===di pagi yang sama===

"Nona… Nona… Ini sudah siang, Anda harus segera bangun, Nona."

"Aaa… Aku masih mengantuk~", gumam si Nona di balik selimutnya.

"Tapi, Nona akan terlambat ke sekolah kalau seperti ini…", bujuknya.

"Aku tidak mau sekolah~", rengek si Nona.

"Tapi ini sekolah baru No-"

"AH! Astaga, astaga, astaga, astaga!", ia bangun dengan tergesa-gesa.
"Aku terlambat! Aku terlambat! Bagaimana ini…?! Appa akan marah kalau tahu!", lanjutnya sambil berlarian menuju kamar mandi.
"Jun Ahjumma! Dimana seragamku?", teriak si Nona dari dalam kamar mandi.

HARD TO BELIEVE
Genre: Romance/Humor
Warning: GENDERSWICH, TYPOS, not-so-experience-author
Disclaimer: Semua pemeran adalah milik Tuhan, keluarganya dan kalian, para fans.
Tidak suka? Jangan Baca ^^

BAB II
PERTEMUAN DAN TISSUE TOILET

"Di sini, Nona.", jawab wanita paruh baya yang dipanggil Jun Ahjumma itu.

"Mana mana?", si Nona kembali berlari dari kamar mandi.

"Nona, jangan tergesa-gesa seperti itu. Tidak baik.", nasihat Jun Ahjumma.

"Tapi aku sudah terlambat. Seharusnya kau membangunkanku lebih pagi lagi~", rengek si Nona.

"Sudah berulang kali saya bangunkan, tapi Nona tidak bergerak sama sekali.", bela Jun Ahjumma sambil menahan senyumnya.

"Aishh. Sudahlah, aku harus pergi. Mana tas sekolahku?", tanya si Nona setelah selesai memakai seragamnya.

"Ini, Nona.", Jun Ahjumma menyerahkan tas sekolah yang dimaksud.

"Ah. Aku pergi kalau begitu.", si Nona hendak melesat keluar kamar sebelum…

"Nona tunggu!", teriak Jun Ahjumma menghentikan si Nona.

"Apa lagi~? Aku sudah terlambat Ahjumma…", rengeknya lagi.

"Di situ…", Jun Ahjumma menunjuk sudut kanan bibir si Nona, "…ada busa pasta gigi yang tersisa.", lanjutnya.

"Eh? Benarkah? Dimana? Disini…?", tanyanya sambil menjilat sudut kanan bibirnya.

"Sudah hilang.", lanjut Jun Ahjumma sambil tersenyum melihat kebiasaan Nona-nya yang tidak berubah.

"Baiklah. Aku pergi, ne! Sampai jumpa~", teriak si Nona semangat sambil melesat keluar kamar.

BRAKK.

Suara pintu yang terbuka dengan keras.

"Sampai nanti…", balas Jun Ahjumma.
"Hah… Sekarang harus membereskan dulu ini…", lanjutnya sambil berjalan menuju tempat tidur king-size di kamar mewah itu. Ia membereskan tempat tidur yang ditinggal secara semena-mena oleh si empunya. Ia merapikan selimut dan menyusun bantal-bantal di atas tempat tidur.

Ia menghela napas puas setelah merapikannya, ia lalu melirik kearah meja kecil di samping tempat tidur itu. Di sana terpajang beberapa photo si Nona yang berpose sendiri maupun bersama orang dekatnya. Ia mengambil salah satu photo itu dan tersenyum memandanginya.

"Nyonya… Hari ini Nona pergi ke sekolah baru lagi. Nyonya lihat tadi? Nona tidak pernah berubah. Dia selalu benci bangun pagi. Hh…", Jun Ahjumma menghela napas.
"Seandainya Nyonya masih disini. Nona pasti sangat senang. Dia mungkin akan benar-benar tidak mau pergi ke sekolah, sama seperti saat taman kanak-kanak dulu…", Jun Ahjumma tertawa kecil mengingat kejadian itu.

===Flashback===

"Aku tidak mau sekolaaaahhh… Hueeee~", tangis seorang gadis kecil di pangkuan ibunya yang sedang duduk di sisi tempat tidur rumah sakit.

"Eeh?! Kenapa anak manis umma ini tidak mau sekolah hem? Apa di sana ada teman yang menjahatimu, Sayang?", tanya sang umma sambil merapikan poni gadis kecilnya.

"Aniyo… Joongie ingin main sama Umma… Hari ini Joongie tidak usah pergi ke sekolah, ne Umma?", rengeknya sambil memandang sang Umma dengan tatapan memelas.

