!" kata Sango yang bingung melihat Miroku tertawa seperti itu.

"Hahaha... Haha... Ha... Ha...," tawa itu pun mulai menghilang. Selanjutnya Miroku mendekati Sango dan menatap mata gadis itu dalam-dalam, membuat Sango jadi sedikit canggung. "Sango…," kata Miroku.

"Y—Ya?" Entah mengapa, Sango jadi berdebar-debar.

Masih menatap tajam mata Sango, Miroku beringsut mendekat, memperpendek jaraknya dengan Sango. Dengan ekspresi seriusnya, ia pun berucap, "Maukah kau menjadi ibu dari anak-anakku?"

.

Buagh!

.

Tinju Sango pun mendarat di pipi kiri Miroku sampai pendeta itu terjengkang dari duduknya. Kemudian, sambil sedikit tersenyum, Sango menjawab, "Tentu saja aku mau, dasar bodoh."

Sango memang menjawab dengan suara yang sangat pelan, tapi masih dapat didengar oleh Miroku. Pendeta itu pun tersenyum lebar sambil mengelus-elus pipinya yang bengkak.

.

.

|The End|

.

.


Selesai! Sepertinnya alurnya terlalu cepat.. Ahaha.. Gomen..

Special thanx untuk Love you all, Arisa-Yuki-Kyutsa sama CatEyeNiJuuSan yang telah mereview chapter satunya.. Semoga chapter dua ini tidak mengecewakan.. =]

Ya~~ Thanks for reading..^^

Mind to review?