Aku tak ingin menyentuhnya.

Aku tak ingin disentuhnya.

Aku tak ingin diriku ternodai oleh kotornya dunia.

.

.

10 count

AkashixKuroko

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

10 Count (original ver.) © Takarai Rihito

Drama. Psychological. Romance

Warning:

Yaoi. Mature. Remake dari komik dengan judul serupa. OOC. Dan lainnya.

Note:

Saya kemarin membuat kesalahan, dikarenakan saya tidak tau kalau tokoh orisinil dari 10 Count umurnya sudah 31 untuk Shirotani, dan 25 untuk Kurose, saya menyebut Niji belum genap kepala tiga. Jadi, untuk versi AkaKuro ini, saya buat berbeda dengan aslinya. Dan, jika ada yang heran mengapa Akashi menjadi psikiater diumur muda, anggap saja dia jenius. Tidak ada yang mustahil untuk Akashi (?) ah ya, disini Nijimura saya buat seumuran dengan Kuroko.

Kuroko : 29 Tahun

Akashi : 24 Tahun

.

.

Manik azure miliknya memandang datar buku catatan miliknya yang sudah ternodai oleh goresan tintanya sendiri. Meski parasnya datar, namun tak dengan batinnya yang mulai ragu.

Otaknya memutar perkataan pemuda didepannya. Jika mereka bisa sampai pada nomor 10, maka dirinya akan dinyatakan sembuh.

Masalahnya adalah, memangnya ia bisa melakukan semua itu?

Semua hal yang tertulis di bukunya merupakan hal yang mustahil untuk ia lakukan, meski itu hal sederhana sekalipun. Bukan salahnya jika ia bersikap seperti ini. Salahkan saja phobianya yang membuatnya hidup menjadi salah satu spesies aneh.

Kuroko mendongak tatkala menyadari pemuda dihadapannya itu masih memandangnya lekat. Tepat menghujam kedalam dua manik azurenya, membuat bulu kuduknya meremang.

"Ada apa?" ia memutuskan untuk bertanya.

Pemuda itu mengumbar senyum tipis, "Namaku Akashi Seijuurou. Seperti yang kau ketahui, aku bekerja di Midorima pyschomatics. Aku libur setiap hari Kamis, Sabtu dan Minggu."

Akashi terdiam sejenak, tangannya merogoh saku celananya, mengampil sehelai kertas dan meletakannya diatas meja; dihadapan Kuroko yang masih menatapnya dengan pandangan bingung.

"Aku tidak bekerja hari ini, tapi aku akan memberikanmu kartu namaku, siapa tau kau berminat menghubungiku. Oh, jika kau tak berkenan, kau bisa memotretnya, atau kalau perlu buang saja tak apa,"jelasnya lagi.

Kuroko memandang datar kertas tersebut, sebelum mengalihkan pandangannya pada sepasang ruby didepannya, "Kenapa tiba-tiba?"

Pemuda bersurai merah itu menghela nafas, tangannya memangku dagu, tatapan datar ia layangkan kearah pemuda manis yang nampaknya masih belum menangkap maksudnya.

"Sangat tak nyaman kalau kau terus memandangku sebagai orang asing, jadi aku memperkenalkan diriku secara formal agar mendapat kepercayaan penuh darimu," jelasnya dengan sedikit enggan.

Tubuh mungil itu tersentak, jarinya menggaruk pelipis gugup, keringat sebesar biji jagung menggantung disana, "Ah, maaf apa karena ucapan saya barusan?"

"Jujur saja, iya."

Kuroko semakin tak enak hati, ia pun pada akhirnya memilih untuk mengalihkan pandangannya—kemanapun, asalkan tak bertemu dengan sepasang ruby yang masih saja betah memenjarakan dirinya dalam pandangan.

"Ngomong-ngomong, aku melakukan ini bukan karena pekerjaanku, tapi karena murni keinginanku sendiri. Kau berhak untuk memilih tidak mendatangi klinik lagi setelah pertemuan kita ini. Aku tidak akan memaksa," jelas Akashi; yang sukses membuat perhatian Kuroko kembali terfokus padanya.