"Aigoo~ Lihat putri kecil umma ini… Sangat jelek kalau dia menangis. Jangan menangis lagi ne? Joongie ingin bermain dan menemani Umma hari ini hem?", tanyanya.

"Hm.. Hm..", gadis kecil yang dipanggil Joongie itu mengangguk dengan antusias.

"Baiklahh~. Umma juga ingin bermain dengan Joongie hari ini. Tapi Joongie harus berjanji, setelah hari ini Joongie tidak boleh bilang tidak mau sekolah lani ne? Atau umma akan marah pada Joongie, arraseo?", kata umma dengan ekspresi kesal yang dibuat-buat.

"YAY!", teriak gadis kecil itu mengangkat kedua tangannya senang sambil tersenyum pada sang umma.

-Tentang Kim Jaejoong: Ibunya meninggal saat ia masih kecil-

===End of Flashback===

.

.

"Tuan Shin, berhenti disini!", perintah seorang gadis pada pengemudi di dalam mobil hitam mewah yang ia tumpangi.

"Eh? Tapi Nona, sekolah anda masih 400 meter lagi dari sini.", pengemudi yang di panggil Tuan Shin itu hendak menjalankan kembali mobilnya.

"Stop stop ku bilang stop!", perintah gadis itu.
"Mulai hari ini aku akan berjalan kaki dari sini. Dan jangan mengikutiku. Kau bisa langsung pulang saja. Nanti pulang sekolah, kau tunggu saja di tikungan tadi. Jangan menunggu di dekat sekolah. Arraseo?", kata si gadis itu lalu membuka pintu hendak keluar.

"Tapi, Tuan Besar berpesan ka-"

"A.. A..", sela si gadis, "Aku akan baik-baik saja kali ini, jangan khawatir ne? Sudah ya, aku sudah sangat kesiangan. Sampai jumpa Tuan Shin…", gadis itu pun berlari menuju gerbang sekolah barunya.

"Semoga kau lebih beruntung di sekolah yang baru ini Nona…", gumam pria 30 tahunan itu lalu memutar balik mobil mewah yang dibawanya menjauh.

.

.

"Tidak ada orang? Kemana penjaga sekolahnya. Kenapa sepi sekali~", gadis itu melirik ke kanan dan ke kiri mencari tanda-tanda keberadaan manusia disana. Sekolah terasa sepi karena para penghuninya sudah berada di kelas masing-masing,

"Lalu aku bagaimana? Ke sana atau ke sana? Ruang kepala sekolahnya dimana?", tanya gadis itu pada diri sendiri. Ia pun berakhir dengan hanya berdiri diam di sana sambil menggaruk-garuk kepalanya yang gatal karena kebingungan sampai-sampai tidak menyadari ia mengacak-acak rambutnya sendiri. *jaemma~ jaemma~ ckck*

Masih dengan kebingungannya, gadis itu tiba-tiba melihat kupu-kupu cantik yang terbang disekitarnya. Kupu-kupu kecil yang cantik. Kupu-kupu itu terbang ke atas dan pandangan gadis itu terus mengikuti arah kemana kupu-kupu itu terbang hingga akhirnya kupu-kupu itu menghilang di kejauhan.

"Dadah kupu-kupu… Terima kasih telah menyambut Joongie di sini. Kau sangat baik. Terima kasih sekali lagi…", ucap gadis itu sambil tersenyum lalu membungkuk hormat ke arah kupu-kupu tadi terbang.

Tidak jauh dari tempatnya berdiri, seseorang yang sedang melakukan pemantauan ke setiap kelas untuk memantau keberlangsungan proses belajar dan mengajar saat itu menyadari sosok yang sangat ia kenal tak jauh dari gerbang sekolah. Ia tersenyum dan berjalan mendekati sosok itu.

"Kim Jaejoong!", teriak orang itu sehingga mengalihkan perhatian gadis yang dipanggil Kim Jaejoong itu.

"Paman Hyun!", Jaejoong sangat bersemangat lalu menghampiri orang itu lalu pergi bersama menuju ke ruang kepala sekolah.

.

.

Di ruang kepala sekolah…

"Sepertinya murid baru kesayanganku ini sangat sangat sangat terlambat datang ke sekolah hem?", kata pria usia pertengahan 35 yang di sapa Paman Hyun itu ketika mereka sudah sampai di ruang kepala sekolah.

"Mianhae… Joongie kesiangan tadi, ehehehe…", jawab Jaejoong sambil mengusap belakang kepalanya, malu.

"Jja… Jadi apa yang harus aku lakukan untuk menghukum keponakan yang paling ku sayangi ini kira-kira? Hmm…", kata Paman Hyun sambil memegang dagu dengan tangan kanannya, tanda sedang berpikir.

