A Touken Ranbu Fanfiction

Touken Danshi x OC Saniwa

Disclaimer: I just own the plot and the OC, Touken Ranbu belongs to DMM/Nitro+

Kumpulan short fic, prekuel sekaligus sekuel dari "Tubuh Penuh Luka"


Part 2

Souza Samonji - Hujan dan Tempat untuk Pulang

.

[Gadis itu sudah tersesat jauh. Sudah saatnya untuk menjemputnya pulang]

.

Pagi itu langit tampak kelam. Bulir-bulir air perlahan meninggalkan awannya dan menyambut bumi. Souza tampak tengah duduk di teras honmaru dan memandangi rinai hujan yang menari di depannya. Pikirannya menerawang jauh ke masa lalu. Lamunannya itu baru terpecah ketika mendengar suara langkah kaki kecil datang menghampirinya.

Sesosok gadis mungil dengan rambut ikal kecoklatan kini tengah berdiri di sampingnya. 'Boleh kutemani?', tulis sang Aruji.

Mengulum senyum, sang Samonji pun menjawab, "Silakan saja". Canggung menghampirinya. Diberikan kekuatan dan tubuh manusia oleh gadis itu tidak langsung membuatnya terbiasa dengan tuan barunya. Apalagi ia belum genap seminggu datang ke honmaru.

'Souza-san suka hujan?', tulis gadis itu kemudian. 'Aku sering melihat Souza-san duduk mengamati hujan di sini'.

"Aku... tak tahu apakah aku menyukainya atau tidak. Hanya saja, hujan selalu mengingatkanku pada masa ketika aku masih berada dalam genggaman Oda Nobunaga. Ia memang sering membawaku kemana pun ia pergi, tapi tak jarang pula ia hanya memajangku sebagai hiasan di ruangannya. Dan ruangan yang sepi itu akan semakin bertambah dingin di hari hujan.", tutur pedang tempaan Saemonzaburo tersebut. "Aku tak pernah menyukai pria yang membuatku seperti burung dalam sangkar itu. Namun ironisnya, aku akan selalu tanpa sadar memperhatikan hujan dan mengingatnya, seperti saat ini..."

Sang saniwa terdiam beberapa saat, tampak menimang kata-katanya. 'Apa saat ini Souza-san masih merasa seperti itu?', tulisnya kemudian.

'Apa aku mengekangmu?'

Memandangi sang Aruji beberapa saat, pria beriris heteromatic itu justru balik bertanya. "Apa Aruji akan membiarkanku terbang bebas kemana pun aku mau?"

'Asalkan kembali kemari, aku tak keberatan Souza-san pergi seberapa jauh pun', tulis gadis itu ringan.

"Bukannya itu tidak ada bedanya dengan mengekangku?"

Sang saniwa tersenyum. 'Aku tak bermaksud mengekangmu, aku hanya ingin memberi Souza-san tempat untuk pulang'

"Tempat... untuk pulang?", tanya Souza ragu.

Gadis itu mengangguk. 'Sebebas apa pun seekor burung terbang, pasti akan ada kalanya ia akan lelah mengepakkan sayapnya dan ingin kembali ke sarangnya. Rumah tempat ia bisa merasa tenang dan nyaman'

'Aku... ingin honmaru ini bisa menjadi tempat seperti itu bagi Souza-san', senyuman terkembang pada wajahnya yang sebagian besar tertutupi oleh perban.

Hangat merayapi pria berambut magenta tersebut. Lama dalam rengkuhan sang Maou* membuatnya tak mudah membuka diri dan mempercayai orang lain. Namun tulus yang tersampaikan padanya membuat beku dalam hatinya luruh begitu saja. Membalas senyuman Aruji-nya, Souza kembali mengalihkan pandangannya pada rintikan air. Kali ini, tanpa ada sendu yang mengganjal.

Hening yang terasa nyaman itu harus terpecah pada menit berikutnya ketika perut sang saniwa berbunyi dan ribut minta diisi.

Semburat merah mewarnai pipi gadis itu. Terburu-buru, ia segera menuliskan sesuatu, 'Maaf... Hujan-hujan begini perutku jadi lapar'.

Souza terkekeh. "Akan segera kusiapkan teh dan camilan. Sebagai gantinya, tolong temani aku sebentar lagi".

'Dengan senang hati!'. Kembali, senyuman sang Aruji menghangatkan suasana pada dinginnya hari hujan kala itu.


Hari itu hujan turun dengan derasnya sedari pagi, tak ada sedikit pun tanda untuk berhenti. Langit seakan ikut berkabung dengan kepergian Saniwa Bicchu no Kuni. Aroma hujan mengaburkan bau kayu yang baru dipelitur, hasil kerja keras pada toudan memperbaiki honmaru mereka yang hancur berantakan karena serangan tempo hari.

Di salah satu sudut bangunan bergaya jepang kuno itu, Souza kembali duduk termenung memandangi rinai yang turun.

"Memandangi hujan lagi?", suara yang begitu familiar itu memecah lamunan sang Samonji.

"Yagen...", mengalihkan pandangannya, Souza mendapati salah satu pedang Awataguchi itu telah berdiri di sisinya.

Sang tantou baru saja akan menanyakan apakah Souza sedang kembali memikirkan tuan mereka yang lalu ketika mendapati dua cangkir teh dan beberapa camilan tersaji di samping pria tersebut. Sebuah kebiasaan yang selalu dilakukan sang uchigatana untuk menghabiskan waktu bersama saniwa mereka kala hujan datang. Rutinitas yang tak kan bisa dilepasnya begitu saja walaupun sosok yang selalu menemaninya kini tak bersamanya lagi.

"Memikirkan Aruji?", Yagen kembali bertanya.

Kembali mengalihkan pandangannya pada rintik air, Souza menjawab, "Gadis itu sudah pergi terlalu jauh dan tersesat. Sudah saatnya kita menjemputnya pulang".

Merasakan getir yang sama, Yagen hanya bisa menggumam setuju. "Sou da ne..."

Hanya ada derai hujan mewarnai udara beberapa saat setelahnya. "Yagen", panggil Souza kemudian.

"Hmm?", sahut pemuda bersurai hitam itu enteng.

"Aku sudah terlanjur menyeduh dua gelas teh. Temani aku sebentar lagi?", pintanya sambil menyodorkan gelas teh yang sudah disiapkannya.

Tersenyum, sang tantou segera duduk menempati ruang kosong yang telah ditinggalkan pemiliknya. "Dengan senang hati".

-Part 2: fin-


a.n:

*Demon King. Sebutan untuk Oda Nobunaga.