"Bagaimana dengan pembayarannya?" tanya pemuda teal itu—teringat dengan nominal yen yang harus ia bayarkan untuk menebus kebaikan pemuda didepannya ini.

Akashi justru tersenyum, "Tenang saja, ini semua gratis."

Azurenya memicing begitu mendengar suara Akashi masuk kedalam telinganya dan berhasil diproses oleh otaknya. Mana mungkin ia bisa menerimanya begitu saja? Kuroko enggan memiliki hutang budi dengan orang lain.

"Aku tak bisa menerimanya begitu saja," ucapnya menyuarakan pendapat.

Nafas dihela panjang, Akashi sudah tau akan begini jadinya, maka dari itu, ia sudah mempersiapkan alternatif jawaban jikalau pemuda itu benar-benar menolak kebaikan hatinya untuk memberi pelayanan pengobatan gratis.

Manik semerah delima miliknya menatap dalam sepasang azure mempesona dihadapannya. Menghadirkan suasana serius dan tegang; yang jujur saja, membuat Kuroko merasa tak betah berdiam diri terlalu lama.

"Kalau begitu, jadikan aku temanmu."

Pandang. Kedip. Pandang. Kedip.

Kuroko terdiam, Akashi pun sama. Kuroko bingung, begitu pula dengan Akashi.

Pemuda bersurai teal itu tak habis pikir, sebenarnya apa yang berada didalam otak psikiater muda dihadapannya ini?

"Maaf?"

"Bukankah jika kita menjadi teman, hal yang bernama saling membantu itu merupakan hal yang lumrah?" ucap Akashi. Rubynya masih memandang sosok Kuroko yang masih terdiam dengan wajah datarnya. Kentara sekali, pemuda itu menganggapnya aneh.

Akashi kembali menghela nafas, ia memejamkan matanya, disandarkannya punggung letihnya pada sandaran kursi, mencari kenyamanan yang mungkin bisa sedikit menghibur, "Jika kau masih saja menganggap ini aneh—"

"Pfft—"

Suara tawa tertahan mampir ke telinga Akashi. Secepat kilat, ia membuka matanya dan menemukan sosok Kuroko Tetsuya tengah menutup mulutnya dengan salah satu tangannya; menahan suara tawa yang hendak meluncuri bebas dari bibirnya.

"Itu bukan aneh lagi, tapi sangat aneh," ucap Kuroko setelah ia berhasil mengendalikan hasratnya untuk tertawa; geli dengan ucapan Akashi.

Akashi hanya diam; membiarkan Kuroko betah dengan aksi menahan tawanya. Ia enggan untuk sekedar mengucap kata lagi. Alih-alih mendapatkan perhatian dari sosok didepannya, ia mungkin akan dianggap melempar guyonan lagi.

"Mana ada orang yang mengajakku berteman dengan ekspresi seperti itu—maksud saya, dengan tatapan seperti menghakimi begitu. Ini pertama kalinya saya bertemu dengan orang seperti Akashi-san," ucap Kuroko; sesekali menahan senyum lebar yang mungkin akan merekah diwajahnya.

Akashi mendengus, "'Saya'?"

Kuroko memiringkan kepalanya, melamparkan tatapan tak mengerti kepada sosok Akashi.

"Jangan menggunakan 'saya'. Kemungkinan, aku lebih muda darimu, jadi berhenti memanggilku dengan suffix –san, dan berhentilah berbicara formal."

Surai teal itu bergoyang lembut, mengikuti irama sang pemilik yang menganggukkan kepalanya mengerti, "Hm, Akashi-kun?"

Bibir ditarik naik, membentuk kurva yang menghiasi paras tampan milik Akashi, "Kurasa begitu lebih baik."

Kuroko menunduk, tangan berbalut sarung tangan putihnya saling menggenggam erat, sepasang azurenya meredup, kilasan masa lalu mulai membayanginya.

"Dulu... Aku pernah pikir, 'kenapa aku tak bisa berteman?'. Pada saat yang sama, aku juga penasaran, 'mengapa aku tak bisa senormal orang pada umumnya?'. Aku pun selalu berpikir, bahwa aku itu aneh karena pemikiranku berbeda dengan yang lain," ucapnya tanpa ragu sedikitpun. Ia sendiri bingung, bagaimana bisa ia berbicara seperti ini pada orang yang baru saja ia temui.