"EEH?!", kata Jaejoong setengah berteriak. Wajahnya pucat seketika.

-Tentang Kim Jaejoong: Paman Hyun yang juga kepala sekolah SMA Toho adalah adik dari umma-nya -

"Aku bercanda… Hahaha…", lanjut Paman Hyun saat melihat wajah Jaejoong yang pucat.

"Pheww~ Ku kira aku akan benar-benar di hukum, ehehehe…", Jaejoong lega.

"Aku sudah menduga kau akan terlambat. Jadi aku sengaja berkeliling kelas hari ini sekalian menjemputmu. Dan, bingo! Kau benar-benar kesiangan. Ckck. Kau tidak malu? Kau sudah SMA, bukan anak kecil lagi. ", kata Paman Hyun saat mereka sudah duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu.

"Tapi bukankah bagi Paman dan Umma, Joongie akan selalu jadi gadis kecil kalian?", jawab Jaejoong sambil memiringkan kepalanya, lucu.

"Aishh… Kau ini selalu bisa membalikkan ucapanku…", Paman Hyun berkata sambil mengacak rambut Jaejoong dengan gemas.

Mereka pun tertawa bersama. Tidak terasa mereka mengobrol sampai lupa waktu. Jam dinding sudah menunjukkan hampir waktunya makan siang.

"Astaga… Lihat sekarang. Pantas saja perutku terasa lapar. Kajja Joongie kita makan siang bersama tapi sebelumnya kau harus mengganti seragammu, aku sudah menyiapkannya. Ini.", kata Paman Hyun sambil menyerahkan seragam baru untuk Jaejooong. Karena seragam SMA Toho memang berbeda dari seragam yang dipakai Jaejoong sekarang.

Jaejoong pun menerimanya dan bergegas ke toilet lalu berganti seragam. Rok abu gelap dengan motif kotak-kotak, kemeja putih dan sweater tanpa lengan warna merah hati. *entah di drama/anime apa, author tiba-tiba kepikiran kaya gitu seragamnya, hehe*

"Aku sudah selesai Paman~", kata Jaejoong saat membuka pintu ruang kepala sekolah.

"Sshh… Sebentar ya!", Paman Hyun berbisik sambil menaruh telunjuk di depan mulutnya.
"Ne… *diam* Aaah, begitu kah? *diam* Baiklah… Tentu saja… Ahahahaa. Kita bertemu saat makan siang kalau begitu. Sampai jumpa Nona Ha".

KLIK

Paman Hyun memutus hubungan teleponnya.

"Joongie… Mianhae, paman tidak bisa menemanimu makan siang hari ini. Tapi paman janji lain hari akan menemanimu, tidak apa-apa kan?".

"Gwaenchana… Lagipula Joongie belum berkeliling sekolah ini. Bahkan Joongie belum tahu masuk kelas mana…", jelas Joongie.

"Aahh! Kau benar. Kau seharusnya langsung masuk kelas tadi. Ah, aku benar-benar ceroboh. Kau bisa menghubungi petugas tata usaha terlebih dahulu untuk menanyakan kelasmu. Tapi, sebaiknya aku antar kau saja kesana. Ayo!"

Mereka pun lekas keluar.

.

.

"Baiklah… Loker 303 itu… di… sini!", gumam Jaejoong di lorong penyimpanan loker. Ia menyimpan seragam lamanya disana.
"Sekarang makaaan~", teriak Jaejoong pada diri sendiri.
"Kantin..! Kantin..! Aku datang~", teriaknya dalam hati.

.

.

.

===HARD TO BELIEVE===

Kelas XI-2 seusai pelajaran.

Para siswa membereskan barang-barangnya hendak pulang ke rumah masing-masing. *iye lah ye*

"Jadi bagaimana sekolah ini menurutmu Joongie?", tanya gadis dengan kilauan disekitarnya pada teman baru yang duduk di belakangnya.

"Entahlah, Junsu-ie… Ini baru hari pertamaku, tapi di sini orang-orangnya menyenangkan!", jawab Jaejoong pada Junsu sambil menepuk kedua tangannya tanda senang. Ya, sejak mengetahui mereka satu kelas, mereka langsung akrab satu sama lain.

"Ah, begitukah? Baguslah kalau begitu. *Eu kyang kyang~* Lalu, kau akan masuk klub apa, Joongie?", tanya Junsu kemudian.

"Eh? Klub?", Jaejoong bertanya balik.

"Ne, klub. Setiap siswa disini wajib mengikuti salah satu klub yang ada. Kecuali para pengurus OSIS. Itu akan berpengaruh pada nilai akhir sekolah nanti.", jelas Junsu.

