WARNING!
YAOI/BL/Shounen-ai
to much typos/noeyd/bad plot
ShowKi/ShowKi/ShowKi/ShowKi/ShowKi/ShowKi
Son Hyunwoo X Yoo Kihyun
i don't own any chara
.
.
Stuck
last chapt by DhaBum
.
.
enjoy
.
.
Previous
"Selamat pagi.." Sapa Wonho ramah.
"Pagi.."
"Oh.. Sepertinya mood mu sedang jelek.."
"Hm.. Sudah beberapa hari ini aku tidak bertemu Hyunwoo hyung.. Dan dia sama sekali tidak menghubungiku.."
"O-oh.. Begitu.." Ada sedikit keterkejutan tergambar dari wajah Wonho. "Sudah berapa hari Hyunwoo hyung tidak menemuimu?"
"Sejak konseling terakhir kita.. Tepat empat hari ini.."
"Oh... Kebetulan sekali ya,," pancing Hyunwoo.
"Ya.. padahal,, sebelumnya dia yang memintaku untuk berkonsultasi padamu,," gumam Kihyun, tidak sadar kalau Wonho sedang mengamati setiap geak-geriknya. "Ah iya,, apa Hyunwoo hyung sesibuk itu?" tanya Kihyun.
"Errr.." Wonho berpikir sejenak tentang jawaban yang sebiknya dia berikan pada Kihyun. "Hm,, begitulah,,"
"Jadi,, apa yang harus ku konsultasikan hari ini?" tanya Kihyun lagi.
"Ayo kita bicarakan soal mimpimu,," mulai Wonho.
"M-mimpi?"
"Hm,, "
Kihyun menatap hujan lewat jendela kamarnya yang terbuka. Mengabaikan percikan air yang terkadang membuat wajahnya basah meski hanya sedikit, Kihyun,, dia menyukai hujan. Karena dia membenci api. Kihyun benci api sejak kejadian itu, dan dia menyukai hujan karena hujan bisa memadamkan api yang dibencinya. Son Hyunwoo, dia sungguh merindukan kekasih tampannya itu, apa yang dia lakukan sekarang?
"Kenapa Hyunwoo hyung tidak menghubungiku sama sekali,," gumam Kihyun sambil meratapi layar ponselnya yang gelap. "Aku merindukannya,,"
'Tess..' Kihyun sedikit kaget saat setetes air jatuh tepat di atas layar ponselnya yang padam.
"Kenapa aku menangis?" gamang Kihyun saat menyadari kalau tetes air tadi adalah air matanya.
"Kihyun-ah,,"
Kihyun menoleh ke sumber suara.
"Hyunwoo hyung!" dengan semangat yang sedikit berlebihan, Kihyun menghambur ke dalam pelukan Hyunwoo. Membuat Hyunwoo oleng, namun untungnya tepat dibelakang pemuda itu adalah kasur Kihyun. Sehingga kini mereka berdua dengan aman mendarat di atas kasur dengan Kihyun yang berada di atas Hyunwoo.
"Hei,, lepaskan dulu,, bajuku basah.."
"Apa peduliku,, kau yang membuatku begini.." keukeuh Kihyun yang masih tidak ingin melepaskan Hyunwoo. "Aku sangat merindukanmu hyung.." kata Kihyun sambil menatap dalam pada wajah Hyunwoo dengan mata yang berkaca-kaca.
"Y-ya,, maafkan aku,," akhirnya Hyunwoo memilih kalah dan membiarkan Kihyun melakukan apa saja. Kihyun tersenyum menang, Hyunwoo memang tidak pernah bisa menang melawan dirinya, karena apa? Tentu karena Hyunwoo sangat mencintai dirinya hehe.
Setelah melepaskan baju luaranya yang basah dan hanya memakai kaos putih tipis saja, kini Hyunwoo dan Kihyun sedang berbaring nyaman di atas kasur Kihyun sambil menikmati hujan yang masih turun di luar sana.
"Bagaimana konselingmu?" tanya Hyunwoo sambil memainkan rambut Kihyun yang sedang membelakanginya.
"Eum,, tidak buruk,, Wonho hyung dokter yang hebat,," jawab Kihyun sambil menikmati pelukan Hyunwoo yang dirindukannya. Tapi entah kenapa Kihyun merasa bantal yang dia pakai basah. "Kenapa ini?"
"Wae?"
"Entah,, aku tidak tahu kenapa aku menangis seperti ini,," jawab Kihyun sambil mengusap wajahnya yang basah.