Ia mendongak, azurenya menatap teduh Akashi; lengkap dengan senyum tipis yang menghiasi parasnya—membuat Akashi menahan napasnya sejenak, "Kau bahkan orang yang lebih aneh dariku, Akashi-kun."

Tawa ringan mengiringi ucapan Kuroko, "Baiklah, aku bersedia menjadi temanmu, Akashi-kun."

Akashi mengulas senyum kecil. Bahagia membuncah dalam benaknya; bahagia yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa bahagia yang asing, namun begitu menyenangkan untuknya.

"Bisakah kita pulang hari ini?" tanya Kuroko tiba-tiba, pemuda bersurai teal itu memandang sejenak arloji yang melingkar manis dipergelangan tangannya.

Pemuda bersurai crimson itu mengangguk, rubynya menatap sosok Kuroko yang memakai setelan jas. Mungkin ia ada pekerjaan.

"Apa kau ada pekerjaan hari ini?"

Kuroko menggeleng, tangannya mulai membereskan perkakasnya; buku catatan miliknya dan sebuah sarung tangan berwarna putih bersih yang menjadi alasnya, "Tidak, hari ini aku libur. Hanya saja sarung tangan serasi dengan pakaian formal, jadi aku lebih suka mengenakannya ketika keluar. Agar tak terlihat aneh."

Pemuda itu kembali mengangguk paham. Manik rubynya memandang sekitar kedai. Ia mengulum senyum ketika menyadari keadaan kedai tidaklah terlalu ramai; terlampau sepi bahkan. Sepanjang mata memandang ia hanya menemukan dirinya dan juga Kuroko disini; tak ketinggalan para pelayan yang tengah melakukan tugas mereka.

Ia melirik kearah Kuroko yang hendak beranjak, "Mau mulai hari ini?"

"Eh?" tatapan bingung dilayangkan oleh Kuroko.

Tangan Akashi bergerak menuju buku catatan yang telah tersimpan rapi didalam tas jinjing milik Kuroko, "Daftarnya, mulai dari nomor 1. Tempat ini tak begitu ramai. Tak akan ada yang peduli seandainya kau berdiri lama didepan pintu. Bagaimana?"

Kuroko bimbang, azurenya mulai mengamati keadaan sekitar. Benar apa yang dikatakan oleh Akashi, tempat ini tak begitu ramai. Manik matanya lalu bergulir menuju pintu kedai; lebih tepatnya gagang pintu tersebut.

Tangannya merogoh kedalam tas, mengambil sebuah botol kecil dan menunjukkannya didepan Akashi. Paras manisnya memucat gugup, "Gagang pintunya boleh kubasuh dengan alkohol dulu?"

"Tidak boleh."

Botol alkohol kembali dimasukkan kedalam tas. Kali ini ia mengangkat kedua tangannya, memandang ragu tangan berbalut sarung tangan miliknya dan Akashi bergantian, "Tanpa menggunakan sarung tangan?"

Akashi mengangguk mantap, kedua tangan disilangkan didepan dada, "Benar sekali."

Kuroko terdiam ragu. Memikirkan tentang jutaan bakteri yang mungkin saja akan mampir ketangan kosongnya setelah ia menyentuhnya. Namun, perkataan Akashi kembali masuk kedalam benaknya.

"Saat kita mencapai nomor 10, kau bisa dinyatakan sembuh."

Benar juga, ini baru nomor satu. Ia pasti bisa, tak seharusnya ia ragu seperti ini. Lagipula itu hanyalah sebuah gagang pintu.

Gagang pintu yang mungkin ditempeli berbagai bakteri menjijikkan.

Tangannya meremat kuat celana kain yang ia kenakan, kepalanya menunduk dalam, menyembunyikan raut ketakutan, "A-akan kupikirkan dulu."

Akashi menghela nafas, ia pun beranjak dari duduknya, manik semerah delima miliknya memandang datar Kuroko yang masih betah menunduk.

"Baiklah, kalau begitu aku akan membayar dikasir dengan sangat lambat, jadi kau punya waktu untuk memikirkannya," ucapnya sambil berlalu begitu saja.