"Benarkah? Hm… Klub ya? Entahlah, kau ikut klub apa, Junsu-ie?", tanya Jaejoong.

"Klub drama! Di festival sekolah nanti kami akan mengadakan drama musikal. Ah… aku sudah tidak sabar. Aku mengincar peran utama disana. *Eu Kyang kyang* ", jawab Junsu bersemangat.

"Benarkah? Ah… pasti menyenangkan, kau pasti sangat keren Junsu-ie~", puji Jaejoong, Junsu tersenyum malu.
"Lalu Kibumie?", tanya Jaejoong.

"Ah! Dia itu ketua klub jurnalis. Semua perputaran berita di sekolah ini ada dibawah pengawasannya.", kata Junsu dengan serius.

"Waw… Keren! Lalu Changmin?"

"Dia ikut klub memasak…", jawab Junsu datar.

"Memasak?!", tanya Jaejoong bersemangat.

"Ne. Tapi di sana dia hanya jadi food-tester. Kau tahu… Ah~ nafsu makannya tidak pernah hilang. Aku heran kenapa orang-orang di klub memasak bisa bertahan dengan keberadaannya. Apa mereka tidak takut food-monster itu akan menghabiskan persediaan bahan makanan mereka.", jelas Junsu sambil geleng-geleng.

"Aku ikut klub memasak!", kata Jaejoong sambil bangkit dari tempat duduknya. Matanya berkilat-kilat memandang Junsu dihadapannya.

"Hm? Baiklah. Padahal aku berharap kau ikut klub drama bersamaku, Jaejoongie~. Karena kau sangat lucu~", kata Junsu sambil mencubit pipi Jaejoong.

"Haa… Haakit~", rengek Jaejoong.

Tak lama, mereka pun lantas meninggalkan ruang kelas.

.

.

"Sampai jumpa besok Junsu-ie.", Jaejoong melambaikan tangan kearah Junsu yang berjalan semakin menjauh. Junsu pun melakukan hal yang sama.

"Sekarang menelepon Tuan Shin!", Jaejoong mengeluarkan ponselnya.
"Euh~… Aku harus ke toilet…", kata Jaejoong setelah menutup ponselnya. Ia pun bergegas menuju toilet karena tidak tahan ingin buang air kecil.

-Tentang Kim Jaejoong: Suka nahan pipis- *ehh.. ga baik loh itu umma…*

.

.

BRSSHHHHHH… *anggap aja suara toilet yang di siram, OK*

Sekolah sudah sepi karena para penghuninya sebagian besar sudah pulang.

"Hahh… Leganya~ Sekarang cuci tangan!", Jaejoong berjalan ke wastafel terdekat lalu menarik tissue yang di simpan di dinding di dekat sana. Ia merapikan baju dan rambutnya lalu bergegas keluar dari toilet.

Tidak jauh dari toilet, seorang siswa sedang berdiri di tengah lorong sambil sibuk dengan ponselnya, sepertinya ia sedang mengetik pesan.

Jaejoong yang melihatnya pun langsung tahu kalau itu adalah siswa senior. *tahu dari mana? entah lah, feeling kali ya*. Sebagai junior yang baik, Jaejoong pun menyapa si senior ketika mereka berpapasan. Senior itu tidak menyadari kehadiran Jaejoong, saking sibuknya ia mengetik pesan.

"Annyeong, Sunbae-nim…", sapa Jaejoong lalu meneruskan langkahnya.

"Ah?! Ne. Annyeong.", jawab si senior tidak terlalu peduli. Ia melirik Jaejoong sekilas lalu kembali ke ponselnya.

'Tunggu dulu! Anak ini… Bukankah…', kata si senior dalam hati. Ia pun menoleh kearah Jaejoong.

"Hey! Kau!", teriaknya membuat Jaejoong berhenti.

"Ne?", tanya Jaejoong bingung.

DEG

'Ah! Benar! Dia anak yang tadi. Dia benar-benar cantik…', pikiran si senior. *yah ketahuan deh sapa nih senior. Wkwkwk #dilempar-bata*

"Itu…", si senior menunjuk ke tas yang disampirkan Jaejoong di lengan kirinya.

"Ne?", tanya Jaejoong semakin bingung. Kini ia membalikkan badannya ke arah si senior.

"Apa kau… berniat membawa tissue toilet itu pulang?", tanya si senior dengan ekspresi innocent.