"Tak apa sayang, tak apa,,"
"Hm,," gumam Kihyun sambil membalikkan badannya dan menghambur makin jauh dalam pelukan Hyunwoo. "Aku rasa aku akan mati kalau sampai berpisah denganmu,," gumam Kihyun dalam dekapan Hyunwoo.
"Apa yang kau bicarakan?"
"Aku serius,, lebih baik aku mati dari pada harus berpisah denganmu,," kata Kihyun dengan mantap.
"Lihat aku,," Hyunwoo menarik kedua bahu Kihyun. Membuat sedikit jarak diantara mereka berdua dan membuat Kihyun menatap matanya secara langsung.
"Jangan tinggalkan aku,, kau harus berjanji,," kata Kihyun, air matanya masih deras.
"Kihyun-ah.." Hyunwoo tidak tahu apa yang harus dia lakukan. "A-aku,,"
"Hyung,, aku mencintaimu,,"
"Kihyun-ah.." Kihyun menoleh ke arah pintu.
"Minhyuk,," lirihnya dengan air mata yang masih deras.
"Kau kenapa?"
"Aku,, tidak mau berkonsultasi pada Wonho lagi,,"
Minhyuk melebarkan matanya terkejut, "Apa maksudmu?" tanyanya sambil mendekat pada Kihyun dengan panik, "Apa kau,," Minhyuk menelan ludahnya kasar, "Bertemu dengan Hyunwoo lagi?"
Wonho baru saja selesai memberikan suntikan obat penenang untuk Kihyun, sehingga pemuda itu sekarang sedang berbaring nyaman di atas kasurnya.
"Kenapa bisa seperti ini?" Tanya Minhyuk begitu Wonho membereskan peralatan medisnya.
"Sepertinya dia melihat Hyunwoo lagi.." Jawab Wonho dengan raut serius.
"Apa yang harus kami lakukan hyung?" Tanya Hyungwon yang juga ada di sana.
"Teruslah bersama Kihyun.. Bantu dia menghadapi kenyataan yang ada.." Jawab Wonho dengan senyum tulusnya.
"Berikan obat apapun padanya hyung.. Buat Kihyun sembuh.." Minhyuk sedikit frustasi.
"Bukan tubuhnya yang terluka.. Tapi hatinya.. Yang bisa mengobati hati yang terluka hanya kasih sayang yang tulus Minhyuk-ah.."
Mendengar jawaban Wonho membuat Minhyuk bungkam. Dia hanya bisa memamdangi Kihyun yang masih berbaring di atas ranjangnya sambil menahan air mata yang mendesak keluar.
"Apa kehilangan Hyunwoo membuatmu seterluka itu?" Minhyuk mengusap sayang pucuk kepala Kihyun. "Aku.. Hyungwon.. Wonho.. Kami semua ingin kau sembuh Kihyun-ah".
"Ayo hyung.. Biarkan Kihyun istirahat.. Kau juga harus istirahat.." Ajak Hyungwon.
Dengan pasrah, Minhyuk pun menurut saja saat Hyungwon membawanya keluar dari kamar Kihyun, diikuti Wonho di belakangnya.
Setelah Minhyuk, Hyungwon dan Wonho meninggalkan kamarnya, Kihyun perlahan membuka mata. Saat matanya terbuka Kihyun hanya bisa menatap kosong pada langit-langit kamarnya. Obat yang diberikan Wonho sepertina belum bereaksi sepenuhnya
"Apa yang mereka bicarakan? Kenapa mereka bilang aku kehilangan Hyunwoo hyung?" Kihyun seolah-olah bertanya pada langit-langit di kamarnya. "Kenapa mereka bilang aku kehilangan dirimu hyung?" Kihyun menoleh menatap figur Hyunwoo yang juga sedang berbaring di atas ranjangnya. "Kenapa?" tanya Kihyun lagi dengan suaranya yang serak karena tangis.
"Maafkan aku.."
"Jangan meminta maaf hyung,, jawab aku,," Jawab Kihyun susah, entah kenapa matanya terasa sangat berat.
Bukannya menjawab, Hyunwoo justru mendekat untuk menggapai wajah Kihyun. Mengelusnya dengan sayang, namun hal itu malah membuat air mata yang ditahan oleh Kihyun justru menyeruak keluar dengan deras. Kihyun menggeleng kuat sambil menggenggam erat tangan Hyunwoo yang menangkup wajahnya.