Kuroko mendongak, ekspresi tak mengerti jelas tercetak diparasnya. Uh, rasanya Kuroko ingin menendang Akashi karena sikapanya barusan. Sikap yang didalamnya mengandung unsur paksaan.

Pemuda teal itu pun akhirnya beranjak juga. Ia berjalan menuju pintu kedai. Sepasang azurenya menatap jijik gagang pintu yang tersaji didepannya. Ludah ia telan dengan susah payah, dasi yang melekat dilehernya terasa mencekiknya.

Ia menatap tajam gagang pintu tersebut; seolah benda itu mati tengah mengejeknya yang hanya mampu berdiri layaknya orang bodoh.

Sementara itu, Akashi nampak tengah mengulur waktu. Ia sengaja menjatuhkan uang kembalian yang diberikan oleh nona kasir. Setelah itu, ia bergegas mendekati Kuroko yang tengah sibuk dengan perang batinnya. Ia menatap datar Kuroko yang masih betah menatap tajam gagang pintu tersebut. Ia pun memutuskan untuk kembali pada nona kasir, pura-pura bertanya dimana letak kamar mandi.

Disisi lain, Kuroko terlihat tengah memfokuskan dirinya. Ia menarik nafas, lalu menghembuskannya dengan tenang.

'Tak apa, tak ada yang kotor,' batinnya menyemangati diri sendiri.

Ia pun melepas sarung tangannya dengan yakin. Dibawanya tangan penuh luka miliknya untuk menyentuh gagang pintu.

Seketika maniknya melebar. Ditariknya kembali tangannya ketika mendapati jejak-jejak tangan milik orang lain yang menempel dipintu. Menjijikkan. Penuh dengan kuman.

Tubuhnya mendadak menjadi lesu, sampai kapan ia akan seperti ini? Bukankah ia sudah berniat untuk berubah? Bukankah ia ingin segera sembuh dan bisa berinteraksi layaknya orang normal? Bukankah ia sudah memilik Akashi sebagai psikiaternya? Pemuda itu berjanji akan menyembuhkannya.

Jadi, untuk apa ia ragu?

Ia memejamkan matanya, mengumpulkan keyakinan dan juga kekuatan. Tangan gemetarannya kembali ia bawa untuk menyentuh gagang pintu. Dengan secepat kilat, ia segera menyentuh gagang pintu tersebut dan langsung berlari keluar kedai.

Dibelakangnya, Akashi mengamati setiap gerak-gerik pemuda bersurai teal itu. Ia mengulas senyum ketika Kuroko telah berhasil melakukan tugas pertama; meski memakan banyak waktu.

Dihampirinya sosok Kuroko yang tengah berjongkok didepan kedai. Napas pemuda itu terengah-engah, seperti baru saja berlarian jauh, "Kerja bagus."

Kuroko mendongak, ia menemukan sosok Akashi dengan mengulas senyum tipis kearahnya. Ditatapnya Akashi dengan tatapan polos, "Sepertinya tadi pelayannya menatapku dengan pandangan aneh."

"Mungkin itu hanya perasaanmu saja," jawabnya cepat.

Akashi melirik kearah Kuroko, pemuda itu mulai menegakkan tubuhnya, keringat dingin terlihat masih membasahi pelipis pemuda manis itu, "Setelah ini jangan basuh tanganmu menggunakan alkohol."

Tatapan bertanya yang dilempar oleh Kuroko ia dapat sebagai balasan, "Bukankah sudah kujelaskan sebelumnya? Untuk terapi seperti ini, kau perlu memperhatikan dua hal penting; bersikap akan hal yang membuatmu tidak nyaman, dan berhenti melakukan hal yang kau lakukan tanpa sadar, seperti membasuh tanganmu secara spontan."

Kuroko mengangguk mengerti. Ia mengangkat tangannya yang telanjang; tak ada lagi sarung tangan putih yang melindungi kedua tangannya dari serangan kuman. Matanya menatap aneh kedua tangannya sendiri, ada berapa banyak kuman yang kini menempel ditangannya?

Kali ini giliran Akashi yang melemparkan pandangan aneh namun datarnya pada sosok Kuroko, "Apa rasanya begitu buruk?"