-Tentang Kim Jaejoong: Ceroboh-

"Tissue toilet?", Jaejoong pun menyadari bahwa ada helaian tissue toilet yang cukup panjang yang terselip di antara tasnya dan ia sangat sangat sangat malu karenanya.
"OMO! Kenapa bisa terselip begini…", gumamnya pelan tapi dapat terdengar oleh si senior. Ia pun segera menarik tissue itu lalu membuangnya ke tong sampah terdekat. Astaga… wajahnya seperti kepiting rebus saat itu.
"Euh… Te-terima kasih sudah memberi tahu, Sunbae-nim…", kata Jaejoong pada si senior yang tengah senyum-senyum.

"Lain kali lebih hati-hati…", kata si senior dengan senyum menawan.

"Ya! Jung Yunho! Sedang apa disana? Cepat. Ketua klub lainnya sudah menunggu.", teriak seorang murid dari ujung lorong.

"Arra… arra… aku kesana!", balas si senior bernama Yunho itu.
"Aku harus pergi, sampai jumpa lagi, ne?", ia berkata pada Jaejoong kemudian berlalu tanpa menunggu jawaban Jaejoong.

"Jung Yunho…", gumam Jaejoong saat Yunho sudah berjalan cukup jauh. Wajahnya sudah tidak seperti kepiting rebus sekarang, tapi ada semburat merah di kedua pipinya. Tanpa sadar ia pun senyum-senyum sendiri.

"Aishh~… Ini memalukan. Kenapa tissue bodoh itu bisa terselip di tasku…", kata Jaejoong sambil menghentakkan kakinya kesal kemudian bergegas pulang.

Di ujung lorong sana, Yunho terus memperhatikan Jaejoong tanpa disadari oleh Jaejoong sendiri.

"Kau… benar-benar…", gumam Yunho sambil senyum-senyum. *benar-benar apa appa, hem?*

.

.

===Too be Continued===

.

.

Hah? Apaan nih o_O"
Jadi tadi itu kupu-kupu? #loncat-ke-kolam
Maaf jika mengecewakan pemirsa *bow bow*
Seenggaknya Yunppa sama Jaemma udah ketemu ya~. Tapi Yunppa belum tahu nama Jaemma disini, wkwk. Dipotong buat bab depan ya hahhaaa #direbus-pemirsa
Author ga akan bikin cerita yang berat-berat ah. Cukup tentang kehidupan sekolah Yunjae dan kawan-kawan. Kecuali ada ide yang tiba-tiba bilang 'hallo-aku-datang-membawa-inspirasi-untuk-anda', maka cerita bisa aja berkembang. ^^

===Balesan Review===

redKrystal: yo yo yo~ yo Yunjae. Ahaha. Changmin suka Kibum? Eu~ tar ada jawabannya di bab-bab yg akan datang. Wkwk.

AntChae6855: Yoosu mirip? Ahaha. Mungkin udah takdir mereka. Junsu sukanya sama Yoochun? Bener nih~? Ah.. kita ga pernah tau permainan takdir *ce ilee*

aku suka ff: udah lanjut chingu~ baca lagi yaa~ *maksa*

yunho boo a.k.a sofiiaaa: monggo dilirik ini lanjutannya chingu~

meirah.1111: masuk kategori waras ya? Phew~ syukurlah. Wkwk. Iya nih seERTE dibawa-bawa, niatnya sih mau bawa sekelurahan *loh?!*. Bingung pemeran utama ya? Kalo sekarang gimana? Kalo masih bingung, author kasih bocoran, inisialnya y sama j. wkwk

Nara-chan: annyeong Nara-chan~. Disini pun konfliknya belom muncul Nara-chan *tepokjidat*, bab depan deh mulai ke pokok permasalahan. Haha *semoga*

Aichan: udah nih udah lanjut chingu~. Yunppa uda ga usah nyari Jaemma. Kan Jaemma selalu ada di hati Yunppa *eaeaea*

dindaR: bikin pacaran ga ya? Bikin ga ya? Bagusnya di bikin pacaran apa ngga ya? *author dilempar ke jurang*

irengiovanny: ahaha… senangnya author membuatmu bingung #dibakar. Kibum ma Heechul rebutan Siwon? Seru tuh kayanya. Jyahaha… Lucu ih Jaemma sama Yunppa disebut mami papi (o^^)o awawaw~

Lee Shurri: author pun berharap hal yang sama sepertimu, Nak. *loh?!*

===Pesan terakhir===

Pada bingung pairing ya rata-rata. Author juga bingung sebenernya. Sampe sekarang yang udah pasti pairing-nya cuma Yunjae aja wkwk… Enaknya siapa sama siapa ya? *mikir dalem gua*

Note:Bab III akan rilis sore ini sebelum author pulang kantor. Wkwk