"Aku-
"Jangan mengatakan apapun,," Kihyun memotong perkataan Hyunwoo cepat. "Jika memang aku harus hidup dalam kebohongan,, itu tidak masalah untukku hyung,, asal ada kau-
"Tidak Yoo Kihyun,, kau harus menerima kenyataan.."
"Tidak,, ayo tetap seperti ini,, tidak apa meski kau tidak nyata Hyung,, sungguh,, jebal.." mohon Kihyun dengan air mata yang jatuh makin deras. Dengan susah payah Kihyun berusaha menahan matanya yang terasa berat. Padahal dia tadi tidak mengantuk, tapi sungguh tubuhnya seakan melawan kehendaknya sendiri.
"Maafkan aku,, ingatlah sayang,, aku tetap mencintaimu,, dimanapun dan kapanpun itu.." Jelas Hyunwoo sambil mengecup pelan bibir Kihyun.
Kihyun hanya menggeleng pelan saat figur Hyunwoo semakin lama semakin menghilang. 'tidak-tidak..' dia ingin berlari mengejar bayangan Hyunwoo, namun matanya malah terasa semakin berat. Berat dan semakin berat, bahkan Kihyun sudah tidak bisa mengendalikan kelopak matanya yang sekarang mulai tertutup rapat. Namun sebelum kesadarannya sepenuhnya hilang, Kihyun bisa mendengar suara Hyunwoo berbisik tepat di telinganya.
"Berbahagialah Yoo Kihyun, terimakasih.."
Kihyun masih tetap sama, menatap hujan lewat jendela kamarnya dengan tatapan kosong. Ini sudah lewat beberapa hari sejak dia melihat Hyunwoo. Dan lelaki itu bahkan tidak pernah muncul lagi dihadapannya. Awalnya dia memang menolak kenyataan kalau Hyunwoo sudah tidak di sapingnya lagi, dan itu membuatnya cukup frustasi sampai dia sempat mencoba untuk mengakhiri hidupnya beberapa waktu yang lalu.
Namun kehadiran Minhyuk dan Hyungwon sungguh banyak membantu. Seperti sekarang, kedua sahabat karibnya itu bahkan masih dengan hati mengurusnya yang sangat merepotkan itu.
"Min,,"
"Ya? Ya Kihyun-ah? Apa ang kau inginkan?" Minhyuk tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat Kihyun mulai berbicara padanya setelah dia hanya diam selama beberapa hari ini.
"Aku,, akan bahagia demi Hyunwoo.." lirih Kihyun sambil meneteskan sebulir air mata.
"Eum,, tentu,, kau memang harus bahagia.." Minhyuk membenarkan perkataan Kihyun.
"Bisa kau mengantarku ke tempat Hyunwoo?"
Minhyuk membiarkan Kihyun sendirian saja di depan kotak abu milik Hyunwoo. Kihyun menatap kosong pada sebuah tulisan keramik di dalam sana, 'Son Hyunwoo 180692-180915'
"Maafkan aku,, karena baru mengunjungimu sekarang hyung.." bisik Kihyun sambil meletakkan sebuah cincin emas putih di sambing kotak abu Hyunwoo. "Rencananya aku akan melamarmu karena kau tidak kunjung melakukannya untukku.." Katanya sambil tersenyum dengan air mata yang masih menetes. Kihyun mengelus sayang selembar foto yang dibingkai pigura kayu di sana. "Aku mencintaimu,, kau tahu itu kan? Dan jangan khawatir,, aku akan bahagia untukmu.."
Kihyun akhirnya membalikkan badannya dan pergi dari tempat itu setelah dia memutuskan untuk hidup bahagia demi Hyunwoo.
"Yaa,, aku,, akan bahagia,," tekadnya.
.
.
.
FIN
180916
Wewww,, tahu banget endingnya ngga special banget Y.Y
Miaaaaaannnnnnnn
Pengennya bikin angst yang mengharukan,, tapi ternyata g-a-g-a-l DX
Ngerti kok kalo endingnya mungkin mengecewakan kalian-kalian yang tunggu cerita ini-itupun kalo ada yang nunggu-, sekali lagi maaafffffffff banget DX
Semoga chapter ini bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian di chapt ebelumnya, dan iya ini mirip2 it's okay it's love... tapi uda usaha dibeda-bedain kok :'D
Makasiiiiiiiii banget buat yang uda review chapt kemaren :* labyu
Keep support me yapsss
Baca FF yang lain jugaaaa :o
dan jangan lupa follow ig yapsss
Bye-byeee
Sign,
DhaBum