"Tentu saja."

"Tapi kau tetap tak boleh membasuh tanganmu. Lagipula, itu tak kotor," ucap Akashi berusaha menyemangati Kuroko yang sepertinya terpuruk.

Kuroko menoleh, ia menatap penuh harap kearah Akashi, "Boleh aku mengenakkan sarung tanganku kembali?"

Pemuda bersurai crimson itu mengangguk, "Boleh saja, tapi lebih baik kau juga menghentikan kebiasaanmu yang satu itu."

Kuroko terdiam, tak menjawab ucapan Akashi barusan. Ia lebih memilih memandang kosong sarung tangannya.

'Aku tak bisa. Tanganku yang terlanjur kotor sudah mengotori sarung tanganku. Aku harus membuangnya. Lagipula aku masih memilik banyak sarung tangan dirumah,' pikirnya.

Akashi menatap dalam diam sosok Kuroko yang nampaknya tengah tenggelam dalam dunianya sendiri. Pemuda teal itu nampaknya tengah mengalami perang batin yang cukup berat.

Rubynya melirik arloji yang melingkar ditangannya, saatnya untuk berpamitan, ia pun kembali menatap lekat sosok Kuroko, "Sampai jumpa minggu depan, disini, pukul 2 siang."

Kuroko tersentak dari lamunannya. Ia mengangguk menyanggupi tawaran Akashi untuk pengobatannya yang selanjutnya.

"Kita akan mengevaluasinya seminggu sekali jika memungkinkan," lanjut Akashi. Kuroko kembali mengangguk.

Pemuda bersurai crimson itu akhirnya beranjak meninggalkan sosok Kuroko. Ia terlihat sibuk mengotak-atik ponselnya. Barangkali ia punya janji dengan oran lain hari ini.

Sepeninggal Akashi, Kuroko masih betah berdiam diri didepan kedai sambil mengamati tangannya dengan ekspresi horor.

"Bekas luka ditelapak tanganku... mungkin sudah kemasukan kuman," gumamnya.

Ia tersentak, digelengkannya kepalanya kuat. Ia mengepalkan tangannya. Tidak mungkin. Tidak mungkin kuman-kuman itu masuk kedalam lukanya. Semuanya bersih—seperti yang dikatakan oleh Akashi tadi. Semuanya akan baik-baik saja.

Ia... percaya pada Akashi.

.-.-.

Hari telah gelap ketika Kuroko menginjakkan kakinya diapartemennya. Ia melangkah lesu memasuki area apartemennya. Pintu besi itu ia tutup dengan lemah, sementara azurenya kembali melirik tangan berbalut sarung tangan miliknya.

Ia mengulas senyum tipis. Ia bisa menahan diri untuk tidak membasuh tangannya sampai ia menginjakkan kaki di rumah. Rasanya memang begitu aneh dan asing baginya, namun lama kelamaan, rasa itu mulai menghilang juga.

Ia menghela napas lega, "Setidaknya aku sudah berusaha sejauh ini. Siapa sangka akan semudah ini."

Senyum tipis tak hilang juga dari parasnya, ia bahagia malam ini.

Akhirnya, setelah sekian lama, ia bisa terbebas dari salah satu hal yang merepotkan baginya. Mungkin memang ada kesempatan sembuh untuknya.

Dan semua ini berkat pemuda itu.

.-.-.

Hari-hari berikutnya berjalan lancar bagi Kuroko. Ia mulai membiasakan diri untuk membuka pintu dengan tangan kosong. Meski awalnya ia ragu apakah terapi ini akan berhasil untuknya, tapi sekarang semuanya telah menjadi lebih baik. Ia sudah tak lagi risih membuka pintu tanpa sarung tangan. Selain itu, ia pun menurutui saran Akashi untuk mengurangi kebiasaannya membasuh tangan.

Ia melangkahkan kakinya membelah sepi koridor rumah sakit, hari ini ia berniat untuk menjenguk atasannya—Nijimura Shuuzou yang masih saja betah mendekam didalam kamar rawat. Alasannya masih sama seperti kemarin, tak ada orang yang mengurusinya dirumah.

Pemuda itu berdiri didepan kamar rawat dengan nomor 2015, diketuknya pelan pintu tersebut sebelum akhirnya ia memutuskan untuk segera masuk setelah mendapat sahutan dari pemilik kamar.

Ia membungkuk sopan ketika Nijimura melambaikan tangan kearahnya sambil tersenyum lebar.

"Oi, Kuroko!" sapanya ceria.

Kuroko hanya membalas dengans enyum tipis, "Bagaimana keadaan anda?"

Nijimura tersenyum kikuk, ia menggaruk belakang kepalanya, "Yah, aku tidak menyangka jika patah tulang ternyata bisa semerepotkan ini. Tapi syukurlah, belakangan ini keadaanku sudah semakin membaik."

Kuroko kembali mengulas senyum, "Saya lega mendengarnya."

Pemuda dengan helai hitam itu berhenti tersenyum, ia menatap serius sosok Kuroko yang tengah meletakkan buku catatannya berserta beberapa dokumen pekerjaan miliknya diatas meja nakas, "Tentang penolongku, Akashi Seijuurou. Apa dia sudah menghubungimu, Kuroko?"

Tangannya yang baru saja meletakkan map terhenti diudara. Keringat dingin kini mulai turun dari pelipisnya. Meski begitu, ia berusaha mempertahankan ekspresi datar tanpa emosinya—tak ingin membuat Nijimura mencurigainya.

Dalam hati ia merapal seribu sumpah serapah, bagaimana bisa ia melupakan wejangan penting dari atasannya satu ini?

"Belum. Etto—saya belum ada waktu untuk menghubunginya. Lagipula, saya sudah memberikan kartu nama saya padanya," ucapnya pada akhrinya. Ia tidak berbohong, ia memang belum menghubungi Akashi semenjak pertemuan terakhir mereka.

Nijimura terlihat kecewa, ia menghela nafas dan menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal empuk dibelakangnya. Paras tampannya melukiskan ekspresi tak terima, "Begitu ya, kalau begitu mau bagaimana lagi. Mungkin dia butuh waktu untuk menghubungi kita."

"Ya, mungkin saja," balas Kuroko cepat.

'Maafkan aku, Nijimura-san!' batinnya merasa bersalah kepada sosok atasannya.

Kuroko mengalihkan pandangannya, kemana saja, asal tak melihat wajah nelangsa Nijimura yang gagal mendapatkan kontak pribadi Akashi.

Azurenya seketika berbinar ketika netranya menangkap map yang tadi dibawanya, lebih baik ia membahas pekerjaan saja, daripada mendengarkan curahan hati Nijimura yang masih dilanda kecewa. Ia tidak mau semakin merasa bersalah pada pemuda bersurai hitam itu.

Tangannya menggapai map, mengeluarkan beberapa carik kertas didalamnya. Azurenya membaca deretan kana yang tercetak, sebelum akhirnya beralih menatap Nijimura yang kini tengah menyesap teh hangatnya.

"Nijimura-san, mulai hari ini, Kise-sama dari perusahaan penerbangan memulai kontrak dengan kita. Saya membawakan anda proposalnya," ucapnya sambil menyerahkan map tersebut pada Nijimura.

"Ah, terima kasih Kuroko," balasnya sambil menukarkan cangkir teh miliknya dengan map yang disodorkan oleh Kuroko dan membacanya sekilas, lalu mengembalikannya lagi pada Kuroko.

"Semua sudah terjadwal, saya akan kembali ke kantor untuk menstempel proposal ini. Saya akan datang lagi besok, Nijimura-san," ucap Kuroko seraya membungkukkan badannya sopan.

Nijimura tersenyum lebar, "Terima kasih, kuserahkan semuanya padamu Kuroko!"

Kuroko mengulas senyum tipis sebelum menghilang dibalik pintu kamar. Jujur saja, ia merasa geli dengan sikap Nijimura yang terkadang bisa menjadi galak, dan juga menjadi agak kekanakan diwaktu yang sama.

Sepeninggal Kuroko, Nijimura berniat untuk mengambil lagi cangkir tehnya yang diletakkan Kuroko diatas nakas, namun ia dikagetkan dengan keberadaan buku catatan bersampul kulit berwarna hitam yang berada diatas meje nakasnya dengan sapu tangan berwarna putih yang menjadi alasnya.

Dengan sedikit terburu-buru, Nijimura mengambil buku catatan tersebut dengan memanfaatkan keberadaan sapu tangan putih yang menjadi alasnya—mengingat Kuroko memiliki mysophobia, dan berjalan tertatih menuju pintu kamarnya.

"Hei, Kuroko!" ia berteriak lantang memanggil Kuroko yang sudah berada cukup jauh dari kamarnya; tak peduli teriakannya barusan membuatnya dihujani tatapan tajam dari orang yang tengah lewat.

Kuroko yang merasa namanya dipanggil namanya, balik badan. Ia menatap bingung sosok Nijimura yang masih berdiri didepan kamar rawat. Namun, ia memutuskan untuk menghampiri sosok atasannya, siapa tau Nijimura ingin menyampaikan hal penting padanya.

"Kau melupakan buku catatanmu," ucap Nijimura sambil mengangkat buku bersampul hitam dengan salah satu tangannya ketika sosok Kuroko telah mendekat.

Manik azure itu membulat, ia bahkan masih diam ketika Nijimura mengulurkan buku miliknya.

"Kau pasti akan kerepotan tanpa buku ini bukan? Buku ini penuh dengan jadwal kerjamu," ucap Nijimura sambil tersenyum.

Kuroko gelagapan, ia pun menerima buku itu dengan ragu, "Te-terima kasih Nijimura-san."

Azurenya menatap nanar buku catatan miliknya yang baru saja disentuh oleh Nijimura; meski pemuda bersurai hitam itu menggunakan sapu tangan putih yang menjadi alasnya untuk menyentuhnya, tapi siapa tau ada kuman yang ikut terbawa?

Menyadari tatapan Kuroko, Nijimura mengumbar senyum lagi, "Tenang saja, aku tak menyentuhnya secara langsung, aku memakai kain itu untuk mengambilnya. Buku itu bebas dari kuman, aku berani jamin."

Kuroko tersentak, ia menatap Nijimura dengan pandangan datar; namun sarat akan perasaan bersalah, "Bukan itu maksudku... ano—terima kasih Nijimura-san telah mengerti."

Nijimura tersenyum maklum, ia pun beranjak menuju kamar rawatnya, "Tak masalah. Baiklah, sampai berjumpa besok, Kuroko."

Pemuda teal itu mengangguk. Sepeninggal Nijimura, Kuroko masih betah berdiam diri sambil memandang bukunya.

Ia menghela nafas, tangannya bergerak untuk membuka buku catatannya.

'Dia mungkin menyentuhnya,' batinnya.

Ia baru saja akan menutup buku itu jika saja netranya tak menangkap tulisannya sendiri mengenai terapi phobianya. Azurenya langsung tertuju pada nomor dua.

Biarkan orang lain menyentuh barangku.

Ia menutup bukunya, memandangnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

Apakah... ia sudah bisa dikatakan lolos tahap kedua?

.

To be Continued

(Horaa~ kembali lagi bersama saya~ hoho. Terimakasih atas respon positifnya untuk chapter kemarin. Saya senang sekali lho.)

(Oh ya, mungkin ini tidak akan sama persis dengan versi aslinya. Akan ada beberapa adegan berbeda uuntuk menyesuakian jalan ceritanya dengan karakter dari KnB itu sendiri, dan mohon koreksinya kalau ada kata yang kurang tepat ne ._.)

(Dan saya minta maaf kalau NijiAkaKuro terlihat OOC. Saya masih belajar mengubah karakter Kurose menjadi Akashi dan juga Shirotani menjadi Kuroko. Btw,kalau Niji, itu karena saya tidak terlalu paham karakter dia. Dua episode tidak cukup utk menyelami karakter Niji lebih dalam:"( )

(orz, segitu saja note saya. Saa~ review minna-chin?)

(karena saya publish ini di hp, saya tidak bisa menyebutkan para pembaca yang sudah meluangkan waktu untuk membaca, mereview, memfav dan memfollow. maaf :( tapi terimakasih banyak atas respon positif kalian, saya usahakan akan update cepat untuk chap selanjutnya. jaa~)